[Author Lepas] Retaliation of Grudge – Chapter 2A

PART 1

 

 

Author  : Keynie^^ aka Jung Woon Min (Twitter : @weny28pooh)

Main Cast  : CNBLUE Lee Jonghyun, Han Jikyo (OCs)

Other Cast  : CNBLUE Jung Yonghwa, CNBLUE Lee Jungshin, CNBLUE Kang Minhyuk, Super Junior Cho Kyuhyun, Super Junior Choi Siwon, Super Junior Lee Donghae.

Rating  : PG-15

Length : Twoshoot.

Genre  : Thriller, Angst, Tragedy, Romance.

Disclaimer  : Alur dan ide cerita 100% ASLI pemikiran SAYA!

NB : Annyeong.. Ini part keduanya ^^ Mian lama update. Minggu pertama skolah banyak ketiban tugas dan ulangan T_T.. Dan tentang project FF “REGRET” aku ngga janji bisa nyelesainnya dengan cepat. Karena mulai senin depan, sekolahku memberlakukan bimbel tambahan buat kelas 3 sampai jam 4 sore sampai nanti menjelang ujian. Belum lagi aku harus bimbel jam 5 sampai jam 7 di tempat lain >,<. Tapi, aku akan usaha buat nyicil (?) FF “REGRET” sedikit-sedikit.. Hehe ^^

Happy reading ^^

 

***

Author POV

Minhyuk tersenyum senang. Setelah bujukannya, Jonghyun akhirnya mau makan. Meskipun tatapannya masih kosong.

“Aku kenyang.”, ucap Jonghyun pelan. Minhyuk mengangguk paham. Lalu menaruh piring dan gelas di meja samping kanan tempat tidur Jonghyun.

“Hyung, aku akan membereskan kamarmu ini. Hmm, kau boleh bersandar di tempat tidur dulu ya.. Jangan langsung tidur, semua makanannya belum turun ke perutmu. Arra?”

Jonghyun mengangguk, hal itu kembali membuat Minhyuk menyunggingkan senyumannya. Setidaknya Jonghyun mendengarkan dan mengerti omongannya.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Diruang tamu..

 

“Kau serius Jungshin-ah?”

“Ne, hyung.. Aku sangat ingin menangkap mereka berdua. Tapi, dengan kondisi Jonghyun hyung yang belum pulih benar sekarang, hal itu tidak mungkin ku lakukan. Kami tidak akan bisa menangkap seseorang sebelum ada yang melapor disertai bukti yang kuat.”

“Lalu, darimana kau yakin kalau mereka berdua pembunuhnya?”

“Aku tidak sengaja mendengar semuanya hyung..”

“Aku masih tidak paham maksudmu Jungshin-ah..”

Jungshin tersenyum penuh arti. Bersiap menceritakan semuannya pada Yonghwa.

“Setelah mendapat telepon darimu kalau Jikyo noona dibunuh, aku langsung merasakan ada hal yang tidak beres dibalik kematian Jikyo noona, hyung..”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Flashback

 

“Ada apa memanggil saya komandan?”, Jungshin membungkuk hormat pada Komandan Shin, atasannya.

“Kau dan Lee Donghae, segera pergi ke Hyundai Corp. Perusahaan aneh itu bermasalah lagi.”, Komandan Shin memutar bola matanya, tanda ia kesal.

“Ada apa lagi kali ini komandan?”

“Katanya ada salah satu pegawai yang mencuri file dokumen penting di Hyundai Corp. Tapi, aku tak yakin. Kau tahu kan? Ini sudah ketiga kalinya di bulan ini mereka melapor ke kita. Tahunya? Hanya satu yang benar-benar bersalah melakukan perbuatan kriminal. Yang lainnya? Nonsense. Aku heran apa gunanya satpam disana sampai masalah seperti ini selalu memanggil polisi! Jungshin-ah, jangan asal tangkap. Cari tahu dulu masalahnya sejelas-jelasnya. Arraseo?”

“Ne, komandan.. Saya permisi.”, Jungshin pun membungkuk hormat lalu pergi dari ruangan itu.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“Hyundai Corp lagi?”, tanya Donghae saat Jungshin dan Donghae berada dalam mobil polisi.

