Playboy Vs Playgirl [chapter 5]

chapter 1 | 2 | 3 | 4

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Genre: romance, friendship, family

Length: chaptered

Rating: NC17

Cast:

  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Krystal / Jung Soojung F(X)
Other cast:
  • Key / Kim Kibum SHINee
  • Kang Minyeon [OCs]
  • Jung Yonghwa CNBLUE

Disclaimer: this’ my own plot *walaupun keliatannya ceritanya basi* keluar dari otak seorang febri

Note: Pertama-tama, maaf karakter Krystal aku buat jutek. soalnya tampangnya mendukung #plak. Yang kedua, gara-gara baca clandestine (cmiiw klo judulnya salah) di ffindo, aku jadi suka minhyuk-krystal, yah saya shipper mereka. Tapi soal jutek2an aku ga ikut2an dr ff itu, seperti yang aku bilang tadi, tampangnya mendukung (?). Dan yang ketiga dan terakhir, SELAMAT MEMBACA~ jangan lupa komen ^^

*************************************************

 

“KAU LUPA DENGAN PERNIKAHAN, SOOJUNG???”

“SHIRO!” Krystal merapatkan tubuhnya dipunggungku.

“Kau harus….”

YA! Tolong pelankan suara kalian!”

Perhatian kami teralih pada suara yang berasal dari speaker interkom apartemen di sisi kanan kami. Aku rasa suara mereka cukup mengganggu para tetangga.

Namja itu melepas genggamannya dari pegangan koper, sedikit menghempaskan benda itu, menunjukkan kalau dia sedang marah.

“Baiklah! Besok aku kembali lagi, Soo! Kau harus ikut denganku!”

Setelah memberikan tatapan tajamnya padaku, dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kami. Buru-buru kutengok keadaan Krystal. Air matanya tidak berhenti mengalir.

“Gwenchana! Orang itu sudah pergi.”

Kurengkuh bahunya dan kutuntun dia memasuki apartemennya sendiri. Tidak lupa kopernya juga.

Krystal duduk di atas sofa dan akupun duduk di sampingnya.

“Sebaiknya kau tidak berhubungan lagi dengannya,” kataku padanya seraya mengusap sebelah bahunya. Krystal hanya menggeleng lemah. “Waeyo?” tanyaku. Kenapa dia tidak mau? Ah, orang itu sungguh membuatku penasaran.

“Tidak perlu takut. Ada aku yang akan melindungimu!”

Krystal tiba-tiba memelukku, membenamkan wajahnya di dadaku.

“Dia kakakku!”

Terkejut. Akhir-akhir ini aku sering terkejut.

Kakaknya??

Kemarin dia yang salah paham dengan kakak perempuanku, sekarang aku yang kena. Tuhan memang maha adil.

“Oppa datang ke sini pasti karena…” Krystal menggantung ucapannya, hal yang paling kubenci karena ini hanya akan membuatku penasaran.

“Karena apa?”

“Pernikahan!”

“Siapa yang akan menikah? Hahaha, bukan kau, kan?”

Jangan konyol, Minhyuk! Kau kira ini jaman batu?

“Memang aku!”

Oke! Aku memang konyol!

Tiba-tiba kepalaku pusing. Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi sebenarnya. Dia tidak pernah cerita apa-apa tentang ini padaku. Baru satu jam yang lalu kami resmi berpacaran, dan sekarang dia bilang kalau dialah yang akan menikah. Telingaku tidak tuli, kan?

“Maafkan aku, Minhyuk! Seharusnya aku cerita dulu padamu.”

Sekarang aku hanya berharap telingaku tiba-tiba tuli.

“Bawa aku lari, Minhyuk! Aku tidak mau menikah! Melihat pria yang akan dijodohkan denganku saja tidak pernah, bahkan aku tidak tahu namanya.”

Kakaknya itu hidup di jaman apa, sih? Dia kira ini jaman siti nurbaya? *hey-hey* Kolot sekali.

Tapi membawanya pergi… Aku rasa aku tidak yakin untuk melakukan itu. Bukan karena aku pengecut. Malah menurutku lari adalah tindakan paling pengecut.

Krystal mengeratkan pelukannya. Aku yakin sekali dia ketakutan.

“Gwenchana! Aku tidak akan membiarkanmu di tangan orang lain.”

