Playboy Vs Playgirl [chapter 7]

chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

 

Author: kang hyeri [@mpebriar]

Genre: romance, friendship, family

Length: chaptered

Rating: PG16

Cast:

  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Krystal / Jung Soojung F(X)
Other cast:
  • Key / Kim Kibum SHINee
  • Kang Minyeon [OCs]

Disclaimer: this’ my own plot *walaupun keliatannya ceritanya basi* keluar dari otak seorang febri

Note: Pertama-tama, maaf karakter Krystal aku buat jutek. soalnya tampangnya mendukung #plak. Yang kedua, gara-gara baca clandestine (cmiiw klo judulnya salah) di ffindo, aku jadi suka minhyuk-krystal, yah saya shipper mereka. Tapi soal jutek2an aku ga ikut2an dr ff itu, seperti yang aku bilang tadi, tampangnya mendukung (?). Dan yang ketiga dan terakhir, SELAMAT MEMBACA~ jangan lupa komen ^^

*************************************************

 

Sudah seharian ini Krystal berdiam diri. Hari ini aku sengaja bolos kuliah karena melihat keadaan Krystal yang tiba-tiba saja jadi pendiam begini. Biasanya dia cerewet kalau tahu aku membolos. Sekarang?

Ini semua karena namja yang kami temui kemarin.

Lee Jonghyun. Krystal menyebutnya namja kurang ajar. Dialah orang yang diceritakan Yonghwa hyung waktu itu. Sisi player seorang Krystal tercipta karena namja itu. Tapi yang aku heran, kenapa kemunculannya membuat Krystal jadi pendiam begini? Apa yang telah dilakukan namja itu?

Krystal benar-benar pendiam hari ini. Jika aku bertanya padanya, dia hanya akan menjawab iya atau tidak, atau menjawab sekenanya.

Tadi pagi-pagi sekali aku menelpon Yonghwa hyung tanpa sepengetahuan Krystal. Aku bertanya apakah ada cerita yang terlewatkan dariku. Dia merasa telah menjelaskan sedetail mungkin. Dia sendiri bahkan tidak tahu apa sebenarnya kesalahan Lee Jonghyun. Yang jelas setelah putus dari namja itu, hyung merasa adiknya tertekan. Tidak ada yang bisa hyung dapatkan kejelasannya langsung dari si biang kerok karena begitu putus Jonghyun melanjutkan studi menengah atasnya di luar negeri.

“Krystal?”

“Hm?”

“Kau lapar?”

“Tidak.”

“Kau belum makan siang, Krys!”

“Uh huh!” dia hanya mengangguk.

“Makan, ya? perutmu harus diisi.”

“Shiro.”

“Kau bisa sakit.”

“Tidak akan.”

See? Begitulah dia sekarang. Mengenaskan.

Aku hanya menghela nafas panjang. Kuletakkan mangkuk bubur –tadi menjelang langit gelap aku sengaja membelinya- di atas meja di depanku dan menghempaskan tubuhku di sofa. Krystal yang sedang duduk merasa tidak terganggu dengan guncangan yang kubuat. Matanya lurus memandang televisi. Aku yakin sekali pikirannya tidak sedang di sini.

Kuraih bahu Krystal, membuatnya menghadap padaku. Kuguncang pelan tubuhnya, siapa tahu dia mulai sadar. Bahkan aku lebih menginginkan sifat dingin Krystal kembali dari pada dia jadi patung berjalan begini.

“Jebal! Jangan membuatku khawatir. Kau bisa cerita padaku tentang apa yang ada dipikiranmu saat ini.”

Krystal hanya diam mematung. Namun lama kelamaan matanya berkaca-kaca dan setetes demi setetes air mata jatuh mengaliri pipinya yang sedikit pucat.

“Krystal?”

Dia menunduk seraya menutupi wajahnya. Dibalik kedua tangannya itu dia terisak.

“Waeyo?”

Kuraih bahunya dan kutarik ke dalam pelukanku.

“Aku takut! Aku…takut dengan Jonghyun oppa!”

Sebenarnya apa yang dilakukan Jonghyun hingga bisa membuat gadisku lemah seperti ini?

