Thank You [2 of 2]

Sequel of Let’s Try 3 [tanpa membaca Let’s Try juga ga apa apa]

 

 Thank You [1 of 2]

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Length: Twoshot

Genre: romance

Rating: PG15

Cast:

  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Park Hanyoung [OCs]
  • Kim Kibum / Key SHINee
Other:
  • Lee Taemin SHINee
  • Nicole KARA
Disclaimer: my own plot
*******************************************************

 

“Han-ah, kau mau kemana?” tanya Minhyuk seraya berusaha menjajari jalan Hanyoung. Begitu sudah mendekat, Minhyuk meraih lengan Hanyoung dan membuat yeoja itu berhadapan dengannya.

“Gwenchanayo?” tanya Minhyuk lembut.

“Gwenchana, oppa! Aku… hanya merasa tidak terbiasa ke tempat ramai begini. Aku ingin pulang!”

“Baiklah! Aku antar ya!”

Kini Minhyuk menarik tangan Hanyoung tapi buru-buru Hanyoung tepis.

“Aku bisa pergi sendiri!”

“Tapi ini…”

“Aku sudah dewasa. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”

Hanyoung tersenyum –paksa- pada Minhyuk, berusaha meyakinkan Minhyuk kalau tidak terjadi apa-apa dengannya.

“Baiklah! Hati-hati!”

Minhyuk menarik Hanyoung ke dekatnya dan tiba-tiba saja mencium kening Hanyoung lembut.

“Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku, oke?” tanya Minhyuk. namun yang ditanya hanya diam membisu. Pandangan kosongnya lurus ke depan.

“Hanyoung?”

Tangan Minhyuk merengkuh dagu Hanyoung. Dengan buru-buru Hanyoung melepaskan diri dari Minhyuk.

“A..aku pulang dulu!”

Tanpa memandang mata Minhyuk, Hanyoung pergi dengan jantung yang berdebar-berdebar. Minhyuk hanya tersenyum memandangi sosok Hanyoung yang mulai menghilang.

Dan Minhyuk kembali teringat dengan Key. Dia yakin ada sesuatu antara Key dan Hanyoung. Kalau tidak, tidak mungkin Hanyoung pulang begitu saja setelah bertemu dengan key. Karena rasa penasaran inilah Minhyuk kembali ke pesta pernikahan.

“Key!” panggil Minhyuk begitu melihat punggung Key di depannya. Keypun berbalik dan menatap Minhyuk dengan tatapan ada apa? nya.

Tanpa basa-basi Minhyuk menarik Key menuju ruangan kosong.

“Waeyo?” tanya Key, bertingkah seolah-olah dia tidak tahu. Dia sangat tahu apa yang akan dibicarakan oleh Minhyuk.

“Jangan pura-pura tidak tahu, Key. Apa dia orangnya?” tanya Minhyuk datar.

“Maksudmu?”

“KUBILANG JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU!”

Key menatap mata tajam Minhyuk. memang sudah tidak ada gunanya lagi dia bersikap tidak tahu apa-apa.

“Kau benar! Hanyoung orangnya.”

Pengakuan Key cukup membuat Minhyuk tercengang.

“Hanyoung…mantan pacarmu?” tanya Minhyuk terbata-bata.

“Haruskah aku bilang untuk yang kedua kalinya?”

Minhyuk hanya menatap mata Key. Sesuatu yang aneh dirasakan Minhyuk. Kaget, marah, dan cemburu.

“Apa Hanyoung orang yang selama ini kau rahasiakan, Minhyuk?” kini Key balik bertanya. Tidak ada respon dari Minhyuk. “Aku anggap jawabannya iya.”

Suasana hening.

“Jadi, kau masih mencintainya?” tanya Minhyuk membuka suara. Sebenarnya dia enggan bertanya begitu, tapi dia butuh kepastian karena Minhyuk tidak mau menyukai seseorang yang ternyata masih dicintai temannya.

“Kau mau jawaban yang jujur?” sebelah alis Key terangkat. Minhyuk hanya menatapnya tajam. “Baiklah! Aku tidak pernah mencintainya.”

BHUG!

Sebelah tangan Minhyuk spontan memukul pipi Key hingga Key jatuh tersungkur, meninggalkan darah segar di ujung bibir namja bermata elang tersebut.

“YA!” teriak Key seraya mengusap ujung bibirnya.

“Itu pantas untukmu, Kim Kibum!”

Minhyuk berbalik dan berjalan meninggalkan Key yang masih sedikit meringis kesakitan.

