Bloody Brothers [chapter 5 – end]

chapter 1 | chapter 2 | chapter 3 | chapter 4

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Length: chaptered

Genre: mystery, angst, family, [bit] romance

Rating: PG17

Cast:

  • Lee Jungshin CNBLUE
  • Lee Jonghyun CNBLUE
  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Kim Hyuna 4minute
  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Lee Jinki SHINee

Disclaimer: my own plot

Note: enjoy reading ^^

***************************************************


prev:

“Minhyuk, apa kita habisi saja dia sekarang?” tanya Jonghyun.

“Jangan, hyung! Orang yang kutunggu belum datang! Aku ingin dia menyaksikan kematiannya!”

“Apa yang kau tunggu itu aku?”

Sebuah suara berhasil membuat ketiga orang itu menoleh ke arah pintu. Hal itu membuat Jonghyun dan Minhyuk terbelalak kaget.

 

“J.. jungshin?” Jonghyun terbelalak melihat adik tiri kesayangannya bisa berada di sana.

Jungshin melangkah perlahan mendekat. Tatapannya yang seakan-akan ingin membunuh kedua hyungnya itu tersirat di matanya.

“Jadi yang terjadi selama ini karena kalian?” tanya Jungsin dengan nada super tajamnya. Jungshin semakin mendekat ke Jonghyun dan…

BHUG!

Tangan kirinya memukul pipir Jonghyun hingga kakak tirinya terjatuh. Jonghyun tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak mungkin baginya untuk memukul Jungshin.

“Kau tahu, Jungshin? Kami berbuat begini demi kau! Yeoja berwajah malaikat ini hanya memanfaatkanmu!”

“Maksudmu apa, hyung?”

Minhyuk menarik rambut panjang Hyuna kebelakang, membuat wajah yeoja itu mendongak ke atas dan memperlihatkan bandul kalungnya yang ikut sedikit terangkat. “Benda ini alat perekam suara!” Minhyuk menarik kasar kalung Hyuna hingga terlepas, lalu menejatuhkannya dan menginjak-injak benda itu. “Namja yang pulang bersama Hyuna saat kau melayat si pabo Doojoon itu adalah detektif yang menangani kasus itu. Hyuna mendekatimu hanya untuk mengorek informasi!”

Jungshin menatap lurus mata Hyuna. “Di..dia bohong, Jungshin! Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.” Hyuna menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap Jungshin mempercayainya. “Jebal.. percaya padaku!”

Jungshin berjalan mendekati Hyuna. dia sendiri bisa melihat air mata yang jatuh dari mata Hyuna. Jungshin jadi terenyuh melihat air mata yang sebenarnya tidak ingin dia lihat lagi dari mata seorang yeoja yang dia sukai.

BHUG!

Tanpa berpikir panjang tangan kiri Jungshin yang masih utuh memukul kuat-kuat perut kakak kandungnya itu hingga dia jatuh tersungkur. Jungshin mencondongkan tubuhnya ke Minhyuk dan kembali memukulinya dengan membabi buta.

Bersyukurlah bagi Minhyuk karena Jonghyun membekap hidung dan mulut Jungshin dengan sapu tangan dan mau tidak mau dia mencium aroma yang berhasil membuatnya kehilangan kesadaran diri.

Jonghyun menjulurkan tangannya pada Minhyuk dan Minhyukpun menyambutnya. Dia meringis kesakitan akibat pukulan Jungshin tadi.

“Kau ajari apa adikku selama ini, hyung? Aku tidak menyangka pukulannya sangat kuat!” seru Minhyuk seraya menyeka darah di wajahnya dengan lengan baju seragamnya.

“Mwolla! aku saja heran!”

Jonghyun dan Minhyuk menggotong tubuh besar Jungshin ke tepi ruangan.

Hyuna yang hanya menyaksikan kejadian tadi dalam diam, mulai bingung dengan situasi ini.

