Playboy Vs Playgirl [chapter 8]

chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

 

Author: mmmpeb

Genre: romance, friendship, family

Length: chaptered

Rating: PG16

Cast:

  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Krystal / Jung Soojung F(X)
Other cast:
  • Key / Kim Kibum SHINee
  • Kang Minyeon [OCs]

Disclaimer: this’ my own plot *walaupun keliatannya ceritanya basi* keluar dari otak seorang febri

Note: Pertama-tama, maaf karakter Krystal aku buat jutek. soalnya tampangnya mendukung #plak. Yang kedua, gara-gara baca clandestine (cmiiw klo judulnya salah) di ffindo, aku jadi suka minhyuk-krystal, yah saya shipper mereka. Tapi soal jutek2an aku ga ikut2an dr ff itu, seperti yang aku bilang tadi, tampangnya mendukung (?). Dan yang ketiga dan terakhir, SELAMAT MEMBACA~ jangan lupa komen ^^

***************************************************

 

Aigoo, punggungku rasanya remuk! Kukira dia hanya minta kutemani belanja. Aku bahkan akan sangat rela menunggu dia berjam-jam di salon. Tapi nyatanya bukan itu yang dia minta. Dia hanya memintaku menggendongnya hingga apartemen. Tiga kilometer itu bukan jarak yang pendek. Aish! Serasa berjalan dari Seoul ke Roma.

Begitu sampai di depan apartemen kami masing-masing, dia hanya tertawa melihat cara jalanku. Dia bahkan menawarkan diri untuk membantuku berjalan. Kau kira aku sudah tua?

“Makanya ingat pacar!”

KRRRK!

“ARRRGH! APPO!”

“Tahan kalau kau mau sembuh!”

Noona berjalan lagi.

KRRK!

“EOMMA!!!!!!!”

Setahuku usia kandungan noona baru menginjak satu bulan lebih, kenapa noona terasa berat sekali? Seperti dilindas truk begitu noona menginjak punggungku.

“Ini kan gar- ARRRRGH.. Gara-gara noona aku jadi- APPO.. aku jadi lupa sama Krystal!”

“Aku kan tidak minta kau perhatikan!”

Lagi-lagi noona memelintir tanganku dengan kuat. Seenaknya dia ngomong begitu setelah apa yang aku lakukan demi memenuhi keinginannya. Tidak tahu diri.

“Kau belajar memijat dari mana, sih? Badanku jadi tambah sakit-sakit! Kau tahu teknik memijat tidak sih?”

KRRRRK!

“Improvisasi!”

“PABO NOONA! AKU MASIH MAU HIDUP- ARRRRRGH!”

KRRRRK!

 

*****

Ramyun yang tadi kupesan sudah habis. Jus melonpun baru saja kusedot habis. Ahh, kenyang! Aku tidak akan merasa kelaparan kalau saja noona membangunkanku pagi-pagi dan tidak menghabiskan persediaan makanan yang sudah Key masak kemarin. Mandi saja tidak sempat. Ada jam kuliah pagi dan noona malah seenaknya mematikan jam alarm yang biasa kusetel jam tujuh.

“Minhyuk!!!” seseorang memanggilku dari kejauhan. Key berlari menghampiriku.

“Ada apa?”

Key hanya diam sejenak, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

“Minyeon noona…”

“Kenapa dengan Minyeon noona?”

“Barusan dia menelponku, ayahmu sedang diperjalanan menuju Seoul.”

Gawat! Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak begini? Appa tidak tahu kan kalau noona hamil, kecuali kalau ada yang memberitahunya.

SIAL!!!! Pasti Dokter Song yang memberitahunya! Harusnya aku sumpal mulutnya biar dia mau tutup mulut. Bodohnya aku malah membawa noona ke rumah sakit itu. Dokter Song itu kan salah satu sahabat appa. Bodoh!

