W PINCH [chapter 3]

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Length: chaptered

Genre: romance, friendship

Rating: G

Cast:

  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Seo Joohyun SNSD
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Lee Jinki / Onew SHINee

Disclaimer: the plot belongs to Ryo Azuki

Note:

tokoh+prolog | chapter 1 | chapter 2

Maaf update nya lama ^^

 

**************************************************************

 

“Yonghwa-ya, kau tau? Kalau kau lagi marah, kau masih terlihat tampan.”

Seohyun mengedipkan sebelah matanya pada Yonghwa lalu mendekatkan diri pada Yonghwa hingga bibir mereka saling bertemu.

Yonghwa tidak bisa mengedipkan matanya sekalipun. Serangan mendadak itu sempat membuat dia membatu.

Seohyun membuka matanya perlahan tanpa melepas ciumannya. Kemudian dia mendorong Yonghwa hingga namja itu jatuh tersungkur.

“Orang yang mengajakku berkelahi pasti tidak bisa berkutik. Termasuk kau, Yong!”

Si kecil Roo yang sejak tadi matanya ditutup oleh Onew, tiba-tiba saja melepaskan diri dari gendongan Onew dan berlari menghampiri Seohyun hingga yeoja itu kini ikut jatuh karena anak anjing itu melompat ke Seohyun.

NGIIIIIIIIIING!

Minhyuk beranjak pergi dengan perasaan kesal.

 

 

 

Di pagar sekolah, berdiri seorang namja asing. Dia membandingkan tulisan yang tertera di kertas yang dia genggamnya dengan tulisan di atas pintu utama sekolah.

“SMA Seoul! Aku sudah menemukanmu! Tunggu aku, Seohyun!” katanya seraya tersenyum.

Namja berlesung pipi itu kembali menatap kertas yang dia temukan di depan pintu rumahnya. Dia membaca tulisan singkat itu lagi.

-Seo Joohyun berada di SMA Seoul, kelas 2C-

 

***

 

“Ini yang kedua kalinya. Kapanpun kau dalam bahaya, saat mentalmu tertekan, kau akan berubah menjadi Seohyun! Analisaku tepat kan?” tanya Onew seraya berusaha menguras otak untuk berpikir. “Tapi kenapa kalo disentuh Roo, Seohyun berubah normal lagi?”

Seohyun hanya menghela nafas panjang. Dia sendiri tidak tau kenapa.

Onew memandang dua sosok yang kini duduk saling membelakangi. Mereka adalah Seohyun dan Yonghwa, masih canggung dengan kejadian kemarin.

“Sudahlah, kalian berdua jangan murung begitu!!” Onew berusaha mencairkan suasana.

Bagaimana tidak, Seohyun sendiri masih shock dengan cerita kakaknya yang menceritakan detail kejadian kemarin.

“Kenapa jadi begini??? Aku ga tau kenapa tapi setiap aku kehilangan kesadaranku pasti terjadi sesuatu. Aigoo! Onew oppa memperlihatkanku semua foto-foto masa kecilku dulu. Entah itu foto saat aku sedang menjambak rambut seorang yeoja atau menendang kaki seorang namja, aku benar-benar nggak ingat sama sekali,” batin Seohyun.

Seohyun hanya diam membisu, memandangi kakaknya yang asik bermain-main dengan Roo.

“Op…oppa, aku dan Yonghwa kemarin… HUAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” Seohyun tiba-tiba saja menangis keras.

“Seohyun-ah, kenapa kau menangis?” tanya Onew.

Yonghwa tiba-tiba saja mengepalkan kedua tangannya. Dia bangkit berdiri dan berjalan ke hadapan Seohyun.

“YA! Kenapa kau menangis, hah? Kau telah merebut ciuman pertamaku tau!” bentak Yonghwa.

Onewpun menghampiri mereka dan berusaha menenangkan Yonghwa. “Yonghwa-ya, jangan marah-marah begitu.” Tangan kirinya menepuk bahu Yonghwa, sedangkan sebelahnya menggenggam si kecil Roo.

Seohyun masih menangis mengingat kemarin. Dia melihat Minhyuk pergi tanpa mengucapkan satu patah katapun. “Pasti karena melihat aku dan Yonghwa ci…ci…,” Seohyun tak mampu melanjutkan ucapannya sekalipun itu hanya di dalam hati.

Yonghwa mendengus kesal melihat Seohyun yang tidak berhenti menangis. Entah kenapa ada perasaan aneh melihat yeoja itu menangis.

