Bloody Brothers [chapter 1]

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Length: chaptered

Genre: family, mystery, romance

Ratting: PG15

Cast:

  • Lee Jungshin CNBLUE
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Kim Hyuna 4minute
Other cast:
  • Yoon Doojoon BEAST
Disclaimer: my own plot
Note: annyeong, ini pertama kalinya aku bikin genre begini, maaf kalo ga seru ya… komen plis🙂

 

 

KRIIIIING!

 

Seorang namja yang sedang terlelap tiba-tiba saja tersentak begitu mendengar suara alarm jamnya. Diapun bangkit seraya mengucek-kucek matanya dengan tangan kirinya.

 

“Hoaaaaaam!”

 

Namja itu berjalan keluar dari kamarnya.

 

“Annyeong, Shin! Tidurmu nyenyak?” tanya seorang namja lainnya yang sedang menyiapkan sarapan. “Baru saja aku mau membangunkanmu.”

 

“Tidurku nyenyak sekali, hyung! Hari ini hari pertama sekolah. Aku sengaja tidur cepat untuk mempersiapkan diri hari ini. Kau pulang jam berapa hyung semalam?”

 

“Sekitar jam sebelas. Kami kedatangan stok ikan banyak semalam. Mandi sana, habis itu kita sarapan, lalu aku antar kau ke sekolahmu.”

 

Namja jangkung itupun mengangguk dengan semangat. Dia terlalu antusias karena hari ini, hari pertamanya ke sekolah.

 

“Jungshin, seragammu sudah aku setrika, ada di dalam lemari.”

 

“Ye, hyung!”

 

Jungshin melenggang ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesainya, dia mengenakan seragam yang dia idam-idamkan selama ini, lalu menghampiri kakak laki-lakinya yang sedang menunggunya di meja makan.

 

“Jonghyun hyung, otthe?”

 

“Perfect, kau tampan, Jungshin!”

 

“Hehehe!” Jungshin menggaruk-garuk kepalanya yang gatal begitu dipuji Jonghyun.

 

Merekapun memakan sarapan dengan khidmat, diselingi obrolan-obrolan kecil.

 

Selesai makan, Jonghyun bangkit dari kursi untuk mengambil kunci motor kesayangannya dan juga tas sekolah baru Jungshin yang tersampir dekat meja.

 

“Ini tasmu!”

 

Jungshin menggerakkan tangan kanannya dengan maksud ingin mengambilnya, tapi buru-buru diganti dengan tangan sebelahnya.

 

“Kajja! Di hari pertama sekolah kau nggak boleh terlambat!” kata Jonghyun.

 

Jonghyun berjalan keluar, diikuti Jungshin. Tak lupa mengunci pintu rumah yang bisa dibilang cukup besar untuk ditinggali dua orang. Rumah peninggalan orang tua mereka.

 

Jonghyun menghidupkan motor skuternya dan memberikan helm kecil pada Jungshin.

 

 

 

“Sekolah masih sepi, kepagian ternyata. Ah sudah lima tahun sejak aku lulus SMA, aku jadi lupa jam masuk sekolah.”

 

“Nggak apa-apa, hyung! Lebih baik dari pada terlambat. Aku masuk dulu ya, hyung! Sampai jumpa!” kata Jungshin seraya memberikan helm yang tadi dia kenakan pada Jonghyun. Jonghyunpun melambaikan tangannya.

 

“Jungshin?”

 

Jungshin berbalik. “Ne, hyung?”

 

“Jangan dengarkan apa kata orang!”

 

“Arasso!”

 

Jungshin kembali berjalan ke dalam sekolah.

 

Begitu Jungshin sudah tidak terlihat dari pandangannya, Jonghyun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

 

“Yobosseyo! Ingat kan pesanku?”

 

 

 

Jungshin berjalan mengikuti seorang guru wanita paruh baya yang merupakan wali kelasnya. Begitu guru itu masuk ke kelas, Jungshin menunggu di luar. Sambil menunggu panggilan, Jungshin melihat-lihat keadaan di sekitar.