“A..apa hubungan kalian dengan Jungshin?” tanya Hyuna memecah keheningan.

Jonghyun dan Minhyuk kembali menghampiri Hyuna. “Dia Lee Jonghyun, kakak tirinya. Dan aku kakak kandungnya.”

Hyuna hanya menatap mereka bingung. Dia tidak pernah menyangka Minhyuk adalah kakak kandung Jungshin.

Mereka memang tidak mirip satu sama lain karena pembawaan gen mereka yang berbeda. Jungshin sepenuhnya mendapat gen fisik dari keluarga ayah mereka dan Minhyuk dari ibu mereka. Hanya saja sifat mereka berkebalikan. Jungshin mendapat sifat periang dan lembut dari sang ibu, sedangkan Minhyuk mendapat sifat penyayang, dingin dan over protektif dari ayahnya.

Dan pertanyaan lain muncul di benak Hyuna. Apa hubungannya dengan dirinya?

“Ah ya, ngomong-ngomong kami mau minta maaf soal Doojoon!” seru Jonghyun.

Hyuna tersentak karena nama namja yang dicintainya disebut-sebut. “Bagaimana kau bisa mengenalnya?” Tak lama matanya membulat karena menyadari sesuatu. “K…kau.. kau yang membun…”

“Responmu sungguh lambat, Hyuna! Kukira kau sudah menyadarinya dari tadi,” potong Minhyuk.

Mulut Hyuna menganga cukup lebar dan air matanya kembali jatuh.

“Brengsek!” umpat Hyuna dengan nada getirnya.

Yes, we are!” sahut Minhyuk dengan seringaian tanpa bersalahnya.

Minhyuk mengelus-elus pipi Hyuna, spontan membuat yeoja itu memalingkan wajahnya. Tetap saja dia tidak bisa ke mana-mana.

“Kau yang menggali lubang kuburanmu sendiri, Hyuna! bukan kami!”

“Apa maksudmu? Apa hubungannya denganku?”

Minhyuk menekan kuat kedua pipi Hyuna dengan jari sebelah tangannya. “Kau ini memang idiot atau apa? Daya tangkapmu lambat! Kau tidak dengar apa yang aku katakan pada Jungshin tadi, hah?” Minhyuk membuang wajah Hyuna ke samping.

“Tapi aku benar-benar tidak tahu masalah alat pelacak atau apalah seperti yang kau bilang tadi!”

“Hey, maling mana ada yang mau mengaku maling!” seru Jonghyun.

“Kakakku benar!”

“Kenapa kalian lakukan ini? Apa salah Doojoon? Apa salah Jessica?”

Jonghyun berjalan mendekati Hyuna dan menatap lekat mata Hyuna. “Mereka orang-orang idiot yang hanya bisa merendahkan orang lain. Mereka tidak tahu bagaimana sakitnya Jungshin kehilangan sebelah tangannya. Dan orang-orang seperti itu pantas mendapatkan yang lebih dari yang adik kami dapatkan!”

Hyuna tersentak memandang mata kecoklatan Jonghyun. Tersirat rasa kesedihan dari pandangan kosong namja itu.

Minhyuk berjalan menghampiri sebuah kotak di pojok ruangan yang ditaksir Hyuna adalah sebuah koper dan membawanya ke tengah ruangan. Jonghyunpun menghampirinya. Mereka berdua berjongkok memandangi isi kotak yang tidak bisa Hyuna ketahui apa isinya. Mereka berdua berbicara dengan lirih seraya memandangi Hyuna secara bergantian.

“Apa yang akan kalian lakukan padaku? jebal! Lepaskan aku!” mohon Hyuna. Suara bergetar Hyuna sontak membuat kedua namja itu memandang Hyuna.

“Kami ingin main-main denganmu sebentar!”

