The Story of Street Musicians (chapter 1)

Author: Lee Dae Hyun (@amaryaririe)

Rating: Teenager

Genre: Friendship, Family, Romance

Length: *chaptered

Cast:

Lee Jong Hyun (CNBLUE)

Kang Min Hyuk (CNBLUE)

Im Jin Ah/Nana (After School)

Im Min Jung (fiktif)

Disclaimer: FF ini terinspirasi dari film Acoustic-nya Jonghyun dan Minhyuk but this is my own plot. I only took their roles there as poor musicians, but the story is all mine.

Note: Selamat membaca aja. Semoga ceritanya menyenangkan ^^

“Onnie, aku lapar.”

“Sebentar, ya. Kita cari makanan dulu,” jawab seorang yeoja kepada adiknya.

“Memangnya uang kita cukup?” tanya sang adik.

Yeoja tersebut merogoh uang sakunya dan hanya menemukan selembar uang dengan nominal yang tidak besar.

“Hmm, cukup. Kalau kau saja yang makan, pasti cukup,” jawaabnya sambil tersenyum.

“Shiro! Kalau onnie tidak makan, aku tidak mau makan.”

“Gwaenchana, onnie tidak apa-apa. Onnie tidak ingin kau sakit.”

“Tapi, apa itu berarti onnie yang harus sakit? Kalau onnie sakit, bagaimana kita bisa mencari uang?”

“Kau benar juga. Tapi uang kita benar-benar tidak cukup. Kalau kita bagi makanannya menjadi 2, tetap saja tidak kenyang.”

Tidak jauh dari mereka, seorang namja sedang berjalan dan tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka. Dia pun menghampiri mereka.

“Ini, ambillah. Kukira ini cukup untuk membeli makanan,” kata namja itu dengan polos seraya menyerahkan sejumlah uang pada kedua kakak-beradik tersebut.

“Jjinja?” tanya sang kakak.

Namja itu mengangguk.

“Gomawo.”

Namja tersebut lalu pergi meninggalkan mereka.

“Aneh. Namja itu sama sekali tidak kelihatan kaya. Bahkan nampaknya dia sama seperti kita. Tapi, kenapa dia memberikan uang ini,ya?” ujar sang kakak sambil menatap uang pemberian namja tersebut.

“Biarkan saja, Onnie. Lagipula aku sudah sangat lapar,” kata sang adik sambil memegangi perutnya yang keroncongan.

** **

“Ya! Kau ini pipis berapa lama sih?”

“Mianhae, Hyung.”

“Ya sudah. Kajja, ayo kita cari makan. Aku lapar. Oh ya, mana uang yang tadi? Aku belum menghitung uang yang kita peroleh sejak tadi pagi,” kata namja yang lebih tua sambil menengadahkan tangannya.

Namja yang lebih muda darinya menyerahkan uang yang dikeluarkan dari kantongnya.

“Ini, Hyung.”

“Ya! Kau pikir aku ini babo apa? Meskipun tidak banyak berkurang, tapi aku tau pasti jumlah uang ini berkurang. Minhyuk, cepat katakan uang kita kau kemanakan!”

“Tadi ada seorang yeoja bersama yeodongsaengnya yang kelaparan. Lalu, kuberikan saja sejumlah uang kepada mereka,” jawab namja yang bernama Minhyuk itu dengan polosnya.

“Aduh, Lee Jong Hyun, sepertinya semakin hari kau harus semakin sabar menghadapi adikmu yang babo ini,” kata namja yang bernama Jonghyun kepada dirinya sendiri, tidak dalam hati, tapi bersuara sehingga Minhyuk mendengarnya.

“Ya, Hyung! Aku hanya ingin berbuat baik. Masa tidak boleh?”

“Kau pikir kita sekaya apa? Huh? Untuk makan kita sehari-hari saja tidak cukup mau berlagak memberi makan orang!” jawab Jonghyun sambil lalu dan berjalan meninggalkan Minhyuk.

“Hyung! Tunggu!”