“Sampai kapan kau akan menangis, Seo Joohyun? Kupingku sakit, babo!”

“Ya, Yonghwa! Aku bilang kan jangan marah-marah?!”

“Bagaimana aku nggak marah, hyung? Melihatnya begini membuatku bingung. Wajahnya sama saja dengan si garang Seohyun dan sekarang dia menangis! Aish! ORANG ANEH!” Yonghwa menepis tangan Onew yang bersarang di bahunya dan merengkuh bahu Seohyun, membuat yeoja itu berdiri berhadapan dengan Yonghwa.

“Dengar, ya! Aku, Jung Yonghwa, mengibarkan bendera perang padamu. Ah ani, pada Seo Joohyun!” Seohyun hanya menutup matanya karena Yonghwa bicara terlalu dekat dengan wajahnya. “Sampai kapanpun aku akan tetap melawanmu sampai kau mengakui kalau aku lebih hebat darimu!”

Yonghwa mencengkeram keras bahu Seohyun.

“Y..ye!” jawab Seohyun ketakutan.

Bel masuk sekolah berbunyi.

Yonghwa melepas cengkramannya dan berjalan mundur selangkah. “Ingat itu!” ancam Yonghwa dingin. Yonghwa pun berjalan menuju kelasnya, meninggalkan Seohyun dan Onew. “Ayo Roo!” Roo melompat dari pangkuan tangan Onew dan berjalan beriringan dengan Yonghwa yang mulai menjauh.

Seohyun hanya menatap kepergian Yonghwa. Menurutnya, Yonghwa adalah namja yang kuat. Datang jauh-jauh dari Busan, menjelajahi Seoul hanya untuk mencari dirinya.

“Seohyun-ah, kau sebaiknya ke kelas sana!” perintah Onew.

“Ye, oppa!”

Seohyun berjalan lemas menuju kelasnya. Namun tiba-tiba secara tidak sengaja berpapasan dengan Minhyuk. Tidak punya keberanian sama sekali untuk memandang mata Minhyuk, Seohyunpun berlari ke arah yang lain. Minhyuk terheran, begitu juga namja yang mengamati dari dalam.

Selamat tinggal, cinta pertamaku!” batin Seohyun.

Seohyun terus berlari hingga tak sengaja menabrak seorang namja yang asing baginya. Seohyun terjatuh. Namja itu menyeringai pada Seohyun.

“Akhirnya aku menemukanmu, Seo Joohyun!”

Namja itu tiba-tiba saja mengeluarkan salah satu jurus judonya pada Seohyun. Beruntung Seohyun cepat berdiri dan berlari menghindar. Namun Seohyun kembali menabrak seseorang.

“Ya, kenapa kalian berdua bertengkar?”

“Shim sonsaengnim, tolong aku… namja itu…”

“Ada apa dengan anak baru itu?”

“Hah? Anak baru?” Seohyun mengernyit.

“Biar aku kenalkan! Dia Lee Jonghyun, siswa pindahan dari Busan. Nah kau Seohyun antar dia ke kelasmu.”

“Siswa pindahan? Lagi?”

Seohyun memandang datar wali kelasnya. Batinnya berteriak.

 

 

 

“Apa? Lee Jonghyun?” tanya Onew begitu selesai mengunyah ayam goreng yang ia buat tadi pagi.

“Iya, oppa! Kau tahu dia?”

Seohyun ikut duduk di samping kakaknya di sebuah bangku kayu di bawah pohon taman sekolah.

“Jonghyun, ya?” Onew menggosok-gosokkan telunjuk tangannya, seolah sedang berpikir. “Lee Jonghyun kalau nggak salah teman satu klub judo mu saat kelas 2 SD.”

“Judo? Aku pernah ikut klub judo?”

Onew mengangguk. “Kau yang terkuat.”

Seohyun menganga, benar-benar tidak percaya kalau dia pernah mengikuti klub yang menurutnya untuk orang-orang yang keras.

“Kau mengalahkan dia sewaktu bertanding untuk kompetisi.”

“Hanya karena itu? Hanya karena aku mengalahkan dia lantas dia mau balas dendam padaku.”

“Hmmm, itu… kau…”

“YAAA!”

Jonghyun tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan seragam judonya.

“Jangan lari kau, Seohyun! Kenakan baju judomu dan kita bertarung satu lawan satu?”

