Tearsdrop In The Rain

Author: Va & kang hyeri [mpebri]

Length: oneshot

Genre: romance, angst

Rating: G

Cast:

  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Lee Shinyong [OCs / YOU]
  • Lee Jonghyun

Disclaimer: plot belongs to Va

**************************************************************

 

Malam ini hujan cukup deras, disertai  petir yang tidak henti-hentinya bergemuruh. Seorang namja tengah asyik berselancar di dunia maya dengan ponsel  yang ada di genggamannya sembari tidur tengkurap di atas tempat tidur empuknya.  Tiba-tiba datang sebuah pesan masuk. Ia serius menatap layar ponselnya begitu mengetahui siapa si pengirim pesan tersebut. Sesekali ia tersenyum membaca pesan singkat itu.

 

From: Shinyong

Annyeong, Yong! Sedang apa?

 

Yonghwapun membalasnya segera.

 

To: Shinyong

Annyeong! Aku hanya bersantai-santai saja di kamar. Kau sendiri sedang apa? Eh, tumben kau sms?

 

Yonghwa dan Shinyong terlibat percakapan via sms

 

Shinyong: Mmm aku sedang memikirkan seseorang ^^

Yonghwa: Mwo??? Memikirkan seseorang? Siapa namja beruntung itu?

Shinyong: Ahaha, kau mau tau saja ^^ tentunya seseorang yang sedang aku sukai

Yonghwa: Ayolah. masa mau main rahasia-rahasian dengan chingumu ini?

Shinyong: Dia satu kelas dengan kita. kau juga mengenalnya dengan sangat baik…. ^^

Yonghwa:  Benarkah? Tapi siapa ya? Tak terlintas sedikit pun di pikiranku siapa namja itu (><)

Shinyong: Nanti juga kau akan tahu

Yonghwa: Tapi kapan?

Shinyong: Entahlah! Eh, aku mengantuk. Selamat malam! Semoga kau memimpikanku, hahaha

Yonghwa: Aish, buang-buang waktu memimpikanmu, haha. Selamat malam J

 

 

Yonghwa pov

 

Tumben sekali yeoja itu mengirimiku sms duluan. Biasanya dia paling anti untuk memulai. Entahlah, mungkin dia butuh teman cerita. Ngomong-ngomong siapa namja di kelas yang dia sukai? Beruntungnya… Andai namja itu adalah aku. Andai…

 

***

 

Author pov

2:17 pm di kantin kampus…..

 

Yonghwa sedang asik memakan soondae yang tadi dibelinya. Dia baru sempat makan siang sekarang karena tadi harus mengurus tugas-tugas milik teman-teman sekelasnya yang harus segera dikumpulkan sebelum jam dua siang. Nasib seorang ketua kelas.

“Yonghwa!” panggil seseorang dari kejauhan. Yonghwa menoleh dan ia melihat Jonghyun sedang melambaikan tangan kearahnya. Yonghwapun membalas lambaian tangan Jonghyun. Jonghyun berlari kecil menghampiri tempat duduk Yonghwa.

“Yong, kau mau ikut?”

“Kemana?”

“Aku mau pergi ke toko buku dengan Shinyong. Bukankah kau juga berencana pergi ke toko buku hari ini?”

Yonghwa menepuk dahinya begitu mengingat sesuatu.

“Ah, iya! Aku lupa! Tapi aku nggak jadi pergi hari ini. Aku… aku harus menemani eomma menjenguk temannya yang sakit.”

“Jonghyun!” seseorang dari kejauhan memanggil Jonghyun, sontak si pemilik nama dan Yonghwa menoleh.

“Shinyong memanggilku. Kalau begitu aku pergi dulu ya!”

Jonghyun menepuk bahu Yonghwa dan berlari ke arah Shinyong, menggandeng tangan yeoja itu dan menggiring Shinyong ke motor miliknya.

“Jonghyun dan… Shinyong? Jangan-jangan  namja yang dia sukai saat ini adalah Jonghyun,” gumam Yonghwa.

Tiba-tiba Yonghwa meletakkan asal sendok yang tadi dia pegang. Nafsu makannya hilang seketika. Entah kenapa dia merasa kesal.

DRRRRRRRRRRT! Ponsel yang dia letakkan di meja bergetar.

“Yobosseyo? …. Ah, ye eomma! Sebentar lagi aku sampai di rumah sakit. Eomma langsung ke ruangan Dr. Jung saja, aku menyusul.”