 

***

 

Seminggu berlalu. Minhyuk masih saja resah karena hingga saat ini dia belum mendapat kabar dari Hanyoung. Dia merasa yeoja itu sengaja menghindar darinya. Sms-sms dari Minhyuk tidak pernah dibalas, teleponpun tidak pernah diangkat. Ingin sekali Minhyuk bertandang ke rumahnya, tapi entah kenapa dia enggan.

Minhyuk yang sedang menyetir mobil kembali fokus pada jalanan. Tak lama kemudian dia melihat segerombloan yeoja sedang mengerumuni seorang namja di pinggir jalan. Tanpa berpikir panjang Minhyuk menepikan mobilnya di depan namja bertopi kupluk tersebut dan menekan tombol kaca jendela pintu kanan mobil.

“Masuklah!” perintah Minhyuk.

Namja itupun mengangguk dan masuk ke dalam mobil Minhyuk. Minhyuk bisa mendengar namanya yang kini juga disebut-sebut para yeoja itu.

Kemudian Minhyuk menginjak gas mobilnya.

“Kau datang di saat yang tepat, hyung! Aku hampir habis karena yeoja-yeoja itu.”

“Kau berlebihan, Taemin-ah! Itu sudah resiko pekerjaan kita. Salah kau sendiri kenapa berkeliaran tanpa penyamaran.”

Taemin memuka topi dan melepas jaketnya, menyisakan kaus hijau polos yang ia kenakan di dalamnya. “Aku habis dari kampus, hyung! Aku yang minta Onew hyung untuk tidak menjemputku. Tapi aku lupa bawa masker dan kaca mata. Dan sialnya pulsaku habis.”

“Hahaha, kau benar-benar sial. Lalu kau mau ke mana sekarang?”

“Aku mau pulang.”

“Baiklah, aku antar!”

“Gomawo, hyung!”

Selanjutnya mereka tidak berbicara. Minhyuk memang sedang malas untuk berbicara dan ini membuat Taemin merasa tidak enak.

“Hmm hyung, boleh aku bertanya sesuatu?”

Minhyukpun menoleh. “Silahkan!”

“Sebenarnya ada apa di antara hyung dengan Key hyung? Sejak seminggu yang lalu, tepatnya sejak aku melihat kau membawa Hanyoung noona ke pesta pernikahan Jonghyun hyung, Key hyung lebih sedikit pendiam dari yang biasanya. Kalau sudah begitu, pasti dia sedang ada masalah. Dia tidak bisa tenang jika masalahnya belum selesai.”

Mata Minhyuk masih berusaha fokus pada jalanan, tapi pikirannya melayang ke kejadian seminggu yang lalu. Mengetahui kalau Hanyoung adalah orang yang selama ini Key ceritakan cukup membuat hatinya sakit. Yang lebih menyakitkan adalah selama ini Key tidak mencintainya. Minhyuk tidak bisa membayangkan bagaimana mereka pacaran hanya dengan cinta sepihak. Menurut Minhyuk, pasti sakit sekali bila berada di posisi Hanyoung.

“Maaf, Taemin! Aku tidak bisa cerita padamu,” kata Minhyuk.

“Oh, gwenchana! Aku mengerti,” sahut Taemin dengan senyuman manisnya.

“Oh ya, kau juga kenal Hanyoung?”

“Ye, kami semua –maksudku member SHINee lainnya- pastinya mengenal mantan calon istri Key hyung.”

CIIIIIIIIIT! Minhyuk tiba-tiba mengerem mobilnya mendadak yang kebetulan berjalan di pinggir jalan.

Minhyuk melepas seat belt nya, memutar badannya ke kanan menghadap Taemin. “Mworago? Calon istri?”

“Iya, kupikir hyung sudah…. UPS!” Taemin menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu menggeleng-geleng. “Minhyuk hyung tidak tahu?”

“Cepat katakan padaku apa maksud calon istri yang kau bilang tadi!”

Taemin memukul kepalanya sendiri, menyadari akan kebodohannya. “Sebenarnya ini rahasia, hyung. Hanya kami berlima yang tahu, manajer hyung saja tidak tahu. Jebal, aku akan menceritakannya tapi hyung jangan bilang siapa-siapa, ya?! Termasuk Key hyung.”

Minhyuk mengangguk dengan tempo cepat, sangat penasaran dengan cerita yang sebenarnya.

“Key hyung dijodohkan dengan seorang yeoja Busan. Hyung terpaksa menuruti kemauan orang tuanya. Yang aku tahu, Key hyung tidak mencintainya karena hyung sering bercerita begitu padaku. Tapi di depanmu, dia bersikap seolah-olah dia juga mencintainya. Key hyung agak merasa bersalah pada Hanyoung noona karena setelah hyung memutuskan hubungannya, keberadaan noona seperti hilang ditelan bumi. Cinta Hanyoung noona sepertinya bertepuk sebelah tangan.”

