I’m in Love [Part 3]

Author : Shineelover14

Rating : PG-13

Lenght : Chapter

Genre : Romance, Family, Friendship

Main cast : Lee Jonghyun (CN BLUE), Park Jihyun (as readers)

Support cast : Shin Hyeri, Han Minjung (Fiksi), and other cast …

Disclaimer : FF ini murni buatan aku sendiri. Terinspirasi waktu liat Jonghyun oppa nyanyiin lagi I’m in Love—Narsha BEG. Dan FF ini juga pernah ku publis di beberapa WP.

A/N : Ini FF pertama yang aku publis di sini. Moga aja gak ngecewaiin. Jujur aku baru jadi boice. Sebenarnya udah lama sih tau CN BLUE, n’ makin suka sejak aku baca FF buatan salah salu temen aku yang main cast-nya adalah Jonghyun. Oke deh gak panjang-panjang lagi. HAPPY READING! PLEASE DON’T FORGET GIVE ME A COMMENT .. GOMAWOOOO …

 

<><><><><>

Narsha (BEG)- I’m in Love …

….

Ahh .. I’m in love you’re my baby
Ahh .. I’ll fall in love
Deureopjianayo geudaewa hamkkeramyeon
Saesangeun neomu areumdapjyeo

Ooh .. I’m in love, I’m so deep in love
Ooh .. I’ll fall in love
Deureopjianayo geudaewa hamkkeramyeon
Saesangeun neomu areumdapjyeo
Geudaeneun neomu areumdapjyeo

Author P.O.V

Ding … Dong …

Bell waktu istirahat berbunyi …

Jihyun dan Minjung berjalan menuju taman belakang, tempat biasa ia menghabiskan waktu santai mereka ketika istirahat. Jihyun merebahkan tubuhnya di sebuah bangku kayu yang cukup untuk diduduki 3 orang. Ia menatap langit biru nan indah membentang dihadapannya. Pikirannya menerawang mengingat sesuatu yang mengganggunya sejak semalam.

“Minjung~a … Apa kau mengenal Shin Hyeri?”tanya Jihyun seraya bangkit dari posisi tidurnya. Kini ia tengah menatap wajah temannya itu dengan sangat serius. Sedangkan yang dipandangi hanya menyernyit mencerna semua kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya tersebut.

“Shin Hyeri? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi aku lupa.” Minjung mengelus-elus dagunya berusaha mengingat sebuah nama yang disebutkan Jihyun tadi.

“Katanya ia pernah bersekolah disini ketika kalian masih duduk di kelas 10. Dia teman sekelas Jonghyun,”jelas Jihyun dan langsung disambut senyum sumringah dari Minjung.

“Aaaa. Ne … ne … ne … aku baru ingat. Gadis pindahan itu. Ya namanya Shin Hyeri. Waeyo?” Kini tatapan Minjung berubah menyelidik. Ia ingin tau mengapa sahabanya itu sampai menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan Jonghyun. Jihyun yang dipandangi seperti itu jadi salah tingkah. Ia meremas-remas roknya sendiri dan berusaha terlihat tenang dihadapan Minjung.

“Aa .. Aniyeo. Aku hanya ingin tau saja. Kemarin aku bertemu dengannya di tempat Jonghyun bekerja.”

“Mwo?! Di tempat kerja Jonghyun?! Sedang apa kau disana? Kau mengikutinya ya? Kau suka pada Lee Jonghyun?”tanya Minjung setengah berteriak. Namun dengan cepat Jihyun membekap mulut Minjung dengan tangannya. Ia takut kalau ada orang yang mendengar percakapan mereka berdua.

“Ssssssttt .. Kau ini berisik sekali. Kecilkan volume suara mu.”

“Ne .. ne .. ne .. Tapi jelaskan pada ku apa yang sedang kau lakukan di tempat kerjanya?”tanya Minjung dengan nada setengah berbisik.

“Aku .. Aku bekerja di kedai ramen itu.”