 

“Kelas 2B. Aku benar-benar sekolah, ya?” gumam Jungshin.

 

Jungshin sendiri masih merasa tidak percaya kalau dirinya sekarang ini menuntut ilmu di sekolah, bukan di ruangan yang biasa dia sebut sebagai kamar tidurnya.

 

“Lee Jungshin?”

 

Begitu mendengar guru itu memanggil namanya, diapun masuk ke kelas.

 

TAPTAPTAP!

 

Jungshin berjalan menghampiri si guru diiringi riuhan murid-murid di kelas.

 

“Nah anak-anak, inilah teman baru kalian! Jungshin, silahkan perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu!”

 

“Algaesumnida, Jung sonsaengnim,” Jungshin menundukkan kepalanya sekilas pada sang guru dan mulai memperkenalkan dirinya sendiri.

 

Jungshin membungkukkan badannya. “Annyeonghaseyo! Joneun Lee Jungshin imnida. Mohon bimbingannya!”

 

“Anak-anak, Lee Jungshin ini sebelumnya murid homeschooling, ini pertama kalinya dia bersekolah. Jadi tolong kalian bimbing dengan baik ya!”

 

“Ne!!” jawab murid-murid serempak.

 

“Jungshin, duduklah di tempat yang kau suka. Sebentar lagi guru yang akan mengajar akan segera datang.”

 

“Ne, sonsaengnim! Gamsahmanida!”

 

Wali kelasnya keluar. Jungshinpun berjalan menuju bangku kosong yang pertama kali dia lihat. Namun tiba-tiba jalannya dijegal oleh seseorang. Jungshinpun terjatuh dan sukses membuat kelas riuh karena tawa mereka.

 

“Selamat datang, anak baru! Kau bisa berdiri kan? Apa perlu aku bantu, sepertinya kau kesulitan berdiri hanya dengan satu tanganmu, hahaha!” namja yang menjegalnya tadi kini mengejeknya.

 

Jungshin bangkit berdiri dan berusaha tersenyum walaupun di dalam hatinya dia kesal sekali. Jungshin ingin berjalan, tapi kaki namja yang menjegalnya tadi menghadang jalan Jungshin.

 

“Mau ke mana kau, Lee Jungshin? Urusan kita belum selesai!”

 

Jungshin terdiam, kemudian menatap mata namja itu.

 

“YA, DOOJOON! Kau keterlaluan!”

 

Tiba-tiba datang seorang yeoja lalu menempeleng kepala namja yang mengerjai Jungshin tadi.

 

“Kau membelanya, Hyuna? untuk apa membela orang buntung seperti dia?”

 

DEG!

 

Hati Jungshin rasanya sakit sekali begitu mendengar kalimat yang barusan terlontar dari mulut Doojoon.

 

“Heh, babo! Kau nggak merasa kalau yang buntung itu kau?” Hyuna mendekatkan wajahnya ke arah Doojoon.

 

“Apanya? Tubuhku sempurna!”

 

“Hatimu buntung, babo!”

 

Sontak kelas kembali riuh dengan tawa-tawa para murid. Doojoon hanya bisa terdiam, tidak mau melawan yeoja yang telah mempermalukannya.

 

“Jungshin-ssi, ayo duduk di dekatku saja! Oh ya, jangan hiraukan orang bodoh yang satu ini!” seru yeoja itu sambil menunjuk Doojoon.

 

Yeoja itu menarik tangan kiri Jungshin dan membawanya ke bangku kosong di dekat bangkunya. Mereka berduapun duduk.

 

“Kim Hyuna imnida!” Hyuna mengulurkan tangan kanannya pada Jungshin, tapi buru-buru diganti dengan tangan kirinya. Jungshinpun tersenyum dan menjabat tangan Hyuna.

 

“Lee Jungshin imnida!”

 

Tak terasa mereka berdua ngobrol hampir setengah jam sembari menunggu guru geografi datang. Mereka tak sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikan Jungshin.

