Playboy Vs Playgirl [chapter 4]

chapter 1 | 2 | 3

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Genre: romance, friendship, family

Length: chaptered

Rating: PG17

Cast:

  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Krystal / Jung Soojung F(X)
Other cast:
  • Key / Kim Kibum SHINee
  • Kang Minyeon [OCs]

Disclaimer: this’ my own plot *walaupun keliatannya ceritanya basi* keluar dari otak seorang febri

Note: Pertama-tama, maaf karakter Krystal aku buat jutek. soalnya tampangnya mendukung #plak. Yang kedua, gara-gara baca clandestine (cmiiw klo judulnya salah) di ffindo, aku jadi suka minhyuk-krystal, yah saya shipper mereka. Tapi soal jutek2an aku ga ikut2an dr ff itu, seperti yang aku bilang tadi, tampangnya mendukung (?). Dan yang ketiga dan terakhir, SELAMAT MEMBACA~ jangan lupa komen ^^

**************************************

 

Minhyuk pov

 

Di sinilah kami, di apartemen Krystal. Bukan hanya aku dan dia, ada satu orang lagi. Orang yang telah berhasil membuat Krystal cemburu. Yaaa, dia cemburu kan? Semoga. Tidak perlu banting pintu kalau memang tidak cemburu.

“Maafkan aku ya, Krystal! Gara-gara aku, kau jadi salah paham!”

Krystal hanya tersenyum kecut. Sepertinya dia malu karena telah menuduhku yang bukan-bukan.

Dia sempat terkejut karena melihat seorang yeoja yang tiba-tiba keluar dari kamarku hanya mengenakan handuk kimono saat aku sedang di dapur tadi. Pikirannya sudah macam-macam. Dia sempat tidak mau bicara padaku begitu tahu aku juga membawa yeoja itu yang kini duduk di sampingku ke dalam apartemennya.

“Sudah percaya, kan?” tanyaku pada Krystal. Dia hanya mengangguk lemas, masih enggan menatapku. Yah, apalagi yang kau rasakan setelah menuduh orang yang bukan-bukan selain merasa malu?

“Hahaha!” Dan sekarang bisa-bisanya si biang kerok ini tertawa setelah apa yang terjadi karenanya. Untung Krystal percaya. “Aigoo! Kalian pasangan yang manis, ya! Hahaha!”

“ANI!” kataku dan Krystal serempak.

“K..kami tidak berpacaran, Minyeon-ssi!” tutur Krystal.

“Panggil aku eonni saja. Aku kan calon kakak iparmu!” seru noona sambil mengedipkan matanya pada Krystal.

Aku dan noona memang sama saja, suka menggoda.

“Noona! Kau jangan bikin malu deh!” kataku setengah berbisik pada noona, kusikut lengannya.

“Loh, kalian memang pacaran, kan?”

“Sudah kubilang tidak!”

Bahkan kakakku sendiri saja menganggap kami pacaran.

Kang Minyeon, kakak perempuan dan saudara kandungku satu-satunya. Usia kami terpaut dua tahun. Aku sangat menyayanginya. Orang nomor tiga setelah Tuhan dan eomma. Setelah eomma meninggal tujuh tahun yang lalu, dialah orang tuaku, orang yang selalu mengurusku. Appa mana sudi mengurus kami. Baginya, perusahaan-perusahaan yang dia rintis adalah anaknya. Bahkan saat aku dan noona pindah ke apartemen saja dia tidak tahu dan memang tidak mau tahu. Aku hanya bisa berharap semoga kelak aku tidak menjadi seorang ayah seperti dia. kasihan anak-anakku.

“Sudah beres, kan? Aku keluar, ya. Haah, panasnya!” seru noona seraya mengipas-kipas dirinya sendiri dengan telapak tangannya, lalu beranjak keluar meninggalkan kami berdua. Apanya yang panas? Ah, aku rasa noona tahu apa yang memang harus dilakukannya. Gomawo, noona!

“Kau? Kenapa tidak keluar juga?” tanya Krystal seraya menunjuk pintu apartemennya. Terang-terangan sekali ingin mengusirku.

“Aku ingin bertanya sesuatu!”

Sebenarnya ada yang ingin kupastikan dari seorang Krystal. Ini membuatku bingung. Aku takut aku salah paham dengan sikap marahnya tadi. Yang aku tangkap, dia itu cemburu.

“Tanya apa?”

“Sebenarnya ada apa denganmu hari ini? Kau marah padaku tanpa sebab.”

