W PINCH [chapter 4]

tokoh+prolog | chapter 1 | chapter 2 | chapter 3

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Length: chaptered

Genre: romance, friendship

Rating: G

Cast:

  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Seo Joohyun SNSD
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Kim Jonghyun SHINee
Other Cast:
  • Lee Jinki / Onew SHINee
  • Kim Kibum / Key SHINee
  • Kim Youngwoon / Kangin Super Junior
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Kim Yoojin / UEE After School
  • Choi Sooyoung SNSD
  • Kim Hyuna 4minute
  • Yang Seungho MBLAQ
Disclaimer: plot belogs to Ryo Azuki
********************************************

Seohyun dan Onew sampai di sekolah mereka. Begitu turun dari mobil, Seohyun berjalan sedikit berlari menuju ruang guru karena sang wali kelas kemarin memintanya untuk membantu memilah-milah ujian bahasa inggris yang diadakan kemarin.

“Seohyun-ah, bekal makanmu ketinggalan!” teriak Onew. Seohyunpun menoleh dan berlari menghampiri kakak laki-lakinya itu.

“Gomawo, oppa!”

Tiba-tiba perhatian mereka teralih pada gerombolan yang berdiri di gerbang sekolah.

“Ya, Yoojin! Kenapa kau memutuskan adikku, hah?”

Seohyun dan Onew tiba-tiba merasa tertarik. Merekapun berusaha mendekat ke gerombolan dan menyembunyikan diri di balik pohon besar.

“Heh, Key! Kau mengadukannya pada kakakmu ini?” bentak Yoojin pada namja yang bernama Key itu. Key hanya menyeringai santai. “Maaf noona, salahmu sendiri kau memutuskanku!”

“Aku ini muak pacaran denganmu! Kau ini namja tapi manjanya minta ampun! Bukan berarti kau lebih muda dariku lantas kau suka menyuruhku seenaknya!”

Sang kakak, Kangin, mendorong bahu Yoojin karena dengan beraninya membentak adik kesayangannya hingga yeoja itu mundur beberapa langkah.

“Oppa, apa yang harus kita lakukan?” bisik Seohyun pada Onew.

“Biarkan saja lah! Yeoja-yeoja itu yang selalu menindasmu dulu kan?”

“Iya, sih! Tapi kasihan Yoojin. Masa kita hanya….”

Seohyun melihat sesuatu yang berjalan tepat di depan matanya. Seekor ulat bulu.

NGIIIIIIIIIING!

Kangin melangkah maju menghampiri Yoojin. Namja yang terkenal suka berkelahi itu mengangkat tangannya dan melayangkannya ke pipi Yoojin. Namun hal itu berhasil dicegah oleh seorang yeoja yang tiba-tiba datang menahan tangan Kangin.

“Ya, beruang! Kau berani memukul yeoja, hah?”

“Siapa kau? Jangan ikut campur!” Kangin menarik tangannya dari cengkraman Seohyun.

“Kau tanya aku siapa? Baiklah! Akan aku buat kau mengingatku selalu!”

Seohyun menonjok keras perut Kangin hingga namja besar itu jatuh tersungkur. Seohyun berjalan menghampiri Kangin, menarik kerah kemeja sekolahnya dan menampar bolak-balik kedua pipi Kangin. Key, tidak bisa berbuat apa-apa, takut bernasib sama seperti kakaknya itu. Seohyun terus saja menampar pipi Kangin hingga namja itu meminta ampun. Seohyun bangkit berdiri.

Merasa ada celah, Kangin dan Key kabur, berlari sekencang-kencangnya.

Seohyun menepuk-nepuk tangannya, merasa sudah melakukan hal yang sudah semestinya.

“Wae?” tanya Yoojin dingin.

“Maksudmu?”

Kenapa kau menolongku?”

Jangan geer! Aku hanya nggak mau ada orang yang merasa kuat dariku! Lagi pula sudah sepantasnya aku melindungi anak buahku!”

Seohyun berjalan menuju gedung sekolah. Onew mengekornya sambil membawa tas adiknya bak seorang kacung. “Ah, aku suka menampar orang!”