Mata Minhyuk menatap tajam setir mobil di depannya.

“Maafkan Key hyung, dia tidak bermaksud membohongimu selama ini.”

 

 

 

Setelah mengantar Taemin, Minhyuk melajukan mobilnya ke apartemen Hanyoung. Sesampainya di sana, dengan langkah cepat Minhyuk berjalan.

TING TONG TING TONG!

Tak lama pintu terbuka, tapi kemudian tertutup kembali. Buru-buru Minhyuk mencegahnya.

“Han-ah, aku harus bicara padamu!”

Hanyoungpun melepas gagang pintu dan menatap Minhyuk nanar.

“Ada apa?”

“Harusnya aku yang bertanya begitu. Ada apa dengan kau? Seminggu ini kau menghindariku.”

Hanyoung menggeleng lemas. “ Aku tidak apa-apa, oppa! aku hanya sedang sibuk dengan pekerjaanku.”

Minhyuk sangat yakin apa yang diucapkan Hanyoung tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Namja itupun dengan lancangnya masuk ke dalam rumah Hanyoung dan meraih bola kristal milik Hanyoung.

“Apa karena ini?”

Mata Hanyoung terbelalak. “Ma… maksudmu?”

“Apa karena nama seseorang yang tertera di bawah benda ini?”

Hanyoung terkejut karena Minhyuk bisa mengetahui sesuatu yang dia sembunyikan. Dugaannya selama seminggu ini tepat. Dan karena itulah dia lebih memilih menghindar Minhyuk karena perasaannya sangat terombang-ambing. Bingung dengan perasaannya sendiri.

“Itu bukan urusanmu!” Hanyoung mengalihkan pandangannya dari Minhyuk.

Minhyuk meletakkan kembali bola kristal tersebut ke tempat semula lalu berjalan menghampiri Hanyoung. Kedua tangannya dia tumpukan di kedua bahu Hanyoung.

“Kalau kau benar-benar mencintainya, sebaiknya kau pertahankan.”

“Maksudmu?”

“Aku tahu kau mencintai Key, Han-ah!”

Tangan Hanyoung menepis tangan Minhyuk agar enyah dari bahunya. “Jangan sok tahu, Minhyuk!”

“Jangan menutupi perasaanmu yang sebenarnya! Aku…aku akan membantumu untuk mendapatkan Key kembali!” kata Minhyuk ragu. Dia berusaha tersenyum dan Hanyoung tahu kalau itu bukanlah senyuman yang tulus.

Hanyoung berjalan menghampiri bola kristal yang selama ini dia anggap berharga, meraih benda itu, menyeringai pada Minhyuk, lalu melepasnya dari genggamannya hingga bola kristal itu pecah karena membentur lantai.

“Ya!”

“Menurutmu ini benda berharga bagiku? Kau salah, Minhyuk!” kata Hanyoung dengan suara yang bergetar. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri, berusaha menahan tangis yang sebentar lagi akan meledak.

Minhyuk menghampiri Hanyoung dan…

PLAK!

Tangan besarnya spontan menampar pipi mulus Hanyoung.

“Kau tidak perlu menutupi perasaanmu yang sebenarnya, Hanyoung! Menghancurkan benda yang sangat berharga menurutku sangat keterlaluan!”

Minhyuk berbalik dan berjalan meninggalkan Hanyoung yang masih tidak percaya dengan kejadian barusan.

 

***

 

Seminggu kembali berlalu. Keadaan berbalik. Minhyuk tidak sekalipun membalas sms-sms dan menerima panggilan-panggilan dari Hanyoung.

“Mana mungkin aku mencintai seseorang kalau orang itu malah mencintai orang lain?” gumam Minhyuk seraya menatap langit kamarnya.

Minhyuk bangkit dari tidurnya, mendudukkan dirinya di tepi ranjang.

“Tapi Key tidak mencintainya dan harusnya kumanfaatkan kesempatan ini!”

Minhyuk bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan pikiran-pikirannya.

“Ani! aku tidak boleh egois!”

Minhyuk duduk di sebuah kursi, merobek dua lembar kertas dan mulai menulis sesuatu.

 

 

 

Sesampainya di depan pintu apartemen Hanyoung, Minhyuk memasukkan kertas tadi melalui celah pintu.

“Semoga sukses, Hanyoung! Selamat tinggal!” gumam Minhyuk.

Kemudian Minhyuk berjalan menuju lift dan sialnya yang keluar adalah Hanyoung. Kali ini Minhyuk beruntung karena Hanyoung terlalu fokus pada novelnya.

