I’m in Love [Part 4]


Author : Shineelover14

Rating : PG-13

Lenght : Chapter

Genre : Romance, Family, Friendship

Main cast : Lee Jonghyun (CN BLUE), Park Jihyun (as readers)

Support cast : Shin Hyeri, Han Minjung (Fiksi), and other cast …

Disclaimer : FF ini murni buatan aku sendiri. Terinspirasi waktu liat Jonghyun oppa nyanyiin lagi I’m in Love—Narsha BEG. Dan FF ini juga pernah ku publis di beberapa WP.

A/N : Annyeong readers. DON’T FORGET GIVE ME A COMMENT .. GOMAWO ..

<><><><><>

 

Author P.O.V

Resah dan gelisah. Itu yang dirasakan Jonghyun saat ini. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 03.00 KST namun matanya masih saja terbuka lebar. Ia tidak dapat tertidur malam ini tatkala ketika ia memejamkan matanya, ingatan tentang kejadian semalam menyeruak begitu saja di otaknya.

Ia menyentuh sudut bibirnya. Sentuhan hangat bibir Jihyun masih membekas jelas. Seketika jantungnya berdetak cepat. Nafasnya berubah tak beraturan. Sudut bibirnya tertarik dan membentuk sebuah senyum yang penuh arti. Senyum yang mengisyaratkan bahwa ia akan terus mengingat kejadian itu.

<><><><><>

Pukul 06.10 KST

Jonghyun sudah duduk dengan manis di bangkunya. Pagi itu ia sengaja datang lebih awal dari biasanya. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Senyumnya mengembang ketika ia memandangi bangku kosong yang ada dihadapannya sekarang. Sekelibat bayang-bayang Jihyun menari-nari di pikiranya. Lagi-lagi Jonghyun tersenyum ketika ia mengingat semua kenangan yang telah diciptakan Jihyun selama ini.

Satu per satu, teman sekelas Jonghyun berdatangan dan mulai mengisi bangku-bangku kosong yang ada di kelasnya. Tatapan mata Jonghyun terus saja tertuju ke arah pintu masuk. Ia menantikan sosok ceria itu. Sosok gadis cantik yang telah membuatnya tak tidur semalam.

Author P.O.V end

<><><><><>

Jonghyun P.O.V

Ku lirik sekilas jam tangan ku. Sekarang sudah menunjukkan pukul 06.55 KST dan 5 menit lagi kelas akan dimulai. Tapi mengapa hingga sekarang sosoknya tak kunjung hadir. Ini sesuatu yang tak biasa. ‘Apa terjadi sesuatu dengan Jihyun?’ tanya ku dalam hati.

Mata ku masih tak lepas dari pintu. Dan tiba-tiba seorang wanita dewasa memasuki kelas kami, dengan setelan jas berwarna pink serta buku-buku yang bertumpuk di tangannya.

‘Miss Sarang ..’ gumam ku pelan.

“Baiklah, kelas akan dimulai. Sebelumnya, miss akan mengabsen kalian satu per satu.”

“Ne …” jawab teman-teman sekelas ku serempak.

“Kim Jung ah …”

“Hadir ..”

“Lee Jonghyun …”

“Hadir ..”

“Park Jihyun …”

“….” tak ada jawaban. Spontan seluruh siswa yang ada di kelas menoleh menatap bangku kosong milik Jihyun. Mereka heran, tak biasanya Jihyun tidak masuk sekolah tanpa keterangan sedikit pun. Bahkan Minjung yang notabene adalah sahabat dekat Jihyun, tidak tau sama sekali mengapa hari ini Jihyun tidak masuk sekolah.

Hati ku mulai gelisah. Aku takut terjadi sesuatu padanya.

<><><><><>

Sepulang sekolah, sengaja aku tidak langsung ke kedai Appa. Aku menyempatkan diri pergi ke rumah Jihyun. Rumahnya tampak lengang seperti tak berpenghuni.