Yoojin hanya berdiri menatap punggung Seohyun dengan tidak percaya. Sooyoung dan Hyuna hanya menepuk kedua bahu sahabatnya itu.

“Seo Joohyun menolongku? Nggak mungkin! Sejak kapan aku menjadi anak buahnya?”

Yoojin mendumel dengan senyuman manisnya.

 

 

 

“Jung Yonghwa….!” panggil Seohyun dengan sikap manis yang dibuat-buat begitu melihat punggung Yonghwa di koridor kelas. Yonghwa berbalik dan menyodorkan Roo tepat di wajah Seohyun.

NGIIIIIIIIIING!

Seohyun yang telah berubah kembali menjadi Seohyun celingak-celinguk. Dia tahu pasti kalau dirinya tadi telah berbuat sesuatu.

“Kenapa Seohyun bisa berubah sepagi ini?” bisik Yonghwa pada Onew yang berdiri di sampingnya.

“Haha, ada sesuatu yang mengejutkannya!” jawab Onew berbisik begitu pikirannya melayang saat melihat seekor ulat bulu hitam tadi.

Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pagi, Seo Joohyun!” sapa Jonghyun ramah. Seohyun sedikit terkejut begitu mendapat sapaan dari namja yang beberapa hari lalu mengajaknya berkelahi.

Ada apa lagi ini? Bisakah sekolah ini tenang sehari saja, batin Yonghwa.

“Roo sonsaengnim!”

Tiba-tiba Jonghyun berlutut di hadapan anak anjing milik Yonghwa. “Pukulanmu saat itu luar biasa! Tolong ajari aku sonsaengnim!” Jonghyun menundukkan kepalanya, memberi hormat pada Roo.

Edan! Yonghwa menepuk dahinya dan kembali menggeleng-geleng.

“Aku sudah mendengar semuanya dari Yonghwa tentangmu. Sikapku waktu itu memang kekanak-kanakkan. Aku akan terus belajar judo dan mengalahkan dirimu yang lain itu!” kata Jonghyun dengan semangat yang begitu membuncah.

Seohyun menoleh ke arah Yonghwa dengan tatapan ‘mengapa’nya.

“Wae?” tanya Yonghwa risih.

“Gomawo, Yonghwa-ya!”

Entah kenapa pandangan mereka tidak bisa teralih selain memandang mata satu sama lain.

“HALO SEMUANYA!”

Suara sang kepala sekolah, Yang Seungho, menggema di seluruh kelas melalui speaker sekolah. Berhasil mengalihkan pandangan Yonghwa dan Seohyun.

“Aish, apa lagi yang akan dilakukan kepala sekolah nyentrik itu?” gumam salah seorang namja di kelas Seohyun. Yeoja yang berdiri di sampingnya memukul kepala namja itu. “Ya, jangan menjelek-jelekkan Seungho sonsaengnim! Sadar wajah lah sedikit!” Namja itu menggerutu kesal setelah diledek.

Murid-murid bergerombol di jendela kelas, menatap lapangan yang entah sejak kapan sudah ada sebuah panggung megah berdiri kokoh. Yah, tidak ada yang tidak bisa dilakukan Seungho di dunia ini.

“Menjelang ulang tahun sekolah kita beberapa hari lagi, kita kedatangan seorang murid baru nan spesial. Sekarang aku akan memperkenalkan namja ini pada kalian. Musik!” Sebuah musik mengalun. Beberapa –lebih tepatnya hampir- murid di kelas mengenali intro lagu ini. “Kalian murid-muridku yang pintar pasti bisa menebak siapa penyanyi lagu ini! Dia akan bergabung dengan kelas 2C.”

“KYAAAAAAAAAAA!” beberapa murid yeoja berteriak histeris.

Kelasku… L-A-G-I? batin Seohyun.

Sebuah suara merdu terdengar, tapi sang pemilik suara tak kunjung datang.

“Inilah sang penyanyi fenomenal yang akan menjadi teman baru kalian. Jjong!”

Sesosok namja tinggi berjalan ke atas panggung.

Huimihage balgaoneun du nuni meomchun got

Beoriji mothaetdeon saengilseonmul
Geurigo neo geu modeun geot

(In My Room – SHINee)

 

 

 

Seohyun membaca buku biologinya dengan tenang karena mata pelajaran terakhir nanti sang guru biologi akan mengadakan ujian harian. Tiba-tiba saja konsentrasinya buyar karena teriakan-teriakan para yeoja.