Seohyun bersembunyi di belakang Onew yang juga sudah mulai ketakutan.

“Kau pengecut, Seohyun! Kau…”

Minhyuk tiba-tiba muncul di hadapan Jonghyun saat namja yang mulai emosi itu ingin menghampiri Seohyun.

“Aku nggak tahu masalah kalian apa, tapi jangan berkelahi dengan yeoja, Jonghyun!” Minhyuk menahan tubuh Jonghyun.

“Ya, kenapa kau membela yeoja iblis itu? Dia itu hanya manis di luar, berbanding terbalik dengan kepribadiannya.”

Seohyun menatap Minhyuk dan kemudian berlari menjauhi mereka.

Dia merasa apa yang di katakan Yonghwa dan Jonghyun benar. seseorang yang ada di dalam dirinya sangat menyeramkan hingga membuat orang-orang membencinya. Dan Minhyuk. Seohyun bingung kenapa namja itu masih membelanya setelah melihat sisi Seohyun yang lain kemarin.

Jalan Seohyun terhenti begitu melihat Roo yang ketakutan karena kucing liar besar yang kini terlihat mengancam Roo. Seohyun panik, tidak tahu harus berbuat apa. Begitu melihat sapu lidi di sampingnya, dia mengambil dan memukul kucing besar itu. Seohyun memeluk si kecil Roo dan merasa lega karena kini sudah aman.

Tapi ternyata tidak. Kucing liar tersebut mendekat ke arah Seohyun dan bersiap menyerang. Seohyun memejamkan matanya. Kemudian dia merasakan dua tangan yang merengkuh bahunya. Sontak membuatnya membuka mata perlahan dan melihat siapa si pemilik tangan tersebut. Yonghwa datang dan menendang kucing tersebut hingga tidak muncul kembali.

Onew datang, lalu mengambil alih Roo. “Kau nggak terluka kan, Roo? Ayo kita ke dokter?” Jiwa penyayang binatang Onew muncul. Dia menggendong Roo dengan sangat hati-hati dan membawanya menuju UKS. Padahal tidak ada satu lukapun yg di alami Roo.

“Yonghwa-ya, gam…gamsa…”

“YA! Kalau kau takut sebaiknya kau lari bukannya bengong, babo!” bentak Yonghwa.

“Mm…mianhae!” jawab Seohyun ketakutan.

Yonghwa mendengus kesal. Dia berbalik membelakangi Seohyun. “Yah, walaupun kau ini cengeng, tapi kau berani juga.”

Yonghwa kembali berbalik menghadap Seohyun.

“Jangan lari dari Minhyuk kalau kau benar-benar menyukainya. Yang kemarin itu hanya salah paham dan jelaskan itu pada Minhyuk.”

Seohyun menunduk. “Ta..tapi aku…”

“Nggak ada gunanya kau menangis, Seohyun! Dan jangan pasang tampang sedih begitu. Aish!”

Yonghwa memalingkan wajahnya.

Seohyun merasa apa yang dikatakan Yonghwa benar. Dia mulai menyadari tidak ada gunanya dia bersedih. Walaupun Minhyuk tidak menyukainya lagi, tapi dia mendapat suatu kepastian.

“Gomawo, Yonghwa!”

Seohyun tersenyum pada Yonghwa sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu. Senyum pertama Seohyun. Tak terasa wajah Yonghwa memanas.

“Aish! Apa yang aku lakukan? Itu nggak ada hubungannya denganku. Eih!”

Yonghwa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

 

 

 

Di waktu yang sama. Onew memeluk Roo karena senang anjing itu tidak mengalami apa-apa. Suster sekolah hanya memandangnya aneh. Dia bukan dokter hewan tapi Onew memaksanya untuk memeriksanya.

“Hyaaaa, kau nggak apa-apa, Roo!” kata Onew seraya menempelkan pipinya ke pipi Roo. “Ya, bahkan kucingpun menindasmu? Itu karena wajahmu terlalu lucu!” Onew tampak sedang berpikir. Tiba-tiba dia mengeluarkan spidol hitam besar dari kantong celananya dan menyeringai pada Roo. “Hehehehe…!”

 

 

 

“Kau tanya bagaimana aku bisa menemukan Seohyun? Igeo!”

Jonghyun menyerahkan sebuah kertas pada Yonghwa. Yonghwapun membaca dan terkejut karena isi suratnya sama persis dengan surat yang ia dapat.