“Ne, hyung.”

“Aigooo~~ aku malas sekali kesana. Membuang-buang waktuku saja. Mereka itu apa tidak sadar ya kalau telah mempermalukan diri sendiri. Masa masalah kecil saja lapor polisi!? Lihat saja jika kali ini kita salah tangkap lagi, aku tidak akan segan-segan menampar direkturnya itu. Aku tau mereka perusahaan besar, tapi tak usah juga terlalu berlebihan”, Donghae menggerutu kesal. Jungshin hanya membalas dengan senyuman kecil. Pikirannya masih melayang tentang Jikyo yang ditemukan tewas terbunuh di kamarnya saat Jonghyun ada di kantor.

 

“Apa yang kau pikirkan Jungshin-ah?”

“Oh, istri sahabatku meninggal hyung..”

“Jeongmal? Aku turut berduka kalau begitu. Lantas, apa yang membuatmu terlalu memikirkannya?”

“Kau tahu JHL Corp? Direktur disana adalah sahabatku, dan istrinya lah yang meninggal. Dia dibunuh. Ia ditemukan beberapa jam yang lalu, tewas mengenaskan di dalam kamar mandi di kamarnya. Suaminyalah yang menemukannya, padahal suaminya akan mengajaknya makan siang.”

“Astagaaa, tragis sekali.. Lalu, kau tak datang ke pemakamannya?”

“Aku ingin hyung.. Tapi aku kan sedang bekerja. Menjadi polisi yang masih bujangan menuntutku untuk tidak bisa bebas keluar dari jam kerja.”, Jungshin terkekeh pelan.

 

“Sampaikan pada sahabatmu itu, aku turut berduka cita. Dan, dia dibunuh? Sesuatu yang jarang terjadi. Wanita jarang dibunuh secara mengerikan seperti itu karena mereka jarang mempunyai musuh yang membahayakan. Kau tahu wanita lebih memilih bercakar-cakaran dan menjambak rambut satu sama lain namun masalahnya selesai sampai disitu daripada harus membunuh orang lain karena pada dasarnya mereka makhluk yang tidak tegaan (?). Kecuali, jika mereka jadi pelampiasan atau korban.”

“Maksudmu hyung?”, Jungshin mengernyit tak mengerti.

“Ya, korban yang sebenarnya tak berdosa. Mungkin saja yang diintai suaminya namun yang kena adalah istrinya. Atau ketidakpuasan pihak tertentu yang akhirnya malah membahayakan orang lain. Kau tahu dunia bisnis kan? Bisnis itu dunia yang kejam. Mereka yang terlibat di dalamnya akan melakukan cara apapun agar bisa sukses. Tak sedikit pula yang memakai cara licik. Itu biasa di dunia bisnis, Jungshin-ah..”

Jungshin mengangguk mengerti, lalu tersenyum pada Donghae yang ada disamping kemudi.

“Ne, arraseo. Gomawo hyung.”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“Baiklah, kami permisi. Kami akan laporkan perkembangan kasus ini secepatnya.”, Jungshin membungkuk hormat pada Mr.Kim, manager perusahaan Hyundai Corp.

“Ne, terimakasih atas bantuannya”.

Jungshin dan Donghae segera pergi dari kantor itu. Kali ini, memang ada file yang dicuri oleh karyawan perusahaan itu. Entah maksudnya untuk apa. Jungshin dan Donghae bersyukur, setidaknya kedatangan mereka ke kantor itu tidaklah sia-sia.

“Hyung, aku ingin ke toilet. Kau duluan saja ke mobil. Aku akan menyusul nanti.”

“Jangan lama. Segeralah kembali.”

Jungshin menangguk, mengambil jalan terpisah dari Donghae dan tersangka itu.

 

“Bagaimana? Kau sudah membunuhnya?”

Gerakan Jungshin yang hendak membuka kenop pintu kamar mandi terhenti ketika mendengar hal itu.

“Ah, Cho Kyuhyun? Jangan! Kalau kau membunuhnya. Hanya akan menambah rumit keadaan. Yang penting, nyawa wanita itu sudah lenyap. Itu cukup membuat pria bodoh itu menderita bukan? Hahaha..”