Sudah 20 kali aku memencet bell rumahnya, namun tak ada jawaban dari dalam sana.

Kecewa, itu yang kurasakan. Tiba-tiba saja perasaan sepi menyelimuti hari ku. Aku benar-benar ingin melihatnya saat ini. Mendengar semua ocehannya. Melihat wajahnya yang cemberut. Melihatnya tertawa lepas. Dan ingin sekali kurasakan lagi sentuhan hangat itu.

Jonghyun P.O.V end

<><><><><>

Author P.O.V

Hari demi hari telah dilewati Jonghyun tanpa kehadiran Jihyun. Rindu telah melanda hati Jonghyun saat ini. Sudah 5 hari Jihyun tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Dan selama 5 hari tersebut Jonghyun selalu menyempatkan diri untuk lewat di depan rumah Jihyun. Menantikan ke hadiran gadis yang telah membuatnya gelisan beberapa hari terakhir. Dan tak jarang, Jonghyun berdiri berjam-jam di depan pintu gerbang rumah Jihyun tanpa lelah untuk menunggui kehadirannya.

‘Kembalilah Park Jihyun. Aku benar-benar sangat merindukan mu’ gumam Jonghyun dalam hati. Sepanjang hari, hanya nama Jihyun yang ada dalam pikirannya. Membuatnya benar-benar takut akan kehilangan sosok gadis cantik yang tanpa sadar sudah lama ia nantikan.

Jatuh cinta. Satu kata yang tepat untuk melukiskan perasaan Jonghyun saat ini. Awalnya ia tak yakin dengan apa yang telah dirasakannya selama ini ketika berhadapan dengan Jihyun. Namun rasa itu mulai menjelas ketika Jonghyun mulai kehilangan sosok Jihyun dari sisinya.

<><><><><>

“Jonghyun~a. Hyeri mencari mu,”panggil Tuan. Lee.

Jonghyun yang sedang mengelap mangkuk, akhirnya dengan terpaksa harus menghentikan kegiatannya. Ia berjalan menghampiri Hyeri yang sedang menunggunya di kursi pojok dekat jendela.

“Ada apa?” tanya Jonghyun dengan nada yang sebiasa mungkin. Ia masih canggung dengan kehadiran Hyeri akibat kejadian beberapa waktu yang lalu.

Flashback …

Hyeri menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Jonghyun. Ia menyusul ke dalam rumah itu dan menghampiri namja yang dimaksud. Setelah berbasa-basi dan berpamitan dengan orang tua Jonghyun, Hyeri pun melaju membawa mobilnya menembus dinginnya malam.

“Kita mau kemana?” tanya Jonghyun membuka pembicaraan.

“Aku ingin mengajak oppa ke atas bukit, tempat pertama yang kita kunjungi ketika musim dingin ditahun pertama ku di sini.”

Jonghyun hanya terdiam dan melemparkan senyum terpaksa untuk Hyeri. Bukan karena ia tak senang pergi ke tempat itu bersama Hyeri, namun pikirannya sekarang tengah melayang memikirkan Jihyun. Ia teringat bahwa Jihyun sedang menunggunya malam ini di depan gerbang taman kota. Dan sekarang ia malah pergi bersama Hyeri. Awalnya ia iseng saja menerima tawaran untuk pergi bersama Hyeri dan tak menyangka bayangan Jihyun akan terus bernari-nari di benaknya selama dalam perjalanan.

Sesampainya di atas bukit …

Hyeri merangkul tangan Jonghyun dalam dekapannya. Ia menyandarkan kepalanya di pundak tegap milik Jonghyun. Menikmati pemandangan kota Seocho pada malam hari adalah sesuatu yang benar-benar sangat romantis. Bagaimana tidak, di hadapan dua insan itu terhampar jutaan lampu yang berkelap-kelip menerangi kota tersebut. Keindahan yang dipamerkan tak kalah dengan keindahan taburan bintang yang menaungi mereka.