Minhyuk memberikan sesuatu pada Jonghyun yang masih tidak bisa Hyuna ketahui itu apa dan Jonghyun menyembunyikannya di belakang kaus hitam bercorak abstraknya. Minhyukpun melakukan hal yang sama. Minhyuk kembali mengambil sesuatu dari koper itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga Hyuna bisa melihat apa benda itu.

Cukup membuat Hyuna berkeringat dingin.

“Mau apa kau?” tanya Hyuna ketakutan begitu Minhyuk sudah berada di hadapannya dengan sebuah pisau lipat yang ujungnya kini menyentuh pipi Hyuna.

“Aku kan sudah bilang, kita main-main sebentar, cantik!” kata Minhyuk menyeringai.

Ujung pisau tajam itu menggores sedikit leher Hyuna, membuat yeoja itu mendesis kesakitan. Bukannya kasihan, Minhyuk makin menjadi. Dia menulis sebuah kata di leher Hyuna. Death.

“Cukup, Minhyuk! Haaah!” pinta Hyuna menahan kesakitan. Desah kesakitan Hyuna yang membuat Minhyuk makin candu mempermainkan kulit Hyuna yang sedikit kegelapan dengan pisau kesayangannya.

“Bunuh aku saja kalau begitu!”

“Membunuhmu? Memang itu tujuanku membawamu ke sini, Kim Hyuna! tanpa kau minta pasti kami lakukan. Tapi aku mau menunggu seseorang untuk menyaksikan kepergianmu.”

Jonghyun tiba-tiba menggeser posisi Minhyuk dari hadapan Hyuna. “Kau lambat, Minhyuk! Masa bodoh dengan detektif itu! Biar aku yang membunuhnya!” Hyuna memejamkan matanya begitu ujung pistol yang Jonghyun genggam menekan kepalanya. Minhyuk mendengus kesal. “Terserah kau saja lah, hyung!”

Jonghyun menyeringai pada Hyuna. “Ada kata-kata terakhir, miss?”

Hyuna mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kemudian dia menghela nafas.

“Tidak ada?”

Hyuna menggeleng seraya tersenyum tipis. “Di sana!”

“Hah?”

“Di belakangmu!”

Jonghyun –dan juga Minhyuk- menoleh ke arah pintu dan mendapati beberapa orang menatap tajam seraya menodongkan senjata api mereka. Minhyukpun tersenyum dan menyapa mereka layaknya teman yang telah lama tidak dia jumpai.

“Oh, hai detektif hyungdeul! Lama sekali kalian datang! Kenapa ramai-ramai begitu?”

“Kalian menunggu kami, eh?” tanya Jinki dengan nada sakarstiknya.

“Tentu saja!” jawab Minhyuk seraya berjalan mendekati Hyuna. “Masa kalian tidak mau melihat yeoja ini pergi?” Minhyuk kembali memainkan pipi Hyuna dengan ujung pisaunya hingga menimbulkan luka gores yang cukup dalam. Hyuna menahan nafas, menggigit jari bawahnya untuk menahan rasa sakit.

“Cepat usir tikus-tikus itu kalau tidak mau melihat sepupu cantikmu mati!” pisau Minhyuk sudah bertengger di leher Hyuna yang sewaktu-waktu siap menusuknya. Yonghwapun memberi isyarat pada beberapa orang dari kepolisian untuk keluar dari gedung itu.

Tinggallah Minhyuk, Jonghyun, Hyuna, Yonghwa, Jinki dan Jungshin –yang masih tidak sadarkan diri- di gedung berlantai satu itu.

“Buang senjata kalian!” kata Jonghyun seraya menodongkan pistolnya pada Yonghwa dan Jinki. Mereka berduapun terpaksa menurutinya. Melempar senjata mereka jauh-jauh.

“Ya, Kang Minhyuk! Tidak bisakah kau melepas Hyuna? Dia tidak salah apa-apa!” kata Yonghwa dengan lantang. Suaranya sedikit bergema karena kosongnya ruangan yang cukup luas itu.

