Retalation Of Grudge – Chapter 2B + Epilog

Chapter 1 | Chapter 2A

Title  : Retaliation of Grudge – Chapter 2B

Author  : Keynie^^ aka Jung Woon Min (Twitter : @Weny_Jung)

Main Cast  : CNBLUE Lee Jonghyun, Han Jikyo (OCs)

Other Cast  : CNBLUE Jung Yonghwa, CNBLUE Lee Jungshin, CNBLUE Kang Minhyuk, Super Junior Cho Kyuhyun, Super Junior Choi Siwon, Super Junior Lee Donghae, Super Junior Park Jungsoo, Super Junior Lee Sungmin, Lee Jihyun (OCs), SNSD Seohyun.

Rating  : PG-15

Length : Twoshoot.

Genre  : AU, Thriller, Angst, Tragedy, Romance.

Disclaimer  : Alur dan ide cerita 100% ASLI pemikiran SAYA!

Note   : Sebelumnya aku mau minta maaf karna baru bisa update sekarang. Maklumin yak ^.^

Dan sorry juga kalo kebetulan ada ELF yang baca FF ini –apalagi Siwonest, Sparkyu, Pumpkins, Elfishy, dan Angels- kalo sebagian karakter biasnya saya jadikan nista di FF ini. Dan sorriiiiiiiii banget kalo actionnya gagal. Yah, maklum aja ini FF thriller tragedy pertamaku jadi masih amatir ._.

 

Still Happy Reading ^^

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Jonghyun melihat tampilan dirinya kini di cermin. Tak ada lagi mata yang sembab, tak ada lagi rambut yang berantakan, tak ada lagi wajah yang pucat dan sendu. Jonghyun yang saat ini berkaca di depan cermin adalah Jonghyun yang baru. Tampilannya untuk hari ini berbeda. Jaket kulit hitam, jeans polo hitam, kacamata hitam dan sarung tangan hitam. Semua ini bukan tanpa alasan Jonghyun lakukan. Karena hari ini adalah hari dimana ia akan menjalan sebuah “permainan” yang sudah ia tunggu-tunggu. Setelah selesai, Jonghyun duduk ditepi ranjangnya. Kembali memandang sebuah frame di meja samping tempat tidurnya.

“Sayang, aku akan memulainya hari ini. Ini semua kulakukan untukmu dan anak kita.”, ucap Jonghyun sambil mengelus objek yang ada di foto itu dengan jari tangannya.

Tokk Tokk Tokk

Jonghyun bergegas membuka pintu rumahnya. Terlihat Jungshin, Minhyuk, dan Yonghwa sudah siap disana. Pakaian mereka hampir serupa, pakaian serba hitam. Dan mereka pun duduk di sofa ruang tamu.

“Aku sudah persiapkan semuanya, hyung. Kami –aku dan teman-temanku- tidak memakai seragam kepolisian. Sesuai permintaanmu. Dan ini…”, Jungshin menyerahkan 3 buah revolver ke hadapan Jonghyun, Minhyuk, dan Yonghwa. Jonghyun mengambil revolver dihadapannya dengan mantap. Sedangkan Yonghwa dan Minhyuk masih takut-takut.

“Ini hanya untuk berjaga. Khusus untuk Yonghwa hyung dan Minhyuk hyung, kalian hanya akan memakainya saat keadaan terdesak. Tenang saja, sidik jari kalian tidak akan terlacak karena kalian sudah memakai sarung tangan itu.”, ucap Jungshin seolah mengetahui perasaan Yonghwa dan Minhyuk.

“Tapi, Jungshin-ah, Aku tak pernah menembak orang sebelumnya.”, ucap Yonghwa panik yang langsung mendapat anggukan dari Minhyuk. Jungshin terkekeh.

“Ayolah hyung. Jangan bilang tak bisa. Kalian bertiga sangat ahli dalam mengalahkanku bermain Counter Strike dulu. Jadi, aku yakin kalian bisa melakukannya.”

“Itu berbeda Jungshin-ah. Itu hanya permainan. Sedangkan ini benar-benar revolver sungguhan!!”

“Percaya tidak percaya hyung. Aku diterima oleh Kepolisian Seoul karena ahli menembak dengan revolver. Padahal aku tak pernah belajar. Hanya dari Counter Strike. Itupun kalah. Jadi aku yakin kalian bisa.”, ucap Jungshin sambil tertawa pelan. Yonghwa dan Minhyuk mengerucutkan bibirnya kesal.

“Aku jamin nama kalian semua akan aman. Aku sudah mengurus semuanya. Tenang saja.”

Yonghwa dan Minhyuk mengangguk paham. Meskipun dihati mereka masih ada keraguan. Sedangkan Jonghyun dari tadi mencermati revolvernya dengan seksama.

“Revolver ini sesuai pesananku kan?”

“Tentu. Revolver punyamu berbeda dengan kepunyaan Minhyuk hyung dan Yonghwa hyung. Aku sudah menyiapkannya untukmu hyung, sesuai dengan yang kau mau. Oh ya, satu lagi hyung. Kita akan ditemani oleh tiga rekan polisi lainnya.”, ucap Jungshin. Jungshin menghubungi seseorang lewat walky-talky-nya. Tak lama, masuklah 3 orang namja ke rumah Jonghyun.

“Mereka akan membantu kita hyung. Perkenalkan hyung, ini Lee Donghae, Park Jungsoo, dan Lee Sungmin.”, ucap Jungshin memperkenalkan mereka.

Ketiga namja itu membungkuk sopan pada Jonghyun begitupun sebaliknya.

“Aku mohon bantuannya.”, ucap Jonghyun sopan.

