No One Get the Ideal [Chapter 8]

Author : nayom

Rating : G

Length : Chaptered

Genre : Romance, Friendship

Cast :

  • Lee Jonghyun
  • Kang Minhyuk
  • Jung Yonghwa
  • Lee Jungshin
  • Kwon Yuri SNSD
  • Im Yoona SNSD
  • Seo Joohyun SNSD

Disclaimer : Ide dan alur cerita milik saya. Mohon maaf kalau ada kesamaan alur dengan cerita lain.

Note : maaf ya lama update-nya🙂 disini jonghyun mulai merasa bersalah sama yuri, nama yeoja pesek terungkap + jungshin yang ditinggal lagi, ada yongseo 1st date, dan minhyuk yang mulai galau (?), kkk. don’t forget to put a comment aaand enjoy~ ^^

*********

Yoona dan Jonghyun malam itu masih terduduk di atas sepasang ayunan di taman kota. Mereka membicarakan hal putusnya Yoona dan Taecyeon.

“Apa alasanmu putus dengannya?”

“Itu dia, Jonghyun. Kurasa hanya kau yang tahu masalah ini. Itu karena ibu Taecyeon..” Yoona menghela napas sejenak.

“..adalah ibuku.”

“Mwo?” Jonghyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia tahu ibu Yoona sudah sejak lama meninggalkan Yoona dan ayahnya, tepatnya saat Yoona berusia lima tahun. Yoona ingin sekali bertemu ibunya, ia sering bilang begitu pada Jonghyun dulu. Jonghyun tidak menyangka kalau akhirnya Yoona akan bertemu ibunya dengan cara seperti ini.

“Ne. Saat keluarga Taecyeon datang ke rumah kami, ayahku terlihat sangat terkejut. Awalnya ia terlihat bersemangat untuk menyambut mereka, tapi kemudian entah kenapa jadi berubah pucat. Ibu Taecyeon, kata Taecyeon ibunya juga tidak sabar bertemu denganku. Tapi entah mengapa ibunya jadi menolak untuk banyak bicara.”

Yoona melanjutkan, “Saat mereka sudah pulang, ayahku kemudian bilang bahwa ibu Taecyeon adalah ibuku. Jelas aku sangat terkejut. Aku tidak tahu perasaan apa yang harus kumiliki. Entah aku harus senang, atau marah, atau kecewa. Satu hal yang kulihat dari ayahku adalah bahwa dia merasakan ketiga perasaan itu.”

“Jadi ayahmu yang melarang kemudian?”

“Tidak, Jonghyun-ah. Dia memberiku kebebasan untuk memilih. Aku sendiri merasakan perasaan yang sama dengan ayahku, senang, marah, kecewa juga. Maka besoknya saat Taecyeon mengantarku ke kampus, kukatakan padanya bahwa aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengannya.”

Jonghyun tahu seharusnya ia bersimpati mendengarkan cerita Yoona, tapi ia tidak dapat menahan rasa senangnya mendengar Yoona memutuskan hubungannya dengan Taecyeon. Jonghyun tahu itu jahat karena Taecyeon adalah temannya sendiri, tapi mau bagaimana lagi nampaknya takdir hidup bersama Yoona memang tidak berpihak pada Taecyeon.

“Dia marah mendengar itu. Kukatakan padanya bahwa ibu kami sama, dia tidak terima. Dia bilang itu tidak masalah karena aku dan dia berarti hanya saudara tiri. Aku tetap menolak karena, kau tahu, beban moral dan perasaan yang aku dan ayahku tanggung tidak dapat dijelaskan. Kami senang bisa bertemu lagi dengan ibuku, tapi kami juga marah karena ternyata dia telah membentuk keluarga baru, kami juga kecewa karena dia berpura-pura tidak mengenali kami sebagai orang-orang yang pernah dia cintai.”

Barulah setelah menyelesaikan cerita tentang ibunya, Yoona menangis. Jonghyun tahu Yoona tidak akan menangis untuk Taecyeon, dari dulu ia tahu hanya cerita tentang ibunya yang bisa membuat Yoona menangis.

Jonghyun bangkit dari ayunannya dan berdiri di belakang Yoona. Ia mendorong ayunan Yoona, mencoba menghibur teman kecilnya. Sahabat atau hubungan apa pun, Jonghyun tidak peduli. Yang jelas, ia akan selalu menghibur Yoona.