Sepertinya orang yang membenci Seohyun di masa lalu mulai berdatangan. Kalau Seohyun kalah dari orang aneh ini maka….Tidak! Orang yang akan menghabisi Seohyun adalah aku!” batin Yonghwa.

Hey, Yonghwa! Kau juga pasti dendam dengannya karena di masa lalu kan? Ayo kita kerja sama!”

“Kau bercanda, hah?” bentak Yonghwa. Yonghwa mengambil ancang-ancang, membentuk kuda-kuda untuk menyerang Jonghyun.

“Jika kau ingin bertanding dengannya, lawan aku dulu!”

 

 

 

Seohyun berjalan menuju kelas. Pikirannya melayang ke mana-mana.

“Pertama aku akan minta maaf karena tadi aku lari begitu saja. Yah, Minhyuk pasti mau memaafkanku. Hwaiting!” gumam Seohyun. Tangannya mengepal, mulai merasa harap-harap cemas.

“Seohyun-ah!”

Yang dipanggil berbalik dan melihat kakaknya berlari mendekat sambil menggendong anjing kecil.

“Lihat karyaku!” Onew menunjukkan wajah Roo pada Seohyun. “Aku menambahkan alis mata tebal agar nggak ada yang mengganggunya lagi!”

“YA, OPPA! Kau ini bodoh atau apa, hah? Pemiliknya akan mengamuk pada kita!”

Seohyun merebut Roo dari genggaman Onew dan berniat ke toilet untuk menghapus spidol hitam yang melekat di atas mata Roo. Tapi hal itu urung dilakukannya begitu mendengar ucapan beberapa namja.

“Anak kelas 2C ada yang bertengkar. Ayo kita lihat!”

“2C? Kelasku? Siapa?” gumam Seohyun.

Seohyun berlari mengikuti ke mana namja-namja itu pergi. Sebelumnya dia serahkan Roo pada Onew. “Hapus!”

Sesampainya di tempat tujuan, Seohyun hanya mampu menutup mulutnya yang menganga lebar. Dua orang yang dia kenal, Yonghwa dan Jonghyun, sedang beradu pedang kayu.

“Kau boleh juga, Yonghwa! Aku kira kau bisanya hanya menangis!” Jonghyun menyeringai.

“Itu dulu, Jonghyun!”

Pedang mereka masih melekat, saling mendorong dan ingin membuktikan siapa yang lebih kuat.

“Mereka berdua sedang apa?” tanya Seohyun panik.

“Mwolla!” jawab Onew yang bukannya ke toilet malah mengikuti Seohyun berlari.

Jonghyun mampu mendorong Yonghwa hingga tersungkur.

“Tetap saja aku yang kuat, Jung Yonghwa! Rasakan ini!”

Jonghyun mengangkat pedang kayunya, berniat memukul Yonghwa. Yonghwa memejamkan matanya karena sudah tidak bisa menghindar lagi.

Namun tidak ada satu pukulan yang Yonghwa rasakan. Dia membuka matanya dan mendapati punggung seorang yeoja dengan di depannya.

Seohyun berbalik dan berjongkok menyetarai Yonghwa.

“Gwenchana?” tanya Seohyun.

“YA! Jeongmal paboya! Kepalamu jadi berdarah kan!”

Seohyun meraba kepalanya dan merasakan cairan hangat. Seohyun memandang tangannya sendiri yang berbercak merah pekat.

NGIIIIIIIIIING!

“Kau mengajakku bertanding, Seohyun? Hah! Aku menanti saat-saat ini dari tadi!” geram Jonghyun.

Seohyun melepas kunciran rambutnya dan merebut pedang kayu yang di genggam Yonghwa. Diapun melayangkan pedang kayu itu ke bahu kanan Jonghyun. Tidak keras tapi cukup membuat Jonghyun tersentak.

Kau lancang ya padaku! Anak buahku yang ke 100, Hyunie!”

“Ya…YA! Jangan panggil aku Hyunie!” seru Jonghyun kesal.

Kau berbuat kekacauan dengan benda ini. Ini kriminal!”

Orang-orang hanya menonton mereka berdua, begitu pula Yonghwa dan Onew. “Sekarang pertarungan antara yeoja dan namja!” seru salah seorang penonton.

Seohyun! Kenapa kau berubah saat ramai-ramai begini???” batin Onew.