 

***

 

Shinyong pov

 

Malam ini hujan kembali turun deras. Ah, kenapa hujan-hujan begini aku jadi kepikiran Yonghwa ya? Sedang apa dia sekarang? Aku sms nggak ya kayak minggu lalu? Ah, rasanya aneh sekali mengiriminya sms duluan. Lagi pula akhir-akhir ini sikapnya aneh. Dia sering menghindari kalau aku mendekatinya.

Ah, masa bodoh lah!

 

To: Yonghwa

Annyeong, Shinyong’s back haha ^^

 

Sudah terkirim. Dan… WAH, aku nggak nyangka dia akan membalas secepat ini.

 

From: Yonghwa

Annyeong J

 

Shinyong: kau sedang apa? Apa sedang memikirkanku?

Yonghwa: siapa bilang?

Shinyong: aku kan yang bilang barusan, hehe

Yonghwa: aish, kau lucu Shinyong, hehe

 

Sepertinya Yonghwa selama ini bukan marah sama aku. Apa aku tanya saja ya kenapa akhir-akhir ini dia menghindariku? Ah, lupakan lah! Yang penting Yong nggak marah sama aku.

Dari pada itu, sebaiknya aku jujur mengenai sesuatu saja padanya. Mumpung suasanya hatinya –sepertinya- sedang baik.

 

 Shinyong: Yonghwa-ya, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mu

Yonghwa: Wah…sepertinya serius nih ^^

 Shinyong: tapi kau jangan marah ya?

Yonghwa: tergantung. ada apa sih?

Shinyong: hmm minggu lalu aku cerita kan kalau aku menyukai seseorang?

Yonghwa: Jonghyun maksudmu?

Shinyong: Jonghyun?

Yonghwa: dia kan namja yang kau sukai? Mian kalo kesannya selama ini aku menghindarimu. Aku takut terjadi salah paham aja nanti

 

Kenapa kau berpikiran begitu, Yong? Jadi kau mengira aku menyukai Jonghyun? Dan kau menghindariku karena itu? Paboya! Tanya-tanya dulu sebelum bertingkah.

 

Shinyong: aku dan jonghyun nggak ada hubungan apa-apa

Yonghwa: JINJJA???

Shinyong: kau sepertinya terkejut sekali, yong

Yonghwa: ehehe mian, aku salah tekan, capslock ponselku jadi aktif. Jadi, siapa namja yang kau sukai?

 

Aku bingung harus jawab apa. Aku merasa mengungkapkannya via sms kurang etis. Tapi kalau bertatapan muka langsung dengannya yang ada aku hanya diam mematung.

Haaah! Tarik nafas dalam-dalam! Tekan tiga huruf dan kirim.

Huaaaaaaaaaaaa, dugeun-dugeun!

CLING! Sms balasan dari Yong sudah datang. Tarik nafas dalam-dalam lagi dan buka isi pesan Yonghwa.

 

Yonghwa: aku?

Shinyong: ne, yang aku sukai adalah kau, Jung Yonghwa

 

 

Yonghwa pov

 

Shinyong: ne, yang aku sukai adalah kau, Jung Yonghwa

 

Aku benar-benar tak percaya namja yang ia suka adalah aku. Apakah aku senang? SENANG SEKALI! Aku juga menyukainya. Menyukai seorang yeoja yang pertama kali aku kenal saat ospek kurang lebih setahun yang lalu.

Aku benar-benar bingung, bagai mana aku menghadapinya besok di kampus? Jangankan itu, sekarang saja aku bingung harus membalas apa pesan darinya. Aku pasti kikuk saat bertemu dengannya besok.

Tapi rasanya percuma juga mengetahui kalau dia menyukaiku. Toh tak lama lagi aku akan pergi.

Aku pun menarik selimutku hingga menutupi wajahku dan aku mencoba memejamkan mataku.

Maaf, Shinyong, aku tidak bisa membalas sms-mu.

 

***

 

Author pov

 

“Annyeong!” sapa Shinyong pada Yonghwa begitu yeoja itu melihat Yonghwa di koridor.

“Aa..annyeong!” balas Yonghwa.

Entah kenapa mereka jadi merasa canggung untuk bicara satu sama lain. Dan itu pasti karena sms semalam.