“Jangan merasa canggung begitu. Kami ikut karena kami tulus untuk membantu.”, ucap Donghae. Sedangkan yang lainnya mengangguk kecil. Jonghyun tersenyum tipis.

“Oke, bisa kita berangkat sekarang?”, tanya Jonghyun.

Ketujuh namja itupun pergi dari rumah Jonghyun.

^^^^^^^^^^^^^^^^^

Dua buah mobil range rovel sport hitam itu berhenti di seberang jalan sebuah rumah. Di mobil pertama ada Jungshin, Donghae, dan Sungmin. Sedangkan di mobil kedua ada Yonghwa, Jonghyun, Minhyuk, dan Jungsoo. Rumah itu dari luar kelihatan sepi. Jungshin memutuskan keluar terlebih dahulu dari dalam mobil. Sedangkan yang lainnya tetap pada posisi mereka masing-masing. Jungshin terlihat memencet bel rumah itu. Dan tak lama kemudian, seorang pria membuka pintunya. Terlihat bingung dengan kedatangan Jungshin. Tapi setelah Jungshin mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan sesuatu, laki-laki itu memperbolehkan Jungshin masuk. Setelah itu, pintu itu tertutup.

^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Eomma, kau lapar?”

“…”

Kyuhyun memandang sendu wajah wanita yang ada di hadapannya. Mata wanita itu sembab, wajahnya pucat, dan wanita itu duduk di sebuah kursi roda, memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.

“Eommaaaaa…”

Wanita itu kini menatap Kyuhyun, menggeleng pelan, lalu kembali menatap keluar jendela. Kyuhyun terisak pelan. Ia bahkan tak bisa menemukan sorot mata yang hangat dari wanita didepannya. Yang ada hanyalah sorot mata kesedihan dan penderitaan. Kyuhyun merindukan situasi yang dulu, dimana wanita yang paling berharga di hidupnya ini tersenyum padanya, membelai halus rambutnya, dan selalu terlihat ceria didepannya. Kyuhyun perlahan berdiri, memeluk eommanya dari belakang. Sangat erat.

“Eomma, maafkan aku… Jeongmal mianhaeyo..”, isaknya.

Wanita yang dipanggil Kyuhyun –eomma- itu hanya diam. Namun, yang tidak Kyuhyun ketahui, mata wanita itu berkaca-kaca. Mungkin mengerti dengan maksud ucapan Kyuhyun.

TINGTONG

“Eomma.. aku tinggal sebentar ya.”, ucap Kyuhyun lalu mengecup pipi eommanya sebentar. Kyuhyun menghapus bekas airmata yang ada di pipi dan pelupuk matanya. Bergegas membuka pintu.

CKLEKK

Alis Kyuhyun mengkerut melihat siapa yang datang.

“Mencari siapa?”

“Anda, Cho Kyuhyun?”

“Ne, nuguseyo?”

Pria itu mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan kartu tanda keanggotaan kepolisiannya.

“Aku Lee Jungshin, dari Kepolisian Seoul. Bisa kita bicara sebentar?”

Kyuhyun mengangguk ragu.

“Ne, silakan masuk.”

Jungshin melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya di sekeliling rumah yang tak terlalu besar itu. Kyuhyun mempersilakannya duduk.

“Ada apa mencari saya, Lee Kyongchal*?”

“Saya akan to the point. Ini menyangkut kasus pembunuhan Han Jikyo, istri dari Lee Jonghyun, direktur utama JHL Corp.”, ucap Jungshin. Kyuhyun merasakan tubuhnya menegang saat mendengarkan penjelasan Jungshin. Namun, sedetik kemudian ia kembali rileks.

“Kenapa hal ini Anda tanyakan kepada saya?”

“Jujur saja tuan Cho. Saya ini bukan polisi biasa. Saya tahu Anda punya hubungan dengan semua masalah ini.”, ucap Jungshin terlihat tenang.

Kyuhyun tertawa meremehkan. “Bagaimana Anda bisa yakin?”

“Kau diberi ultimatum oleh Choi Siwon bukan?”

Tubuh Kyuhyun kembali menegang. Bahkan hal itu terlihat jelas dari wajahnya.

“Sudah aku bilang kan? Aku bukan polisi biasa. Aku sudah mengeceknya terlebih dahulu.”, Jungshin masih terlihat tenang. Perlahan Kyuhyun mulai menunduk. Raut wajahnya menampilkan perpaduan antara sedih dan kemarahan (?). Diam-diam tangan kanan Jungshin menyusup ke kantong jaket kulit hitamnya. Dan mulai menatap Kyuhyun waspada.

“Dia…menghancurkan hidupku.”, ucap Kyuhyun sakartis.

“Maksudmu?”

“Choi Siwon. Keluargaku sedang dililit masalah hutang dengan keluarganya. Ia memaksaku untuk memberitahunya kunci dari semua keberhasilan dalam JHL Corp. Tentu aku tidak bisa menuruti keinginannya karena itu perusahaan Jonghyun, sahabatku. Namun, aku mengambil keputusan yang salah. Karena…. setelah aku mengambil keputusan itu… Dia… Membunuh ayahku.”, ucap Kyuhyun dengan penuh penekanan pada kalimat terakhirnya. Sedangkan Jungshin diam dan mulai serius dengan apa yang diucapkan Kyuhyun.

“Aku benar-benar syok. Kejadian itu membuat hidupku tak sama lagi. Ibuku, dia sekarang duduk di kursi roda. Ia trauma berat karena pembunuhan ayahku terjadi di depan matanya saat aku tak ada dirumah.”

