White In Black

 

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Genre: romance, family

Rating: G

Length: super oneshot

Cast:

  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Lee Shinjong [OCs]
Other cast:
  • Lee Kyujong [OCs]
  • Jung Yonghae [OCs]
  • Lee Jinki SHINee
  • Choi Siwon SUJU
  • Jungah [OCs]
Note: annyeong lambai-lambai tangan. Inilah ff yang aku produksi (?) selama dua hari ini. Semoga pada suka :p Ah ya, mending siapin popcorn sama coca-cola soalnya panjaaaang banget. Tadinya pengen dibikin 2shot, tapi ga jadi. Selamat membaca ya. Jangan lupa komen🙂

 

Lee Shinjong, mahasiswi semester tiga jurusan hubungan internasional, siapa yang tidak mengenalnya. Gadis paling pintar di universitas nomor satu di Korea Selatan. Selain karena kepintarannya yang membuat orang-orang satu kampus hampir mengenalnya, dia juga dikenal sebagai gadis kutu buku dan jauh dari yang namanya fashion terkini. Kaca mata lumayan besar, kemeja berlengan panjang dengan kancing paling atas yang hanya dibiarkan terbuka, celana jeans longgar dan sepatu kets, tidak lupa dia menguncir rambutnya seperti ekor kuda. Hanya jenis style itu yang dia anut selama hampir satu setengah tahun dia berkuliah di sana.

Selain itu dia paling anti bersosialisasi. Dia akan berbicara pada teman sekelasnya kalau hanya ada perlu seperti kerja kelompok salah satunya. Maka dari itu dia sama sekali tidak mempunyai teman. Dan memang itulah yang diinginkan Shinjong.

Lain terangnya matahari, lain pula terangnya bulan. Dan ini bisa dikatakan sebagai analogi yang tepat untuk menggambarkan seorang Lee Shinjong. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan gadis itu di malam hari.

“Lady, selesai nyanyi kau temani pria yang di sana,” perintah seorang laki-laki yang dengan terpaksa Shinjong hormati. Sang manajer klub malam, tempat di mana Shinjong bekerja.

 “Kenapa harus aku? Kau bisa suruh Yunha atau Jungah,” jawab Shinjong dengan malas.

“Aku akan membayarmu lebih. Kau tidak tahu siapa dia? Dia itu pengusaha terkenal dan paling tidak sayang dengan uang.”

Spontan mata Shinjong membulat dan senyum manisnya pun tergurat di bibirnya. “As your wish, my lovely boss!”

Sang manajer hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu gadis itu akan melakukan apa saja demi uang.

Lady adalah nama samaran Shinjong di klub malam tersebut. Dia menggunakan nama itu demi menutupi identitas dirinya yang sebenarnya. Walaupun dia menggunakan nama Shinjongpun, orang-orang pasti tidak akan mengira kalau dia adalah si kutu buku Shinjong yang dikenal sebagai murid paling pintar di universitas terkenal. Dia sungguh cantik di malam hari. Dengan gaun super mini ketat warna hitam, make up minimalis dengan lipstik merah yang menggoda. Bahkan Miss Korea Selatan kalah cantik darinya.

Sesuai perintah sang manajer. Selesai menunaikan kewajibannya sebagai penyanyi di klub tersebut, dia berjalan dengan centil menuju pria parlente yang sedari tadi mengamati Shinjong. Shinjongpun duduk di samping pria itu dan memeluknya mesra walaupun mereka baru saling kenal.

“Suaramu bagus sekali, cantik! Kenapa tidak menjadi penyanyi saja?” tanya pria itu setengah mabuk.

“Ani, suaraku jelek! Kau berusaha menggodaku rupanya!” kata Shinjong dengan suara centil yang dibuat-buat.

“Ya, sudah! Temani aku minum sampai puas ya!”

“Kau punya uang, kan?”

“Kau mau uangku rupanya! Temani aku dan aku akan memberimu uang yang banyak!”

“Terserah kau saja, raja!” bisik Shinjong dengan mesra tepat di telinga pria itu.

 

 

 

Jam menunjukkan hampir empat pagi. Shinjong yang telah mengganti bajunya yang lebih sopan, segera menghampiri temannya yang juga bekerja di klub itu dengan riang.

“Sepertinya kau mendapatkan banyak uang kali ini.”

“Kau benar! Walaupun pria bodoh itu terus saja memaksaku melayaninya nafsunya.”

“Hahaha, resiko pekerjaan. Lalu apa yang kau lakukan?”

“Seperti biasa, aku masukkan pil andalanku dan diapun tertidur. Untung saja aku meminta bayaran duluan. Uangnya banyak!” Shinjong mengeluarkan segepok uang dan memamerkannya pada Jungah. “Ayo kita makan! Aku yang traktir.”

“Sebaiknya jangan kau hambur-hamburkan, Shin-ah! Kau tabung saja! Aku tahu kau pasti butuh.”

“Ayolah! Aku kan mentraktirmu sekali-sekali!”

Jungah tersenyum dan mengikuti kemauan sahabatnya itu.

 

 

 

Shinjong hampir saja tertidur di kelas saat sang dosen sedang menerangkan materi. Tumben sekali matanya terasa berat. Biasanya Shinjong bisa tahan sepulang kerja, pulang ke rumah sebentar hanya untuk membersihkan diri, lalu lanjut menuju kampusnya. Tapi kali ini dia merasa sangat lelah.

“Kau mengantuk, Shinjong-ssi? Lebih baik kau izin dan tidur di ruang kesehatan.”

Shinjong menoleh ke belakang dan mendapati seorang namja tampan yang tadi memberinya saran. Seperti biasa, Shinjong hanya mengacuhkannya. Sekalipun namja yang bernama Yonghwa itu sangat populer di kampus, Shinjong tidak tertarik. Lebih tepatnya sengaja dibuat tidak tertarik.

Shinjong masih termasuk gadis normal, bisa menyukai lawan jenis, contohnya Yonghwa. Hanya dia dan Tuhan yang tahu itu. Dia menyimpan perasaan itu rapat-rapat. Menurutnya, dia bukan gadis yang pantas untuk bersanding dengan seorang Jung Yonghwa.

“Sudahlah, Yong-ah! Percuma bicara dengan robot!” seru seorang namja yang duduk di samping Yonghwa. Walaupun berbicara pelan, tapi Shinjong masih bisa mendengar suara Jinki. Hatinya agak sakit memang mendengar julukan seperti itu. Di kampus, Shinjong juga di juluki sebagai robot karena sama-sama tidak punya hati. Tapi apa daya, dia harus menahannya.