“Kajja! Sebentar lagi sonsaeng datang!” seru Shinyong dan ia pun menarik tangan Yonghwa, berlari menuju kelas mereka.  Seketika detak jantung mereka berdua berdegup tidak karuan.

Ya Tuhan! Kenapa aku jadi begini? Kenapa detak jantungku berdegup kencang seperti ini? Batin Yonghwa.

Setelah sampai di dalam kelas, Shinyong melepaskan tangan Yonghwa dan mereka berjalan menuju kursi mereka masing-masing.

 

Debaran kencang yang mereka rasakan tadi masih belum hilang. Dan akhirnya mereka tidak konsen pada mata kuliah yang sedang diajarkan.

 

Yonghwa pov

 

Ada apa denganku kali ini? Rasanya enggan untuk bertemu dengan Shinyong. Tapi di sisi lain aku ingin sekali bersama dengan yeoja yang aku sukai. Ah, kenapa nasibku begini?

Aku berusaha mengalihkan perhatianku pada buku yang sedang aku genggam. Saat ini aku sedang di perpustakaan sembari menunggu jam istirahat usai. Namun tiba-tiba Shinyong datang menghampiriku.

“Wah! Kau serius sekali membacanya?!” ucap Shinyong. Ia duduk di samping tempat dudukku, memberikan senyuman manisnya padaku. Tapi aku tidak membalas senyumannya, aku malah pura-pura kembali asik dengan buku di genggamanku ini. Aku bisa merasakan kalau yeoja itu kini sedang menatapku heran.

Aku beranjak dari kursiku dan meninggalkan Shinyong.

“Yong-ah, kau mau kemana?” tanya Shinyong. Tapi aku tak mejawabnya, aku sengaja bersikap acuh padanya.

Mianhae Lee Shinyong! Jeongmal mianhae!

 

***

 

Dua minggu berlalu. Dua minggu pula aku sudah mengacuhkan Shinyong. Akhir-akhir ini dia nggak mengikutiku lagi dan tidak lagi bertanya kenapa aku marah padanya.

Aku nggak marah padamu, Shinyong. Dan kau akan mengerti nanti.

Keadaan begini membuatku tersiksa. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Aku selalu menanti sms darinya. Dan yah, aku senang waktu itu dia terus menanyai perubahan sikapku padanya. Mungkin karena aku tak kunjung membalas sms-nya dan terus bersikap cuek padanya, dia lelah. Ya, pasti dia lelah. Beberapa hari ini hal itu nggak dilakukannya lagi dan sepertinya dia berbalik bersikap acuh padaku.

Kenapa aku jadi mellow begini? Bukankah ini yang aku inginkan?

“Yonghwa-ya!” Jonghyun menanggilku begitu dia sampai di kelas.

“Hmm?” aku hanya balas berdeham.

“Kenapa kau cuek sekali pada Shinyong?”

“Maksudmu?”

“Oh ayolah! Apa semua ini karena Shinyong menyukaimu?” tanya Jonghyun tepat sasaran.

Aku mengangguk pasrah.

Jadi dia bercerita pada Jonghyun? Aish! Aku sangat menyukainya, Hyun! Tapi takdir yang memaksaku begini.

“Aish! Kau ini aneh, Yong! Bisa-bisanya kau mengacuhkan yeoja seperti Shinyong? Ya! Kalau kau memang nggak menyukainya setidaknya bilang terus terang. Dia mau kau memberinya kepastian. Dan walaupun kau nggak menyukainya, dia tetap ingin menjadi temanmu. Bukan dihindari seperti yang kau lakukan selama ini.”

Jonghyun mendengus kesal dan pergi ke kursi paling depan. Sepertinya dia marah padaku

 

***

 

Semakin hari aku semakin menyadari bahwa aku ternyata tidak menyukai Shinyong, tapi aku mencintainya. Namun seperti nya itu sudah terlambat. Jonghyun pernah menceritakanku isi curahan hati Shinyong padaku dan yeoja itu bilang akan melupakanku. Mungkin semua ini karena sikapku padanya selama ini. Bukan mungkin, tapi pasti.

Setidaknya kau nggak akan merasakan sakit yang luar biasa saat aku pergi meninggalkanmu, Shinyong. Biar aku saja yang merasakan sakitnya.