Enak saja merebut sesuatu yang berharga dariku. Kali ini tidak akan kubiarkan dia lepas. Sampai maut memisahkanpun, aku tidak akan meninggalkannya. Kalau perlu aku jadi hantu penasaran saja sekalian. Penasaran karena Krystal. Eh?

 

 

 

Dari balik dapur, kuintip Krystal yang masih memejamkan matanya. Dia tertidur di atas sofa. Yah menangis terlalu lama aku kira menguras tenaga.

Sudah empat jam berlalu. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Aku rasa pasti Krystal akan merasa kelaparan saat bangun nanti.

Maka dari itu, sekarang ini aku sedang masak makan malam. Kuletakkan spageti yang sudah matang ke atas dua piring, lalu kusiram dengan saus daging a la Minhyuk, kekeke. Aku hanya menatap puas atas hasil karyaku. Masakan kebanggaanku karena hanya ini satu-satunya masakan yang bisa aku masak.

Setelah kulepas apron hitam milik Krystal, kuletakkan kedua piring itu di atas meja makan.

Tidak, tidak, tidak! Aku ingin sesuatu yang berbeda. Sedikit kejutan untuk Krystal. Hitung-hitung melupakan kejadian tadi siang. Aku tidak mau dia jadi kepikiran terus.

Kuangkat sebuah meja kayu –yang sedikit berat ini- ke balkon.Tidak lupa dua kursi. Dua piring spageti yang tadi aku letakkan di atas meja, kupindahkan ke meja yang tadi kuletakkan di balkon. Lilin? Aku tidak tahu Krystal meletakkan lilin di mana atau mungkin dia tidak memilikinya. Buru-buru bergegas ke apartemenku dan mengambil lilin –beserta tempatnya- yang biasa aku letakkan di laci lemari. Kebetulan aku juga melihat vas yang berisi setangkai mawar merah imitasi. Aku rasa ini berguna.

Hosh! Capek! Bolak-balik apartemen Krystal – apartemenku. Karena aku baru ingat meja itu telanjang (?), aku kembali ke apartemenku dan mengubek-ubek lemari dapur. Kenapa taplak ada di dapur? Ah, abaikan! Yang penting ketemu.

Jang jang jang!

Romantis, kan? Makan dalam keadaan redup – semua lampu kumatikan-, ditemani cahaya bulan dan bintang-bintang yang bertebaran dilangit, ditambah pemandangan Seoul di malam hari dari balkon. Jangan salah, pemandangannya tidak kalah indah dengan pemandangan dari Namsan Tower.

Kemudian kuhampiri Krystal yang masih terlelap.

“Krystal, ayo bangun!” kuguncang-guncang tubuhnya.

Saat matanya mengerjap-ngerjap, segera kututup matanya dengan tanganku.

“Ya, apa-apaan, sih?!” dia berusaha memberontak, tapi aku menahannya. Jangan sampai rencana jadi kacau.

“Sudah ikut saja!” perintahku.

Krystalpun bangkit dan kutuntun dia berjalan menuju balkon. Kutarik kursi dengan kakiku dan kutuntun Krystal untuk duduk.

“Hana, dul, set!”

Kulepas tanganku. Segera kududukkan diriku sendiri di kursi seberang Krystal.

Aku bisa melihat ekspresinya. Matanya membulat memandangi sesuatu di atas meja. Ditambah mulutnya yang menganga cukup lebar, membuatku yakin kalau Krystal terkejut dengan hasil karyaku.

“Ini semua kau yang menyiapkannya?” tanya Krystal yang kemudian menoleh ke samping kanannya. Lampu-lampu yang menyala di kota Seoul menambah suasana menjadi makin romantis. Ah, aku pintar, kan?

“Kau suka?”

Ujung bibirnya sedikit tertarik ke atas, tapi buru-buru dia ulur. “Ani!” katanya singkat seraya menggeleng kepalanya. Aku yakin sekali apa yang dia katakan tidak sesuai dengan kata hatinya.

“Yakin? Jarang-jarang kau akan menemukan sisi romantis seorang Minhyuk.”

“Ini yang kau sebut romantis? Gelap-gelapan seperti orang yang sedang hemat listrik, makan spageti, sebotol coke besar dan pemandangan gratisan?”

“Aish.. Setidaknya kau lihat usahaku!”

Aku sedikit merajuk padanya. Susah payah aku menyiapkan ini semua dan dia tidak menghargainya. Setidaknya kalau memang tidak suka ya sembunyikan saja di dalam hati dan pasang wajah palsu kalau kau menyukainya, Krystal!

