Bloody Brothers [chapter 4]

 

chapter 1 | chapter 2 | chapter 3

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Length: chaptered

Genre: mystery, angst, family, [bit] romance

Rating: PG17

Cast:

  • Lee Jungshin CNBLUE
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Kim Hyuna 4minute
  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Lee Jinki SHINee
Disclaimer: my own plot
Note: HUAAAAAAAAAAA MAAF LAMA UPDATE.. kemaren2 lagi banyak tugas dan ujian. Oh ya, waktu itu aku bilang bakal end di chapter 4 ya? Kayaknya bakal nambah satu chapter lagi dan beneran bakal end di chapter 5. InsyaAllah bakal di post sebelum lebaran.
Eh ya, agak kesel juga sih ada yg pake foto editan aku seenaknya, di re-edit pula, kesannya kayak itu editannya dia. Acc twitter fanbase padahal. Udah aku tegur baik-baik padahal, eh enggak direspon. Ga ada respek. Yasudahlah, semoga Tuhan memberikan pencerahan padanya (?)
enjoy reading ^^
*************************************************************

PREV:

 

“Lee Jungshin atau Kang Jungshin.. Hmm! Jadi orang tuanya bercerai dan dia ikut ibunya. Selang setahun ibunya menikah dengan seorang namja bermarga Lee. Memiliki dua orang kakak laki-laki, satu kandung yang umurnya berselang satu tahun, satunya tiri yang umurnya berbeda lima tahun. Kakak kandung bernama Kang Minhyuk dan kakak tiri bernama Lee Jonghyun. Kakak kandung tinggal bersama ay…”

“Tunggu!” sela Jinki saat Yonghwa tengah menceritakan isi kertas itu pada Jinki.

“Apa?”

“Kang Minhyuk!”

“Kang Minhyuk?”

Jinki mengangguk dan Yonghwa benar-benar tidak paham apa maksud dari anggukan Jinki. Tiba-tiba Yonghwa teringat dengan kasus yang ditanganinya sembilan tahun yang lalu.

“Kang Minhyuk?!”

 

##########################

 

Jonghyun menatap seisi ruangan yang hampir setahun ini dia sebut sebagai kelas untuk terakhir kalinya. Rasanya enggan untuk meninggalkan ruangan itu.

“Kau serius ingin berhenti, Jonghyun?” tanya seorang pria sebatang kara berumur 46 tahun yang sedang sibuk merapikan gitar-gitar.

“Ye, ahjussi! Mianhamnida!”

“Gwenchana. Aku kehilangan seorang asisten handal sepertimu. Kuakui, kau ini mentor terbaik di sini. Aku heran, kenapa kau tidak jadi seorang gitaris saja. aku yakin kau akan berhasil.”

“Kau memujiku berlebihan, Jungmo ahjussi!” seru Jonghyun tersipu malu seraya mengacak-acak rambut bagian belakangnya. “Aku senang bisa bekerja part time di sini. Tapi jabatanku di kantor dinaikkan, mungkin aku akan sibuk. Lagi pula Jungshin sebentar lagi akan masuk sekolah, aku harus membantunya karena ini pertama kalinya dia bersekolah.”

Jonghyun bekerja sampingan sebagai seorang pengajar di sebuah kursus gitar yang cukup sederhana di daerah Chungdam, satu kilometer dari rumahnya. Hari ini Jonghyun mendapat shift terakhir di malam hari. Tinggal Jonghyun dan sang pemilik kursus yang masih bertahan di gedung sewaan berlantai dua tersebut.

Setelah pria yang bernama lengkap Kim Jungmo itu selesai meletakkan gitar-gitar itu di lemari, dia berjalan menghampiri Jonghyun.

“Sekolah? Bukannya dia homeschooling?”

“Tadinya begitu. Tapi dia ingin kembali bersekolah seperti dulu.”

Jungmo menggeleng-geleng seraya berdecak. “Ck, ck! Menyusahkan saja! tangan buntung begitu untuk apa sekolah. Hanya menyusahkan dirinya sendiri dan juga kau. Apa dia siap menerima caci maki dari teman-teman barunya nanti? Sekolah itu hanya untuk orang yang normal.”