** **

“Mianhae, jeongmal mianhae. Tapi belum ada seorangpun yang mencari Im Jin Ah dan Im Min Jung.”

Sang kakak, yang biasa dipanggil Nana, menatap yeodongsaengnya, Minjung, yang sudah tertidur. Ia masih terus-menerus mengingat kata-kata tersebut. Kenapa belum ada yang mencari dia dan adiknya? Pertanyaan itulah yang juga terus muncul di benaknya. Entah di belahan bumi mana mereka berada tapi pasti ia akan bertemu orang tuanya lagi.

** **

“Kita ngamen di sini saja. Kebetulan sedang ramai,” kata Nana kepada yeodongsaengnya. Nana mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi bersama Minung. Karena di tempat itu begitu ramai dan sebagian dari mereka menyukai suara adik-kakak tersebut, mereka mendapatkan uang yang jumlahnya lumayan.

“Ya! Kau mengambil tempat kami!”

Tiba-tiba seorang namja menghampiri mereka diikuti dengan namja lain di belakangnya. Namja tersebut menyandang gitar di punggungnya, sementara namja di belakangnya mengangkut satu set drum.

“Ah. Ini tempat kalian rupanya. Mianhae kami biasanya bermain musik berpindah-pindah tempat, tapi aku tidak tahu ini tempat kalian biasa bermain,” jawab Nana sambil membungkukkan badan.

“Onnie! Bukankah itu oppa yang kemarin memberikan kita uang?” tanya Minjung sambil menunjuk ke arah Minhyuk.

“Oh iya. Sekali lagi gomawo untuk yang kemarin,” kata Nana.

Jonghyun menoleh lalu menatap Minhyuk tajam seolah berkata, “Jadi dia orang yang kauberikan uang itu?”

Dengan wajah innocentnya Minhyuk hanya tersenyum kecil.

“Oh, jadi dongsaengku ini telah memberikan uang kepadamu kemarin? Aku minta cepat kaukembalikan uang kami! Karena perbuatan konyol dongsaengku ini dengan memberikan uang pada kalian, aku jadi tidak bisa makan enak,” marah Jonghyun.

Kakak-beradik itu kaget melihat sikap Jonghyun. Dengan cepat Nana mengeluarkan uang yang didapatnya tadi dan mengembalikan uang pemberian namja yang tidak dikenalnya itu sesuai jumlah yang diberikannya kemarin.

“Ini kukembalikan,” kata Nana sabar. “Maaf merepotkan,” lanjutnya lalu pamit dan pergi.

“Ah, oppa itu pelit sekali,” kata Minjung kesal.

“Mwo? Apa kau bilang?” Ternyata Jonghyun mendengar apa yang dikatakan Minjung.

“Ssst, tidak boleh begitu,” bisik Nana pada Minjung.

“Maafkan dongsaengku ya,” seru Nana pada Jonghyun. Lalu Nana dan Minjung berjalan semakin jauh.

“Hyung, tega sekali kau!” kata Minhyuk.

“Aishh kau ini!” bentak Jonghyun pada Minhyuk.

** **

“Ah, meskipun Onnie telah mengembalikan uang orang tadi tapi setidaknya malam ini kita bisa makan kenyang,” kata Minjung sambil tersenyum.

“Ya, kau benar.”

“Oh ya, Onnie. Tadi, ada seorang ibu yang memberikan kita amplop di kotak uang kita saat kita mengamen. Aku belum membukanya. Kukira isinya uang.”

“Coba aku lihat. Astaga, ini. Jumlahnya banyak sekali. Setengahnya bisa kita pakai untuk membayar sewa kontrakan kecil kita. Lalu setengahnya lagi bisa kita simpan, setidaknya untuk makan beberapa hari ke depan. Betapa baiknya nyonya itu. Semoga Tuhan memberkatinya,” kata Nana kegirangan. Minjung tertawa kecil melihat onnie-nya yang kelihatan begitu senang.

Di tengah perjalanan mereka yang mulai mendekati tempat tinggal mereka, mereka mendengar sepertinya ada suara samar-samar beberapa orang yang sedang berselisih.

