‘L’ For Love, ‘L’ For Lies [part 1]


 

Author: Tirzsa

Rating: PG-15/NC-17

Genre: Romance, Family, Crime

Main Cast: Lee Jong-hyun ‘CN Blue’, Im Yoona ‘SNSD’

Other Cast: Kang Min-hyuk ‘CN Blue’

Disclaimer: FF ini murni buatan saya sendiri. Nggak pake kata ‘plagiat’. FF ini lebih cepat di publish di http://readfanfiction.wordpress.com/

***********************************************************************

 

Part 1

                Hal pertama yang Jong-hyun lihat setelah setengah dipaksa bangun oleh cahaya matahari pagi menyilaukan, yang menyelinap dari celah jendela tak tertutup gorden adalah bahu mulus seorang wanita yang ditutup oleh geraian rambut panjangnya.

Dengan bermalas-malasan, Jong-hyun memaksakan diri untuk bergeser dan membalikkan tubuh supaya bisa melihat jelas siapa teman tidurnya kali ini. Ingatannya buruk untuk hal seperti ini. Memori dalam otaknya tak seimbang dengan banyaknya cerita one night stand yang terjadi dalam hidupnya selama ini.

Wanita di sebelahnya berambut pirang madu dan kulitnya sangat putih dan mulus. Wanita itu sepertinya meninggalkan ‘after taste’ nyeri di pagi hari untuk Jong-hyun. Jong-hyun tak bisa mengingat jelas apa yang terjadi semalam, tapi yang ia tahu wanita itu benar-benar membuatnya ‘tersiksa’.

Pria itu lalu mengucek-ngucek matanya, menguap diiringi suara geraman yang kasar. Untuk sesaat, dia tak tahu harus melakukan apa pagi itu. Jadi, dia memilih untuk bangkit dan berjalan kearah dapur tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.

Sementara wanita yang masih berbaring di tempat tidur itu mengerang lirih. Ia membuka pelan-pelan matanya dan nampak terkejut saat melihat pasangannya entah pergi kemana. Namun, ia tersenyum tipis ketika mendengar suara gaduh dari arah dapur apartemennya. Wanita itu lalu ikut bangkit dari tidurnya dan berjalan mengendap-endap kearah dapur.

Jong-hyun yang saat itu tengah sibuk memanggang roti tersentak kaget saat ia merasakan tangan wanita itu melingkar di pinggulnya.

“Kenapa? Kaget, ya?” Wanita itu tertawa kecil melihat reaksi Jong-hyun. Ia menyandarkan tubuhnya tepat di belakang punggung Jong-hyun.

Dengan lembut, Jong-hyun melepaskan pelukan wanita itu ditubuhnya dan berkata, “Aku sedang membuat sarapan untuk kita. Pakailah pakaianmu.”

Wanita itu mendengus sembari menyisir rambut panjangnya dengan jari-jarinya yang cantik. “Kau sendiri, kenapa telanjang seperti itu pergi ke dapur?”

Jong-hyun memerhatikan tubuhnya dari bawah ke atas kemudian menyeringai. “Aku lupa.”

Wanita itu ikut menyeringai lebar dan kembali memeluk Jong-hyun. “Chagi, bagaimana kalau kita melakukan ‘itu’ sekali lagi?”

“Mwo? Tidak,” Jong-hyun menggeleng dan kembali melepas pelukan wanita itu. “Kita sudah melakukannya malam tadi. Aku lelah.”

“Tapi, jika kita melakukannya di pagi hari seperti ini akan memberikan sensasi yang berbeda. Ayolah! Aku benar-benar sudah tidak tahan,” kata wanita itu sambil menyentuh lengan kekar Jong-hyun.

Jong-hyun hanya diam. Ia berpura-pura sibuk dengan roti panggang yang ia buat. Sementara wanita itu terus merengek-rengek kearahnya. “Ayolah! Ayo!”

“Bukankah aku sudah bilang aku tidak mau?!” bentak Jong-hyun. “Kau gunakan saja dildo itu dan lakukan sepuasmu di kamar mandi.”

“Brengsek!” umpat wanita itu. “Aku sudah membayarmu mahal-mahal untuk memuaskanku. Tapi kenapa kau malah membentakku seperti ini, bajingan?!”

