Bloody Brothers [chapter 2]

chapter 1

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Length: chaptered

Genre: mystery, angst, family, [bit] romance

Rating: PG17

Cast:

  • Lee Jungshin CNBLUE
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Kim Hyuna 4minute
  • Jessica SNSD
  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Lee Jinki SHINee
Other cast:
  • Yoon Doojoon BEAST
  • Bang Minah Girl’s Day
Disclaimer: my own plot
****************************************************************************

preview:

“Appa, sudah jangan pukul eomma lagi!”

“Diam kau! Jangan panggil aku appa, aku bukan ayahmu, babo!”

Namja paruh baya itu terus saja menggesper tubuh istrinya.

“Kau pergi saja, nak!” perintah yeoja itu pada anaknya yang masih berumur delapan tahun.

“Shiro, eomma, shiro! Appa, sudah!!!”

Namja kecil itu menahan tangan ayahnya yang ingin melayangkan sabuk ikat pinggangnya.

“Anak tengik! Kalau begitu kau juga rasakan ini!”

Jadilah sepasang anak dan ibu itu kena amukan namja paruh baya itu.

“Sudah cukup, kau sebaiknya keluar karena urusanku dengan ibumu belum selesai!”

Namja itu mengangkat tubuh namja kecil itu dan melempanya keluar kamar. Kemudian terdengar pintu terkunci dari dalam.

Suara teriakan ibunya masih terdengar menyakitkan di hati namja kecil itu. dia terus mengentuk pintu dengan lemas, tapi tetap tidak dibukakan.

“Kau menuduhku selingkuh, hah?”

“Tapi aku melihat dengan mata kepala sendiri kau tidur dengan temanku sendiri. Kenapa kau masih mengelaknya?”

“KAU! Dasar yeoja tidak tau diuntung, masih bagus aku mau menikahimu, yeoja miskin!”

Namja kecil itu hanya menangis mendengar teriakan-teriakan yang berasal dari dalam. Tiba-tiba muncul seorang namja yang berumur lima tahun lebih tua darinya.

“Astaga, kau kenapa? Apa appa mengamuk lagi?”

Namja kecil itu hanya mengangguk pasrah. Wajahnya basah karena air mata yang sedari tadi terus mengalir.

“Hyung, tolong eomma!”

Namja yang dipanggil hyung itupun berdiri dan berusaha mendobrak pintu, namun tidak berhasil. Diapun mengambil sebuah kapak yang terletak di gudang dan menebas kenop pintu itu dengan kapak tersebut.

Pintu berhasil dibuka.

Namun sayang, pemandangan yang sangat tidak mengenakkan tersaji di depan dua namja di bawah umur tersebut. Ayah mereka membunuh ibu mereka dengan sebuah samurai.

“APPA!”

Ayah mereka kembali ingin menebas samurai itu kepada istrinya namun namja kecil itu menghalanginya hingga setengah lengan kanannya terpotong karena terkena kibasan samurai tersebut.

“AAAAAAAAAA!”

Jungshin tiba-tiba bangkit dari tidurnya. Peluh keringat membasahi keningnya.

“Kenapa kenangan buruk itu kembali datang?” gumam Jungshin.

 

***

 

Jungshin bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur seraya menyeka keringatnya. Begitu dia membuka lemari es, terdengar suara pintu yang terbuka.

“Jonghyun hyung, kenapa pulang jam segini?” tanya Jungshin setelah menenggak air minum langsung dari botolnya.

“Kan tadi sore aku bilang kalau aku lembur.”

Jonghyun berjalan mendekati Jungshin dan merebut air dingin tersebut.

“Kau bau amis, hyung!” seru Jungshin, tangan kirinya menutup hidungnya.

“Aku kan dari tempat pelelangan ikan, ya wajar kalau aku bau amis.”

“Padahal kau sudah ganti kaos.”

Ya seingat Jungshin, Jonghyun mengenakan kaos putih dibalik kemejanya tadi pagi, dan kini sudah tergantikan dengan kaos abu-abu.

“Ya sudah aku mandi dulu, ya!”

Jonghyun meletakkan tasnya ke atas sofa dan berjalan ke kamar mandi.

“Bajumu di dalam tas, kan? Aku cuci, ya?”

Jonghyun tiba-tiba berlari merebut tas miliknya yang digenggam Jungshin.

“Jangan, jangan!”

“Aku bisa mencucinya, kok! Baju hyung kan biasanya aku yang cuci!”