“Normal? Maksudmu?” tanya Jonghyun sedikit geram. Tangannya mengepal menahan emosi.

Jungmo berbalik memunggungi Jonghyun, merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja. “Tangannya buntung. Bikin malu saja!”

Kata-kata Jungmo cukup membuat hati Jonghyun sakit. Entah dorongan dari mana, tangan kanannya mengepal kuat dan siap mengarahkannya ke kepala sang pemilik kursus gitar tersebut.

BHUG!

Pukulannya cukup kuat hingga berhasil membuat Jungmo pingsan seketika. Dan tak lama kemudian Jonghyun sadar dengan apa yang telah diperbuatnya.

Jonghyun berjongkok, menggoyang-goyangkan tubuh Jungmo. Namun tidak ada respon.

“Ottokhae?” gumam Jonghyun panik.

PLAK PLAK PLAK! Terdengar suara tepuk tangan dari pintu kelas. Jonghyun mendongak dan mendapati orang asing sedang berdiri tersenyum padanya.

“Annyeonghaseyo, Lee Jonghyun!” sapa namja itu.

“Nu…nuguseyo?” tanya Jonghyun yang makin panik karena seseorang sudah memergokinya.

“Tidak usah takut! Aku tidak akan melaporkannya asal kau menurutiku!”

Karena rasa panik yang masih melandanya, Jonghyunpun mengangguk.

“Bagus! Sekarang ayo kita gotong orang bodoh ini ke mobilku!”

 

 

 

Jonghyun sangat terkejut melihat pemandangan sadis yang tersuguhkan di depan matanya. Bukan hal baru memang bagi Jonghyun, karena beberapa tahun yang lalu dia melihat sendiri bagaimana adik tirinya kehilangan sebelah lengannya. Tapi yang ini –bagi Jonghyun- berkali-kali lipat lebih sadis.

Namja yang baru Jonghyun kenal itu berdiri dengan sebuah kapak yang masih digenggamannya. Dia menyeringai memandangi hasil dari ulahnya.

“Ini cocok untukmu, pak tua! Seenaknya kau bicara tanpa otak mengenai adikku!”

Namja itu kini menoleh pada Jonghyun yang masih ketakutan.

“Kau kenapa? Belum pernah melihat yang seperti ini? Kau harus mencobanya!”

Namja itu berjalan menghampiri Jonghyun dan memberikan kapak yang bersimbah darah. Anehnya tangan Jonghyun meraih kapak tersebut dan berjalan menghampiri tubuh Jungmo yang telah terpotong-potong sebagian. Emosinya kembali naik begitu mengingat kata-kata pedas Jungmo tadi. Jonghyun mengangkat tinggi-tinggi kapak tersebut dan menjatuhkannya tepat di atas perut Jungmo.

“HAAAAAAAAAAH!” teriak Jonghyun.

Jonghyun tercengang dengan apa yang telah dilakukannya. Rasa takutnya hilang seketika dan membuat bibirnya membentuk sebuah senyum kepuasan.

“Menyenangkan bukan?”

Jonghyun menoleh ke arah sumber suara.

“Nuguya?”

“Ah iya, aku belum memperkenalkan diriku. Joneun Kang Minhyuk imnida. Kakak kandung Jungshin.”

 

***

 

“Sekolah sudah mulai tenang, ya!” gumam Hyuna yang sedang duduk di samping Jungshin di bangku atap gedung sekolah. Kegiatan favorit mereka jika istirahat tiba.

“Kau benar! Semoga tidak terjadi lagi kejadian-kejadian seperti kemarin.”

Jungshin menoleh pada Hyuna dan matanya tertuju pada sebuah kalung yang bertengger di leher Hyuna.

“Beberapa hari ini kau memakai kalung itu. kalung baru ya?”

“Iya!” Hyuna mengeluarkan bandul kalungnya yang tersembunyi di balik seragamnya dan memilin-milin bandul berbentuk lingkaran tersebut. “Seseorang memberikan ini untukku.”

Tiba-tiba sosok seorang namja terbayang di pikiran Jungshin. “Hmm apa namja itu yang memberikannya?”

“Nugu?”

“Itu.. namja yang pulang bersamamu sewaktu di rumah Doojoon.”

