Bloody Brothers [chapter 3]

chapter 1 | chapter 2

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Length: chaptered

Genre: mystery, angst, family, [bit] romance

Rating: PG17

Cast:

  • Lee Jungshin CNBLUE
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Kim Hyuna 4minute
  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Lee Jinki SHINee
Disclaimer: my own plot
Note: tanda (***) berarti ganti hari ya🙂
****************************************************************************

Yonghwa dan Jinki berjalan gontai menuju ruangan Yonghwa di sebuah kantor detektif swasta terkenal. Merekapun membanting diri di sofa, melepas penat yang sedari tadi menggerogoti tubuh mereka.

“Haaaaaaah!” Jinki menghela nafas panjang.

“Tiga bulan untuk kasus Kim Jungmo, sebulan untuk kasus Yeo Sangchu, dan satu minggu untuk kasus Yoon Doojoon. Aku yakin sekali mereka saling berhubungan. Tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang dapat memperkuat pendapatku,” jelas Yonghwa seraya melempar map ke atas meja yang ada di depannya.

“Bukan tidak, tapi belum, Yong!” Jinki meraih map yang tadi dilempar Yonghwa. “Setidaknya kita tahu kasus itu terjadi di satu wilayah. Di Chungdam!”

“Di satu wilayah bukan berarti bisa saling berhubungan kan? Itu tidak bisa memperkuat pendapatku.”

Yonghwa dan Jinki kembali menyenderkan tubuh mereka di senderan sofa. Mereka sangat lelah karena terus berkutat dengan beberapa kasus yang hingga saat ini belum menemukan titik terang.

KLEK!

“Bos!”

Seorang yeoja dengan nafas tersengal-sengal masuk ke ruangan Yonghwa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Ada apa, Nicole?” tanya Yonghwa yang tadinya ingin menegur sekretarisnya itu karena masuk seenaknya, tapi tidak jadi dilakukannya begitu melihat wajah panik yeoja cantik itu.

“Polisi baru saja menghubungi kantor kita! Mereka menemukan sesosok mayat perempuan dengan tubuh terpotong-potong di hulu sungai Han!”

 

***

 

Setelah seminggu kepergian Doojoon, sekolah kembali digegerkan dengan berita kematian Jessica. Murid-murid mulai merasa tidak aman, takut mereka yang menjadi sasaran berikutnya. Ditambah beberapa orang asing dari kepolisian yang bolak-balik masuk ke sekolah mereka, menambah ketakutan yang belum pernah mereka rasakan.

“Tumben kau tidak membawa bekal makan. Apa kakakmu tidak masak?” tanya Hyuna.

“Ani! Aku hanya malas saja membawanya. Nafsu makanku hilang begitu aku menginjakkan diri di sekolah ini.”

“Ah, ya! Aku juga!”

Jungshin bisa merasakan nada kesedihan mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Hyuna. Namja itu tahu, Hyuna hingga saat ini masih belum bisa melupakan Doojoon.

“Hyun-ah! Menurutmu Doojoon orang yang seperti apa?”

Hyuna hanya terdiam, tidak menanggapi pertanyaan Jungshin barusan.

“Kalau kau tidak mau menja…”

“Doojoon itu orang yang lembut dan perhatian. Dia tipe orang yang akan terus berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Ahaha, aku jadi ingat. Dulu dia ingin sekali membeli robot yang harganya jauh sekali dari uang saku yang dia dapat. Dia rela tidak makan siang atau jalan-jalan dengan temannya selama sebulan demi barang yang dia inginkan.

Dia juga tipe orang yang suka melindungi, entah itu melindungi barang kesayangannya atau orang yang dia cintai. Dia bahkan rela dipukul segerombolan preman demi yeoja yang dicintainya.”

Mata Hyuna memandang kosong ke depan. Jungshin tahu betul siapa yeoja yang dicintai Doojoon tersebut.

“Tapi semua itu hilang sejak dua tahun yang lalu. Orang tuanya bercerai dan sikapnya berubah drastis. Dia lebih suka mengurung diri di rumah, suka berkelahi dan mulai sering merokok. Dia juga mengacuhkanku!”

Hyuna menundukkan kepalanya. Air mata jatuh tepat di kepalan telapak tangannya. Dengan segenap keberanian Jungshin merengkuh kedua bahu Hyuna dan menariknya ke dalam pelukannya. Hyuna membenamkan wajahnya di dada Junghin, menangis sekencang-kencangnya hingga membuat jas sekolah Jungshin basah karena air matanya.