“Mwo?!” Minjung membelalakan matanya tanda tak percaya dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. Tentu saja ia tak percaya, karena Minjung tau Jihyun termasuk ke dalam kalangan keluarga berada dan untuk apa ia bekerja sedangkan semua kebutuhannya terpenuhi.

“Aku hanya membantunya. Aku tidak meminta bayaran pada Tuan Lee.”

“Jadi kau sudah dekat dengan Jonghyun? Mengapa tidak memberitahu ku?”

“Dekat?! Jangan salah sangka, semuanya tidak seperti apa yang kau pikirkan. Ia tetap saja acuh pada ku.” Jihyun terlihat tak bersemangat setelah menyelesaikan kalimatnya tadi.

“Mengapa bisa seperti itu? Bukankah kalian jadi sering bertemu, harusnya hubungan kalian membaik.”

“Ntahlah, aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiranya. Ia terlalu tertutup. Tapi satu hal yang masih tak dapat ku percaya, Jonghyun berubah total setelah bertemu yeoja yang bernama Shin Hyeri. Apa hubungan mereka sedekat itu sebelumnya?”

Minjung terlihat menimbang-nimbang perkataan Jihyun tadi. Ia berusaha mengingat teman sekelasnya dulu yang bernama Shin Hyeri.

“Aku tidak tau mereka mempunyai hubungan khusus atau tidak. Tapi gosipnya mereka sempat berpacaran sebelum akhirnya Hyeri pindah ke Busan.”

“Mwo?! Berpacaran?!” Jihyun terkejut mendengar perkataan sahabatnya barusan.

“Mm .. Aku tidak tau pasti Jihyun~a. Lagi pula itu hanya gosipkan. Sudah jangan dipikirkan. Kalau kau suka dia, kau harus terus berusaha untuk mengejarnya.”

“Kau ini bicara apa? Aku tidak menyukainya.” Elak Jihyun.

“Sudah jangan bohong pada ku lagi. Aku tau kau menyukainya,”ucap Minjung seraya tersenyum pada Jihyun.

“Dari mana kau mengetahuinya?”

“Tuh di kening mu tertulis AKU MENYUKAI LEE JONGHYUN.” Minjung setengah berteriak ketika ia mengucapkan ‘AKU MENYUKAI LEE JONGHYUN’.

Spontan wajah Jihyun merona merah. Ia beranjak dari duduknya dan mengejar Minjung.

“Yaaa! Han Minjung!”teriak Jihyun geram seraya mengepal tangan kanannya dan mengacungkan-nya pada Minjung.

<><><><><>

Keringat bercucuran membasahi kening Jonghyun. Siang itu banyak sekali pengunjung yang datang ke kedai ramen milik Appanya, jadi ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melayani para pengunjung. Baru saja ia ingin mengelap keringatnya, namun terhenti ketika ia melihat seseorang menyodorkan sapu tangan berwarna biru muda padanya. Ia melihat kearah orang itu lalu terdiam sejenak. Tiba-tiba sudut bibirnya tertarik ke atas dan menciptakan senyuman manis di bibirnya.

“Gomawo Hyeri~a.”

“Ne. Oppa pasti lelah sekali. Apa aku boleh membantu mu oppa?”

“Andwe. Kau duduk saja disana. Aku tidak mau kau kelelahan,”ucap Jonghyun seraya menunjuk sebuah bangku kosong yang berada di pojokan.

“Tapi …” Belum sempat Hyeri menyelesaikan kalimatnya, Jonghyun sudah mendorong tubuh Hyeri menuju bangku kosong tersebut dan mendudukan-nya disana.

Sementara di sisi lain, Jihyun terlihat iri dengan perlakuan Jonghyun pada Hyeri. Ia hanya bisa menatap kesal keduanya.

“Tunggu di sini,”ucap Jonghyun seraya tersenyum.

“Ne oppa. Aku akan menunggu mu hingga selesai.”

“Baiklah, aku tidak akan lama. Aku akan minta izin pada appa untuk pulang lebih awal.”

“Ne.”