Hyuna spontan tertawa. “Hahaha! Dia sepupuku, Jungshin! Ibunya yang memberikanku kalung ini.”

“Owh!”

Bibir Jungshin menyunggingkan senyuman.

“Kim Hyuna dari kelas 2B, ditunggu di ruang OSIS sekarang juga. Kim Hyuna dari kelas 2B, ditunggu di ruang OSIS sekarang juga.”

“Hyuna, namamu dipanggil!” kata Jungshin setelah pengumuman itu terdengar melalui speaker sekolah.

“Ah, ye! Aku ke sana dulu kalau begitu. Sampai ketemu di kelas!” Hyuna menepuk bahu Jungshin dan bangkit dari duduknya. Jungshin menatap pungggung Hyuna yang mulai menghilang. Dia kembali tersenyum.

“Syukurlah dia bukan siapa-siapamu!”

 

 

 

“Aku rasa Jungshin bersih!” seru Yonghwa, mengganggu konsentrasi Jinki yang sedang sibuk mempelajari kasus mereka.

“Jangan terkecoh, Yong! Tapi idemu bagus juga. Untung Hyuna selalu memakai kalung itu.”

“Sepupuku itu paling menghargai pemberian orang lain. Dan tentu itu aku manfaatkan.”

“Kau harus meminta maaf padanya setelah kasus ini selesai. Tapi aku takut Minhyuk mengetahuinya. Kau tahu? Dia orang yang sangat waspada!”

“Itu yang aku cemaskan!”

Mereka berdua kembali menekuni berkas-berkas mereka. Sulit bagi mereka untuk menemukan titik terang lainnya. Lagi pula ini kasus besar mereka yang pertama yang mereka tangani selama ini setelah bekerja di kantor detektif swasta terkenal selama hampir enam bulan. Belum ada pengalaman.

Ada apa sunbae memanggilku?”

Yonghwa yang sedang sibuk menulis tiba-tiba terhenti. Dia meletakkan pulpen dan melepaskan kaca matanya, lalu menekuni percakapan yang dia dengar melalui headsetnya. Jinki yang duduk di depannya menyadari itu dan bertanya pada Yonghwa. “Wae?”

“Sssssst!” Yonghwa memberi isyarat pada Jinki untuk diam.

Lama Jinki memandangi Yonghwa yang hanya berdiam diri. Dia sangat penasaran dengan apa yang sedang rekannya itu dengar.

“Gawat!” gumam Yonghwa.

“Apanya?”

“Sepertinya Minhyuk mengetahuinya.”

 

 

 

Hyuna mengetuk pintu ruang OSIS tiga kali lalu masuk ke dalam. Dia mendapati seorang namja jangkung sedang menatap keluar gedung melalui jendela ruangan. Begitu menyadari ada yang masuk, namja itu berpaling ke arah Hyuna.

“Kau sudah datang rupanya.”

“Ada apa sunbae memanggilku?” tanya Hyuna sopan.

“Aku dengar waktu SMP kau pernah mengikuti olimpiade matematika. Apa itu benar? Ah, silahkan duduk dulu.”

Mereka berduapun duduk saling menghadap satu sama lain.

“Ye! Itu benar!”

“Satu bulan lagi akan ada olimpiade matematika nasional tingkat SMA. Apa kau bersedia untuk menjadi salah satu wakil dari sekolah kita?”

Hyuna menimbang-nimbang. Sejujurnya dia ikut olimpiade saat itu hanya karena Doojoon juga mengikutinya.

“Mianhamnida, Minhyuk sunbae! Aku tidak bisa!”

“Oh, gwenchana! Aku tidak memaksa kok. Tapi kalau berubah pikiran, kau bisa menghubungiku. Paling lambat seminggu dari sekarang.”

“Gamsahamnida!”

Minhyuk tersenyum menatap Hyuna dan tatapannya kemudian beralih ke arah kalung yang sedang Hyuna kenakan. Bandul kalung itu cukup menyita perhatian Minhyuk beberapa hari ini.

“Kalungmu bagus. Seperti milik mendiang ibuku. Boleh aku lihat?” tanya Minhyuk.

Hyunapun melepas kalungnya dan memberikannya pada Minhyuk. “Kalung itu pemberian dari bibiku.”