Jungshin makin menajamkan pendengarannya. Ia mulai curiga.

“Ancam saja, bilang saja kalau ia membocorkan hal ini, kehidupannya tak akan tenang. Dia itu pengecut, sekali kau gertak ia takkan berani. Yang penting jangan bunuh dia.”

“…”

“Baiklah, pembayarannya akan kita selesaikan nanti.”

“Sebentar lagi, pria bodoh dan perusahaannya itu akan hancur. Rasakan itu Tuan Lee!”

Jungshin segera bersembunyi dibalik tembok. Dan ketika pintu terbuka, ia melihat direktur Hyundai Corp lah yang keluar dari toilet itu.

“Choi Siwon..”, Jungshin menggumam pelan.

Flashback end

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Minhyuk masih membereskan kamar Jonghyun ketika ia mendengar dengkuran halus. Benar saja, Minhyuk mendapati Jonghyun sudah tertidur di ranjangnya. Minhyuk mendekati Jonghyun, menyelimuti Jonghyun sampai bagian dadanya. Lalu ia duduk di tepi ranjang Jonghyun. Perlahan tangan Minhyuk terangkat mengelus rambut Jonghyun yang berantakan itu. Lalu, tersenyum miris mengingat hal yang pernah ia lalui bersama Jonghyun.

 

Flashback

 

Author POV

“Woonmin-ssi, apa sajangnim ada tamu?”, tanya Minhyuk kepada Woonmin, sekretaris Jonghyun. *author ngeksis :p*

“Ne, baru sekitar 10 menit yang lalu tamu sajangnim masuk. Ada apa?”

“Ah, ini.. Aku ingin minta tanda tangan sajangnim karena aku harus segera menyerahkan berkas ini ke divisi utama.”, ucap Minhyuk.

“Baiklah.”, ucap Woonmin. Woonmin mulai menelepon ruangan Jonghyun.

“Masuklah. Sajangnim bersedia.”

“Ne, gamsahamnida.”

 

Minhyuk pun masuk ke dalam ruangan Jonghyun. Dan tak disangka tamu Jonghyun adalah Yonghwa, kakak sepupu Minhyuk.

“Hyung!”

“Minhyuk-ah!”

Keduanya berpelukan dan tertawa. Alis Jonghyun mengernyit heran.

“Kalian saling kenal?”, tanya Jonghyun.

“Tentu saja! Ini Kang Minhyuk, adik sepupuku. Sudah lama kami tidak bertemu.”, ucap Yonghwa, lalu matanya beralih ke Minhyuk.

“Bagaimana kabarmu Minhyuk-ah?”

“Baik hyung.”

“Sudah kita bertiga duduk saja.”, ucap Jonghyun.

“Aigoo~ ternyata kau adik sepupu Yonghwa hyung, Minhyuk-ah? Kalau begitu, mulai sekarang kau dongsaengku juga. Jangan pernah sungkan padaku, ne?”

Minhyuk mengganggukkan kepalanya semangat. Senang mendengar penuturan Jonghyun.

“Aigoo~ aku merepotkanmu, Jonghyun-ah..”, ucap Yonghwa.

“Merepotkan apanya? Aku tidak merasa kerepotan sama sekali. Kau sudah banyak membantuku hyung. Ini sudah seharusnya aku lakukan. Lain kali, kita bertiga harus keluar bersama untuk bersenang-senang. Ah, ajak Jungshin juga. Sekali-kali dia harus ikut. Anak itu terlalu serius dengan akademi kepolisiannya.”, ucap Jonghyun.

 

Mereka bertiga pun larut dalam pembicaraan yang santai dan bersahabat. Ternyata kedatangan Yonghwa adalah untuk mengantar undangan pernikahannya dengan Seohyun untuk Jonghyun. Dari sanalah persahabatan ketiganya terjalin. Semenjak saat itu, ketiganya pun menjadi akrab.

Flashback end

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Minhyuk berjalan keluar dari kamar Jonghyun. Lalu ikut bergabung bersama Yonghwa dan Jungshin.

“Bagaimana dengan Jonghyun?”, tanya Yonghwa.