Jonghyun angkat bicara, “Dia mungkin memang tidak salah apa-apa! Tapi kalianlah yang bersalah. Tega sekali memanfaatkan saudara demi kepentingan sendiri. Salahkan diri kalian kalau yeoja ini benar-benar mati.” Joghyun menyeringai dan itu membuat Yonghwa naik pitam. Yonghwa bersiap berlari menghampiri Jonghyun dan akan menghajarnya habis-habisan. Namun tangan Jinki dengan cepat menahan tubuh Yonghwa begitu melihat Jonghyun kembali menodongkan pistolnya sedikit ragu. Pistol itu masih menjadi barang baru bagi Jonghyun.

“Oppa, tenanglah sedikit!” seru Hyuna walaupun rasa perih melandanya ketika dia berbicara. Luka gores di pipinya cukup membuatnya sulit berbicara.

“Kau bahkan membela orang yang membuatmu seperti ini! Dasar aneh!” kata Minhyuk seraya memandang tajam mata Hyuna.

“Lalu aku harus membelamu? Aku masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang BU-RUK!”

Minhyuk mengepal kuat telapak tangannya agar amarahnya tertahan. “Cukup sampai di sini!” geram Minhyuk. “Kau benar-benar tidak punya kata-kata terakhir, hah?” Minhyuk kembali memainkan pisaunya di sekitar perut Hyuna.

“YA, KALIAN BERDUA! Lebih baik menyerahkan diri karena tidak ada jalan lain untuk kalian keluar!”

Jonghyun mendengus kesal. Tanpa babibu mengacungkan pistolnya ke arah Jinki dan menekan pelatuknya.

DOR!

“AAAAAAA!” spontan Hyuna berteriak seraya memejamkan matanya.

Selongsong peluru tepat mengenai daerah perut seorang namja. Jinki yang memejamkan mata begitu mendengar suara ledakan itu membuka matanya perlahan. Nafasnya seakan memburu dengan sesuatu yang terjadi sekarang. Spontan dia berlari menghampiri Jungshin yang terkapar lemas, berlari mendahului Yonghwa.

“Ya, Lee Jungshin! Bertahan!” Jinki mengangkat kepala Jungshin dan merebahkannya di atas pangkuannya

Jungshin menekan perutnya sendiri, berusaha menahan sakitnya luka yang diakibatkan kakak tirinya sendiri.

“J…jonghyun hyung! Jeb..al…aahhh..”

Jonghyun hanya berdiri terpaku. Pandangannya kosong mengarah pada Jungshin. Tangannya melemas hingga pistol yang tadi dia genggam erat terlepas dari tangannya. Tidak ada bedanya dengan Jonghyun, Minhyukpun hanya terdiam. Nafasnya terasa tercekat melihat adiknya layaknya sedang bertarung nyawa.

Suasana berubah hening. Hanya suara tangisan Hyuna yang memenuhi ruangan.

Yonghwa ikut berjongkok, menggantikan tangan Jungshin yang menutup perutnya. “Ini yang kau mau dari kalian, hah?” tanya Yonghwa menengadahkan kepalanya bergantian pada Jonghyun dan Minhyuk. Namun tidak ada respon dari keduanya.

“Kau Minhyuk! setelah membunuhmu ayahmu, kau juga mau membunuh adikmu?”

Semua kepala –tak terkecuali Jungshin- mengarah pada Yonghwa. Pernyataannya barusan membuat suasana kembali hening. Tangan Jungshin yang bersimbah darah menggenggam erat pergelangan Yonghwa. Meminta penjelasan.

“H…hyung? Jelaskan!” pinta Jungshin.

Yonghwa memandang Jinki yang juga berjongkok di dekatnya. Jinkipun mengangguk. Yonghwa menggenggam tangan Jungshin dan siap membeberkan sesuatu yang selama ini tidak diketahui siapapun kecuali instansi terkait.

