Playboy Vs Playgirl [chapter 6]

chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Genre: romance, friendship, family

Length: chaptered

Rating: PG16

Cast:

  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Krystal / Jung Soojung F(X)
Other cast:
  • Key / Kim Kibum SHINee
  • Kang Minyeon [OCs]

Disclaimer: this’ my own plot *walaupun keliatannya ceritanya basi* keluar dari otak seorang febri

Note: Pertama-tama, maaf karakter Krystal aku buat jutek. soalnya tampangnya mendukung #plak. Yang kedua, gara-gara baca clandestine (cmiiw klo judulnya salah) di ffindo, aku jadi suka minhyuk-krystal, yah saya shipper mereka. Tapi soal jutek2an aku ga ikut2an dr ff itu, seperti yang aku bilang tadi, tampangnya mendukung (?). Dan yang ketiga dan terakhir, SELAMAT MEMBACA~ jangan lupa komen ^^

*************************************************

Aku kembali mengangkat wajahku untuk melihat ekspresinya. Lagi-lagi matanya terpejam. Hanya saja bisa kulihat jelas bulir air matanya yang mengalir di ujung pelupuk matanya.

Krystal membuka matanya. Terkejut karena tubuhnya yang sedikit terkespose sudah tertutup lagi. Aku kembali mengancingkan kemejanya.

Krystal mendesah lega. Namun entah kenapa melihatnya begitu membuat langkahku membawaku pergi dari kamar Krystal. Kuhempaskan tubuhku di atas sofa empuknya dan kemudian memejamkan mataku sembari merenungi apa yang aku lakukan barusan.

Kecewa? Tidak!

Aku tidak mau melakukannya kalau justru itu malah membuat Krystal takut. Terpancar rasa ketakutan dari Krystal melalui matanya yang terpejam erat dan air mata yang tiba-tiba menetes dari ujung matanya. Akan akan semakin merasa bersalah jika lebih memilih egoku.

Sofa tiba-tiba berguncang, membuat mataku kembali terbuka.

“Minhyuk, maafkan aku!” serunya seraya menatap mataku sayu. Aku hanya mengernyit padanya. Aku tidak mengerti kenapa dia minta maaf secara tiba-tiba. “Aku… aku sudah siap! Aku siap kalau kau ingin melanjut-!” Krystal sedikit terkejut karena aku mengecup bibirnya singkat disela bicaranya. Aku paham sekarang.

“Aku tidak akan melakukannya sebelum kita benar-benar terikat!”

Krystal tersenyum dan berhambur maju ke dalam pelukanku.

“Gomawo!” katanya. Aku hanya merespon dengan memberikan setuhan lembut di rambut panjangnya.

Kami hanya terdiam. Aku memang sengaja tidak bicara. Fokusku hanya pada debaran jantung yang aku rasakan. Aku suka sekali situasi seperti ini.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Krystal memecah keheningan. Dia masih betah memelukku.

“Tanpa aku perbolehkan, kau sedang bertanya, kan? Kekeke…”

“Aish! Bukan itu maksudku!”

“AWW!” Krystal tiba-tiba mencubit pinggangku. “Iya, iya, mau bertanya apa, cantik?” aku kembali mengusap rambut panjangnya. Wangi jeruk menyeruak ke dalam hidungku.

“Apa maksudmu dengan ‘benar-benar terikat’? Jadi maksudmu sekarang ini kita tidak sedang terikat?”

Kini kupeluk tubuhnya. Bukan hanya debaran jantungku saja yang dapat aku rasakan, terasa jelas debaran jantung Krystal di dadaku. Aish! Jangan mesum!

“Kita memang sedang terikat. Terikat cinta. Tapi ikatan yang sebenarnya adalah ikatan yang disaksikan oleh Tuhan dan diakui oleh orang-orang. Bagiku, ikatan yang sebenarnya adalah mengucap sumpah sehidup semati di hari yang sakral bagi kita.”

“Kau bicara berputar-putar!”

“Aigoo! Jadi intinya, aku akan melakukan..hmm..sesuatu yang tidak jadi kita lakukan tadi jika kita sudah menikah!”

“Aku tahu, pabo! Kau kira aku bodoh, huh?”

Aku terkekeh mendengar ucapannya.

“Kau tiba-tiba jadi dewasa begini, Minhyuk! seperti orang lain.”

“Salahkan dirimu karena kaulah aku jadi begini!”

Tangan Krystal makin memeluk pinggangku erat.

 

*****

 

Pandanganku beralih ke pintu apartemenku yang tiba-tiba terbuka. Tidak ada sapaan riang seperti yang biasanya. Dia hanya berjalan lemas dan duduk di sampingku.