Minhyuk hanya bisa menatap punggung Hanyoung yang berjalan menjauhinya.

 

 

 

“Kau dari mana, Minhyuk? pagi-pagi sudah keluar?” tanya Jungshin tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

“Aku… aku dari rumah teman.”

Sebelum Minhyuk masuk ke dalam kamarnya, Jungshin mencegahnya.

“Minhyuk, nanti jangan lupa bawa buku pesanan Jonghyun hyung.”

Langkah Minhyuk terhenti. “Buku partitur? Ah aku, ingat. Oke!” Minhyuk hendak menutup pintu kamarnya, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Nanti? Maksudmu?”

Jungshin beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri Minhyuk. “Kau tidak lupa kan kalau hari ini kita harus ke rumah Jonghyun hyung?”

“Hari ini? Bukannya besok?”

“Kau juga tidak lupa kan lusa lalu aku bilang kalau besok Jonghyun hyung tidak bisa?”

Minhyuk kembali teringat sesuatu.

“ASTAGA!!!!”

 

 

 

Setelah membicarakan masalah lagu baru mereka, Minhyuk buru-buru pamit undur diri dari hadapan Jonghyun, Jungshin, dan Yonghwa. Minhyuk berlari mengejar waktu menuju mobilnya yang terparkir tepat di depan rumah Jonghyun.

“Jam setengah delapan,” katanya seraya melihat jam tangannya, “semoga aku tidak terlambat.”

Lima belas menit berkendara, akhirnya Minhyuk sampai di taman kota. Minhyukpun turun dari mobil dan mencari sosok yang dia kenal. Suasana sangat sepi dan itu menguntungkan Minhyuk untuk keluar tanpa penyamaran.

Langkahnya terhenti, begitu melihat dua orang yang dia cari sedang berpelukan. Minhyukpun tersenyum. Tersenyum miris.

“Semoga kalian bahagia! Sekarang aku bisa mengerti bagaimana perasaan kembaranmu sekarang ini, Hanyoung! Memang sakit merelakan orang yang kita cintai bersama dengan orang lain,” gumam Minhyuk dengan senyum simpulnya.

Minhyuk berbalik, bermaksud meninggalkan mereka berdua yang kembali bersatu. Tapi kakinya tak sengaja menendang sebuah kaleng botol yang ternyata memancing perhatian dua sosok itu.

“Kang Minhyuk?” panggil mereka berdua serempak. Mau tidak mau Minhyuk kembali berbalik dan tersenyum seperti tidak melihat apa-apa.

“Key? Hanyoung? Kalian di sini?” katanya dengan tingkah seolah-olah tidak tahu apa-apa.

Key dan Hanyoung berjalan menghampiri Minhyuk.

“Aku sedang mencari udara segar dan….”

BHUG!

Sebuah pukulan mengenai pipi Minhyuk hingga Minhyuk jatuh tersungkur.

“Itu balasan untukmu, Minhyuk!”

Kemudian tangan Key terulur pada Minhyuk. Sambil menatap bingung mata Key, Minhyuk menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri. Key tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Minhyuk.

“Good luck!” seru Key sembari tersenyum hangat. Sebelah alis Minhyuk terangkat, tidak mengerti apa kata Key barusan.

Keypun pergi meninggalkan Minhyuk berdua dengan Hanyoung. Rasa canggung menyelimuti mereka.

“Jadi… kalian kembali?” tanya Minhyuk ragu.

“Kembali?”  Hanyoung kembali bertanya dengan nada datar.

“Yah, kembali,” Minhyuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, pertanda dirinya merasa canggung. “Kembali dengan Key.”

Hanyoung menatap lekat mata Minhyuk, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Ada yang lucu?” tanya Minhyuk.

Hanyoung berhenti tertawa. Matanya menatap tajam mata Minhyuk.

“Apa maksudmu melakukan ini?” tanya Hanyoung seraya mengangkat kertas yang Minhyuk masukkan ke sela pintu apartemen Hanyoung tadi pagi.

“Aku hanya ingin hubungan kau dan orang yang kau cintai kembali terjalin.”

Hanyoung melangkah mendekat dan sebelah tangannya melayang ke pipi Minhyuk.

PLAK!

Minhyuk kembali mengusap pipi kanannya. Rasa sakit akibat pukulan Key masih belum hilang, ditambah tamparan Hanyoung di tempat yang sama.

“Yang tadi itu balasan untuk yang minggu lalu dan…”

PLAK!

Pipi kiri Minhyuk juga kena imbas.

“Ini untuk kau yang selalu terbayang-bayang di otakku.”