Tanpa membuang waktu aku bangkit berdiri. Aigoo, badanku masih terasa sakit. Efek dipijat oleh seorang pemijat amatiran. Sepertinya aku harus ke dokter, mungkin saja ada yang salah urat mengingat cara noona memijatku secara brutal kemarin.

“Kenapa jalan membungkuk begitu? Jalan yang cepat, keong!”

“Badanku sakit, Kim Kibum!”

“Tsk! Kau menyusahkan saja, haraboji! Mana tongkatmu, pak tua? Sini aku bantu!”

Ya Tuhan, apa salahku sehingga Kau memberiku seorang sahabat macam si kunci ini?

 

 

 

“AAAAA OTTOKHAE??”

Noona kembali berteriak panik. Bisa dipastikan appa akan kemari besok pagi, mengingat perjalanan London – Seoul yang memakan waktu yang tidak sebentar, atau mungkin kami yang disuruh ke rumah. Lagi pula ini sudah malam.

“Kau sih, kenapa membawaku ke tempat dr. Song? Dia itu kan sahabat appa!” kata noona geram.

“Ya, sudah bagus kutolong! Mana tahu kalau kau sedang hamil. Yang aku pikirkan saat itu adalah noona segera baik-baik saja.”

Noona menghela nafanya panjang. “Mianhae, Minhyuk!”

Kutarik tangan noona yang sedang berjalan mondar-mandir di depanku dan kutuntun duduk di sampingku. Sungguh, melihatnya berjalan didepanku justru makin membuatku gelisah.

“Kau ini bikin aku pusing! Duduk dan tenanglah! Cepat atau lambat appa pasti akan mengetahui kalau kau hamil! Aish Lee-“

“Stop, Minhyuk! Tolong jangan sebut nama itu, please!”

 

*****

Kami bertiga –aku, Key, dan noona- sudah berada di depan pintu rumahku. Rumah yang sudah lama tidak kusinggahi. Rumah yang kurindukan. Hanya saja tidak akan ada gunanya aku dan noona tinggal dirumah itu. Hanya rasa kesepian dan kebencian yang akan terus menyelimuti kami berdua.

“Maaf mencari siapa?” tanya seorang pelayan perempuan pada kami. Ya! Dia tidak mengenal kami bertiga?

“Kami mencari Jinhyuk ahjussi!” jawab Key.

“Maaf, Tuan Kang tidak bisa diganggu,” katanya dengan wajah sedikit jutek.

“Ya! Wajahmu itu tolong yang manis sedikit! Kami ini tamu, pelayan baru!” seruku sedikit emosi. Minyeon noona kemudian menahanku. Aish! Kenapa nenek tua itu bisa menerima pelayan jutek begini? Apa kata tamu nanti.

“Kami mencari ap-“

“Maaf, sudah kubilang Tuan Kang sedang sibuk. Telinga anda masih berfungsi, kan?” katanya sambil berkacak pinggang.

Kini giliran aku yang menahan noona. Minyeon noona paling benci kalau sedang bicara tiba-tiba dipotong. Dan noona juga benci disindir secara halus.

Tak lama seseorang muncul dari dalam. Perawakan perempuan tua, tapi penampilannya masih membuatnya tetap beribawa. Ah, jeongmal, aku rindu sekali dengannya.

“Tuan muda Kang, nona Minyeon, Kibummie, selamat datang kembali!”

“Omo, nenek tua!” seruku dan noona berhambur memeluk perempuan tua itu. “Bogoshipoyo!”

“Nado! Rumah sangat sepi semenjak kepergian tuan muda dan nona!” katanya dengan mata yang berkaca-kaca. “Shim Joona, cepat minta maaf pada majikan kita jika kau tidak ingin kupecat.”

Kupandangi pelayan jutek tadi. Dia terkejut. Haha, rasakan!

“J…jeosonghamnida!” katanya terbata-bata sembari menunduk pada kami.

“Dia pelayan baru, ya?” tanyaku pada nenek tua.