“Selang beberapa hari setelah ibumu meninggal, ayahmu tewas dibunuh!” kata Yonghwa telak. Yonghwa kembali mengambil nafas. “Dibunuh oleh kakakmu sendiri!”

Pandangan Jungshin beralih pada Minhyuk yang bola matanya bergerak tak tentu arah. Pancaran kegelisahan tergambar di wajah Minhyuk. gelisah karena hal yang dia tutupi selama ini dikuak dan celakanya di depan orang yang paling tidak ingin dia ketahui kebenarannya.

“Kau tidak pernah mendengar ini karena kepolisian menutupinya. Minhyuk masih kecil dan mereka berusaha melindunginya. Aku tahu ada sebab dia melakukannya. Iya kan, Minhyuk?” Yonghwa memandang datar mata Minhyuk.

Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Minhyuk. bingung apa yang mesti dia lakukan.

“Kau masih tetap akan bungkam? Setelah keluar dari rumah sakit jiwa tiga tahun yang lalu, kau masih berkilah kalau kau tidak mengingatnya. Polisi boleh saja mempercayaimu, percaya kalau jiwamu sakit. Tapi tidak denganku, Minhyuk! Kau memang sengaja melakukannya. Aku tahu kau hanya berpura-pura.”

Yonghwa dan Minhyuk saling pandang, memancarkan kebencian yang belum pudar di antara mereka.

Minhyuk menghela nafasnya. “Dia seringkali mabuk. Berusaha melupakan eomma yang menurutnya tega pergi meninggalkannya, menceraikannya.

Aku muak menjadi bahan pelampiasan appa. Appa semakin sering menyiksaku tanpa alasan. Menyulut rokoknya ke tanganku, memukul punggungku berkali-kali dengan tongkat kayu, bahkan hampir tiga hari appa mengurungku di kamar tanpa makanan dan minuman. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku setelah kalian berdua pergi, Jungshin!”

Bahu Minhyuk terlihat jelas bergetar hebat. Tangannya yang menggenggam pisau dibiarkan menggantung bebas, sedangkan sebelahnya menutupi wajahnya sendiri yang diyakini orang-orang di sana kalau Minhyuk sedang menangis. Minhyuk melepas tangannya dan membiarkan wajahnya yang sembab dilihat orang lain.

“Kau sempat bertanya padaku kenapa aku lebih memilih appa ketimbang kau dan eomma, kan? Karena appa mengancamku! Dia mengancam akan membunuh kita kalau aku ikut dengan kalian. Brengsek! Ternyata aku hanya jadi bahan pelampiasan emosinya!”

Wajah sedih itu seketika berubah menjadi wajah penuh amarah. Tiba-tiba dia berjalan mendekati Hyuna dan menarik kuat-kuat rambutnya hingga Hyuna terpaksa mendongakkan wajahnya, memperlihatkan lehernya yang luka karena ulah Minhyuk.

“Aku membunuhnya seperti ini!”

Tangannya yang memegang pisau bertingkah seolah dia benar-benar akan menggorok leher Hyuna.

“Bahkan kepalanya saja belum putus!” Minhyuk berkata seakan belum puas dengan apa yang dilakukannya dulu.

“Kau…kau itu psikopat, hyung! Hhhh! Kau begini demi.. aku? Nonsense! Kau melakukannya hanya untuk.. aw.. untuk kepuasanmu, kan?”

Minhyuk tertawa sarkastik. Air mata masih terlihat menempel di pipinya.

“Sepertinya iya!” Minhyuk menoleh dan menyeringai pada Jonghyun. “Dan kakak tirimu juga menikmatinya! Menikmati pekerjaannya di pelelangan ikan.”

Jonghyun yang tadinya hanya diam tercengang mendengarkan kisah pilu Minhyuk mulai bereaksi. “Apa maksudmu?”