“Oh ya? Kau memang membayarku, tapi tidak untuk menjadi bonekamu yang seenaknya saja bisa kau gunakan!”

Wanita itu terdiam. Sementara Jong-hyun mulai bosan dengan wanita itu. Ia meninggalkan roti panggangnya yang bahkan belum ia sentuh sama sekali dan langsung mengenakan semua pakaiannya kembali.

“Kau mau kemana?” tanya wanita itu.

“Aku mau pulang.”

“Tapi urusanku kita belum selesai!”

“Aku tidak peduli!”

Jong-hyun lalu keluar dari pintu apartemen dan membantingnya dengan keras. Sementara wanita itu terlihat kesal dan langsung mengacak-acak tempat tidurnya sampai semuanya jatuh terhambur ke lantai.

“Dasar gigolo brengsek!”

 

***

                PLAK!

Jong-hyun bisa merasakan pipi kirinya memerah dan berdenyut-denyut perih. Ketika ia melihat pria di hadapannya yang adalah ayahnya sendiri, Lee Tae-jin, kembali mendekat, Jong-hyun perlahan-lahan mundur beberapa langkah. Namun, ia tak bisa lari kemana-mana ketika punggungnya sudah menabrak tembok yang ada di belakangnya.

Tae-jin lalu kembali melayangkan tangannya dan menampar Jong-hyun di tempat yang sama. Namun, kali ini rupanya efeknya lebih menyakitkan. Sudut bibir Jong-hyun bahkan sampai mengeluarkan darah.

“Kau mau membuatku bangkrut, huh? Kau mau berlagak jago sekarang, huh?” pekik Tae-jin. Ia lalu menendang paha Jong-hyun sampai pria itu tersungkur jatuh ke lantai sambil meringis kesakitan.

Jong-hyun hanya bisa mengerang lirih tanpa melawan, karena ia tahu bahwa semakin ia melawan, makan semakin ayahnya akan serta-merta memberikan pukulan yang lebih menyakitkan daripada ini.

Tae-jin menarik kerah kemeja Jong-hyun dan membantunya bangkit berdiri. Ia menatap lurus tajam Jong-hyun dengan tatapan amarah. “Sekarang, aku ingin mendengarkan alasanmu untuk yang satu ini. Kenapa wanita itu mengatakan padaku bahwa kau tak mau mengikuti perintahnya?”

Jong-hyun hanya diam dan tertunduk. Nafasnya memburu karena ketakutan. Tapi, Tae-jin mencengkeram dagunya dan memaksanya berbicara.

“Jawab aku!”

Jong-hyun hanya bisa menggeleng berulang-ulang kali tanpa mau membuka mulutnya. Tae-jin yang mulai geram akhirnya kembali menendang perut Jong-hyun dengan lututnya dan membuat pria itu jatuh tak berdaya tanpa perlawanan sama sekali.

“Aku sudah bilang berapa kali padamu! Pelanggan ada raja! Apa pun keinginannya, kau hanya bertugas untuk mengikutinya!” teriak Tae-jin marah.

“Aku—” kata Jong-hyun dengan suara bergetar. “Aku lelah.”

“Mwo? Lelah?” Tae-jin tersenyum sinis. Ia menghampiri Jong-hyun yang masih terduduk dan ikut jongkok untuk beradu tatap dengan anak laki-lakinya itu. “Kau pikir hanya kau yang lelah? Aku juga lelah, Jong-hyun. Aku lelah berhadapan dengan kehidupan ini. Aku lelah mengurus kau dan adikmu yang cacat itu!”

“DIA TIDAK CACAT!” teriak Jong-hyun marah. Tangan pria itu mengepal dan nafasnya tersengal. Keringat dingin kini membasahi sekujur tubuhnya.

Tae-jin tertawa histeris dan kembali bangkit. “Apa katamu? Tidak cacat? Seharian yang kerjanya hanya terbaring lemah di kamarnya itu tidak cacat? Yang kelakuannya masih seperti anak balita itu tidak cacat? Dia itu cacat, Jong-hyun!”

“Tidak!”

“Dia cacat!”

“Tidak!”

BUG! Jong-hyun kembali merasakan perutnya perih saat terkena tendangan keras kaki Tae-jin. Tae-jin kembali berjongkok dan mencengkeram dagu Jong-hyun. Tae-jin menatap mata Jong-hyun yang sudah berkaca-kaca dengan tajam, membocorkan nyali Jong-hyun yang sudah berani melawannya.