Krystal hanya memalingkan wajahnya dan berjalan menuju lemari es. Aku tidak tahu kenapa dia tidak menjawabnya. Saking kesalnya aku menunggunya yang tak kunjung bicara, aku berjalan menghampirinya. Kutarik tangannya hingga dia berhadapan denganku.

Wajahnya merah padam.

“Kau pulang saja, Minhyuk!” katanya lirih, kembali memalingkan wajahnya dari hadapanku.

 

 

 

“Jeongmal? Hahahahaha! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Krystal, hahahaha!”

“Berisik, Key!” kulempar bantal sofa padanya. Tawanya cukup membuatku merinding. Berbanding 11:12 dengan nenek lampir.

Minyeon noona datang dengan tiga buah kaleng soda dan ikut duduk di antara kami berdua. Dia yang mengundang Key ke sini malam ini.

“Sepertinya banyak yang aku lewatkan selama aku tidak di sini.”

Apartemen ini tadinya aku dan noona yang tempati sejak empat tahun yang lalu. Toh kalau tinggal di rumah, appa tidak ada. Semenjak lulus SMA tiga tahun yang lalu, noona kuliah di London, jadi aku tinggal sendirian.

“Hahaha, kau tidak akan percaya kalau Minhyuk sejak satu bulan yang lalu belum memiliki pacar lagi,” kata Key lalu menyeruput minumannya.

“JINJJA??? Si playboy ini?” jari telunjuk noona menunjukku seolah aku seorang tersangka. “ Wah, headline news! Daebak!”

Key mengangguk tanda setuju.

Key dan noona adalah partner in crime sejak dulu. Keseharianku selalu saja dilaporkan Key pada noona. Aku seperti anak kecil yang ditinggal orang tua berlibur dan diasuh oleh perawat anak abal-abal.

“Kau tahu yeoja yang tinggal di depan, kan?” tanya Key setelah menenggak minumannya.

Noona mengangguk. “Kau mau bilang karena yeoja itu?”

“Tepat!”

Noona menepuk bahuku berkali-kali. “Kalau dengannya aku merestui.”

“Dia sama playernya dengan Minhyuk, lho! Playgirl insyaf!”

“Huahahahaha! Sama-sama player insyaf, dong!”

Ha. Ha. Ha. Tertawalah sepuas kalian. Kalau sudah berkumpul bertiga begini, aku selalu jadi sasaran yang empuk untuk dijadikan bahan tertawaan mereka. Apa lagi sudah lama sekali noona tidak pulang ke Korea, yakin sekali malam ini aku tidak akan selamat.

Tapi sepertinya malam ini aku aman.

Di saat noona meneguk minumannya, Key memandangku penuh arti. Mulutnya komat-kamit, mengisyaratkanku untuk pergi. Hmm, baiklah! Aku tau apa yang kau inginkan, Key!

“Aku ke kamar, ya! Kalian ngobrol saja berdua,” kataku seraya bangkit berdiri.

“Ini baru jam setengah sepuluh, Hyukkie.”

“Aku ngantuk, noona. Besok aku ada kuliah pagi.”

Akupun berjalan menuju kamarku.

Ini masih jam setengah sepuluh. Bukan jam tidurku. Apa yang harus kulakukan?

Telpon Krystal.

 

***

 

Pagi ini aku kembali mengantar Krystal. Baru setengah perjalanan menuju kampusnya.

Mengenai kejadian kemarin, Krystal sudah tidak mempermasalahkannya lagi.

Wajar sekali kalau Krystal marah. Jika aku ada di posisinya, mungkin aku juga akan marah. Bagaimanapun aku sangat tidak suka melihat seorang namja keluar dari kamar Krystal hanya dengan balutan handuk kimono. Pasti pikiranku sudah macam-macam. Mengapa ada seorang namja dari kamar yeoja yang aku sukai?

Ngomong-ngomong, apa kemarin Krystal juga bertanya demikian di dalam hatinya? Aku masih sangsi kalau dia menyukaiku.

“Minhyuk? kau bengong?”

Lamunanku buyar saat tangan Krystal mengguncang pelan lengan kananku.

“Hmmm, tidak!”

DEG!

Haduh, kenapa deg-degan begini?

“Lalu?”

“Aku hanya kepikiran noona,” kataku berbohong. Aku enggan mengungkit masalah kemarin. Lupakan saja!

“Oh!”

Kami terdiam. Entah kenapa sulit sekali mencari topik yang bagus untuk dibicarakan.

“Minyeon eonni masih di tempatmu?”