 

 

 

Di sudut perpustakaan kampus, seorang gadis tertidur dengan posisi duduk di lantai. Dialah Shinjong. Jam dua siang adalah jadwalnya untuk tidur dan dia akan terbangun dengan sendirinya satu jam kemudian. Tubuhnya akan kembali merasa fit setelah merasakan tidur walaupun hanya satu jam. Dia sendiri tidak tahu kenapa, tapi tidur satu jam baginya sama saja dengan porsi tidur orang normal.

Dan setiap Shinjong tertidur di sana, dia tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang selalu mengamatinya. Sang pemilik mata bisa tahan memandanginya selama Shinjong sedang  tertidur. Dan waktu satu jam terasa seperti satu menit baginya. Tidak puas hanya memandang wajah damai Shinjong sebentar.

Sang pemilik mata buru-buru pergi dari perpustakaan begitu Shinjong terbangun. Dia berlari menuju mobilnya dan menjalankannya menuju rumah sakit pusat.

Sesampainya di tujuan, dia berjalan menuju ruangan berlabelkan nama seseorang yang sudah tidak asing baginya. Diapun masuk tanpa permisi.

“Annyeong, tuan putri!”

Sang pemilik ruangan terkejut dengan kedatangannya.

“Ya, bisa tidak ketuk pintu dulu?”

“Kenapa? Aku malas!”

Dengan seenaknya dia merebahkan diri di tempat tidur khusus untuk memeriksa pasien.

“Biar kutebak! Kau pasti habis melihat yeoja itu!”

“Tepat! Noonaku yang satu ini memang pintar!”

“Jangan mengaku sebagai adikku kalau kau masih pengecut begini, Yong! Ayolah, satu setengah tahun itu sudah terlalu lama. Kalau kau benar-benar serius menyukainya, kau tembak saja dia!”

Yonghwa bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, memandang nanar mata kakaknya. Tidak ada hal yang tidak tahu dari sang kakak karena Yonghwa selalu terbuka pada kakanya

“Aduh, noona, dia itu…. culun!”

Sang kakak bangkit dari kursinya dan memukul kepala adiknya.

“Appo, noona!”

“Kalau begitu jangan sampai kau utarakan perasaanmu padanya!”

“Wae!”

“Aku kasihan padanya kalau mendapatkan namja sepertimu yang hanya bisa memandang seseorang dari penampilannya saja!”

“Tapi dia cantik kalau didandani!”

“Sudah, cukup! Terserah kau saja lah! Sampai sekarangpun kau belum memberitahuku siapa namanya. Aku yakin kau hanya main-main dengannya!”

“Ehm!” Dua orang yang sedang bertengkar itu menoleh ke pintu dan mendapati seorang pria berdiri di sana. “Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat.”

“Siwon hyung? Ah kau datang pasti mau mengajak Yonghae noona kencan.”

“Hahaha, tadinya begitu! Tapi hari ini aku harus menggantikan shift malam temanku, jadinya kubatalkan. Yonghae-ya, mau temani aku makan? Siang tadi aku kebanjiran pasien, aku tidak sempat makan siang.”

“Kajja! Yong-ah, kau mau ikut?” ajak Yonghae seraya melepas jas putih kebesarannya.

Yonghwa menggeleng. “Aku tidak mau jadi nyamuk. Lebih baik aku mau main dengan  Kyujong saja.”

Yonghwa keluar dari ruangan kakaknya setelah sang kakak pergi dengan tunangannya. Dia berjalan santai menuju ruangan khusus yang biasa Yonghwa datangi.

TOK TOK TOK! KLEK!

Yonghwa membuka pintu kamar inap tersebut dan tidak mendapati sang penghuni di sana.

“Ke mana Kyujong? Apa sedang terapi? Setahuku jadwal terapinya pagi-pagi.”

Ditengah kesibukannya dengan pikiran-pikirannya, sebuah tangan kecil tiba-tiba memeluk Yonghwa dari belakang.

“Hyung kena!”

Yonghwa menoleh kebelakang dan mendapati seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun tersenyum menyeringai padanya.

“kau bersembunyi di balik pintu ya? oh, kau mau aku hajar rupanya, hah?” Yonghwa mengangkat bocah kecil itu, meletakkannya di atas tempat tidur dan menggelitiknya.

“Ampun hyuuuuung!”

“Ini hukuman untukmu, botak!”

Suara tawa mereka berdua terdengar hingga ujung lorong.

 

 

 

“Kau lama sekali, Yong!” seru Jinki begitu Yonghwa sudah ada di hadapannya. Yonghwa membungkuk, menekan kedua lututnya sembari mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena berlari tadi. Yonghwa kembali menegakkan badannya dan memandang gedung dengan hiasan lampu berkelap-kelip.

“Aku dari rumah sakit dan jalanan malam ini macet sekali. Ya! Sejak kapan kau jadi manusia malam?” tanya Yonghwa pada Jinki dengan menaikkan sebelah alisnya.

“Aku ingin membuktikan sesuatu padamu!”

Jinki menarik lengan Yonghwa dan membawanya masuk ke dalam.

“Kau ingin membuktikan apa?”

“Nanti kau juga tahu!”

Jinki dan Yonghwa di cegat masuk oleh dua orang pria berbadan kekar, meminta kartu identitas Yonghwa dan Jinki. Setelah di rasa memenuhi syarat, kartupun dikembalikan dan mereka berdua di perbolehkan masuk.

Mereka berdua memasuki ruangan yang sangat luas. Musik mengalun dengan keras, lampu warna-warni dan laser hijau berhasil menyilaukan mata mereka berdua, pertanda kalau mereka memang tidak biasa datang ke tempat seperti itu.

“Kau tahu tempat ini dari mana? Jangan racuni aku dengan hal seperti ini!” teriak Yonghwa, berusaha mengalahkan suara musik yang baginya terlalu keras di dengar.

“Kau pikir aku suka?” tanya Jinki dengan suara yang tak kalah kerasnya. “Aku ke sini ingin membuktikan sesuatu!”

Yonghwa mengerutkan keningnya, tanda tidak paham dengan apa yang dimaksud Jinki.

Jinki kembali menarik lengan Yonghwa dan menggiringnya ke arah bartender.

“Chogiyo! Lady ada di mana?” tanya Jinki.

Orang yang ditanya Jinki tidak menjawab, namun telunjuk tangan kirinya terarah pada sebuah bilik dengan kursi sofa yang tersusun setengah lingkaran. Lebih tepatnya, telunjuk orang itu terarah pada seorang gadis cantik yang sedang duduk di atas pangkuan seorang pria berumur.

Mata Jinki memandang ke arah Yonghwa, kemudian berganti ke arah gadis bernama Lady. Awalnya Yonghwa tidak mengerti. Namun setelah melihat lebih dekat –walaupun masih berusaha sembunyi-sembunyi-, dia merasa sangat mengenali gadis itu.