Minhyuk memilin-milin bandul kalung tersebut. Bibirnya sedikit menyeringai begitu meyadari sesuatu.

“Igeo!” Minhyuk mengembalikan kalung itu kepada Hyuna. “Hmm, sepulang sekolah nanti bisa ikut aku rapat di SMA Apgujeong? Para peserta olimpiade sebenarnya akan berkumpul sore ini di sana. Aku harap kau mau ikut, siapa tahu kau berubah pikiran. Kau hanya ikut hadir saja. kalau kau tetap tidak mau menjadi peserta, itu tidak masalah.”

Karena Hyuna memang tidak memiliki kegiatan sepulang sekolah nanti, diapun mengangguk. “Baiklah!”

Hyunapun pamit undur diri dari hadapan Minhyuk dan pergi dari ruangan itu, meninggalkan Minhyuk yang sedang menyeringai puas.

“Detektif sialan itu gerak cepat juga!” gumam Minhyuk.

 

 

 

Bel sekolah berbunyi, pertanda sekolah sudah usai. Murid-murid merapikan buku-buku mereka, termasuk Hyuna dan Jungshin.

“Hyun-ah, kau mau menemaniku ke toko buku? Aku ingin membeli atlas,” pinta Jungshin dari tempat duduknya.

“Mian, Jungshin! Minhyuk sunbae memintaku ikut rapat mengenai olimpiade dan aku sudah janji untuk ikut dengannya.”

“Oh, gwenchana!”

Hyuna yang sudah selesai beres-beres, bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Jungshin.

“Jungshin-ah, aku pergi duluan ya! annyeong!”

“Annyeong!”

Jungshin mengerutkan keningnya begitu Hyuna sudah pergi. “Aneh! Apa masalah olimpiade harus ketua OSIS juga yang menangani? Kenapa tidak divisinya saja?”

Jungshin buru-buru menyampirkan tasnya ke bahu kirinya dan berlari menyusul Hyuna. Sebuah mobil sedan biru melintas di depannya dan dia melihat Minhyuk dan Hyuna di dalamnya.

“Sial! Mau ke mana mereka?”

Tanpa berpikir panjang, Jungshin menyetop sebuah taksi yang kemudian berhenti di depannya. “Tolong ikuti mobil biru itu! jangan terlalu dekat!” perintah Jungshin begitu menduduki dirinya di jok belakang. Taksipun melaju sesuai perintah Jungshin. Taksi yang Jungshin tumpangi berada di belakang mobil Minhyuk, tapi tidak terlalu dekat.

Sebuah mobil jepp hitam menyalip taksi itu yang ternyata adalah mobil Yonghwa.

“Tidakkah ini terasa aneh, Yong?”

“Apanya?”

“Dia tidak menyadari kalau bandul kalung sepupumu itu dipasang alat pelacak kan?”

Yonghwa tersenyum pada Jinki yang duduk di samping kanannya. “ Kau pikir aku menaruhnya di bandul kalung itu? Hanya ada micro recorder. Alat pelacaknya ada di strap ponsel yang aku berikan padanya lima bulan yang lalu.”

“Mwo? Kau stalker sepupumu sendiri, eh?”

“Ibunya yang meminta. Sepupuku itu anak tunggal dan ibunya yang kelewat protektif tidak mau terjadi apa-apa pada anak kesayangannya itu.”

“Owh!”

Mereka berdua kembali fokus pada objek yang sedang mereka kejar. Tiba-tiba Yonghwa mengumpat karena lampu lalu lintas tiba-tiba saja berubah menjadi merah tepat saat mobilnya hendak melewatinya. Yonghwa terpaksa mengerem mobilnya dan hanya bisa menatap nanar lambaian tangan Minhyuk dari mobil birunya yang mulai menjauh.

“Sial! Dia tahu kita mengikutinya!” umpat Yonghwa.

Kemudian Yonghwa dan Jinki kembali dibuat terkejut melihat sebuah taksi nekat menerobos lampu merah.

 

 

 

Minhyuk dan Hyuna hanya diam tanpa bicara. Hyuna sendiri bingung apa yang harus dibicarakan karena merasa sangat canggung di dekat Minhyuk. Minhyuk sendiri memang enggan berbicara, pikirannya sibuk melayang memikirkan bagaimana cara menghabisi gadis yang sedang bersamanya.