“Choi Siwon lalu mendatangiku lagi. Aku sangat marah padanya! Aku yakin aku pasti bisa melunasi hutang keluargaku! Tapi, kenapa dia tak memberiku waktu? Kenapa harus ayah dan ibuku yang jadi korbannya? Aku tak bisa terima! Kalau memang dia membenci Jonghyun, harusnya yang ia hancurkan adalah hidup Jonghyun! Bukan aku!”, Kyuhyun berteriak frustasi.

“Siwon tertarik dengan perkataanku. Lalu dia bertanya apa hal yang akan membuat Jonghyun sangat kehilangan. Lalu, aku menjawab istrinya, Han Jikyo. Karena aku tahu, Jonghyun sangat mencintai Jikyo.”

“Jadi, kau yang menyarankannya untuk membunuh Jikyo?”, tanya Jungshin.

“NE!! AKU YANG MENYURUHNYA!! AKU TAK TERIMA IA MENGHANCURKAN HIDUPKU SEPERTI INI!!!”, Kyuhyun kembali berteriak.

BRAKKKK

Pintu didobrak kasar dengan sekali tendangan. Kyuhyun sangat kaget mendapati bahwa pintu itu didobrak oleh tiga orang namja –Jonghyun, Donghae, dan Yonghwa- yang salah satunya sangat ia kenali. Jonghyun yang sudah menatapnya dengan pandangan membunuh. Jonghyun setengah berlari menuju Kyuhyun. Dan…

BUKKKK

Jonghyun menghajar pipi Kyuhyun dengan keras. Emosinya sudah tak terkendali lagi. Sebelum Kyuhyun babak belur makin parah, Jungshin berhasil menarik Jonghyun dari atas tubuh Kyuhyun. Yonghwa ikut memegang Jonghyun, sedangkan Donghae membantu Kyuhyun berdiri.

“KAU BENAR-BENAR BRENGSEKKKK!!!! KAU MENYURUH ORANG LAIN UNTUK MEMBUNUH ISTRIKU HANYA KARENA TAK INGIN HIDUPMU DIHANCURKAN!! APA SALAH ISTRIKU PADAMU, HAH????!!!”, Jonghyun berteriak dengan penuh emosi dan terus memberontak dalam cengkraman Yonghwa dan Jungshin. Tapi, tentu saja Yonghwa dan Jungshin berhasil menahannya karena Jonghyun hanya seorang diri.

“Jong.. kendalikan dirimu.”, ucap Yonghwa. Perlahan Kyuhyun mulai berdiri dan menatap wajah Jonghyun. Ia mengusap ujung bibirnya yang ternyata sudah berdarah.

“NE!! AKU MEMANG EGOIS!!! DIA DENDAM PADAMU!! TAPI MELAMPIASKANNYA PADAKU!! ITU TAK ADIL!!!! JADI LEBIH BAIK, DIA MEMBUNUH ISTRIMU KAN????”, Kyuhyun tak kalah kerasnya berteriak pada Jonghyun. Amarah Jonghyun semakin memuncak.

“BRENGSEK KAU CHO KYUHYUN!!!!”, Jonghyun kembali memberontak dan berhasil meninju wajah Kyuhyun dengan keras sekali lagi sampai Kyuhyun terjatuh. Yonghwa segera mencegah lengan Jonghyun agar ia tak menampar Kyuhyun lagi. Kali ini, Donghae membantu Yonghwa menahan Jonghyun dan Jungshin yang membantu Kyuhyun berdiri.

“Lebih baik, kau ikut kami sekarang.”, ucap Jungshin sambil memborgol lengan Kyuhyun.

“Aku tak mau!! Lepaskan!!”, Kyuhyun meronta dari cengkraman Jungshin.

“Oh, jadi kau tak mau?”, Jungshin tersenyum licik. Ia mendorong Kyuhyun sehingga Kyuhyun tersungkur kembali ke lantai dengan tangan terborgol, mundur selangkah dan merogoh kantong jaket kulit hitamnya, mengeluarkan sesuatu.

“Kalau rekaman ini sampai ke tangan komandanku, hidupmu akan berakhir dengan sia-sia di penjara Tuan Cho.”, ucap Jungshin sakartis sambil menekan tombol play di i-phonenya. Terdengarlah semua pembicaraan Kyuhyun dan Jungshin sebelumnya. Membuat Kyuhyun pucat pasi.

Kyuhyun tak berkutik saat Jungshin menyeretnya ke dalam sebuah mobil. Sedangkan Yonghwa kembali ke mobil yang tadi ia tumpangi. Jungshin segera memberi isyarat kepada Jungsoo untuk mengikuti mobilnya.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Malam semakin larut. Matahari senja telah kembali ke peranakannya. Dua mobil itu berada cukup jauh dan terlindungi dari area bekas pabrik besar yang tidak terlalu terurus di beberapa meter arah timur laut. Posisi kedua mobil itu memang terlindungi namun pandangan mereka untuk bekas pabrik itu tidak terlalu terbatasi. Mereka masih bisa melihat dengan jelas aktifitas di depan dan samping bekas pabrik itu. Di depannya, terdapat dua namja bertubuh besar yang sedang berjaga-jaga disertai sebuah mobil Limous hitam mengkilat yang mewah berada di dekat mereka. Menandakan pemilik mobil panjang itu adalah orang kaya. Jungshin menyeringai dari jauh. Lalu menghubungi Jungsoo lewat walky-talky-nya.