“Tidak! Pagi-pagi sekali tadi pesawat noona sudah terbang ke London. Ini kan masih masa kuliah. Dia orang yang cukup perhitungan dalam hal bolos-membolos.”

“Dan dia ke sini benar-benar hanya untuk mengambil buku? Aku kira kau cuma bercanda.”

Aku menoleh ke arah Krystal. Bisa kulihat matanya yang membesar menatapku tidak percaya. Semalam sudah kubilang tujuan kakakku kemari dan dia hanya meresponnya dengan tertawa di seberang telepon. Dia pikir aku bercanda.

“Buku itu cukup langka, tidak ada yang jual di sana. Bahkan aku ragu kalau di Seoul masih ada.”

“Tapi kan bisa kau kirim lewat jasa pengiriman.”

“Aku sudah menyarankan itu padanya lusa yang lalu. Kau kira aku tahu noona akan ke sini? Aku sama terkejutnya dengamu. Unpredictable girl!”

”Ck! Dasar orang kaya!”

Aku hanya terkekeh mendengarnya. Krystal kembali menyenderkan dirinya di senderan jok. Sangat manis melihatnya sedang merajuk begini.

“Kau cemburu pada kakakku? Aku sangat menyayanginya lho!”

Tiba-tiba dia tertawa. “Hahaha! Untuk apa aku cemburu padanya? Tidak ada untungnya untukku. Toh dia kakakmu sendiri!”

Aku kembali menoleh padanya. Aku tersenyum melihatnya menggembungkan kedua pipinya. Masih berusaha menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya, ya?

“Aku juga selalu tidur bersama noona di satu tempat tidur.”

Aku dan noona memang terbiasa tidur di satu tempat tidur. Sejak kematian eomma, aku jadi cengeng. Setiap malam teringat eomma. Dan sejak saat itu aku terbiasa tidur dengan noona. Lagi pula Krystal benar, dia kakakku. Mana mungkin aku memakan darah daging sendiri. Aku masih waras. Dan aku tidak cengeng lagi.

“Loh kenapa? Aku juga suka tidur bersama dengan app…”

Ucapannya terputus. Aku tahu ke arah mana dia akan bicara. Krystal kembali teringat akan kedua orang tuanya. Lagi-lagi kau membuat suasana tidak enak, Minhyuk!

“Jangan sedih, Krystal!” kataku lembut. Tangan kananku spontan mengacak-acak puncak rambutnya. “Sudah besar tidak boleh cengeng!”

Krystal menepis tanganku lalu meninju pelan lengan kananku. Kupikir dia marah, tapi aku senang dia kembali menyunggingkan senyumannya.

“Aku tidak menangis, pabo!”

 

 

 

Sepulang kuliah, aku menyempatkan diri berhenti di toko bunga, membeli sebuket bunga mawar.

Hari ini Krystal tidak mau dan melarangku menjemputnya. Dia tahu aku sering bolos hanya demi itu. Jadwal kuliahku memang lebih lama dari Krystal. Dan Key – si namja bocor – yang memberitahukan itu pada Krystal saat kami berdua tadi tidak sengaja bertemu dengannya di halte bus. Ban mobilnya bocor. Rasakan! Mungkin Tuhan menghukumnya terlebih dahulu, kekeke..

“Untuk pacarmu, ya?” tanya bibi si penjual.

“Hah? Aniya! Dia bukan pacarku!”

“Hmm, calon pacar?”

Sulit untukku menjawabnya. Akupun hanya merespon dengan anggukan dan dia tertawa.

“Aigoo, manisnya! Pasti dia yeoja pertamamu, ya?”

“B..bagaimana bibi bisa tahu?”

“Entahlah, aku hanya menebak! Lagi pula wajahmu itu merah sekali, aku hanya ingin menggodamu saja!”

Aish, bibi ini! Tapi masa iya sih wajahku memerah. Kusentuh kedua pipiku dan rasanya panas. Padahal aku tidak sakit.

Tebakannya sangat tidak meleset. Dia memang cinta pertamaku. Yeoja-yeoja yang aku pacari selama ini tidak ada yang menarik satupun. Tidak ada yang bisa mencuri hatiku. Baru Krystal yang benar-benar mengalihkan segala perhatianku. Mendapatkannya saja susah. Rasanya aku ingin mengenalnya lebih dekat sebelum aku benar-benar memintanya menjadi pacarku. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, yang menurutku sesuai kriteria langsung aku tembak, setelah merasa tidak cocok dan bosan, aku campakkan.

Nappeun saram! Itu aku. Tapi dulu.