“Aku takut dia akan menyentuhku lagi.”

Menyentuh? Ah, sepertinya aku sangat paham dengan kata ini. Apa ini adalah alasan mengapa Krystal menangis saat aku ‘menyentuh’-nya waktu itu? Dia takut karena trauma.

Mulai sekarang aku juga akan menyebutnya namja brengsek.

Tapi, apa mereka berdua sempat…. Ah, tidak, tidak! Mereka pasti tidak melakukannya.

 

*****

Bangun tidur tiba-tiba saja aku teringat ponselku yang tidak aku cek sejak 24 jam yang lalu. Lagi-lagi aku teringat dengan Minyeon noona.

Masalah Krystal membuatku lupa dengan masalah hilangnya jejak kakakku.

Kenapa ahjumma tidak menelponku malam itu? Dia jadi menengok noona sore itu kan? Hingga pagi kemarin –sebelum aku menghubungi Yonghwa hyung- tidak ada panggilan atau pesan dari yeoja itu.

Tuh, kan! Ada beberapa notif panggilan dan beberapa sms masuk dari yeoja itu.

 

From: X , 8:34AM

Kenapa tidak angkat teleponku?

 

From: X, 9:08AM

Minhyuk?

 

From: X, 11:10AM

Kau marah karena aku tidak menghubungi segera begitu selesai mengecek keadaan noona-mu? Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat Jinhyuk di sampingku. Kau sendiri yang minta untuk tutup mulut dari ayahmu.

 

Cih! Ayahku sudah kembali ke London? Baru saja seminggu yang lalu dia menginjakkan kakinya di Korea.

 

From: X, 17:25PM

Kau mau mendengarnya tidak, sih? Kakakmu tidak ada di apartemennya selama empat hari. Tadi siang aku kembali mengeceknya. Berarti sudah hari kelima.

 

Mworago? Lalu ke mana noona?

Kujelajahi kontak ponselku. Seingatku, dulu noona pernah menyimpan nomor sahabatnya di ponselku. Semoga saja dia belum ganti nomor.

Hallo?”

“Hallo! Can i speak to Javelline Dominic?”

It’s me! Who’s this?”

“Minny Kang’s brother, Minhyuk. Do you know where-“

TUUT TUUT TUUT!

Sial! Kenapa diputus?

Noona…. Kau di mana, sih?

 

 

 

“Gwenchanayo? Kau melamun terus dari tadi,” seru Krystal seraya menyetir. Kali ini Krystal yang meminta untuk mengemudikan mobil, dia takut dengan kondisiku sekarang nyawanya cepat terenggut. Rrr, dia lebih mengkhawatirkan nyawanya dari pada kegalauanku saat ini.

Hanya Minyeon noona yang ada dipikiranku. Entah kenapa aku yakin sekali ada yang terjadi diantara noona dengan sang pacar. Tapi apa? Aku tidak tahu karena noona tidak menceritakannya padaku. Keberadaannya saja tidak jelas.

“Kenapa kita berhenti?” tanyaku begitu menyadari mobil berhenti di tepi jalan.

“Kau butuh penyegaran. Kajja!”

Baru kusadari Krystal menepikan mobilnya di pinggir sungai Han.

Krystal menarik tanganku, membawaku ke tempat duduk yang berada dekat dengan perairan.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Gomawo, chagi!”

Aku tahu Krystal bersusah payah untuk tidak tampak sedih di depanku. Aku tidak tahu dia benar-benar sudah melupakan Jonghyun apa belum. Maksudku peristiwa pertemuannya dengan sang mantan lusa kemarin.

Bukannya narsis, tapi aku tahu Krystal pasti mengkhawatirkanku. Ah, maaf chagiya, menghilangnya noona membuatku pusing.

Kurangkul bahunya sehingga jarak kami tidak terelakkan.

“Maaf, ya! Aku janji akan membayarnya begitu noona sudah menghubungiku.”

“Memang kau punya hutang apa padaku?”

“Membayar kekhawatiranmu padaku maksudku.”

Krystal menyenderkan kepalanya di bahuku.