***

Keesokan harinya, tibalah malam perayaan ulang tahun kampus. Gedung pertunjukkan sederhana yang mereka pakai telah disulap menjadi gedung opera yang ramah nan elegan dengan hiasan merah marun membalut gelapnya ruangan itu. Satu per satu menampilkan pertunjukkan terbaik mereka, termasuk juga CN Blue. Itu terlihat dari antusias penonton menyambut CN Blue saat turun dari panggung. Yup, CN Blue sudah cukup terkenal di kalangan penikmat musik band juga di kalangan para yeoja, terutama di lingkungan kampus.

Satu hal yang paling menarik perhatian Yonghwa, Jonghyun, Minhyuk, terutama Jungshin adalah sebuah banner besar yang bertuliskan ‘Jungshin-oppa! Kau keren sekali!’ yang menyita cukup banyak perhatian CN Blue sedari mereka tampil. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata pembawa banner itu hanya dua orang yeoja bukan sekelompok besar yeoja. Mereka berdua adalah yeoja junior, cukup sering Jungshin lihat untuk bisa ia ingat, si wajah dimsum dan si hidung pesek.

Seketika kedua yeoja itu mendekat ke arah CNBlue, Jungshin berpikir, “Ehm, anak aneh itu ternyata fans ku, kkk.”

Namun kemudian pikirannya berubah sendiri saat kedua yeoja itu justru berhenti di depan Yonghwa yang berdiri di depan Jungshin.

“Jungshin-oppa!”

Yonghwa bingung melihat tingkah kedua junior di hadapannya, ia tahu pasti kedua yeoja itu baru menjadi fans CN Blue. Tanpa menjawab apapun, Yonghwa hanya tersenyum dan menggerakkan kepalanya seakan memberi isyarat untuk bicara dengan Jungshin, yang dimaksud adalah Jungshin yang sebenarnya. Yonghwa kemudian melenggang pergi meninggalkan kedua junior itu dengan ekspresi bingung, juga Jungshin yang sama bingungnya.

“Hm?”

“Kenapa Jungshin-oppa suruh kami bicara denganmu? Kau bodyguard-nya? Atau anak buahnya?” si yeoja berhidung pesek yang bicara.

“Ne?” meski berusaha tetap sopan, Jungshin tak dapat menyembunyikan nadanya yang meninggi.

“Siapa namamu?”

Jungshin berpikir sejenak lalu menjawab, “Yonghwa.”

“Oh begitu. Mungin maksud Jungshin-oppa supaya kami menyampaikan sesuatu untuknya melalui kau, Yonghwa-oppa.”

Si yeoja berwajah dimsum baru kemudian bicara, “Keluarkan cokelatnya, Hyerim.”

“Ah. Ini untuk Jungshin-oppa. Gomawoyo.”

Kedua yeoja itu kemudian meninggalkan Jungshin yang berpikir, “Cokelatnya kan untuk Jungshin-oppa, bukan untuk Yonghwa-oppa, kkk.”

***

Tok. Tok. Tok.

Terdengar bunyi ketukan di balik pintu ruang tunggu SNSD. Sunny yang sedang asik memakan cokelat meraih kenop pintu dan memutarnya. Tampak sosok yang sudah ia kenal hadir dari balik pintu.

“Yong-seobang!”

Teriakan Sunny mengundang riuh teriakan maupun siulan dari teman-teman SNSD-nya.

“Yong-seobang datang!”

“Hyun-buin, kau dicari suamimu!”

“Hyunnie, suamimu sudah kangen!”

Yonghwa yang awalnya percaya diri mendatangi Seohyun jadi ciut seketika. Ia hanya mengangguk dan tersenyum sambil sesekali menjawab ‘ne’ sampai Seohyun mendatangi Yonghwa.

“Ada apa, Oppa?”

Yonghwa menjawab Seohyun pelan, “Ayo kita pergi.”

“Pergi? Maksudnya pulang?” Seohyun jadi ikut berbisik.

Mendengar kedua sejoli itu saling berbisik, unnie-unnie SNSD semakin semangat menggoda Yonghwa dan Seohyun.

“Aduh, segala bisik-bisik.”

“Mereka lupa ada kita.”

Yonghwa semakin tidak nyaman digoda oleh para yeoja tersebut meski mereka seumuran, “Hyun, bawa saja tasmu. Kajja.”

***

Tok. Tok. Tok.

