The Story of Street Musicians (Chapter 2)

Author: Lee Dae Hyun (@amaryaririe)

Rating: Teenager

Genre: Friendship, Family, Romance

Length: *chaptered

Cast:

Lee Jong Hyun (CNBLUE)

Kang Min Hyuk (CNBLUE)

Im Jin Ah/Nana (After School)

Im Min Jung (fiktif)

Note: Chapter 1

Selamat membaca aja dan jangan lupa komen😀

“Hyung, ottokhae??!” rengek Minhyuk.

“Mwolla. Kau pikir kita punya uang untuk segera membayar uang sewa itu? Kau pikir kita bisa lakukan apa sekarang?”

“Tapi orang itu membawa yeoja itu, Hyung. Kita tidak bisa diam saja.”

Jonghyun malah masuk ke rumah dan tidak berkata apa-apa.

 

** **

Jonghyun berusaha tidur tetapi tetap saja tidak bisa. Bayangan orang yang adalah anak dari nyonya pemilik rumah kontrakan kecil itu saat membawa yeoja yang entah siapa, terus muncul di pikirannya. Dalam hatinya, Jonghyun berharap yeoja itu tidak muncul saat kejadian itu. Ia pun bingung harus berbuat apa. Toh, ia belum punya cukup uang untuk membayar uang sewa bulan itu.

Namun, Jonghyun merasa tidak tega kalau harus membiarkan yeoja itu ada di tangan orang tersebut. Jangan-jangan sesuatu terjadi padanya.

 

** **

“Minhyuk, mandimu lama sekali sih?” kata Jonghyun kesal.

“Hyung, lama apaan? 5 menit saja tidak sampai. Huh, bagaimana bisa lama kalau setiap 5 detik sekali rasanya kau terus mengetuk pintu kamar mandi dan menyuruhku untuk cepat? Ada apa sih, Hyung? Menyuruhku bangun pagi dan cepat siap-siap?”

“Ya! Kau ini banyak tanya. Sudahlah, kajja. Kita harus meminta orang itu melepaskan yeoja yang kemarin.”

“Wah, kau sudah dapat uang, Hyung?” teriak Minhyuk senang.

“Paboya! Kau pikir aku dapat uang darimana? Sejak tadi malam saja aku bersamamu di sini,” Jonghyun mulai kesal lagi.

“Ya, kali aja, Hyung. Demi yeoja cantik itu kau rela untuk melakukan hal gila seperti hmm, menjadi “babi ngepet” gitu,” kata Minhyuk mengejeknya.

“Kau pikir aku gila? Heh? Yeoja itu saja aku tidak pernah kenal. Dan, memangnya aku orang macam apa yang mau melakukan itu?” bentak Jonghyun lalu menjitak Minhyuk.

“Ah, Hyung. Sakiiiiiitt. Ampun, Hyung,” jerit Minhyuk kesakitan.

“Sudah, ayo pergi!” perintah Jonghyun.

Di tengah perjalanan menuju rumah dari anak pemilik kontrakan yang mereka sewa, Minhyuk berhenti saat menemukan seorang anak perempuan yang duduk di tepi jalan.

“Kau? Sedang apa di sini?” tanya Minhyuk yang mengenali sosok anak perempuan itu.

“Siapa dia?” tanya Jonghyun pada Minhyuk.

“Kau tidak ingat, Hyung? Dia adik dari yeoja itu.”

“Oh. Kau sedang mencari kakakmu ya?” tanya Jonghyun.

“Iya. Dia belum pulang sejak semalam.”

“Kalau begitu ikut kami,” kata Jonghyun.

Mulanya Minjung ragu, tapi kemudian ia sadar kalau mereka berdua bukan orang yang jahat ataupun mau menyakitinya. Ia pun bersedia mengikuti kakak-beradik itu. Dalam perjalanan, Minhyuk mencoba menjelaskan pada Minjung apa yang telah terjadi pada kakaknya. Minjung terkejut saat mendengarnya, namun Jonghyun mengatakan padanya bahwa kakaknya akan baik-baik saja.

Tak lama kemudian sampailah mereka di rumah yang dituju. Jonghyun langsung mengetuk pintu rumah tersebut.