Seohyun tiba-tiba menyerang Jonghyun. Beruntung namja itu menahan dengan pedangnya sendiri. Jonghyun merasa ada yang berbeda dengan Seohyun. Sikapnya berbeda darstis.

Jangan melamun, Hyunie! Sana pulang Busan!”

Jonghyun menghindar dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang Seohyun.

“Kau ini payah, Seohyun! Rasakan ini!”

Kau pikir begitu?”

Seohyun melayangkan pedangnya dan tiba-tiba saja Jonghyun terhenti. Penonton terkejut, tapi tidak dengan Seohyun. Dia hanya menyeringai lebar.

“Aigoo! Jonghyun-ssi… itu… kekanak-kanakkan!”

“Hya, menggelikan!”

Penonton riuh dengan komentar mereka masing-masing.

Jonghyun menatap ke arah bawahnya. Celana rajutan bertulisakan Hyunie dan bermotif hati terpampang jelas.

Hmm, perkiraanku tepat. Kau masih memakai celana rajutan buatan ibumu, Hyunie! Walaupun sudah bertahun-tahun lamanya, kekekekeke!”

Wajah Jonghyun memerah.

Kau ingat saat kompetisi dulu? Kau kalah dariku. Ah ya, pasti karena aku menyembunyikan celana keberuntungan buatan ibumu kan? Kekekeke! Karena kau kalah, aku menggantungmu di pohon hanya dengan celana rajutan itu. aigoo! Itu lucu sekali!”

“Jangan berkata apa-apa lagi!” bentak Jonghyun seraya memakai seragam judo bagian bawahnya kembali.

Karena kau membuatku muak, kau harus merasakan serangan terakhirku!”

Devil!” batin Yonghwa dan Jonghyun.

Seohyun-ah, aku rasa itu sudah cukup, kau…” Onew berjalan mendekati Seohyun, lalu tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri hingga terjatuh. Roo yang sedari tadi dia gendong terlempar ke arah Seohyun.

Berhenti menentangku! Mati kau!” Seohyun melayangkan pedang kayunya pada Jonghyun, tapi tiba-tiba…

PLUK!

Roo mendarat tepat di atas kepala Seohyun.

NGIIIIIIIIIING!

Seohyun gemetaran memandang sebuah pedang kayu yang digenggamnya kini.

Pabo! Kenapa berubah sekarang???” rutuk Yonghwa di dalam hatinya.

Jonghyun melihat sebuah celah dari Seohyun dan dia pun berniat menyerang yeoja itu.

“Mati kau!” seru Jonghyun.

Tanpa ada yang menduga Seohyun mengibas-kibaskan pedang kayunya sembarangan, berusaha mencegah serangan Jonghyun.

“Seohyun masih di posisi terkuatnya. Walaupun dia terlah berubah seperti semula, tapi reaksinya masih sangat bagus. Ayo, kau pasti bisa, Seohyun!” seru Onew menyoraki adiknya yang sedang berkelahi.

Bukannya menolong! Dasar kakak yang aneh!” batin Yonghwa seraya menatap namja yang ada di sampingnya.

Tiba-tiba pedang kayu milik Seohyun patah dan hal ini dimanfaatkan betul-betul oleh Jonghyun.

“Keberuntunganmu sudah hilang, Seo Joohyun!” kata Jonghyun menyeringai lebar.

Seohyun menutup matanya, pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Namun dia tidak merasakan apapun. Karena penasaran dia membuka matanya dan mendapati Roo sedang menahan pedang kayu Jonghyun dengan kedua kaki depannya.

Entah kenapa bisa jadi begitu, tapi Roo berhasil merobohkan Jonghyun hanya dengan sekali serangan –bukan menggigit, tapi memukul, aneh memang-.

Seohyun menggendong Roo dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada anjing kecil itu.

“Gwenchanayo?” tanya Onew menghampiri mereka berdua. Seohyun tiba-tiba melemas begitu tau kakaknya bukan mengkhawatirkan dirinya, melainkan Roo.

“Gwenchanayo, Roo? Omo! Setelah aku memberikan alis tebal itu, kau jadi kuat! Hebat!” kata Onew ber-high five dengan Roo.

Pabo oppa!” geram Seohyun di dalam hatinya.

“Kau bisa berdiri, Seohyun?”

Yonghwa menggenggam lengan Seohyun dan membantunya berdiri.