 

 

 

Jonghyun sibuk berkutat dengan komputer yang ada dihadapannya hingga sebuah panggilan masuk dari ponselnya membuatnya beralih.

 

“Yobosseyo?

 

Jonghyun terdiam, berusaha fokus dengan omongan yang di seberang telepon.

 

“Baiklah! Kita lakukan seperti yang biasanya. Hubungi aku kalau kau sudah berhasil memancingnya!”

 

Jonghyun kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula.

 

“Mati kau!” gumam Jonghyun geram.

 

 

 

Jungshin duduk di sebuah bangku besi yang berada di atap gedung sekolahnya. Dia sangat bersyukur di tempat itu tidak ada orang selain dirinya.

 

“Satu gurupun nggak datang. Sakit lah! Sibuk lah! Begini yang namanya sekolah? Kalau habis istirahat ini nggak ada guru juga, lebih baik aku pulang saja!” gerutu Jungshin.

 

“Haha kau ingin guru datang, ya? Sayangnya teman-teman yang lain menginginkan sebaliknya, begitu pula aku!”

 

Hyuna muncul secara tiba-tiba di depan Junghin, kemudian duduk di sampingnya.

 

“Yah, aku maklum sih, kau baru pertama kali bersekolah. Eh, benar-benar pertama kali?”

 

“Ani! Aku berhenti sekolah saat umurku delapan tahun. Kakakku menyuruhku untuk homeschooling saja.”

 

“Loh, wae?” tanya Hyuna.

 

“Karena ini!” Jungshin mengangkat lengan kanannya yang hanya setengah. Hyunapun jadi merasa tidak enak pada Jungshin.

 

“Mianhae, Jungshin! Aku nggak bermaksud untuk…”

 

“Gwenchana!” Jungshin tersenyum dan senyumnya mampu membuat Hyuna yakin kalau namja itu merasa baik-baik saja.

 

Jungshin berusaha membuka kotak bekal makannya yang berada dipangkuannya tapi tutupnya terasa keras dan butuh dua tangan untuk membukanya.

 

“Sini aku bantu!”

 

Hyuna membuka kotak makan Jungshin dengan mudahnya.

 

“Gomawo, Hyuna! Kau mau?” tawar Jungshin.

 

“Aku sudah kenyang, hehe!”

 

Jungshinpun melahap bekal makanannya yang sudah disiapkan Jonghyun tadi.

 

“Jungshin-ah, boleh aku bertanya padamu?”

 

“Tentu saja. Mau tanya apa?”

 

“Itu… hmmm.. kenapa?” Hyuna bertanya sedikit canggung seraya menunjuk tangan kanan Jungshin.

 

“Buntung maksudmu?”

 

“Ya.. ya begitulah! Maaf Jungshin-ah, aku nggak bisa menemukan kata yang pas.”

 

“Gwenchana! Hmm mian, Hyuna, bukannya aku nggak mau cerita padamu, aku hanya belum siap.”

 

Hyunapun mengangguk. “Oh oke, nggak masalah kok. Kalau kau ada masalah atau apa, cerita saja padaku. Aku ini pendengar yang baik, lho!”

 

Melihat Hyuna tersenyum, Jungshin jadi ikut tersenyum. Baru pertama kali Jungshin menemukan orang sebaik dan setulus Hyuna selain kakaknya sendiri.

 

 

 

Jonghyun mengendarai motor skuternya menuju suatu tempat sepulang dari kantornya. Tak lupa memberitahu Jungshin karena dia akan pulang larut dengan alasan lembur. Jonghyun tahu kalau Jungshin akan paham dengan kata lembur.

 

Jonghyun sampai di suatu tempat yang jauh dari pemukiman. Jonghyun memarkir motornya di tempat tersembunyi. Kemudian dia berjalan memasuki gedung yang sudah sangat lama tidak terpakai.

 

“Kau sudah datang, hyung?”

 

Seorang namja bermata sipit datang menghampirinya.