“Shinjong?” Yonghwa terbelalak. Dia masih merasa tidak yakin kalau itu adalah Shinjong.

“Ye, itu Shinjong!”

Yonghwa sangat tidak mempercayai apa yang sedang dilihatnya. Shinjong yang dia kenal adalah wanita culun dengan kaca mata besar yang selalu kenakan, bukan Shinjong dengan dress mini super ketat dengan rambut yang tergerai bebas yang mampu membuat pria yang melihatnya akan tergoda.

Yonghwa berjalan menghampiri Shinjong, ingin memastikan lebih dekat dan berharap Lady bukanlah wanita yang disukainya.

“Kau mau ke mana?” cegah Jinki.

“Aku tidak percaya kalau itu Shinjong!”

Jinki tiba-tiba menarik lengan Yonghwa dan membawanya menuju toilet pria.

“kau kenapa membawaku ke sini?” Yonghwa membentak dan menepis tangan Jinki.

“Dia itu Shinjong, Yong! Percaya padaku!”

“Kau…”

“Aku… sebenarnya pernah melihatnya keluar dari klub ini menjelang matahari terbit. Beberapa kali malah, saat aku pulang dari rumah sakit menemani eomma yang sedang di rawat sebulan yang lalu, dan kebetulan jalannya lewat sini. dan tanpa sepengetahuanmu, aku menyelidikinya. Mian Yong! Dia bukan yeoja yang pantas kau sukai.”

Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya, masih sulit untuk mempercayai apa kata sahabatnya itu.

“Mian aku baru katakan sekarang.”

 

 

 

“Jungah, kau akan berhenti bekerja?” tanya Shinjong seraya memasukkan dress mininya ke dalam tas. Yang ditanyapun mengangguk. “Wae? Apa boss memecatmu?”

“Ani! Aku mau berhenti dari pekerjaan ini. Aku mendapatkan pekerjaan lain yang lebih bersih. Walaupun gajinya lebih kecil, tapi aku senang.”

Shinjong hanya tersenyum miris mendengar Jungah bicara. Diapun sebenarnya tidak tahan dengan pekerjaan yang dia tekuni sekarang ini. Tapi mau bagaimana lagi? Dia harus mendapatkan uang banyak dalam sekejap.

“Kau kapan akan berhenti, Shin-ah?” tanya Jungah, tangannya memegangi lengan Shinjong.

“Sampai orang yang paling kucintai didunia ini bisa tersenyum riang tanpa beban.”

Jungah hanya tersenyum. Berusaha bersimpati pada apa yang sedang menimpa Shinjong selama hampir dua tahun ini.

“Dia pasti akan kembali ceria seperti dulu. Kau akan menjenguknya pagi ini?” tanya Jungah.

“Ye, sebelum ke kampus aku akan ke sana dulu. Aku merindukannya!”

Merekapun berpisah di depan pintu klub karena arah rumah sakit berlawanan arah. Jungah berlari menuju halte bus dan berharap bus pertama di hari ini sudah beroperasi.

Shinjong tidak menyadari kalau sejak beberapa jam yang lalu hingga sekarang, sepasang mata mengamatinya.

“Dia menjijikan!”

Dengan perasaan kesal dia menghidupkan mobilnya dan menyetir dengan kecepatan yang bisa dibilang menyeramkan. Dia sudah muak mengikuti gerak-gerik Shinjong dan lebih memilih pulang dan bersiap-siap menghadapi kelas pagi.

 

 

 

Shinjong menatap paras wajah damai bocah laki-laki berusia sepuluh tahun yang sedang tertidur pulas. Siapa sangka kalau anak itu tiba-tiba terbangun.

“Noona!!!”

Dia bangkit dari tidur dan memeluk Shinjong erat. “Bogoshipo!”

“Nado, Kyu! Kau merasa lebih baik sekarang?”

“Setiap melihat noona aku merasa lebih baik. Kenapa baru datang sekarang? Sudah lima hari kau tidak ke sini!”

Tangan Kyu menarik Shinjong dan menyuruhnya duduk di tepi ranjang.

“Mian, Kyu! Noona sibuk. Pekerjaanku menumpuk, hehe! Belum lagi tugas kuliah,” katanya sambil mengelus kepala Kyu yang sama sekali tidak berambut.

“Kalau begitu kenapa noona tidak mengerjakan di sini saja? Nanti aku bantu deh!”

Shinjong hanya tertawa. Lagi-lagi tertawa miris. Bagaimanapun, tidak mungkin dia membawa laki-laki dan bermesraan di depan adik tercintanya.

“Oh ya, noona! Y hyung [baca: wai] kemarin sore ke sini lagi.”

“Jinjja?”

“Ye! Dia menghadiahkanku ini!” Kyujong berlari menuju lemari di sudut ruangan dan mengeluarkan sekotak permainan lego.

“Kau suka?”

Kyujong mengangguk. Anak itu sering bercerita pada Shinjong tentang orang yang beberapa kali setiap minggunya mampir dan mengajaknya bermain akhir-akhir ini. Shinjong sangat penasaran dan ingin sekali berterima kasih karena telah menyenangkan adiknya. Tapi sayang, Tuhan belum mempertemukan mereka. Karena sepulang kuliah, Shinjong harus bekerja di klub.

“Noona, saranghae yeongwonhi!”

Shinjong menoleh ke arah Kyu dan menatapnya heran.

“Tumben kau bilang cinta padaku?”

“Aku serius noona! Mian kalau aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu. Aku tidak bisa melindungimu seperti pesan appa dulu!”

Shinjong agak tersentak mendengarnya. Dia kembali teringat pada orang tuanya yang sekarat karena kecelakaan mobil enam tahun yang lalu, sebelum akhirnya meninggal.

Shinjong menoyor kepala Kyujong dengan mata yang berkaca-kaca. “Kau bicara apa sih?”

“Kau menyayangiku, noona?”

Dan air mata Shinjong tak mampu lagi dia bendung.

“Sangat, aku sangat menyayangimu, pabo! Jangan pernah bicara serius begini lagi, oke? Kau bicara seakan-akan ingin meninggalkanku!” Shinjong menarik tubuh Kyujong ke dalam pelukannya. Kyujong ikut menangis, menangis karena kakaknya dan rasa perih di kepalanya yang dia tahan sedari tadi.

 

 

 

Setelah menjenguk adiknya di rumah sakit, Shinjong langsung bergegas ke kampusnya. Dia agak heran karena setiap dia melangkah, pandangan orang-orang di kampus selalu sinis padanya. Tidak biasanya begitu.

Dan dia menemukan sesuatu yang membuatnya yakin kalau inilah penyebabnya. Foto dirinya yang sedang bermesraan tadi malam di majalah dinding kampus. Foto yang membuat orang yakin kalau itulah Lee Shinjong si kutu buku.