“Wah, kalian datang ternyata. Bagaimana? Sudah kaubawa uang sewanya?” tanya si pemilik rumah itu.

“Hmm, begini Hyung, kami belum punya uang untuk membayar sewa. Tapi, aku mohon lepaskan yeoja itu,” kata Jonghyun memohon lalu melirik ke arah Nana yang berdiri di belakang orang itu.

“Sudah kubilang kan, selama kau belum bisa membayar uang sewa kontrakan, yeoja ini adalah jaminannya,” kata orang itu tidak peduli.

“Jebal. Aku mohon, jangan libatkan dia. Dia bukan siapa-siapaku,” kata Jonghyun. Entah apa yang ada di pikiran Jonghyun, tiba-tiba dia berlutut begitu saja di depan orang tersebut.

Nana terkejut. Namja yang ia pikir merupakan seseorang yang keras dan sedikit arogan ternyata saat ini sedang berlutut memohon kepada orang yang “menyaderanya”.

“Tuan, bebaskan onnie-ku,” tiba-tiba Minjung muncul dari tempat persembunyiannya, yaitu di balik tubuh Minhyuk.

“Minjung, kau di sini?” seru Nana. Nana terkejut karena melihat dongsaengnya ada di sana, namun kemudian ia terdiam lagi dan melirik ke arah orang itu dan Jonghyun secara bergantian.

“Chogiyo,” ucap Nana. Semua mata pun tertuju padanya.

“Tuan, boleh aku berbicara sebentar pada dongsaengku? Aku janji, tidak akan kabur atau melakukan hal buruk lainnya,” lanjut Nana. Lalu ia memberi isyarat pada Minjung untuk menghampirinya. Ia membisikkan sesuatu pada Minjung dan dongsaengnya tampak mengerti apa yang dikatakan onnie-nya.

“Tuan, aku tidak tau apakah ini cukup atau tidak. Tapi ini untuk membayar uang sewa kontrakan mereka,” kata Nana seraya menyerahkan sebuah amplop berisi uang kepada orang tersebut. Orang itu menerima amplop dan kemudian menghitung jumlah uang yang ada di dalamnya.

“Hmm, cukup,” jawab orang itu.

“Kalau begitu Tuan, kami permisi dulu,” kata Nana. Orang tersebut lalu masuk ke rumahnya lagi.

“Gomawo,” kata Minhyuk pada Nana.

“Ya! Berapa lama kau akan terus berlutut?” seru Nana pada Jonghyun yang masih saja belum berubah posisi sejak tadi.

“Kau tidak perlu melakukannya,” kata Jonghyun datar.

“Eh?”

“Kau tidak perlu membayar uang sewa kontrakan kami.”

“Hyung!” tegur Minhyuk.

“Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas, ini hanya satu-satunya jalan keluar. Lagipula, aku melakukan ini bukan semata-mata hanya ingin menolongmu, tapi juga membebaskanku dari orang itu. Kajja,” kata Nana sambil berlalu.

Sebelum Nana melangkah, Jonghyun dengan sigap menyambar lengan Nana namun masih dengan posisi berlutut seperti tadi.

“Gomawo,” kata Jonghyun tanpa menoleh ke arah Nana.

“Ye?” Nana tidak percaya akan apa yang ia dengar.

“Gomawo,” kata Jonghyun lagi dengan lantang dan memandang ke arah Nana yang juga menoleh ke arah Jonghyun.

“Cheonman. Kajja, kau tidak akan lebih lama lagi berlutut seperti itu kan?” kata Nana sambil tertawa kecil.

Jonghyun melepaskan lengan Nana lalu berdiri. Tapi karena kakinya pegal dan sedikit keram setelah agak lama berlutut, ia kehilangan keseimbangannya dan hampir jatuh.

“Gwaenchana?” tanya Nana yang langsung menahan tubuh Jonghyun agar tidak jatuh.

“Ne~ gwaenchana,” kata Jonghyun sedikit malu.

“Kau hampir saja jatuh. Kau terlalu lama berlutut sih, jadi kakimu pegal dan susah digerakkan. Sekarang sudah bisa jalan kan?”