 

“Yang kau lihat sekarang ini apa?” tanya Jonghyun ketus.

 

“Hehehe, iya iya!” namja itu hanya menyengir, manyadari kebodohannya.

 

Jonghyun berjalan menghampiri seorang namja lainnya yang sedang terduduk lemas dengan tali panjang yang mengikat tubuhnya.

 

“Sejak kapan dia pingsan?”

 

“Satu jam yang lalu.”

 

“Bagaimana kau bisa membuatnya seperti ini?” tanya Jonghyun lagi seraya mengangkat kepala namja yang tak sadarkan diri itu dengan menjambak rambutnya.

 

“Dia ini preman sekolah, mudah emosian dan tak mau kalah. Makanya sepulang sekolah tadi aku bermaksud menantangnya berkelahi satu lawan satu dengannya di sini. Kepalannya nyaris meninju wajahku kalau saja aku tidak segera membiusnya.”

 

“Ck! Baru kena tinju.”

 

“Ya, aku bukan tipe orang yang suka berkelahi, hyung!”

 

“Enggg….”

 

Jonghyun dan namja itu sontak menengok ke arah namja terikat itu begitu mendengar erangannya. Perlahan matanya terbuka dan melihat dua sosok namja yang tidak begitu jelas karena penglihatannya masih kabur.

 

“YA, KANG MINHYUK! Pengecut sekali kau mengikatku begini. Dan kenapa bawa orang lain, hah? Kau bilang satu lawan satu?”

 

Namja yang bernama Minhyuk berjalan menghampiri namja yang sedang terikat itu.

 

“Mianhae, Doojoon! Aku nggak suka berkelahi! Tapi kau mau berkelahi? Dengan temanku saja kalau begitu.”

 

Minhyuk menoleh ke arah Jonghyun dan Jonghyunpun berjalan mendekat.

 

“Annyeonghaseyo, Lee Jonghyun imnida, aku kakak Jungshin!” sapa Jonghyun ramah.

 

“Kau… kau mau apa, hah?”

 

Jonghyun menyeringai, keramahannya menghilang.

 

“Kau tanya mau aku apa? Aku mau ini!”

 

BUGH!

 

Jonghyun meninju wajah Doojoon berkali-kali dengan membabi buta. Minhyuk tertawa keras menyaksikan tontonan yang dia anggap menyenangkan itu.

 

“Hyung, hyung, sudah! Kasian dia!”

 

Minhyuk menarik tangan Jonghyun. Doojoon benar-benar tidak berdaya saat ini, lemas karena puluhan pukulan yang dihadiahkan Jonghyun.

 

“Aku masih belum puas, Minhyuk!” geram Jonghyun.

 

“Sudah lah! Sepertinya dia bosan dipukul terus olehmu! Aku ingin main hyung dengannya!”

 

Jonghyun tersenyum. Sudah dipastikan orang yang melihat senyuman Jonghyun kali ini akan berlari ketakutan, tapi tidak dengan Minhyuk.

 

Jonghyun bangkit dan membiarkan Doojoon yang terkulai lemas.

 

“Kau mau main apa?” tanya Jonghyun.

 

Minhyuk berlari, mengambil sebuah papan kayu tebal berbentuk lingkaran. Berat sekali jika diangkat dengan satu orang, maka dari itu dia meminta Jonghyun untuk membantunya.

 

“Oh mau main ini!”

 

“Mau ikutan, hyung?”

 

“Kau saja lah! Aku akan membantu Doojoon saja. Dia pasti nggak sabar ingin main denganmu, Minhyuk!”

 

Jonghyun dan Minhyuk mengangkat tubuh Doojoon ke atas papan lingkaran yang memiliki ketebalan kira-kira dua puluh senti tersebut. Terdapat empat pengait di ujung papan itu. Jonghyun mengikat kedua tangan dan kaki Doojoon di pengait tersebut.

 

“KALIAN MAU APA, HAH?”

 

“Diam saja, Joon-ah! Kau pasti akan suka dengan permainan ini!” seru Minhyuk menyeringai lebar.