Shinjong menarik kasar foto-foto itu dan merobeknya kecil-kecil. Tapi sayang, masih banyak foto-foto dirinya yang tertempel di dinding-dinding kampus. Rasanya ingin menangis, tapi Shinjong berusaha menahannya.

Shinjong berjalan gontai menuju kelasnya dan mendapati pandangan sinis dari teman sekelasnya. Shinjong berusaha tidak menggubrisnya. Dia berjalan biasa menuju bangkunya.

“Aku tidak tahu kalau di kelas kita ternyata ada primadona!” kata Yonghwa yang sengaja mengeraskan suaranya.

“Primadona?” tanya Jinki pura-pura tidak tahu dengan suara yang tidak kalah lantangnya.

“Primadona malam! Dia sangat cantik di malam hari. Kau mau lihat, Jinki-ya? Aku memotretnya, lho!”

Yonghwa memberikan beberapa foto yang sebenarnya sudah Jinki lihat karena dia yang mencetaknya sebelum berangkat kuliah.

“Ini yang kau maksud primadona, Yong? Kata primadona tidak pantas untuknya. Dia lebih pantas di sebut…”

“Pe-la-cur!” seru Jinki dan Yonghwa serempak. Anak-anak sekelas tertawa, kecuali Shinjong yang masih berusaha menahan emosinya. Tapi emosi setiap manusia ada batasnya dan kali ini Shinjong sudah melebihi dari batas tersebut.

Shinjong menggebrak mejanya, sukses membuat kelas menjadi hening. Dia bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Yonghwa dan Jinki. Dia merebut foto-foto dari tangan Jinki dan melihatnya.

“Jadi ini kau yang ambil?” tanya Shinjong datar.

“Benar!” jawab Yonghwa sekenanya.

Shinjong merobek foto-foto tersebut tepat di depan wajah Yonghwa.

“Lalu kau mau apa, HAH?” bentak Shinjong.

“Kau itu menjijikan!” Yonghwa berjalan mendekat dan merengkuh dagu lancip Shinjong. “Bagaimana kalau malam ini kau aku booking? Akan aku bayar berapapun yang kau mau! Kau mau di rumahku, di rumahmu atau di hotel?”

PLAK! Sebuah tamparan dari Shinjong tepat mengenai pipi kanan Yonghwa.

“Aku masih punya harga diri, Jung Yonghwa!”

“Berapa harga dirimu? Aku rasa aku bisa membelinya!”

PLAK! Kali ini mengenai pipi kiri Yonghwa. Yonghwa mengusap pipinya dan tersenyum sinis pada Shinjong.

“Jangan berani-beraninya menyentuhku dengan tangan kotormu!” bentak Yonghwa.

Tangan Shinjong kembali melayang, tapi dia urungkan niatnya karena matanya terasa panas. Dia tidak mau orang-orang melihatnya menangis. Hati sakit. Dan yang lebih menyakitkan hatinya adalah orang yang telah mempermalukannya adalah orang yang dia sukai secara diam-diam selama ini.

Shinjong berbalik dan keluar dari kelas diiringi sorakan dan lemparan-lemparan kertas dari teman-teman sekelasnya. Yonghwa hanya tersenyum kecut. Tapi ada sedikit rasa bersalah di hatinya dan kini dia merasa mulai menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.

 

 

 

“Annyeong, Kyujong!”

“HYUNG!”

Kyujong yang sedang asik memainkan legonya, bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Yonghwa.

“Tumben hyung datang siang-siang?”

“Aku sedang kesal dengan temanku!”

“Kenapa?”

“Dia pembohong!”

“Pembohong? Bohong kenapa? Pasti ada sebabnya!”

Yonghwa menepuk bahu Kyujong. “Sudahlah! Kau masih kecil, lebih baik kau urusi saja legomu! Ayo main denganku!”

Yonghwa menggendong tubuh kurus Kyujong dan mendudukkannya di atas tempat tidur. Yonghwa kemudian duduk di tepi tempat tidur dan ikut memainkan lego tersebut dengan bocah kecil yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri.

Pertama kali Yonghwa bertemu dengan Kyujong tiga bulan yang lalu. Dia mendapati Kyujong pingsan di taman rumah sakit. Sejak saat itu dia menganggapnya sebagai adik. Dan kebetulan sekali dokter yang menangani Kyujong adalah kakaknya sendiri.

“Hyung, noona tadi pagi ke sini!”

“Jinjja? Ah gagal lagi aku bertemu dengan kakakmu! Kenapa harus selalu pagi-pagi?” tanya Yonghwa tanpa mengalihkan pandangannya pada bangunan mini yang dia buat dari lego.

“Mwolla! Noona sibuk katanya!”

Yonghwa agak penasaran dengan kakak Kyujong yang tidak dia ketahui namanya. Dia ingin bertanya tapi rasanya enggan karena sebenarnya dia tidak menyukainya karena menurutnya sang kakak tega meninggalkan adiknya di rumah sakit dan jarang menjenguknya.

“Hyung, gomawo!”

“untuk?”

“Karena kau mau jadi temanku.”

“Ey, kau seperti orang dewasa kalau bicara serius begini. Aku juga berterimakasih karena kau mau menjadi temanku!” Yonghwa mengelus-elus kepala plontos Kyujong. “Ayo main lagi!”

Mereka berdua kembali menekuni lego mereka masing-masing hingga tiba-tiba Kyujong merasa lemas, tangan kurusnya bertumpu di paha Yonghwa untuk menjaga keseimbangannya.

“Kyu, gwencha- ASTAGA!”

Yonghwa merengkuh pipi tirus Kyujong dan melihat darah segar yang tak berhenti keluar dari hidung Kyujong. Dengan cepat Yonghwa menekan tombol di samping tempat tidur berkali-kali. Yonghwa panik sekali begitu melihat Kyujong mengerang kesakitan. Tangan kurus Kyujong memukul-mukul kepalanya sendiri, berusaha menghilangkan rasa perih yang amat sangat walaupun tetap saja tidak berhasil.

Pemandangan baru bagi Yonghwa. Ini pertama kalinya Yonghwa melihat Kyujong sesakit ini. Dia hanya berharap Tuhan menyelamatkan bocah kecil itu dari penyakit kanker otak stadium akhir yang sedang menggerogotinya.

Tak lama beberapa suster datang dan bergegas mendorong tempat tidur Kyujong menuju ruang ICU. Seorang suster mencegah Yonghwa masuk ke dalam ruangan khusus tersebut. Kemudian Yonghae muncul dan bergegas masuk ke dalam ruang ICU, namun tangannya dicegah oleh Yonghwa.