“Kau kenapa?”

“Hibur aku, Minhyuk!”

Aku mengernyit padanya. Dan aku sekarang mulai paham kenapa dia begini.

“Memang apa lagi yang dia bilang padamu?” tanyaku padanya.

“Aku muak setiap dia bilang mencintai orang itu. Perasaanku selalu tidak enak setiap mendengarnya bilang begitu.”

Aku menggeser posisiku sehingga kini aku berhadapan dengannya. Wajahnya kusut. Kutepuk kedua bahunya, berusaha memberi penguatan pada sahabatku sendiri.

“Aku kan sudah bilang, jangan terlalu mengharapkan noona.”

“Kau kira aku mau? Aku selalu berusaha menepis apa yang aku rasakan padanya, tapi tetap saja hatiku berkata kalau aku mencintainya.”

Kalau sudah begini, aku yakin sekali Key akan menangis. Nah, baru saja aku mau menghitung satu sampai lima, dia sudah menangis kejar. Key memang sangat lemah karena seseorang yang bernama Kang Minyeon.

Aku tahu sekali Key sangat menyukai noona, atau mungkin cinta seperti yang dia bilang tadi. Aku mengetahuinya saat diam-diam Key selalu mencuri pandang pada noona –sang ketua OSIS- yang sedang sibuk membaca laporan-laporannya. Sejak saat itulah Key selalu cerita tentang hari-harinya yang terasa indah jika berada di dekat noona.

Semenjak noona tinggal di London, hubungan mereka tidak terputus begitu saja. Aku sendiri bahkan terheran sendiri. Sebenarnya siapa adik noona yang sebenarnya. Noona lebih sering menghubungi Key ketimbang aku. Aku tidak iri, lho!

Wajah kusut Key yang seperti ini sebenarnya sudah hampir seratus kali aku melihatnya. Itu semua karena kakakku. Berawal dari cerita kalau Minyeon noona menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria yang sama-sama berkebangsaan Korea, orang Busan. Dan selanjutnya… yah bisa kau bayangkan sendiri wajah kusut seorang Kim Kibum.

Cinta memang rumit.

 

*****

Aku hanya duduk dengan malas di sofa hitam yang terbuat dari kulit ini. Kupandangi seisi ruangan yang masih asing bagiku. Yang aku ingat, terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini saat peristiwa menjijikkan itu terjadi.

Karena merasa bosan duduk hampir satu jam, akupun bangkit berdiri dan berjalan-jalan mengitari ruangan yang luas ini, luasnya tidak kalah besar dengan ukuran kamarku di rumah –bukan apartemenku. Dan mataku terfokus pada beberapa tiga bingkai foto kecil yang terletak di atas meja singgasana sang direktur.

Yang satu adalah fotoku saat aku berpose piece di saat ulang tahunku yang ke enam. Selanjutnya foto noona di hari kelulusannya dengan predikat siswi terbaik. Dan yang terakhir foto appa dengan yeoja itu.

Tidak ada foto eomma. Benar-benar melupakan eomma rupanya.

Tak lama kudengar suara gagang pintu ditekan, tapi pintu belum kunjung terbuka. Kesempatan bagus untuk kembali duduk di sofa tanpa ketahuan.

“Sudah lama menunggu?” tanya appa tepat setelah aku mendudukkan diriku. Sebisa mungkin aku bersikap biasa di hadapan appa yang kini sudah duduk di seberangku.

“Hampir satu jam mungkin.”

“Maaf terlambat! Ada rapat mendadak.”

“Gwenchana!” aku hanya bisa maklum menghadapi orang sibuk seperti dia. “Sebenarnya kenapa appa memintaku kemari?”

Yah sedikit aneh, mungkin sangat aneh saat appa menelponku kemarin begitu dia menginjakkan kakinya di Korea dan memintaku kemari sekarang. Pastinya ada hal yang penting.

“Berapa usiamu sekarang?” kata appa sembari menyesap kopi hitamnya. Sepuluh menit yang lalu sekretaris appa masuk dan meletakkan sebuah cangkir di dekat gelasku. Mungkin dia tahu kalau appa sebentar lagi akan selesai.

“Dua puluh,” jawabku sekenanya.

“Apa kau berniat menikah? Appa menemukan seorang gadis yang cocok denganmu.”

Astaga!! Dia menyuruhku ke sini hanya untuk menawariku pernikahan?

Tanpa banyak bicara aku langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.