“Gwenchana. Sudah terbayar, kok!”

“Eh?”

“Asal kau memanggilku chagi seperti tadi, itu sudah cukup.”

Eh? Memang aku tadi memanggilnya chagi, ya?

 

 

 

“Krystal-ah, gomawo!” kataku sembari memeluknya sekilas.

“Sama-sama, Minhyuk!”

“….” aku hanya diam sambil memandangnya.

“Wae? Ah, sama-sama chagi!”

CUP! Kudaratkan bibirku dipipinya.

“Hadiah untukmu! Sana tidur, besok kuliah pagi, kan? Aku akan menjemputmu!” kataku lalu mendorong tubuh Krystal menuju pintu apartemennya sendiri.

Akupun masuk ke apartemenku sendiri. Sedikit terkejut karena mendapati seseorang duduk di sofa. Tidak biasanya Key dateng malam-malam begini tanpa bilang-bilang padaku.

“Waeyo?” tanyaku setelah menghempaskan diri di sampingnya. Key tidak menjawab. Dia hanya mengendikkan dagunya ke arah pintu kamar. Oh, sepertinya aku tahu.

“Dia ada di sini?”

“Tadi siang aku tidak sengaja memencet panggilan ke nomor ponsel Korea milik noona, dan anehnya tersambung. Aku langsung kemari, malah mendapatinya mengunci diri di kamar. Neo! Ponselmu kenapa mati, huh?”

“Baterainya habis,” jawabku sekenanya.

Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar. Sial! Benar-benar dikunci.

TOK TOK TOK!

“Noona, adikmu tersayang sudah pulang. Ayo buka pintunya!”

Cukup lama aku menunggu dan tidak ada respon sama sekali.

“Noona?”

TOK TOK TOK.

Masih tidak dibukakan juga. Segera kuraih kunci cadangan kamarku yang biasa tergantung bersama dengan kunci mobil.

“Percuma! Kalau bisa pasti sudah terbuka dari tadi. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan dengan gagang pintunya.”

Aku lupa Kim Kibum ini juga memegang kunci. Dia benar-benar sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri sehingga aku mempercayakan segalanya padanya.

Kembali kuhempaskan diriku di sofa. Sedikit ada rasa lega karena masalah keberadaan noona sudah terselesaikan. Tapi aku kembali khawatir karenanya. Tidak biasanya dia begini. Terakhir kali dia mengurung diri karena appa menikah lagi dua bulan setelah eomma meninggal.

“Menurutmu Minyeon noona kenapa?” tanya Key memecah keheningan.

“Mwolla! Sepertinya hal besar terjadi padanya.”

“Perasaanku tidak enak, Hyuk! Aku takut terja-“

PRANG!

Perhatian kami hanya tertuju pada pintu kamar. Apa itu yang pecah? Semoga bukan bola baseball keramik hadiah dari pacar noona setengah tahun yang lalu. Aku terlanjur sayang pada replika itu. Barang limited edition. Harganya selangit karena ada tanda tangan para pemain baseball dunia.

“PABO! Jangan melamun!”

Aku baru sadar Key sudah berdiri di depan pintu. Akupun menyusulnya.

“Noona! Buka pintunya!” teriak Key seraya menggedor-gedor pintu. Sama sekali tidak ada respon. Key terlihat semakin khawatir. Biasanya yang dia khawatirkan hanya penampilannya saja.

Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Kalau dia mengurung diri dari siang, pasti dia belum makan. Noona tipikal orang yang akan cepat terserang sakit maag jika tidak makan tepat waktu. Keturunan appa.

“Ya! Apa yang mau kau lakukan dengan itu?” kataku begitu melihat sebuah benda silver panjang yang sedang digenggam Key.

“Kau ini sayang Minyeon noona atau stik baseballmu, huh?”

Aku ingin jawab dua-duanya, tapi takut stik besi itu mendarat di atas kepalaku.

Tanpa aba-aba, Key melayangkan stik baseball kesayanganku ke gagang pintu. Setelah ini kepalanya yang akan kupukul karena seenaknya memakai barang kesayangan orang.

BRAK!