“Minhyuk-ssi?” panggil Hyuna yang telah sepakat dengan Minhyuk untuk tidak memanggilnya dengan sebutan sunbae.

“Hmm?” Minhyuk menoleh ke arah Hyuna.

“SMA Apgujeong bukannya belok kanan?”

“Oh ya? memang kau pernah ke sana?”

“Hmm, aku lupa-lupa ingat, sih! Aku ke sana sekitar setahun yang lalu saat ingin mendaftar di sekolah itu.”

“Kau pasti lupa, Hyun-ah!”

Hyuna mengangguk dengan rasa ragu. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Diapun tidak menyadari kalau saat ini Minhyuk sedang menyeringai padanya.

Mobil Minhyuk kini memasuki daerah yang sepi lalu lalang. Taksi yang ditumpangi Jungshin masih tetap mengikutinya. Dan sialnya Minhyuk mulai menyadari itu.

“Hyun-ah! Sudah pakai seat belt, kan? Pegangan, ya!” seru Minhyuk.

“Untuk ap….” Tiba-tiba Hyuna memegang erat pegangan yang ada di atas jendela begitu merasakan mobil Minhyuk berjalan di atas kecepatan rata-rata. Dan hal itu sukses membuat taksi itu ketinggalan jauh.

“Tolong tambah lagi kecepatannya!” perintah Jungshin pada sang supir taksi.

“Maaf, ini sudah kecepatan maksimal!”

“AISH!”

Jungshin hanya bisa pasrah dan berusaha mengenyahkan perasaan tidak enak yang sejak tadi melandanya.

 

 

 

Minhyuk keluar dari dalam mobil, diikuti Hyuna yang masih terheran-heran.

“Tempat apa ini, Minhyuk-ssi?” tanya Hyuna tanpa melepas pandangannya dari gedung reot yang ada di depannya.

“Ada yang ingin aku tunjukkan padamu, Hyun-ah!” Tangan Minhyuk menggamit tangan Hyuna. “Kajja!”

Hyuna mengikuti Minhyuk memasuki gedung tersebut. Hyuna cukup tercengang, matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang bisa dibilang kosong melompong.

Langkah Hyuna tertahan karena minhyuk tiba-tiba berdiri di hadapannya. Hyuna spontan mundur melangkah perlahan hingga dia menabrak seseorang. Hyuna menoleh ke belakang dan mendapati seorang namja asing yang sedang menyeringai padanya.

“Maaf, miss!”

Hanya kalimat itu yang terdengar oleh Hyuna karena yeoja itu langsung ambruk begitu Jonghyun memukul keras bahu Hyuna dengan tangan kosongnya.

“Aku akan ikat dia di tiang!” kata Jonghyun seraya memapah tubuh Hyuna yang tidak sadarkan diri.

“Tunggu, hyung!” cegah Minhyuk. Namja itu berjongkok dan mengambil benda yang terjatuh dari jas sekolah Hyuna. pandangannya terfokus pada strap ponsel berwarna abu-abu polos yang berbentuk balok tersebut. Minhyuk mematahkan strap itu.

“SIAL! Alat pelacak!”

 

 

 

“Tuhan!!! Tolong lindungi Hyuna!” gumam Yonghwa seraya menggigit ujung jempol tangannya. Sebelah tangannya hanya mengetuk-ketuk setir mobil karena rasa ketidaksabarannya. Jalanan yang sangat macet menghambat jalan mereka.

“Tenanglah, Yong-ah! Setidaknya GPSmu masih me…,” ucapan Jinki terputus saat GPS di mobil Yonghwa tiba-tiba mati, “..nyala! Ya! GPS mobilmu rusak, Yong?”

Yonghwa memukul kesal setir mobilnya. “Sepertinya namja itu sudah tahu alat pelacak itu!”

Jinki menghempaskan dirinya di jok mobil seraya mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi. “Jalanan macet, alat pelacak ketahuan, apa lagi setelah ini?”

Untunglah jalanan kembali lancar karena beberapa polisi mengatur jalannya mobil-mobil yang ternyata terhambat karena sebuah kecelakaan.