“Kau mau ke mana? Ke mana sopan santunmu? Inilah kenapa aku melarangmu dan kakakmu tinggal di tempat lain.”

Langkahku terhenti. Rasanya ingin tertawa aku mendengar kalimat appa barusan.

“Lalu kalau aku tinggal di rumah, kau mau mengajari kami bagaimana caranya bersikap sopan santun? Aku bahkan sangsi bisa bertatap muka denganmu walaupun hanya satu kali dalam sebulan.”

Dan ternyata kalimat yang terlontar dari mulutku barusan berhasil membuatnya bungkam. Mungkin Appa sadar kalau ucapanku memang sangat benar sekali.

 

 

 

“Kau bolos, ya?”

“Uh huh!” jawabku seraya mengangguk malas. Aku sedang tidak mood berbicara sebenarnya.

“Memang ayahmu tadi bicara apa saja sampai wajah pacarku kusut begini?”

Sebelah tanganku meraih kepala Krystal dan sedikit mengacak-acak puncak rambutnya. Aku tersenyum padanya walaupun aku masih berusaha tidak memecahkan konsentrasiku pada geraknya mobilku ini.

Krystal hanya diam setelahnya. Sepertinya dia mengerti apa yang aku mau sekarang.

 

 

 

“Minhyuk?”

“Hmm?” seruku seraya menggenggam sebelah tangan Kristal dengan kedua tanganku.

“Kau ingat saat kita bertengkar karena Yong oppa? Di hari saat kau menyatakan cintamu padaku.”

Aku berusaha mengingat-ingat. Apa mungkin maksud Krystal pertengkaran mengenai pernikahan itu? aish! Mengingat kata pernikahan membuatku teringat kejadian siang tadi.

“Sepertinya aku ingat? Wae?”

“Tadi saat aku kuliah, aku tiba-tiba saja teringat ini. Kau menyamakanku dengan seorang yeoja yang kau sebut…yeoja sialan. Sebenarnya siapa yang kau maksud? Mantanmu, kah? Aku benar-benar penasaran karena ini.”

Aku menggeleng padanya. Kupandang matanya dalam-dalam.

“Dia ibu tiriku, tidak lain dan tidak bukan sahabat eommake sendiri.”

Krystal hanya diam. Balas memandang mataku. Kemudian dia merapatkan posisi duduknya padaku dan merangkulku. Kepalanya dia senderkan ke bahuku sehingga aku bisa mencium aroma rambutnya. Harum jeruk, khas aroma rambutnya.

“Eomma divonis menderita tumor otak dan setahun kemudian meninggal. Sahabat eomma, yang kukira sangat perhatian pada eomma, sering menjenguk eomma, bersedia menemani malam-malam eomma di rumah sakit, ternyata main belakang dengan suami sahabatnya sendiri. Di saat eomma sedang bertahan melawan rasa sakitnya, yeoja itu dan appa….”

Aku sedikit tersentak karena Krystal tiba-tiba memelukku terlalu erat.

“Sudahlah, yang penting ibumu kini tenang di alam sana.”

Dia tahu ini sangat menyakitkan bagiku. Terbesit rasa sakit begitu aku kembali mengingat peristiwa menjijikkan itu.

Aku benar-benar baru sadar kalau ternyata sedari tadi aku sudah menangis. Mungkin karena air mataku yang jatuh ke puncak kepala Krystal membuatnya tahu kalau kali ini aku sedang merasa sakit. Batinku sakit.

Dia ikut menangis bersamaku walaupun tidak bisa kulihat wajahnya karena terbenam di dadaku. Isakannya seolah memberi tanda kalau dia juga ikut merasakan apa yang aku rasakan. Atau mungkin saja hal ini kembali mengingatkannya akan kedua orang tuanya yang juga telah pergi.

Kami berdua sama-sama menangis karena ditinggal oleh orang yang sangat kami cintai, disaksikan oleh terangnya langit yang berubah menjadi orange dan ratusan gundukan-gundukan tanah di sekitar kami, termasuk makam eomma yang terletak di belakang kami.

 

*****

 

Ada yang sedikit aneh dari Minyeon noona. Setiap hari Sabtu biasanya dia akan menelponku. Entah itu pagi, siang atau malam. Pasti menghubungiku di hari itu. Tapi hingga sekarang –hari Minggu- noona belum menelpon juga. Kalau memang noona tidak bisa menelpon, dia pasti kirim sms padaku perihal mengapa dia tidak bisa menghubungiku di hari Sabtu itu juga. Kali ini tidak ada kabar sama sekali darinya.

“Tidak aktif!” seru Key menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Aku takut terjadi apa-apa dengan noona!”