“Aku dan Donghae hyung akan masuk duluan. Setelah itu kalian menyusul. Cho Kyuhyun ada di mobil bersama Sungmin hyung. Dia aman disana. Nanti kalau kita sudah mendekati target, aku akan mengabarinya untuk menyusul masuk. Ganti.”  –Zrrrppp-

“Baik aku mengerti.” –Zrrrppp-

Jungshin dan Donghae pun turun dari mobil itu. Mengambil jalan pintas dari arah samping. Tanpa dua namja besar itu ketahui, dua namja itu telah siaga mengendap-endap dibelakang mereka. Lalu…

BUKKKK

Kedua namja itu tersungkur ke tanah setelah mendapat pukulan keras di tengkuk lehernya. Jungshin dan Donghae menyeringai penuh arti setelah melakukannya –memukul tengkuk leher dua namja kekar itu dengan siku mereka-. Jungshin memberi kode untuk Donghae agar segera masuk ke area gudang tua itu. Jungshin kembali mengambil walky talkynya untuk menghubungi Jungsoo.

“Hyung, kita akan ambil jalan terpisah. Aku dan Donghae hyung akan ke arah kiri. Kau, Jonghyun hyung, Yonghwa hyung, dan Minhyuk hyung, pergi ke arah kanan. ”, ucap Jungshin pelan dan mengakhiri sambungan walky talkynya dengan Jungsoo.

^^^^^^^^^^^^^^^^^

Jonghyun, Yonghwa, Minhyuk dan Jungsoo bergerak perlahan dengan masing-masing memegang revolver ditangan mereka. (Bayangin aja gaya mereka kaya gaya Siwon di video Hoot-SNSD :D). Jonghyun dan Jungsoo berada di depan Minhyuk dan Yonghwa. Diam-diam, Yonghwa mendekat ke arah Minhyuk dan berbisik di telinganya.

“Seohyun bisa membumi-hanguskan (?) aku kalau dia tahu aku membunuh orang, Minhyuk-ah.”, bisik Yonghwa dengan nada miris.

“Mungkin aku akan tidak akan dianggap lagi sebagai anak kalau Eomma mengetahui apa yang ku lakukan hari ini hyung.”, balas Minhyuk berbisik pada Yonghwa.

Langkah Jonghyun dan Jungsoo yang terhenti membuat Minhyuk dan Yonghwa menghentikan juga langkahnya secara mendadak.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Jungsoo menyeringai pelan melihat dua namja di depannya tergeletak tak berdaya. Jonghyun menatap Jungsoo dengan pandangan ‘kau-hebat-Jungsoo-ssi’. Sedangkan Yonghwa dan Minhyuk terlihat takjub dengan mulut sedikit menganga (?).

“Jangan diam saja! Kita harus segera menemukan Donghae dan Jungshin. Kemungkinan besar Choi Siwon sudah mengetahui kita akan menangkapnya.”, kata Jungsoo tegas. Keempatnya lalu sedikit berlari menyusuri daerah lainnya untuk menemukan Donghae dan Jungshin. Jungsoo menghidupkan walky-talkynya.

“Disini Park Kyeongchal*, kami ada di daerah barat daya bekas tempat pemasokan barang pabrik. Jika kalian ada di sekitar sini, segera kemari. Ganti.”

Belum beberapa menit setelah Jungsoo memutuskan sambungan walky-talkynya, tiba-tiba…

PLOK PLOK PLOK

Keempat namja itu tersentak kaget mendengar suara tepuk tangan dibelakang mereka. Saat mereka berbalik, Choi Siwon sudah berdiri disana sambil tersenyum licik. Ia tak sendiri, ada dua namja lainnya yang bertubuh kekar –sepertinya mereka adalah bodyguard- masing-masing menahan seseorang, Sungmin dan Kyuhyun.

“Well, tak ku sangka kalian berani sampai tahap ini.”

“Lepaskan mereka, Choi Siwon.”, ucap Jonghyun dingin.

Siwon tertawa meremehkan dan kembali memandang Jonghyun dingin.

“Hai Lee Jonghyun-ssi. Lama tidak berjumpa. Bagaimana keadaanmu dan perusahaanmu? Hahaha..”, Siwon tertawa iblis yang membuat keempat namja itu terutama Jonghyun memandang benci ke arah Siwon.

“Jangan mengalihkan topik dan berhenti berpura-pura peduli dengan perusahaanku!! Lepaskan mereka!!”, teriak Jonghyun.

“Tidak semudah itu. Aku akan menyerahkan mereka jika kalian mau mengikuti keinginanku. Simple kan?”

“Apa keinginanmu?”

“Kau dan perusahaanmu bersedia jadi budak-ku dan perusahaanku.”, Siwon mengucapkan hal itu dengan penuh penekanan membuat Jonghyun hampir lepas kendali ingin menembakkan peluru ke arah Siwon. Namun, Siwon cepat tanggap. Ia segera meletakkan dua ujung pistol yang ia simpan di saku jaketnya dan negarahkannya ke arah berlainan yaitu di sisi kiri kepala Sungmin dan sisi kanan kepala Kyuhyun.

“Berani kau macam-macam denganku, aku pastikan hari ini kau akan melihat jenazah mereka berdua.”

Jonghyun menurunkunkan pistolnya dengan geram. Matanya memandang Siwon dengan bengis lalu beralih menatap kasihan pada Sungmin dan Kyuhyun. Sungmin, dia hanya membantu Jonghyun menyelesaikan masalah ini karena dia juga anggota polisi. Jonghyun tak ingin Sungmin mati sia-sia karena membela kasusnya. Dan Kyuhyun, meskipun kini Jonghyun sangat membencinya karena telah berkhianat namun sisi kemanusiaan di hati Jonghyun memintanya untuk tetap membiarkan ‘sahabatnya’ itu hidup. Jonghyun dilemma. Yonghwa dan Minhyuk sedari tadi hanya terdiam sambil memandang benci ke arah Siwon. Keduanya belum pernah bertemu dengan manusia sepicik ini sebelumnya. Dan tanpa mereka semua sadari, Jungsoo menyeringai kecil ke arah Siwon.