Jonghyun berjalan menuju dapur. Ia mendekati ayahnya yang sedang membuat ramen. Dan segera mengantarkan beberapa mangkuk pesanan para pelanggan. Sedangkan Jihyun tak lepas memandangi sosok Jonghyun dari meja kasir.

<><><><><>

Jam menunjukan pukul 15.00 KST. Jonghyun mengganti baju kerjanya dengan t-shirt putih yang dilapisi kemeja bermotif kotak-kotak berwarna merah dominan. Ia berjalan mendekati Hyeri dan Hyeri langsung merangkul tangan Jonghyun dengan mesra. Hati Jihyun semakin panas setelah melihat aksi Hyeri yang lebih agresif. Tak lupa sebelum pergi Jonghyun dan Hyeri berpamitan pada Tuan dan Nn. Lee.

“Ahjusi .. Ajumma .. Kami pergi dulu,”pamit Hyeri.

“Ne. Hati-hati,”ucapTuan dan Nn. Lee bersamaan.

“Tenang saja Eomma .. Appa, aku akan menjaganya dengan baik,”ucap Jonghyun.

“Baguslah. Jangan lupa antar Hyeri pulang nanti,”ucap Nn. Lee mengingatkan anaknya.

“Ne,”ucap Jonghyun.

Author P.O.V end

<><><><><>

Jihyun P.O.V

Dia benar-benar mengacuhkan ku hari ini. Ia sama sekali tidak menyapa ku atau sekedar mengomeliku. Apa ia memang tidak menganggap ku ada? Sekarang ia malah enak-enakan pergi bersama Hyeri. Ia bahkan tidak protes dengan sikap Hyeri yang bergelayutan manja di tanganya. ‘Dasar namja pabo!’ umpat ku.

Karena Jonghyun pulang lebih awal, dengan terpaksa aku yang menggantikan semua pekerjaanya. Dari mulai mengantar orderan, membersihkan mangkuk-mangkuk kotor lalu mencucinya, melayani para tamu yang akan membayar hingga bersih-bersih sebelum kedai ramen ini tutup.

Aku melirik sekilas jam tangan ku ternyata sudah menunjukan pukul 20.00 KST. Kedai sudah sepi dan aku harus segera menutupnya. Tuan dan Nn. Lee sudah pulang lebih awal. Tuan Lee berpesan agak kunci kedainya di serahkan pada Jonghyun saja besok.

Ku matikan semua lampu lalu berjalan keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Udara di luar terasa dingin mungkin karena musim dingin sudah semakin dekat. Kurapatkan jaket ku dan aku mulai berjalan meninggalkan kedai tersebut.

“Haaaaaah …” aku menghela nafas panjang.

“Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?” ucap ku pelan.

“Aku iri sekali dengan Hyeri. Aku ingin diantar pulang oleh Jonghyun. Tapi sayang itu tidak akan pernah jadi kenyataan.”

Buang jauh-jauh pikiran mu Park Jihyun. Itu hal yang sangat mustahil. Aku terus melangkah seraya memandangi ujung sepatu flat ku yang berwarna crim bermotif kotak-kotak. Dan tiba-tiba saja langkah ku terhenti karena tubuhku menabrak sesuatu. Ku pikir aku menabrak tiang listrik, tapi rasanya tidak sakit. Ku dongak-kan kepala ku dan ku lihat sosoknya.

“Mengapa kau disini?”tanya ku.

“…..” Ia hanya terdiam menatap ku datar. Ya siapa lagi kalau bukan Lee Jonghyun si manusia aneh.

“Bukan-nya kau sedang berkencan dengan Hyeri? Kenapa pulang awal?” Aku berharap ia menjawab karena aku ingin bertemu dengan mu Park Jihyun.

“Aku mau kembali ke kedai karena ada sesuatu yang tertinggal di sana. Mana kuncinya?”ucapnya tentu saja dengan nada datar seraya mengulurkan tangan-nya.

Aku kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang ku inginkan. Ku rogoh kantung tas ku lalu ku serahkan kunci itu padanya kemudian aku melongos pergi meninggalkan-nya.