“Nado!”

Apa yang harus aku lakukan? Sedikit ragu kalau harus bertolak ke London hanya ingin memastikan keadaan noona. Takutnya dia hanya lupa mengabariku. Tapi kenapa ponselnya tidak aktif?

Ya Tuhan! Apa mesti aku menghubungi yeoja itu?

“Hilangkan rasa bencimu padanya, Minhyuk!”

Key tahu apa yang sedang kupikirkan. Dengan sangat terpaksa kutelusuri kontak di ponselku, mencari kontak yang kuberi nama X. Akupun menelan ludah saat aku menekan tombol panggilan.

Sedikit lama untuk tersambung dengan yeoja itu karena ini panggilan luar negri dan…

Yobosseyo?”

Aku mesti jawab apa? Ini pertama kalinya aku menghubunginya seumur hidupku. Kalau bukan karena noona, aku juga enggan menelponnya.

Minhyuk?”

“A..ahjumma! A…annyeonghaseyo!”

Apa-apaan aku ini?

Aku sedang tidak bermimpi, kan? Ini benar kau Minhyuk?”

“O!”

Ada apa? Kalau kau sampai menghubungiku, pasti ada yang kamu mau dariku.”

BINGO!

“A…aku ingin minta tolong padamu. Bisakah ahjumma menengok Minyeon noona di apartemennya? Sejak kemarin dia belum memberiku kabar. Aku takut dia kenapa-kenapa.”

Baiklah! Sore ini aku akan ke sana. Nanti malam aku kabari lagi.”

Satu lagi!”

Ne?”

“Tolong rahasiakan ini dari appa!”

Bukan karena takut appa juga ikut mencemaskan noona, tapi aku tidak mau appa tahu aku menghubungi istrinya. Memberinya harapan? HELL NO! Sampai kapanpun tidak akan aku akui dia sebagai ibuku.

 

 

 

Setelah berkutat dengan kecemasan karena Kang Miyeon, siang tadi Key langsung berangkat ke Daegu untuk bertemu orang tuanya sehingga hari ini tidak ada yang beres-beres rumah dan memasak makanan untukku. Karena itu malam ini kuajak Krystal menemaniku makan malam di sebuah restoran sederhana *bukan rumah makan padang =.=* yang letaknya tidak jauh dari apartemen kami.

Tadi kami sudah memesan seporsi ramyun kimchi ukuran jumbo untukku dan ddukbogi untuk Krystal. Dan kini kami tinggal menunggu pesanan datang.

“Minhyuk, aku ke toilet sebentar, ya!”

“Jangan lama-lama!” kataku seraya mengusap punggung telapak tangannya singkat sebelum dia berjalan menuju toilet. Bisa kulihat jelas punggung Krystal yang semakin kecil. Dan tiba-tiba pandanganku terhalang oleh tubuh seorang namja yang datang secara mendadak.

Orang itu menatapku datar dengan mata kecoklatannya. Tangannya meletakkan tas besar –sepertinya isinya baju- yang dia jinjing ke lantai, lalu dengan lancang duduk di bangku Krystal.

“Ya! Kau siapa?” tanyaku sedikit geram pada orang tidak tahu diri ini.

“Kau pacar Krystal?”

“Kau mengenalnya?”

“Apa saja yang sudah kau dapatkan darinya?”

Apa-apaan ini? Dia datang secara tiba-tiba dan bertanya langsung pada inti yang sebenarnya tidak aku ketahui landasan pertanyaannya itu. Aku mengenalnya saja tidak.

“Kau siapa sebenarnya?” tanyaku yang kali ini benar-benar geram.

“Apa dia benar-benar melayanimu selama kalian pacaran?”

“Maksudmu?”

“Haha, kau polos juga ternyata. Lebih baik kau putuskan saja dia kalau dia tidak mau memberikan kepuasan untukmu.”

Hah? Namja berkulit putih pucat ini mencari mati, huh?

BRAK! Kugebrak meja didepanku ini hingga semua kepala yang ada di sana menengok ke arahku.

“Santai saja! aku..”

BHUG!

Terlambat. Tangan kananku sudah terlanjur meninju pipinya hingga dia jatuh tersungkur. Nafasku tidak beraturan saking emosinya. Dia hanya memandangku tajam dan menyeringai seraya menyeka darah di sudut bibirnya.

“JANGAN BICARA MACAM-MACAM KAU, IDIOT!”

Kenapa dia idiot? Pertama karena bicara pada orang asing. Kedua karena dia sudah memancing amarahku. Dan yang ketiga dia pikir Krystal adalah yeoja murahan. Kurang ajar!