Hyeri terhanyut akan suasana itu, namun tidak dengan Jonghyun. Pikirannya membahana menerawang apa yang sedang dilakukan Jihyun saat ini. Jonghyun terus saja mengirimkan pesan singkat pada Jihyun untuk tidak menunggunya. Namun sayang, pesan singkat itu tak mendapat respon sama sekali dari gadis tersebut. Dan itu membuat Jonghyun semakin terhanyut akan pikirannya sendiri.

Hyeri yang menyadari sikap Jonghyun yang sedari tadi terlihat gelisah, akhirnya memeluk namja itu erat. Spontan Jonghyun terkejut dengan sikap frontal Hyeri. Ada sesuatu yang berbeda. Hyeri tak lagi menemukan debaran itu. Hyeri tak lagi menemukan deru nafas berat Jonghyun ketika berada dalam posisi seperti ini.

“Oppa. Saranghae ..” ucap Hyeri lirih.

“…..” Jonghyun tak dapat berkata apa-apa. Otaknya tak dapat berpikir dengan realistis. Yang ada dibenaknya hanyalah Jihyun, Jihyun, dan Jihyun.

“Oppa, katakanlah bahwa oppa juga mencintai ku.”

Kini Hyeri mengendurkan pelukannya dan menatap Jonghyun dalam. Hyeri terkejut ketika ia tak melihat lagi sorot mata penuh kasih sayang dari Jonghyun.

“Oppa, ku mohon katakanlah,” ucap Hyeri dengan nada sedikit memaksa.

“Mi .. Mianhae Hyeri~a. Tapi aku tidak mencintai mu.”

“Andwe! Itu tidak mungkin oppa! Aku yakin sekali, oppa mencintai ku.”

“Oppa tidak boleh berkata seperti itu!”

“Di mana debaran itu oppa ketika aku memeluk mu dengan erat?! Di mana deru nafas berat mu oppa, ketika aku mulai membenamkan kepala ku semakin dalam di pelukan mu?!”

“Aku ingin semua itu kembali.” Hyeri mulai menangis. Kelopat matanya tak mampu lagi membendung cairan bening miliknya.

Jonghyun tertegun. Ia tidak tahan melihat seseorang menangis. Jonghyun hanya mampu tertunduk dihadapan Hyeri. Gadis itu mengguncang tubuh Jonghyun kuat. Berusaha meminta penjelasan dari semua sikap yang diterimanya.

“Aku hanya menganggap mu sebagai dongsaeng ku saja. Tidak lebih. Bahkan jauh sebelum kita mulai dekat dan bersahabat.”

“Weoyeo oppa?! Weo?!”

“Apa karena gadis itu?! Gadis yang bernama park Jihyun itu kah?”

“…..” Diam. Jonghyun tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia sendiri pun bingung dengan perasaannya saat ini.

“Mianhae Hyeri~a. Jeongmal mianhae.”

Jonghyun meninggalkan Hyeri yang masih terisak. Kejam memang. Tapi ia tak mau mengambil resiko salah paham lagi. Sudah terlalu banyak salah paham diantara hubungan persahabatan mereka. Hyeri terlalu berharap lebih dari hubungan mereka yang sekarang dan Jonghyun tak mau berlama-lama menyakiti perasaan Hyeri semakin dalam.

Flashback end …

“Aku datang ke sini untuk berpamitan oppa. Mungkin aku tidak akan pernah kembali lagi ke sini.”

“Terlalu banyak memory yang oppa ciptakan. Aku takut semakin sering aku kemari, memory itu akan terus melukai perasaan ku.”

“Mianhae, salam ini aku telah salah mengartikan semua perhatian oppa. Jeongmal mianhae oppa.”