Jonghyun tiba-tiba bingung harus menjawab apa. Dia tidak mau Jungshin tahu dengan apa yang dilakukannya tadi.

“Eng… aku saja yang cuci. Kau besok sekolah, kan? Sana pergi tidur!”

Jonghyun mendorong tubuh Jungshin yang masih terheran. Jonghyun menghela nafas lega begitu Jungshin sudah menutup kamarnya. Kemudian dia berjalan ke kamar mandi bersama tas miliknya. Dikeluarkannya kaos putih dengan bercak darah, diguyurnya dengan air hingga air yang tumpah kini berwarna merah pekat.

 

***

 

“Hyung, kau kerja di pelelangan ikan, kan?”

Jonghyun mengangguk seraya mengunyah roti selai kacangnya. “Wae?”

“Aku pikir kita sudah hidup berkecukupan dengan gaji kantor hyung.”

“Manusia itu nggak pernah puas, Jungshin! Lagi pula kita butuh tambahan uang, untuk berjaga-jaga,” kilah Jonghyun.

Jungshin sendiri bingung. Dia tahu gaji kakaknya sudah bisa mencukupi untuk hidup mereka berdua, bahkan lebih. Tapi kenapa harus bekerja sampingan? Kenapa di pelelangan ikan?

Tapi yang lebih membuat Jungshin penasaran, kenapa kakaknya kerja di pelelangan ikan di hari yang tak menentu. Kalau hari ini dia ke pelelangan, bisa seminggu atau sebulan kemudian dia akan ke pelelangan ikan itu lagi.

Ah sudah lah!” batin Jungshin.

 

Jungshin pov

 

Hari ini hari ketiga aku bersekolah. Aku kira sekolah itu menyenangkan, ternyata sama membosankannya dengan sekolah di rumah. Aku tiba-tiba meminta hyung menyekolahkanku karena aku ingin berinteraksi dengan banyak orang. Ternyata hanya segelintir orang yang mengajakku berbicara, salah satunya Hyuna.

“Doojoon sudah ditemukan?” tanyaku pada Hyuna yang duduk di sampingku.

“Belum! Tadi pagi aku menelpon ibunya, dia bilang polisi belum menemukannya. Padahal ini sudah hari ketiga.”

Sudah tiga hari ini Doojoon tidak masuk sekolah. Aku mendengar dari Hyuna kalau namja itu tidak pulang-pulang ke rumahnya. Mereka menduga terjadi sesuatu pada namja itu. Ah, semoga dia baik-baik saja.

“Kali ini kau bawa apa?” tanya Hyuna menengadahkan wajahnya ke bekal makanan yang aku bawa. Kini kami berada di tempat favorit kami, atap sekolah. Kenapa tempat favorit? Karena aku menyukai suasana atap sekolah yang sepi. Dan Hyuna ternyata juga menyukainya.

“Jonghyun hyung masak spageti, kau mau?”

“Mau sekali!”

Aku menyerahkan bekal makananku ke Hyuna, diapun meraihnya. Dengan garpu yang sama dengan yang aku gunakan tadi, dia menyuap gumpalan spageti yang menyatu di garpu ke mulutnya sendiri.

Astaga!

Kenapa jantungku berdetak dengan cepat begini? Oh Tuhan, aku kenapa?

“Kemana namja pabo itu?” gumam Hyuna.

“Kau mengkhawatirkannya?” kataku sedikit dingin.

Hey, ada apa denganku??

“Aku? Ten…tentu saja tidak!”

Syukurlah dia tidak menyadarinya. Tapi tunggu! Entah kenapa pernyataan Hyuna tadi bertentangan dengan ekspresi wajahnya.

Ada hubungan apa dia dengan Doojoon?

 

Author pov

 

Jungshin baru menyadari sekarang kalau dia ternyata sekelas dengan seseorang yang sangat dibencinya selama ini. Seseorang yang tidak pernah dia lihat batang hidungnya sejak sembilan tahun yang lalu.

“Kau mau apa, Minhyuk?” tanya Jungshin dingin begitu Minhyuk menggiring paksa Jungshin ke belakang gedung.

“Aku hanya ingin kau memaafkanku, Jungshin!”

“Aku sudah bilang aku memaafkanmu waktu di pemakaman eomma dulu! Kau tuli, hah?”

“See?! Ucapan dan hatimu bertentangan sekali!”