“Seohyun-ah, kau nggak menghampiri Jjong?” tanya Minhyuk seraya menunjuk kerumunan di depan kelas mereka.

“Untuk apa? Aku nggak mengenalnya!” Lagi pula idola hatiku adalah kau Minhyuk.

Jonghyun dan Yonghwa hanya memandang sebal kerumunan tersebut. “Bodoh!” gumam Jonghyun.

“Kau tampan sekali, Jjong!”

“Hua, nggak nyangka di sebelah kelasku ada artis terkenal!”

“Kyaaaa, kakimu panjang!”

Jjong hanya tersenyum mendengar pujian-pujian yang dia terima, tidak ada yang sadar kalau mata Jjong tak berhenti menatap Seohyun yang sedang asik dengan bukunya.

 

 

 

“Aish! Gara-gara kepikiran ujian biologi nanti aku jadi lupa kalau seni musik juga ujian hari ini!” gerutu Seohyun saat langkahnya membawanya menuju ruang musik. Dia sangat membenci pelajaran ini –selain ekonomi dan matematika- karena mengharuskannya bernyanyi di depan orang lain. Seohyun tipe orang yang mudah gugup begitu banyak orang memperhatikannya.

Tak lama setelah Seohyun mendudukkan dirinya di bangku paling belakang, sang guru seni musik datang.

“Baiklah, sudah siap untuk ujian hari ini? Seo Joohyun, silahkan maju!”

Dengan langkah berat dia maju ke depan kelasnya.

“Mana rekanmu, Seohyun?”

Seohyun sempat bingung dengan pertanyaan gurunya itu. Kemudian dia teringat kalau ujian kali ini dilakukan berpasangan.

“A…aku hanya sendiri, sonsaengnim!”

“Baiklah, nyanyikan lagu populer yang kau pilih!”

Seohyun berdiri menghadap teman-teman sekelasnya. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Rasanya sulit untuk mulai membuka suara.

sowoneul malhaebwa…

“Keraskan suaramu, Seohyun! Kau nyanyi atau berbisik?”

Seohyun mengambil nafas dalam-dalam dan mulai bernyanyi.

SOWONEUL MALHAEBWA…

Semua yang mendengar spontan roboh mendengar Seohyun bernyanyi –berteriak-. Bahkan sang guru tak sengaja salah menoreh angka pada buku penilaian. Tawa-tawa murid membahana, sedangkan Minhyuk hanya berusaha menahan tawanya.

Huaaaa, ini memalukan. Di depan Minhyuk pula!” batin Seohyun. Wajahnya merah padam menahan malu.

BRAK!

Yonghwa menggebrak mejanya. Suasana langsung hening.

“Aku akan menjadi pasangannya!”

Yonghwa berjalan menuju depan kelas diiringi riuh komentar teman-temannya.

“Yong-ah, tapi…”

“Ya, aku melakukan ini bukan karena ingin menolongmu! Aku ingin cepat-cepat keluar dari kelas. Kau jadi back vocal saja!”

Yonghwa mengambil nafas panjang dan mulai bernyanyi.

 

Geuh del bo myun ul gool ee bbal geh jigo
Geuh del bo myun ga seum ee doogeun doogeun
Ah ee chuh lum soo joob geh mal hago
Geuh del bo myun gwen siri oo seum ee na
Babo chuh rum ja ggoo man geuh leh
Ama neh geh sarang ee on gut gatah

 

(Love Light – CNBLUE)

 

Semua yang ada di kelas hening mendengar suara Yonghwa. Tak terasa kaki mereka bergerak seiring irama yang sedang dinyanyikan, walaupun masih terdengar suara-suara falset keluar dari bibir Seohyun.

Tepuk tangan riuh begitu lagu selesai dinyanyikan. Seohyun tidak berhenti menatap Yonghwa. Tidak menyangka namja yang kini berdiri di sampingnya itu memiliki suara yang bagus.

PLAK PLAK PLAK!

Seorang namja yang duduk di singgasana –kursi- khususnya bertepuk tangan.