“Letakkan senjata kalian di lantai, SEKARANG!!!”, perintah Siwon sambil tetap mengarahkan pistol-pistol itu ke kepala Kyuhyun dan Sungmin dengan kedua tangannya. Jonghyun, Yonghwa, dan Minhyuk masih enggan meletakkan senjatanya. Namun, ketiganya terperangah saat Jungsoo menuruti keinginan Siwon untuk meletakkan senjata itu di lantai. Dengan berat hati, ketiganya pun mengikuti Jungsoo.

“Kami sudah melaksanakan perintahmu. Boleh aku meminta dua orang itu dibebaskan?”, kata Jungsoo berusaha tenang.

“Kau polisi bodoh yang juga ikut dalam hal ini? Kau benar-benar bodoh karena mau membantu mereka.”, Siwon tertawa meremehkan. Jungsoo tersenyum simpul.

“Terima kasih. Kau menyadarkanku untuk hal itu. Jika aku harus memilih, sebenarnya aku juga tak mau membantu mereka.”, Jungsoo berjalan pelan ke arah Siwon.

“Aku melakukan ini juga karena kehidupan yang memaksaku. Pekerjaanku sebagai polisi menyulitkanku untuk hidup bebas seperti dulu. Aku menyesal menjadi polisi. Tak ada lagi teman-teman judi dan balapan liarku yang mau berteman denganku. Tak ada lagi gadis-gadis seksi yang mau mendekat padaku.”, Jungsoo makin mendekat ke arah Siwon. Dan anehnya, Siwon tak menghindar, merasa takjub mendengar penjelasan Jungsoo bahwa dulu Jungsoo pernah berjudi dan ikut balapan liar.

Leeteuk berjalan memutar. Kini posisinya berada diantara Siwon dan salah satu bodyguardnya yang menahan Sungmin. Menghadap ke arah Yonghwa, Jonghyun, dan Minhyuk yang memandang Jungsoo dengan tatapan syok.

“Aku ingin ada dipihakmu Siwon-ssi. Bisakah aku membantumu?”, diam-diam tangan kanan Jungsoo menyusup ke dalam kantong celana jeans hitamnya.

“Kau benar-benar mau mem—AKKHHHHH!!”, jerit Siwon.

BUKKKKKK

Bersamaan dengan teriakan Siwon tadi, dua bodyguard Siwon yang tadi menahan Sungmin dan Kyuhyun jatuh tersungkur di lantai. Mereka memegang tengkuk mereka dan kemudian tak bergerak kembali. Pingsan. Jungsoo segera menjauh dari sebelah Siwon dan ternyata yang memukul kedua bodyguard Siwon adalah Jungshin dan Donghae. Sungmin yang sudah terlepas dari jeratan bodyguard itu langsung menahan tangan Kyuhyun ke belakang dan membawanya ke samping Jungsoo disusul dengan Jungshin dan Donghae yang ikut berdiri di sebelah Jungsoo.

“KEPARAT!!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADAA—AKKHHHHHH!!!”, Siwon makin berteriak nyaring sambil mengelus punggungnya yang terasa perih. Jungsoo mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya di belakang punggungnya. Sebuah jarum suntik.

“Tidak ada, hanya sedikit memberimu CAIRAN PELUMPUH SARAF.”, Jungsoo menekankan kata-kata akhirnya tersenyum licik.

“BRENGSEK KAU!!! AKKHHH!!!” Siwon terduduk lemah sambil meringis menahan sakit pada tubuhnya.

Jungsoo dan keempat namja lainnya berbalik menatap Jonghyun, Minhyuk, dan Yonghwa yang masih terperangah atas kejadian barusan.

“Lee Jonghyun-ssi. Saatnya kini giliranmu sebagai pemanis kegiatan kita hari ini.”, ucap Jungsoo menepuk bahu Jonghyun. Jonghyun mengangguk pasti. Mengambil pistolnya yang ada di lantai. Dan mulai berjalan ke arah Siwon. Siwon masih meringis di lantai, merasakan efek dari cairan pelumpuh saraf yang disuntikkan oleh Jungsoo ke punggungnya kini mulai merambat ke seluruh tubuhnya. Ia muali tak bisa bergerak. Keringat dingin membasahi kening Siwon saat Jonghyun mulai mendekat ke arahnya dengan tatapan bengis.

“Tampaknya yang harus melihat kedua mayat hari ini adalah kau, Choi Siwon-ssi.”, ucap Jonghyun dingin sambil mengarahkan pistolnya kepada dua bodyguard Siwon.

DOR!! DOR!! DOR!! DOR!!

Jonghyun menembak masing-masing dua peluru ke arah dua bodyguard Siwon itu. Menembak bagian kepala dan bagian dada kiri mereka. Dengan sisa-sisa tenaganya, Siwon menyeret tubuhnya sendiri untuk mundur perlahan. Sampai akhirnya Siwon tak bisa mundur lagi karena tenaganya sudah habis. Jonghyun berjalan penuh angkuh. Berjalan mendekati Siwon yang sudah tak berdaya lagi untuk melawan. Ia tersenyum sinis. Sangat sinis sampai Siwon sendiri merasa ini bukan pertanda yang baik untuk hidupnya.

“Kumo..honn.. ma..aff..kann.. aa..kuuu..”, ucap Siwon terbata.

Jonghyun mendengus. Mengarahkan senjatanya pada dada kiri Siwon.

“Kau harus MATI !!!”

DOR!! DOR!!