 

Jonghyun dan Minhyuk mendirikan papan tersebut dan mengaitkan pengait besar yang ada di belakang papan dengan pengait yang satu lagi di penyangga gedung yang sangat kokoh. Kemudian Jonghyun memutar-mutar papan tersebut layaknya sedang mengikuti kuis undian berhadiah.

 

“Ya! Aku pusing!” protes Doojoon.

 

“Kau pusing ya? Minhyuk, cepat mulai saja!”

 

“Sebentar, hyung!”

 

Minhyuk mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya dan mengeluarkan isinya.

 

“Ka..kau mau apa dengan pisau-pisau itu, Kang Minhyuk?” tanya Doojoon panik.

 

“Tuli, ya? Aku bilang kan aku mau main. Oh ya, kau tau peraturannya tidak?”

 

Doojoon hanya menelan ludahnya sendiri. Belum pernah dia merasa setakut ini. Ditambah suara tawa Jonghyun yang menikmati pemandangan ini.

 

“Kok diam? Biasanya kau itu banyak omong, Doojoon! Baiklah! Peraturannya mudah, kok. Jonghyun hyung akan memutarmu dan aku tinggal melempar pisau ini ke arah jantungmu dan kalau kena, maka kita berganti posisi! Otthe?” tanya Minhyuk antusias.

 

“Kau gila Minhyuk! Itu sama saja membunuhku!”

 

“BABO!!!! AKU MENGAJAKMU BERMAIN BUKAN BUNUH-BUNUHAN!”

 

“Waw, kau telah membangunkan singa, Doojoon! Ah, lebih tepatnya T-Rex” bisik Jonghyun menyeringai.

 

“Kalian berdua benar-benar nggak waras! Aku akan membalas perbuatan kalian!”

 

“Simpan ucapanmu begitu kita bertemu di neraka nanti!”

 

Jonghyun kembali memutar papan tersebut dan belari ke arah Minhyuk karena tidak mau terkena lemparan pisau yang menurutnya arahnya selalu melenceng dari arah tujuan.

 

“Cepat mulai, aku udah nggak sabaran!”

 

“Iya, hyung!”

 

Minhyuk meraih salah satu dari dua puluh pisau yang tergeletak di lantai. Kemudian dia menutup satu matanya, berusaha membidik ke sasaran. Diapun melempar pisau tersebut dan…

 

“AAAAAAAARGH!!!!!!!” Doojoon mengerang kesakitan.

 

“Ah, kau meleset, Minhyuk! Kau bisa melempar nggak sih?” geram Jonghyun.

 

“Mian, hyung! Aku juga nggak nyangka malah kena lututnya. Aku coba lagi!”

 

“Kita suit saja kalau begitu!”

 

“Tadi katanya nggak mau ikutan?”

 

“Kau payah, aku jadi mau ikutan main!”

 

Mereka berdebat seolah-olah mereka benar-benar sedang berada di dalam permainan. Tidak peduli nyawa orang menghilang sekalipun.

 

Merekapun melakukan suit.

 

“Aku menang, yeeee!” seru Minhyuk kesenangan.

 

Minhyuk kembali membidik dan melempar pisau itu. Ternyata meleset dan mengenai mata kanan Doojoon. Namja malang itu hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya.

 

“Ups, mian Joon-ah! Ayo kita suit lagi, hyung!”

 

“Lebih baik kalian bunuh saja aku!” kata Doojoon dengan lemas.

 

“Lebih seru kalau kita main-main dulu!” jawab Minhyuk.

 

Minhyuk dan Jonghyun melempar pisau tersebut secara bergantian. Dan bidikkannya selalu meleset dari sasaran mereka, lebih tepatnya sengaja dipelesetkan. Entah itu mengenai perut, tangan, leher, telinga, mulut bahkan alat vitalnya. Mereka menganggap itu sebuah ketidakberuntungan karena pisau yang mereka bidik tidak mengenai sasaran.