“Ya, ya! Ada ribut-ribut apa ini?” Shim sonsaengnim tiba-tiba datang. “Ya, kau, Lee Jonghyun! Jangan tidur di lapangan. Pulang sana kalau kau sakit!” Sang wali kelas tidak sadar dengan apa yang telah terjadi pada Jonghyun.

Yonghwa membantu memapah Seohyun, tapi ternyata dirinya yang butuh dipapah.

“Aigoo! Kepalamu kenapa berdarah juga, Yonghwa? Kajja kita ke UKS!”

Baru saja mereka melangkah selangkah, Yonghwa ambruk.

 

 

 

Yonghwa berjalan menghampiri Seohyun. Tangan Yonghwa menarik tangan Seohyun yang sedari tadi menutupi wajahnya.

“Ya, kenapa kau menangis?” tanya Yonghwa.

Seohyun kembali menutupi wajahnya. “Karena aku tidak bisa mengingat apapun!”

“Sudahlah, jangan menangis!”

Seohyun membuka matanya dan menyeringai lebar –evil smirk-.

“Kena kau, Yonghwa! Kekekeke!”

Yonghwa tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan mendapati dirinya berada di tempat lain, menatap langit ruangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

“Aku bermimpi. Eh, di mana aku?”

Yonghwa meraba keningnya dan mendapati sebuah kain kecil basah.

Seseorang tiba-tiba memeluknya dari samping.

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! ONEW HYUNG!”

 

 

 

“Kami nggak tahu rumahmu di mana? Makanya kami bawa ke rumah kami. Kami sudah memanggil dokter dan katanya kau baik-baik saja, hanya demam biasa. Lukamu juga nggak apa-apa. Oh ya, maafkan Onew oppa ya, dia kalau sedang menunggu seseorang suka tertidur!” kata Seohyun panjang lebar seraya meletakkan makan malam di meja.

“Hah? Ah ye, gomawo!”

“Mianhae, Yonghwa-ya! Aku sudah menghapus spidol di alis Roo. Lihat!” kata Onew memperlihatkan wajah Roo pada Yonghwa.

“Yonghwa-ya, kau mau menghubungi orang rumah? Takut orang rumahmu khawatir kau nggak pulang-pulang,” tawar Seohyun.

“Nggak perlu. Aku tinggal sendiri di apartemen.”

“Mworago?” Onew mendelik pada Yonghwa. “Kau tinggal sendiri? Orang tuamu mengizinkan begitu saja?”

“Nggak lah! Sebelumnya aku bertengkar dulu dengan orang tuaku karena aku tetap ingin pindah ke Seoul?” jawab Yonghwa seraya menatap tajam mata Seohyun. Seohyun hanya menatapnya aneh.

“Mmm..mianhae!”

“Kenapa kau minta maaf?” tanya Yonghwa.

“Itu… karena aku kau…”

Seohyun tiba-tiba beranjak dari kursinya.

“Aku mau ambil minum dulu!” dalih Seohyun. Yonghwa penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Seohyun sebenarnya.

“Waaa, aku mau mandi dengan Roo!” Onew ikut beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar mandi.

Sambil menuang air minumnya, Seohyun berpikir sejenak. Dia merasa Seohyun yang ada di dalam dirinya sangat penting bagi Yonghwa.

Seohyun menenggak air minumnya. Namun tiba-tiba dia merasakan sesuatu menjalar di kakinya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Sontak Yonghwa bangkit dari kursinya. Dia melihat Seohyun muncul dari dapur dan tiba-tiba memeluknya.

“Ya, pabo! Lepas!” Yonghwa berusaha melepas Seohyun tapi yeoja itu malah memeluknya erat.

“Yonghwa, itu… itu…!”

Seohyun menunjuk seekor kecoa yang tiba-tiba saja terbang ke arah mereka.

NGIIIIIIIING!

Yeoja itu melompat dan menginjak mati kecoa malang itu.

Hanya kecoa bodoh dan kau ingin menakutiku? Itu tandanya kau mau mati!”

Seohyun yang telah berubah menjadi Seohyun terus menginjak-injak kecoa yang sebenarnya sudah mati saat diinjak pertama tadi.

“Ya, ada ribut-ribut apa sih?” Onew muncul kembali, sudah mengenakan piamanya. “Kau kenapa, Yonghwa? Kau tampak aneh.”

“Aku rasa sakitku makin parah, hyung!” kata Yonghwa lemas sambil menggosok-gosok keningnya.