“Ya, kenapa bengong? Cepat sana pergi, keburu yeojamu direbut orang lain!”

Bibi ini bisa saja.

 

 

 

Aku menekan bel apartemen Krystal, tapi tidak dibukakan. Kutekan bel berkali-kali, tetap tidak dibukakan. Apa dia tidak ada di dalam? Dua jam yang lalu dia mengirimku sms kalau dia sudah sampai di apartemennya. Mungkin dia pergi.

Atau aku masuk saja? Kebetulan aku pernah memerhatikan secara seksama saat Krystal menekan tombol password apartemennya. Untungnya aku bisa membacanya walaupun geraknya sedikit cepat.

734863

CKLEK!

Nah kan terbuka.

Kubuka pintu dan dengan lancangnya aku masuk. Aku yakin aku tidak akan selamat kalau Krystal tahu ini.

DEG!

Tercengang. Hanya itu yang bisa aku ekspresikan.

Apa karena ini dia menolak kujemput?

Krystal sedang tertidur di sofa dengan posisi duduk. Dan ada seorang namja yang ikut tidur di sampingnya, tangannya merangkul bahu Krystal. Aku tidak tahu siapa namja ini. Wajahnya tidak begitu terlihat karena kepalanya yang menunduk, memperlihatkan puncak rambut hitam kelamnya.

Tanganku seakan melemas, bunga yang kugenggam erat terlepas begitu saja.

Apa aku salah menilai Krystal selama ini? Apa dia juga menyukaiku? Jangan-jangan selama ini dia hanya mempermainkanku, mempermainkan perasaanku.

Ingat Minhyuk, dia player!

Pabo! Seharusnya aku tidak memiliki keyakinan itu. Keyakinan yang membuatku yakin kalau Krystal juga menyukaiku.

Sakit!

Perasaan aneh ini kembali muncul. Hatiku terasa sakit sekali untuk yang ketiga kalinya.

Pertama, karena tidak sengaja memergoki appa sedang berselingkuh dengan yeoja lain di ruangannya sendiri. Rasanya seperti dihantam batu besar melihat ayahku sendiri bercumbu dengan yeoja lain, bukan dengan eomma yang notabenenya sedang bertarung mempertahankan nyawanya sendiri  demi bisa hidup denganku dan noona, dan juga dengan pria brengsek itu.

Kedua, eomma meninggal. Tumor otaknya sudah mengganas dan sudah tidak ada jalan lain untuk menolongnya. Aku hanya bisa pasrah merelakannya pergi. Aku harap Tuhan menempatkannya di tempat yang layak. Eomma orang yang sangat baik.

Ketiga, yeoja yang benar-benar aku cintai ternyata hanya mempermainkanku.

Selamat, Kang Minhyuk! Si bodoh ini dapat piring cantik!

 

***

 

Ponselku yang sengaja aku letakkan di atas jok mobil samping kananku kembali berdering. Aku tahu Krystal pasti ingin bertanya kenapa aku tidak mengantarnya seperti biasa.

Baiklah! Aku sakit, dia juga harus sakit!

Minhyuk!! Kau di mana?” tanya Krystal di seberang sana.

“Aku di perjalanan menuju kampusku. Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku ada urusan mendesak.”

Tidak apa. Hari ini aku memang tidak ada jadwal kuliah. Aku hanya ingin meminjam DVD yang kau sewa waktu itu.”

Dia bicara seolah tidak terjadi apa-apa. Dia memang tidak tahu aku sudah memergokinya dengan seorang namja kemarin. Kalau begitu aku juga harus bersikap seolah tidak melihat apa-apa.

Tunggu saja tanggal mainnya, Krystal.

“DVD-nya aku letakkan di atas sofa. Nanti aku sms password apartemenku. Oh ya, bisa antarkan binder kuning di atas meja makan ke kampusku? Hari ini ada materi penting yang harus ku catat.”

Sejak kapan aku suka mencatat?

“Oh ya, stik drum-ku juga, di atas sofa.”

Oke, aku bisa! Jam berapa dan di mana?”

Dua jam lagi di ruang seni. Tanya saja pada orang-orang di kampusku, pasti tahu.”

 

 

 

Aku mendorongnya pelan ke tembok lalu menggenggam tangannya erat. Bisa kurasakan tangannya juga menggenggam tanganku erat. Matanya terpejam, seolah pasrah dengan apa yang akan aku lakukan padanya.