“Suaramu bagus Yonghwa-ssi, tapi aku lebih suka suara unik Seohyun!”

Jjong bangkit dari kursinya dan berjalan menuju Seohyun. Jjong merengkuh dagu Seohyun dan menatap lekat mata yeoja yang lebih pendek darinya itu.

“Saat festival sekolah nanti, jadilah asistenku!”

Kelas kembali riuh. Kebanyakan yeoja menolak keputusan Jjong.

 

 

 

Seohyun menatap sebuah ruangan yang sebelumnya dia kenal sebagai ruang wakil kepala sekolah. Kini dekorasi telah berubah. Banyak foto-foto dan penghargaan-penghargaan yang di dapat Jjong terpampang jelas di ruangan tersebut. Selain kursi khusus, seragam sekolah khusus, Jjong juga mendapatkan sebuah ruangan khusus.

“Karena Seungho sonsaeng memberikan mandat sepenuhnya kepadaku untuk mengendalikan festival, maka aku akan membuat sebuah mini konser khusus untuk SMA Seoul. Dan kau! Aku mau kau menjadi backing vocal ku!”

Sontak mata Seohyun membulat. Bagaimana bisa seorang penyanyi terkenal memilih seseorang bersuara kaleng rombeng menjadi back vocalnya? Itulah pertanyaan yang terlintas di benak Seohyun kini.

“Jonghyun-ssi! Aku…”

“Jangan panggil Jonghyun! Selain karena ada salah satu teman kita yang memiliki nama yang sama sepertiku, aku membenci nama itu!”

Jjong menatap lama wajah Seohyun hingga yeoja itu merasa salah tingkah.

“melihat dirimu mengingatkanku akan diriku yang lama. Aku menjadi seorang idola karena aku ingin membuktikan pada seseorang kalau aku sudah berubah!”

Seohyun sedikit terpaku mendengar curahan hati Jjong. Dia tidak menyangka masa lalunya begitu mempengaruhinya hingga sekarang.

Seohyun berjalan keluar setelah merasa tidak ada urusan apa-apa lagi dengan Jjong. Namun sebelumnya Jjong bergumam. “Aku nggak sabar menanti hari dipanggung bersama Seohyun!”

Seohyun sedikit tersentak mendengar namanya yang satu lagi disebut. Tadi dia bilang Seohyun? Ah tidak mungkin, pasti aku salah dengar.

Saat Seohyun tiba di depan kelas, dua orang yeoja mencegahnya masuk.

“Seo Joohyun, bisa ikut aku sebentar?”

Seohyun tidak tahu ada apa sebenarnya, tapi dia menurut. Kedua yeoja itu memegang lengan Seohyun dan berjalan menuju belakang gedung sekolah.

Tidak sengaja Yoojin melihat kepergian Seohyun dan dua orang itu.

 

 

 

“Surat? Surat apa maksudmu?” tanya Jjong saat sedang duduk santai di ruangannya. “Saat ini aku sibuk, Yong!”

Yonghwa mendengus kesal. “Sibuk katamu? Duduk santai begini kau bilang sibuk?”

Jjong bangkit dari kursi santainya dan berjalan menghampiri Yonghwa.

“Kau juga mendapatkan pesan singkat itu, kan? Kau datang ke sini untuk mempermainkan Seohyun demi pembalasan dendammu, iya kan?”

Jjong berdecak. “Ckckck! Yonghwa, yonghwa! Pembalasan dendam apa? Untuk apa? Aku hanya tertarik dengannya. Apa kau cemburu?” tanya Jjong menyeringai.

Yonghwa kembali mendengus kesal, merasa namja yang sedang tertawa di depannya kini meremehkannya.

“Ah fans fanatikku, aku takut mereka menyakiti Seohyun!” gumam Jjong dengan seringaian yang semakin lebar.

 

 

 

“Heh, jangan merasa puas karena Jjong memintamu sebagai asistennya. Dan jangan hanya karena kau sekelas dengannya kami akan biarkan kau berdekatan dengannya!”

Seohyun mengernyit. Dia mengenal betul siapa kumpulan yeoja-yeoja ini.

