[AuthorLepas] No One Get The Ideal [chapter 3]

Author : nayom (@nayom)

Rating : G

Length : Chaptered

Genre : Romance, Friendship

Cast :

–          Kang Minhyuk

–          Jung Yonghwa

–          Lee Jonghyun

–          Lee Jungshin

–          Seohyun SNSD

–          Yuri SNSD

Other Cast :

–          Yoona SNSD

–          Taecyeon 2PM

Disclaimer : Ide dan alur cerita milik saya. Mohon maaf kalau ada kesamaan alur dengan cerita lain.

Note : chapter ini chapter penutup untuk semester genap nya para tokoh. ceritanya akan lebih menarik lagi di semester baru nanti alias di chapter berikutnya. enjoy~ ^^

*********

Sejak insiden lagu Bruno Mars, Seohyun tidak pernah masuk kelas bahasa inggris hari kamis lagi. Para murid kelas bahasa inggris itu sering menggoda Yonghwa mengenai insiden tersebut, terutama mengenai absennya Seohyun berkali-kali sejak insiden tersebut, namun mereka hanya menggoda dalam batas normal mengingat Yonghwa adalah senior mereka. Lain halnya dengan Profesor Song. Dalam setiap kesempatan, ia terus menggoda Yonghwa.

“Kemana istrimu Yonghwa? Kenapa dia absen hari ini?”

“Sepertinya kalian sedang bertengkar ya? Seohyun tidak hadir lagi hari ini.”

Yonghwa hanya tersenyum dan kadang menjawab Profesor Song dengan ramah. Ia tidak merasa terganggu dengan candaan orang-orang di sekitarnya, Seohyun yang merasa terganggu. Yonghwa yakin hal itu karena Seohyun tidak pernah lagi menampakkan batang hidung di kelas bahasa inggris mereka, tidak juga di hadapan Yonghwa sekali pun.

“Seo Joo Hyun-ssi, maaf mengganggu.” kata Yonghwa pada Seohyun di hadapannya yang sedang membaca buku dengan khidmat di perpustakaan.

“De?” Seohyun menoleh dan tersenyum ramah. Sebuah lagu mulai mendengung di otak Yonghwa, sama seperti hari itu saat Yonghwa bernyanyi untuk Seohyun. Dengan segera Yonghwa membuyarkan lagu itu sebelum ia dimarahi oleh Ibu Pustakawan karena bernyanyi di perpustakaan.

“Boleh aku bicara sebentar?” tanya Yonghwa sambil duduk di hadapan Seohyun.

“De, Yonghwa-ssi.”

“Aku minta maaf atas insiden di kelas bahasa inggris hari itu.”

“Ah, gwenchansimikka Yonghwa-ssi.”

“Jinjja jinjja mianhamnida.”

“Jinjja jinjja gwenchansimikka.”

Yonghwa hendak tertawa kecil melihat bagaimana Seohyun meresponnya, sangat lucu dan manis. Ia hanya tersenyum.

“Kupikir hal itu sangat mengganggumu hingga kau tak lagi datang ke kelas bahasa inggris berminggu-minggu.”

“Aaah.. hal itu. Aku tidak hadir bukan karena kau, Yonghwa-ssi. Aku mengambil kelas bahasa inggris di hari senin karena aku terlalu banyak mengambil kelas di hari kamis.”

“Oh, keudaesseo?” Yonghwa cukup lega mendengarnya.

“De.”

“Aaah~ aku lega mendengarnya.”

Seohyun hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau kita pergi makan siang?”

“Jigeum?” Seohyun sedikit kaget akan tawaran Yonghwa.

“Jigeum. Bagaimana dengan ddeokbokki?”

“Boleh..”

“Kau tahu tempat ddeokbokki yang enak?”

“Shin..” jawab Seohyun ragu.

“Shin?”

“Shindang.”

“Teruskan.” kata Yonghwa penasaran. Sementara Seohyun tertawa kecil, merasa konyol akan dirinya sendiri.

“Setelah Sindang?” tanya Yonghwa.

“Dong.”

“Dong?”

Yonghwa mengulanginya, “Shindang-dong.”

***

Minhyuk terus memperhatikan kedua orang yang berada jauh di depannya. Ia berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Pasti mudah mendengarnya, pikirnya, sebab mereka berada di perpustakaan. Namun ternyata teori Minhyuk terpatahkan karena kedua orang tersebut, Yonghwa dan Seohyun, justru bersuara sangat pelan karena mereka berada di perpustakaan.