Suaranya keras sekali, tapi pintu berhasil dibuka. Dan pemandangan pertama yang kami dapatkan begitu pintu terbuka lebar adalah sosok noona yang terkapar di samping tempat tidur.

 

 

 

Kami semua merasa sangat tidak tenang. Aku rasa Key yang paling merasa khawatir. Hanya dia yang betah jalan mondar-mandir menunggu kepastian keadaan noona yang masih berada di dalam ruang ICU. Krystalpun ikut khawatir. Dia mengusap punggungku. Aku sedikit tenang dengan ada dirinya di sampingku.

Noona kami temukan pingsan. Wajahnya sedikit pucat. Dan ada bercak darah di pahanya. Sepertinya dia sedang menstruasi.

Pintu terbuka. Keluarlah beberapa suster mendorong tempat tidur –noona tidur di atasnya- dan seorang dokter yang tadi melarang kami masuk.

“Minhyuk-ssi?”

“Dokter Song, bagaimana keadaan Minyeon noona?” kataku sedikit akrab. Dia dokter keluargaku sebenarnya.

“Mari ikut saya sebentar. Ada yang harus saya bicarakan.”

Tanpa memperdulikan tatapan Key dan Krystal, aku berjalan mengikuti dokter menuju ruangannya.

“Silahkan duduk!”

Akupun duduk di depannya.

“Ada apa dengan kakakku, dok?”

“Keadaan kakakmu tidak begitu bagus. Kakakmu kurang asupan makanan. Bahkan aku yakin sekali kalau sejak kemarin dia belum makan. Dan juga, apa nona Minyeon sedang banyak pikiran?”

“Aku tidak tahu, dok! Dia tinggal di London dan baru kembali hari ini.”

Jeongmal? Ada apa dengan noona? Dia bukan orang yang mudah mengabaikan makanan. Sekali perutnya terasa lapar, dia akan langsung mencari makan. Aigoo! Bahkan aku lihat tubuhnya sedikit kurusan. Tapi aku tahu sekali satu-satunya yang bisa mengalihkan makanan darinya adalah masalah. noona selalu memikirkan masalah secara berlebihan hingga lupa makan.

“Oh ya, sebaiknya nona Minyeon harus membaca buku panduan khusus ibu hamil.”

Dokter ini bercandanya bisa saja. Mana mungkin noona hamil. Menikah saja belum. Kecuali…

“Sangat tidak dianjurkan seorang perempuan yang sedang hamil muda untuk naik pesawat. Kandungannya belum berumur satu bulan. Untung saja kau cepat membawanya ke sini, kalau tidak mungkin nona Minyeon akan mengalami keguguran.”

 

*****

“Noona, makan, ya! Tadi pagi kau tidak mau makan, setidaknya makanlah tiga suap. Kasian bayimu, noona!”

Tanpa kami duga, noona menepis tangan Key yang sedang memegang sendok berisi bubur yang siap disantap. Noona memandang Key tajam lalu beralih ke jendela di sampingnya.

Aku bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Key. Kurebut mangkuk bubur yang dipegang Key dan sedikit membantingnya di atas nakas.

“Cukup, noona! Kau tidak tahu kalau Key bahkan rela tidak mengikuti ujian tengah semesternya seminggu  ini demi menemani noona di sini! Kalau kau tidak mau aku yang suapi, setidaknya dengan Key mau,” kataku sedikit emosi.

Key mengguncang lenganku. “Gwenchana. Jangan marah-marah padanya.”

“Diam kau, Key! Aku capek! Bicara dengan patung berjalan itu melelahkan! ARRRRGH!” spontan aku berteriak seraya mengacak-acak rambutku sendiri. Sengaja kubanting pintu saat aku keluar dari kamar rawat inap noona.

 

*****

Krystal menemaniku belajar di perpustakaan kampus. Ujian tengah semester belum selesai, tinggal beberapa hari lagi. Tapi tetap saja aku mengkhawatirkan noona. Sudah dua hari ini aku tidak ke rumah sakit sejak insiden aku marah-marah.