“Gwenchanayeo … Aku senang bisa berteman dengan mu Hyeri~a. Kita teman kan?” ucap Jonghyun seraya menyodorkan kelingkingnya pada Hyeri dan disambut dengan senyum sumringah olehnya.

<><><><><>

Sudah hari ke 7, dan Jihyun belum juga menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Ia lenyap bagai ditelan bumi. Lenyap tanpa jejak sedikit pun dan membuat namja yang mendapat julukan The Ice man itu terlihat gusar.

Pandangan namja itu tertuju pada bangku kosong yang ada di hadapannya. Sorot sendu matanya kemudian beralih menghadap ke jendela. Untuk beberapa menit ia melupakan semua kegaduhan yang tercipta di dalam kelasnya. Yang ada di benaknya adalah Jihyun dan Jihyun.

Tiba-tiba seseorang menyentuh tangannya dan membuat ia kembali lagi ke alam sadarnya. Sorot matanya yang sendu kini membesar. Antara percaya atau tidak, gadis yang dinanti-nantinya kini sudah berada di hadapannya seraya tersenyum dengan manis.

“Annyeong ..” sapa Jihyun dengan raut wajah polos.

Jonghyun langsung menepis tangan Jihyun yang masih menyentuh tangannya. Ia langsung berjalan keluar kelas tanpa memperdulikan Jihyun yang memanggil-manggil namanya.

Kesal, kecewa, sedih, marah, gelisah. Semua perasaan itu bercampur aduk di dalam hatinya. Ia kesal karena Jihyun datang dan pergi dengan seenaknya ke dalam kehidupannya. Kecewa atas perlakuan Jihyun kepadanya yang seolah-olah tak mau perduli dengan perasaannya yang khawatir akan diri gadis itu. Sedih, karena sudah seminggu ia tak melihat wajah gadis yang sangat dirindukannya. Marah karena Jihyun hanya mengucapkan kata ‘Annyeong’ dengan ekspresi yang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Gelisah karena setiap melihat wajah Jihyun, kenangan malam itu tiba-tiba menyeruak kepermukaan dan membuat Jonghyun tak dapat berbuat apa-apa. Lidahnya terasa sangat kelu jika sudah berhadapan dengan Jihyun.

<><><><><>

Sepi. Seluas mata memandang hanyalah hamparan salju putih yang menyelimuti seluruh area sekolah. Udara dingin menghembus menerpa wajah putih bersih milik Jonghyun. Ia duduk terdiam di taman belakang. Ia masih tak menyangka bahwa Jihyun telah kembali. Jantungnya berdetak sangat cepat. Nafasnya menderu kasar.

“Benarkah itu dia? Aku tidak sedang bermimpikan?” gumam Jonghyun pelan seraya mencengkram erat bagian bawah kerah seragamnya.

Tiba-tiba suara itu kembali membuat Jonghyun mematung. Wajahnya berubah datar seketika.

“Jonghyun~a. Mengapa kau pergi begitu saja? Kau tidak merindukan ku,” ucap Jihyun dengan nada menggoda.

Yang diajak bicara hanya menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan keberadaan Jihyun. Hening. Tak satu pun dari mereka berbicara lagi. Jihyun tahu betul bahwa dirinya bersalah karena selama seminggu ini ia menghilang tanpa kabar. Tapi ia tidak mengerti dengan sikap Jonghyun yang seolah-olah marah kepadanya.

“Mianhae …” Hanya suara lirih Jihyun yang terdengar.

“Sebenarnya setelah festival itu, tiba-tiba halmonie mengalami serangan jantung. Aku benar-benar sangat panik. Aku harus cepat-cepat membawa halmonie ke Seoul untuk mendapatkan pengobatan yang lebih intensif. Mianhae Jonghyun~a aku tidak memberi kabar. Bahkan aku baru menyentuh ponsel ku tadi pagi,” ucap Jihyun dengan penuh penyesalan.