“Tidak perlu berpura-pura tidak tahu, hyung. Kau suka kan dengan apa yang kita lakukan?”

“Rasanya menjijikan memanggil kalian ‘hyung’ be…begitu tahu kelakuan kalian yang sebenarnya. Arrgh..hh..!” Jungshin lagi-lagi mengerang kesakitan.

Minhyuk menjulurkan pisaunya pada tiga orang yang sedang berjongkok itu. “Kalian pikir kita semua bisa keluar dari sini? hah, jangan harap! Karena aku akan menghabisi kalian semua, termasuk diriku sendiri!”

DOR!

Peluru dari pistol yang Jonghyun pegang tepat mengenai pisau Minhyuk hingga pisau itu terpelanting Jauh. Minhyuk langsung menatap nanar Jonghyun. Tangannya berusaha meraih pistol yang dia selipkan di belakang punggungnya, tapi Jonghyun menodongkan pistolnya ke kepala Minhyuk. terpaksa Minhyuk mengangkat tangannya.

“Jangan samakan aku denganmu, Kang Minhyuk! aku benar-benar menyayangi Jungshin seperti adik kandungku sendiri! Aku berlaku seperti ini memang karena Jungshin, bukan kesenangan yang kau maksud.”

 

 

***

 

 

“Hyung, kalau sudah besar, Minhyuk hyung ingin menjadi apa?” tanya Jungshin yang duduk di pangkuan ayahnya.

“Aku ingin menjadi seperti appa!” sahut Minhyuk di pelukan ibunya.

“Kenapa kau mau menjadi seperti appa?” suara berat itu menyapu rambut jungshin.

“Aku ingin membuat rumah untuk appa, umma, dan Jungshin!” kata Minhyuk seraya menghitung dengan jari mungilnya.

Sang umma mengacak rambut anaknya yang polos itu sambil tersenyum hangat. “Memangnya kau tidak mau tinggal serumah dengan kami?”

Sang ayah mengangkat Minhyuk dari pelukan sang ibu dan mendudukkannya di pangkuannya seperti Jungshin.

“Ingat! Sebagai kakaknya, kau harus menjaga Jungshin selagi kami tidak ada, arachi?”

“Memang appa umma mau ke mana?” tanya Jungshin.

Sang ayah tersenyum pada Jungshin. “Sewaktu-waktu, appa dan umma bisa saja pergi untuk waktu yang sangaaaaaaaaaaat lama!”

“ANDWAE!” seru Jungshin dan Minhyuk serempak.

Sang ibu gantian mengangkat Jungshin ke dalam pelukannya. “Tentu saja kita pasti bertemu lagi.”

Minhyuk tiba-tiba mengangguk mantap. “Baiklah! Aku berjanji akan menjaga Jungshin karena aku sayang padanya!”

“Yaksok?”

“Yaksok!” Minhyuk menyambut uluran kelingking ayahnya dengan kelingking mungilnya.

Minhyuk memandang lurus  ke depan dengan bayangan masa lalunya yang tiba-tiba saja muncul. Tak terasa air matanya menetes. Ditekuk kedua lututnya dan memeluknya erat di pojokan ruangan kosong 3x3m.

“Umma.. appa..! Aku tidak bisa menjaga Jungshin dengan baik! Apa yang harus aku lakukan?” katanya lirih. Kini dia benar-benar menyesali sesuatu.

Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya. Di bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah jeruji ruangannya.

“YA! Aku mau ke toilet!”

 

 

 

“Nanti aku jemput!”

“Oke! Oppadeul, gomawo!” kata Hyuna seraya membuka pintu mobil Yonghwa.

Jinki yang tadinya duduk di belakang langsung pindah ke depan, mengisi jok depan yang Hyuna tadi duduki.

“Dia sering ke sini, Yong?”

“Begitulah! Seminggu sekali.”

“Hmmm! Sudah satu bulan ternyata!” gumam Jinki seraya memandangi punggung Hyuna yang makin menjauh. “Boleh juga!”