Lagi-lagi terdengar bunyi ketukan di balik pintu ruang tunggu SNSD. Sunny yang masih asik memakan cokelat meraih kenop pintu dan memutarnya. Sekali lagi, tampak sosok yang sudah ia kenal hadir dari balik pintu. Namun, respon Sunny berbeda dari sebelumnya, kali ini lebih sopan.

“Ada apa, Jonghyun-ssi?”

“Ehm, aku mencari Y..”

Jonghyun sudah menyebut kata’yu’ sebelum tampak dua pasang mata melihatnya, Yoona dan Yuri. Barulah ia teringat akan Yuri, Yuri yang pernah ia cium malam itu. Apa yang akan Yuri pikirkan kalau ia menyebut nama Yoona bukan Yuri, mungkin Yuri akan marah. Atau sekarang Yuri sudah marah? Jonghyun tidak yakin, ia tidak pandai membaca ekspresi kecuali ekspresi marah Minhyuk. Jonghyun masih bergulat dengan pikirannya saat seseorang menyeruak masuk membuat dirinya tersingkir.

“Yuri-ya! Kau ada urusan denganku!” seru Minhyuk tanpa basa-basi.

“Aku? Urusan apa?” Yuri menunjuk dirinya sendiri.

“Palli-ya! Bawa tasmu.”

Begitu Yuri mengambil tasnya, Minhyuk segera menyambar tangan Yuri dan membawanya keluar ruangan meninggalkan tanya di benak Jonghyun, “Apa barusan Minhyuk sedang marah?”

“Berarti kau cari Yoona kan, Jonghyun-ssi?” Sunny memecah pikiran Jonghyun.

“Ah, ne.”

Jonghyun memberi senyum pada Yoona. Yoona mengambil tasnya dan mengikuti langkah Jonghyun keluar dari ruangan itu, meninggalkan tanya di benak unnie-unnie SNSD-nya.

“Kenapa sedari tadi namja-namja CN Blue datang kesini?”

***

Jungshin melenggang santai menuju ruang tunggu CN Blue. Pikirannya sudah dipenuhi rencana-rencana yang mungkin akan ia dan hyungdeul-nya lakukan setelah ini, pesta! Ia berpikir tentang rumah siapa yang akan ‘dikunjungi’ malam ini, makanan apa yang akan mereka buat, bahkan Jungshin sudah bergulat sendiri memilih antara memasak ddeokbokki atau spaghetti dan membayangkan bagaimana ia dan hyungdeul-nya  akan berdebat perkara makanan.

Ia membuka pintu dan berseru, “Bagaimana pesta kit..”

Wuiss~

Bukan yang Jungshin harapkan, ia hanya mendengar angin bertiup menyambutnya. Hyungdeul-nya sudah lenyap. Ia tak tahu kemana mereka pergi, yang ia tahu mereka sepertinya mulai –atau sudah– lupa akan dirinya.

***

“Ya! Minhyukie! Kenapa kau mencariku? Aku tidak berhutang apa-apa kan? Uang yang malam itu sudah kukembalikan.” tanya Yuri setengah berteriak saat Minhyuk masih menuntunnya hingga keluar dari gedung pertunjukkan.

“Iya, sudah kau kembalikan.” jawab Minhyuk santai.

“Lalu apa lagi? Sampai menarikku seperti ini.” Yuri menggerak-gerakkan pergelangan tangannya yang masih dipegang Minhyuk.

Minhyuk segera melepasnya, “Ehm. Aku yang mau pinjam uang sekarang.”

“Oh..” Yuri mengeluarkan dompet dari tasnya, “Bilang saja dari tadi, tidak perlu malu-malu. Perlu berapa?”

“5.000 won saja.”

“Ini.” Yuri menyerahkan sejumlah uang ke tangan Minhyuk.

Kata Minhyuk kemudian, “Kau naik bus juga kan? Ayo kita ke halte bersama.”

“Ehm. Kajja.”

Terlihat dari ekspresi Yuri bahwa ia sedikit berpikir sebelum mengiyakan ajakan Minhyuk. Minhyuk tahu itu pasti karena Jonghyun. Biasanya Yuri pulang bersama Jonghyun dengan motornya, tapi kali ini tidak. Sejak kejadian malam kemarin, Minhyuk tidak pernah melihat Jonghyun dan Yuri bertegur sapa lagi. Bisa jadi karena mereka sama-sama sibuk mempersiapkan penampilan masing-masing di perayaan ulang tahun kampus, tapi Minhyuk pikir lebih baik memang Yuri tidak usah bersama Jonghyun lagi mengingat bagaimana Jonghyun membuat Yuri yang ceria menangis.