“Ada apa ya? Ayo kita lihat,” kata Nana.

“Onnie, aku takut. Sebaiknya kita tidak usah ke sana.”

Namun, Nana mendengar ada suara orang yang dipukul sementara Minjung kelihatannya tidak mendengar apa-apa. Tiba-tiba Nana mengeluarkan amplop yang berisi uang dan menyerahkannya pada Minjung. Minjung kelihatannya bingung.

“Ini, cepatlah ke rumah Nyonya Oh dan bayarkan uang sewa kontrakan kita. Lalu, pulanglah ke rumah, sisa uangnya simpan di tempat biasa. Nanti onnie menyusul. Onnie ingin ke tempat teman sebentar.

Minjung hanya menurut dan segera melakukan apa yang dikatakan onnie-nya. Namun, Nana bukan melakukan apa yang ia katakan pada Minjung tapi malah mendekati sumber suara yang didengarnya tadi.

Semakin dekat, ia melihat ada 3 orang di situ. Salah satunya tampak marah sementara 2 orang yang lain tampaknya tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi semakin jelas ia melihat 2 orang yang ia kenal, tepatnya yang ia tahu, ada di sana.

“Berhenti! Mengapa kau memukulnya?” jerit Nana saat melihat salah satu orang yang diketahuinya dipukul oleh orang yang tidak dikenalnya.

“Nona, kau siapa? Tolong jangan ikut campur masalah kami,” kata orang yang memukul tadi.

“Aku mungkin tidak tahu ada masalah apa diantara kalian. Tapi, aku rasa bukan solusi yang tepat kalau anda memukulnya,” kata Nana. Ia lalu berlari dan mendekati namja yang tadi dipukul.

“Gwaenchana?” tanya Nana sambil memenggang kedua lengan namja tersebut. Sementara, namja yang satu lagi hanya diam ketakutan.

“Pergilah,” jawab namja itu dengan suara lemah. Namja itu tidak mengusirnya, namun ia hanya tidak mau Nana terlibat dan terjadi sesuatu dengan Nana.

“Apa kau yeojachingunya?” tanya orang itu lagi lau menarik lengan Nana. Nana tidak bisa melepaskan pegangan dari kedua tangan orang itu. Orang itu terlalu kuat untuk Nana.

“Lepaskan dia,” bentak namja yang masih terduduk di jalanan karena habis dipukul.

“Sepertinya dia terlalu berharga bagimu. Aku akan bawa dia, sampai kau datang ke rumahku dan membayarkan uang sewa.”

Namun, namja itu tidak melakukan apapun. Sementara itu, orang tersebut membawa Nana pergi semakin jauh. Nana terlihat berusaha melepaskan diri tapi tidak bisa.

“Jonghyun hyung, ottokhae??”

-TBC-

15 thoughts on “The Story of Street Musicians (chapter 1)

  1. woh jonghyun sama minhyuknya miskin *?* hadeeeeeh jadi ngebayangin jonghyun pake kaos putih yg udah kotor kena tanah, pake topi rajutan dari daun, yaaah pengamen indo banget.
    tapi keren ri (><)

    lanjut~

  2. ayoo lanjutin yaa chapter selanjutnya😀
    ga sabar ama kelanjutannya, ntar jonghyun nolongin nana wkt di culik ya ? ato malah minhyuk ? wkwk

  3. baru sempat baca …
    lagi ngebayangin tampang miskinnya JH n MH .. dweengg ko gak bisa yaakkk hehehehe🙂

    *baca lanjutannya lagi

  4. Pingback: The Story of Street Musicians (Chapter 2) | ffcnblueindo

  5. aq reader baru thor..
    keren thor apalagi yg maennya semua bias aq, itu mereka knp pd miskin thor?? apa memang dari karakternya sengaja di bikin kaya gitu??
    lanjut terus ya thor😀

  6. nana baik hati banget disini , aku suka🙂 ~ nana diculik sama rentenir yah ?

    jonghyun sama minhyuk jadi pengamen tapi tetep ganteng :3 ~

    ditunggu kelanjutannya ~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s