 

Shinyong pov

 

Ottokhae? Aku sangat mencintainya, tapi mungkin aku harus melupakannya. Melupakan cinta pertamaku, cinta pertama yang tidak mencintaiku. Mungkin aku tak bisa mendapatkan cintanya, tapi bisa melihatnya saja aku sudah senang. Senyuman Yonghwa benar-benar membuatku bahagia. Yah tapi akhir-akhir ini ia jarang sekali tersenyum saat berpapasan denganku.

Apa mungkin ia membenciku? Apakah salah kalau aku bilang suka padanya? Ah andai saja aku tidak menceritakan isi hatiku yang sebenarnya padanya, mungkin sekarang ini aku sedang bersenda gurau dengannya di kantin ini.

 

Author pov

 

Sore itu Yonghwa sedang bersama Jonghyun di sebuah kafe. Tiba-tiba saja Yonghwa merintih kesakitan dan menghentikan makannya.

“Aww! Sakit.. sakit..,” rintihnya sembari menekan-nekan kepalanya.

“Kau kenapa?” tanya Jonghyun cemas. Jonghyun berusaha mencegah tangan Yonghwa yang kini mulai memukul-mukul kepalanya sendiri.

“Kepalaku.. arrrgh, sakit!”

Yonghwapun jatuh pingsan.

“Astaga! Yonghwa? Ireona… ireona..! YA, TOLONG AKU!” teriak Jonghyun meminta pertolongan pada orang-orang di kafe tersebut. Beberapa namja menghampiri dan membantu menggotong tubuh Yonghwa ke mobil milik namja yang sedang tak sadarkan diri itu.

Untunglah jalanan sore itu cukup lengang, memudahkan Jonghyun untuk menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata.

Jonghyun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Shinyong.

“Yeobosseyo? Shinyong-ah, cepat ke rumah sakit dekat kampus.”

“Wae? Siapa yang sakit?”

Yonghwa… yonghwa pingsan!”

“Mworago? Aku akan sampai di sana sebentar lagi!”

Jonghyun memutuskan sambungan karena sudah sampai di rumah sakit yang dituju.

 

 

 

Jonghyun dan Shinyong menunggu dengan cemas di depan ruang ICU. Mereka sendiri belum mendapat kepastian dari dokter karena sejak 30 menit yang lalu tidak ada satu orangpun yang keluar dari ruangan yang mereka anggap mengerikan itu.

Tak lama sang dokterpun datang. Mereka berdua berlari menghampirinya.

“Dok, bagaimana keadaan Yonghwa?” tanya Jonghyun.

“Kalian siapanya Yonghwa?”

“Kami berdua temannya!” jawab Shinyong

“Keadaannya baik-baik saja!” dokter itu hanya tersenyum dan pergi meninggalkan mereka berdua.

 

 

 

Shinyong mengamati wajah Yonghwa yang tertidur. Belum pernah dia melihat wajah polos Yonghwa seperti ini. Dia terus bertanya di dalam hatinya, ada apa dengan namja yang dicintainya itu? dokter maupun suster tidak mau memberitahukan keadaannya dengan alasan karena mereka orang asing.

Pintu kamar rawat inap Yonghwa terbuka. Seorang yeoja cantik nan elegan datang dengan air mata yang berurai.

“Yonghwa-ya!”

Yeoja paruh baya itu menghampiri Yonghwa dan menggenggam jemari namja itu. Shinyong yakin sekali kalau yeoja yang ada di seberangnya itu adalah ibunya Yonghwa.

Cantik. Pantas anaknya tampan begini, bantin Shinyong seraya tersenyum.

“Bibi?”

Jonghyun berjalan menghampiri ibunya Yonghwa dan yeoja itu baru sadar kalau ada orang lain selain dirinya dan Yonghwa di kamar itu.

“Jonghyun?”

“Apa kabar, bibi?”

Yeoja paruh baya itu mengusap air matanya. “Aku baik! Dan kau? Ah siapa yeoja ini? Apa kau yang bernama Shinyong?”

Shinyong hanya mengangguk canggung. Dia bingung dari mana orang itu mengetahui namanya.

“Kau memang cantik, persis seperti apa yang dikatakan anakku.”

Shinyong membulatkan matanya. Tidak percaya kalau Yonghwa pernah menceritakan dirinya pada ibunya sendiri. Spontan wajahnya memerah karena dipuji oleh ibu dari namja yang dia sukai.

“Sebaiknya kalian pulang saja, biar aku yang menunggunya. Ini sudah malam. Lagi pula kalian besok kuliah, kan? Aku sudah bicara pada dokter, keadaannya baik-baik saja. Dia hanya sedang banyak pikiran.”