Minhyuk mengusap kedua pipinya.

“Nomu appoyo! Apa maksudmu aku… selalu…”

Minhyuk tidak jadi menyelesaikan kalimatnya begitu mulai bisa mencerna kalimat terakhir Hanyoung. Dengan mulut yang menganga, Minhyuk menatap Hanyoung yang sedang tersenyum manis padanya. Telunjuk kanan Minhyuk terarah pada wajahnya sendiri, lalu bergantian menunjuk Hanyoung seperti orang bodoh.

“J…jeongmal?”

“Kau seperti orang bodoh, oppa! Perlu aku perjelas apa maksudku?”

Hanyoung mendekat dan memeluk Minhyuk. Sensasi aneh tiba-tiba melanda mereka dan anehnya mereka menyukai rasa itu.

 

Flashback

 

Hanyoung menunggu di bangku taman kota yang letaknya dekat dengan apartemennya seraya menatap kembali kertas yang ia dapatkan di pintu rumahnya tadi pagi.

 

Temui aku malam ini jam 7 di taman kota. Minhyuk.

 

Hanyoung kembali menatap jam tangannya. “Lewat lima menit! Mana namja itu?”

Suara derap langkah terdengar. Semakin mendekat, mendekat, dan sesosok namja yang mengenakan masker dan topi yang diyakini Hanyoung adalah Minhyuk telah berdiri di hadapannya. Ingin sekali tersenyum, tapi diurungkan niat itu begitu mengetahui siapa namja itu sebenarnya.

“Key?”

“Hanyoung? Sedang apa kau di sini?”

“Minhyuk memintaku bertemu di sini dan…”

“Minhyuk? dia juga yang memintaku… Aish! Apa yang sebenarnya direncanakan pabo namja itu?”

Hanyoung dan Key serentak duduk di bangku taman di dekat mereka.

Sulit untuk berbicara bagi mereka. Sudah hampir 3 bulan lamanya mereka tidak saling bertemu.

“Apa kabar?” tanya Key membuka suara.

“Baik. Kau?”

“Aku juga baik.”

Key yang biasanya pandai berbicara, seolah-olah mati kutu berhadapan dengan Hanyoung. Ada sedikit terbesit rasa bersalah sejak kejadian 3 bulan lalu.

“Mianhae!”

“Untuk?”

“Aku memutuskan hubungan kita. Aku pasti mengecewakan orang tuamu. Mianhae!”

Hanyoung menghela nafasnya. “Gwenchana! Ini sudah menjadi keputusan kita berdua.”

“Tapi awalnya aku yang meminta…”

“Sudahlah, kita lupakan saja, Kibum! Kau tidak mencintaiku dan… yah aku baru menyadari kalau aku menyukaimu hanya sebatas seorang fangirl pada idolanya. Setidaknya kita belum menjalaninya terlalu jauh, kan?” jelas Hanyoung seraya tersenyum.

“Kau benar!” seru Key sambil menepuk bahu Hanyoung.

“Ngomong-ngomong bagaimana dengan kakimu? Apa benar-benar sudah sembuh? Aku lihat di televisi, kau mengalami kecelakaan mobil. Makanya kalau menyetir hati-hati.”

Tiba-tiba Key melayangkan sebuah jitakan di kepala Hanyoung.

“Appo!”

“Ini karena kau juga, pabo!”

“Loh, kok aku?”

“Aku berniat ingin minta maaf padamu. Tapi karena ada kucing sialan yang tiba-tiba lewat, aku jadi banting setir.”

Hanyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kasian, Kibumie!”

“Aish, anak ini! Bukannya kasihan malah meledekku!”

Mereka berdua tertawa lepas seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Rasa lega dapat mereka rasakan. Belum pernah mereka merasa senyaman seperti ini. Menjadi teman memang jalan yang terbaik.

“Jadi kita teman?” Key menjulurkan jari kelingking kanannya yang disambut jari kelingking Hanyoung. “Kita teman!”

“Karena kita sudah menjadi teman, aku akan mendekatkanmu dengan Minhyuk.”

“JEONGMALYO???”

Key buru-buru menutup kedua telinganya. “Yaish! Aku bisa tuli, Hanyoung-ah!”

Hanyoung hanya menanggapinya dengan tertawa cengengesan.

“Kau benar-benar menyukai temanku itu rupanya.”

“Sepertinya! Aku sudah berusaha menghindar darinya, yang ada malah tambah kangen. Jebal.. dekatkan aku dengan Minhyuk!” Hanyoung menangkup kedua tangannya dan memohon pada Key.

“Baiklah! Baiklah! Demi teman baruku!”