Siwon dan kedua bodyguardnya terkapar bersimbah darah di sana. Berakhir. Semua sudah berakhir. Ia sudah membunuh Siwon untuk membalaskan dendamnya. Namun, hatinya masih belum puas. Satu orang lagi yang harusnya ia bunuh. Jonghyun berbalik. Mendekati Kyuhyun yang mulai was-was dengan tatapan bengis Jonghyun. Sungmin yang mengerti keadaan, langsung mendorong Kyuhyun ke lantai dengan tangan Kyuhyun yang masih terikat. Semuanya diam. Hanya derap langkah Jonghyun yang semakin mendekat yang memecah keheningan diantara mereka. Jonghyun mulai mengarahkan ujung pistolnya pada Kyuhyun. Kyuhyun mulai memelas.

“Jaa..ngan..buu..nnuh..aa..kku..Jongg..hyunn..ssi..”, ucap Kyuhyun dengan wajah menunduk. Suaranya terbata-bata menahan takut.

“Kku..moo..honn..maafkaaann..akk..kku..”, pintanya. Tak lama bahunya bergetar hebat pertanda ia menangis.

Satu menit…

Dua menit…

Tidak terjadi apa-apa. Perlahan Kyuhyun berani mulai mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Jonghyun. Kyuhyun kaget mendapati Jonghyun masih mengacungkan pistol ke arahnya namun kali ini sambil menangis. Ya, airmata itu terlihat jelas membanjiri pipi Jonghyun. Yonghwa dan Minhyuk –yang juga sudah menangis- mendatangi Jonghyun dan menurunkan tangan Jonghyun. Perlahan Jonghyun mulai terduduk di depan Kyuhyun sambil menangis.

“Kenapa? Kenapa aku tidak bisa membunuhmu? Padahal aku sangat membencimu! Kau membuat hidupku seperti ini! Kenapa?? JAWAB AKU!! KENAPA??????”, Jonghyun berteriak frustasi. Yonghwa dan Minhyuk mengelus lembut punggung Jonghyun. Jungshin, Donghae, Jungsoo, dan Sungmin yang meilhat hal itu mendekati Jonghyun.

“Sudahlah Jonghyun-ssi. Yang penting sekarang, Choi Siwon itu sudah mati. Kau bebas sekarang.”, ucap Sungmin.

“Semua sudah berakhir. Jonghyun-ssi.”, ucap Donghae.

“Kalian harus segera pergi karena dalam beberapa menit lagi polisi akan kesini untuk mengambil mayat mereka.”, kata Jungsoo.

“Hyung, lebih baik kau pulang saja.”, ucap Jungshin.

“Ya hyung, lebih baik kita pulang yaa. Kau harus istirahat.”, ucap Minhyuk.

Yonghwa dan Minhyuk menuntun Jonghyun untuk berdiri. Kali ini mereka akan diantar oleh Sungmin. Sedangkan yang lainnya menetap di TKP karena mereka akan mulai ‘sandiwara’ didepan para anggota kepolisian lain. Sebelum Jonghyun melangkah lebih jauh, ia kembali berbalik menghadap Kyuhyun.

“Ibumu… pasti kecewa padamu karena kau sudah menjadi anak yang menjijikan seperti ini.”, ucapan Jonghyun yang begitu dalam menusuk hati Kyuhyun. Ia tak sanggup lagi untuk menahan semuanya dan Kyuhyun terisak hebat di tempat itu.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

EPILOG

7 Years Later….

 

Jonghyun membuka pintu kamar dan mendapati bahwa malaikatnya masih berpetualang indah di alam mimpi. Jonghyun tersenyum melihatnya. Jonghyun membuka gorden kamar itu agar cahaya matahari pagi bisa masuk.

Perlahan, Ia mendekat ke ranjang tempat dimana malaikatnya tertidur. Jonghyun mengelus poni rambut malaikatnya, meraba halus kulit pipi putih susu-nya. Dan terakhir, ia ikut berbaring di samping malaikatnya, memeluknya sambil mencium puncak kepalanya.

“Aegi-ya.. bangun sayang.. sudah pagi.”, ucap Jonghyun lembut. Perlahan sepasang bola mata di pelukan Jonghyun terbuka. Lalu, mendongak untuk menatap wajah Jonghyun.

“Appa, sekarang jam berapa?”, sosok itu menggosok-gosok matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya.

“Sudah jam 8. Ayo bangun. Appa sudah siapkan sarapan untukmu. Bukankah hari ini kita berencana membeli kado ulang tahun untuk Juhwa? Hmm?”, kata Jonghyun.

“Astagaaaa!! Iya appa aku baru ingat!! Baiklah, aku mau mandi.”, sosok imut itu meloncat dari tempat tidur dengan lincahnya dan berlari ke kamar mandi.

“Jihyun-ah, jangan lari-lari sayang.. nanti jatuh.”, ucap Jonghyun sedikit berteriak.

“Ne…”

Jonghyun tersenyum simpul. Ia mulai membereskan tempat tidur malaikat kecilnya. Setelah membereskannya, Jonghyun duduk di sisi tempat tidur. Mengambil sebuah kertas gambar yang ada di samping tempat tidur. Di gambar itu, ada gambar seorang anak kecil diapit oleh laki-laki dan perempuan. Sang perempuan mempunyai sayap di belakangnya. Dibawah gambar itu tertulis –Appa, Jihyun, Eomma-.