Aku tahu aku sudah kelewatan. Dokter terus memperingatkanku untuk memberi semangat pada noona. Tapi tetap saja emosiku ada batasnya dan sewaktu-waktu bisa meledak jika terus kupendam. Ah, karena ini Key jadi marah padaku.

“Minhyuk?”

Begitu kurasakan sentuhan ditanganku, lamunanku buyar.

“Kau melamun terus dari tadi.”

“Benarkah?”

Krystal hanya diam memandang mataku penuh arti. “Besok ujian apa?”

“Bahasa Inggris.”

“Lalu kenapa kau baca Sistem Operasi Pada Aplikasi Pemrograman Pascal? Kau bukan anak komputer, kan?”

Ah, jeongmal? Kututup bukunya, gambar komputer dengan beberapa ‘rumus’ tersaji di sampul buku.

Ah, pabo! Saking kepikiran noona, yang aku ambil malah buku lain.

 

 

 

Kali ini Krystal yang menyetir –lagi. Aku sedang bermasalah dalam konsentrasiku. Ya kau tahu lah. Kalau aku sedang memikirkan sesuatu, aku bisa lupa dengan sekitarku. Bisa-bisa bukan noona saja yang meringkuk di rumah sakit, kami bisa saja menyusul.

“Hey, kita mau kemana?” kataku begitu kusadari Krystal bukan mengambil jalan menuju apartemen kami.

“Rumah sakit!”

“Mwo?”

Krystal tidak merespon. Dan akhirnya kami hanya terdiam hingga kami sampai di sana.

Krystal terus saja mendesakku untuk masuk ke dalam. Terus terang aku belum siap. Rasa marah bercampur malu bersatu di dalam diriku. Aku masih marah pada noona karena dia masih terus enggan membuka mulut, itu sungguh membuatku khawatir. Dan malu, aku malu telah memarahinya. Aku malah merasa menjadi adik yang gagal di saat noona membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.

CKLEK!

Tanpa kupinta, Krystal membuka pintunya. Dan oh.. Kenapa noona bisa tertawa dengan Key? Jadi, apa yang telah aku lewatkan.

“A…annyeong!” sapaku pada mereka berdua.

“Annyeong! Masuklah!”

Key bangkit berdiri dari duduknya di tepi ranjang noona, lalu menggeretku mendekat dan mendudukkanku di tempat Key tadi duduk. Tanpa sepatah katapun Key pergi meninggalkan kami.

Demi Tuhan, ini pertama kalinya aku merasa canggung dengan kakakku sendiri. Aku bingung harus bicara apa.

“Minhyuk?”

Kudongakan kepalaku pada noona.

“Maafkan, aku!”

Suaranya sedikit bergetar. Aku yakin sekali noona sedang menahan tangisannya. Ya Tuhan, apa dia menangis karena aku?

Tanganku spontan memeluk noona. Jujur, aku rindu sekali dengannya.

“Mianhae, noona!”

 

*****

“AKU MAU BULGOGI!!”

“Aduh, noona! Ini sudah jam setengah dua. Bisa tidak minta yang wajar-wajar saja, huh? Nanti siang aku ada ujian!”

“BULGOGI, BULGOGI, BULGOGI!!!!”

“AISH! IYA, IYA!!” kataku dengan suara yang tidak kalah kerasnya.

Aku keluar dari kamar dengan ponsel yang kugenggam, lalu menghubungi seseorang.

Kau buta, huh? Ini masih tengah malam, ada apa menelponku?”

“Belikan aku bulgogi! Setahuku didekat apartemenmu ada rumah makan 24 jam.”

Apa Minyeon noona lagi yang minta?”

Ye!”

Yakin bulgogi? Kemarin sudah kubawakan kimchi, dia tiba-tiba ingin ddukbogi.”

Ah, kau tahu kan noona sedang hamil. Sudah beli saja apa yang ada di sana! Cepat!”

Oke, bos!”

KLIK!