“Noona, Kyujong tidak apa-apa kan?”

Yonghae hanya mengangkat bahu pasrah, lalu masuk ke dalam ruang ICU tersebut. Dengan gelisah Yonghwa menunggu. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain berjalan mondar-mandir selama hampir satu jam. Perasaan tidak enak terus melandanya.

KLEK!

Pintu ruang ICU terbuka. Beberapa suster mendorong tempat tidur dengan Kyujong yang terlelap karena bius di atasnya. Yonghwa hanya memandangi kepergian mereka, menunggu Yonghae keluar untuk mendapat kepastian.

“Noona, Kyujong tidak apa-apa, kan?”

“Dia sangat kritis, Yong! Kemungkinan dia bisa bertahan lama hanya sepuluh persen,” kata Yonghae pasrah.

Yonghwa tiba-tiba menggenggam kedua bahu kakaknya dan mengguncang-guncangnya. “Kau harus bisa menyembuhkannya, noona! Kau ini dokter kan? Dokter macam apa kau kalau tidak bisa menyembuhkannya?”

Yonghae menepis kedua tangan Yonghwa. “Aku memang seorang dokter, tapi aku tidak bisa melawan kuasa Tuhan, Yong!”

Yonghae agak terkejut melihat air mata Yonghwa. Sudah lama sekali dia tidak melihat adik kesayangannya menangis. Dengan cepat tangan Yonghae menarik tangan Yonghwa dan membenamkannya di bahunya.

“Gwenchana, kita berharap semoga keajaiban itu ada!”

Tangan bebas Yonghwa memeluk erat tubuh kakaknya yang lebih pendek darinya.

“Sudah jangan menangis kayak anak kecil begini. Kyujong saja tidak pernah menangis sepertimu. Sana kau pulang. Semalam kau tidak tidur kan? Lebih baik kau istirahat dan besok kembali lagi. Saat ini Kyujong tidak boleh dijenguk siapapun.”

Yonghwa hanya mengangguk lemas dan berjalan menuju tempat dia memarkir mobilnya siang tadi. Yonghaepun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

 

 

 

Selesai bernyanyi, Shinjong tidak langsung melayani tamunya. Dia berjalan gontai menuju ruang belakang tempat ‘karyawan-karyawan’ melepas penat. Sedari tadi perasaannya tidak enak. dia takut terjadi apa-apa pada Kyujong.

DRRRRRRT!

Ponsel yang sedari tadi Shinjong genggam bergetar. Dia segera mengangkat telepon tanpa melihat si penelepon.

“Yobosseyo?”

“Yobosseyo! Lee Shinjong?”

“Ne! Nuguseyo?”

Ini aku, dokter Jung!”

Buru-buru dia memandang layar ponselnya dan baru sadar kalau sang dokter yang menangani adiknya yang menghubunginya.

“Dokter Jung? Ada apa menelpon malam-malam begini?”

Aku hanya ingin memberitahu keadaan Kyujong saat ini. Dia kritis!”

 

 

 

Shinjong tidak peduli tatapan nanar padanya dari orang-orang yang dia lewati di lorong rumah sakit. Baginya Kyujong lebih penting dari pada baju ketat yang lupa dia ganti.

Pikirannya kosong sejak keluar dari ruangan Yonghae. Rasanya dia ingin membenci Tuhan yang menurutnya berlaku tidak adil padanya. Namun Shinjong hanya bisa menangis dan menyadari kalau setiap orang pasti akan kembali kepada-Nya.

Shinjong melihat Kyujong dari luar. Dia ingat Yonghae melarangnya masuk, maka dari itu Shinjong hanya melihat adik tercintanya melalui kaca pintu.

“Kau harus bisa bertahan, Lee Kyujong! Sebentar lagi, hanya sebentar lagi!”

 

 

 

Shinjong keluar dari ruang rektor dengan mata berkaca-kaca. Dan tiba-tiba emosinya meluap. Dia berjalan menuju kelas politik (?). Bukan karena mata kuliahnya kali ini adalah itu, tapi dia ingin membuat perhitungan dengan seseorang.

BRAK!

Shinjong membuka kasar pintu kelas, spontan yang ada di dalam kaget termasuk sang dosen. Shinjong berjalan dengan tatapan tajamnya ke arah Yonghwa, tidak memerdulikan dosen yang melarangnya masuk.

Shinjong menarik kerah kaus Yonghwa dan menonjok keras pipi Yonghwa hingga setetes darah mengalir di ujung bibir Yonghwa.

“Ya! Apa-apaan kau yeoja gila?” seru Yonghwa tak kalah emosinya.

“Kau yang mengadukan soal pekerjaanku pada rektor, iya kan?”

“Ani, bukan aku! Oh jadi rektor sudah tahu. Kau dihukum apa memangnya hingga kau bisa sebuas ini?” tanya Yonghwa remeh.

“AKU DIKELUARKAN, BRENGSEK!”

Yonghwa terkejut mendengarnya, lebih terkejut lagi melihat air mata yang berurai di pipi Shinjong.

“Apa salahku padamu, hah? Kau tidak tahu kan perjuanganku mendapatkan beasiswa penuh di sini? Kau orang kaya memangnya tahu apa?”

Shinjong mendorong tubuh Yonghwa hingga namja itu terjatuh, kemudian berlalu dari kelas. Yonghwa hanya diam mematung, memandang kosong yang ada di hadapannya.

“Dikeluarkan?” gumam Yonghwa.

Jinki membantu Yonghwa berdiri. “Aku rasa idemu kemarin memang keterlaluan, kawan!” seru Jinki seraya menepuk bahu sahabatnya itu.

Rasa bersalah tiba-tiba muncul. Tidak seharusnya Yonghwa berlaku jahat pada orang yang tidak memiliki masalah dengannya.

 

 

 

Dengan cepat Shinjong berusaha mengganti suasana hatinya. Dikamarnya, dia menghitung uang-uang yang berhasil dia kumpulkan dari pekerjaan malamnya selama hampir satu setengah tahun ini.

“Uangnya sudah terkumpul semua. Aku akan membawamu berobat ke Jepang, Kyujong. Dan setiap hari aku akan melihatmu tersenyum.”

Shinjong memasukkan uang-uang tersebut kembali ke dalam brankas di lemarinya. Kemudian bersiap-siap ke rumah sakit. Namun sebelumnya dia akan mampir ke klub untuk mengucapkan salam perpisahannya pada orang-orang di sana, lalu ke rumah sakit untuk memberitahukan berita gembira ini pada Kyujong.

Shinjong berhenti bekerja di klub malam tempat dia mencari uang selama ini. Dia bahagia akhirnya targetnya tercapai dan bisa keluar dari tempat yang bagi Shinjong adalah neraka.