“Sudah lebih baik. Akhirnya Jonghyun  hyung mau makan. Dan, sekarang ia sedang tidur.”

Jungshin dan Yonghwa menganggukkan kepala tanda paham. Tersirat kelegaan tersendiri dihati keduanya.

“Bagaimana perkembangan kasus Jonghyun hyung?”, tanya Minhyuk.

“Jungshin sudah mencurigai pelakunya. Choi Siwon, direktur Hyundai corp dan… Cho Kyuhyun.”

“CHO KYUHYUN?”, pekik Minhyuk kaget.

Yonghwa yang ada disebelah Minhyuk segera membekap mulut Minhyuk. “Aisshh~~ kau ini! Teriakanmu tadi bisa membangunkan Jonghyun!” ucap Yonghwa sambil melepaskan tangannya dari mulut Minhyuk.

“Mian hyung.. Chogiyo.. Jungshin-ssi, apa kau yakin?”, tanya Minhyuk.

Jungshin menganggukkan kepalanya.

“Tapi, bagaimana bisa…?? Cho Kyuhyun?? Kita membicarakan Cho Kyuhyun, salah satu sahabat baik Jonghyun hyung dan karyawan JHL Corp kan??”, tanya Minhyuk memastikan.

Yonghwa dan Jungshin menganggukkan kepala. Lalu menceritakan segala permasalahannya kepada Minhyuk.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Happy birthday, jagiyaaaaa…”, Jonghyun memeluk pinggang Jikyo dari belakang dan memberikan sebuah bingkisan pada Jikyo. Jikyo tersenyum dan membuka bingkisan itu.

“Huaaa Oppa, ini kan DVD drama favoritku.. Darimana kau tahu?”

“Aku selalu tahu segala yang ada pada dirimu sayang. Aku lebih mengenal dirimu ketimbang dirimu sendiri. Bahkan kalau kau berbohong padaku. Kau tidak bisa meremehkan kekasihmu yang tampan ini.”

“Kau yang terbaik oppa.. Gomawo..”, ucap Jikyo tersenyum manis.

“Apapun untukmu honey”, balas Jonghyun mengecup pipi Jikyo.

Keduanya pun tersenyum memandang langit sore yang begitu indah.

 

“Saudara Lee Jonghyun, apakah kau bersedia menerima Han Jikyo sebagai istrimu? Berbagi dalam suka dan duka, menjaganya dengan sepenuh hati, mengasihi dan mencintainya sampai maut memisahkan kalian berdua?”, tanya sang pendeta.

“Ne, saya bersedia.”, ucap Jonghyun mantap.

“Saudara Han Jikyo, apakah kau bersedia menerima Lee Jonghyun sebagai suamimu? Berbagi dalam suka dan duka, menjaganya dengan sepenuh hati, mengasihi dan mencintainya sampai maut memisahkan kalian berdua?”, tanya sang pendeta lagi.

“Ne, saya bersedia”, ucap Jikyo sambil tersenyum.

“Baiklah. Dengan ini, dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh jemaat yang hadir, kalian sah menjadi suami istri.”, ucap sang pendeta.

Jonghyun dan Jikyo pun tersenyum bahagia.

 

“Jagiyaaaa.. Aku pulaaaannnggg”, Jonghyun tersenyum seraya memasuki apartemennya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Sepi. Hening. Kosong. Jonghyun mengernyit heran. Ia memutuskan untuk mencari sosok yang ia cari di dalam kamar. Saat ia membuka kenop pintu, matanya membelalak kaget melihat apa yang terjadi di ruangan itu. Jikyo tergeletak tak berdaya di ujung kamar mereka.

“JIKYO-AH!!”, jerit Jonghyun.

Saat Jonghyun membalikan tubuh Jikyo, matanya membelalak tak percaya karena menemukan luka tusukan pada perut Jikyo dan darah segar yang mengalir dari perutnya.

“HAN JIKYOOOOOOOO!!!!!!!!”

 

Jonghyun mengerjapkan matanya. Perlahan bangun dari tidurnya. Putih. Hanya warna itu yang dilihatnya sekarang. Ia melihat sekililingnya. Merasa sangat asing dengan tempat ini. ‘Dimana ini? Apakah aku sudah mati?’, pikirnya.