“Dengarkan aku, Jong-hyun. Kau dibawah kontrolku. Apa pun yang ku perintahkan padamu, kau harus melakukannya, suka atau tidak. Tapi, jika kau berani memberontak, bukan hanya dirimu saja yang akan bermasalah denganku, tapi adikmu juga akan aku habisi. Arasso?!” bisik Tae-jin dingin.

Jong-hyun terdiam sesaat kemudian mengangguk lemah.

 

***

                Jong-hyun melangkahkan kakinya ke jalanan dengan pikiran menerawang kemana-mana. Ia tak peduli saat beberapa pejalan kaki keheranan melihat dirinya dengan mata sembap, sudut bibir yang robek, dan jalan dengan gaya pincang. Ia hanya bisa tertunduk lesu dan mencoba menahan air matanya, tidak menunjukkan sisi lemahnya di tempat umum.

Sesampainya di rumah, tatapan Jong-hyun tertuju pada pintu berwarna coklat yang ada di lantai dua rumahnya. Dengan susah payah, ia berusaha meniti tangga dan menghampiri kamar itu.

Jong-hyun tersentak kaget saat pintu itu dibuka tiba-tiba dan salah seorang wanita berpakaian layaknya suster keluar dari sana. Wanita itu tersenyum kearah Jong-hyun sambil memegangi dua gelas kaca berisi air putih dan susu putih.

“Mana Min-hyuk?” tanya Jong-hyun.

“Ada di dalam. Ia baru saja selesai makan siang dan minum susu.”

Jong-hyun mengangguk lalu tersenyum. Suster itu pun lalu pergi kembali ke dapur. Jong-hyun membuka pintu kamar itu dengan perlahan kemudian melangkah masuk. Kamar itu adalah milik Min-hyuk, adiknya. Kamar itu dipenuhi dengan suasana suram dan menyedihkan. Hanya cahaya matahari yang menyelinap lewat jendela lah satu-satunya sumber cahaya di kamar itu. Dan jika matahari sudah tenggelam, kamar itu akan gelap sekali, seperti tak berpenghuni.

Ketika Jong-hyun masuk, nampak Min-hyuk tengah berbaring di tempat tidur dengan telentang dalam piama biasa. Piama itu terlihat sedikit kotor dengan bekas lelehan kuning telur disana. Kelihatannya, Min-hyuk sedang tidur siang. Jong-hyun menghampiri adiknya, duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi tangan Min-hyuk.

Jong-hyun mengamati setiap inci wajah adiknya dalam diam. Tersirat guratan-guratan kepedihan disana, namun tersembunyi rapat oleh wajah polos Min-hyuk. Matanya yang terpejam rapat bak seperti malaikat yang sedang tidur membuat Jong-hyun berpikir bahwa Min-hyuk tak seharusnya mengalami ini. Ia tak seharusnya mengalami penderitaan ini. Ia seharusnya bahagia. Tapi semua kenyataan berkata lain.

Entah kenapa tiba-tiba hati Jong-hyun berdesir dan membisikkan kembali kejadian-kejadian masa kecilnya bersama Min-hyuk, sebelum Min-hyuk menjadi seperti ini. Ia ingat, saat Min-hyuk jatuh sakit, Jong-hyun akan berada di sisi ranjang dan memegang tangannya dan menatap adiknya sedih. Tapi, setelah itu, tiba-tiba Min-hyuk membuka matanya dan berseru, “Tertipu!”, lalu tertawa gembira.

Dan setiap kali Min-hyuk melakukan hal itu, Jong-hyun akan kesal dan menjitak kepalanya. Tapi, Jong-hyun kali ini berjanji dalam hatinya. Jika adiknya saat detik itu juga melakukan hal yang sama, membuka matanya, berseru seperti biasa, dan tertawa gembira, Jong-hyun tak akan marah dan menjitak kepalanya. Tidak akan.

 

***

                “Nona Im Yoona!” teriak salah seorang apoteker wanita.

“Ne!” sahut seorang gadis berambut panjang yang tengah duduk di bangku yang disediakan oleh apotek tersebut. Dengan tergesa-gesa, ia beranjak dari duduknya dan menghampiri apoteker itu yang berdiri di balik lemari kaca yang berisi bermacam-macam obat-obatan.