Mereka saling melepaskan diri begitu bel sekolah kembali berbunyi.

“Istirahat telah usai. Sebaiknya kita ke kelas.”

“Gomawo, Jungshin!”

Hyuna menatap lekat mata Jungshin, sebuah persepsi tiba-tiba muncul. Buru-buru dia menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menepis persepsi itu.

 

 

 

Jinki memarkirkan sembarangan mobilnya di basement kantornya, kemudian berlari menuju lift.

“Lantai 28? Sial!” umpat Jinki.

Dengan terpaksa dia menaiki anak tangga menuju lantai sepuluh. Rasa ketidaksabarannya mampu mengalihkan rasa lelahnya.

KLEK!

“Yong!” Panggil jinki begitu dia menginjakkan kaki di ruangan berlabel ‘Jung Yong Hwa – Kepala Divisi’.

“Hmm, wae? Sepertinya kau buru-buru sekali.”

Jinki berjalan dengan cepat menghampiri Yonghwa yang sedang duduk di sofa dengan kertas-kertas berserakan. Diapun duduk di samping sang pemilik ruangan.

“Kabar bagus, aku menemukan sebuah penemuan baru.”

Jinki menyerahkan sebuah map yang sedari tadi dia genggam kepada Yonghwa. Yonghwapun menyambutnya dan membaca tulisan-tulisan di map tersebut.

“Kim Jungmo adalah seorang pemilik kursus gitar, seorang namja yang memiliki adik bernama Lee Jungshin bekerja sampingan di sana. Yeo Sangchu adalah seorang guru di sebuah lembaga homeschooling, terakhir kali mengajar seseorang yang bernama Lee Jungshin. And guess what? Dua korban terakhir adalah teman sekelas Lee Jungshin.”

Yonghwa sedikit terkejut mendengar penjelasan panjang lebar rekannya itu.

“Jadi maksudmu, Lee Jungshin…”

“Aku tidak menuduh kalau pelakunya Lee Jungshin, tapi orang ini harus dicurigai.”

Yonghwa hanya diam membisu. Bayang-bayang sore tadi kembali teringat dibenaknya.

“Yong, kenapa diam? Ungkapkan saja pendapatmu, mungkin bisa membantu!”

Yonghwa menoleh ke Jinki dan mulai menceritakan sesuatu mengenai temuannya tadi sore.

 

Flashback

Yonghwa kembali melirik ke jam tangan silvernya. Sudah satu gelas cappuccino besar dia habiskan, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.

KLENG! Lonceng bel pintu kafe kembali berdenting. Yonghwa merasa lega karena orang yang ditunggu sudah datang.

“Mianhae oppa, aku terlambat! Aku lupa kalau hari ini adalah jadwal piketku dan baterai ponselku habis saat aku ingin memberitahumu.”

“Gwenchana, Hyuna! Ayo duduk! Mau pesan apa? Seperti biasa?”

Hyuna mengangguk seraya mengatur nafasnya yang sejak tadi tidak beraturan.

“Vanilla Late satu!” teriak Yonghwa pada pelayan yang jaraknya tidak jauh dengannya.

“Ada apa oppa mau menemuiku?”

“Igeo!” Yonghwa menyerahkan sebuah kotak kecil berpita pada Hyuna. Hyunapun membukanya dan sedikit terpesona dengan isinya.

“Omo.. yeppoda! Kalung ini untukku?” tanya Hyuna, matanya masih menatap lekat kalung cantik itu.

“Iya! Eomma memintaku untuk memberikannya padamu. Dia membeli itu khusus untuk keponakannya yang cantik,” seru Yonghwa seraya mengacak-acak poni rambut Hyuna.

“Jinjja? Ahjumma sudah pulang? Kalau begitu nanti malam aku akan ke rumahmu. aku rindu sekali dengannya.”

“Dia sudah kembai ke Jepang, Hyuna! Dia kembali ke Korea hanya untuk mengambil berkas-berkas yang tertinggal.”

Hyuna mengerucutkan ujung bibirnya dan mengangguk paham. Kemudian dia jadi teringat kejadian siang tadi. Ada sesuatu yang menurutnya harus di sampaikan pada Yonghwa.

“Oppa? Hmm…”

“Ne?”

“Tidak jadi, deh!” Hyuna ragu untuk menyampaikannya.

“Kau jangan membuatku penasaran, Hyuna! Cepat katakan!”