Jungshin mendengus kesal karena namja yang sedang berhadapan dengannya kini. Jungshin berbalik dan ingin pergi dari sana tapi Minhyuk mencegahnya.

“APA LAGI, HAH?” bentak Jungshin. Minhyuk sedikit terperanjat di bentak oleh adik kandungnya sendiri.

“Kang Jungshin, kau…”

“Jangan sebut marga itu lagi, oke?” Jungshin menepis tangan Minhyuk.

“Baiklah! Aku hanya ingin tahu, kenapa kau begitu membenciku? Kau tidak pernah memberitahukan alasanmu kepadaku. Aku menurut saat kau memintaku untuk tidak berkunjung ke rumahmu. Aku menurut saat kau memintaku untuk tidak lagi menghubungimu. Tapi beritahu alasanmu kenapa kau begitu membenciku!”

Jungshin menghela nafas, mengalihkan pandangannya dari Minhyuk.

“Kenapa saat sidang perceraian appa dan eomma, kau malah lebih memihak appa? Kenapa kau lebih memilih tinggal dengan namja pemabuk itu? Kenapa? KENAPA, HYUNG?”

Minhyuk sedikit tercekat mendengar Jungshin memanggilnya hyung. Panggilan yang sudah lama sekali tidak pernah dia dengar.

“Itu… itu karena….”

“Hah! Kau susah menjawabnya, kan? Karena kau lebih menyayangi appa yang keras itu dari pada kami kan, hyung? Cih! Buang-buang waktu saja aku di sini!” Jungshin mendengus kesal dan berlalu meninggalkan Minhyuk.

“Jungshin, kau mau ke mana?”

Jungshin tidak menggubrisnya. Pikirannya kalut karena bayang-bayang masa lalu kembali terngiang di pikirannya. Karena pikiran melayangnya itu, saat di lorong yang sepi dari murid-murid, Jungshin tidak sengaja menyenggol bahu seorang yeoja hingga yeoja itu jatuh.

“Eh, mianhae Sica-ssi!”

Jungshin mengulurkan tangan kirinya, bermaksud membantu Jessica –teman sekelas Jungshin- berdiri, tapi ditepis oleh yeoja itu.

“Bukan hanya tanganmu saja yang buntung, matamu buta, hah?” bentak Jessica pada Jungshin.

Jungshin mengepalkan tangannya, menahan amarahnya karena ucapan Jessica barusan.

Jessica berlalu, sengaja berjalan mengadu bahunya dengan lengan Jungshin.

“Dasar cacat!” gumam Jessica yang masih bisa terdengar oleh Jungshin.

Jungshin mengelus-eluskan dadanya, berusaha bersikap sabar akan sikap Jessica tadi padanya. Dia sadar dirinya memang tidak sempurna. Orang-orang hanya berbicara dengan fakta yang ada. Kemudian Jungshin kembali berjalan menuju kelasnya.

Sedangkan Jessica berjalan dengan perasaan kesal. Dirinya merasa sial karena disentuh oleh namja yang menurutnya cacat itu.

“Sica-ya!”

Jessica menoleh dengan malas ke arah sumber suara. Spontan matanya membulat ketika dia tahu siapa seseorang yang memanggilnya.

“Minhyuk sunbae?” ucap Jessica antusias.

Minhyuk berjalan menghampiri Jessica dengan senyuman manisnya. Minhyuk meraih bahu Jessica dan mendorongnya hingga terpojok oleh dinding. Kedua tangan Minhyuk mengurung tubuh Jessica yang kini jantungnya berdebar-debar.

“Jangan panggil aku dengan embel-embel itu, sekarang kan aku sekelas denganmu.”

“Ba..baiklah, Minhyuk-ssi!”

“Nah, itu lebih baih! Oh ya, pulang sekolah nanti kau ada waktu?” tanya Minhyuk.

“Hah? Ti..tidak ada! Waeyo?”

“Bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita kencan?” bisik Minhyuk di telinga Jessica.

Jessica tidak berkutik. Helaan nafas Minhyuk yang ia rasakan di tengkuknya mampu membuatnya terpaku. Entah ada angin apa namja yang sudah lama dia sukai mengajaknya berkencan.

“Kau tahu? Diam itu artinya iya. Aku tunggu di mobilku sepulang sekolah dan…” Minhyuk tiba-tiba mengecup kilat bibir Jessica, “jangan beritahu siapa-siapa. Arraso?”