Ah ya, aku dan noona biasa memanggilnya dengan sebutan nenek tua. Dia benar-benar sangat disiplin pada kami hingga kami jadi sebal padanya. Tidak sangka lama tidak bertemu dengannya justru membuatku rindu. Ah, aku rindu bermain hide and seek dengannya, lebih tepatnya menghindar darinya, kekeke!

“Jeosonghamnida, tuan muda! Dia baru bekerja di sini satu tahun yang lalu.”

“Pantas!” cibirku. Sekarang dia hanya bisa menunduk. Malu mungkin.

“Oh ya, halmonie, Jinhyuk ahjussi ada di dalam, kan?”

“Tentu saja, beliau memang sedang menunggu.”

 

 

 

Pasti sakit. Ditampar keras bolak-balik pasti terasa perih. Aku yang melihatnya saja sudah ngeri, apalagi mengingat saat appa melayangkan tamparannya. Kasihan sekali orang ini.

“Masih perih, ya?” pertanyaan bodoh apalagi ini, Minhyuk?

“Iyalah, pabo! Menyindir, huh? Aduh!” tangannya kembali menempelkan serbet makan yang berisi es batu ke pipi putihnya secara bergantian.

“Makanya kubilang tidak usah ikut, kau maunya tetap ikut. Jadi kau yang kena sasaran, kan!”

“Kau pacaran sama Krystal saja sana. Aku tidak butuh ceramahmu, Minhyuk pabo!”

Key kembali mengerang kesakitan. Pipinya masih merah, padahal sudah dikompres satu jam.

“Chagi, kita pacaran saja, yuk!” aku bangkit berdiri dan menggamit tangan Krystal. Dia hanya bingung memandangku dan Key secara bergantian. Ah, dia memang belum tau apa-apa.

 

 

Author pov

 

Minhyuk menggandeng tangan Krystal, menuntunnya menuju taman terdekat. Selama diperjalanan –memakan waktu sekitar 10 menit-, Minhyuk menceritakan kronologi dibalik pipi merah Key.

“Hahaha!”

“Tuh kan lucu. Harusnya suasana di sana jadi tegang. Tapi melihat appa menampar kedua pipi Key membuatku sedikit bergidik ngeri dan malah terkesan sangat lucu.”

Mereka berdua masih asik saja tertawa tanpa menghiraukan orang-orang  di sekitarnya. Merekapun duduk begitu menemukan bangku taman yang kosong yang kebetulan berada di bawah pohon yang rindang.

“Lanjutkan ceritanya!” pinta Krystal.

“Iya. Lalu pas tahu kalau bukan Key si ayah jabang bayi di kandungan noona, appa langsung minta maaf pada Key. Ini pertama kalinya aku melihat appa merasa dipermalukan begini.”

“Dan kau tertawa saat itu?”

“Mau bagaimana lagi, habis lucunya minta ampun!”

“Tsk! Harusnya kau yang kena tampar ayahmu. Dasar anak durhaka!”

Minhyuk sedikit mengerucutkan bibirnya. Agak tercengang mendengar pacarnya ingin dia yang kena amukan sang ayah.

“Bukannya membelaku, ck!”

“Kalau orang bodoh sepertimu kubela, berarti aku juga bodoh.”

Minhyuk tiba-tiba tersenyum. Merapatkan posisi duduknya pada Krystal. “Biar bodoh begini, kau tetap cinta, kan?” goda Minyuk seraya menyenggolkan bahunya ke bahu Krystal.

“Ya, ya, aku memang bodoh karena menyukai orang bodoh yang bernama Kang Minhyuk ini.”

Bukannya marah, senyuman Minhyuk malah makin melebar. Baginya, itu adalah pujian walaupun sedikit pedas.

“Minhyuk, malu ah!” Krystal berusaha melepas tangan Minhyuk yang ternyata sudah memeluk pinggangnya.

“Malu kenapa? Di sini sepi!” Minhyuk makin mengeratkan pelukannya. Menyenderkan kepalanya di bahu Krystal seperti anak kecil yang tidak ingin kehilangan ibunya. Krystal hanya diam. Dibalik diamnya, dia senang Minhyuk bermanja-manja padanya.