“Geurae! Akan kunyalakan lampunya.”

Aku bangkit berdiri, berniat menyalakan lampu yang seluruhnya sengaja kupadamkan –maksudnya lampu apartemen Krystal. Tapi tangan Krystal tiba-tiba mencengkeram lenganku.

“Kau duduk saja!”

Tangannya menuntunku duduk, sedangkan dia yang masuk ke dalam. Bukannya mendapati cahaya lampu, tapi malah musik yang berdentang dari dalam. Krystalpun muncul dan kembali duduk di tempatnya.

“Ini baru romantis,” katanya sembari tersenyum manis padaku. Ada apa dengannya?

L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very, very extraordinary
E is even more than anyone that you adore

“Maafkan aku, Minhyuk! Aku tidak bermaksud berkata seperti tadi. Aku… paling sulit kalau disuruh mengungkapkan sesuatu.”

“Maksudmu?”

“Aku sangat menyukainya. Aku benar-benar terharu.”

“Jeongmal?”

“Ne!”

Nah, begitu dong! Kau tidak perlu malu untuk mengungkapkan apa yang kau rasakan padaku. Aku kan pacarmu!

Kutuang coke ke dalam dua gelas besar, untukku dan Krystal.

Cheers!” seru kami berdua seraya mengadu bibir gelas kami masing-masing lalu meminumnya sedikit.

Love is all that I can give to you
Love is more than just a game for two
Two in love can make it
Take my heart and please don’t break it
Love was made for me and you

Kami memakan spageti yang kumasak tadi dan dia memuji masakanku. Senangnya.. Dan di sela makan, kami juga sedikit mengobrol. Tentu saja kuhindari topik yang menyangkut tentang pernikahan dan kakak laki-lakinya. Lebih baik jangan dibicarakan sekarang karena hanya akan mengacau suasana yang sudah terlanjur hangat ini.

 

*****

 

TING TONG TING TONG!

Sayup-sayup kudengar suara bel apartemenku. Kulirik jam digitalku. Jam setengah enam pagi. Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini?

Suara bel masih terdengar. Akupun beringsut dengan malas dari tempat tidurku lalu berjalan keluar kamar. Kukucek-kucek mataku agar bisa melihat jelas apa yang ada di sekitarku.

“Mengganggu saja!”

Kuintip siapa tamu tidak tahu diri itu melalui interkom.

Eh? Aku tidak salah lihat, kan?

Dengan nyawa yang tiba-tiba sudah mengumpul sepenuhnya, aku berlari menuju pintu dan membukanya. Tamu-tak-diundangku sedikit terkejut karena aku membuka pintu secara tiba-tiba.

“Maaf mengganggu tidurmu. Aku ingin bicara denganmu!”

“Hah? E.. silahkan!”

Bukannya dia bicara malah menatapku seolah aku orang yang tidak tahu adat.

“Boleh aku masuk?”

Ah, pabo! Aku mengerti maksud tatapannya tadi.

“Silahkan, masuk!”

Aku membiarkannya masuk dan berjalan di depanku. Tanpa kupersilahkan, dia duduk di sofa.

“Mau minum apa.. rr..”

“Namaku Jung Yonghwa.”

“Mau minum apa, Yonghwa-ssi?”

“Tidak perlu. Aku ke sini hanya untuk bicara, bukan untuk minta minum.”

Dia orang yang menyebalkan. Sama menyebalkannya dengan Krystal saat aku pertama kali mengenalnya dulu.

“Dengan menekan segala rasa maluku, aku memohon padamu untuk menjauhi Soojung!”

Dan dia ke sini memintaku untuk berpisah dengan Krystal? Bahkan umur jadian kami belum ada sehari. Seenaknya saja dia mengatur kami.

“Maaf, Yonghwa-ssi! Aku tidak bisa menuruti permintaanmu.”

“Kalau begitu, kau berjanji akan benar-benar selalu ada di sisi Krystal?”

“T..tentu saja!”

“Tolong jawab yang tegas!”

“Tentu saja karena aku mencintai Jung Soojung- adikmu!”

Apa-apaan dia? Tadi dia menyuruhku untuk menjauh dari Krystal dan kemudian tiba-tiba dia memintaku berjanji untuk selalu di sisi Krystal. Dia ini aneh!