Minhyuk mengedipkan sebelah matanya sebelum berlalu dari hadapan Jessica.

Jessica meraba-raba bibirnya sendiri. “Aku dicium Minhyuk? Oh Tuhan!” Pikirannya kembali melayang ke beberapa menit yang lalu.

 

 

 

Sepulang sekolah, Jessica berjalan menuju ke tempat di mana Minhyuk biasa memarkirkan mobilnya. Dia menuruti kata-kata Minhyuk, tidak memberitahukan siapa-siapa mengenai perihal ini.

“Minhyuk, kau mau membawaku kemana?” tanya Jessica malu-malu.

“Aku akan membawamu ke tempat yang tak terduga.”

Tangan kanan Minhyuk menggenggam tangan Jessica. Jantung Jessica kembali berdebar-debar dengan hebat.

Beberapa menit kemudian mereka sampai ke tempat yang benar-benar tidak pernah Jessica duga.

“Minhyuk-ah, kenapa kau membawaku ke gudang tua ini?” tanya Jessica mengamati gedung reot itu. Minhyuk tersenyum dan menarik tangan Jessica, membawa yeoja itu masuk ke dalam.

Begitu mereka sudah di dalam, Jessica mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang kosong itu. Tiba-tiba pikiran negatifnya datang.

Minhyuk menggenggam kedua tangan Jessica, mendorong tangan yeoja itu ke belakang tubuh Jessica hingga jarak mereka tak terelakkan lagi.

“Apa kau takut padaku. Sica?” bisik Minhyuk. Hembusan nafasnya menerpa poni rambut Jessica. Mata Minhyuk menatap lekat mata Jessica.

“Ani! Aku akan menuruti semua yang kau mau, Minhyuk!” balas Jessica berbisik.

Minhyuk sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica.

“Jeongmal?” bisik minhyuk saat bibir mereka hanya berjarak satu senti.

Minhyuk kembali menegakkan kepalanya dan menatap lurus ke depan. Lebih tepatnya ke sepasang mata yang lain, seolah memberikan isyarat.

Seseorang mengikat tangan Jessica.

“Ya, ya! Apa-apaan ini? Minhyuk, tolong aku!”

Minhyuk hanya tersenyum. “Katanya kau mau menuruti semua kemauanku, kan? Dasar wanita murahan!”

Jonghyun tertawa dengan keras. Tawanya mampu membuat Jessica bergidik ngeri.

“Kenapa kalian berdua berbuat begini padaku? Apa mau kalian, hah?” teriak Jessica

Tangan Minhyuk merengkuh dagu Jessica, lalu mengecup kilat bibir manis yeoja itu. “Orang-orang yang menyakiti Jungshin harus berhadapan dengan kami, honey! Sama seperti teman kita yang tidak jelas kabarnya kini.”

Jessica membulatkan matanya, dia menyadari sesuatu. “Ma… maksudmu Doojoon? Apa yang kalian lakukan padanya, hah?”

“Kami mencincangnya kecil-kecil dan membuangnya ke sungai. Apa kau mau seperti dia?” tanya Minhyuk. Bibirnya bergerilya di leher putih Jessica. Spontan Jessica menghindar dan membuat tawa Minhyuk meledak.

“Honey, katanya tadi kau mau menuruti semua kemauanku. Makanya berpikir dulu sebelum mengatakan sesuatu. Sama seperti apa yang kau katakan pada Jungshin tadi.”

Minhyuk melayangkan tangannya dan menampar bolak-balik kedua pipi Jessica dengan keras.

“TOLONG!!! TOLONG!!”

Jessica berteriak diiringi tawa Minhyuk dan Jonghyun.

“Maaf, miss! Sekeras apapun kau berteriak, tidak akan ada yang mendengarmu,” kata Jonghyun.

Jessica menangis. Dia ketakutan saat ini.

“Kau menangis, Sica? Baiklah, aku beri pilihan untukmu. Kau mau memotong tanganmu sendiri atau aku yang potongkan?” tanya Minhyuk dengan nada suara yang bagi Jessica sangat menakutkan.

Jonghyun berjalan ke sudut ruangan dan mengambil sebuah gergaji listrik. Jessica menangis dengan kencang melihat gergaji itu hidup. Minhyuk kembali menampar pipi yeoja malang itu. “DIAM KUBILANG!”