Jonghyun kembali tersenyum. Tiga sosok di foto itu tentu saja Jonghyun, Jihyun, dan Jikyo. Jihyun, seorang anak yatim piatu yang dia angkat menjadi anaknya 2 tahun yang lalu. Saat itu, Jihyun berumur 3 tahun. Jonghyun  bertemu dengan Jihyun saat Jihyun tak sengaja terpisah dari rombongan panti asuhannya dan tersesat di café dekat tempat Jonghyun bekerja. Ia merasa kasihan dan membawa Jihyun ke rumahnya. Beberapa hari tinggal dirumahnya, Jonghyun mulai sayang pada Jihyun. Apalagi Jihyun anak yang cerewet dan perhatian kepada orang di sekitarnya, seolah mengingatkan Jonghyun pada sosok Jikyo. Akhirnya, Jonghyun mencari panti asuhan tempat Jihyun diasuh dan meminta Jihyun untuk menjadi anak angkatnya. Meskipun hanya anak angkat, Jonghyun sangat menyayangi Jihyun seperti ia menyayangi anaknya sendiri. Jonghyun juga mengenalkan Jihyun pada Jikyo. Meskipun Jikyo sudah meninggal, Jihyun sudah menganggap Jikyo sebagai eommanya sendiri.

“Appa, kok masih disini? Aku mau pasang baju. Ayo keluar..”, Jihyun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk dan berusaha menarik lengan Jonghyun dengan tangan mungilnya.

“Kau yakin tidak mau Ayah pasangkan baju?”, goda Jonghyun.

“Aku sudah besar appa. Dan aku perempuan. Laki-laki dilarang mengintip masalah perempuan.”

Jonghyun melongo mendengar penjelasan anaknya. Namun sejurus kemudian, ia tertawa.

“Aigoo.. putri appa sudah besar rupanya. Tapi, siapa yang mengajarkanmu berkata seperti itu?”

“Aku mendengar Hyun Ajjuhma mengatakan itu pada Yong Ajjuhsi saat Hyun Ajjuhma hendak masuk kamar mandi.”, ucap Jihyun sambil mengendikkan bahu.

‘Astaga anakku tercemar (?). Pasutri aneh itu sudah mengajarkan anakku hal yang tidak-tidak! Awas saja nanti.’, batin Jonghyun.

Jonghyun kembali menatap Jihyun dan tersenyum.

“Arraseo. Ayah tidak akan mengintip. Kau cepatlah bersiap. Appa akan menunggumu dibawah untuk sarapan.”

“Oke”, jawab Jihyun sambil mengedipkan sebelah matanya.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Oppa!”

“Jihyun-ah!”

“Saengil chukahae. Ini kado dariku dan Appa.”, Jihyun menyerahkan kado yang ia bawa ke tangan Juhwa.

“Wah, gomawo Jihyun-ah.. Ajjushi..”, Juhwa memeluk Jihyun dan membungkuk sopan pada Jonghyun. Jonghyun tersenyum membalasnya.

“Ne, saengil chukahae untukmu Juhwa-ah. Dimana eomma dan appamu?”

“Di taman belakang. Disana khusus kumpulan para orang dewasa. Kau bisa bergabung disana.”, ucap Juhwa enteng.

Jonghyun mengerutkan alisnya. ‘Anehnya Yonghwa hyung menurun pada anaknya -_-‘, batin Jonghyun. Dan ia pun segera bergegas menuju taman belakang.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Jonghyun-ah! Kau datang?”, Yonghwa memeluk Jonghyun singkat.

“Ya mana mungkin aku tidak datang. Lagipula Jihyun pasti akan marah kalau aku tidak menemaninya kesini.”, ucap Jonghyun sambil duduk.

“Oh, Jonghyun Oppa.. Annyeonghaseo..”, Seohyun muncul dan mengangguk sopan pada Jonghyun.

“Ne, annyeonghaseo Seohyun-ah. Kau semakin cantik saja.”, goda Jonghyun. Yonghwa menjitak pelan kepala Jonghyun dan menatap Jonghyun dengan pandangan jangan-macam-macam-dengan-istriku. Sementara Seohyun tertawa melihatnya.

“Hmm, aku harus ke dalam. Banyak hal yang ku urus. Annyeong.”, Seohyun pun meninggalkan Yonghwa dan Jongyun duduk berdua di bangku taman.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik hyung. Sangat baik malahan.”

“Syukurlah. Nampaknya kau sangat bahagia hari ini. Ada apa?”

“Gwaenchana, hanya saja aku bersyukur karna semakin hari Jihyun semakin tumbuh dengan baik.”, ucap Jonghyun. Yonghwa mulai menatap Jonghyun serius.

“Kau tak mau mencarikan Ibu untuk Jihyun?”

Jonghyun menghela nafasnya pelan. Matanya balas menatap Yonghwa.

“Kau tahu hyung? Kurasa tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Jikyo di hatiku. Aku tidak bisa menikah lagi.”

“Tapi Jihyun butuh sosok seorang ibu.”

“Aku akan menjadi ayah sekaligus ibu untuknya.”

Yonghwa menghela nafas. Ia tahu Jonghyun memang susah dilawan kalau dia sudah berkeinginan.

“Lalu, kapan kalian akan pergi ke Inggris?”

“Minggu depan. Setelah semuanya siap aku akan membawa Jihyun ke Inggris.”

“Bukankah kepindahan untuk anak seusia Jihyun itu kurang baik bagi psikologisnya? Dia bisa tinggal di Korea sementara Jong. Kalau umurnya sudah sedikit lebih dewasa baru ia menyusulmu. Kau tak perlu cemas. Aku dan keluargaku pasti akan menjaganya. Dia bisa tinggal disini.”, ucap Yonghwa. Jonghyun menggeleng.

“Aku tak bisa pisah dari Jihyun, hyung.”

“Kau ini memang susah untuk dilawan Jong.”, Yonghwa dan Jonghyun tertawa bersama.

“Tiga hari lagi pernikahan Jungsoo Kyeongchal. Kau akan datang kan?”

“Tentu, aku dengan senang hati akan datang kesana.”

“Ya, kita akan bertemu lagi dengan polisi-polisi baik hati itu. Minhyuk bilang ia juga akan datang.”

Mereka berdua terdiam sebentar.