Namun yang diajak bicara tidak merespon apa-apa. Jonghyun bangkit dari posisinya lalu berjalan meninggalkan Jihyun yang masih terdiam.

Jihyun tak mengerti dengan jalan pikiran Jonghyun. Ia menghela nafasnya dan menimbulkan kepulan asap dari mulutnya. Cuaca benar-benar sangat dingin akibat salju yang mulai turun beberapa hati terakhir.

Author P.O.V end

<><><><><>

Jihyun P.O.V

Ku hempaskan tubuhku di atas kasur yang sudah seminggu ini kutinggali. Penat di tubuh ku masih terasa karena selama di Rumah Sakit, aku hanya tidur di sofa dengan posisi meringkuk seperti udang rebus.

Keadaan halmonie mulai membaik, namun dokter menyarankan agar halmonie tetap tinggal di Seoul agar pengobatan halmonie berjalan dengan lancar. Sengaja aku tidak memberi tahu Appa dan Eomma perihal sakit yang diderita halmonie. Jika mereka kembali, mereka akan memarahi ku habis-habisan karena selama ini aku telah berbohong. Berbohong kalau selama ini aku tidak melanjutkan SMA ku di Seoul, melainkan di Seocho.

Tiba-tiba bayangan Jonghyun bernari-nari di benak ku. Entah keberanian dari mana yang membuat ku berani mengecup sudut bibirnya malam itu. Jujur aku malu sekali ketika bertemu dengannya tadi. Aku hampir kehabisan kata-kata saat ku langkahkan kaki ku masuk ke kelas dan kulihat sosoknya sedang melamun menatap ke jendela.

Spontan teman-teman yang melihat kehadiran ku langsung gaduh terutama Minjung. Ia memeluk ku erat. Aku sangat merindukannya. Merindukan ejekannya, merindukan kejahilannya, semua yang ada pada dirinya.

Minjung berbisik pada ku. “Semingguan ini Jonghyun terlihat gelisah. Pasti karena kau.”

“Jinja?!” tanya ku tak percaya.

“Ne,” ucap Minjung mantap disertai anggukan.

“Ayo cepat sapa dia.”

Perlahan aku berjalan mendekatinya. Aku bingung harus memulai dari mana.

“Jonghyun~a …” panggil ku. Namun ia tak merespon apa-apa. Tatapannya fokus keluar jendela. kesentuh tangannya perlahan agar ia tersadar dari lamunannya.

“Annyeong,” sapa ku.

Matanya terbuka lebar beberapa saat dan setelah itu ia langsung menepis tangan ku lalu pergi keluar kelas.

‘Apa ia benar-benar marah pada ku?’

Ponsel ku bergetas dan berhasil menyadarkan ku dari alam bawah sadar. Sebuah pesan masuk. Ku buka pesan tersebut dan ternyata itu pesan dari Jonghyun.

From : Lee Jonghyun

Aku tunggu kau sekarang di taman.

Dengarkan baik-baik dan aku tak akan mengulangnya.

Dahi ku mengkerut setelah membaca pesan singkat dari Jonghyun. ‘Dengarkan baik-baik? Apa maksudnya?’

Segera ku raih mantel dan syal yang tergantung rapi di punggung kursi. Lalu segera kulangkahkan kaki ku menyusul Jonghyun ketempat yang dimaksudnya.

Udara semakin dingin. Kurapatkan kedua tanganku agar saling berdekapan. Sementara itu mata ku terus mencari-cari sosok Jonghyun. Aku sudah sampai di taman yang dimaksudkan Jonghyun, namun sosoknya tak jua terlihat.

‘Mungkin ia terlambat.’ Gumam ku dalam hati.

Heran. Mengapa taman ini sepi sekali. Lampu tamannya pun tidak menyala. Aku semakin penasaran, karena dari kejauhan sesuatu yang berkilauan mengundangku ke sana. Aku berjalan semakin mendekat ke kilawan itu. Ternyata itu sebuah lilin yang diletakkan di dalam sebuah gelas kecil. ‘Lilinnya banyak sekali.’ Gumam ku.