Jonghyun meletakkan gergaji listrik yang sedang dalam keadaan mati itu tepat di hadapan Jessica. Kemudian melepaskan ikatan tangan yeoja itu tanpa melepas ikatan kakinya.

“CEPAT AMBIL!” bentak Jonghyun.

Jessica masih tidak bergeming. Bagaimana mungkin dia memotong tangannya sendiri.

“Kau tidak menuruti kami? Baiklah, jangan salahkan aku kalau aku salah memotong!” seru Minhyuk, matanya menatap tajam mata Jessica.

Minhyuk meraih gergaji itu dan menekan tombol ON.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!” Jessica berteriak sekencang-kencangnya begitu kedua lengan tangannya sudah tidak menempel di tubuhnya. Rasa sakit yang luar bisa dirasakan Jessica. Darah tak berhenti mengucur hingga seragam sekolah tak berlengan itu sudah penuh dengan darah.

“Sakitkah, miss? Sakitnya sama dengan rasa sakit yang dialami adik kami!” kata Jonghyun.

Jessica bernafas dengan tersengal-sengal. Dia menggigit bibir bawahnya walaupun itu tidak membantunya menahan rasa sakit yang amat sangat.

“Jebal, ampuni aku!” kata Jessica lirih. Suara tangisannya masih memenuhi ruangan lengang itu.

“BERISIK, KAU TIDAK BISA DIAMPUNI!” Minhyuk berteriak. Diangkatnya gergaji listrik itu dan dengan sekali tebas mampu membuat Jessica berhenti menangis. Sesuatu yang berbentuk bulat menggelinding.

Minhyuk hanya menyeringai, begitu pula Jonghyun.

 

 

 

Jungshin menatap jam dinding kamarnya. Jam setengah sembilan malam. Jonghyun tak kunjung pulang. Dia merasa khawatir walapun tadi Jonghyun sudah memberitahunya kalau dia akan lembur lagi.

“Pelelangan ikan lagi? Ya, pasti ke sana!” gumam Jungshin menepis kesunyian.

Nada ponselnya berbunyi dan sebuah panggilan masuk datang dari Hyuna. Ini pertama kalinya Jungshin mendapat panggilan telepon dari Hyuna. senyumnya membuncah. Jungshin mengambil nafas dalam-dalam, berusaha meredakan degup jantungnya yang berdebar-debar.

“Yobosseyo?”

Tidak ada suara dari seberang sana kecuali suara tangisan seorang yeoja.

“Hyuna? gwenchana?”

Hiks! Jung…jungshin-ah..”

“Ya, kenapa menangis? Cerita padaku!” Jungshin mulai merasa khawatir karena yeoja yang sedang berbicara dengannya kini terus saja menangis.

Doojoon… Doojoon..”

“Kenapa dengannya? Dia sudah ditemukan?”

Dia tewas, Jungshin! Polisi menemukan mayatnya, ani, potongan mayat Doojoon.”

Tenggorokan Jungshin tiba-tiba tercekat.

 

 

 

Hyuna tak kuasa menahan tangisnya begitu ibu Doojoon memberi kabar duka itu padanya. Tak henti-hentinya dia meneteskan air mata. Hatinya terasa sakit sekali. Hingga Jungshin datang dan menenangkan yeoja cantik itu, tangisannya belum mau reda.

“Hyuna, sudahlah. Ayo berhenti menangis!”

Jungshin merengkuh kedua pipi putih Hyuna dan mengusap air mata yang siap jatuh dari pelupuk matanya. Namja itu tidak begitu mengerti kenapa Hyuna bisa sesedih ini.

Seorang yeoja berumur sekitar 45 tahun menghampiri mereka berdua.

“Uljima, Hyun-ah! Dia sudah pergi. Percuma menangisinya, nak!”

Tangan yeoja tua itu memeluk kepala Hyuna dan mengusap rambut panjangnya. Kemudian dia menoleh pada Jungshin dan menyadari ketidaksempurnaan namja itu.

“Kau pasti yang bernama Jungshin?”

Jungshin membungkukkan badannya dan memperkenalkan diri dengan sopan.

“Annyeonghaseyo. Joneun Lee Jungshin imnida!”

“Hyuna sudah menceritakan kelakuan anakku padamu. Tolong maafkan dia, nak! Aku mau anakku tenang di sana!”

“Aku sudah memaafkannya bibi!” kata Jungshin dengan senyumannya yang bisa membuat ibu Doojoon yakin kalau Jungshin tulus memaafkannya.