 

 

 

Untuk sementara Yonghwa tidur di kamar Onew. Apartemen kedua bersaudara itu hanya memiliki dua kamar. Dan kini mereka bertiga berkumpul di kamar Onew.

“Ya, kalian kenapa menungguku di sini?”

“Aku takut kau kenapa-kenapa, Yonghwa!” jawab Onew.

“Aku hanya demam, hyung!”

Yonghwa kemudian menatap Seohyun. Ah tidak, Seohyun. “Kenapa kau menatapiku begitu?” tanya Yonghwa salah tingkah.

Anak buahku mulai berdatangan. YAISH!!!! Harusnya aku patahkan tulang Jonghyun saat aku bertanding dengannya dulu!”

Kau benar-benar mimpi buruk!” seru Yonghwa di dalam hati.

Ya, oppa bodoh! Jauhkan anjing sialan itu dariku atau aku akan mencincangnya kecil-kecil!”

Onew yang mendengar ancaman adiknya tiba-tiba beranjak dari duduknya dan berlari membawa Roo keluar.

Seohyun menyeruput orange juice-nya yang tadi dia bawa.

“Kenapa kau selalu berubah saat Roo menyentuhmu?” tanya Yonghwa tiba-tiba.

Mwolla! aku merasa aneh jika berada di dekat anjing itu. Pikiranku tiba-tiba kosong!”

Seohyun meletakkan gelasnya sembarangan.

Lalu kau? Kenapa kau berkelahi dengan Jonghyun?” tanya Seohyun seraya menopangkan dagu di tangannya.

“Itu bukan urusanmu!” Yonghwa memalingkan wajahnya.

Oh Yonghwa! Kau ini nggak pandai berbohong. Pasti karena aku, ya kan? Hemmm?”

Jangan menyebut namaku dan….. YA JANGAN DEKAT-DEKAT!” bentak Yonghwa begitu Seohyun mendekatkan wajahnya, tapi Seohyun tidak menggubrisnya.

Hey, hubungan kita bagaimana? Kita kan sudah berciuman.”

“Ya…YA, jangan mengungkit itu (‘////’) !”

Wajahmu memerah, Yong! Kau manis sekali!” goda Seohyun.

Tiba-tiba dahi mereka beradu. Sesuatu menimpa kepala Seohyun dan terdorong ke wajah Yonghwa.

“Kerja bagus, Roo!” puji Onew.

NGIIIIIIIIIING!

Seohyun terkejut karena wajah Yonghwa tiba-tiba tepat sekali di depan wajahnya.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH?” Spontan Seohyun meraih bantal yang ada di dekatnya dan melempar tepat di wajah Yonghwa. Seketika namja itu ambruk.

 

***

 

Onew, Seohyun dan Yonghwa turun bersamaan dari dalam mobil. Sekolah masih sepi, mereka datang kepagian.

“Seragamku pas ternyata di tubuhmu!”

“Seragam ini baru kau beli, hyung? Masih keliatan baru.”

“Aku nggak pernah memakainya. Dulu aku membelinya untuk kupakai kalau aku bertambah tinggi, ternyata nggak tinggi-tinggi juga.”

“Wah, Yonghwa, seragam ini sangat pas di tubuhmu!” kata Seohyun. Yonghwa membuang muka, enggan menatap Seohyun.

Apa dia masih marah karena semalam, ya?” tanya Seohyun di dalam hatinya.

“Ada apa dengan rambutmu? Tumben kau hanya menguncir bagian rambut atasmu?” tanya Yonghwa sedikit acuh.

“Eh? Aku hanya ingin ganti suasana.”

Yonghwa dan Seohyun berpisah dengan Onew begitu mereka sampai di depan kelas 2C. Seohyun membuka pintu kelas yang tertutup.

“Seohyun datang!” seru salah satu teman sekelasnya. Seohyun hanya memandang mereka-mereka yang memandangnya. Ia yakin sekali kalau barusan dirinya sedang dibicarakan.

“Kemarin kami melihat kau berkelahi dengan Jonghyun. Kau sangat keren, Seohyun!”

“Kami semua sangat terkejut. Kau hebat!”

“Walaupun Yoojin, Sooyoung dan Hyuna masih takut untuk berdekatan denganmu, kami masih mau ngobrol denganmu.”

Seohyun tidak menyangka akan mendapat respon hangat dari teman-temannya. Yang dia bayangkan adalah teman-temannya akan menjauh darinya. Ternyata sebaliknya.

“Seohyun?”