“Tidak ada keuntungan yang kau dapat kalau pacaran dengannya!”

SHIT!

Aku kembali berjongkok berhadapan dengannya dan kembali memukulnya. Kucengkram kerah bajunya dan kutonjok berkali-kali perutnya.

“MINHYUK?!”

Seseorang memanggilku. Tangan Krystal berhasil menahan tanganku. Tapi bukannya khawatir padaku, dia malah mengkhawatirkan si idiot ini.

“Gwenchan-“

Krystal seakan terkejut saat wajah namja itu mendongak padanya.

“ JONGHYUN OPPA?”

 

-TBC-

 

27 thoughts on “Playboy Vs Playgirl [chapter 6]

  1. Wa~ dugeun dugeun
    Sypakah jonghyun yg tiba2 terbit *emg matahari?
    Haduh perjodohan lagi, dan itu smakin mbuatku penasaran gondok..
    Nie ff smakin panjang smakin bkin kringetan (?)
    Neomu joha ^^ lanjutnya jgn lama y thor…

  2. aaah baiknya minhyuk, ga jadi “itu”. nunggu nikah dulu. makanya cepetan nikah *??*.
    nah sekarang penasaran ma jonghyun, kenapa tiba-tiba muncul.
    eeehhh tertarik juga ma ceritanya key ma noonanya minhyuk, tapi lebih penasaran ma ceritanya minhyuk-krystal. lanjut ya😀

  3. waaaa.. makin pnasaran.. siapa yeoja yg d.mksd appa.a minhyuk? ad apa sm minyeon dan knp tiba* jonghyun mncul? O.o
    tp aku snyum* sndri liat romantisme minhyuk sm krystal.. sweet bngt🙂

  4. suka scene yg mnceritakan key ma noonany minhyuk *loh?
    tp tp, jonghyun cp ni? kim ato lee y??
    penasaran lg. ayeay. sukses lah. lanjut cepat ne.🙂

  5. itu sapa lagi jonghyun? dy mantannya krystal ato orang yg dijodohin sma krystal?
    makin seru nih ceritanya…
    daebak deh authornya… favorite q nih ff…
    lanjutannya jgn lma” y author… ^^

  6. nah kan!! itu knpa lagi tuh ada si burning tiba* muncul ..
    eh cocok banget deh peb di munculin si jonghyun ..
    burning . bikin si minhyuk emosi . hahahha .
    :p

    keren peb😀

  7. Si Minhyuk bnr2 taubatan nasuha y,, kekeke

    Apa apaan lg tuh, napa Minhyuk nya mau dijodohkan?? Sama sapa tuh? Trz nunax MINHYUK knp tak ada kbr?

    Trz jonghyun napa tiba2 muncul dan tanya yg aneh2 gt?? *reader cerewet

  8. wweeeeeee….ada lnjutannya tpi gw baru tww..wkkwwkkwkkk…
    apaan toe jonghyun nongol2???
    ayo chingu next partnya post scepatnya hehehe*maksa.com*

  9. Author, ini perasaanku aja apa emang part ini kependekan?😦

    Aigoo~ Siapa lagi itu Jonghyun? Mantan pacar Kry kah?
    Masih ada aja yg gangguin hubungan Kry sama Hyuk😦
    Udah dong author biarkan mereka bahagia🙂 Yayaya

  10. thor, kok…. aku jadi envy ya…? minhyuk-krystal makin lama makin romantis… ah tapi tak apalah…
    mereka sama-sama dijodohkan rupanya… hmmm…
    jonghyun tiba-tiba nongol… hmmm…
    oke next chapter

  11. Wah minhyuknya gentle banget nggak mau itu sebelum nikah… kya~ nikahi aku oppa! *mendadak gila*
    Hah key suka sama minyeon? Haaah nggak ketebak banget!
    Owalah bener2 jodoh deh ini anak 2. Udahlah sama2 player, sama2 tobat eh sekarang malah sama2 dijodohin ckck jodoh!
    Huaduh ada jonghyun muncul makin bikin rusuh. Dan kenapa krystal kayak terkejut gitu waktu tau jonghyun muncul… Wahh lanjuut

  12. aaada jonghyun oppa, tp kok perannya gtu, komplex.
    itu kenapa tiba2 ada rm. padang? mentang2 namanya rumah makan sederhana.

    jd inget MV Iam Sorry

  13. heiisshh jonghyun siapanya krystal lagi inii???
    lagian dateng2 ngomong kaya gitu, yaa wajarlah kena cubitan mesra dari minhyuk..kekekekeee

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s