“Ku mohon panggil aku. Ku mohon …”ucap ku pelan. Aku berharap ia memanggilku lalu menawarkan diri untuk mengantar ku pulang. Sudah 15 langkah tapi tak juga ada respon, ku palingkan wajah ku dan ku lihat sosoknya sudah tidak ada.

Aku kembali di acuhkan …

<><><><><>

Hari ini Minjung tidak masuk sekolah. Ia sedang sakit. Aku benar-benar kesepian tanpanya. Ku habiskan waktu ku di taman belakang. Malas sekali rasanya pergi ke kantin sendirian.

Jika sendiri seperti ini, aku jadi teringat Appa dan Eomma. Mereka sedang apa sekarang? Sudah 3 bulan lebih mereka tidak menghubungi ku sama sekali. Sekedar menanyakan kabar ku saja tidak. Mereka benar-benar orang tua ku atau bukan? Aku seperti boneka baginya yang dengan mudah mereka atur.

Buliran bening meluncur dari sudut mata ku. Semakin lama buliran itu keluar semakin deras hingga membasahi pipi ku.

“Appa .. Eomma .. Aku merindukan kalian.” Aku mulai terisak. Sakit sekali rasanya diperlakukan seperti ini oleh ke dua orang tua ku sendiri. Mereka terlalu egois!

Aku tenggelam dengan pikiran ku sendiri hingga aku tak menyadari seseorang berjalan mendekati ku. Ia duduk disebelah ku. Segera ku hapus buliran yang membasahi pipi ku. Ku palingkan wajah ku dan ku lihat Lee Jonghyun duduk di sebelah ku.

‘Omo .. Kenapa ia ada disini? Apa ia melihat ku menangis?’

‘Memalukan …’

Aku hanya tertunduk. Tiba-tiba ia menyodorkan sapu tanganya pada ku.

“Ini. Hapus air mata mu. Aku tidak suka melihat seorang gadis menangis.” Aku terkejut dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ia mengajak ku bicara terlebih dahulu. Ragu-ragu ku raih sapu tanganya dan segera ku hapus air mata yang masih tersisa membasahi pipi ku.

“Gomawo,”ucap ku lirih.

Ia tidak menjawab. Ku pandangi wajahnya. Dan ia hanya menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan diri ku yang sedang menatapnya.

“Mengapa kau menangis?”tanya-nya kemudian. Pertanyan-nya membuat ku terkejut untuk kesekian kalinya. Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya ku jawab.

“Aku sedih …” beberapa saat aku terdiam berusaha menyusun kata-kata yang akan keluar dari mulut ku. “Aku seperti orang yang terbuang. Appa dan Eomma tidak pernah memperdulikan ku. Mereka tak pernah menunjukan rasa sayang mereka pada ku. Yang mereka tau hanyalah menimbun harta sebanyak-banyaknya yang kelak akan mereka berikan pada ku. Padahal aku tak butuh semua harta itu. Aku cuma ingin mereka di sisi ku. Itu saja. Mereka bahkan tidak pernah menanyai kabar ku.”

Aku kembali terisak. Dada ku terasa sesak hingga sulit sekali bagi ku untuk bernafas. Tiba-tiba Jonghyun meraih pundak ku lalu menuntun ku ke dalam pelukanya. Ia memeluk ku dan mengusap punggung ku pelan.

“Menangislah jika sekarang kau ingin menangis. Tapi setelah ini aku tak ingin lagi melihat mu menangis. Arraseo?”

Aku hanya mengangguk meng-ia-kan. Selama 10 menit aku berada dalam pelukan-nya hingga tangis ku mereda. Aku memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran berikutnya.

‘Deg …’ Jantung ku berdetak sangat cepat. Ada apa dengan ku?

Aku baru tersadar kalau aku masih di dalam pelukanya. Ku jauhkan diri ku darinya. Aku tak mau ia mendengar detak jantung ku yang tak karuan seperti ini. Ku hirup udara sebanyak-banyaknya hingga oksigen memenuhi paru-paru ku.