Ibu Doojoon berlalu meninggalkan mereka berdua. Jungshin menatap Hyuna yang sudah mampu mengendalikan emosinya. Hanya saja matanya kini menatap kosong. Membuat Jungshin tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Hyuna.

“Hyuna!”

Seorang namja berambut hitam pekat memanggil Hyuna, sontak yang dipanggil menoleh. Jungshin bertanya-tanya siapa namja yang memanggil Hyuna barusan. Sejak Jungshin datang, namja itu hanya bersender di tiang penyangga rumah Doojoon. Pakaiannya sedikit resmi, dengan dasi yang sudah tidak menyatu di kerah kemeja biru lautnya dan jas yang hanya dia sampirkan di lengan kanannya.

“Jungshin-ah, aku pulang dulu ya!”

Tanpa menunggu respon dari Jungshin, Hyuna beranjak pergi menghampiri  namja yang tadi memanggilnya. Namja itu merengkuh bahu Hyuna dan menepuk-nepuknya, berusaha memberi ketenangan pada yeoja itu, lalu menggiringnya ke mobil hitam yang terparkir cukup jauh dari rumah Doojoon.

Jungshin hanya mengamati kedua punggung itu hingga lenyap dari pandangannya. Entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul di diri Jungshin.

 

***

 

Seorang yeoja berpakaian layaknya orang kantoran berjalan dengan membawa beberapa map yang akan dia berikan pada sang bos pada saat itu juga. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang menghalangi jalannya.

“Apa ada berkas-berkas untukku juga?”

“Ah, ye, Pak Lee! Kebetulan sekali setelah aku ingin memberikan sebagian berkas ini kepada Pak Jung, aku akan pergi ke ruangan Anda untuk memberikan berkas-berkas Anda.”

“Tidak perlu! Kemarikan berkas-berkas untukku dan untuknya. Kebetulan sekali aku sekarang mau ke ruangannya.”

Yeoja itu menurut. Dipisahkannya beberapa map untuk kedua bosnya itu dan menyerahkannya dengan sopan.

“Gomawo, cantik!”

Namja itu berlalu setelah memberikan sebuah kedipan mata pada sekretaris rekannya itu. Sontak kedua pipi yeoja itu memerah.

KLEK!

“Ya, Tuan Lee! Bisakah kau belajar untuk mengetuk pintu sebelum masuk?” seru sang pemilik ruangan tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang sejak tadi dia baca.

“Ah, mian! Rasanya sulit!”

Tidak sulit untuk menebak siapa yang masuk ke ruangannya tanpa melihat sekalipun. Hanya ada satu orang yang berani masuk tanpa mengetuk-ketuk pintu dan dia adalah sahabatnya sendiri, sahabat yang menemaninya sejak di bangku SMA.

Namja itu masuk, lalu duduk di kursi seberang si pemilik ruangan. Dia memberikan beberapa map yang memang bukan untuknya.

Namja yang merasa waktunya terganggu karena kedatangan yang dia anggap perusuh itu melepaskan kaca matanya. “Sejak kapan kau beralih jadi sekretarisku? Kau sudah lelah jadi detektif?” tanyanya ketus.

“Ah, Yong! Kau masih saja tidak berubah ya, selalu saja ketus kalau merasa terganggu. Aku tadi bertemu sekretarismu. Kebetulan aku memang ingin ke sini, ya sekalian saja kuminta berkas-berkas untukmu. Bagaimana? Sudah kau temukan titik terangnya?”

“Belum! Jinki-ah, menurutmu dua kasus sebelumnya ada hubungannya dengan kasus Yoon Doojoon?”

“Aku rasa begitu. Semalam aku memikirkan itu. Yonghwa, coba kau pikir! Dua kasus sebelumnya bernasib sama dengan si Doojoon itu. Mayat mereka di temukan di sungai yang alirannya sama-sama menuju sungai Han. Dan lagi mayat mereka sudah terpotong-potong.”

Namja bernama Yonghwa menjentikkan jarinya. “Aku sependapat denganmu. Hey, mau menemaniku ke rumah ketiga korban? Ada pertanyaan baru yang ingin aku tanyakan pada mereka.”

Yonghwa bangkit dari kursinya dan mengenakan jas yang dia sampirkan di kursinya.

“Kau sajalah! Aku sudah janji mau fitness dengan Jjong hari ini!”