“Kalian…bukannya anggota Lovely fanclub?” tanya Seohyun berhati-hati.

“Diam! Tujuan kami kali ini adalah melindungi idola dari sentuhan gadis menyedihkan!”

Miris bagi Seohyun karena dia dianggap gadis menyedihkan. Seohyun memandang para yeoja berikat kepala bertuliskan ‘JJONG❤ LOVE’ satu persatu.

“Seohyun, ini nggak akan seperti dulu lagi. Jinwoon, Taecyeon!”

Muncul dua namja besar dari arah lain. Seohyun ingat siapa namja satunya.

Kedua namja itu berjalan menuju Seohyun. Tangan mereka siap mencengkram bahu Seohyun dan tidak sabar ingin menceburkan yeoja itu ke kolam ikan seperti yang dilakukan Seohyun waktu itu. Namun Seohyun beruntung karena kedua tangan kekar tersebut dihalang oleh Sooyoung.

“Yo, kita bertemu lagi!” sapa Yoojin dengan ogah-ogahan.

“Yoojin?”

Ini pertama kalinya bagi Seohyun bicara lagi dengan Yoojin. Dia tidak menyangka Yoojin dan teman-temannya menolong dirinya.

Pikiran Seohyun terusik karena merasakan sesuatu jatuh dan bergerak di bahu kanannya. Seekor ulat bulu hitam.

NGIIIIIIIIIING!

“Waktu itu kalian belum merasakan bermain bersama ular piton lucu itu kan? Bagaimana kalau kalian bermain dengan puluhan ulat hitam ini?”

Baru saja Seohyun ingin menjejali sekarung ulat bulu yang entah datangnya dari mana pada segerombolan tadi, tapi mereka keburu kabur.

Seohyun, stop!”

Yonghwa menjejali Roo ke kepala Seohyun.

NGIIIIIIIIIING!

“Eh Yong, aku kenapa? Dan… HIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!” Seohyun baru merasa geli melihat sekarung ulat buru yang di genggamnya. Seohyun melempar ulat-ulat bulu itu jauh-jauh. Kemudian dia menepuk kedua tangannya dan baru menyadari keberadaan Yoojin, Sooyoung, dan Hyuna.

“Yoojin-ssi, gamsahamnida!” Seohyun membungkukkan badannya.

Yoojin berkacak pinggang seraya menatap Seohyun, lalu melipat kedua tangannya di depan. “Kau nggak perlu berterima kasih padaku. Apa kau mau membantu Sooyoung kali ini? Ini memang terdengar memalukan tapi…”

Sooyoung mengeluarkan kertas kecil dari balik punggungnya. “Sooyoung fans berat Jjong. Hmmm, bisakah kau meminta tanda tangan untuknya?” tanya Yoojin seraya menunjuk Sooyoung dengan jari jempolnya.

“Hahaha, oke!”

Seohyun sangat senang kali ini karena bisa bicara dengan Yoojin seperti ini.

Tak mereka sadari, sepasang mata mengamati mereka semua, lebih tepatnya Seohyun. “Akhirnya kau menunjukkan siapa dirimu sebenarnya, Seohyun!”

 

***

 

Festival Sekolah

 

Seohyun berdiri gugup di belakang panggung. Detak jantungnya terus saja berdegup dengan kencang. Kebiasaannya memang.

Aish! Aku malu mengenakan pakaian ini! Batin Seohyun. Seohyun kembali melirik dirinya. Tanktop putih yang dia tutupi dengan jaket jeans yang pas dengan ukurannya, dipadu dengan hotpans berwarna senada dengan jaketnya dan sepasang sepatu boot selutut. Seohyun sebenarnya sangat tidak nyaman dengan pakaian ini, kalau saja jjong tidak memaksanya.

“Seohyun?”

Seohyun menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Minhyuk berjalan menghampirinya.

“Gwenchana?” tanya Minhyuk dengan senyuman manisnya. Seohyun sempat luluh karena selain bisa melihat senyuman Minhyuk, namja itu mengkhawatirkan dirinya.

“Gwenchana! Aku hanya jadi back vocalnya kok!”

“Oh, oke! Good luck!”

Kalau aku bisa melewati semua ini, aku akan mendapatkan kesan yang baik dari Minhyuk.