Jonghyun dan Shinyongpun pamit undur diri. Mereka berjalan keluar.

“Sedang banyak pikiran? Lalu kenapa dokter dan para suster tampak panik?” gumam Jonghyun. Shinyong mendengarnya dan mulai mencerna apa yang dikatakan Jonghyun barusan.

 

***

 

Yonghwa pov

 

Aku benar-benar tak percaya, Shinyong masih saja mencemaskanku. Padahal selama ini sikap ku tak baik padanya.

“Ya, kenapa bengong?” tanya Jonghyun membuyarkan lamunanku.

“Hah? Ani!”

“Kau pasti memikirkan Shinyong, kan?”

“Aniya!”

“Kau kecewa kan Shinyong nggak menjengukmu? Tenang saja, besok dia akan datang. Hari ini dia harus mengurus anak baru hingga malam.”

“Aku nggak melamunkannya dan berhenti membicarakannya!” kataku sedikit membentak dan kali ini Jonghyun benar-benar diam.

 

 

 

Aku rindu sekali pada Shinyong. Apa benar dia besok akan menjengukku?

Apa sikapku selama ini padanya adalah benar? rasanya tidak enak memendam perasaan ini terlalu lama. Apa sebaiknya besok aku ungkapkan saja perasaanku padanya? Tapi penyakitku?

KLEK!

Pintu kamar rawatku terbuka dan spontan aku menoleh. Dokter Jung masuk bersama eomma yang sedang menangis.

“Eomma, kenapa menangis?”

Eomma hanya diam saja.

“Yonghwa, bagaimana keadaanmu, nak?” tanya dokter Jung seraya mengusap kepalaku.

“Aku baik-baik saja, appa! Aku sudah boleh pulang kan?”

Eomma hanya memandangku miris dan dokter sekaligus ayahku ini menggeleng pelan.

“Wae?”

“Kau nggak boleh pergi ke mana-mana sampai operasi dilaksanakan.”

“Operasi? Lagi?”

Mereka berdua tidak menjawab. Aku yakin pasti keadaanku makin memburuk.

“Sel ganas itu sudah menggerogoti sel-sel yang lain, nak! Kau harus dioperasi.”

“Shiro! Kalaupun dioperasi, toh nggak akan menyembuhkan penyakitku. Kau selalu bilang alasan itu setiap kali aku mau dioperasi, tapi nyatanya penyakitku kambuh lagi. Sudah lah, appa! Aku sudah pasrah! Biarkan aku hidup tenang walaupun hidupku hanya tinggal menghitung hari.”

Eomma kembali menangis dan appa berusaha menenangkan istrinya itu. Oh ayolah, kalian jangan menangis di depanku. Jangan membuat aku makin merasa bersalah!

 

***

 

Shinyong pov

 

Tadi aku berniat menjenguk Yonghwa. Tapi ruangannya kosong. Suster bilang Yonghwa sudah pulang. Aku menanyakan alamat rumah Yonghwa pada suster, tapi nggak diberikan. Bertanya pada Jonghyun, namja itu nggak tahu. Yah, Yonghwa selalu melarang kami untuk datang ke rumahnya memang, wajar kalau kami nggak tahu..

Kukeluarkan ponselku dan mengetik beberapa kalimat untuknya.

 

To: Yonghwa

Annyeong… Tadi aku mau menjengukmu ternyata kau sudah pulang. Sudah sehat rupanya?

 

Dibalas nggak ya?

DRRRRRRRRT!

Ah, dibalas!

 

From: Yonghwa

Bukan urusanmu! lebih baik kau jangan pernah mengirim sms padaku lagi..

 

Astaga! Jujur hatiku sakit sekali. Rasanya ingin menangis. Oh Tuhan! Ada apa dengannya? Aku akan melakukan apapun kalau itu bisa mengembalikan kebersamaan kami.

 

To: Yonghwa

Jeongmal mianhae, Yong! Aku janji sms ini untuk yang terakhirnya. Jaga kesehatanmu baik-baik, Yong..

 

 

Yonghwa pov

 

Lee Shinyong, mianhae! Aku terpaksa melakukan ini. Suatu saat kau pasti akan mengerti.

Tadinya aku ingin mengutarakan perasaanku padamu hari ini, tapi mengetahui hidupku tak lama lagi aku mengurungkan niatku itu. Sudah aku pikirkan masak-masak, ini demi kau juga, Shinyong.