Kudaratkan bibirku di bibirnya. Awalnya aku melumat pelan, lama kelamaan aku seperti orang yang kesetanan. Kugigit kasar bibir bawahnya hingga mulutnya kini terbuka. Sedikit terasa asin. Darah kah? Ah, tidak peduli! Lidahku kini bermain di dalam rongga mulutnya, begitu pula sebaliknya. Lidah kami saling bertautan.

Rasanya dingin seperti biasanya! Tanpa perasaan. Apalagi mengingat apa yang telah Krystal lakukan di belakangku. Rasanya sakit.

Kami saling menarik wajah, mengambil nafas sejenak dan aku kembali menciumnya. Kupeluk pinggangnya. Dia mengalungkan kedua lengannya di leherku dan menekan kepalaku seolah memaksaku menciumnya lebih dalam.

Krystal?

Kudorong tubuhnya pelan.

“Chagi, kok berhenti?”

“Jangan panggil aku chagi, Hyojin-ssi!”

Wajah Krystal lagi-lagi muncul.

Sangat salah! Krystal tidak salah apa-apa. Aku yang salah. Aku yang terlalu pengecut tidak mengutarakan perasaanku padanya secepat mungkin.

“Minhyuk, kau mau ke mana?” tangan Hyojin menahan kepergianku. Dengan lembut kusingkirkan tangannya dari tanganku.

Berhenti menyakiti hati perempuan, Minhyuk!

“Mianhamnida, Hyojin-ssi!” kataku seraya menunduk sekilas padanya. “Aku tidak menyukaimu. Tolong maafkan perbuatanku barusan!”

Aku kembali menunduk padanya. Tanpa menunggu respon darinya aku keluar dari ruang seni. Begitu aku sudah di luar, aku nyaris terpeleset karena sepasang stik drum yang entah kenapa bisa ada di depan pintu.

Stik drum? Dan… binder kuning?

Terlambat! Krystal sudah melihatnya! Gawat!

Tanpa membuang-buang waktu aku berlari mencari Krystal. Bagaimanapun aku harus menjelaskan padanya kalau yang dia lihat tadi hanya kesalahpahaman.

BODOH! Apanya yang salah paham? Bukannya itu yang aku inginkan sebelumnya? Aku sungguh sungguh sungguh menyesal. Tidak seharusnya aku menyalahkan Krystal begitu saja. Aku tidak bisa memposisikan diriku sendiri. Aku baru ingat kali aku bukan siapa-siapanya.

Krystal.. Kau di mana? Sudah hampir semua kujelajahi setiap sudut kampusku, tetap tidak menemukan sosoknya.

“Ya, ya, ya!” Seseorang menahanku.

“Aku sedang buru-buru, Key!” aku berusaha menepis tangannya tapi kembali ditahan.

“Mencari Krystal, tuan?”

“Di mana dia?”

“Apa yang kau perbuat? Dia menangis!”

Ya Tuhan.. Betapa bodohnya aku ini.

“Minhyuk? Kenapa tidak jawab?”

“Aku buru-buru, Key! Ceramahnya nanti saja.”

 

 

 

Aku mengendarai mobilku pelan di pinggir jalan. Key bilang Krystal berjalan ke arah sini. Aku yakin dia berjalan menuju halte bus.

Ternyata aku kalah cepat. Kulihat Krystal sedang menaiki bus. Aku segera turun dari mobil dan berlari menghampirinya. Namun terlambat. Bus sudah berjalan. Tanpa membuang waktu aku kembali memasuki mobilku dan mengejar bus tersebut. Dengan nekat ku salip dan berhenti depan bus itu.

“YA, KAU GILA, HAH?” kata sang supir bus. Kepalanya menyembul melalui jendela.

Akupun turun dari mobil dan berjalan menghampiri bus itu.

DOK DOK DOK! Kugedor pintu bus hingga pintu itu terbuka.

“Mau apa kau, anak muda?”

Aku menaiki bus itu, tidak mempedulikan tatapan garang sang supir bus. Aku mengedarkan pandanganku ke bangku-bangku penumpang dan kudapatkan sosok yang kucari yang sedang duduk di bangku paling belakang.

Aku menghampiri Krystal. Tanpa berkata apa-apa, aku menarik tangannya.

“Ya, kau mau apa, Minhyuk?” Krystal berusaha menepis tanganku. Tapi tetap saja aku yang lebih kuat.

“Ikut saja!” cetusku masih menarik tangannya hingga menuntun dia masuk ke dalam mobilku.

 

 

 

Aku membuka pintu mobil sisi kanan, mempersilahkan Krystal keluar. Diapun keluar dan hanya memandang bingung sekelilingnya. Dan pandangan itu beralih ke padaku.