“Yong, SMA Apgujeong belok kanan, kan?” tanya Jinki begitu menyadari Yonghwa membelokkan mobilnya ke kiri.

“Kau pikir Minhyuk benar-benar membawa Hyuna ke sana? Itu hanya akal-akalan saja! lagian tadi aku dengar Hyuna juga protes sepertimu. Aku yakin Minhyuk mengambil jalan ini!” kata Yonghwa seraya mengetuk-ngetuk headset yang tidak sekalipun Yonghwa lepaskan dari telinganya. Jinkipun mengangguk paham.

Yonghwa menyetir dengan kecepatan standar walaupun jalanan sangat lengang. Mereka berdua sibuk memandangi sisi-sisi jalan yang dipenuhi dengan pohon-pohon tinggi di sisi kanan dan sungai di sepanjang sisi kiri.

[[ lah author jadi bayangin jalanan super lengang di Twilight Saga :p ]]

“Minhyuk membawa Hyuna ke mana?” tanya Jinki. Yonghwapun menepikan mobilnya.

“Mwolla!”

Mereka berdua tampak berpikir keras. Mata Yonghwa menatap lurus ke sungai di sebelah kirinya.

“Sungai ini akan mengalir ke mana, ya?” gumam Yonghwa yang jauh dari topik.

“Sepertinya Sungai Han!” sahut Jinki.

Mereka berdua kembali sibuk dengan pikiran mereka masing-masing hingga secara bersamaan mereka saling pandang.

“Yong…?” seru Jinki dengan senyumannya.

“Ye, kau benar! Panggil polisi sekarang juga!”

 

 

 

Hyuna kembali membuka matanya setelah tak sadarkan diri selama hampir lima belas menit. Dia meronta begitu menyadari tubuhnya terikat di sebuah tiang penyangga gedung.

“Sudah sadar rupanya, Kim Hyuna?”

Hyuna menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Minhyuk sedang tersenyum padanya bersama seorang namja yang tidak dia kenal berdiri di belakangnya.

“Kau mau apa, Minhyuk?”

Minhyuk berjalan menghampiri Hyuna. “Wow, sudah berani menyebut namaku tanpa hormat rupanya!”

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Hyuna. Minhyuk meraih dagu Hyuna dan memaksa wajah yeoja itu berhadapan dengan wajahnya. “Siapa kau berani bicara begitu padaku?”

Tiba-tiba Hyuna meludah tepat di depan wajah Minhyuk. Minhyuk memejamkan matanya dan tersenyum kecut. Dia mengambil sebuah sapu tangan dari saku seragamnya dan membersihkan wajahnya.

PLAK!

Kali ini Minhyuk menampar pipi kiri Hyuna. Yeoja itu tak bisa lagi membendung tangisnya, bukan karena rasa sakit melainkan rasa takutnya yang berlebihan.

“Minhyuk, apa kita habisi saja dia sekarang?” tanya Jonghyun.

“Jangan, hyung! Orang yang kutunggu belum datang! Aku ingin dia menyaksikan kematiannya!”

“Apa yang kau tunggu itu aku?”

Sebuah suara berhasil membuat ketiga orang itu menoleh ke arah pintu. Hal itu membuat Jonghyun dan Minhyuk terbelalak kaget.

 

-tbc-

 

Tadinya mau aku end di chapter ini, tapi bakal panjang dan takut reader bosen. makanya sisanya di next chapt. beneran bakal end di chapter 5.

Makasih udah baca~~ jangan lupa komennya🙂

 

 

 


 

13 thoughts on “Bloody Brothers [chapter 4]

  1. huaaah, jungshin tuh yang dateng biar hyuna diselamatkan.
    yong sama jinki juga harus dateng lebih cepat lagi, palli!
    ditunggu lanjutannya~

  2. Pingback: Bloody Brothers [chapter 5 - end] | ffcnblueindo

  3. Pingback: Bloody Brothers [chapter 5 - end] « SHINY BLUE

  4. Aigooooo ngebayangin minhyukkie nyeringai sadis gitu pasti ganteng bangeeeet #plak
    Itu siapa yg dateng? Jungshin kah?
    Haduh pliss hyunanya jangan dibunuh, dia kan nggak ngehina jungshin….

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s