Minhyuk benar-benar memutar otak memikirkan alasan apa yang membuat Yonghwa-hyung berbincang dengan Seohyun. Apalagi beberapa kali ia melihat Seohyun tertawa, sama halnya dengan Yonghwa. Sampai akhirnya, Minhyuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Seohyun, pujaan hatinya, pergi ke luar dari perpustakaan, tempat favorit Seohyun, bersama dengan Yonghwa, hyung-nya.

Minhyuk adalah orang yang sensitif. Ia termasuk namja yang mudah menangis. Rasanya, saat itu ia akan menangis saja meratapi kepergian pujaan hatinya.

“Ya! Apa kau akan menangis?” tanya Yuri membuyarkan perhatian Minhyuk pada Seohyun. Sebenarnya yang Minhyuk perhatikan bukanlah Seohyun tapi pintu perpustakaan karena Seohyun sudah meninggalkan perpustakaan lima menit yang lalu.

“Tentu saja tidak.” kata Minhyuk mengelak dan berusaha terlihat wajar.

“Kau menatapi pintu itu sudah satu jam.” kata Yuri berbisik, memberi penekanan pada setiap katanya.

Minhyuk terkejut mendengarnya. Ia tidak percaya kalau dirinya bisa jadi segila itu. “Kojimal.”

“Jinjja.” Yuri menyebutkannya lagi-lagi dengan bisikan penuh tekanan.

“Ah..aah.. Aku tidak percaya padamu.” Minhyuk merapikan buku-buku di hadapannya dan menutup laptopnya.

“Ya! Kau mau kemana?”

“Mau ke kantin. Ayo kita makan.”

“Hm?” Yuri bingung dengan perilaku Minhyuk. Bukan sesuatu yang lazim bagi Minhyuk untuk mengajak Yuri makan bersama mengingat Minhyuk pernah berkata bahwa ia tidak lagi mau makan bersama Yuri sejak sebulan yang lalu saat Yuri menghabiskan tiga porsi orang dewasa sementara Minhyuk terlanjur berjanji mentraktir.

“Kajja.”

***

Jonghyun sedang terburu-buru menuju perpustakaan saat ia bertemu dengan Minhyuk dan Yuri. Kebetulan saat itu juga Jonghyun memiliki sesuatu yang harus disampaikan kepada Minhyuk maupun Yuri.

“Annyeong, Oppa.” sapa Yuri pada Jonghyun.

“Annyeong, Noona. Apa kau sudah tahu mengenai pemilihan ketua klub renang yang baru?”

“Hm, belum.”

“Besok sore kita akan berkumpul membicarakannya. Kudengar tidak akan ada kandidat, kita bisa memilih siapa saja secara bebas.”

“Hm, baiklah, Oppa.”

“Minhyuk-ah, sore ini kita latihan di tempat biasa. Jam tiga. Yonghwa-hyung bilang dia tidak bisa menghubungimu tadi.” ganti Jonghyun menyampaikan pesannya pada Minhyuk.

“Handphone ku mati karena kehabisan baterai. Nanti aku akan datang.”

“Baiklah. Aku pergi dulu, tugas kanji membuatku gila.” kata Jonghyun sambil tersenyum. Senyuman yang membuat Yuri terhipnotis sementara waktu.

Sambil lalu, Jonghyun menambahkan, “Kalau sudah selesai kencan, kau antar dia pulang dengan selamat ya, Minhyuk.”

“Ya! Kami tidak berkencan!” teriak Minhyuk dan Yuri berbarengan.

***

Siang itu pukul tiga sore, Jonghyun dan Jungshin sedang berbincang di ruang latihan sambil menunggu Minhyuk dan Yonghwa yang belum nampak batang hidungnya.

“Mana Yonghwa-hyung dan Minhyuk? Lama sekali mereka.” kata Jonghyun sambil memainkan gitarnya.

“Tumben kau tidak telat, Hyung. Kalau tidak aku sendirian menunggu mereka.”

Pintu terbuka, Minhyuk masuk, “Mianhae aku telat.”

“Gwenchana. Yonghwa-hyung juga belum datang.” kata Jungshin.

Lima menit berselang, Yonghwa datang.

“Aku minta maaf telah datang telat.”

“Kalau begitu kau tak bisa request lagu apapun hari ini, Hyung.” seru Jonghyun. Sudah jadi budaya bagi CN Blue, siapa yang datang terakhir tidak dapat hak memilih lagu yang akan dimainkan dalam latihan.

“Biasanya kan Jonghyun-hyung yang begitu.” kata Minhyuk.

Lalu Jungshin menyela, “Ah, Hyung! Jadi kau datang cepat hari ini supaya kau bisa request lagu ya ternyata.”