 

***

 

Author pov

 

Satu minggu sudah Yonghwa tak masuk kampus, tidak ada kabar sama sekali. Jonghyun bingung dengan tingkah temannya itu. Tidak biasanya Yonghwa mengabaikan sms yang Jonghyun kirim untuknya.

“Jonghyun-ah, apa kau dapat kabar dari Yonghwa?” tanya Shinyong.

“Ani! Sms ku nggak ada satupun yang ia balas. Tiap aku telpon dia nggak pernah mengangkatnya. Hari ini aku mau pergi ke rumahnya, apa kau mau ikut?”

“kau sudah tau rumahnya?”

“Aku mendapatkannya dari Han sonsaeng.”

Shinyong tampak menimbang-nimbang. Ingin sekali ikut tapi dia jadi teringat akan pesan terakhir yang dikirim Yonghwa untuknya.

“Shiro! Kau saja yang pergi. Sampaikan salamku untuknya,” kata Shinyong lemas.

“Hey, ayolah! Siapa tahu waktu itu dia hanya bercanda. Pasti dia sudah lupa.”

“Jangan paksa aku, Jonghyun! Lagi pula sebentar lagi kita ada kelas.”

Jonghyun mengerutkan keningnya, lalu menghela nafas panjang. Dia paham apa yang sedang terjadi di antara dua temannya itu. “ Baiklah! Akan aku sampaikan salammu. Aku pergi dulu ya! Aku titip absen, kau pasti hafal tanda tanganku, kan?” Jonghyun terkekeh. Bagaimana bisa Shinyong lupa tanda tangan Jonghyun. Setiap minggu ada saja kelakar Jonghyun untuk membolos dan Shinyonglah yang terpaksa menandatangani absensi Jonghyun. Untunglah sampai saat ini belum ada dosen yang curiga.

 

 

 

TINGTONG TINGTONG!

Jonghyun berdiri menunggu pintu dibukakan. Tak lama pintu terbuka.

“Annyeonghaseyo!” sapa Jonghyun.

“Annyeong, Jonghyun! Pasti mau bertemu, Yonghwa, ya?” tebak ibu Yonghwa.

“Hehe, iya, bibi! Yonghwa ada kan?”

“Dia ada! Kenapa baru sekarang main ke rumah? Aku menyuruh Yonghwa membawa teman-temannya ke rumah tapi nggak ada satupun yang dia bawa. Bibi kira dia nggak punya teman di kampusnya. Syukurlah dugaan bibi salah. Oh ya, masuklah! Kamar Yonghwa ada di atas, persis di samping tangga.”

“Gamsahamnida, bibi!”

Tangan ibu Yonghwa menepuk pundak Jonghyun dan menggiringnya masuk ke dalam sebelum yeoja itu menutup kembali pintu rumahnya.

Jonghyun berjalan sendirian menuju kamar Yonghwa. Di amatinya rumah besar itu. Dia tidak menyangka rumah Yonghwa akan sebesar itu. Yonghwa memang selalu bersikap biasa saja di kampus, tidak memberikan kesan yang mencolok.

TOKTOKTOK! Jonghyun mengetuk kamar Yonghwa.

“Masuk!”

Jonghyunpun membuka pintu kamar tersebut. Yonghwa terkejut begitu mengetahui siapa yang sedang berkunjung ke kamarnya sekarang. Jonghyun masuk ke kamar Yonghwa, ia melihat Yonghwa yang sedang berbaring di tempat tidur.

“Yong-ah, kau masih sakit, ya? Wajahmu pucat sekali. Kau juga kurusan.”

“Aish, kau ini! Aku baik-baik saja. Kepalaku pusing lagi. Hey, bagaimana kau tahu alamat rumahku?” tanya Yonghwa tiba-tiba, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Han sonsaeng yang memberitahu. Ya, kenapa setiap aku menelpon atau mengirimu sms nggak pernah di balas?”

“Ponselku hilang sejak seminggu yang lalu,” kilah Yonghwa. Dia sangat berharap tidak ada panggilan atau pesan yang masuk saat ini.

Jonghyun mengangguk paham. Dia merasa ada yang sedang disembunyikan dari temannya itu.

“Oh, ya! Shinyong titip salam untukmu.”

“JEONGMAL?” pekik Yonghwa.