“Chagi, kau mau anak berapa?” tanya Minhyuk manja secara tiba-tiba. Pertanyaannya membuat Krystal tertawa terbahak-bahak. Minhyuk bangkit menegakkan tubuhnya dan memandang pacarnya yang sedang tertawa. “Kau menertawakanku, ya?”

“Tidak! Aku menertawakan pertanyaan leluconmu!”

“Memang kenapa kalau aku tanya begitu?”

“Yakin sekali kita akan menikah.”

“Kau tidak mau menikah denganku?” rajuk Minhyuk.

“Kalau otakmu sudah beres, baru aku mau menikah denganmu. Aku takut anak kita nanti sama bodohnya denganmu.”

Minhyuk makin mengerucutkan bibirnya. Tapi biar Minhyuk terlihat bodoh di mata Krystal, dia tetap menganggap Minhyuk adalah laki-laki satu-satunya yang bisa terus membuat jantungnya berdebar di kala Minhyuk sedang ada di dekatnya. Kata ‘bodoh’ adalah kata yang tepat bagi Krystal untuk menutupi kegugupannya.

Minhyuk –dengan seringaiannya- tiba-tiba mendorong tubuh Krystal hingga tersentak pada senderan bangku.

“Ini hukuman karena sudah mengataiku bodoh!”

Minhyuk menahan kedua tangan Krystal dan mencium bibirnya bertubi-tubi. Hanya kecupan-kecupan manis yang berlangsung lama sampai sebuah wedges mendarat tepat di atas kepala Minhyuk.

“Jangan berbuat mesum di sini, anak nakal!” seru seorang ibu-ibu yang sejak tadi menutupi mata anaknya dari kejauhan.

 

*****

 

Minhyuk pov

 

Insiden wedges kemarin sukses membuat bagian kulit kepalaku tumbuh ke atas, istilah kasarnya b.e.n.j.o.l. Yah bayangkan saja kepalamu seperti tertimpa beban timbangan satu kilogram –oke, ini berlebihan. Untung saja kepalaku tidak bocor. Aku tahu Tuhan masih sangat sayang padaku.

“Masih benjol, ya?”

“Kau pikir aku pakai topi gunanya buat apa?”

Biasanya aku tidak suka mengenakan topi ke kampus, kalau pakai topipun pasti di dalam kelas akan kubuka. Tapi pengecualian untuk hari ini.

Ada apa denganku akhir-akhir ini. Minggu sial!

“Ini baru namanya sahabat!”

Key tiba-tiba merangkulku. Senyumannya penuh arti. Tapi aku tidak tahu apa maksudnya. Apa hubungannya benjol dengan sahabat?

“Maksudmu?”

“Yang namanya sahabat. Dikala kita sakit, sang sahabat juga akan merasa sakit.”

“Oh, jadi maksudmu kalau pipimu sakit, pipiku juga harus sakit?”

“Harusnya sih begitu! Tapi yah Tuhan berkehendak lain. Yang sakit kan tidak harus pipimu. Yang penting kau juga sakit, kekeke!”

Bisa-bisanya dia terkekeh. Dia pasti kesal karena kutertawakan saat appa menamparnya. Haha, korban salah tangkap. Kalau aku jadi appa, mungkin aku juga akan menamparnya. Bukan karena dia telah menghamili anakku, tapi karena wajahnya yang ingin sekali aku tampar. HAHAHA. Tidak lucu, ah!

“Heh, orang gila! Aku tahu tersenyum itu ibadah, tapi ada saatnya!” katanya seraya menoyor kepalaku. Dia tidak ingat kepalaku masih sakit?

“Ini kan mulutku, suka-suka pemiliknya,” kataku balik menoyor pipinya. Dia sedikit mengerang kesakitan. Pipinya sudah tidak merah-merah, tapi sepertinya masih terasa sakit.