“Oppaaa…”

Jonghyun mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Ia hafal betul suara itu. Suara yang selama ini sangat ia rindukan.

“Jikyo-ah….”, rintih Jonghyun.

Pada satu titik, ia menemukan sosok yang selama ini ia rindukan. Jonghyun pun berlari kearah sosok itu. Istrinya, Jikyo.

 

“Jikyo-ah.. kau kemana saja? Aku sangat merindukanmu yeobo..”, ucap Jonghyun sambil memeluk Jikyo erat. Seakan ia tak akan pernah melepaskan Jikyo lagi. Perlahan air mata mulai turun dari pelupuk mata Jonghyun.

“Oppaaaaa…”

Jikyo melepaskan pelukan Jonghyun. Menatap mata Jonghyun dalam. Menghapus air mata yang mengalir di pipi Jonghyun. Lalu tersenyum.

“Aku juga sangat merindukanmu Oppa..”

 

Jonghyun kembali memeluk Jikyo. Mengusap lembut rambut Jikyo. Mencium puncak kepalanya berkali-kali. Melepaskan kerinduan yang selama ini ia pendam. Perlahan, Jikyo melepaskan pelukan Jonghyun lagi. Memandang wajah suaminya yang tampan.

“Oppa.. kumohon.. Jangan seperti ini.. Jangan siksa hidupmu Oppa..”

“Kau tahu yeobo. Aku lemah tanpamu. Kau adalah oksigenku! Aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu. Kumohon jangan pergi lagi..”, ucap Jonghyun lirih.

JIkyo menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa oppa.. Dunia kita sudah berbeda..”

“Ani! Kau tetap istriku. Sampai kapanpun akan tetap seperti itu!”, tegas Jonghyun.

“Aku tahu Oppa.. Tapi, kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kehidupanmu masih panjang Oppa.”

“Kalau begitu, aku mau ikut denganmu.”, desak Jonghyun. Jikyo menggeleng.

“Tidak Oppa.. Kau tidak bisa ikut denganku. Ini sudah menjadi garis kehidupan kita.”

“Ta..pi..” Jonghyun kembali terisak.

 

Jikyo menghadapkan wajah Jonghyun untuk menatapnya. Kedua tangannya memegang pipi Jonghyun.

“Dengar Oppa… Ragaku boleh tak lagi ada di dunia. Tapi hatiku, akan selalu bersamamu. Disini..”, Jikyo menunjuk dada Jonghyun.

“Aku akan selalu memantaumu Oppa. Jika kau yakin akan cinta kita, kau pasti bisa merasakan kehadiranku. Begitu juga sebaliknya, aku akan bisa merasakan apa yang kau rasakan. Aku sedih kau terus-terusan seperti ini. Aku minta padamu, tolong ikhlaskan kepergianku. Bisakah?”

Jonghyun terdiam. Ia kembali ingin menangis melihat wajah istrinya itu.

“Masih banyak yang menyayangimu disana Oppa. Mereka membutuhkanmu. Dan  masih banyak pula yang harus kau lakukan Oppa. Termasuk mencari tahu ulah siapa semua ini.”

Amarah Jonghyun tiba-tiba tumbuh. “Yeobo, katakan semua ini ulah siapa! Siapa yang membunuhmu?”, paksa Jonghyun.

Jikyo menggeleng. “Kau akan mengetahuinya nanti Oppa. Yang penting sekarang, jalani hidupmu dengan normal, Oppa. Jika kau mencintaiku, lakukan apa yang ku pinta. ‘Kami’ sudah bahagia disini Oppa.”, sosok Jikyo mulai menjauh. Genggaman tangannya dan Jonghyun akan terlepas.

“Oppa, kau harus tahu.. Aku selalu mencintaimu..”, sosok Jikyo pun hilang dibalik cahaya putih.

 

“Hhhh..Hhh..Hhhh… Jikyo-ah.. Kajimaaaa… Ahhhhh!!!”, Jonghyun terjaga dari tidurnya. Peluh telah banyak keluar melalui kulitnya. Jonghyun memandang sekeliling. Nihil. Ternyata itu hanya mimpi. Setelah kesadarannya penuh, Jonghyun kembali menangis.