Yang dipanggil menengok ke belakang dan betapa terkejutnya dia begitu tau siapa yang memanggilnya.

“Minhyuk?”

“Aku sudah mendengar kejadian kemarin! Kau sangat hebat, Seohyun,” puji Minhyuk seraya tersenyum manis.

Minhyuk.. walaupun aku belum menjelaskan kesalahpahaman kita, tapi kau tetap tersenyum padaku, batin Seohyun.

“Seragammu sudah jadi, Yong!” celetuk salah seorang teman sekelas.

“Ani, ini milik Onew hyung!” jawab Yonghwa seraya memperlihatkan sebuah nama di dalam jasnya. “Semalam aku tidur di rumah Seohyun, jadi aku meminjam seragamnya.”

Tiba-tiba Yonghwa menyadari sesuatu, begitu juga Seohyun. Mereka berdua mendapat tatapan aneh dari teman-teman mereka.

“Kau tidur di rumah Seohyun? Hubungan kalian.. seperti itu?”

“Kalian sudah sejauh ini?”

“TIDAK!” kata Seohyun dan Yonghwa serempak.

“A..aku tidur di sana hanya semalam.”

“A..ada Onew oppa, kok! Benar! Apa perlu aku panggilkan oppa-ku?”

Teman-teman mereka masih mencurigai mereka dan merekapun terus memberi penjelasan. Hanya Yonghwa yang menyadari kepergian Minhyuk dari kelas.

“Ya!” Yonghwa mengejar Minhyuk. Minhyukpun menghentikan langkahnya. “Jangan salah paham dulu. Nggak ada hubungan di antara kami berdua. Aku bisa jelaskan.”

Tanpa berbalik Minhyuk berkata, “Aku nggak memintamu untuk menjelaskan situasinya. Walaupun kau anak baru dan aku menyambutmu dengan baik, belum berarti kita teman kan?” Minhyuk menoleh ke belakang dan menatap tajam mata Yonghwa. “Aku sudah lama sekali membencimu.”

 

 

 

“Jadi kalian berdua teman SD? Oh!”

“Iya!”

Seohyun beruntung teman-temannya mulai percaya dengan kata-katanya.

Kini Seohyun tengah makan siang dengan bekalnya di kelas. Ini pertama kalinya dia makan bersama teman-temannya.

“Eh, sebentar lagi festival sekolah. Apa yang akan kita lakukan tahun ini?”

“Festival sekolah?” tanya Seohyun.

“Ah iya, kau kan pindah ke sini di akhir tahun yang lalu. Kau pasti belum tau ya? Festival SMA Seoul. Untuk merayakan ulang tahun sekolah kita. Kadang mengundang orang-orang terkenal, lho!”

“Aku harap pak kepala sekolah Yang Seungho membawa Jjong ke sini.”

“Jjong?” tanya Seohyun lagi.

“Kau nggak tau Jjong? Namanya Kim Jonghyun. Dia artis pernyanyi yang lagi booming saat ini. Suaranya bagus sekali,  tampan, orangnya tinggi pula.”

“Makanya nonton tivi dong. Nanti malam dia perform. Lihat saja nanti di tivi.”

 

 

 

Seseorang baru saja selesai manggung dan berjalan gontai menuju ruangan yang dikhususkan untuknya.

“Aku lelah!”

Dia merebahkan diri di sofa. Sang manajer memberikannya minuman. Kemudian datang seseorang dari agensi tempat dia bernaung.

“Aku dengar dari manajer kau pindah ke sekolah biasa ya? Ada apa memang dengan sekolahmu yang lama?”

“Tidak ada apa-apa! Aku baru menemukan seorang teman lama dan dia bersekolah di sana. Aku harus membereskan sesuatu,” katanya seraya meremas kertas bertuliskan:

-Seo Joohyun berada di SMA Seoul, kelas 2C-

 

-tbc-

 

 

14 thoughts on “W PINCH [chapter 3]

  1. kalo baca ff nie ak sambil ngebayangn komiknya….wua~ jotha jotha!!! neomu jowayo…selalu bag onew yg bkin perutku sakitt!!!
    lanjuuuuutt chingu……^^

  2. Pingback: W PINCH [chapter 5] | ffcnblueindo

  3. Pingback: W PINCH [chapter 5] « SHINY BLUE

  4. Pingback: W PINCH [chapter 6] | ffcnblueindo

  5. Pingback: W PINCH [chapter 6] « SHINY BLUE

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s