“GYAAAAAAAAAAA!” Hanyoung berteriak seraya berhambur memeluk Key.

 

Flashback end

 

“Kita sudah sampai, Han-ah!” kata Minhyuk tanpa memalingkan wajahnya ke Hanyoung. Tidak berani menatap yeoja itu setelah mengetahui kebenarannya.

“Kau tidak percaya padaku, oppa?” tanya Hanyoung seraya memutar badannya ke kiri, menghadap Minhyuk.

“Aku bukannya tidak percaya, hanya…” Minhyuk terpaku begitu menoleh ke Hanyoung. Entah kenapa kali ini jantung Minhyuk berdegup dengan berkali-kali lipat kencangnya.

“Hanya?”

“Hanya…. hanya sedang melihat seorang malaikat cantik tak bersayap,” sambung Minhyuk tersenyum bodoh yang entah kenapa pikirannya sudah melayang ke mana-mana begitu melihat Hanyoung. Minhyuk langsung memukul kepalanya sendiri begitu dia sadar sudah bersikap seperti orang bodoh di hadapan Hanyoung.

“Hahaha, pabo!” seru Hanyoung.

Suasana menjadi hening. Hanyoung tidak beranjak keluar, menunggu-nunggu apa yang akan dikatakan Minhyuk setelahnya. Minhyukpun menoleh ke arahnya.

“W…wae?” tanya Minhyuk gelagapan.

“Katakan apa yang ingin kau katakan sebelum aku keluar.”

“Aku tidak ingin bilang apa-apa!”

Hanyoung mendekat ke arah Minhyuk dengan senyum nakalnya. “Yakin?” Sukses membuat Minhyuk menelan ludahnya sendiri.

“Ee… Selamat malam!” seru Minhyuk.

“Ada lagi?” tanya Hanyoung yang semakin mendekat, membuat Minhyuk memundurkan tubuhnya perlahan.

“Hmm, mimpi indah, hehe!”

“Aku yakin sekali ada yang ingin kau sampaikan padaku!”

Tidak ada yang keluar dari mulut Minhyuk karena namja itu sibuk menenangkan dirinya yang makin gugup karena Hanyoung tidak berhenti mendekat. Minhyuk tidak bisa menghindar karena punggungnya sudah menyentuh pintu mobil.

Hanyoung mengerucutkan bibirnya dan memandang Minhyuk masam.

“Kau pengecut!” kata Hanyoung seraya memundurkan tubuhnya perlahan, lalu membuka pintu mobil bermaksud keluar. Entah mendapat dorongan dari mana, tangan Minhyuk menggenggam pergelangan tangan Hanyoung, mencegah yeoja itu keluar dari mobilnya.

“Saranghae!”

Satu kata yang mampu menghentikan gerakan Hanyoung. Yeoja itu kembali duduk sempurna di jok samping Minhyuk dan menatap namja itu tidak percaya.

“I..itu kan yang ingin kau dengar?”

Hanyoung masih tidak bergeming walaupun matanya masih tertuju pada mata Minhyuk.

“Bukan itu, ya?” tanya Minhyuk lagi.

Hanyoung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha kembali fokus dengan dunia nyata.

“O…oppa, tanganmu lepas dulu. sakit!”

“Hah?” buru-buru Minhyuk melepas tangannya. “Mian..!”

“Cengkramanmu kuat!” seru Hanyoung seraya menggosok-gosok pergelangan tangan yang dicengkeram Minhyuk tadi. “Dan.. basah! Hey, kau gugup ya?” tanya Hanyoung kembali dengan senyuman nakalnya.

“Eh? Aku rasa iya!”

“Wae?”

“Oh, please Hanyoung! Berhenti menggodaku!” sergah Minhyuk.

“Haha, aku tidak menggodamu!” seru Hanyoung sembari mengedipkan sebelah matanya.

Hanyoung membuka pintu mobil dan keluar, lalu mengetuk jendela berharap Minhyuk membukakannya.

“Terima kasih untuk tumpangannya, oppa!” kata hanyoung begitu jendela terbuka sepenuhnya.

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Hanya itu?”

Hanyoung tertawa, tapi buru-buru menahan tawanya begitu melihat tatapan serius dari Minhyuk.

“Terima kasih karena telah mencintaiku!”

Minhyukpun tersenyum.

“Lalu.. kau.. mau..”

“Mian, oppa! Aku lelah! Aku ingin segera tidur. Hati-hati di jalan!” Hanyoung tersenyum melambaikan tangannya lalu berbalik memunggungi mobil Minhyuk dan berjalan memasuki gedung apartemennya.