“Jeongmal gomawo,”ucap ku pelan tapi aku yakin ia dapat mendengarnya.

“Tidak perlu berterima kasih. Anggap saja itu adalah balas budi karena waktu itu kau pernah menolong ku.”

Aku tersenyum padanya. Aku sudah tau ia tidak akan membalas senyuman ku. Dan itu tidak masalah untuk ku. Aku sudah terbiasa dengan semua sikap dingin-nya.

Ia beranjak dari posisinya dan berjalan meninggalkan ku. Baru 5 langkah ia berjalan, aku memanggilnya lalu segera ku susul ia.

“Ya! Kau mau kemana? Kita sudah terlambat 15 menit. Kita bolos saja hari ini. Otte?”

“….” seperti biasa tidak ada jawaban darinya. Ia malah melongos pergi meninggalkan ku. (*mulai lagi deh penyakit jutexnya Jonghyun)

Bukan Park Jihyun namanya kalau menyerah begitu saja. Ku langkahkan kaki lebih cepat hingga aku bisa menyamai posisinya. Ku raih tanganya dan ku genggam dengan erat. Ia menghentikan langkahnya lalu menatap ku datar. Kali ini aku tidak perduli lagi. Segera ku tarik tanganya agar ia mengikuti ku. Awalnya ia hanya diam saja tapi lama kelamaan akhirnya ia bersuara juga.

“Ya! Kau mau membawa ku kemana?!”tanyanya dengan nada tinggi ketika kami sudah berjalan meninggalkan halaman sekolah.

“Aku tidak tau. Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja.”

“Shiroyeo! Aku mau kembali ke kelas!”

“Andwe. Ayolah temani aku sebentar saja. Sekali-sekali memboloskan tidak apa-apa. Lagi pula kau selalu mendapat peringkat 1 kan. Setelah sekolah berakhir baru kita kembali ke kelas untuk mengambil tas. Otte?”

“……” Ia terdiam dan ku anggap itu adalah jawaban setuju darinya.

Jihyun P.O.V end

<><><><><>

Jonghyun P.O.V

Gadis itu menarik-narik seragam ku. Aku tak tau ia akan membawa ku kemana. Sudah 10 menit kami berjalan tanpa tujuan dan aku dengan bodohnya tetap mengikutinya.

Akhirnya kami sampai di sebuah taman yang cukup luas, Taman Kota. Ku lihat banyak orang sedang berbenah-benah disana. Sepertinya taman tersebut akan di ubah menjadi pasar malam, acara wajib tahunan masyarakat Seocho.(*author ngarang aja loh ..)

“Ya, Jonghyun~a. Apa yang sedang mereka lakukan?”tanya gadis itu seraya menatap dengan seksama apa yang sedang di kerjakan orang-orang di taman ini.

“Entah. Tanya saja sendiri,”jawab ku pura-pura tidak tau.

Ia terlihat kecewa dengan jawaban ku barusan. Ia mengembungkan ke dua pipinya dan memajukan beberapa centi bibirnya. Hahaha .. Ia terlihat sangat lucu.

‘Mwo! Lucu! Ya, Lee Jonghyun apa yang sedang kau pikirkan?! Andwe .. Andwe buang jauh-jauh pikiran aneh mu itu.’

Ku putuskan untuk segera pulang. Semakin lama bersama gadis itu membuat otak ku kacau saja. Ku dengar samar-samar gadis itu memanggil-manggil ku, namun sedikit pun tak ku hiraukan. Semakin ku percepat langkah ku agar ia tidak dapat mengejar ku.

<><><><><>

Suasana sekolah sudah sepi, hanya beberapa murid yang tinggal di sekolah karena mereka harus mengikuti ekskul. Ku raih tas punggung ku dan segera bergegas pulang. Ku lihat sekilas tas gadis itu yang masih tergeletak dengan manis di atas meja.

‘Apa ku bawakan saja tasnya?’