“Masih banyak pula yang harus kau lakukan Oppa. Termasuk mencari tahu ulah siapa semua ini.”

Kata-kata Jikyo yang hadir di dalam mimpi Jonghyun membuatnya mengahapus air mata di pipinya dengan kasar.

“Ya, aku harus cari tahu ini semua ulah siapa. Dan jika aku menemukannya, aku tak akan membiarkannya hidup!”, desis Jonghyun dingin.

 

Jonghyun segera bangkit dari kasurnya. Sekilas ia melihat penampilannya di cermin.

“Buruk. Ditinggal olehmu ternyata bisa membuatku seburuk ini Jikyongie.”, lirih Jonghyun.

Jonghyun melangkah menuju pintu kamar dan membukanya pelan.

“Aku akan senang hati menangkap mereka jika memang Jonghyun hyung mau melaporkan masalahnya.”

Jonghyun memilih bersembunyi di balik tembok, ingin mendengar pembicaraan ketiga orang yang ada di ruang tengah sekarang.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Minhyuk.

“Membunuh mereka, tentu saja.”

Yonghwa, Minhyuk, dan Jungshin terhenyak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara. Jonghyun sudah berdiri bersandar pada tembok dengan melipat tangan ke depan dadanya. Lalu, berjalan pelan ke ruang tengah, mengambil tempat duduk di sebelah Minhyuk.

“Hyung, kau sudah bangun?”

Jonghyun menganggukkan kepalanya pelan. “Aku mendengar semuanya.”

Ketiganya terdiam memandang Jonghyun. Jonghyun menolehkan kepalanya menatap Jungshin.

“Aku tahu kau bukan polisi biasa Jungshin-ah. Dan, aku membutuhkanmu untuk menjalankan sebuah rencana. Bagaimana?”, tawar Jonghyun.

“Rencana… Membunuh mereka?”

 

Jonghyun kembali menatap lurus ke depan sambil mengeluarkan senyum sinisnya.

“Hyung, kau serius?”, Minhyuk menatap Jonghyun dengan khawatir.

“Kau perlu istirahat, Jong..”, ucap Yonghwa.

Jonghyun menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja. Aku sadar aku tak seharusnya terpuruk seperti ini. Aku akan membalas semua perbuatan mereka.”, desis Jonghyun dingin. Lalu, kembali menatap ketiga temannya.

“Choi Siwon, dari dulu dia memang selalu cari masalah. Hal ini karena perusahaannya hampir selalu kalah jika berebut proyek dengan perusahaanku. Aku memang tak pernah menggubrisnya. Tapi, kali ini, aku tidak bisa memaafkannya.”, ucap Jonghyun menahan amarahnya.

“Dan Cho Kyuhyun—“

“Maaf hyung. Aku tidak tahu apa hubungannya Cho Kyuhyun dengan ini semua. Tapi, Siwon menyebutkan namanya saat itu. Intinya aku masih belum yakin apa hubungannya dengan Siwon.”

 

Jonghyun mengangguk paham. “Baiklah, kita lihat nanti.”

“Tunggu Jungshin-ah. Aku masih belum bisa memahaminya. Bagaimana kau bisa yakin kalau yang dimaksud Siwon ditelepon itu adalah Jonghyun?”, tanya Yonghwa.

“Itu mudah hyung. Berita kematian Jikyo noona sampai diterbitkan disalah satu media cetak, meskipun bukan berita utama. Dengan semua yang Siwon ucapkan, siapa lagi yang dia maksud selain Jikyo noona? Tak ada istri direktur lain yang terbunuh hari itu selain Jikyo noona. Dan setelah ku lacak, aku tahu kalau Cho Kyuhyun adalah karyawan JHL Corp.”

 

“Bagaimana perusahaan sekarang Minhyuk-ah?”, tanya Jonghyun mengalihkan pembicaraan.

“Cukup buruk setelah kau tinggalkan hyung.”

“Apa yang terjadi?”

“Kita kalah diberbagai tender. Anggaran perusahaan menipis. Saham perusahaan juga menurun drastis. Nampaknya Tuan Park cukup kewalahan.”