“Iya.”

“Huah, syukurlah. Aku tidak mau menggendong Hyung kalo dia tidak bisa jalan,” kata Minhyuk.

Jonghyun hanya mendengus kesal mendengar apa yang dikatakan Minhyuk,

“Aigoo, luka bekas pukulan orang itu belum kau obati. Kau ini. Apa tidak punya waktu untuk mengobatinya?” kata Nana saat ia melihat beberapa luka yang ada di pipi dan bibir Jonghyun serta lengannya.

“Semalam aku terlalu memikirkan….” Jonghyun tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Lidahnya tercekat setelah mengingat bahwa semalam yeoja yang “disandera” oleh anak pemilih rumah kontrakannya itu terus menghantui pikirannya. Kekhawatirannya pada yeoja itu sepertinya lebih besar daripada kekhawatirannya bila tidak bisa membayar uang sewa bulan itu.

Nana memandang Jonghyun seolah menunggu lanjutan kata-kata yang diucapkan Jonghyun.

“Ehm, semalam aku terlalu memikirkan konsekuensi jika aku tidak bisa membayar uang sewa.”

“Oh, begitu. Ya sudah, kau ikut ke kontrakanku saja. Akan kuobati kau di sana,” jawab Nana.

Sesampainya di rumah sewaan Nana dan Minjung, Nana langsung mengambil kotak obat dan mengobati Jonghyun.

“Kau, duduklah di sini.”

“Ehm, boleh kutanya sesuatu?”

“Ada apa?”

“Kau, orang itu tidak berbuat apa-apa padamu kan? Dia tidak macam-macam kan?”

“Tidak, dia tidak melakukan hal buruk padaku. Dia tidak melakukan apapun, tapi dia memberiku makan kok. Entahlah dia orang baik-baik atau tidak, yang jelas dia tidak macam-macam. Dia bahkan menghiraukanku.”

“Syukurlah.”

Suasana menjadi hening sesaat.

“Aww, sakit,” Jonghyun meringis kesakitan.

“Mianhae. Baiklah aku akan lebih pelan.”

“Gomawo…. Namamu?”

“Im Jin Ah. Im Jin Ah imnida. Panggil saja aku Nana. Dan adikku, namanya Im Min Jung.”

“Nana. Lee Jong Hyun imnida, Adikku, dia Kang Min Hyuk. Kami satu ibu tapi beda ayah. Dengan kata lain kami adalah half-brothers. Namun kami kehilangan orangtua di usiaku yang ke 15. Untunglah meski mereka tidak meninggalkan warisan apapun untuk kami setidaknya mereka punya tabungan pendidikan yang bisa menyekolahkan kami hingga tamat SMA. Setelah itu ya, kami bekerja seperti ini. Tidak berniat mencari pekerjaan lain karena kami hanya mencintai musik,” cerita Jonghyun.

“Aku turut prihatin. Kalian pasti dekat ya?”

“Yah, mau bagaimana lagi? Dia satu-satunya saudaraku. Mau tidak mau, suka tidak suka ya tetap harus dekat. Tapi terkadang..dia agak menyusahkan.”

Nana tertawa.

“Lalu kau sendiri, kenapa bisa jadi seperti ini?” tanya Jonghyun ingin tahu.

“Aku? Itu karena…”

“Onnie!!! Dia datang lagi,” jerit Minjung lalu berlari ke dalam diikuti Minhyuk. Minjung langsung berlari menutup pintu.

“Hey, adik manis! Kenapa pintunya ditutup? Aku kan mau masuk,” terdengar suara dari luar.

Nana beranjak dari kursinya lalu menuju ke pintu. Ia membukanya dan…

“Kau?”

 

-TBC-

 

11 thoughts on “The Story of Street Musicians (Chapter 2)

  1. akhirnya bebas~ tapi aku bingung ri, nana punya uang dr mana? apa tabungan? apa akunya yg pikun sama chapter 1??????
    yg ngejar2 nana+adiknya dateng lagi ya? mereka itu siapa???? #BAWEL

    intinya penasaran sama lanjutannya~~~~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s