‘Andwe … Andwe … Biarkan saja, apa peduli ku.’

Dengan mantap ku langkahkan kaki ku menuju kedai ramen Appa. Aku harus bergegas karena pengunjung kedai pasti sangat ramai sekarang.

Jonghyun P.O.V end

<><><><><>

Jihyun P.O.V

“Haaah, Kemana perginya Jonghyun? Dasar laki-laki itu, tega sekali meninggalkan ku sendirian.”

Langkahnya terlalu cepat hingga aku kehilangan jejaknya. Ku putuskan untuk kembali ke taman tadi, aku masih penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan orang-orang di sana.

Aku berjalan mendekati seorang ahjussi yang umurnya ku perkira sekitar 40 tahunan. Ia sedang memasang bendera warna-warni dengan corak hijau kuning di sekitar meja yang berbentuk persegi panjang.

“Annyeonghaseo ahjussi. Park Jihyun imnida. Boleh aku bertanya sesuatu?”

Ia tersenyum ramah pada ku. “Ne. Annyeonghaseo. Kang Kyumin imnida. Apa yang ingin anda tanyakan?”

“Apakah akan ada sebuah perayaan di sini?”

“Ne. Tentu saja agassi, ini adalah acara tahunan masyarakat Seocho. Besok lusa ada bazar. Datanglah, akan sangat ramai di sini. Banyak acara menarik yang akan disajikan para panitia penyelenggara.”

“Jinjayeo?! Pasti sangat menarik. Baiklah, aku akan datang. Gamsahamnida sudah memberi tahu ku. Sampai bertemu besok lusa.”

Kyumin ahjussi tersenyum seraya membungkuk lalu ia meneruskan pekerjaanya.

<><><><><>

Hari ini lagi-lagi Hyeri datang menemui Jonghyun. Ia menunggui Jonghyun hingga selesai bekerja. Aku malas sekali melihat mereka berdua bermesraan dihadapan ku, jadi ku putuskan untuk pulang lebih awal. Baru saja aku ingin melangkah meninggalkan kedai, seseorang memanggil ku. Ku palingkan wajah ku.

“Ada apa?”

“Bisa kita bicara sebentar?”

“Silahkan, bicara saja.”

“Tidak di sini. Ayo ikut aku.”

Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Hyeri? Aku hanya menikutinya dari belakang dan kami berjalan mengarah ketepian dermaga. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan kemudian ia membalik-kan badanya. Kami berhadapan sekarang.

“Ada yang ingin ku tanyakan,”ucapnya memulai pembicaraan.

“Katakan saja.”

Ia terdiam, sepertinya ia sedang menyusun kata-kata yang akan ia tanyakan pada ku.

“Apa kau menyukai Jonghyun oppa?”tanyanya dengan penuh selidik.

Aku terkejut dengan apa yang barusan ia katakan. Mengapa ia bertanya seperti itu? Belum sempat aku menjawabnya, ia sudah berkata lagi.

“Ku harap kau tidak menyukainya. Karena Jonghyun oppa adalah milik ku. Maaf kalau aku terlalu egois, tapi aku tidak bisa melepasnya dari sisi ku. Ku harap kau mengeri Jihyun~a.”

“Bagaimana kalau aku juga mempunyai perasaan yang sama seperti mu?” Aku benar-benar tidak menyangka, mengapa aku bisa berbicara seperti itu. Padahal aku sadar betul bahwa Jonghyun tidak mungkin bisa menjadi milik ku, tapi hati ku berkata bahwa aku harus terus memperjuangkan-nya walau pun itu adalah hal yang sangat mustahil.

“Kau tidak akan pernah mendapatkan hatinya. Kau harus sadar, Jonghyun oppa bukanlah orang yang mudah untuk didekati. Jadi lebih baik kau menjauh dari pada kau merasa sakit nantinya.”

Ia tersenyum sinis pada ku lalu pergi meninggalkan diri ku yang masih mematung. Dia benar, tidak mudah untuk mendekati Jonghyun. Lalu aku harus bagaimana? Nama Shin Hyeri terus saja berputar-putar di benak ku dan itu membuat kepala ku pusing. Segera ku langkahkan kaki ku menuju rumah.