“Hyung, ku lihat tadi kau pergi bersama Seohyun-s..” pertanyaan Minhyuk belum selesai, keburu dipotong oleh Jonghyun dan Jungshin.

“Uwooow.. ada apa dengan kalian berdua, Hyung? Sampai datang latihan pun terlambat.” goda Jungshin.

“Love is in the air. Minhyuk juga terlambat karena seorang yeoja.” tambah jonghyun.

“Mwo? Kenapa aku?” Minhyuk bingung, tiba-tiba ia yang jadi bahan ledekan.

“Wooo.. uri Minhyuk sudah dewasa.” kata Yonghwa bangga.

“Siapa yeoja itu?” tanya Jungshin penasaran.

“Kwon. Yu. Ri.” Jonghyun mengucapkan setiap suku kata dengan penekanan.

“Iya benar, aku seriiiiiing sekali melihat mereka bersama. Waaa kau hebat Minhyuk! Campus couple.” seru Jungshin sambil mengacungkan dua jempolnya.

“Wah jinjja. Uri Minhyuk sudah tumbuh dewasa. Ia mengencani member SNSD.” tambah Yonghwa bangga.

“Mwo? Member SNSD?” tanya Minhyuk kaget.

Maka Yonghwa dan Jonghyun memberi tahu identitas Yuri yang tidak Minhyuk ketahui sama sekali, Jungshin juga tidak tahu.

“Jadi dia adalah member yang hilang itu.” tutup Yonghwa.

“Member yang ke Austria.” tambah Jonghyun.

“Lalu kenapa ia memanggilmu Oppa, Hyung?” tanya Minhyuk pada Jonghyun.

“Itu karena kukatakan padanya untuk memanggilku begitu.”

“Aaah dasar kau, itu kan mau mu saja supaya kedengaran akrab dengan member SNSD.” protes Jungshin.

“Aku juga mau dooong dipanggil Oppa..” canda Yonghwa.

“Ah Hyung! Kau kan sudah ada Seohyun yang memanggilmu Oppa.”

“Sekarang kita kembali menginterogasi Yonghwa-hyung! Hahahahaha.”

***

Hari-hari berganti. Liburan musim dingin telah tiba. Jonghyun kala itu sedang berkumpul di gedung kolam renang kampus bersama para anggota klub renang, terlihat disana juga hadir Taecyeon dan Yuri.

“Selamat natal!” sambut Taecyeon, ketua klub, kepada para anggotanya.

“Meskipun sudah terlambat 2 hari, aku tetap ingin mengucapkannya pada kalian semua. Aku juga mohon maaf, di saat seperti ini harusnya kalian menikmati liburan natal, tapi aku justru meminta kalian untuk datang berkumpul.”

Taecyeon melanjutkan, ”Ini surat untuk kalian, isinya mengenai kompetisi renang nasional bagi mahasiswa.”

“Waah..” para anggota klub renang tertarik mendengarnya.

“Segala ketentuannya ada disitu, bisa kalian baca nanti. Kemudian, seperti yang kalian tahu bahwa setelah musim dingin berlalu, aku sudah resmi lulus dari kampus ini. Maka itu, kita perlu mengganti ketua yang baru.”

Taecyeon melanjutkan, “Dan kita telah sepakat unutk mengadakan pemilihan bulan lalu. Maka disinilah, kita akan tahu siapa yang terpilih menjadi ketua klub renang yang baru.”

Para anggota klub renang tertarik mendengarkan dan mereka tak sabar untuk mengetahui siapa yang akan menggantikan Taecyeon.

“Ok. Ini dia.” kata Taecyeon sambil membuka amplop di tangannya. Amplop itu berisi hasil pemilihan ketua klub renang yang baru.

“Ketua klub renang kita yang baru adalah..”

“Yong Jun Hyung!”

Taecyeon dan anggota klub lainnya bertepuk tangan gembira, beberapa menjabat tangan dan menepuk bahu Junhyung memberi selamat. Tapi tidak dengan satu orang ini.

“Apa maksudnya ini?!” seru Jonghyun seraya bangkit dengan wajah marah.

“Wa..wae?” Taecyeon yang karena terlalu kaget terbata-bata.

“Kau tahu aku bekerja keras di klub ini! Tapi kemudian kau umumkan Junhyung menjadi ketua klub yang baru!”

Jonghyun hendak memukul Taecyeon tapi ditahan oleh  kedua temannya, “Jonghyun!”

“Jonghyun, aku tidak mengerti kenapa kau begini. Tapi kita semua sudah mengadakan pemilihan dengan adil.” Taecyeon coba menenangkan Jonghyun, tapi tanpa mendekatinya, menghindari kemungkinan Jonghyun mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Taecyeon.