“Pabo!” umpat Minhyuk seraya memukul setir mobilnya. “Terlalu cepat untuk bilang cinta padanya!”

 

***

 

Minhyuk keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Kemudian ia kenakan celana jeans dan kaus oblong putih yang telah dia siapkan sebelum mandi tadi.

DRRRRRRT!

Ponsel Minhyuk bergetar begitu Minhyuk sedang menyampirkan handuknya di ranjang. Buru-buru dia mengeceknya, berharap sebuah pesan dari Hanyoung. Dan keinginannya terkabul.

 

From: Han-ah

Selamat pagi! Kau bisa ke tempat kemarin satu jam lagi? Ada sesuatu yang harus kau ketahui

 

Minhyuk menyipitkan matanya. “Apa yang harus aku ketahui? Aaah! Jangan-jangan dia mau bilang kalau dia juga mencintaiku!”

Kemudian Minhyuk membalas sms Hanyoung.

 

To: Han-ah

Baiklah! Aku juga sedang tidak ada kerjaan. Satu jam lagi.. sampai jumpa di sana

 

 

 

 

Minhyuk berjalan riang menuju taman kota begitu turun dari mobilnya. Senyum yang dari tadi mengembang tiba-tiba luntur begitu melihat Hanyoung sedang tertawa lepas dengan Key.

“Apa iya Hanyoung tidak punya perasaan lagi pada Key? Untuk apa dia berbohong padaku?” gumam Minhyuk kesal melihat kedekatan Hanyoung dengan Key.

Minhyuk kembali melangkah, hanya saja kali ini dia melangkah dengan malas. Sebenarnya Minhyuk ingin pergi dari sana, tapi rasa penasarannya akan sesuatu yang ingin Hanyoung beritahukan padanya membawa langkahnya mendekati dua orang itu.

“Annyeong, oppa!” sapa Hanyoung tersenyum. Minhyukpun balik tersenyum, hanya saja tersenyum masam. “Annyeong, Hanyoung! Hmmm, annyeong Key-ah!” sapa Minhyuk.

“Wajahmu kusut, habis begadang?” tanya Key, matanya menelusuri wajah masam Minhyuk.

“Aniya! Kalian sepertinya senang sekali?” sebelah alis Minhyuk terangkat.

“Haha, ya begitulah! Kau juga akan tahu nanti,” seru Key girang seraya merangkul bahu Hanyoung. Minhyuk lantas membuang mukanya, enggan melihatnya.

“Nanti? Hanyoung-ah, sebenarnya apa yang ingin kau beritahukan padaku? dan kenapa ada Key di sini? Kau bukan mau bilang kalau kau memutuskan untuk kembali dengannya, kan?” tanya Minhyuk sedikit sinis. Dan Keypun mulai menyadari sesuatu. Untuk memperkuat analisanya, Key merangkul mesra bahu Hanyoung.

“Jagi, kau belum memberitahunya?” tanya Key pada Hanyoung. Hanyoung spontan menoleh ke arah Key dan berusaha melepaskan diri dari rangkulan Key. Hal ini sukses membuat wajah Minhyuk semakin masam.

“Apa-apaan sih kau? Cari mati, hah?” bisik Hanyoung pada Key.

“Kekeke, lihat saja!” Key balik berbisik lalu kembali merangkul Hanyoung.

“Ehem! Sudah selesai mesra-mesraannya? Kau menyuruhku ke sini bukan untuk melihat kemesraan kalian kan?” Minhyuk kali ini terang-terangan bertanya sinis. Hanyoung mulai merasa tidak enak karena dia tidak bermaksud begitu.

“Bukan begitu, oppa! aku juga…”

“Kalau begitu aku pamit undur diri saja! Sepertinya aku mengganggu. Annyeong!” Dengan perasaan kesal Minhyuk berbalik bermaksud pergi dari sana. Dilangkah keduanya, tangan Key mencegah kepergian Minhyuk.

“Kau mau ke mana?”

Minhyukpun kembali berbalik.

“Aku mau pulang, key!”

“Kau cemburu, kan?” tanya Key.

“Mwo… mworago? Hahaha!” Minhyuk tertawa paksa, “Aku tidak cemburu!”

“Yang benar?” Key kembali bertanya dengan senyuman usilnya.

“U…untuk apa aku cemburu?” Minhyuk memalingkan wajahnya, takut temannya itu berhasil mengetahui bagaimana perasaan Minhyuk yang sebenarnya.

Key menekan-nekan kedua pipi Minhyuk dengan telapak tangannya. “Kau tidak bisa membohongiku, pabo! Sudahlah, akui saja kalau kau cemburu!”