“Ya, nggak perlu teriak-teriak begitu. Waaah, kau senang ya?” tanya Jonghyun, matanya menyipit memandang Yonghwa. Yonghwa hanya diam. “Kenapa kau malah diam?”

“Ani!”

Faktanya Yonghwa senang begitu tahu kalau Shinyong mencemasinya. Dan sebenarnya dia agak kecewa hari ini Shinyong tidak ikut menjenguknya.

“Jonghyun-ah! Aku akan berhenti kuliah!”

“Mwo? Waeyo? Tiba-tiba sekali, Yong.”

“Aku hanya ingin beristirahat saja di rumah.”

“Kenapa mesti berhenti kuliah segala?”

“Sudahlah! Kau tak perlu tahu! Jonghyun, jebal, jangan beritahu keadaanku sekarang pada Shinyong.”

“Wae? Dia mencemaskanmu, Yong!”

“Jebal! Tolonglah aku!”

Jonghyun berdecak dan terpaksa menuruti kemauan temannya itu. “Ne, ne, ne!”

Jonghyun bertanya-tanya di dalam hatinya. Apa yang sedang dialami Yonghwa sebenarnya?

“Sebenarnya aku…”

 

***

 

5 bulan berlalu…

 

Shinyong Pov

 

Lima bulan berlalu. Aku sangat merindukan sosok Yonghwa. Tiba-tiba saja ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Tiap kali aku menanyakan keadaan Yonghwa pada Jonghyun, ia selalu saja mengatakan bahwa Yonghwa baik-baik saja. Aku merasa Jonghyun menutupi sesuatu. Dia selalu menolak ajakanku untuk menemaniku berkunjung ke rumah Yonghwa. Ya karena hanya dia yang tahu rumahnya di mana. Aku bisa saja meminta alamat rumah Yonghwa dari Han sonsaeng, tapi aku nggak mau pergi sendirian.

 

Author pov

 

“Mworago? Yonghwa masuk rumahsakit lagi? Baiklah, aku akan segera kesana.”

Jonghyun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Saat berbalik ingin menghampiri Shinyong, dia terkejut karena yeoja itu kini ada di hadapannya.

“Kenapa Yonghwa?”  tanya Shinyong lirih.

Yang ditanya hanya diam saja. Dia bingung harus menjawab apa.

“Ya, Jonghyun! Kenapa kau nggak bilang sesuatu? Ada apa dengan Yonghwa? Apa maksudnya dia masuk rumah sakit lagi?”

“Shin-ah, maaf kalau selama ini aku nggak berterus terang padamu. Yonghwa.. yonghwa sedang sekarat.”

“MWO?“ pekik Shinyong.

“Dia nggak mau kau tau itu. dia nggak mau kau khawatir, Shin-ah!”

Shinyong menatap kosong lurus ke depan. Air matanya tiba-tiba mengalir dengan deras. Dugaannya kali ini benar. Ini yang ditutupi Jonghyun darinya selama ini.

“Memangnya dia sakit apa?“

“Dia… dia mengidap kanker otak stadium akhir. Keadaannya semakin parah. Dia menolak untuk dioperasi dan inilah akibatnya.”

“Ani! Kau pasti bohongkan kan, Jonghyun? Jebal, jangan bicara yang enggak-enggak!”

“Kalau kau nggak percaya, kau bisa ikut aku ke rumah sakit sekarang.”

Jonghyun menarik tangan Shinyong yang raganya kini entah sudah di mana. Matanya kembali menatap kosong.

 

 

 

“Yonghwa-ya…” ucap Shinyong begitu melihat Yonghwa yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.

“Shinyong?” Yonghwa sama terkejutnya dengan Shinyong.

Yonghwa menatap ‘mengapa’ kepada Jonghyun dan yang ditatap hanya mengendikkan bahunya.

“Mianhae, Yong! Sudah saatnya dia tahu!”

Mata Shinyong mulai berkaca-kaca, ia tak kuasa melihat namja yang ia cintai terkulai lemah tak berdaya.

“Yonghwa-ya! Tega sekali kau nggak memberitahu keadaanmu pada temanmu ini.”

“Mian, Shin-ah! Aku hanya nggak mau membuat orang khawatir.”

Suasana kamar kembali sunyi senyap. Jonghyun pamit undur diri. Namja itu ingin memberikan privasi untuk kedua orang yang saling mencintai itu.