Kalau berhubungan dengan Minyeon noona, pasti Key akan gerak cepat. Entah itu di tengah malam atau di sela waktu kuliah kami, Key pasti akan menyempatkannya. Aku heran pada sahabatku yang satu itu. Apa dia masih menyukai noona setelah tahu yeoja yang disukainya sudah berbadan dua? Tidak diragukan lagi, melihat pengorbanannya selama ini, terlihat jelas kalau dia tetap menyukai noona. Prinsip Key, selama bendera kuning belum menjulang, Key tetap akan meraihnya.

Empat hari yang lalu noona sudah diperbolehkan pulang. Aku menyuruhnya pulang ke rumah, tapi dia enggan. Dia takut appa mengetahuinya. Apa yang akan terjadi setelah appa mengetahuinya?

“Kenapa tidak kau beli? Aku ingin makan itu!”

“Kau atau anakmu? Cih, baru di dalam perut saja sudah menyusahkan, bagaimana jika sudah lahir? Aish! Aku tidak mau jadi ayah. Merepotkan!”

PLETAK!

Sendal yang dipakai noona mendarat tepat dikepalaku.

“Apa sih? Sakit, tahu!”

“Kau bicara seolah tidak pernah menyusahkan orang tua kita! Aku nyaris kabur karena kau, ingat itu!”

Aku terkekeh. Teringat cerita eomma dulu kalau noona pernah berniat kabur karena kurang mendapat perhatian. Eomma lebih fokus padaku yang sedang di dalam kandungan, sehingga nyaris lupa ada seorang anak kecil yang juga ingin diperhatikan.

“Heh, orang gila! Sana beli bulgogiku!”

“Aku sudah menyuruh, Key.”

“Key lagi? Aku menyuruhmu adikku yang manis, bukan dia!” geram noona seraya menatapku gemas. “Jangan menyusahkannya.”

“Tidak menyusahkannya, kok. Dia sendiri tidak menolak saat kuminta.”

Aku duduk di sofa. Noona yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, ikut duduk bersamaku.

“Aku takut Key salah menafsirkan kebaikanku padanya.”

“Sudah terlanjur. Memang begitu keadaannya. Sudah lama sekali.”

Noona menoleh padaku. “Maksudmu?”

“Key menyukaimu, tidak sadar, ya?”

Noona hanya merespon dengan menggeleng-geleng kepalanya.

“Dia sangat menyukaimu noona, mungkin sekarang sudah berubah menjadi cinta. Apapun yang berhubungan dengan kau, dia akan sangat antusias. Kau tidak lihat betapa kacaunya Key saat dia tahu kau sudah punya pacar di sana, tapi dia berusaha baik-baik saja saat kau menelponnya atau terakhir kau ke sini saat mengambil buku.”

Noona termenung. Mungkin terkejut kalau orang yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri adalah pengagum rahasianya selama ini.

“Tapi aku tidak mencintainya, Minhyuk. Dia seperti adikku sendiri!”

“Ara! Apa kau masih mencintai laki-laki brengsek itu?”

“Mwolla!” Noona menghela nafas. “Tapi dia ayah dari bayiku.”

“Kasian sekali anak ini.” Kuelus perut noona yang masih belum membesar.

Semua ini terjadi gara-gara nafsu. Namja yang dia pacari sejak setengah tahun yang lalu tidak mau bertanggung jawab begitu noona memberitahukannya kalau dia sedang mengandung. Saat itu –di rumah sakit-, dengan sedikit terisak noona bercerita kalau namja itu menuduhnya sudah berhubungan badan dengan namja lain. Kurang ajar! Dia tidak akan selamat begitu dia menginjakkan kakinya di Korea nanti.

“Aku tidur dulu, ya!”

“Ya, bulgoginya bagaimana?”

“Kau makan saja berdua dengan Key!”

Aigoo! Apa Krystal bakal juga begini kalau sedang hamil?

 

*****

 

“Chagi, jangan cemberut, dong!”

Kucubit kedua pipinya, tapi dia hanya diam saja. Aish, dia tidak tahu kalau aku harus menahan malu untuk melakukan ini semua di kafe seramai ini.

“Jebal! Aku kan sudah ada di depanmu!”

Sepertinya dia marah karena kurang kuperhatikan akhir-akhir ini. Yah ini karena ibu-ibu jadi-jadian yang ada di apartemenku itu.