“SEOHYUN-SSI, SEBENTAR LAGI KITA AKAN MULAI!” teriak salah satu staff dari kejauhan.

Tidak jauh dari tempat Seohyun dan Minhyuk berada, sepasang mata mengamati mereka berdua. “Untuk apa aku kesini? Toh kalau Jjong memang merencanakan sesuatu pada Seohyun, itu nggak berarti apa-apa untukku!” Namja itupun pergi bersama anak anjingnya yang setia mengikutinya ke manapun dia pergi.

Seohyun menaiki tangga menuju atas panggung. Tirai panggung masih tertutup. Dia bisa melihat Jjong berdiri di samping panggung.

“Seohyun, kau lihat mic yang ada di tengah panggung itu? Tolong diganti, sepertinya rusak!” perintah Jjong.

“Ah ye!”

Seohyunpun berjalan menuju tengah panggung diiring seringaian licik Jjong. Saat Seohyun sudah berada di tengah panggung, suara lembut Jjong membahana seantero sekolah melalui speaker.

“LADIES AND GENTLEMEN! MAAF MENUNGGU LAMA! MINI KONSER DARI SANG DIVA JJONG AKAN SEGERA DIMULAI. DAN PENAMPILAN PEMBUKA KALI INI ADALAH…”

Seohyun masih terpaku di atas panggung, tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya hingga tirai panggung terbuka dan dia bisa melihat kerumunan penonton menatap dirinya.

“…SEO JOOHYUN DARI KELAS 2C. SELAMAT MENIKMATI!”

Onew yang berdiri di antara kerumunan penonton tersebut terheran-heran. “Seohyun nyanyi? Sepertinya terakhir kali aku mendengar suara indahnya saat sekolah dasar dulu. Selanjutnya aku harus mengenakan earphoneku agar pendengaranku nggak rusak!”

Band pengiring mulai memainkan alat musik mereka masing-masing. Tidak ada jalan keluar lagi bagi Seohyun.

Jjong yang sedari tadi berdiri di pinggir panggung tak henti-hentinya tertawa. “Saat suasana kacau karena suara yeoja itu, aku akan pergi ke atas panggung dan bernyanyi dengan keren. Sekali merengkuh, dua tiga pulau terlampaui. Aku berhasil memalukan Seohyun, popularitasku semakin meningkat. Hahahahaha!”

Yonghwa yang dari tadi memang sudah merasa aneh, nekat naik ke atas panggung, tepat saat Seohyun merasa lemas karena bingung harus berbuat apa. Untunglah Yonghwa cepat menangkap tubuh Seohyun hingga yeoja itu tidak terjatuh.

NGIIIIIIIIIING!

“Santai saja, Yong-ah! Penyanyi hebat sepanjang masa akan mengguncang SMA Seoul!”

Begitu menyadari perubahan diri Seohyun, Yonghwa melangkah mundur ke pinggir panggung. Seohyun memandang remeh Jjong di pinggir panggung satunya lagi. Dia membuka jaketnya dan melemparnya sembarangan.

Geuh del bo myun ul gool ee bbal geh jigo
Geuh del bo myun ga seum ee doogeun doogeun
Ah ee chuh lum soo joob geh mal hago
Geuh del bo myun gwen siri oo seum ee na
Babo chuh rum ja ggoo man geuh leh
Ama neh geh sarang ee on gut gatah

Penonton terpaku mendengar suara merdu Seohyun.

“Suaranya bagus!”

“Dia seperti penyanyi!”

“Waktu di kelas musik pasti dia sedang akting, suaranya jauh berbeda! Indah sekali.”

Yonghwa hanya diam memandangi Seohyun yang sedang asik melantunkan lagunya. “Seohyun dengan suara kaleng rombeng, Seohyun dengan suara penyanyi pro. Aish, satu orang saja membuatku pusing begini,” Yonghwa mengacak-acak rambutnya frustasi.

Jjong mendengus kesal melihat penonton yang sangat menikmati pertunjukkan Seohyun, melenceng dari perkiraan sebelumnya. Dan lagi gunung meletus yang ada di kepala Jjong siap meletus begitu mendengar beberapa staff bicara di belakangnya.