“Siapa yang meninggal?” tanyanya.

Aku hanya memberikan senyuman terbaikku padanya lalu menggamit tangannya dan menariknya lembut ke suatu tempat. Krystalpun menurut.

“Ini makam siapa?” tanyanya lagi begitu kami berhenti di sebuah gundukan tanah.

“Nae eomma!”

 

Flashback

 

Hari ini, sepulang sekolah, aku langsung berlari menuju rumah sakit yang kebetulan dekat dengan sekolahku. Ada yang ingin kuceritakan pada eomma.

“Nafasmu tersengal-sengal. Kenapa berlari, sayang?”

Eomma menarik tanganku lalu menghapus peluh yang ada di keningku. Tangan eomma menuntunku duduk di tepi ranjangnya.

“Hari ini kelasku kedatangan teman baru,” kataku seraya melepas tas sekolah milikku.

Aku memang biasa bercerita mengenai hal-hal yang terjadi di sekitarku pada eomma.

“Yeoja atau namja?”

“Yeoja.”

“Pantas kau buru-buru ingin bilang ini pada eomma. Kau suka padanya, ya?” goda eomma. Tangannya yang tertancap suntikan selang infus mengelus-elus lenganku.

“Aniya! Dia yeoja yang sombong. Dia pamer baru membeli ponsel mahal. Aku tidak suka dengannya.”

“Kau yakin?” eomma mencolek ujung hidungku dengan jari telunjuknya dan tersenyum menggodaku. Aku hanya menjawabnya dengan sekali anggukan. “Kau belum cerita pada eomma tentang yeoja yang kau sukai, heum?”

“Aku sedang tidak menyukai siapa-siapa.”

“Yang benar?”

“Kalau aku memang menyukai seseorang, aku pasti akan bercerita dan mengenalkannya pada eomma.”

“Yaksok?” eomma menjulurkan jari kelingkingnya.

“Yaksok!” kukaitkan kelingking eomma dengan kelingkingku.

 

Flashback end

 

“Kau.. kenapa membawaku ke makam… ibumu?” tangan Krystal mengguncang pelan lenganku.

“Hanya ingin menepati janji.”

“Janji?”

Aku menggengam kedua tangan Krystal. Dia hanya menatapku dengan matanya yang membulat. Krystal berusaha menarik diri, hal itu justru malah membuat genggamanku semakin erat.

“Aku pernah berjanji pada eomma untuk mengenalkan yeoja yang aku cintai padanya.”

Krystal hanya menatapku kebingungan.

“Saranghae, Jung Soojung!”

Krystal tersenyum remeh. Aku membiarkan tangannya melepaskan diri dari genggamanku.

“Kenapa kau tidak katakan itu pada yeoja yang kau cium tadi?” katanya ketus sambil melipat kedua tangannya. Pandangan matanya dingin memandang mataku.

“Karena aku tidak mencintainya. Maafkan aku, Krystal! Aku salah!”

“Ya, kau tidak salah! Untuk apa minta maaf. Aku bukan siapa-siapamu! Lakukan apa saja sesuka hatimu.”

Pernyataannya barusan sedikit membuatku terkejut. Ucapannya ada benarnya juga. Apa dia tidak peka kenapa aku meminta maaf padanya? Atau jangan-jangan pura-pura tidak merasakan sesuatu? Aku tahu dia cemburu. Kalau tidak, lantas kenapa dia menangis –seperti yang Key bilang tadi- dan bicara ketus padaku?

Krystal tiba-tiba menundukkan kepalanya dan terisak dibalik kedua tangannya yang menutupi seluruh wajahnya.

“Waeyo?” tanyaku.

Kedua tanganku menyingkirkan tangannya dari wajahnya sendiri. Terlihat jelas wajahnya yang sembab. “Kau menangis, Krystal?”

“Wae, Minhyuk? Di saat aku benar-benar yakin ingin membuka hatiku untuk orang lain, kenapa kau malah menghancurkannya? Kenapa kau sama kurang ajarnya dengan orang itu?” tangannya mendorong tubuhku hingga aku melangkah mundur. Lagi-lagi aku melihatnya menangis dan lagi-lagi karena aku.

“Mian, Krystal! Aku tidak bermaksud begitu.”

Aku meraih bahunya dan menariknya ke dalam pelukanku.

“Maafkan aku!” kuelus rambut panjang Krystal, berusaha menenangkannya. “Aku tahu aku bodoh. Aku terlalu bodoh hingga ingin membuatmu sakit hati. Maafkan aku!”