Tanpa aku sadari ternyata lilin-lilin tersebut membuat sebuah bentuk hati. Aku pun kembali mengedarkan pandangan ku keseluruh sudut taman. Belum ada tanda-tanda kedatangan Jonghyun.

Aku pun memilih untuk duduk di sebuah bangku yang berhadapan tepat di depan lilin tersebut. Tiba-tiba lampu taman itu menyala terang. Dan ada sesuatu yang menarik perhatian ku. Bukan karena nyala lampu yang indah, tapi ku lihat sosok pria dengan mantel berwarna abu-abu serta syal yang berwarna senada tengah duduk manis bersama gitarnya.

“Jonghyun,” gumam ku pelan.

Ia mulai memetik senar gitarnya satu per satu. Menciptakan sebuah nada yang sangat indah dan melodis. Aku tak pernah menyangka bahwa namja pendiam sepertinya bisa bermain gitar.

Ia melantunkan bait demi bait sebuah lagu cinta dengan suaranya yang lembut.

Jasireun jeongbalseot daereoteon
Sejujurnya dari pertama kali kita bertemu

Geudae chuwahaedageo malragiga naegaen
Hati ku berkata bahwa aku menyukai mu

Jeon eodweoweotdeon geojyeo
Ini bukanlah hal yang mudah untuk ku

Meonjyeok yeolleyokaji animyeon
Jika aku tak mendekati mu pertama kali

Geudael nopsigeulgeobwa
Aku takut akan kehilangan diri mu …

Geuchareulseulgeo deobeogeo
Aku menulis sebuah surat cinta dan menyediakan hadiah kecil untuk mu …

Jiwugaebael beogaejyeo
Jika cinta ku semakin dalam

Gipeojimyeon sangjeopeuni georaneun saengakhae
Itu hanya akan menyakitiku lagi

Teutyeoumi ipseongeon sasirijima
Benar jika jiwa ku dipenuhi dengan air mata

Ganjeoran mameulreo gideohago baraetdeon
Aku selalu berdoa dengan segenap hati ku

Sarangmi geudaerageomyeon mideoyeo
Orang yang ku harapkan untuk ku, aku percaya itu adalah kau …

Ooh I’m in love, Ooh I’ll fall in love
Ooh Aku jatuh cinta, Ooh Aku jatuh cinta

Deureopji anayeo geudaewa hamkkeramyeon
Tak masalah, aku tak bisa menyembunyikan hati ku

Saesangeun neomu areumdapjyeo
Kamu sangat cantik

I thought I’ll never gonna fall in love
Ku pikir aku tak akan pernah jatuh cinta lagi

But I’m in love, cuz I wanna love you baby
Tetapi aku jatuh cinta, karena aku menginginkan mu sayang

Sasireuncheon beonsaetdae beoteonaemeomseo
Dengan segenap ke jujuran, ketika pertama kali aku bertemu dengan mu

Ureobeoteon geudaeparyeo cheoreom
Ada sesuatu di dalam hati ku, kau menabrak seperti sebuah ombak yang kuat

Milreodeureo otdeonhareul jeonghae geudaelmal deoneollyeo
Kaulah sesuatu itu, sesuatu yang ku pikirkan sepanjang hari

I can be your good lover, wanna be your AP lover
Aku akan menjadi pecinta yang baik, Ingin menjadi 4 lembar daun semanggi

Saesanghae seokhajanghae beokhangyeojagam
Aku ingin membuat mu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia

Dwangeomeon gatalyeo geudae galbirimi
Kau harus percaya pada ku

Make u never gonna leave me, eulsinhajinaneunayo
Membuat mu tidak akan ernah meninggalkan ku, Aku tidak akan berjanji