“Hmm, kau tahukan dua temanku yang tewas itu?” Yonghwa mengangguk. “Kejadian itu aneh sekali dan itu terjadi sejak kedatangan teman baruku.”

Yonghwa membetulkan posisi duduknya, dia mulai tertarik dengan cerita Hyuna.

“Siapa nama namja itu?”

“Aish, oppa! Aku takut salah. Aku tidak mau kau salah tangkap.”

“Aniya! Kau pikir aku detektif abal, aku pasti menyelidikinya terlebih dahulu. Nuguya?”

Hyuna menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya. “Lee Jungshin!”

“Lee Jungshin? Hmm baiklah aku selidiki. Persepsi belum tentu benar Hyuna, siapa tahu hanya kebetulan.”

Flashback end

 

“Titik terang sudah ditemukan!” seru Yonghwa sembari menjentikkan jarinya. “Kali ini kita coba fokus pada Lee Jungshin!”

Jinki mengangguk setuju. Tapi suasana serius itu berubah hanya karena sebuah suara getaran yang berasal dari perut Jinki.

“Aish! Aku lupa belum makan siang!” katanya seraya melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam. Yonghwa pun tertawa. “Ya, apa yang kau tertawakan, Yong?”

“Aku baru tahu seorang Lee Jinki bisa lupa makan.”

“Ya, ini juga demi kasusmu!” Jinki menoyor kepala Yonghwa.

“Baiklah, baiklah! Kajja, kita makan! Aku yang traktir!”

“Huweee!” Jinki bangkit dengan gembira. “Aku mau ayam!”

“Terserah kau saja, tuan maniak ayam! Makanlah sepuasmu.”

Yonghwa merangkul bahu sahabat sekaligus rekannya itu dan mereka berdua berjalan menuju mobil mereka masing-masing.

 

 

 

Malam itu Minhyuk sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Bayang-bayang masa lalu bersama adik kandungnya, Jungshin, melayang di pikirannya seperti sebuah slideshow.

“Haaaaah!”

Minhyuk berusaha memejamkan matanya, tapi tetap saja bayangan itu datang.

 

Flashback

 

“Minhyuk hyung! Aku mau yang rasa mangga!” seru seorang anak kecil yang berumur satu tahun dibawahnya.

“Iya, Jungshin! Aku beli tiga, kok! Es krim rasa mangga untukmu, es krim rasa coklat untukku dan es krim rasa vanila untuk eomma!”

“Yay!”

Kedua namja bersaudara itu berjalan beriringan, masuk ke dalam rumahnya. Namun kedatangan mereka disambut oleh teriakan seorang yeoja yang sangat mereka kenal. Jungshin dan Minhyuk saling tatap.

“Eomma!”

Mereka berdua meletakkan tas sekolah mereka asal. Bahkan Minhyuk sudah tidak peduli dengan es krim yang tidak sengaja diinjaknya. Buru-buru mereka berlari ke dapur.

“APPA!” seru Minhyuk dan Jungshin.

“Ya, kalian! masuk ke kamar kalian masing-masing!”

Minhyuk dan Jungshin tidak menggubris perkataan ayahnya. Mereka menghampiri ibunya yang tengah menangis. Terbersit rasa ngeri melihat setetes darah di ujung bibir ibunya.

“Berhenti menyiksa eomma, appa! Eomma bisa sakit!”

 

 

“Sidang telah selesai!” kata sang hakim seraya mengetuk palunya tiga kali. Jungshin yang saat itu berumur enam tahun menghampiri ibunya dan memeluknya erat, sedangkan Minhyuk masih saja terduduk. Dia tersenyum kecut.

“Ayo, nak, kita pulang!”

Minhyuk mengangkat kepalanya dan melihat sosok namja paruh baya di sampingnya.

“Ye, appa!”

Minhyuk bangkit dan menerima uluran tangan ayahnya. Untuk terakhir kalinya dia menatap dua sosok yang dicintainya yang sedang memandang dirinya. Sebuah tatapan tajam Jungshin yang tidak akan bisa Minhyuk lupakan.

Mianhae eomma, Jungshin! Aku takut appa tidak main-main dengan ancamannya. Aku tidak mau kehilangan kalian berdua.

 

 

Minhyuk sedikit tercengang melihat tangannya yang bersimbah darah. Awalnya dia ketakutan, tapi entah dorongan dari mana tiba-tiba dia tertawa. Tawanya melengking karena merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya.