Memang enak!

“Cukup! Aku ke sini cuma mau memberitahu kalau aku mau menengok Minyeon noona. Kau mau ikut?”

Aku menggeleng. “Ani! aku titip salam saja untuk noona.”

“Dongsaeng yang payah! Kasian dia mendapat adik durhaka sepertimu.”

“Pipimu mau kucubit, huh? Lagi pula untuk apa kau ke rumahku? Kemarin kau baru saja ke sana? Kau seperti suaminya saja, khawatir pada istri yang sedang hamil muda.”

Raut wajah Key tiba-tiba berubah. Aku merasakan hawa serius.

“Menurutmu aku cocok tidak jadi suami noona?”

Pertanyaannya sungguh lucu. Rasanya ingin tertawa tapi melihat wajah serius Key aku tidak jadi tertawa. Bisa-bisa aku diamuk olehnya.

“Abaikan saja!” katanya tiba-tiba seraya menggeleng cepat, “Jangan pikirkan ucapanku barusan.”

Bagaimana tidak kepikiran, dia bicara begitu serius. Kau kira aku tidak tahu kalau kau ingin sekali menjadi pendamping noona? Cara bicaramu seolah mengatakan kalau kau sangat siap menjadi ayah dari jabang bayi yang bukan dari darah dagingmu sendiri.

Key-ah, cinta telah membutakan mata hatimu rupanya.

 

 

 

Aku benar-benar tidak sangka kalau Key benar-benar akan ke rumahku lagi. Aku kira dia hanya bercanda. Ya ampun, sebegitu cintanya kah pada kakakku?

Tapi yang terpenting, Key tidak jadi mengantarku pulang karena alasan itu. Yah kau tahulah bagaimana keadaan kepalaku ini. Krystal melarangku mengemudikan mobil. Dia bukan khawatir aku kenapa-kenapa, dia lebih khawatir pada orang-orang atau benda yang aku tabrak. Ck! Siapa juga yang mau menabraknya. Lagi pula kepalaku bukan gegar otak lalu tidak bisa membedakan mana jalanan yang lurus dan mana yang berkelok.

“Kang Minhyuk?”

Langkahku terhenti lalu kutolehkan kepalaku ke belakang.

“H…Hyerin-ssi?”

“Annyeong, Minhyuk-ssi! Lama tidak bertemu!” katanya sembari tersenyum layaknya teman lama. Terus terang aku jadi merasa canggung mengingat bagaimana kita berdua putus dulu.

“Annyeong! Kau…masih ada kelas?”

“Ne, ini aku sedang berjalan menuju kelas. Kebetulan aku melihat punggungmu. Kau mau pulang, Minhyuk-ssi?”

Aku hanya mengangguk begitu mendengar pertanyaannya. Tapi syukurlah, dia sepertinya sudah lupa dengan yang dulu.

“Kalau begitu hati-hati di jalan, ya! Aku mau ke kel-“

Ditengah-tengah bicaranya, tiba-tiba dia roboh. Spontan aku menangkapnya. Badannya terus merosot seperti tidak punya tenaga.

“Hyerin-ssi? Gwaenchanayo?” kataku sembari menepuk pipinya pelan. Matanya sayup-sayup terbuka-tertutup.

“Kep…kepalaku pusing!”

Orang-orang yang ada di lorong gedung mulai mengerubuni kami.

“YA! Tolong bantu aku!”

 

 

 

Hyerin menolak untuk di bawa ke rumah sakit, katanya semalam sudah memeriksakan diri. Karena itu, dia ingin aku mengantarnya pulang ke rumahnya saja.

“Apa orang tuamu tidak ada, Hyerin-ssi?” tanyaku begitu aku mendudukkan diriku di tepi ranjangnya.

“Mereka pergi ke Busan, memperingati kematian nenek.”

“Oh!”