“Wah, suasana sangat riuh. Padahal hanya penampilan pembuka.”

“Iya. Aku akui suaranya bagus. Apa dia penyanyi juga?”

Seohyun yang masih bernyanyi menarik Yonghwa ke tengah panggung. Yeoja itu menyuruh Yonghwa bernyanyi tapi dia hanya diam saja. Dengan senang hati Seohyun menginjak kaki Yonghwa dan dengan terpaksa Yonghwa bernyanyi dengan suara yang tidak kalah merdu.

Asap keluar dari kelapa Jjong –hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat-. Jjong berjalan ke tengah panggung.

“STOP!” suara menggelegar Jjong terdengar. Suasana menjadi hening. “Berhenti untuk mendominasi, Seo Joohyun. Ini panggungku. Akulah sang tokoh utama!”

“Oh, hai Shorty! Lama nggak bertemu! Anak buahku yang ke-34, chibi Jonghyun.”

Jjong sedikit memucat mendengar panggilan lamanya. “Mwo.. mworago?”

Kau anak buahku yang selalu membawakan tas dan bukuku di sekolah dulu. Nggak ingat?”

“Bicara omong kosong apa kau?”

Penonton dan para staff termasuk Yonghwa hanya menonton mereka berdua, berusaha mencerna apa yang sedang mereka bicarakan.

Oh ayolah, Shorty! Kau nggak mungkin lupa!”

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!”

Aku kira sejak kau menjadi seorang idola, kau akan tumbuh tinggi, ternyata kau tetap saja pendek!”

Seohyun menyeringai licik pada Jjong. Yeoja itu berjalan mendekat ke Jjong dan mendorong namja itu hingga jatuh tersungkur.

Jjong mengambil mic-nya yang sempat terlepas dari genggamannya dan bangkit berdiri.

“Akan aku buktikan padamu siapa aku sebenarnya!” seru Jjong.

Seohyun tertawa terbahak-bahak diiring tatapan aneh pada mereka berdua, lebih tepatnya pada Jjong. “Kau sekarang sudah membuktikan siapa dirimu sebenarnya, Kim Jonghyun.”

Seohyun menatap lekat mata Jjong. Kali ini Seohyun tidak perlu menengadahkan kepalanya jika ingin menatap mata Jjong karena tinggi Jjong tak lebih tinggi dari tubuhnya. Seohyun melambai-lambaikan sepasang sepatu yang sangat dikenali Jjong. Dia baru menyadari sesuatu.

Hujanan komentar membanjiri lapangan SMA Seoul.

“Ige mwoya? Dia pendek!”

“Perbedaan tingginya sangat mencolok!”

“Kita ditipu!”

kau memesan sepatu khusus ini agar tinggimu bisa dimanipulasi, iya kan? Chibi Jonghyun tetaplah chibi Jonghyun!”

Jjong jatuh terduduk, tubuhnya lemas seketika. Dia tak mampu mengangkat wajahnya.

“Iya, kau benar! pendek tetaplah pendek! Aku menjadi seorang idola karena aku ingin seseorang merubah pandangannya terhadapku! Sesering aku berlatih, sesering aku meminum susu, tetap saja aku pendek. Aku ini nggak berguna!” Jjong memukul keras lantai panggung.

Jjong menengadah kepalanya dan sangat terkejut melihat pemandangan di depannya.

Lihat Yong, aku lebih tinggi darimu!” seru Seohyun mengenakan sepatu khusus Jjong. Yonghwa hanya bisa menahan tawanya.

“BERHENTI MENINDAS JJONG!”

Seseorang muncul dari belakang Jjong, membela namja yang masih shock itu.

“Sependek apapun Jjong, dia tetaplah Jjong kami!”

Jjong yang merasa mendapat penguatan langsung tersenyum. “Gomawo!” katanya seraya menoleh ke belakang. Jjong terkejut melihat seorang yeoja bertubuh tinggi membelanya. Dia makin merasa sedih karena yeoja yang membelanya memiliki tinggi badan yang jauh lebih tinggi darinya.

Yah, yah, kau ku maafkan karena Sooyoung!”