“Maaf kalau sikapku sedikit membingungkanmu! Aku hanya tidak ingin adikku menangis karena seorang namja lagi.”

“Apa maksudmu dengan ‘lagi’?”

Sepertinya ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Yonghwa membenarkan posisi duduknya dan bersiap diri untuk menceritakan sesuatu.

“Ada seorang namja yang pernah hadir di kehidupan Krystal. Saat itu Krystal masih berumur empat belas tahun dan diumurnya yang segitu dia sudah mengenal yang namanya cinta. Malangnya, dia mendapat cinta pertama yang buruk. Namja itu menyakiti hati Krystal. Aku bingung bagaimana caranya membuat adikku melupakan namja itu. Dia sudah terlanjur mencintainya dan dia sakit hati begitu putus darinya. Ditambah kepergian orang tua kami, dia semakin terpuruk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku hanya mengatupkan mulutku saat teman-temanku bercerita kalau mereka sering memergoki Krystal sering berjalan dengan namja yang berbeda-beda. Aku lelah! Selama itu tidak membuatnya sedih dan melakukan hal yang lebih jauh, aku membiarkannya.”

Panjang lebar dia bercerita dan dengan konsentrasi tinggi kusimak semua ucapan yang keluar dari mulutnya.

‘Wae, Minhyuk? Di saat aku benar-benar yakin ingin membuka hatiku untuk orang lain, kenapa kau malah menghancurkannya? Kenapa kau sama kurang ajarnya dengan orang itu?’ Ucapan Krystal kemarin saat di makam eomma kembali terngiang. Aku semakin yakin kalau orang kurang ajar yang dimaksud Krystal adalah orang yang barusan diceritakan Yonghwa.

“Boleh aku tanya satu hal?” tanyaku.

“Silahkan!”

“Kenapa kau menjodohkan Krystal? Kau tidak berpikir kalau itu hanya akan membuatnya sedih?”

“Oh, soal pernikahan itu biar aku yang urus. Aku akan bicara baik-baik dengan ayah si calon mempelai pria. Beliau pasti bisa memakluminya. Aku melakukan ini karena merasa berhutang budi atas kebaikan beliau selama ini. Setelah orang tua kami meninggal, dialah yang mengurus kami berdua secara finansial.”

Aku mengerti. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kakak Krystal. Keadaan yang membuatnya seperti ini.

“Kau bisa mengandalkanku, hyung.. maksudku Yonghwa-ssi.”

“Gwenchana. Panggil saja aku hyung.”

 

 

 

“Oppa bilang begitu?”

“Ye!”

Selang satu jam setelah kepergian Yonghwa hyung, aku segera memberitahu Krystal dan menceritakan semuanya padanya. Dia cukup terkejut mendengarnya.

“Aku merasa tidak enak dengan ahjussi. Dia sahabat terbaik appa dan semua biaya hidup kami dia yang tanggung, bahkan dia membelikanku apartemen agar tidak hidup menumpang dengan keluarga kecil Yong oppa.”

“Jadi maksudnya kau mau menikah dengan anaknya?” cibirku padanya

“Aku kan tidak bilang begitu. Kalau kau ada di posisiku, kau pasti akan merasa dilema sepertiku sekarang.”

Mungkin dia benar. Aku tidak pernah berada di posisinya jadi aku tidak bisa merasakannya. Tapi kalau begini rasanya aku ingin merasakan sedikit kedilemaannya itu, agar pacarku ini tidak merasakannya sendiri.

DEG!

Sudah sering kali aku pacaran, tapi mengucapkan kata ‘pacarku’ serasa aku benar-benar baru pacaran sekali seumur hidup. Pacarku yang pertama dan yang terakhir.

“Sudahlah, kau keluar sana! Aku mau mandi!”

“Aku tunggu di sini saja!”

“Keluar, Minhyuk!” nadanya sudah mulai terdengar mengerikan.

“Bagaimana kalau kita mandi bareng?”

Spontan remot televisi yang sedari tadi Krystal genggam melayang ke kepalaku.

“Appo!!!” jeritku.

“Kaluar dari apartemenku, Kang Minhyuk!!!!”

Krystal bangkit berdiri seraya menyeretku yang masih mengusap-usap kepalaku yang kurasa benjol. Tepat saat pintu terbuka, tampak sesosok pria sedang memencet tombol password apartemenku. Begitu menyadari kebisingan yang kami buat, dia menolah ke arah kami.