Aku tidak bisa lama-lama di sini. Sudah jam setengah tujuh. Harusnya sekarang aku mengantar Krystal ke rumah temannya untuk mengembalikan buku. Terpaksa membatalkannya dengan alasan mengantar teman sakit. Tentu saja aku tidak bilang kalau temanku itu perempuan, apalagi mantanku.

Sedikit merasa bersalah menutupinya dari Krystal. Mianhae, chagi!

“Minhyuk-ssi, bisa bantu aku?” pintanya setengah kepayahan berusaha mendudukkan dirinya.

Akupun membantunya duduk. Sepertinya dia benar-benar kuwalahan hanya untuk mendudukkan dirinya sendiri. Namun tiba-tiba tenaganya hilang hingga akupun tertarik oleh tubuhnya.

Posisi kami sangat tidak mengenakkan. Orang yang melihatnya pasti akan salah paham. Maka dari itu aku buru-buru bangkit, begitu juga Hyerin. Namun tiba-tiba Hyerin menarikku ke dalam pelukannya. Oh yeah, oke, kami tidak dalam posisi tidur melainkan duduk. Tapi ini di kamar dan kenapa dia memelukku?

“Biarkan aku memelukmu sebentar, Minhyuk!”

Pelukannya benar-benar erat seakan tidak ingin aku pergi. Mau apa dia?

“Bisakah kau kembali ke sisiku?”

Aku kembali berusaha mendorong bahunya, tapi pelukannya terlalu kuat. Bahkan sekarang dia terisak.

“Aku…aku kesepian! Hiks..! Aku yakin sekali orang tuaku tidak akan langsung pulang. Mereka lebih mementingkan pekerjaan mereka di luar kota ketimbang aku yang merasa kesepian di rumah.”

Aku tahu Choi Hyerin adalah seorang anak yang haus akan kasih sayang. Dia pernah bercerita padaku kalau dia pernah tidak menemui orang tuanya dalam waktu tiga tahun. Hyerin hanya berharap orang tuanya menjemputnya dari asrama sekolah dan kembali tinggal bersama-sama dengannya. Dan impiannya terwujud, tapi tetap saja keberadaan Hyerin tidak begitu menonjol kehadirannya dibanding dengan pekerjaan orang tuanya.

Dan sebenarnya alasan inilah yang membuatku betah berpacaran lama dengannya karena kami sedikit memiliki kesamaan. Kalau tidak salah sekitar dua minggu dan –kata Key- dua minggu itu waktu terlama masa pacaranku –sebelum Krystal.

Tanganku masih menggantung bebas, enggan membalas pelukannya. Hyerin membenamkan wajahnya dibahuku. Aku pun mengangkat bahunya hingga kini bisa kulihat wajah semrawut Hyerin. Eyelinernya luntur dan lipstick cherry pinknya menodai daerah sekitar bibirnya.

“Mianhamnida, Hyerin-ssi, aku-“

“Aku sudah tahu! Kudengar kau sudah punya pacar. Kau pasti begitu mencintainya, ya?”

“Sangat!”

Hyerin tiba-tiba tersenyum padaku.

“Chukkae! Aku turut senang.”

“Gamsahamnida!”

TINGTONG! TINGTONG!

“Ah, ada tamu!”

“Kau mau menerima tamu dalam keadaan kucel begitu? Kau seperti badut, Hyerin-ssi, keke!” seruku sedikit terkekeh. “Biar aku yang bukakan!”

“Jangan! Kalau yang bertamu teman kampus kita bagaimana? Aku takut image-mu jadi hancur.”

“Oh ya, kau benar!”

Hyerin keluar dari kamar, meninggalkanku seorang di sini.

Lima belas menit berlalu. Aku masih mendengar suara samar-samar dua orang dari sini – kamar Hyerin di lantai dua. Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Bisa jamuran aku di sini.

Ah, sebaiknya aku telepon Krystal. Dia pasti menungguku. Uh, pedenya..

Yobosseyo? Kau sudah pulang?”

“Belum, aku masih di rumah temanku. Sudah di antar bukunya?”