Geudae midapgaeyeo
Aku akan menunjukkannya pada mu …

Ahh I’m in love you’re my baby, Ahh I’ll fall in love
Ahh Aku jatuh cinta kepada mu sayang, Aku jatuh cinta

Deureopjianayo geudaewa hamkkeramyeon
Tak masalah, aku tak bisa menyembunyikan hati ku

Saesangeun neomu areumdapjyeo
Kamu sangat cantik

Ooh I’m in love, I’m so deep in love
Ooh Aku jatuh cinta, Aku semakin tenggelam dalam cinta

Ooh I’ll fall in love, deureopjianayo geudaewa hamkkeramyeon
Ooh Aku jatuh cinta, Tak masalah aku tak bisa menyembunyikan perasaan ku

Saesangeun neomu areumdapjyeo
Kau sangat cantik

Geudaeneun neomu areumdapjy
Benar-benar sangat cantik

Aku tertegun setelah mendengar bait demi bait yang diutarakannya tadi. Benarkah itu, benarkan lagu itu adalah semua tentang isi hatinya saat ini? Aku masih tak percaya.

Jonghyun meletakkan gitarnya lalu berjalan mendekat kearah ku. Jantung ku semakin berdetak tak karuan. Sorot matanya terlihat berbeda. Penuh cinta. Itu yang ku rasa.

Ia menghampiri ku lalu berlutut. Mengenggam tangan ku erat. Mata kami saling bertemu. Aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan. Terlalu banyak kejutan yang dibuatnya untuk ku.

“Saranghae …” Satu kata yang membuat ku seolah ingin berhenti bernafas. Benarkah yang dikatakannya tadi? Aku tidak salah dengar kan?

Ia mengecup punggung tangan ku lembut. Hangat. Bibirnya yang menyentuh permukaan kulit ku seakan mendapat sensasi yang luar biasa yang membuat tubuh ku mengeras seperti batu.

“Jonghyun~a …” Aku hanya mampu memanggil namanya. Lalu ia pun tersenyum dan menarik tubuhku kedalam pelukannya yang hangat.

“Saranghae Park Jihyun,” bisiknya tepat di telinga ku.

“Nado.” Ia pun semakin mengeratka pelukannya. Kurasa ini adalah kado terindah yang diberikan Tuhan dihari ulang tahun ku.

Jihyun P.O.V end

<><><><><>

Author P.O.V

Di belahan bumi lainya …

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat mewah dan glamor berjalan masuk kesebuah restoran bergaya itali. Pandangannya menerawang mencari sosok yang sudah menunggunya sedari tadi.

Wanita paruh baya itu pun langsung berjalan menuju meja yang telah diduduki oleh seorang wanita yang umurnya pun kurang lebih sama dengan wanita paruh baya tadi.

“Annyeonghaseo Ny. Min. Bagaimana kabar mu?” tanya wanita paruh baya itu.

“Annyeonghaseo. Kabar ku baik saja,”jawab wanita yang dipanggil Ny. Min.

“Sudah lama menunggu?”

“Tidak. Aku juga baru sampai. Bagaimana kabar Jihyun?”

“Dia baik-baik saja dan sekarang ia sedang berada di Seoul,” jawab wanita paruh baya itu yang notabene adalah Eommanya Jihyun.

“Benarkah Ny. Kim? Kalau begitu, aku juga akan menyuruh anak ku untuk menyusul Jihyun ke Seoul. Jika mereka saling berdekatan, maka akan mudah untuk menjodohkan mereka,”ucap Ny. Min yang disambut senyum sumringah oleh Ny. Kim.

 

To Be Continue …

 

10 thoughts on “I’m in Love [Part 4]

  1. aku sih yakinnya bakal dijodohin sama jonghyun … … … … krik… sotoy abiiiiiss~ ditunggu lanjutannya ya~ keep up the good work ^^ thumbs up, my fav ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s