“Apa kau sudah pamit kepada Jikyo?”. Raut wajah Jonghyun berubah menjadi agak muram (?).

“Hari ini, aku akan membawa Jihyun kesana.”

“Tabahkan hatimu sobat. Kau bisa menghadapi masa depanmu.”, ucap Yonghwa merangkul bahu Jonghyun. Dan Jonghyun membalasnya dengan anggukan pasti dan sebuah senyuman manis.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

@Pemakaman Jikyo…

 

Jonghyun dan Jihyun meletakkan dua buket bunga lili putih diatas makan Jikyo. Jonghyun perlahan mengusap nisan Jikyo.

“Eomma, aku dan Appa akan pergi.”

Jonghyun dan Jihyun sama-sama terdiam. Namun beberapa detik kemudian Jihyun kembali terseyum.

“Eomma tenang saja. Kami nanti akan kembali kok. Dan eomma juga ngga usah khawatir. Jihyun dan Appa pasti tetap sayang eomma dan ngga akan lupain eomma.”

Jonghyun menatap malaikat kecilnya dengan mata berkaca-kaca.

“Eomma, Jihyun sayaaaaaang banget sama eomma. Meskipun Jihyun ngga pernah ketemu eomma, tapi Jihyun tetap sayang. Eomma juga sayang Jihyun kan?”

Kali ini Jonghyun tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis. Melihat Jonghyun menangis, Jihyun segera beralih memeluk Jonghyun dan mengusap airmata Jonghyun dengan tangan mungilnya.

“Uljimarayo Appaaaaa..”

Jonghyun balas memeluk Jihyun.

“Gomawo Aegi-ya”, ucap Jonghyun. Lalu balas memandang nisan Jikyo yang menampakkan ukiran nama Jikyo.

“Yeobo, aku dan Jihyun akan pergi ke Inggris untuk beberapa tahun. Aku akan membangun perusahaan baru disana. Maafkan aku kalau aku harus meninggalkanmu untuk sementara. Tapi aku berjanji aku pasti kembali. Kau dan anak kita, baik-baiklah disana. Aku dan Jihyun juga akan hidup dengan baik.”

Semilir angin yang berhembus membuat keduanya terdiam.

“Appa, eomma itu cantik ya…”, gumam Jihyun.

“Ne?”

“Ah, aniyo appa. Ayo kita pulang, aku lapar. Mau makan spaghetti.”

Jonghyun mengangguk kecil mendengar permintaan Jihyun. Ia mengelus nisan Jikyo sekali lagi.

“Aku pergi dulu sayang. Saranghaeyo, Jikyongie.”

Jonghyun menggandeng tangan Jihyun untuk pergi dari makam Jikyo. Saat keduanya mulai menjauh, Jihyun menolehkan kepalanya kebelakang. Tersenyum pada suatu objek cantik yang duduk di atas makam dan tersenyum padanya. Sosok itu memakai gaun putih, tersenyum sangat cantik dan melambaikan tangannya ke arah Jihyun.

“Nado Saranghae.. Jihyunnie, Jonghyun Oppaaaa…”

THE END

NB : Akhirnya kelar juga.. RCL nya yaaaaa.. :*

(Out to topic) Nanya donk, adakah readers yang bakal nonton CNBLUESTORM di Jakarta?

13 thoughts on “Retalation Of Grudge – Chapter 2B + Epilog

  1. huhuhu..
    aq bca ini bner2 nangis,, terharu n merinding..
    yg t’akhir’y itu lho bqin merinding.. hehehe
    bagus thor.. mantappp !!!
    emang udh pasti ya bakl d-ada’n d-jkrta ???

    • wuaaa.. ada yg samapai nangiss??
      hiks..😥 *ikut terharu* *usap airmata pake baju minhyuk*
      makasih buaaaanyyaakk😀
      katanya gitu… dan katanya nama indonesia masuk jadwal cnbluestorm di web resmi cnblue..

  2. actionnya dapet kok.
    Seru banget.
    Dikira jungsoo nya beneran berkhianat, taunya cuma akal-akalan.
    Baca epilognya ampuuuun, dia emang cocok banget jadi ayah huahaha. Kok jadi iri. mana pas bagian akhir muncul penampakan (?)
    Niceeeeee. Jeongmal joahaeyo

  3. Ambil tisu, 1..2..3.. Sroot!!! (?)
    Omoo,, sedih benar ending & epilognya…
    Jonghyun ma anaknya k makam siang bolong y,,
    Kod bisa ada penampakan d sana.. (?)
    Tapi keren… Nice bgt… Suer!!!

    • kamu nangis apa emang ingusan saeng? *ditabok nita sampai rumah yonghwa*😀
      ngga, ke makamnya menjelang magrib (?) jadi ngga salah tuh jikyo nampakin diri😀
      btw, gomawoooooo🙂

  4. terharu pas di pemakaman. walaupun scene2 begituan sering aku liat/baca, tapi kesannya.. ada aja yg beda. apaaan aku juga gak tau yg bedanya apaan. but anyway, nice!! aku selalu nungguin nih ff keluar tapi kok gak keluar-keluar… (-_-)”a

    love it, banget banget ^^ keep up the good work

  5. Hah,,, Jonghyun oppa dirimu emang udah cocok jadi bapak…. action nya juga seru.. siwon oppa kamu jahat amat sih -__-.. and for kyu oppa kenapa teganya kamu berkhianat kepada diriku #loh?

    Keren…keren ^^b

  6. wahhhh ..
    keren bgt😀
    aq baru baca tdi ..
    ff tuh emg keren yaa ..
    smua inspirasi kita bisa kita kluarin ..
    ff yg ini keren bgt bca ny tegang tpi ending ny bagus bgt ..
    prok .. prok .. prok ..😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s