Jonghyun mengembuskan nafasnya berat. “Mianhae, gara-gara aku semuanya jadi begini. Tapi, aku janji. Setelah semua ini selesai, aku akan bangkit dengan JHL Corp lagi. Tak akan ku biarkan mereka merebut apa yang sudah aku bangun dengan susah payah. Minhyuk-ah, tolong katakan pada Tuan Park untuk bertahan dan mengambil alih semua kekuasaanku untuk sementara. Bilang saja aku sedang menenangkan diri dan akan kembali beberapa hari lagi.”

“Baik hyung.”

 

“Kalian tahu? Jikyo… Dia tak pergi sendiri.”, lirih Jonghyun kembali mengalihkan pembicaraan.

Yonghwa, Minhyuk, dan Jungshin mengerutkan kening pertanda bingung.

“Jikyo.. meninggal bersama janin yang ada dalam kandungannya.. Calon buah hati kami..”, ucap Jonghyun dengan suara bergetar.

 

Flashback

Jonghyun dan Jikyo sedang duduk di bangku balkon apartemen mereka. Menikmati angin musim semi kota Seoul yang berhembus malam itu. Jikyo duduk disela kali Jonghyun yang terbuka. Jonghyun memeluk pinggang Jikyo dari belakang. Tangan mereka saling menggenggam. Tak jarang sebelah tangan Jonghyun memainkan rambut Jikyo dengan lembut dan bibirnya mencium tengkuk belakang leher Jikyo dengan penuh sayang.

“Oppaa..”
“Hmm?”

“Kau mencintaiku?”

“Pertanyaanmu itu pertanyaan yang tak perlu ku jawab, sayang.”

Jikyo mengerucutkan bibirnya kesal. “Jawab saja Oppa..”

“Kau sudah tahu jawabannya.”

“Apa?”

“Aishh~~ apa wanita selalu perlu pernyataan terhadap hal yang sebenarnya sudah pasti?”, Jonghyun bertanya dengan cukup gusar.

Jikyo menganggukkan kepalanya. “Wanita selalu ingin kepastian, Oppa.”

“Baiklah. Dengarkan baik-baik. SA-RANG-HAE.”, ucap Jonghyun dengan penuh penekanan namun dengan nada yang lebih lembut.

“Janji? Meskipun kulitku mulai mengeriput dan wajahku semakin tua?”

“Sampai kapanpun, kau selalu sempurna dimataku.”, ucap Jonghyun sambil mengelus tangan Jikyo yang ia genggam.

“Bahkan meski aku berubah jadi gendut dengan perut membuncit?”

“Kau itu akan tetap kurus meski makan dengan banyak, yeobo. Kecuali kalau kau— Tunggu, maksudnya?”

Jikyo menolehkan kepalanya menghadap Jonghyun seraya tersenyum lebar. “Aku hamil Oppa..”

“JEONGMAL ????”, tanya Jonghyun antusias.

Jikyo menganggukkan kepalanya senang. Membuat Jonghyun berdiri melepaskan pelukannya pada Jikyo dan mengangkat kepalan kedua tangannya ke udara.

 

“YESSSS!! ISTRIKU HAMIL!!! AKU AKAN JADI AYAH!!! SEOUL, KAU DENGAR??? AKU AKAN JADI AYAH!!”, teriak Jonghyun pada hamparan pemandangan malam kota Seoul sambil tersenyum senang.

“Oppa, jangan teriak-teriak seperti itu.”

Jonghyun menarik Jikyo berdiri dan memeluknya.

“Gomawo, chagi.. Sudah berapa bulan?”

“Aku belum tahu Oppa. Yang pasti setelah ku uji memakai testpack, aku positif hamil.”

“Kalau begitu, kita harus ke dokter besok. Aku akan mengantarmu. Ya ya ya??”, ucap Jonghyun antusias. Jonghyun memohon dengan mempersatukan kedua tangannya di bawah dagu dengan genit dan memperlihatkan puppy eyesnya yang manis serta tersenyum berharap (?).

“Bukankah Oppa besok ada rapat penting?”

“Kau dan anak kita lebih penting. Pokoknya, aku yang akan mengantarmu besok. Aku ingin melihat perkembangan buah hatiku.”, ucap Jonghyun bahagia.