 

“Joon-ah, kau tidur?” tanya Minhyuk mendekati Doojoon. Doojoon hanya diam dengan matanya yang tertutup.

 

“Baiklah, pisau terakhir, aku yang lempar ya, Minhyuk?”

 

“Silahkan, hyung!”

 

Jonghyun membidik dan melempar pisau tersebut tepat mengenai sasaran.

 

“Waaa kau hebat, hyung! Kena jantungnya. Sekarang kau yang di ikat, hyung!”

 

“Coba kau tanya dulu si Doojoon itu! kalau dia bilang ganti posisi, aku siap di ikat!”

 

“Joon-ah, kau mau digantikan, nggak?” Minhyuk berbisik pada Doojoon yang sudah tidak bernyawa.

 

“Yah, dia nggak jawab, hyung!”

 

“Sudah, sudah! Kita akhiri permainannya! Kita bereskan saja orang ini!”

 

Jonghyun dan Minhyuk merebahkan papan tersebut sembarangan dan mencabuti dua puluh pisau yang semuanya menancap di tubuh Doojoon. Jonghyun berlari ke sudut ruangan dan membawa sebuah kapak yang terakhir kali diasahnya satu bulan yang lalu.

 

“Ini hukuman karena kau berani mengejek dan mengganggu adik kami!”

 

Jonghyun mengangkat kapak itu dan memotong tubuh Doojoon bak memotong kayu  menjadi dua puluh bagian. Kemudian potongan tersebut Minhyuk buang ke sungai yang memiliki arus yang sangat deras yang berada di samping gedung.

 

 

 

“Appa, sudah jangan pukul eomma lagi!”

 

“Diam kau! Jangan panggil aku appa, aku bukan ayahmu, babo!”

 

Namja paruh baya itu terus saja menggesper tubuh istrinya.

 

“Kau pergi saja, nak!” perintah yeoja itu pada anaknya yang masih berumur delapan tahun.

 

“Shiro, eomma, shiro! Appa, sudah!!!”

 

Namja kecil itu menahan tangan ayahnya yang ingin melayangkan sabuk ikat pinggangnya.

 

“Anak tengik! Kalau begitu kau juga rasakan ini!”

 

Jadilah sepasang anak dan ibu itu kena amukan namja paruh baya itu.

 

“Sudah cukup, kau sebaiknya keluar karena urusanku dengan ibumu belum selesai!”

 

Namja itu mengangkat tubuh namja kecil itu dan melempanya keluar kamar. Kemudian terdengar pintu terkunci dari dalam.

 

Suara teriakan ibunya masih terdengar menyakitkan di hati namja kecil itu. dia terus mengentuk pintu dengan lemas, tapi tetap tidak dibukakan.

 

“Kau menuduhku selingkuh, hah?”

 

“Tapi aku melihat dengan mata kepala sendiri kau tidur dengan temanku sendiri. Kenapa kau masih mengelaknya?”

 

“KAU! Dasar yeoja tidak tau diuntung, masih bagus aku mau menikahimu, yeoja miskin!”

 

Namja kecil itu hanya menangis mendengar teriakan-teriakan yang berasal dari dalam. Tiba-tiba muncul seorang namja yang berumur lima tahun lebih tua darinya.

 

“Astaga, kau kenapa? Apa appa mengamuk lagi?”

 

Namja kecil itu hanya mengangguk pasrah. Wajahnya basah karena air mata yang sedari tadi terus mengalir.

 

“Hyung, tolong eomma!”

 

Namja yang dipanggil hyung itupun berdiri dan berusaha mendobrak pintu, namun tidak berhasil. Diapun mengambil sebuah kapak yang terletak di gudang dan menebas kenop pintu itu dengan kapak tersebut.

 

Pintu berhasil dibuka.

 

Namun sayang, pemandangan yang sangat tidak mengenakkan tersaji di depan dua namja di bawah umur tersebut. Ayah mereka membunuh ibu mereka dengan sebuah samurai.

 

“APPA!”