Sudah! Sebentar lagi aku mau pulang.”

“Maaf ya, chagi! Harusnya aku mengantarmu hari ini.”

“Gwenchana! Temanmu lebih membutuhkanmu dibanding aku. Sampaikan salamku untuknya. Semoga cepat sembuh!”

Aku jadi semakin merasa bersalah pada Krystal.

“Oke!”

Begitu sambungan terputus, aku kembali memasukkan ponselku ke dalam kantung celana. Lebih baik aku pulang.

Tepat saat aku menekan gagang pintu, tiba-tiba semua jadi gelap.

“Listrik padam? Ah, bagus! Aku bisa keluar diam-diam.”

Kulangkahkan kakiku menuju tangga. Tepat saat aku menuruni anak tangga yang terakhir, ruangan kembali bercahaya.

“Neo?”

Tidak! Aku tidak salah dengar, kan? Aduh, kenapa sulit sekali untuk menoleh ke belakang?

“Minhyuk?”

Suara yang tadinya terdengar jauh dari tempatku, kini terdengar tepat di belakangku.

“Sedang apa kau di sini, huh?”

Dan kini orang yang menyebut namaku tadi sudah berada di depanku. Tatapan selidiknya sedikit menusuk.

“Jadi, apa Hyerin sudah sembuh?”

“Chagi,maafkan aku, ini tidak seperti yang kau bayangkan!”

Krystal tiba-tiba tersenyum, hanya saja bagiku lebih terlihat seperti seringaian. Tangannya yang menggantung bebas kini mengusap bahuku.

“Tidak seperti yang aku bayangkan, ya? Hmm, oke! Apa kalian bersenang-senang? Lihat bajumu sampai kena liptick Hyerin! Seharunya kau membuka bajumu,” katanya kembali mengusap bahuku. Astaga! Ini noda lipstick Hyerin saat dia memelukku tadi.

Krystal mendorong bahuku cukup keras lalu bebalik. Buru-buru kucegah sebelum dia melangkah lebih jauh.

“Chagi, tung-“

“Berhenti memanggil chagi!”

“Tapi sungguh, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Hyerin sakit dan-“

“Hyerin tidak sakit! Dia sehat, segar bugar! Bahkan semalam aku menemaninya belanja hingga larut malam.”

Tunggu! Hyerin bilang kemarin dia sudah ke rumah sakit, lalu… SHIT! Aku dijebak!

“Maafkan aku Kang Minhyuk kalau aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku rasa Hyerin memang bisa. Aku pulang! Maaf kalau aku mengganggu kalian!” Krystal melepas tangannya dari genggamanku. Baru beberapa langkah, dia kembali berbalik dan menatapku dari kejauhan. “Kau tidak kedinginan? Kancing bajumu hampir semua terbuka.” Dia bicara padaku dengan nada paling menyeramkan.

Sungguh, aku benar-benar tidak sadar hanya kancing paling bawah yang masih terkait.

Sialan! Di mana kau Choi Hyerin?

 

-tbc-

 

mau curhat nih *ceilah*

jadi kenapa aku selalu bisa post ff ini seminggu sekali? karena utk part 4-5-6-7-8 itu udah kelar pas aku bikin part 3, jadinya aku tinggal nyantai dan edit-edit dikit. Dan tadaaaa (?) yg part 9 baru ongoing & ga jamin bisa post minggu depan. maklum lagi sibuk2nya tugas kuliah *sok ae lah*. Tapi aku usahain minggu depan posting tapi ga jamin loooh.