“Baiklah.”, Jikyo akhirnya mengalah.

“Mulai sekarang, kau jangan bekerja terlalu berat. Kau juga harus jaga pola makan dan kesehatanmu. Jangan sampai kau kelelahan. Lalu—“, ucapan Jonghyun terhenti karena Jikyo mengecup bibinya kilat.

“Arraseo, nae nampyeon. Lebih baik sekarang kita tidur saja.”, ucap Jikyo sambil menuntun tangan Jonghyun untuk masuk ke dalam apartemen.

“Aku akan jadi ayah.. Aku akan jadi ayah.. Yeee!!”, Jonghyun bersenandung gaje sambil sedikit melompat kecil. Jikyo tertawa melihat tingkah suaminya yang kekanakan itu. Namun hatinya bahagia karena semua hal yang telah ia lalui dengan Jonghyun.

Flashback end.

 

Jonghyun mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia kembali menangis, mengingat sepenggal kenangan yang tersirat kembali bersama Jikyo. Sedangkan Jungshin, Yonghwa dan Minhyuk terdiam mendengarkan penjelasan Jonghyun barusan. Jonghyun mengalami cobaan yang belum tentu semua orang dapat melaluinya dengan baik. Kelihangan istri yang sangat dicintai dan calon buah hati selakigus secara tiba-tiba. Minhyuk mengelus punggung Jonghyun pelan, mencoba menenangkannya. Setelah tenang, Jonghyun menatap ketiga sahabatnya itu bergantian.

 

“Saat aku tidur tadi, aku memimpikan Jikyo. Ia memintaku untuk bisa melepaskan kepergiannya dan calon bayi kami. Untuk itulah, aku tak ingin lagi terpuruk seperti kemarin.”

“Aku akan membalaskan dendamku pada mereka yang sudah membunuh Jikyo. Untuk itu aku perlu bantuan kalian bertiga.”, ucap Jonghyun.

“Aku.. dan Yonghwa hyung juga ikut?”, tanya Minhyuk.

“Ne, kalian mau kan membantuku?”, tanya Jonghyun penuh harap.

Yonghwa dan Minhyuk tampak berpikir. Mereka sebenarnya mau membantu Jonghyun. Namun yang menjadi masalah, Jonghyun tak akan menyelesaikannya secara hukum. Namun dengan cara yang cukup nekat. Membunuh. Melihat Minhyuk dan Yonghwa yang nampak berpikir, Jonghyun mengalihkan pandangannya kepada Jungshin. Menatap lelaki itu seakan meminta kepastian, pertolongan, dan persetujuan. Jungshin mengangguk mengerti.

“Aku akan membantumu hyung.”

Jonghyun tersenyum simpul. Lalu, kembali menatap Yonghwa dan Minhyuk.

“Kalian hanya akan ikut mendampingiku. Aku ingin kalian melihat aku membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Aku ingin kalian jadi saksinya.”

Akhirnya Yonghwa dan Minhyuk menganggukkan kepalanya. Jonghyun kembali tersenyum simpul.

“Terima kasih semuanya.. Jungshin-ah, bisa kita mulai semuanya besok?”

“Ne, hyung. Aku akan mempersiapkannya.”

 

 

To Be Continued…

NB  :  Maaf ya.. Part terakhir ini aku bikin jadi A dan B.. Pengennya langsung habis, tapi kepanjangan -_____-. Yang A ini aja udah lebih dari 3000 kata >.<. Tapi, yang part B ntar sama epilognya kok.. Hehe ^^ #nggaadayangnanya. Tunggu aja yaa yang part B-nya =)

Mian kalo ada typo..

 

Terakhir.. Keep Read, Comment, and Like ^^

Gomawooooo… *bow*

 

7 thoughts on “[Author Lepas] Retaliation of Grudge – Chapter 2A

  1. akhirnya jonghyun bangkit juga. Sedih banget pasti jadi dia. benerkan ‘kami’ itu istrinya sama calon anak. Yang sabar ya jonghyuuuuuun.
    Minhyuk mau ikut2an juga???? Bagus (?)
    Ditunggu last partnya🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s