-Flashback-

Minhyuk hendak pergi ke toilet saat ia melihat Yonghwa mengetuk pintu ruang tunggu SNSD. Ia tahu hyung-nya yang satu itu pasti ingin menemui Seohyun. Sedih rasanya melihat hyung sendiri kini berdiri berjajar dengan yeoja impiannya dan mengetahui bahwa mereka saling menyukai atau mungkin mencintai. Minhyuk hanya melihat Yonghwa dan Seohyun yang nampak bercakap-cakap di pintu, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula untuk ia melakukan sesuatu untuk memisahkan Yonghwa dan Seohyun, ia kan bukan siapa-siapa. Mungkin Seohyun hanya sebatas tipe ideal, pikirnya. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju toilet.

Sekembalinya dari toilet, kini Minhyuk melihat Jonghyun yang mengetuk pintu ruang tunggu SNSD. Kenapa Jonghyun-hyung juga datang kesitu seperti Yonghwa-hyung? Apa ia mencari Yuri? Atau Yoona? Jangan-jangan benar Yuri? Rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya memperhatikan Jonghyun.

“Ada apa, Jonghyun-ssi?”

“Ehm, aku mencari Y..”

Terdengar oleh Minhyuk, Jonghyun menyebut kata ‘yu’ sebelum akhirnya terdiam sejenak.

“Hyung, jangan bilang kau mau cari Yoona, mau kau apakan Yuri?” kata Minhyuk dalam hati.

Dalam sekejap, muncul ide di benak Minhyuk yang membuatnya berjalan menyeruak masuk seenaknya.

“Yuri-ya! Kau ada urusan denganku!”

-Flashback end-

Sambil berjalan bersama Yuri menuju halte, Minhyuk jadi teringat akan rasa penasarannya tentang hubungan Yuri dan Jonghyun. Awas saja kalau Jonghyun-hyung sudah macam-macam dengan Yuri, ia sepertinya akan marah besar meski seluruh dunia juga tahu bahwa ia tak bisa marah. Tunggu, mengapa Minhyuk jadi ingin melindungi Yuri? Ah, mungkin itu karena Yuri sudah ia nobatkan menjadi sahabatnya.

***

“Oppa, untuk apa kita ke taman malam-malam begini?” tanya Seohyun pada Yonghwa saat mereka sudah turun dari bus. Ia kira Yonghwa akan mengantarnya pulang saja malam itu.

“Sudah, ikut saja.”

Yonghwa kemudian berjalan menuju kios kecil di dekat gerbang taman.

“Chogiyo, Ahjussi. Apa kami masih bisa menyewa sepeda?”

Ahjussi yang tampak sudah renta itu berhenti merapikan kiosnya dan melihat Yonghwa, “Joseohabnida, kiosnya sudah tutup. Besok pagi kalian bisa datang lagi.”

“Aduh Ahjussi, sayang sekali ya..”

Baru saja Seohyun mau mengajak Yonghwa pulang, Yonghwa sudah berjalan mendekati Ahjussi itu. Ia tampaknya akan membisikkan sesuatu.

Setelah nampak berbisik, Ahjussi itu akhirnya mengizinkan Yonghwa menggunakan satu sepeda di kiosnya.

“Kalian pakailah yang ini karena yang satu lagi akan saya pakai untuk pulang, sedangkan yang lain sudah saya masukkan ke gudangnya. Tidak apa-apa kan pakai satu saja?”

“Ah, ne. Gwenchana, Ahjussi. Jeongmal kamsa hamnida.” Yonghwa berterima kasih sambil membungkuk membuat Seohyun jadi mengikutinya.

“Kembalikan saja besok pagi di kios ini, aku akan pulang. Kalian bersenang-senanglah, jangan sia-siakan waktu hidupmu yang tersisa.” Ahjussi itu berlalu sambil memegang bahu Seohyun dan melihat Seohyun dengan tatapan simpati. Seohyun hanya membungkuk dan membalas senyum Ahjussi itu.

Setelah Ahjussi itu berlalu, Seohyun bertanya pada Yonghwa,”Apa yang kau katakan padanya, Oppa? Sampai ahjussi itu melihatku iba.”