 

Ayah mereka kembali ingin menebas samurai itu kepada istrinya namun namja kecil itu menghalanginya hingga setengah lengan kanannya terpotong karena terkena kibasan samurai tersebut.

 

“AAAAAAAAAA!”

 

Jungshin tiba-tiba bangkit dari tidurnya. Peluh keringat membasahi keningnya. Nafasnya tidak beraturan karena rasanya tiba-tiba sesak.

 

“Kenapa kenangan buruk itu kembali datang?” gumam Jungshin.

 

-tbc-

 

 

 

 

 

 

 

27 thoughts on “Bloody Brothers [chapter 1]

  1. pertamanya gak nyangka kalo Jungshin tangannya buntung, trus dikira Jonghyun baik, eehhhh ternyata. Minhyuk ma Jonghyun psyco tapi keren deh ^^ *eh yang psyco sapa nih? authornya deh hehe* lanjjjjuuuuut onn

  2. Aduh, Minhyuk kok imut2 mainannya mengerikan? Hahahaha

    Aku suka karakter Jonghyun di sini. Biarpun karakternya begitu tapi tetep adorable kok (?)

    Penasaran gimana selanjutnya. Lanjutkan ya😀

  3. huwooo eonnie, yaay ini thriller yg eonni bilang waktu itu kah?😀
    akhirnya ada thriller cnblue >o< <~~ pencinta thriller lol
    pg15 ya, naikin jadi pg16 aja eonn /pletak .___.v
    eonn, itu gambarnya, emang ada yong ya? nanya doang ._.
    lanjuut eonn .__.

    • wekekeeee iya ini🙂
      kenapa mesti di naikin pg nya?? kurang parah kah? maklum masih newbie

      nah itu dia.. tadinya emang mau masukin yong dan sekarang aku bingung dia mau aku jadiin apaan ;p

  4. aigoo aku daritadi nangis gak bisa bayangin jungshin tangannya buntung… kupikir ffnya bakalan yg sedih2 gimana
    eh gataunya para oppa ini malah jadi psycho wkwkwk
    sadis tapi keren deh.. pokoknya daebak~
    lanjut ya thor cepetaaaannn :*

    • huee aku ga maksud bikin jungshin begitu. cuma di ff kok tenang aja🙂
      hayo lebih milih mereka sadis tapi keren apa keren tapi sadis? #apaansi
      tunggu aja lanjutannya

  5. OMG!!!!
    outhor,,,,,,dah berkaca2 nih mata q baca part akhir’a,,,,,,
    jungshin q,,,,,,

    tp ga nyangka klo cerita’a bgni!!!! beda bgt,,,,
    bayangin abang jonghyun n minhyuk,,,jd bad guys,,,,,,

    ditunggu deh part selanjut’a
    lanjuttttt….^^

  6. ah gila ini ceritanya ngeri banget. bagian main pisau itu gw lewat semua, ngeri, apalagi mutilasinya, hadoooh.
    tp angst nya keren ^^

  7. Yaaaaa chingu super duper serem, kenapa jonghyun oppa sma minhyuk oppa jadi tukang potong sih.
    But i liked chingu seruuu bgt :Dang potong sih.
    But i liked chingu seruuu bgt😀

  8. HUAAAAA ….. NGERI dan langsung bikin MOOD eon ngedrop sejadi2nya … (pdhl lg nyambi bikin ff romance)

    semangat baca lanjutannnya ..
    ixixix ketahuan baru buka wp😛

  9. baru baca . dan parah lah peb lah .
    baca nya bikin merinding .
    minhyuk imut gitu dibikin serem .
    ngebayangin si minhyuk dengan muka dia yg di heartstrings tapi maenan nya kaya di ff ini ==”

  10. Awalnya aku sedih pas baca kisahnya jungshin-hyuna, sampe netesin air mata segala…
    Tapi pas baca yg part ‘mainnya’ si minhyuk sama jonghyun aku mendadak ngeri…
    Ahhh gak kebayang minhyukkie sama jonghyun sesadis itu x_x

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s