Kurengkuh dagunya, kudaratkan bibirku beberapa detik dibibirnya yang basah karena air matanya.

“Aku berjanji akan mencintaimu sampai kapanpun!”

Ya Tuhan, aku yakin sekali mencintai gadis ini. Gadis pertamaku.

“Kau benar-benar… tidak akan pergi dariku? Kau janji tidak akan membuatku sakit lagi?” tanya Krystal di sela isakannya.

“Tidak akan karena aku benar-benar mencintaimu!”

Tangan Krystal yang tadi hanya menggantung bebas mulai memeluk pinggangku erat.

“Aku mencintaimu, Minhyuk!”

Kata yang aku tunggu-tunggu akhirnya terucap. Nado, Krystal. Nado saranghae. Karena terlalu mencintaimu aku bahkan jadi tidak peduli lagi siapa namja kemarin. Yang pasti kau sekarang sudah jadi milikku dan aku berhak cemburu serta marah-marah jika kau dekat dengan namja lain, hehehe…

 

 

 

Beginikah rasanya menggandeng tangan seseorang yang dicintai? Rasanya seperti menggandeng tangan eomma. Hangat. Hatiku yang terasa hangat. Menyentuh kulitnya saja membuat jantungku berdebar-debar.

Krystal mengeratkan genggamannya di tanganku. Sulit sekali hanya ingin melihat wajahnya saja.

“Kita sampai!”

Krystal menarik tangannya tapi buru-buru kutahan.

“Wae?”

Aku bingung harus bilang apa. Yang jelas aku tidak mau berpisah darinya. Dramatis.

“Ee… Selamat malam!”

Krystal tertawa. “Haha, tumben sekali kau mengucapkan selamat malam.”

“Ya, aku hanya ingin menjadi pacar yang baik tahu!”

“Apa kau selalu kikuk begini dengan semua pacarmu dulu?”

Tentu saja tidak. Aku bahkan berani memberikan ciuman kilat begitu berpisah dengan mereka. Tapi dengan Krystal, memandang matanya saja sudah membuatku gugup.

“Kalau di depanmu aku tidak bisa berkutik,” kataku seraya mencolek ujung hidungnya. Dia hanya memejamkan matanya sambil mengerucutkan bibirnya. Aigoo, ingin sekali aku mengecupnya.

“Kau baru jadi pacarku satu jam yang lalu sudah berani membual, ya!” matanya menyipit tapi bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Aku tidak bohong. Kau yeoja pertama yang berhasil membuat suasana hatiku tidak karuan begini. Aku sungguh sangat beruntung bisa memilikimu.” Kugenggam tangannya seakan tidak mau melepaskannya.

Omona! Wajahnya merah sekali. Terlihat jelas walaupun dia berusaha menyembunyikannya.

CUP!

Kukecup pipinya. Dia menengadah kepalanya padaku dan menatapku garang. Makin terlihat jelas rona pipinya.

CUP!

Kukecup lagi sebelah pipinya yang lain.

“YA!”

“Kenapa? Aku kan pacarmu jadi wajar.”

Bibirnya mengatup. Jelas sekali dia sedang menahan sesuatu.

“Kau tidak perlu menahannya di depan pacarmu sendiri. Tersenyumlah!” godaku seraya mencubit pipinya yang memerah.

“Puas menyiksaku begini?” katanya.

“Maksudmu?”

CUP!

KYAAAAA! Krystal yang mulai! Dia yang mengecup bibirku duluan. Aku mau pingsan!!!

“Puas kau menyiksa hatiku, huh? Selamat malam!” Krystal langsung berbalik memunggungiku, memencet tombol-tombol password apartemennya.

Kalau kau begini setiap hari, sama saja kau juga menyiksaku.

“Kenapa kau tidak masuk?” Kristal menoleh padaku. Tangannya sudah siap membuka pintu.

“Aku mau memastikanmu masuk ke dalam.”

Krystal hanya berdecak lalu menekan gagang pintunya. Siapa sangka ternyata muncul sosok seorang namja dari dalam apartemennya.

“Dari mana saja, Soo?”

Rambutnya hitam kelam, dia namja yang kemarin.

Oke! Sudah saatnya dia tahu siapa aku sekarang.

“Op..pa? Kenapa masih ada di sini? Aku kira kau sudah pulang.”

“Istri dan anakku belum pulang.”

Mworago? Istri dan anak?

“Krystal, ikut aku!”