“Apanya yang boleh juga?”

“Hyuna!”

“Maksudmu?”

“Dia cantik, baik, tegar! Cocok dengan tipeku!” kata Jinki. Spontan Yonghwa menoyor kepala Jinki. “Ya, jangan sepupuku! Punya sahabat sepertimu saja sudah bikin aku pusing, ini lagi sepupu ipar. Langkahi dulu mayatku! Lagi pula Nicole mau kau kemanakan?”

“Cih! Kau tidak memberitahuku kalau sekretarismu itu sudah tunangan dengan Kibum si anak direktur.”

“Kekeke, kau tidak tanya!”

Yonghwa kembali menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankannya dengan kecepatan standar.

“Kita mau ke mana?” tanya Jinki.

“Menjenguk seseorang!”

 

 

 

Hyuna berjalan dengan hati-hati di atas rumput yang sedikit becek akibat hujan deras yang turun semalam. Tangan kanannya memegang erat sebuket lili putih.

“Annyeong!” sapa Hyuna.

Hyuna meletakkan bunga itu di atas gundukan tanah yang berada tepat di depannya. Diapun bersimpuh dan mulai melakukan ritual yang biasa dia lakukan jika berkunjung ke sana. Tak lupa dia mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar gundukan tersebut.

Selesainya, Hyuna merebahkan diri di samping gundukan itu, menatap langit cerah tanpa awan yang saling berkumpul, tidak peduli rumput yang basah akan mengotori bajunya. Wajar jika Hyuna tersenyum karena cuaca hari ini berbanding terbalik dengan cuaca kemarin.

“Jungshin-ah, aku cuma bisa mendapat medali perak. Maaf, ya! Aku sudah berusaha keras!”

Tidak ada yang menyahut ucapannya, tapi yeoja itu tetap saja berbicara seolah seseorang siap mendengarkannya kapan saja.

“Hey, terima kasih kau mau datang menjengukku. Sekalipun hanya di dalam mimpi, aku senang. Rasanya kau benar-benar menemuiku. Lain kali kalau mau datang bilang-bilang dulu, kekeke!” Hyuna terkekeh karena ucapannya sendiri yang memang tidak masuk akal.

Hyuna bangkit dari tidurnya, mencoba berdiri tapi rasanya enggan meninggalkan tempat itu.

“Aku pergi dulu, ya! Jungah bisa-bisa membunuhku kalau aku tidak cepat-cepat ke rumahnya sekarang.”

Hyuna bangkit berdiri, menepuk pakaiannya dari rumput-rumput basah yang menempel.

Bye! Saranghae!”

 

Flashback

 

Yonghwa bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Hyuna dan melepas ikatannya. Entah kenapa Minhyuk hanya diam mematung, tak ada bedanya dengan Jonghyun. Dan hal ini tentu dimanfaatkan Jinki untuk memanggil polisi yang berjaga diluar untuk mengamankan dua orang tersebut melalui alat komunikasi yang sengaja dia selipkan di balik kerah kemejanya.

Hyuna berjalan tertatih menghampiri Minhyuk. Luka goresan yang dia dapat masih terasa sangat sakit. Namun ia sadar rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dialami Jungshin.

“Kau harus bertahan, Jungshin!”

Tangan Hyuna menggenggam tangan Jungshin yang bersimbah darah, tak kalah eratnya dengan genggaman Jungshin.

“Jangan m..menangis!” Tangan kiri Jungshin berusaha dengan keras meraih wajah Hyuna dan menghapus air matanya, meninggalkan noda darah di wajah yeoja itu. “Aku tidak ingin k.. aarg.. kau men..menangisiku!” kata Jungshin terbata-bata.

“Jebal, jangan tinggalkan aku!” Hyuna sendiri bingung kenapa dia bisa memohon seperti itu, seakan dia tidak mau kehilangan orang yang dia cintai untuk kedua kalinya. Dan itu cukup membuat hati Jungshin tenang melihat kekhawatiran Hyuna.