Sooyoung menggendong tubuh ringan Jjong dan membawanya menjauh dari kerumunan, diiringi riuhan iri dari yeoja-yeoja yang ternyata sependapat dengan Sooyoung tadi.

Yonghwa kembali teringat dengan kejadian beberapa menit yang lalu, saat dia bernyanyi di depan kerumunan penonton. Yonghwa berjongkok dan menjambak rambutnya sendiri. Baginya itu adalah hal yang memalukan.

Onew yang sedang menggendong Roo –dan juga Jonghyun- datang menghibur Yonghwa. “Sudahlah, Yong! Penonton juga menyukaimu kok!”

“Diam kau, hyung!”

Onew dan Jonghyun tertawa. Seohyun datang dan mengapit leher Yonghwa dengan lengan kanannya.

Jangan malu-malu, Yong! Ayo kita buat grup dan masuk indutri musik. Menurutmu gimana?”

“Gila kau, idiot! ROO!”

Anjing kecil yang sejak tadi digendong Onew melompat dan berjalan menuju Seohyun, seakan dia mengerti apa yang majikannya mau.

NGIIIIIIIIIING!

“Seohyun-ssi, apa benar kau ingin menjadi penyanyi?”

“Tolong nyanyikan kami sepenggal lirik lagu!”

“Apa kau mau di wawancara untuk majalah sekolah?

Pertanyaan bertubi-tubi dari teman-temannya datang ketika Seohyun sudah kembali seperti semula. Dia bingung dengan apa yang terjadi. Orang-orang itu terus mendesaknya hingga Seohyun kehilangan keseimbangan.

Kenapa semua jadi begini? Padahal awalnya kan aku hanya ingin mendapat kesan baik dari Minhyuk, seru Seohyun di dalam hati sebelum dia tak sadarkan diri.

 

 

 

Onew keluar dari ruang UKS bersama Roo di gendongannya.

“Seohyun nggak apa-apa. Aku akan mengantarnya pulang setelah membantu merapikan belakang panggung.”

“Baiklah! Aku ke kelas dulu, hyung!”

Onew dan Yonghwa berjalan berlawanan arah.

Seseorang masuk ke UKS, menatap seorang yeoja yang tertidur pulas di atas ranjang UKS. Dia berjalan mendekat, lalu mengelus rambut panjang Seohyun yang terurai.

Namja itu membungkukkan badannya. Dengan mata terpejam dia mencium kening yeoja yang disukainya itu. Setelah itu dia membuka kedua matanya begitu menyadari seseorang sedang mengamatinya di pintu UKS.

“Oh hai, Yong!”

“Apa yang kau lakukan di sini, Minhyuk?”

Minhyuk kembali mengamati wajah damai Seohyun sebelum dia beralih menuju keluar UKS.

“Performmu tadi bagus, Yong! Sepertinya banyak yang menyukainya.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan? Sedang apa kau di sini?” tanya Yonghwa dengan sorotan matanya yang tajam.

“Ah, kau ke sini pasti karena mengkhawatirkannya, ya? Sayangnya dia menyukaiku, Yonghwa!” seru Minhyuk dengan sorotan mata tak kalah tajamnya dengan Yonghwa.

 

-tbc-

 

22 thoughts on “W PINCH [chapter 4]

  1. YAAAAAAAAAAAAAAA~ (teriakan terpendam ^^) pengen teriak saking gregetannya ama yongseo!! Tapi takut bangunin orang.. Minhyuk.. Ih! Pasti dia yg ngirim surat ke yonghwa jonghyun ama jonghyun (?)! Daebak ^^

  2. wakakaka ..aseli tiap baca w pinch bawaannya ngakak mulu .. sampai2 suami yg tiduran di sebelah (baca pk lappy di kasur) nglirik n koment ..
    ” makanya bikin FF yg lucu biar banyak orang yg ketawa .. bikin ff kok roman mulu apalagi Shin castnya Huhh “…😛 <– jeles dia

  3. Pingback: W PINCH [chapter 5] | ffcnblueindo

  4. Pingback: W PINCH [chapter 5] « SHINY BLUE

  5. Pingback: W PINCH [chapter 6] | ffcnblueindo

  6. Pingback: W PINCH [chapter 6] « SHINY BLUE

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s