 

Flashback end

 

***

 

Jungshin duduk di meja makan, menatap Jonghyun yang tengah memasak. Tiba-tiba saja dia tersenyum, merasa beruntung kakak tirinya masih mau merawatnya dengan kasih sayang.

“Hyung, sudah beberapa hari ini kau tidak ke pelelangan ikan. Wae?”

“Temanku sedang tidak membutuhkan tenaga ekstra.”

Jonghyun membawa dua buah mangkuk ke meja makan dan menyerahkan satu kepada Jungshin.

“Makanlah!”

Merekapun menikmati ramyun buatan Jonghyun.

“Hyung, ini kan hari minggu.”

“Lalu?”

“Bagaimana kalau kita menjenguk appa?”

Kegiatan makan Jonghyun terhenti. Matanya menerawang ke arah sekitar. “Tidak, Jungshin!”

“Wae? Ini hari ulang tahunnya, dia pasti senang kita mengunjunginya.”

“Tidak, Jungshin! Kau tidak ingat betapa bejatnya dia, hah?”

“Tapi dia ayah kita, hyung! Ayah kandungmu!”

Jonghyun bangkit dengan kasar hingga kursinya terpelanting ke belakang.

“Sejak kejadian itu dia bukan ayah kandungku lagi, Jungshin! Dia sampah! Dia iblis yang harusnya ke neraka, bukan dipenjara!”

Jonghyun berjalan menuju kamarnya. Dia tidak mau adik tiri yang disayangnya melihatnya rapuh.

Jonghyun menutup pintunya kasar dan menyenderkan diri di pintu. Matanya menatap lurus ke depan. Air mata tidak mampu lagi dia bendung.

“Dia sudah di neraka, Jungshin! Di tempat yang semestinya!” gumam Jonghyun lirih.

 

 

 

Selama ini Jonghyun melarang Jungshin menjenguk ayah tirinya di penjara dengan alasan tidak cukup umur tapi kini Jungshin sudah beranjak dewasa dan tidak ada alasan lain bagi Jonghyun untuk melarangnya. Karena itu dia nekat pergi ke penjara pusat tanpa sepengetahuan Jonghyun hari itu juga.

“Chogiyo, aku ingin menjenguk seseorang!” kata Jungshin pada seorang sipir yang pertama kali dia  temui.

“Kau bisa pergi ke bilik yang di ujung sana!”

“Gamsahamnida!”

Jungshinpun berjalan menuju sebuah bilik. Pandangannya sesekali melirik ke sekitar. Banyak orang dengan mengenakan seragam yang sama.

“Chogiyo, aku ingin mejenguk seseorang!”

“Namanya?”

“Lee Jaehyun.”

Sipir itu menatap layar komputer yang ada di depannya, mencari seorang penghuni penjara bernama Lee Jaehyun.

“Maaf, tuan! Yang bersangkutan sudah tidak ada.”

“Maksudmu sudah bebas?”

“Dia sudah tewas. Gantung diri di bilik penjaranya lima tahun yang lalu.”

 

***

 

Jungshin berjalan dengan malas menuju sekolahnya. Dia menolak tawaran Jonghyun yang ingin mengantarnya. Sejak kemarin Jungshin enggan bicara dengan Jonghyun perihal kematian ayah tirinya yang tidak diberitahu oleh Jonghyun.

Mata Jungshin menangkap sesosok seorang yeoja tua renta yang kesulitan menyebrang jalan. Hatinya tergerak untuk menolongnya.

“Mari kubantu!”

Jungshin memapah sebelah tangan nenek itu dan membantunya menyebrang. Setelah sampai ditujuan, nenek itu memandang mata Jungshin dengan lembut, seolah ingin mengatakan terima kasih melalui sorotan matanya.

Di kejauhan, Hyuna melihatnya sembari tersenyum. Kemudian dia teringat pertemuannya dengan sepupunya tiga hari yang lalu.

“Tidak seharusnya aku menuduh Jungshin.”

Kemudian Hyuna berlari menghampiri Jungshin. Ditepuknya bahu namja itu begitu dia sudah berada di belakang Jungshin.

“Annyeong!” sapa Hyuna dengan senyuman manisnya.

“Annyeong! Kau tampak senang hari ini?” tanya Jungshin yang mulai keheranan.

“Aku tadi melihat sesuatu yang membuatku terharu.”

Jungshinpun ikut tersenyum. Melihat Hyuna membuat Jungshin lupa pada masalahnya sendiri.