“Ya, Minhyuk! Kau… dan Krystal…”

 

 

 

Aku kembali menyuap telur gulung yang dibuat Key, sedangkan sang koki sendiri sedang sibuk dengan ponsel miliknya. Sesekali dia menengok ke arahku di sela bicaranya dengan seseorang di seberang sana. Siapa lagi kalau bukan Minyeon noona.

“Dia baru jadian kemarin, tahu-tahu tadi pagi kepergok keluar dari apartemen Krystal hanya mengenakan boxer dan kaus oblong putih, Krystal sendiri hanya mengenakan piyama terusan selututnya dan mereka berpegangan mesra. Kalau kau melihatnya kau pasti akan berpikiran sama denganku, kekeke!”

Cih, anak ini! Sudah berapa kali kubilang aku tidak melakukan apa-apa dengan Krystal. Dan parahnya dia terlalu melebih-lebihkan. Kami berdua tidak berpegangan mesra. Orang pasti akan berpikiran kalau di dalam habis terjadi tindak kekerasan. Aku yang tertindas!

“Sudah telpon-telponannya?” kataku begitu melihat Key duduk di seberangku.

“Sudah!” jawabnya riang.

“Senang sekali sepertinya. Senang ya melihat teman menderita?”

“Hahaha, sedikit dilebih-lebihkan demi kakakmu. Dia pasti sangat senang akhirnya adiknya sadar.”

“Sadar?”

“Ah, kau tahu itulah, ex-playboy!”

“Aish!”

Kembali kumasukkan sepotong dadar gulung ke dalam mulutku dan kukunyah dengan malas. Lagi-lagi dia mengungkit itu. Kalau dia bukan sahabatku, mungkin sudah kubuang dia ke tong sampah.

Tapi ada yang aneh dari Key. Dia tidak berhenti tersenyum. Ada apa dengannya?

“Kau sakit? Perlu kuantar ke rumah sakit jiwa?”

“Meledekku, huh?”

“Senyumanmu itu membuatku takut. Ada apa? Ceritalah denganku!”

Key yang tadinya ingin menyumpit nasi ke dalam mulutnya, tidak jadi dilakukannya.

“Minyeon noona bilang kalau dia kangen denganku.”

Sigh! Aku belum siap kalau Key jadi kakak iparku.

Aku harap dia sadar apa yang dimaksud noona dengan kata ‘kangen’-nya itu.

 

*****

Hari ini Krystal sedikit aneh. Tumben sekali dia menyuruhku ke apartemennya saat jam kuliahku belum selesai. Biasanya dia akan marah-marah kalau aku bolos.

Yah, harusnya aku bersyukur sih punya pacar yang perhatian seperti dia. Sebulan berlalu, aku semakin mengenal kepribadian Krystal.

Krystal yang aku tahu selalu dingin dan suka bertindak menyebalkan, ternyata ada sisi hangat dari kepribadiannya. Krystal orang yang baik dan penyabar. Pernah aku membuat janji kencan dengannya disuatu tempat, karena ada hal yang mendesak aku jadi terlambat hampir satu jam. Dan dia tidak marah akan hal itu.

Ah, aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dengannya dulu, walaupun awalnya aku hanya ingin dia jadi targetku selanjutnya, kekeke.

Kini aku sudah sampai di depan apartemennya. Kutekan belnya. Namun pintu tak kunjung dibukakan. Ingin sekali aku langsung masuk, tapi aku tidak mau remot televisi kembali menerjang kepalaku untuk yang keempat kalinya.

TUUUUUUUUUUUUUUUUUUT! TUUUUUUUUUUUUUUUUUUUT!

Dia juga tidak mengangkat teleponnya. Ada apa dengannya? Aku takut terjadi apa-apa dengannya di dalam.

Segera kutekan tombol-tombol passwordnya dan dengan tergesa-gesa kubuka pintu.

BHUG!

Pintu yang kubuka menabrak sesuatu.

Krystal tiba-tiba pingsan beserta kue tart yang sudah tidak berbentuk lagi.

 

 

 

“Gwenchanayo?” tanyaku sambil membantunya mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Aku yang tadinya duduk di kursi jadi pindah ke sisi tempat tidur Krystal.

“Gwenchana!”