“Kubilang ini mungkin akan jadi hari terakhir hidupmu dan kau sangaaaat ingin bersepeda, jadi dia mengizinkan.” jawab Yonghwa enteng.

“Oppa! Kau mau aku mati?!”

“Mana mungkin aku mau kau mati. Lagipula kan kubilang ‘mungkin’.”

“Aish.”

“Sudahlah, ayo naik.” Yonghwa sudah bersiap di atas sepeda berkeranjang itu.

“Kau mau memboncengku?”

“Aku tahu kau berat, tapi itu tidak masalah bagiku. Atau kau yang mau memboncengku?” goda Yonghwa.

“Aish, Oppa.”

Seohyun yang duduk di belakang Yonghwa dengan malu-malu membuat Yonghwa semakin berpikir bahwa yeoja ini sungguh manis. Yonghwa tersenyum-senyum sendiri begitu Seohyun duduk menyamping di belakangnya, ia tidak tahu bahwa yeoja yang ia bonceng juga tersenyum sama merekahnya.

***

Jonghyun dan Yoona berada di sebuah restoran kecil dekat SMP mereka dahulu. Restoran ini dahulu adalah salah satu dari beberapa tempat favorit mereka berdua. Sudah lama sekali Jonghyun tidak makan disitu, mengingat dirinya yang sempat pindah ke Busan beberapa tahun yang lalu.

“Kenapa kau bawa aku kesini?” tanya Yoona.

“Hanya ingin merasakan ramen di sini lagi.”

Yoona terdiam sejenak lalu bicara, “Jonghyun-ah, sudah kubilang tidak usah menemaniku atau menghiburku atau melakukan hal-hal seperti itu padaku. Sekalipun aku setuju kau ajak kemana-mana, bisa saja kau hanya jadi pelampiasanku selama aku dan Taecyeon tidak bersama.”

“Aku tahu kau dan Taecyeon tidak akan bersama lagi.” Jonghyun menanggapinya enteng.

“Jangan yakin dulu. Kami sudah hampir bertunangan, hal sepele tidak akan membuat kami putus begitu saja.”

“Untungnya, masalah kalian bukan hal sepele.”

Yoona sudah akan menjawab Jonghyun, tapi seorang Ahjumma sudah datang dan menanyakan pesanan mereka.

“Mau pesan apa?”

Jonghyun mengamati wajah Ahjumma itu, seperti mengenalnya. Sepertinya memang benar Jonghyun mengenalnya karena Ahjumma itu menyapa Yoona dengan akrab.

“Aigoo~ Yoona-ya! Kenapa baru datang lagi sekarang? Apa kemarin-kemarin kau sibuk?”

“Ah ne, Ahjumma. Maaf sudah lama tidak berkunjung.”

Jonghyun masih sibuk mencoba mengingat Ahjumma itu. Tiba-tiba ia teringat kembali akan Ahjumma tersebut, Ahjumma itu adalah pemilik restoran tersebut yang dahulu sangat dekat dengan Jonghyun dan Yoona.

“Ahjumma, apa kau ingat aku?” tanya Jonghyun begitu ia yakin kalau ia mengenal Ahjumma itu.

Ahjumma itu memicingkan matanya, berusaha mengingat wajah Jonghyun sampai Yoona angkat suara, “Dia Jonghyun, Ahjumma. Lee Jong Hyun.”

Ahjumma itu kemudian tampak lega telah mengingat Jonghyun, “Aigoo~ ini Jonghyun? Kau sudah besar ya sekarang. Sudah lama kau tidak datang kesini, Jonghyun-ah. Tidak seperti Yoona, ia sering sekali datang kesini.”

Jonghyun berpikir mengapa Ahjumma hanya mengingat Yoona tanpa mengingat dirinya. Ahjumma juga bilang bahwa Yoona sering datang ke restoran ini, restoran yang notabene menyimpan kenangan mereka berdua. Bukankah itu berarti Yoona masih mengingat Jonghyun selama ini sampai ia sering sekali datang ke restoran itu?

***

“Oppa, bagaimana kalau kita pulang sekarang? Aku sudah lelah.” kata Seohyun pada Yonghwa.

Mereka berdua telah mengelilingi taman berkali-kali sambil sesekali bercanda dan bernyanyi bersama. Mereka tampak menikmati taman itu meski sepi dan hanya diterangi lampu-lampu taman.

“Kalau begitu bersandar saja.” canda Yonghwa.