 

 

 

Yonghwa berjalan dengan agak lemas menuju kamar Kyujong. Wajah Shinjong yang sedang menangis tadi tidak bisa enyah dari pikirannya. Rasa bersalah terus menghantuinya.

Begitu tepat di depan kamar Kyujong, dia terkejut mendapati beberapa suster yang keluar dengan mata sembab. Karena penasaran, Yonghwapun masuk ke dalam. Dia mendapati Yonghae menangis menatap Kyujong yang masih menutup matanya.

“Noona, apa yang terjadi?”

Tiba-tiba Yonghae sedikit berlari menghampiri Yonghwa dan memeluknya.

“Kyujong sudah pergi, Yong!”

Sebuah kalimat yang cukup menusuk hati Yonghwa, juga Shinjong yang berdiri di ambang pintu. Parsel buah yang dibawa Shinjong jatuh, suaranya mampu membuat Yonghwa dan Yonghae menoleh ke arahnya.

“Kau tidak bercanda kan dokter?” tanya Shinjong dengan senyum paksanya.

“Shinjong?” Yonghwa agak terkejut melihat Shinjong. Yonghae hanya menatap Yonghwa dan Shinjong secara bergantian. “Kalian saling kenal?” tanya Yonghae, tapi tidak ada yang menjawab dari mereka berdua.

“Kyujong baik-baik saja kan, dokter Jung?” kali ini suara Shinjong mulai bergetar. Yonghae menghampiri Shinjong dan memeluknya erat. “Dia sudah tenang di alam lain, Shinjong-ssi!”

Shinjong mendorong tubuh Yonghae dan berjalan menuju tempat tidur Kyujong, melewati Yonghwa begitu saja.

Dia menatap wajah pucat Kyujong. Dia tidak bisa menyangkal kalau Kyujong benar-benar telah tiada. Tapi dia tetap tidak bisa terima.

“Ya, pabo! Bangun! Noona sudah berhasil mengumpulkan uang untuk kau berobat ke Jepang. Ireona!”

Tangan Yonghae menepuk kedua bahu Shinjong, namun Shinjong menepisnya dan kali ini dia menggoyang-goyangkan tubuh kaku Kyujong.

“IREONA! Kenapa kau tinggalkan noona sendirian, hah? Katanya kau menyayangiku? Napeun namja! Jebal! Jangan tinggalkan aku sendiri, Lee Kyujong! Kau sama teganya dengan appa dan umma! Jebal…”

Tubuh Shinjong terasa melemas. Dia akan ambruk kalau saja Yonghwa tidak segera membalikkan tubuh wanita itu dan memeluknya. Shinjong meronta-ronta, memukul-mukul dada Yonghwa, namun Yonghwa tetap memeluknya dan akhirnya Shinjongpun diam di pelukannya, menangis dengan kencang.

“Mianhae, Shinjong! Jeongmal mianhae!”

 

 

 

Orang-orang satu persatu meninggalkan pemakaman Kyujong, menyisakan Yonghwa, Yonghae beserta Shinjong yang diam membisu.

“Shinjong-ssi, sebaiknya kita pulang!” seru Yonghae.

“Aku masih mau di sini!” sahut Shinjong datar.

Tangan Yonghwa ingin meraih bahu Shinjong, tapi buru-buru dicegah Yonghae. “Kita pulang, Yong!”

“Tapi…”

“Biarkan dia sendiri.”

Yonghwa menatap punggung Shinjong lalu mengangguk. Mereka berduapun berjalan ke arah mobil Yonghwa dan masuk ke dalamnya.

“Tidak apa-apa meninggalkannya sendirian?”

“Biarkan dia sendiri, Yong!”

Yonghwa kembali menatap Shinjong dari balik kaca sebelum dia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya menuju rumah mereka.

“Aku sangat kagum pada gadis itu,” kata Yonghae memecah keheningan.

“Ne?”

“Lee Shinjong! Dia sangat kuat! pasti sakit rasanya ditinggal orang-orang yang dia sayangi.”

“Maksud noona?”

“Orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan beruntun enam tahun yang lalu. Syukurlah warisan orang tuanya masih bisa membiayai hidup mereka hingga sekarang, tapi tetap saja masih jauh dari jumlah biaya untuk pengobatan Kyujong ke Jepang. makanya dia bekerja keras selama ini untuk mendapatkan uang. Tapi sayang, Kyujong telah pergi terlebih dahulu.”

Yonghwa tetap fokus pada jalanan walaupun tetap saja bayangan Shinjong yang muncul dipikirannya.

“Seharusnya aku menuruti kata-katamu, noona.”

“Ne?”

Don’t judge a book by the cover!”

 

 

 

8 years later

 

Miss Lee?”

“Yes, sir?”

“I wanna meet someone from Gloov Corp. at cafe now –ah you know where it is-, but i’ve to go to Steve’s school. He made some trouble again. This meeting is too important. The corp. is planned joining with us.”

“Oh, okay! I know what you want. I’ll take it!”

“Thank you so much!”

Mr. John berjalan meninggalkan Shinjong dengan tas laptop beserta jas yang disampirkan di bahunya. Shinjongpun bergegas membereskan map-map untuk keperluan pertemuannya dengan pemilik sekaligus direktur Gloov Corp. dari Seoul. Dia agak senang setelah delapan tahun ini akhirnya dia akan bertemu dengan orang yang satu negara dengannya.

 

 

 

Kafe tempat bosnya membuat janji merupakan kafe favorit Shinjong. Saat pertama kali Shinjong menginjakkan kakinya di kafe tersebut delapan tahun yang lalu, dia merasakan suasana yang sangat hangat dan entah kenapa mengingatkannya akan sosok adiknya yang telah tiada.

Karena itulah Shinjong datang setengah jam sebelum dia bertemu dengan klien bosnya dan tak lupa memesan segelas besar Cappuccino Float sembari menikmati suasana kafe yang didominasi oleh kayu-kayuan. Dan untunglah sang bos memilih tempat duduk di tepi kaca besar sehingga dia bisa melihat betapa megahnya menara Big Ben yang menjulang tinggi.

Shinjong baru tersadar kalau dia belum mengetahui nama sang pemilik perusahaan besar tersebut. Sang bos belum memberitahu masalah tentang mager tersebut. Dan lagi Shinjong belum mengetahui seluk beluk mengenai perusahaan yang bernaung di Seoul tersebut. Namun saat Shinjong baru saja membuka map, seseorang menepuk bahu Shinjong dari belakang. Shinjongpun menoleh.

Are you Ms. Lee?” tanya seorang pria Korea yang Shinjong yakini adalah direktur Gloov Corp. Bukannya rasa hormat yang Shinjong tunjukkan, dia malah terbengong memandangi wajah pria tersebut, begitupula sebaliknya.