Minhyuk menepis kedua tangan Key. “AKU KESAL MELIHAT KAU DEKAT-DEKAT HANYOUNG. APA ITU NAMANYA CEMBURU?” Minhyuk mengatur nafasnya sehabis berteriak. Untunglah taman kota saat itu tidak ada orang kecuali mereka bertiga.

Hanyoung sedikit tercengang, lalu mulai memalingkan wajahnya begitu menyadari wajahnya sudah memanas.

“Hanyoung-ah, sudah dengar sendiri, kan? Si bodoh ini benar-benar mencintaimu. Percaya padaku!”

“Ara!” jawab Hanyoung sekenanya.

Key kembali menatap Minhyuk. “Aku hanya bercanda, Kang Minhyuk! Hanyoung mengajakmu ke sini bukan karena itu. sebenarnya aku yang menyuruh Hanyoung untuk menyuruhmu kemari.”

“untuk?”

“Berbalik lah!”

Minhyuk menatap key dengan bingung, lalu menoleh ke belakang. Dia mendapati seorang yeoja yang dia kenal karena pernah beberapa kali satu panggung dengannya.

“Nicole-ssi?”

“Annyeong, Minhyuk-ssi! Annyeong, Key-ah! Dan… aduh aku lupa namanya. Ah ya, annyeong, Hanyoung-ssi!” sapa Nicole dengan senyuman manisnya.

Minhyuk kembali menoleh pada Key. “Apa ini maksudnya?”

“Alasan aku tidak bisa mencintai Hanyoung karena Nicole. Hanyoung sudah mengetahui ini karena aku memberitahunya saat aku memutuskan hubungan kami. Dan hanyoung mendukungku.”

“Eh?”

“Lagi pula aku kan sudah janji akan memberitahumu siapa orang yang aku cintai. Terus terang, selama ini yang aku bangga-banggakan bukan Hanyoung, tapi Nicole!”

“Eh?”

“Ah eh ah eh!” Key menoyor kepala Minhyuk. “Lebih baik aku dan Nicole pergi saja. Ayo, jagi!” Key menggamit tangan Nicole dan membawanya menjauh, meninggalkan Hanyoung dan Minhyuk dalan keadaan canggung.

“H..hai, Han-ah!”

“Kau sudah menyapaku tadi, oppa!”

“Oh, ya? Haha, aku lupa!”

Pabo kau Minhyuk!” umpat Minhyuk di dalam hati. Keadaan canggung begini memang berhasil membuat Minhyuk sulit berkata-kata.

“Aku menyuruhmu kesini selain karena Key yang menyuruh, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu.”

Minhyuk menatap Hanyoung dengan tatapan ada apa memang? nya itu.

“Nado saranghae!” gumam Hanyoung pelan.

“Apa? Aku tidak dengar?”

“Nado saranghae!” kali ini suara Hanyoung lebih kencang sedikit.

“Apa sih? Aku tidak dengar!” Minhyuk mencondongkan telinganya mendekat ke bibir Hanyoung.

“NADO SARANGHAE, KANG MINHYUK!!!!!!”

Minhyuk menggosok-gosok telinganya dengan senyuman yang membuncah.

“Jeongmal?” tanya Minhyuk berbinar-binar, diiringi anggukan dari Hanyoung.

Minhyuk menggamit tangan Hanyoung dan mengajaknya berlari ke keramaian.

“YEOROBUN!!! HANYOUNG MENCINTAIKU!!!!” teriak Minhyuk yang sukses menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.

“YA! kau gila?” Hanyoung menepuk keras bahu Minhyuk.

“Aku sudah terlalu gila akhir-akhir ini. Dan ini karena kau, Park Hanyoung!”

“Orang-orang jadi tahu, pabo!”

“Biarkan saja! Aku tidak mau menyembunyikannya dan bernasib tragis seperti Jonghyun hyung dulu!”

Hanyoung ingin menyela, tapi keburu tercengang dengan kata-kata Minhyuk.

Para yeoja-yeoja mengelilingi mereka berdua dan mereka berteriak histeris begitu melihat sepasang sejoli baru itu berciuman.

 

-END-

 

9 thoughts on “Thank You [2 of 2]

  1. keren. >< q pkir sm key.. haha
    eh itu ko da nichole, hikz, bang konci sama aku sjalah.. -.-"
    *d'getok onew*
    overall, daebak! bkin lagi y??? yeay..🙂

  2. waduh minhyuk kok sembarangan mukul2 orang sih, ckckck.
    keren ni ceritanya.
    kirain td hanyoung balik sm key, udah mau patah hati aja, ternyata ngga hahaha

  3. Pingback: Need Recomendation Please !!!! | ffcnblueindo

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s