Yonghwa menatap mata sipit rekannya itu. “Baiklah!” Kemudian dia berjalan keluar, meninggalkan Jinki yang masih duduk di ruangan Yonghwa. Tepat saat Yonghwa sudah di luar ruangannya, dia berbicara dengan lantang. “Ah, sebaiknya aku ke Yeolbong dulu! Tiba-tiba aku ingin makan ayam goreng”

[[Yeolbong; restoran ayam milik Se7en]]

“YONG-AH!!! AKU TIDAK JADI FITNESS!”

Senyuman terukir di bibir Yonghwa, merasa tepat sasaran.

 

 

 

Jungshin kembali duduk di persinggahannya di atap sekolah. Hari ini sekolah sedang berduka karena salah satu muridnya telah pergi untuk selama-lamanya. Dan sekolah tampak lebih membosankan bagi Jungshin karena Hyuna tidak masuk sekolah. Dia mulai paham bagaimana perasaan Hyuna sekarang.

 

Flashback

Jungshin meletakkan tas selempangnya di atas mejanya begitu dia sampai di kelas. Entah ada angin apa yeoja yang selama ini duduk di depannya mengajak bicara pagi-pagi.

“Jungshin-ssi, kau sudah tahu kabar tentang Doojoon?”

Jungshin mengangguk. “Sudah, Hyuna memberitahuku semalam!”

“Oh!”

Jungshin menoleh ke bangku di sampingnya. Tampak sang penghuni belum datang.

“Hyuna tidak akan datang!”

Jungshin kembali menoleh ke seseorang yang tadi mengajaknya bicara. “Bagaimana kau bisa tahu, Minah-ssi?”

“Dia pasti saat ini sedang bersedih ditinggal namja yang sangat dicintainya.”

Flashback end

 

Jungshin merebahkan dirinya di bangku tersebut, menatap langit biru. Nafsu makannya hilang.

“Sangat dicintainya? Kim Hyuna sangat mencintai Yoon Doojoon? Apa bisa aku mengganti posisi Doojoon di hatinya?” gumam Jungshin.

 

-tbc-

 

27 thoughts on “Bloody Brothers [chapter 2]

  1. jd merinding gmana gto,,,,,,
    baca yg bagi’a abang jonghyun ma minhyuk,,,,,ko jd killer gni!!!!!
    bnr2 menguras hati aq baca’a!!!!

    tp ttp penasaran ma cerita’a,,,,,, sangat22222 penasaran
    jd psti ditunggu chapter selanjut’a
    ^^

  2. jahat bgt minhyuk ma jonghyun. biasanya minhyuk mutilasi hati aku aja kok sekarang jadi mutilasi orang sih. eh BTW otak pysco aku kumat lagi agar-gara baca nih FF… lanjut onn, bikin yang lebih sadis lagi, ala saw gitu onn hhehehehehe

  3. aigoo ini authornya daebak bikin jantung dug dug seerrr…-_____-
    agak kaget juga sama minhyuk di ff ini.. pengen juga deh dipotong sama minhyuk(?)

    kaaaaannn hyuna teruss sih.. coba aku yang jadi pemeran utama ceweknya .___.
    daripada ga dapet sama hyuna mending kan sama aku shinn🙂
    mo buntung kek buta kek.. bisu tuli.. aku tetep mau sama kamu bebeb :3 #gombalnyakumat

  4. aigoo ini jonghyun ama minhyuk bner bener sadis –” daebak aothor (Y)aigoo ini jonghyun ama minhyuk bner bener sadis –” daebak aothor (Y)

  5. kan kok kepotong lagi sih commentnya;__; maaf eon aku nyampah lagi tapi ini kenapaa ;__; aku kan mau bilang gini ;_; “yong jadi detektif ya? uuuuu kereeen >o<" *garuk tanah* *ada apa inii -___-

    • lanjutan -_- “pg17? boleh dong yaa aku baca u__u kan kalo dikorea umur aku masuk 17 tahun ini /maksa. daebak eon wohoo aku nunggu lanjutaannyaaa >o<" T___T

      • huaaakakaka aku juga pernah kepotong-potong begitu.

        silahkan baca aja ;p lagian maksudnya PG17 di sini karena -lumayan- sadis ;p

  6. Baca ff ini berasa nonton film scream… Sereeemm banget ngebayangin minhyuk-jonghyun jadi psikopat x_x
    Tapi gak papa deh soalnya psikopatnya pada ganteng2 #plak😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s