Oh ya, makasih ya komen2nya. Aku ga bales bukan berarti ga baca. Khusus yg part 7, aku ketawa-ketawa baca komen2nya. Wah analisa yang hebat. Jadi siapa yang hamilin Minyeon? Untuk sekarang ini cuma aku-Tuhan-dan Minyeon (?) yang tau, wkwk~

 

30 thoughts on “Playboy Vs Playgirl [chapter 8]

  1. Yg hamilin kyanya disebut nama dpnnya lee tuh td, penasaran siapa

    Abis mesra2an sama krystal eh endingnya malah sedih gitu kasian nae dongsaeng minhyuk😦

  2. pasti lee jonghyun deh . jonghyun kan rada brandal (?) gmna gitu .. kkkkk~

    yaaahhh minhyuk kasian banget sih peb ampe di jebak gitu ….

    ga sabar nunggu sambungan nyaa :DD

  3. akhirnya muncul juga lanjutannya thor… dah ditungguin…
    baca part ini bikin ketawa ketiwi lihat minhyuk sma key, lucu s mereka…
    tapi juga bikin jengkel lhat hyerin ngejebak minhyuk…
    hyerin itu jahat bgd sih, dh dtolonin malah kyak gtu…

    minhyuk sma krystal harus baikan lho thor… masak habis mesra” langsung berantem lagi…
    q kagak rela mereka putus ato berantem cmn gara” tuh cew jadia”an…

    lanjutin thor,,, q tunggu part berikutnya… mian y coment q panjang…
    hehehe ^^

  4. wuah makin seru ceritanya.. poor KEYtombe (?) dia kenak tampar, tp si minhyuk malah ketawa aza…. kayaknya yg ngehamilin noonax minhyuk, si lee jonghyun deh…… wuah minhyuk dijebak.. banyak aza rintangan cinta mereka………….. jangan putus

  5. lucu deh kalo dah 2 bias aku (minhyuk ma key) berantem hehehe seru kayaknya.
    yang hamilin minyeon noona pasti LEE jonghyun deh, ato LEE jungshin?? penasaranaaaaaan
    aduh itu hyerim kok gitu sih?? bikin kesel deh ya…
    part selanjutnya harus lebih seru ya… kekekeke. daebak ^^b

  6. Ceileh…si Konci makin aja ama Minyeon…

    Tapi aku yakin banget pasti ngehamilin minyeon itu si playboy cap lolli (??) Lee Jonghyun kan onn???

    yg cemungudth ya onn lanjutin ff ini \(^o^)/ #authormuntahliatkomenini

  7. cie…cie…cie… si konci makin lengket aja ama Minyeon…

    pasti LEE JONGHYUN kan onn !!! #ganyante

    lanjutan nya di tunggu yaaa onn and yg cemungudh yaaa buat lanjutinnya \(^o^)/ #authormuntahbacakomenini

  8. hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat ada lagi nih pengganggu hubungan minhyuk dan krystal arrrrghhhh ga rela rela kalo mereka [utus hiks…
    ishhh hyerin udah ketebak emang cuma purapura hmmmm *ambilgolok
    aduh peb peb lanjutin ya jgn lama2 atuh..
    udah key ma noona aja ya aku dukung tuh

  9. Aku pling suka bca scene pijat patah tulang (?) itu.. Dapet bngt feelnya..😀
    Kaya chapter slanjutnya agak srius neh.. Sip eon, d.tnggu next nya🙂

  10. kayaknya minhyuk sering kena sasaran di kepala ya, kasihan…
    ih, kenapa cewe itu nongol lagi?! pake ngejebak minhyuk lagi! jelas aja krystal salah paham…

  11. Sekarang minhyuk sama key yg kompak. Key ditampar pipinya eh minhyuk juga digaplok (?) pake wedges! Haha
    Itu minhyuk diinjek2 sama minyeon yg lg hamil rasanya kayak apa sakitnya haha😀
    Ckck kasian minhyuk dijebak, krystal jadi salah paham lagi kan tuh! Sumpah hyerin jahat bgt tapi apa dia pengen balas dendam ya sama minhyuk?
    Lanjut

  12. Hahaha…berciuman ditaman ya akhirnya kena pukul sepatu wanita😀 minhyuk tolong liat2 tempat dong..
    Hyerin apaapaan coba ! Mendadak sebel bgt dgn hyerin -_-

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s