Jihyun P.O.V end

<><><><><>

Author P.O.V

“Baiklah anak-anak, kita akhiri pelajaran kita sampai di sini. Jangan lupa kumpulkan tugas kalian minggu depan. Mengerti.”

“Ne,”semua murid menjawab dengan serempak.

Jihyun terus saja memain-mainkan pulpen di jemarinya. Ia melamun mengingat perkataan Hyeri kemarin. Tak lama ia terlonjak dan segera membalik-kan badan-nya menghadap ke belakang.

“Jonghyun~a. Besok kau ada acara tidak? Bagaimana kalau besok kita pergi ke Taman Kota?”

Jonghyun hanya menatap Jihyun datar. Entahlah apa yang ada di dalam benak namja itu.

“Ayolah.” Jihyun merengek seraya mengguncang-guncang lengan Jonghyun. Namun tetap saja tidak mendapat respon apa-apa.

“Pokoknya besok kau harus datang. Aku akan menunggu mu di depan gerbang taman jam 19.00,”ucap Jihyun dengan nada memaksa.

“Aku tidak akan datang,”jawab Jonghyun datar.

“Aku tidak perduli, pokoknya aku tetap menunggu mu.”

“Terserah kau saja.” Jonghyun meraih tasnya dan segera pergi dari hadapan Jihyun. Jihyun hanya menatap datar punggung Jonghyun hingga akhirnya menghilang dari balik pintu.

<><><><><>

“Yoboseo.”

“Ne. Yoboseo.”

“Oppa, apa kau sibuk besok?”tanya seseorang dari seberang sana.

“Aniy. Ada apa?”Jonghyun balik bertanya.

“Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat.”

“Kemana?”tanya Jonghyun penasaran.

“Rahasia. Besok aku akan menjemput oppa jam 19.00. Tunggu aku.”

“Baiklah.”

<><><><><>

Jihyun melirik sesekali jam tangannya. Ia berjinjit mencari sosok yang ia tunggu sejak 1 jam yang lalu. Udara malam semakin menusuk kulitnya. Ia lupa membawa jaket. Ia hanya mengenakan t-shirt bergaris merah putih vertikal yang lengannya hanya ¾ dan rok mini berenda-renda berwarna hitam.

“Park Jihyun, kau bodoh sekali. Mengapa kau mengenakan pakaian seperti ini?” Jihyun mengutuk kebodohanya. Ia menghembuskan nafasnya di antara kedua telapak tanganya, kemudian ia menggosok-gosoknya agar telapak tanganya lebih hangat. Namun usahanya itu sia-sia saja, karena udara semakin dingin.

Tiba-tiba sesuatu jatuh di atas kepala Jihyun, ia meraih sesuatu itu. Rasanya dingin dan berair.

“Salju!”pekik Jihyun. Ia pun mendongak-kan kepalanya menghadap ke langit dan dilihatnya salju turun perlahan.

“Ottoke? Aku tidak mungkin kembali kerumah hanya untuk mengambil mantel. Bisa-bisa Jonghyun pulang karena tidak melihat ku di depan gerbang.” Jihyun bergumal sendiri, ia lupa membawa ponselnya dan sekarang ia benar-benar bingung apa yang harus dilakukan-nya.

1 jam kemudian …

Jihyun merasa sekujur tubuhnya membeku. Namun ia tetap berusah dengan keras untuk menunggu Jonghyun. Ia mulai kehilangan kesadaran. Matanya terasa berat dan tubuhnya terasa tidak bisa digerak-kan lagi. Untung saja Jihyun belum sempat jatuh ke lantai, karena tiba-tiba seseorang memegangi lengan Jihyun dengan kuat. Ia menahan tubuh Jihyun agar tidak terjatuh. Lalu segera ia menyelimuti tubuh Jihyun dengan mantel yang di pakainya dan memeluk Jihyun erat.