Meski bercanda, ia juga ingin Seohyun bersandar padanya. Tapi ia tahu Seohyun adalah seorang yang pemalu maka kemungkinan besar Seohyun tidak mau, ia tidak ingin memaksa.

“Bagaimana aku bisa bersandar? Nanti aku jatuh ke belakang.” Seohyun justru membalas candaan Seohyun.

“Ya! Seo Joo Hyun! Jangan pura-pura tidak tahu. Bersandar saja padaku kalau lelah.”

“Oppa, sudahlah. Ayo kita pulang, jangan bercanda lagi.”

“Bersandar padaku atau kita tidak akan pulang.”

Awalnya Yonghwa tidak ingin memaksa, tapi sepertinya sedikit pemaksaan diperlukan.

“Oppa! Kalau begitu kau juga tidak pulang, dong.”

“Ani, aku akan pulang.” Yonghwa menjawab.

Tambahnya, “Aku akan membawa sepeda ini, juga kau, ke rumahku. Lihat itu, gerbangnya sudah di depan. Kau tahu kan rumah kita berlawanan arah. Kau mau kita belok ke kiri –ke rumahmu– atau ke kanan –ke rumahku–?”

“Oppa!”

Seohyun bimbang sendiri. Ia tidak keberatan untuk bersandar pada Yonghwa, tapi ia malu mengakui bahwa dirinya ingin bersandar pada namja itu.

“Ya sudah, aku tidur dulu. Nanti bangunkan aku saat sampai rumah, rumahku ya bukan rumahmu.” kata Seohyun sambil merebahkan kepalanya bersandar pada punggung Yonghwa.

Lagi dan lagi, justru selalu, Yonghwa tidak bisa menahan luapan kegembiraannya saat bersama Seohyun. Ia mengayuh sepedanya meninggalkan taman menuju rumah Seohyun dengan senyum yang merekah sama seperti senyum yeoja yang duduk di belakangnya.

***

“Kenapa kau tidak jadi pulang?” tanya Yuri.

“Aku lapar. Aku kan tidak bawa uang, jadi harus pinjam uangmu.” Minhyuk beralasan.

Kenyataannya, Minhyuk membawa uang yang cukup untuk dirinya tidak seperti pengakuannya pada Yuri bahwa ia lupa membawa dompetnya. Ia hanya mencari alasan supaya Yuri bersamanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di benaknya.

“Kalau begitu bawa saja uangku, kenapa aku juga harus ikut?”

“Ya tidak apa-apa, Yuri..”

Minhyuk menelan ddeokbokki di mulutnya lalu bicara lagi, “Yuri-ya, ngomong-ngomong waktu itu kau menangis karena apa?”

Yuri tertawa dahulu sebelum menjawab, “Sejak kapan kau jadi orang baik yang penuh perhatian? Kau bukan Kang Minhyuk ya?”

“Aish~ sudah cerita saja.. Aku ini kan bukan orang asing, jadi kau bebas bercerita apapun padaku.”

“Sudahlah, Minhyuk-ah. Itu bukan perkara besar.” kata Yuri mencoba meyakinkan Minhyuk.

“Benar begitu?” Minhyuk memajukan sedikit wajahnya pada Yuri di hadapannya.

“Hm.” Yuri hanya mengangguk.

“Yuri-ya.. Aku punya seorang noona, dia pernah menangis seperti dirimu. Saat itu dia juga tak mau memberitahu masalahnya, sepertimu. Tapi kemudian dia cerita padaku, ternyata masalahnya tentang namja. Dia bilang, setelah menceritakan masalahnya, dia jadi lega dan tidak lagi terbeban.” kata Minhyuk yang kemudian menekuni ddeokbokki di hadapannya.

“Oke, Minhyuk. Kau sepertinya ingin sekali tahu alasannya.”

“Ya, tentu saja. Kita kan..” Minhyuk berhenti sejenak, seakan menelan ddeokbokki di mulutnya, sebelum melanjutkan, “..teman baik.”

“Kalau ada maunya saja, jadi teman baik.”

“Hehe.” Minhyuk hanya nyengir dengan eye-smile-nya.

Yuri menghela napas sejenak sebelum memulai ceritanya, “Benar, deh. Ini bukan masalah besar, hanya tentang seorang namja, sama seperti noona-mu.”

“Hm.” Minhyuk mengangguk, ia tahu namja yang diceritakan itu pastilah Jonghyun, “Lalu?”