“Shinjong?”

“Yonghwa?”

Bayang-bayang masa lalu berkelebat di pikiran mereka masing-masing. Dinginnya sang kutubuku Shinyong, pekerjaan kotor Shinjong, saat Yonghwa mengatai Shinjong seorang pelacur, saat Shinjong menampar kedua pipi Yonghwa, dan saat pemakaman Kyujong. Semua muncul bagaikan slide show.

Hingga sang pelayan mengantar minuman pesanan Yonghwa, mereka berdua belum angkat bicara. Ada rasa canggung dan sedikit rasa rindu di antara mereka.

 

Flashback

“Noona, aku minta alamat Shinjong!”

Tanpa permisi Yonghwa masuk ke ruangan kakaknya.

“Alamat Shijong? Tapi untuk ap…”

“Cepat berikan noona!”

Yonghae hanya menggeleng. “kenapa kau menanyakannya?”

“Aku ingin bertemu dengannya. Aku harus minta maaf pada Shinjong!”

Yonghae tersadar sesuatu. “Apa Shinjong itu…”

Yonghwa langsung mengangguk, seakan paham apa yang kakaknya maksud. “Ye, noona! Dia orangnya, Lee Shinjong!”

“Kalau begitu sebaiknya kau ke bandara Incheon. Satu jam lagi pesawatnya akan take off.”

Take off?  Maksudmu?”

“Dia akan melanjutkan kuliah di London. Ini karena ulah kau juga, pabo! Cepat minta maaf padanya. Dan kalau kau benar-benar menyukainya, katakan padanya tentang perasaanmu selama ini.”

 

 

 

“SHINJONG!”

Suara lantang Yonghwa mampu membuat seorang gadis menengok ke arahnya. Yonghwa bersyukur dia belum terlambat.

Yonghwa agak terperangah melihat tampilan Shinjong yang berbeda kali ini. Tidak masuk kategori fashion terorist, tidak pula terlalu memancing mata. Shinjong berpenampilan ala kadarnya seperti kebanyakan para gadis-gadis lainnya. Tanpa kacamata besarnya membuat kecantikan alami Shinjong terpancar.

Yonghwapun berlari menghampiri Shinjong dan langsung memeluk tubuh gadis itu.

“Mianhae, jeongmal mianhae!”

Shinjong mendorong tubuh Yonghwa dan menatap mata laki-laki itu.

“Aku sudah lama memaafkanmu, Yonghwa-ssi!”

“Kalau begitu jangan pergi!”

Perlahan Yonghwa kembali memeluk Shinjong dan kali ini Shinjong membalasnya.

“Ah, pesawatku akan segera lepas landas. Mianhae, Yong, bisa kau lepas pelukanmu?”

Dengan canggung Yonghwa sedikit melangkah mundur. Shinjong hanya tersenyum menatap Yonghwa lalu berbalik. Namun buru-buru Yonghwa menenggenggam tangan Shinjong, membuat gadis itu berbalik dan kembali menatap Yonghwa.

“Saranghae!”

Tidak ada yang bisa Shinjong katakan kecuali tersenyum. Kata-kata Yonghwa barusan membuat perasaan Shinjong berbunga-bunga. Tapi entah kenapa Shinjong berbalik dan barjalan memunggungi Yonghwa yang masih terpaku menunggu respon. Kali ini Yonghwa tidak akan tinggal diam. Dia kembali berusaha mencegah kepergian Shinjong dengan memeluknya dari belakang.

“Kau masih marah padaku?” bisik Yonghwa di telinga Shinjong. Shinjong hanya menggeleng-geleng kepalanya.

“Ani, Yong! Aku pergi hanya untuk menenangkan pikiranku.”

“Kalau begitu jangan pergi. Aku tidak akan membiarkan orang yang selama ini kusukai pergi dariku.”

Shinjong berbalik dan menatap Yonghwa penuh tanda tanya.

“Aku… aku menyukaimu sejak awal masuk kuliah. Kau yang pendiam, kau si kutu buku, kau si fashion terorist, kau si tukang tidur di perpustakaan. Aku menyukaimu yang seperti itu.”

Shinjong hanya menatap Yonghwa dengan tatapan tidak percayanya. “Ku kira kau paling benci tempat yang penuh dengan buku, Yong?”

“Aku memang tidak suka. Aku ke perpus hanya… hanya.. untuk melihatmu. Karena di sana aku merasa leluasa memandangimu.”

Yonghwa mengeratkan genggamannya.

“Mianhae atas perbuatanku selama ini. Aku benar-benar tidak tahu kau begitu demi adikmu, demi Kyujong yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.”

Shinjong kembali tersenyum pada Yonghwa.

“Gwenchana! Terima kasih karena kau mau menemani adikku selama ini, mr. Y!”

Setelahnya mereka hanya saling tatap dan tanpa sadar wajah Yonghwa mendekat ke wajah Shinjong. Shinjong yang mulai menyadarinya buru-buru menjauh.

“Mian, Yong! Aku harus segera naik ke pesawat.”

“Tapi kita pasti bertemu lagi, kan?”

“Kalau Tuhan mengizinkan.”

Flashback

 

“Apa delapan tahun masih belum cukup untuk menenangkan dirimu, Lee Shinjong?” tanya Yonghwa sebelum menyeruput Hot Black Coffee yang dia pesan.

“Aku terlalu betah di sini, Yong, ah Tuan Jung,” jawab Shinjong sekenanya.

“Yonghwa saja.”

“Maaf tuan, aku tidak bisa!”

Awalnya Shinjong hanya ingin pergi sebentar, tapi mendengar pengakuan cinta dari Yonghwa beberapa tahun yang lalu membuatnya enggan kembali ke Korea. Dia sengaja pergi jauh dari Yonghwa walaupun dia tahu kalau Yonghwa juga menyukainya. Tapi menurutnya dirinya tidak pantas bersanding dengan Yonghwa karena merasa dirinya kotor.

Setelahnya mereka hanya terdiam, saling mengagumi penampilan masing-masing. Yonghwa dengan setelan kemeja putih dengan dasi hitam dan jas hitam, membuatnya seperti sang direktur yang berwibawa ditambah kaca mata bening tak berbingkai. Shinjong hanya mengenakan kemeja biru tua berenda sederhana, dipadu dengan blazer putih, rok selutut dengan warna senada dengan warna blazernya dan tak lupa sepatu hak tinggi biru tua serta rambut kecoklatannya yang sengaja digerai bebas, namun kesannya sebagai sekretaris yang cerdas tak bisa lepas darinya.