Aku seperti seorang suami beristri dua. Yang satu sedang mengandung, yang satupun merajuk karena perhatianku yang lebih kepada istriku yang lain.

“Aku akan menuruti kemauanmu hari ini, deh!” kataku seraya memohon padanya. Hari ini adalah hari Minggu, Key pasti akan betah di sana seharian. Apalagi ada noona.

Tak lama Krystalpun tersenyum.

“Yang benar, nih? apa saja?”

Dan sekarang senyumannya terasa mengerikan bagiku. Tuhan, semoga Krystal tidak meminta yang aneh-aneh. Sudah cukup aku menderita karena noona.

 

-tbc-

 

24 thoughts on “Playboy Vs Playgirl [chapter 7]

  1. Hahahhahahah..
    Kesian minyuk.. Lucu juga ya ngurusin ibu hamil gtu..
    Trakhir krystal nya nakutin minyuk dgn smirknya evil gtu.. Hahahaha

  2. keren ff nya… walo konfliknya dah ada tpi tetep sweet bgd ceritanya…
    minhyuk kayak suami beristri dua…
    hahaha…
    penasaran krystal sma jonghyun dulu ada apa kug sampek tkut bgd… dsentuh gmn tuh maksudnya? jgn” kayak yg dpikirin minhyuk…
    andwae…
    mian komem kepanjangan…🙂

  3. haha xD seru tuh bagian akhir xD
    kalo aku jadi krystal aku pasti udah nyusun rencana sedemikian rupa buat ngerjain minhyuk *apaansih?* O.o
    aku curiganya si jonghyun ngga asal lewat disini
    jangan2 dia yg ngehamilin minyeon? O.o *sotoy
    lanjutannya ditunggu eon ^^

  4. Masi penasaran ni,si jongHyun nyentuh Krystal dulu sampai sejauh mana /plak…. Stuju,, kayakx yg ngehamilin minyeon tuh si JH… Kalau di ff ini si JongHyun kn roman2x jd bejat gt /plak … Lanjut

  5. kyaaaaaaaaaaaaa makin seru kan… ada konflik lg tuh noonanya minhyuk hamil.
    tp kenapa jadi kepikiran ma jonghyun ya yg ngehamilin moonanya minhyuk.hmmmm
    gara2 cerita krystal kan kalo jonghyun itu orangnya begitu hmmmm..
    dan dia pergi jg ke luar negri nahhh tuh jgn2 ke london dan ketemu ma noonanya minhyuk..
    huaaaaaaa rumit bgt nih. berharap ma key sih itu noonanya tp kasian key masa ,,,
    dan udah nih bagus udah ga ada cobaan lagi buat hubungan minhyuk ma krystal. pliss appanya minhyuk sadar dongggg jgn main jodoh2in aja…
    woaaaaa lanjut lanjut dehhhh penasaran tamatnya giman,,,

  6. Tebakan ku yg hamili Minyeon itu pasti si Jonghyun?? ckck dasar playboy cap epil *emang ada?* ..

    Onni chap selanjutnya banyakin ceritanya Key-Minyeon noona.. aku suka liat mereka ^^

  7. Minhyuk sama krystal kompak! Abis krystal galau gegara jonghyun muncul, eh gantian minhyuk yg galau gara2 minyeon ilang….
    Untungnya minyeon udah ketemu lagi…
    Jonghyun dulu ngapain krystal sih? Sampe2 krystal jadi takut gitu sama dia u,u
    Wah minyeon hamil dan dia ngidam sampe nyusahin minhyuk haha xD
    Suami beristri dua? Ada2 aja nih minhyuk kkkk
    Btw yg ngehamilin minyeon siapa? Daebak key masih sayang sama minyeon!
    Lanjuut super penasaran!

  8. Aigoo~ segitu cintanya ya key pd kakaknya minhyuk..? Jadi terharu deh, knp sih kakaknya minhyuk tidak menyadari perasaan key selama ini ckckck
    Kira2 siapa ya yg menghamili kakaknya minhyuk? Kepo tingkat akut nih
    Nah krystal akan meminta apa ya pd minhyuk? Penasaran~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s