“Namja itu.. dengan teman baikku.. err..”

“Kenapa? Berselingkuh?”

“Ya.. mungkin.. err.. tapi tidak berselingkuh juga..”

“Mungkin? Mereka kenapa?”

“Mereka berciuman.”

Minhyuk tidak terlihat terkejut mendengar hal itu, pasti, karena ia telah melihat sendiri.

“Di depanmu?”

“Bukan. Di belakangku.”

“Oh, di belakangmu, itu lebih menyakitkan.” Minhyuk bersikap seolah itu hal ringan.

“Aku sebenarnya tidak keberatan kalau mereka bersama, mereka berdua adalah teman baikku. Aku tidak keberatan kalau saja malam itu..”

“Malam itu?”

Oke, mulai dari bagian ‘malam itu’. Minhyuk tidak tahu mengenai apa yang terjadi ‘malam itu’.

“Malam sebelumnya.”

“Dia?” Minhyuk semakin penasaran.

“Dia menciumku.”

Kali ini Minhyuk benar-benar terkejut. Ia tidak terima Yuri  diperlakukan seperti itu oleh Jonghyun. Jonghyun membuat Yuri menangis saja sudah jadi alasan baginya untuk malas bicara dengan Jonghyun, ditambah lagi kenyataan bahwa Jonghyun mencium Yuri?

Minhyuk terdiam sejenak, alisnya mengernyit dan mulutnya sedikit menganga, saking terkejutnya. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya secara tiba-tiba. Cukup menimbulkan suara yang mengundang orang-orang di sekitar mereka menoleh.

“Kita harus temui Jonghyun-hyung sekarang.”

Yuri terkejut melihat Minhyuk yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan menyadari beberapa pasang mata yang menoleh ke arah mereka, “Untuk apa?”

Untuk apa? Minhyuk sejenak berpikir.

Ia berpikir untuk apa ia menemui Jonghyun, membawa Yuri pula. Kenapa ia bertindak begitu spontan? Perasaan yang ia rasakan juga aneh. Simpati? Kasihan? Marah? Atau.. cemburu?

Glek, Minhyuk menelan ludahnya. Itu kedengaran aneh, sangat aneh.

*********

16 thoughts on “No One Get the Ideal [Chapter 8]

  1. daebak !!!!!!
    ditunggu2,, akhir’y muncul jg ni ff.. hehehe
    yongseo so sweet bgt dech,, aq jg mw tuh d-bonceng yong oppa *plak
    yuri-minhyuk lutchu sanggat..
    lanjut lanjut lanjut author !!!
    jgn lama2 yaaaa..😀

  2. Wuah MinHyuk cemburu nih kayakx…. Ayo, Minhyuk mulai suka yuri ya ^^ ,marah bgt nih pas denger jonghyun perna xium yuri keke

    ahh yong balik choding ni.. Dy tuh emang choding.. Pintar y memanfaatkan situasi biar bisa2 dket Seo haha

    yoona jonghyun..OW ow suka deh ma mrk.. JongHyun ykin bgt ni yoona g akn blik ma taecyeon.. Trz knp yoona masi sering ketempat makan itu?dy jg g bsa nglupain jong y hehe

    poor magnae.. Smga km dpt jodoh biar g diabaikan lg ma hyungdeul nya

  3. itu yonghwa bikin alasannya kocak deh ahahaha
    udahlah pasangan paling so sweet hahaha
    jungshin selalu kasian hahaha, sabar oppa~
    hayoloh minhyuk, suka yuri yaaaa~
    jonghyun sama yoona aja ._. *maksa

  4. cieh yongseo deh, so sweet..
    Jonghyun: cinta lama bersemi kembali
    Jungshi: yang sabar yaaa
    Minhyuk: cieeeeeeeeeeeeeeeee yang suka sama yuri~

    Seruuu
    Nice ff
    Lanjutannya ditunggu

  5. Aku sukaaaaaaaa banget FF ini thor.., aku ngebut baca dari awal sampai sini.. hehehe…
    thor..kasian jungshin belum ada pasangannya tuh..hehehe…
    suka deh ceritanya mengalir gitu, trus bikin senyum-senyum sendiri.. =)
    nice FF..
    ditunggu lanjutannya yaa.. =)

    • yah Minhyuk udah nyerah ya sama seohyun? trs jadi penasaran Yuri sama siapa hihi

      mian ya unnie baru komen sekarang😥
      aku menanti part 9 ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s