Hangat, itu yang dirasakan Jihyun. Beberapa menit Jihyun berada di dalam pelukan itu hingga kesadaranya mulai kembali normal. Ia masih tidak tau siapa yang sedari tadi memeluknya dan memberi kehangatan padanya. Namun Jihyun benar-benar berterima kasih kepada orang telah menolongnya itu.

Setelah benar-benar sadar, Jihyun melepaskan dirinya dari pelukan orang tersebut. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok Jonghyun-lah yang memeluknya dari tadi.

“Jonghyun,”ucap Jihyun tak percaya.

“Ya, mengapa kau bodoh sekali?! Sudah tau udara sedang dingin, mengapa kau memakai pakaian seperti itu?! Untung saja aku datang, kalau tidak kau pasti mati kedinginan,”ucap Jonghyun dengan nada marah.

“Mi .. Mianhae. Tadinya aku mau pulang untuk mengambil mantel. Tapi aku takut kau tidak menemukan ku nantinya, aku lupa membawa ponsel jadi aku tidak bisa menghubungi mu. Lalu ku putuskan untuk tetap menunggu mu.”

“Mengapa kau menunggu ku?! Aku sudah bilang, bahwa aku tidak akan datang jadi seharusnya kau jangan menunggu!”

“Kalau kau tidak datang, mengapa kau ada di sini?”tanya Jihyun polos.

“Aku …… Aku kebetulan lewat saja, dan ku lihat kau ada disini.”

“Sudahlah, aku tidak perduli yang penting kau datang. Ayo kita kedalam.” Tanpa ba bi bu lagi, Jihyun segera menarik tangan Jonghyun kedalam kerumunan dan menikmati perayaan tahunan masyarakat Seocho tersebut. Jonghyun hanya pasrah mengikuti kemana pun Jihyun pergi.

Author P.O.V end

<><><><><>

Jonghyun P.O.V

Perayaanya sangat meriah, beda dengan acara tahun lalu. Mungkin karena tahun ini banyak turis dari luar kota datang keperayaan tersebut sehingga pasar malam manjadi lebih padat. Acara yang di selenggarakan oleh panitia pun lebih banyak dari tahun sebelumnya. Dan tahun lalu aku pergi bersama Hyeri ke perayaan ini.

‘Hyeri?’ Nama itu terus berputar-putar diingatan ku. Banyak yang telah kami lewati bersama setahun terakhir dan itu sangat berkesan. Namun ia telah salah menilai itu semua. Ternyata aku sudah menyakitinya selama ini. Maafkan aku.

Tiba-tiba gadis itu berkata sesuatu dan membuat ku tersadar dari lamunan.

“Jonghyun~a, ayo kita pulang. Aku sudah lelah.”

“Ne. Aku akan mengantar mu.”

“Mwo?! Jinjayeo?” Wajahnya terlihat berbinar-binar. Sangat manis.

Aku hanya mengangguk meng-ia-kan.

<><><><><>

Setelah 20 menit kami berjalan kaki, akhirnya sampai juga didepan rumahnya.

“Mau sampai kapan menggenggam tangan ku seperti itu?”ucap ku.  Sepertinya ia tak sadar sedari tadi ia terus saja menggenggam tangan ku erat. Ia buru-buru melepaskan genggamanya setelah mendengar ucapan ku tadi

“Mianhae.”

“Sudah, masuk sana.”

“Ne.”

Ku pandangi punggungnya yang kecil. Ia berjalan menuju pintu rumahnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia membalikan badan-nya dan berlari kearah ku. Aku hanya menyernyit.

Ia semakin dekat kearah ku dan ….

CHU~

Ia mengecup singkat sudut bibir ku. Kemudian segera berlari masuk kedalam rumahnya. Mata ku terbelalak tak percaya dengan apa yang dilakukannya tadi.  Aku hanya bisa terdiam. Ku rasa aku tak sanggup untuk bertemu dengannya besok.

To Be Continue …

2 thoughts on “I’m in Love [Part 3]

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s