Syukurlah dia sudah sadar. Dia pingsan karena kepalanya terantuk pintu yang tadi kubuka. Aku tidak bisa membayangkan rasa sakitnya yang dialami sekarang.

“Kau itu bisa tidak sih buka pintu pelan-pelan?” tanyanya seraya mengusap keningnya. Mungkin masih terasa sakit.

“Salah sendiri berdiri di belakang pintu.”

“Aku kan mau beri kejutan.”

“Habis aku panik. Aku tekan bel tidak dibuka-buka pintunya. Kutelpon tidak diangkat. Kalau terjadi sesuatu padamu di dalam bagaimana?”

“Tapi nyatanya tidak, kan?”

“Yah, baiklah aku menyerah!”

Kalau kuladeni lagi, mungkin setahun kemudian kami berhenti berdebat.

“Padahal susah payah aku membuat itu!” katanya dengan wajah cemberut.

“Membuat itu apa?”

“Kue tart!”

“Kau yang membuatnya sendiri?”

“O!”

Haha, lucu! Garang-garang begini ternyata bisa membuat kue? Wah, daebak!

“Lalu aku merayakan ulang tahunmu dengan apa? Kuenya hancur.”

Aku berpikir sesuatu. Aha!

“Tunggu sebentar ya!”

Aku pergi dari kamar Krystal dan berjalan menuju dapur. Kuenya hanya hancur bagian bawah, makanya tadi aku sengaja mengambil bagian atasnya lalu meletakkannya di atas piring. Kuletakkan saja beberapa lilin tadi di atas kue tidak berbentuk ini dan menyalakannya lalu kubawa ke kamar Krystal.

“Jang..jang..!”

Krystal sedikit terkejut dengan apa yang aku bawa.

“Ya! sampah begini kau bilang kue?”

“Sampah ini masih bisa dimakan!” kataku sedikit geram. “Ini kan juga buatanmu. Mubazir kalau dibuang semua, kuambil saja bagian yang masih bisa di makan.”

Akupun kembali duduk manis di tepi ranjangnya. Krystal masih saja mengusap keningnya yang masih memerah.

“Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida, saranghaneun Minhyuk ireum, saengil chukkahamnida..” tiba-tiba saja Krystal bernyanyi riang diiringi tepuk tangannya sendiri. Matanya melotot memandangiku dan lilin secara bergantian. Akupun meniup lilin itu.

“Aih, pacarku semakin tua!” katanya.

“Tua-tua begini kau menyukaiku, kan?”

“Ani, kapan aku pernah bilang begitu?”

“Krystal, jangan mulai deh!” yang aku ajak bicara hanya menyengir tidak jelas. Satu hal yang aku tahu, berdebat dengan Krystal itu melelahkan.

Kupotek sedikit kue itu dan menyuapinya ke Krystal.

“Kue ini kuberikan untuk orang yang sangat saya sayangi!” kataku berlagak formal.

Mulut Krystal tidak terbuka terlalu lebar sehingga krim kue menempel di bibir bawahnya. Tangannya ingin mengusapnya, tapi ternyata bibirku lebih cepat. Kujilat bibir bagian bawahnya yang terasa sangat manis. Aku tidak menyangka Krystal mengulum bibir bagian atasku. Tangannya dengan sigap melingkar dileherku, membuat tanganku spontan memeluk pinggang rampingnya.

Bosan dengan bibir bawahnya, kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Krystalpun merespon dan melakukan hal sama dengan yang kulakukan. Aku lupa kapan terakhir kali aku melakukan ini. Tapi yang jelas bagiku ini yang pertama kali.

Suara kecapan memenuhi seisi ruangan kamar Krystal yang sedikit redup. Krystal benci jika kamarnya terlihat terlalu terang, makanya tadi hanya kunyalakan lampu meja. Ternyata ini malah menjadi petaka. Aku terbawa suasana. Ditambah aroma tubuh Krystal yang membuatku semakin tergiur.

Entahlah… Ada perasaan lain di dalam diriku. Tuhan, tolong aku jika aku berbuat lebih jauh!

Sebelah tanganku yang memeluk pinggangnya naik ke bahunya dan mendorong setengah tubuhnya yang belum tersentuh tempat tidur. Suasana kamar yang tadi kurasakan dingin berubah panas seketika. Mungkin karena ciuman yang sangat sulit aku gambarkan ini. Yang jelas, cinta dan gairah bercampur jadi satu.