“Tapi kau sudah bilang padaku bahwa aku akan menjadi ketua klub!”

“Aku tak pernah katakan itu padamu.”

“Ha! Mudah bagimu membohongi orang lain.”

Entah seberapa kuatnya Jonghyun sehingga kedua orang yang memegang kedua lengan Jonghyun gagal menahannya. Jonghyun, seperti beruang yang hendak menerkam mangsanya, menghampiri Taecyeon membuat Taecyeon menghindar. Hingga di tepi kolam renang, Jonghyun mendorong Taecyeon ke dalam kolam renang.

Byur!

“Seperti kami membohongimu.” kata Jonghyun sambil tersenyum.

Seketika itu, terdengar riuh memenuhi ruang kolam renang tersebut.

“Saengil cukhae hamnida.. saengil cukhae hamnida..”

Masuklah sesosok yeoja yang tak lain adalah kekasih Taecyeon, Yoona, membawa sebuah kue tart diiringi lagu ucapan ulang tahun yang dilantunkan teman-teman di klub renang.

“Saengil cukhae.. saengil cukhae..”

Taecyeon naik dari kolam renang, berdiri di dekat Yoona.

“Saengil cukhae hamnida..”

Taecyeon meniup lilin di atas kue tart yang dipegang Yoona.

“Ya! Apa yang kalian lakukan padaku?” seru Taecyeon pada teman-temannya.

“Jonghyun-ah! Inikah yang kau lakukan pada sahabat terbaikmu? Menuduhku mengkhianatimu?” canda Taecyeon.

“Siapa yang merencanakan semua ini? Ayo cepat tunjukkan dirimu.”

“Yoona!” teriak Yuri sehingga teman-teman yang lain meneriaki nama Yoona, “Yoona! Yoona! Yoona!”

“Oh jadi kau yang merencanakannya, huh? Kau yang merencanakan ini, jagi?” goda Taecyeon disambut siulan dan teriakan dari teman-temannya. Sementara Yoona hanya tersenyum malu.

“Gomawo.” kata Taecyeon yang kemudian mengecup kening Yoona.

“Aaaaaw..” goda teman-temannya diselingi siulan dan semacamnya.

Semua terlihat berbahagia, termasuk Jonghyun pun demikian terlihat bahagia. Tapi siapa yang tahu isi hatinya, tak ada.

***

Sementara itu, di rumah Yonghwa.

“Wah lihat itu. Betapa mahirnya mereka memainkannya.”

Yonghwa, Minhyuk, dan Jungshin sedang menyaksikan penampilan orkestra di televisi. Mereka sudah janjian akan menginap di rumah Yonghwa malam ini, begitu juga dengan Jonghyun. Tapi Jonghyun pergi ke kampus saat itu untuk hadir di pertemuan klub renangnya.

“Melihat yeoja bermain piano dengan anggun, aku merasa melihat bidadari.” kata Yonghwa.

“Wah aku setuju, Hyung.” sahut Jungshin.

“Tapi aku lebih terkagum lagi melihat yeoja bermain biola, apalagi sambil berdiri dan rambutnya panjang bergelombang tergerai.” tambah Minhyuk.

“Ya ya betul itu.” setuju Jungshin.

“Kau ikut-ikut saja, Jungshin.” canda Yonghwa.

“Yang tukang ikut-ikutan kan bukan aku, MInhyuk-lah orangnya.” Jungshin menambahkan, pertanda bahwa mereka akan meledek Minhyuk.

“Wae?” Minhyuk tahu ini pertanda buruk baginya. “Kenapa jadi aku dibilang tukang ikut-ikutan?”

“Waktu kubilang suka yeoja tipe noona. Kau bilang kau juga begitu.” kata Jungshin.

“Aku tidak bilang begitu. Aku bilang kan aku suka tipe yeoja yang perhatian, namun biasanya yang perhatian itu adalah seorang noona.” bela Minhyuk.

“Tuh kan sekarang kau mengikuti aku. Itu tipe ku, yeoja yang perhatian.” kata Yonghwa.

“A..a..ani.” Minhyuk terbata-bata.

Yonghwa dan Jungshin melipat tangan mereka di depan dada dan menggeleng-gelengkan kepala mereka, “Follower.”

“A..a..ani-ah Hyung!” Yonghwa dan Jungshin seperti biasa berhasil meledek Minhyuk, sebenarnya hanya candaan, tapi bisa membuat Minhyuk gugup, terlihat dari caranya terbata-bata.

“Apakah kau marah Minhyuk? Bagaimana ini?” tanya Yonghwa menggoda Minhyuk.