Merekapun sampai di depan kelas, tidak sengaja berpapasan dengan Minhyuk yang ingin keluar. Hyuna menyapa Minhyuk dengan sebuah anggukan, lain dengan Jungshin yang bersikap acuh.

“Kau tidak seharusnya bersikap acuh pada Minhyuk sunbae!” bisik Hyuna pada Jungshin begitu Minhyuk sudah jauh dari mereka.

“Wae? Dan kenapa orang-orang di kelas memanggilnya sunbae? Aku tidak mengerti.”

Hyuna yang sudah sampai di bangkunya segera menarik kursi miliknya mendekat ke kursi Jungshin.

“Dia itu seharusnya satu tingkat di atas kita.”

“Mwo? Tapi kita sekelas dengannya dan…. ah aku tidak mengerti!”

“Yeoja-yeoja di sini kagum pada Minhyuk, yah termasuk aku sebenarnya. Selain tampan dia juga pintar. Nah, itu dia yang membuat seisi sekolah terheran-heran. Kenapa namja sepintar dia bisa tinggal kelas. Aku dengar dari kakak kelas, Minhyuk tidak mengikuti ujian kenaikan kelas waktu itu dan menolak untuk ujian susulan. Aneh!”

Jungshin berusaha mencerna kata demi kata yang diceritakan Hyuna dan dia mencium sesuatu yang aneh dari itu.

“Bahkan dia bukan hanya pintar, tapi jenius!” gumam Jungshin pelan.

“Mworago?”

“Tidak penting!”

 

 

 

Jinki menatap sosok Yonghwa yang masih sibuk membaca kertas-kertas yang digenggamnya. Dia sedikit heran dengan Yonghwa tiga hari ini.

“Yong! Apa sih yang sedang kau dengar?”

“Maksudmu?”

“Di telingamu! Tiga hari ini kau menyumpal telingamu dengan headset!”

“Ini? Headset ini….”

RRRRRRRRRRRRRRRRRRR! Suara mesin fax berbunyi. Perhatian mereka teralih pada mesin fax. Yonghwa bangkit berdiri dan berjalan menghampiri mesin itu.

“Apa itu, Yong?”

“Aku menyuruh Nicole menyelidiki latar belakang Lee Jungshin. Kerja Nicole ternyata cekatan. Aku baru saja menyuruhnya satu jam yang lalu.”

“Jadi kau menyukainya?”

Yonghwa berjalan menuju sofa ruangannya dan duduk di samping Jinki. “Tenang saja! Aku tidak akan merebut incaranmu. Dia bukan tipeku, Jinki!”

“Ya! apa yang kau maksud incaran?”

“Ck! Pikir sendiri!”

Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali fokus pada kertas yang baru didapatkannya itu.

“Lee Jungshin atau Kang Jungshin.. Hmm! Jadi orang tuanya bercerai dan dia ikut ibunya. Selang setahun ibunya menikah dengan seorang namja bermarga Lee. Memiliki dua orang kakak laki-laki, satu kandung yang umurnya berselang satu tahun, satunya tiri yang umurnya berbeda lima tahun. Kakak kandung bernama Kang Minhyuk dan kakak tiri bernama Lee Jonghyun. Kakak kandung tinggal bersama ay…”

“Tunggu!” sela Jinki saat Yonghwa tengah menceritakan isi kertas itu pada Jinki.

“Apa?”

“Kang Minhyuk!”

“Kang Minhyuk?”

Jinki mengangguk dan Yonghwa benar-benar tidak paham apa maksud dari anggukan Jinki. Tiba-tiba Yonghwa teringat dengan kasus yang ditanganinya sembilan tahun yang lalu.

“Kang Minhyuk?!”

 

-tbc-

 

HUAAA chapter macam apa ini?? mian ya kalo garing.

Chapter berikutnya -kayaknya- bakal jadi chapter terakhir ^^

22 thoughts on “Bloody Brothers [chapter 3]

  1. bingung mau ekspersi yg gimana #lah(?)
    sbenerny seneng udah mau ketauan siapa yang ngebunuh…
    tapi ntar kalo ketauan Minhyuk masuk penjara dong? kasian… tp moga ga deh hha ga ada bakaat tampang Napi Minhyuk maah :p

  2. Pingback: Bloody Brothers [chapter 4] | ffcnblueindo

  3. Pingback: Bloody Brothers [chapter 4] « SHINY BLUE

  4. Pingback: Bloody Brothers [chapter 5 - end] | ffcnblueindo

  5. Pingback: Bloody Brothers [chapter 5 - end] « SHINY BLUE

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s