Aku menarik tangan Krystal dan menuntunnya masuk ke dalam apartemenku.

“Dia sudah punya istri dan anak?” tanyaku pelan setelah aku menutup pintu apartemenku.

“I..iya. Wae?”

“Astaga!” aku menyapu bagian rambut depanku ke belakang. “Kau bisa menghancurkan rumah tangga orang.”

Krystal hanya berdecak. “Kenapa bisa begitu? Aneh!” serunya di sela tawa renyahnya.

“KAU YANG ANEH!!!!” bentakku padanya. Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa bicara keras padanya. Tapi yang jelas, sekilas bayangan beberapa tahun yang lalu kembali terngiang di ingatanku. “Dia sudah punya anak dan istri, Krystal! Bisa-bisanya kau berhubungan di belakang mereka? Kau tidak bisa merasakan jika kau yang ada di posisi istrinya, huh? Kau sama saja dengan yeoja sialan itu!”

Krystal hanya menatapku nanar. “Maksudmu aku yeoja sialan?”

DOK DOK DOK!

Perhatian kami teralih pada pintu apartemenku yang digedor seseorang dari luar.

“Soo? Cepat keluar!”

Krystal mendengus kesal dengan mata yang terarah padaku, lalu membuka pintu berniat keluar.

“Kenapa, oppa? Urusanku belum sel- KOPERKU? Kenapa oppa memegang koperku?”

“Kau tinggal saja ditempatku, Soo! Kajja!”

Namja itu menarik kasar tangan Krystal, sedangkan sebelah tangannya menggeret koper yang diakui Krystal sebagai miliknya.

Seenaknya membawa gadisku!

“YA!” segera kulepas cengkraman namja itu dari lengan Krystal.

“Jangan ikut campur urusan kami, orang asing!”

“Orang asing kau bilang? Aku pacar Krystal!”

Tatapan garangnya berubah. Terkejut. “Pa. Car?” Akupun mengangguk, merespon ucapannya.

Pandangannya kini beralih pada Krystal. “Jelaskan padaku, Soo! Apa benar dia pacarmu?”

Krystal tampak ragu-ragu untuk menjawab. Namun pada akhirnya dia mengangguk pelan.

“Kalau begitu segera akhiri hubungan kalian sekarang  juga!”

Namja itu kembali menarik lengan Krystal.

“Oppa, lepas! Aku tidak mau pergi!”

Buru-buru kutarik Krystal hingga terlepas dari jeratan namja itu. kemudian kutuntun dia untuk berdiri di belakangku. Krystal hanya menggenggam ujung bajuku, seperti ketakutan. Siapa namja ini sebenarnya?

“Kau ini siapa, huh?” tanyaku lantang pada namja itu.

“Kau kira kau siapa berani bicara begitu padaku?” tangannya berusaha meraih tangan Krystal. Krystal sendiri buru-buru menarik tangannya.

“Aku tidak mau, oppa! Tolong jangan paksa aku!”

“KAU LUPA DENGAN PERNIKAHAN, SOOJUNG???” tiba-tiba dia berteriak.

Pernikahan? Krystal dengannya?

ANDWAE!!!

Apa lagi ini???????

 

-TBC-

 

@leeyaaaa: dikehidupan nyata key-minhyuk dekat? kayaknya enggak. akunya aja yg senang pairing (?) mereka :p hidup 91line (?)

 

 

27 thoughts on “Playboy Vs Playgirl [chapter 4]

  1. daebak!!!
    akhirnya Minhyuk n Krystal jdian juga!!
    tp pnasarn nc sma org yg ngaku pacarnya Krystal…
    jgn lama” y lnjutannya … :)ngaku pacarnya Krystal…
    jgn lama” y lnjutannya …🙂

  2. ish ish ish ish.. author’y sneng bgt dech bkn readers penasaran..
    hadooohhh.. lanjutan’y lg jgn lama-lama thor !!!
    sngat2 pnasran ini..
    keren bgt soal’y..😀

  3. Adegan di pemakaman sukses bikin aku terharu😦

    Akhirnya mereka jadian juga…
    Senangnya🙂

    Tapi kenapa tau2 udah ada pengacau author?
    Dan itu maksudnya pernikahan? Apaan?😦

  4. Minhyukkie kau sweet sekali nembak krystal di depan ‘eommanya’ ternyata dia mau nepatin janjinya :’)
    Akhirnya mereka jadian juga ya tapi kasian mereka baru jadian udah ada masalah lagi…
    Aigo itu namja yg nyuruh krystal pergi siapa deh?
    Lanjuut

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s