“Saranghae!” gumam Jungshin lirih. Merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk berbicara.

Wajah Hyuna seketika memerah.

“Nad- Jungshin?” Hyuna menggoyang-goyangkan tubuh Jungshin. “Ya, ireona!” Jungshin tetap tidak bergeming walaupun matanya tetap saja terbuka. Jinki yang menyadari sesuatu langsung memeriksa bagian pergelangan tangan kiri serta leher Jungshin. Namun hanya desahan pasrah yang keluar dari mulut Jinki. Tangannya dengan sigap menutup kedua mata Jungshin.

“ANDWAE!”

Suara teriakan Hyuna cukup mengagetkan orang-orang di sana. Minhyuk yang menyadarinya, kembali menangis. Dia mulai merasa menyesal sedalam-dalamnya. Dan dia hanya bisa pasrah ketika polisi menariknya.

Dan Jonghyun? Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat dua orang polisi menuntunnya berjalan dengan kedua tangan yang sudah diborgol. Namun tiba-tiba dia memukul salah seorang polisi tersebut hingga jatuh, lalu merebut paksa pistol dari polisi satunya.

DOR!

Suara tembakan itu memancing perhatian. Seorang namja terkapar dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya. Nyawa Lee Jonghyun hilang dalam sekejap dari tangannya sendiri.

 

Flashback end

 

 

Jinki dan Yonghwa keluar dari dalam mobil. Beberapa orang tampak menundukkan kepalanya begitu mereka berdua lewat.

“Kami ingin menje…”

Belum selesai Yonghwa menyelesaikan kalimatnya, seorang berseragam polisi tiba-tiba menghampiri mereka dengan panik.

“Mm..minhyuk..”

Baru saja polisi itu menyebut nama Minhyuk, Yonghwa dan Jinki berlari ke arah yang ditunjuk polisi itu, menuju kamar mandi yang dikhususkan untuk tahanan.

“Astaga!” Jinki berbalik seraya menepuk dahinya begitu melihat sesuatu yang mengejutkan. Yonghwa hanya diam membisu, memandang tubuh Minhyuk yang sudah kaku. Minhyuk sudah tewas karena gantung diri.

Ironis.

 

-end-

 

akhirnya kelar juga.. makasih buat yang selama ini nyimak. maaf kalo ff nya -selalu- ga memuaskan. maklum, ini ff pertama yg genre nya model begini. maaf juga kalo endingnya ga sesuai harapan~

Jangan lupa komennya ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

23 thoughts on “Bloody Brothers [chapter 5 – end]

  1. woaah ironis banget ending nya, ketiga saudara itu malah tewas semua T_T
    hati2 tuh nanti malah hyuna yg jadi gila lg *lho sampe tiap pekan datengin makam jungshin

  2. Ampun deh menyedihkan banget minhyuk gantung diri. Hiks😥

    Jonghyun juga bunuh diri. Ckck. Suamiku… *jedot-jedotin kepala ke tembok*

    Keren deh endingnya meskipun sedih. Unpredictable! b^^d

  3. Ampun deh menyedihkan banget minhyuk gantung diri. Hiks😥

    Jonghyun juga bunuh diri. Ckck. Suamiku… *jedot-jedotin kepala ke tembok*

    Keren deh endingnya meskipun sedih. Unpredictable! b^^d

  4. hikhikhik…….. bkin nangis neh ending’y. bner2 dh. JongHyun syang bgt y ma JungShin, mpe lgsg bnuh dri d tmpat. ah,,,,,, cman byangin za lgsg nangis!!!!!!😥 dikirain JungShin bkaln slmet trus 2 hyung’y d pnjra. bner2 akhir yg g biasa, sush ktebak!!!!!
    daebak lh thor ff’y!!!!😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s