“Sebaiknya kita bicarakan masalah mager yang Anda rencanakan, Tuan Jung!” Shinjong berusaha mengalihkan perhatian pada map-map yang dibawanya. Dia takut akan kembali menyukai orang yang sebenarnya hampir bisa dia lupakan.

“Baiklah, berikan surat-surat perjanjiannya!”

Shinjong dengan sedikit salah tingkah –karena Yonghwa terus memandanginya- membalik-balikkan map dan mencari map berisi kertas-kertas perjanjian. Setelah ketemu, dia memberikannya pada Yonghwa. Tanpa membacanya, Yonghwa langsung membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.

“YA! Kau… maksudku Anda tidak membacanya terlebih dahulu?”

“Tidak perlu! Aku percaya!”

“Percaya? Please, Yong! Jangan campurkan urusan pekerjaan dengan perasaanmu.”

Yonghwa menaikkan sebelah alisnya dan menyeringai. “Perasaan? Jadi kau masih ingat bagaimana perasaanku padamu?”

JLEB! Bagaikan panah yang langsung menancap dihatinya. Shinjong buru-buru memalingkan wajahnya, takut Yonghwa bisa melihat wajahnya yang mulai memerah.

“Eyy, wajahmu memerah, Shinjong-ah!”

Terlambat.

“Jadi, bagaimana perasaanmu padaku?”

Di dalam hati Shinjong, dia ingin sekali berteriak kalau dia juga menyukainya. Tapi lidahnya kelu dan malah mengalihkan pembicaraan

“Tuan Jung, karena kau sudah menyetujui perjanjiannya maka aku pamit undur diri. Mianhamnida, pekerjaanku masih banyak di kantor. Mr. John akan segera menghubungi Anda.”

Shinjong bangkit dengan map-mapnya, membungkukkan diri pada Yonghwa dan berlalu menuju mobil yang ia parkir tepat di depan kafe. Dari dalam mobil, Shinjong berusaha mengalihkan pandangannya ke dalam kafe yang bisa terlihat dari luar, takut matanya bertemu dengan mata Yonghwa yang memang sedari tadi mengamatinya.

Shinjong menyetir mobilnya dengan kecepatan standar.

Perasaannya kembali berbunga-bunga, perasaan yang dia pendam selama ini. Sulit untuk tidak tersenyum saat ini.

Setelah setengah jam perjalanan, dia sampai di rumah mungil yang dia beli dari hasil keringatnya selama di Seoul dulu, uang yang rencananya akan dia gunakan untuk berobat Kyujong ke Jepang. Shinjongpun turun dan terkejut mendapati seorang pria telah berdiri di samping pintu mobilnya.

“Yo…Yong?”

Yonghwa melihat-lihat rumah Shinjong dari luar dan mengangguk-anggukan kepalanya. “Kantornya sederhana, terlalu kecil untuk disebut kantor.”

“Kau mengikutiku, Yonghwa?”

“Hahaha kau tidak menyadarinya? Aku bahkan bisa melihatmu yang tidak berhenti tersenyum dari spion mobilmu.”

Tangan Yonghwa tiba-tiba mengurung tubuh Shinjong, mau tidak mau Shinjong merapat ke pintu mobil.

“Kau menyukaiku?” tanya Yonghwa. Shinjong bisa melihat mata Yonghwa secara dekat. Jantung Shinjong berdebar-debar dengan cepat, tak kalah cepat dengan jantung Yonghwa.

Tanpa basa-basi Yonghwa mencium bibir Shinjong, membuat mata wanita itu terbelalak tapi kemudian menutup. Tapi matanya kembali terbuka dan mendorong Yonghwa menjauh.

“YA! You’ve stolen my first kiss! Aku hanya akan memberikannya untuk suamiku kelak, pabo!”

First…kiss?”

“Aku memang gadis malam, tapi bukan berarti aku seenaknya memberikan ciuman dan keperawananku pada orang sembarangan!”

Mata Yonghwa terbelalak. “Kau… masih… perawan?”

Shinjong mendekat ke arah Yonghwa dan menoyor kepala Yonghwa. “Pulang sana!” Shinjong berjalan memasuki rumahnya. Dibalik pintu dia bisa mendengar teriakan Yonghwa.

Let me be your husband, Lee Shinjong! As you know, that’s also my firts kiss.”

Tidak ada yang bisa Shinjong lakukan selain tersenyum. Rasanya bahagia sekali hingga dia merasa agak kecewa saat mendengar deru mobil Yonghwa yang mulai menghilang.

Shinjong berjalan menuju kamarnya dan membanting dirinya di tempat tidur empuknya, menatap langit-langit kamarnya.

“Jung Yonghwa!” gumam Shinjong yang masih sulit untuk tidak tersenyum.

DRRRRRRRRRRRT!

Suara getar ponsel Shinjong membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan masuk dari nomor tak di kenal.

 

Saranghae yeongwonhi, Lee Shinjong

 

Shinjong yakin sekali kalau itu pesan dari Yonghwa.

 

Bagaimana kau tahu nomorku?

 

Shinjong sendiri agak heran, dari mana Yonghwa tahu nomornya. Padahal mereka baru bertemu siang tadi.

 

Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh direktur tampan sepertiku. Besok hari Sabtu, aku akan menjemputmu jam 3 sore. Ada film bagus, kita berdua harus menontonnya. Kau harus menuruti perintah atasanmu, arachi?

 

Setelahnya Shinjong tidak membalas.

“Hah? Atasan? Apa-apaan dia?” Shinjong mendengus kesal, tapi kemudian tersenyum lebar. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan dengan riang menuju lemari pakaiannya. Diapun membuka lemari pakaian tersebut dan mencoba mencocokkan bajunya satu persatu di depan kaca besarnya.

“Ani! ini tidak cocok untuk pergi ke bioskop!”

 

-END-

10 thoughts on “White In Black

  1. waaaahh.. berat banget ceritanya..
    tp feelnya dapet banget..
    aku jadi ngebayangin muka kyujong ss501 yg jadi adenya shinjong.. habis namanya sama..
    kerennnn🙂
    harusnya lanjut mpe nikah donk😀

  2. Daebak…………………………..aku suka cerita y..perasaan ku campur aduk pas baca…..bikin skuel y ja ya…ya…ya…. * kedip2 mata ma author……*

  3. hha! aku nangis baca ini.. huhu.. KEREN ABIS!!! FEEL-NYA DAPET ^^ gak bisa berenti senyum juga baca part stlh 8 years later. beukbeukbeuk… hatiku gembiraaa~ hehe.. keren author/eonni! keep up the good work ^^ keke~

  4. oh gitu……
    baru baca di blog laen tapi jd twoshot, ternyata endingnya begini…..
    nice eonni, jarang bisa baca yang idenya tentang cerita di balik kehidupan malam…..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s