Kuangkat wajahku dan memandang wajah Krystal. Dia memejamkan matanya. Wajahnya merah merona. Aku terkekeh pelan melihatnya.

Masih dalam keadaan tubuhku yang berada di atasnya, aku kembali fokus pada permainan yang tak terduga ini. Kukecup bibirnya, kukecup dagunya, dan yang terakhir turun ke leher. Cukup lama aku bermain di lehernya hingga cukup banyak bercak merah akibat ulahku. Kudengar Krystal sedikit menahan desahannya yang malah membuatku semakin menjadi.

Masih asik bermain di lehernya. Sebelah tanganku membuka kancing kemejanya satu persatu. Tangan Krystal tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku erat, tapi tidak menahannya hingga aku yakin semua kancing bajunya sudah terlepas semua tanpa melihatnya.

Aku kembali mengangkat wajahku untuk melihat ekspresinya. Lagi-lagi matanya terpejam. Hanya saja bisa kulihat jelas bulir air matanya yang mengalir di ujung pelupuk matanya.

 

-TBC-

 

MAAF KALO GARING =.=

 

28 thoughts on “Playboy Vs Playgirl [chapter 5]

  1. Btul dugaanQ trxta pria itu oppa nya krystal hehe…

    Ayo key naksir nunanya minhyuk y? *towel key*

    agak takut2 pas bca yg trakhr2 keke *halah biasax NC21 jg /plak* knp krystal nangis?kl dy g mw minhyuk melakukanx knp dy malah diam tp nangis?? Apa mantan pcrx krystal dulu hampir melakukanx ma krystal,makax krys nangis? *ngarang bebas*

  2. Gak garing kok..
    Cuma mmg critanya mesti gini aja mnrtku..
    Kam mrka mntan player.. Jadi msti bnyak penjelasan sana sini..
    Hehehehehe
    Fighting!!!

  3. Keluarg kecil yonghwa? Pst istrix seo #soktau
    key suka nunax minhyuk? Daebak #takbisabrkatakata
    hayo lanjutkan…coriuos corious…

  4. lagi seru-seru baca kok tiba-tiba TBC sih????
    wah ternyata yonghwa itu kaka krystal. aku kira yang mau dijodohin. nah yang mau dijodohin ma krystal siapa dong???
    wiiis bagian akhirnya seru tuh, apalagi kalao diterusin #plaaaak
    lanjuuuut ya lanjuuuut #demo

  5. envy bgd baca yg terakhirnya…
    author keren ff nya tpi akhirnya bikin envy…
    tapi q suka couple ini sih…
    lanjut author n jgn lma” y… ^^

  6. minhyuk ngeyadong riaaaaaa O.o *ditaboksandal*
    krystal belum siap tuh #PLAK
    jangan dulu atuh aKang Minhyuk… anak orang masih perawan main embat aje.. -___- *ditendang ke rumah yonghwa*
    lanjut yaaa chingu ^^

  7. Omo~
    Untungnya itu cuma oppanya Krystal, bukan pacarnya lagi (?)😀

    Aku gak gak gak kuat baca bagian bawahnya hahaha
    Minhyuk oppa nafsu banget sepertinya~
    Kkkkkk

  8. aih, itu yang candle light dinner di balkon romantis banget… *coel minhyuk*
    waaaaaahhhh, itu minhyuk ngapain hayooo minhyuuukk??? *coel lagi*

  9. Huft ternyata itu kakaknya krystal kirain namja yg mau dijodohin sama krystal…
    Wah minhyuk romantis banget bikin candle light dinner buat krystal kya~~ mau dooong!
    Duh adegan yg terakhir dapet bgt romantisnya. Tapi itu kenapa krystal nangis ya?
    Next ^^

    Ps: gaya penulisannya author rapi banget nih jadi enak bacanya ^^

  10. Ohh jd oppanya krystal itu yonghwa toh..
    Syukur deh kalau yonghwa mau membatalkan pernikahan krystal dg laki-laki yg tidak dikenali krystal..🙂
    Haduh~ couple satu ini mau nglakuin apa tuh.. ckckck

  11. Ohh jd oppanya krystal itu yonghwa toh..
    Syukur deh kalau yonghwa mau membatalkan pernikahan krystal dg laki-laki yg tidak dikenali krystal..🙂
    Haduh~ couple satu ini mau nglakuin apa tuh.. ckckck

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s