“Shinyong-ah, bisakah kau membawaku ke taman belakang rumahsakit?”

“Hajiman…kau kan sedang sakit……”

Yonghwa memaksakan diri bangkit dari tempat tidur dan Shinyong datang membantunya. Yeoja itupun membantu Yonghwa berjalan menuju taman rumah sakit. Jantung mereka kembali berdegup dengan kencang.

Sesampainya di taman, mereka berdua duduk di bangku kayu yang terukir dengan indah.

“Taman ini indah sekali, kan? Bagaimana menurutmu?” tanya Yonghwa tanpa membalas tatapan Shinyong.

“Ne! Tapi ada yang lebih indah dari ini, yong!”

Yonghwa kini menatap mata kecoklatan Shinyong.

“Apa itu?”

“Kau! Kau, Jung Yonghwa! Kau lebih indah dari apapun di dunia ini!”

Hati Yonghwa tiba-tiba berbunga-bunga. Dia senang mendengar ucapan  Shinyong barusan.

“Shinyong-ah, aku ingin bilang sesuatu. Aku…”

Tepat saat Yonghwa ingin mengungkapkan perasaannya, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya.

“Kajja! Hujan deras!”

Shinyong menarik tangan Yonghwa tapi namja itu hanya diam.

“Kau sedang sakit, Yong! Cepat berteduh!” teriak Shinyong mengalahkan suara derasnya hujan yang kini mengguyur mereka.

“Aku mencintaimu, Lee Shinyong! Saranghae!” teriak Yonghwa.

Dan kini Shinyong yang terdiam. Pikirannya dipenuhi kata-kata Yonghwa yang barusan terlontar.

“Be… benarkah itu?”

“Ne! Mianhae atas sikap burukku selama ini. Aku melakukannya agar kau tidak terlalu merasa kehilanganku kalau aku pergi.”

“kau bicara apa, Yong? Kau nggak berniat pergi meninggalkanku, kan? Nggak ada yang akan pergi, baik itu kau atau aku!”

Air mata Yonghwa mengalir dengan deras begitu menyadari kalau dia memang akan pergi sebentar lagi. Shinyong bisa membedakan yang mana air mata dan yang mana air hujan. Dan kini Shinyong ikut menangis.

“Shinyong-ah, bisakah aku memelukmu?”

Shinyong mendekat dan memeluk tubuh Yonghwa dengan erat.

“Kau mencintaiku, Shinyong?” bisik Yonghwa tepat di telinga yeoja itu.

“Ye, Yonghwa. Jeongmal saranghae!” balas Shinyong berbisik.

Namun kemudian Shinyong melepaskan pelukannya. “Kajja, kita berteduh, Yong!”

“Jangan lepaskan pelukan mu.”

Yonghwa menarik tangan Shinyong hingga yeoja itu jatuh ke pelukannya.

“Tapi hujannya semakin deras, lebih baik kita berteduh.”

“Ani! Tetaplah seperti ini.”

Yonghwa menangis sesenggukan di bahu Shinyong, diiringi isakan tangis Shinyong. Yonghwa mulai merasakan sakit kepala yang luar biasa. Dia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya itu dengan menggigit bibir bawahnya.

Yonghwa mengalungkan tangannya di leher Shinyong dan mengecup kening Shinyong. Yeoja itu menutup matanya, meresapi setiap kecupan yang dia terima di keningnya.

“Sa…saranghae, Shinyong! Mianhae..”

“ Nado, Yong! Nado saranghae! Kenapa kau minta ma…”

Tiba-tiba tubuh Yonghwa jatuh ke tanah yang becek.

“Yonghwa-ya.. ireona! Kau tak mungkin meninggalkanku secepat ini kan? Baru saja sepuluh menit yang lalu kau bilang cinta padaku. Ayolah buka matamu!” kata Shinyong panik seraya menepuk pelan pipi kiri Yonghwa.

Shinyong berteriak begitu menyadari kalau namja yang dia cintai itu sudah tidak bernyawa lagi.

“Yonghwa… saranghae yeongwonhi!”

Shinyong mengecup bibir biru Yonghwa dan kemudian memeluk tubuh dingin namja itu.

 

 

The end…

 

10 thoughts on “Tearsdrop In The Rain

  1. haru. nggak nyangka Yonghwa bisa dapet peran kaya gituu.. sedih banget.. ceritanya ngena di hati. d(^.^)b dua jempol dehh

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s