“Tidak ada Jonghyun-hyung. Hanya dia yang bisa melihat kalau Minhyuk marah.” tambah Jungshin.

Minhyuk, mungkin, adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tidak bisa marah. Ia bisa berakting marah, tapi tidak di kenyataan. Setiap ia merasa risih atau terganggu, ia akan menunjukkan ekspresi yang aneh dan hanya Jonghyun yang bisa mengenalinya.

“Hyu~ung!”

***

Malam itu, Jonghyun tidak membawa motornya seperti biasa karena salju turun, ia duduk menunggu bus di halte. Tampak dari jauh sesosok yeoja berambut panjang datang menghampiri. Ia sepertinya mengenali siluet itu, tapi ia sendiri tak yakin. Jantungnya berdegup kencang memikirkan kemungkinan bahwa sosok itu adalah Yoona. Apakah Yoona akan mengatakan sesuatu padanya, pikirnya. Sosok itu sudah tiba di halte dimana lampu halte bisa menerangi wajahnya, ia bukan Yoona, tapi seseorang yang sangat mirip dengannya, Yuri.

“Oppa, aku takut sekali melihat ekspresimu saat memandangiku dari jauh.” kata Yuri setibanya di halte.

“Ah, mianhae. Aku ga bermaksud terlihat menyeramkan.” katanya lalu tersenyum kecil, senyum ciri khas Jonghyun. Ia merasa sedikit kecewa, tapi juga sedikit lega, melihat yang datang bukanlah Yoona melainkan Yuri.

“Kenapa kau pulang sendiri, noona?” tanya Jonghyun.

“Awalnya aku akan pulang bersama Yoona, tapi aku lupa kalau dia merayakan ulang tahun Taecyeon-oppa.”

Bus datang. Mereka berdua masuk ke dalam bus dan duduk berdampingan. Mereka terhanyut memandang jauh ke luar melihat salju yang turun menyelimuti jalan.

Jonghyun memecahkan keheningan, “Kau tahu, noona, ku rasa kau harus mencoba membiarkan rambutmu tergerai.”

Yuri selama ini mengikat rambutnya dengan berbagai model, ia belum pernah datang ke kampus dengan rambut tergerai. Kalau diperhatikan, Yuri akan terlihat lebih mirip lagi dengan Yoona saat rambutnya tergerai.

“Oh, keudaesseo?” tambah Yuri, “Kau tahu, oppa, menurutku kau harus mencoba memotong rambutmu. Kau akan terlihat lebih baik lagi.”

“Apa sekarang ini aku jelek?” canda Jonghyun.

“A..ani..”

Sepanjang perjalanan, Jonghyun dan Yuri berbincang dan bercanda. Begitulah malam itu berakhir, malam ketiga sebelum tahun yang baru. Awal yang baru menanti.

***

“Aku tidak akan menyerah, Shin.” seru Minhyuk.

“Baiklah, selamat berjuang, sobat.” kata Jungshin berbesar hati.

“Ya! Kau jangan lesu begitu. Tanpa Yoona-noona bukanlah akhir dunia.”

“Ya, betul. Aku tidak perlu terpuruk.”

“Lagi pula nanti kita akan punya junior, Jungshin-ah. Kau tahu, yeoja yang lebih muda tidak lebih buruk dari seorang noona.”

“Ya. Semester baru ada di depan mata, aku harus optimis.” Jungshin menyemangati dirinya.

Minhyuk menambahkan, “Kita lihat saja apa yang akan terjadi di semester baru ini.”

*********

17 thoughts on “[AuthorLepas] No One Get The Ideal [chapter 3]

  1. Tambh keren critax..kykx yoona ma jonghyun memang pernah pcran y dulu? #sotoy ..Lanjut y?pengenx c yoona jonghyun ama minhyuk yuri,yongseo dah pasti.. Kl jungshin?apa ntar akan ada cast bru?sooyoung kah?haha #ngarang

  2. yonghwa doang nih yg enak-enakkan, yg lainnya perang sama perasaan #halah..
    mau main biola ah *lirik minhyuk.
    semester baru semoga menyenangkan~~

    lanjut

  3. ampuuuun deh jonghyun pasti ada apa2 nih ma yoona. hmmmm…
    yah yong udh ga sekelas lg nih ma hyun.. huhu…
    jungshin udh pasrah ma yoona hahaha..
    nah minhyuk mending ma yuri ya. hhheehehe

  4. sepertinya jonghyun punya perasaan khusus terhadap yoona ~

    percintaan mereka benar-benar ribet dan makin seru😀 ~

    ditunggu lanjutannya ~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s