“Ini semua obat Anda, nona,” kata apoteker itu sambil menyerahkan sebuah bungkusan putih berisi beberapa macam obat. “Semuanya 10.000 won.”

Yoona terlihat agak kaget saat mendengar apoteker itu menyebut harga semua obat itu. “10.000 won?”

Apoteker itu mengangguk.

Yoona menghela nafas panjang lalu merogoh dompetnya dari dalam tas. Ia terdiam beberapa saat ketika melihat hanya tersisa beberapa lembar uang won dari dompetnya. Memang cukup untuk menebus obat-obat itu, tapi setelah itu, uangnya akan benar-benar habis dan ia tak punya cadangan untuk uang trasnportasinya kembali ke rumah.

“Mianhada,” kata Yoona. “Sepertinya aku hanya akan mengambil setengah jenis obat yang dituliskan di resep dokter.”

“Waeyo?” tanya apoteker itu keheranan. “Dokter menganjurkan Nona untuk mengkonsumsi semua obat ini.”

Yoona tersenyum getir lalu menjawab, “Ne, memang. Tapi, aku tidak punya cukup uang untuk menebus obatku dengan uang sebanyak itu. Mianhada.”

Apoteker itu menghela nafas. “Baiklah.” Ia lalu mengeluarkan beberapa jenis obat dari dalam bungkusan putih itu dan kembali menyerahkannya pada Yoona. “Kau hanya perlu membayar 4.000 won.”

Yoona kembali tersenyum lebar lalu mengeluarkan uang 4.000 won dari dalam dompetnya. Setelah itu ia memasukkan obat-obatan ke dalam tasnya dan segera keluar dari rumah sakit itu.

 

***

                Tae-jin sudah berada di ruang kerja seseorang. Seseorang itu adalah partner bisnis Tae-jin dari Singapore, bernama Lucas. Selama ini, Lucas menjadi salah satu pemilik saham terbesar di bisnis yang dibangun oleh Tae-jin selama beberapa tahun belakangan ini. Dan nampaknya Lucas begitu puas dengan kinerja Tae-jin sampai mengundang Tae-jin secara spesial untuk datang ke istananya yang mewah.

“Silahkan duduk, Tae-jin,” kata Lucas. Pria itu berperawakan tidak terlalu tinggi, tapi proporsional. Rambutnya lurus, panjangnya sampai menyentuh bahu, berwarna pirang kecoklatan, dan digerai dengan elegan, menghias wajah campurannya, Singapur-Italia.

“Sejujurnya, aku sangat terkesan dengan kinerja bisnismu ini,” kata Lucas sambil ikut duduk berhadapan dengan Tae-jin. “Kau tidak pernah mengecewakanku selama beberapa tahun ini. Tapi…”

“Tapi, apa, Tuan?” tanya Tae-jin ragu.

“Aku tidak pernah puas dengan apa yang aku dapatkan,” kata Lucas dingin. “Selama ini kau hanya melancarkan bisnis klub malammu dan menyewakan para gigolo kepada para wanita dan pria, tapi, apakah kau tidak terpikir untuk melakukan hal selain itu?”

Tae-jin mengernyit, “Maksud, Tuan?”

Lucas tersenyum misterius. “Baru-baru ini, salah seorang partner kerjaku di Singapur berkata padaku bahwa ia membutuhkan wanita Korea untuk dikirim kesana.”

“Lalu?”

“Wanita-wanita itu akan dijual kesana lalu dipaksa bekerja pada mereka menjadi pelacur dan sebagainya.”

Tae-jin menelan ludah. “Tapi, Anda tahu bahwa aku hanya menyewakan gigolo.”

“Maka dari itu, Tae-jin,” Lucas menghela nafas. Ia meraih sebatang cerutu dari dalam saku jasnya dan menyulutnya. “Aku ingin kau mencari beberapa wanita Korea untuk kita kirim kesana. Mereka berani membayar mahal untuk wanita-wanita itu.”

“Kenapa harus aku?”

“Karena aku yakin, kau sangat pandai soal jebak-menjebak.”

“Maksud Anda, Anda ingin aku menjebak wanita-wanita itu lalu kita langsung menjual mereka ke Singapur?”

Lucas mengepulkan asap cerutunya keatas udara lalu mengangguk. “Benar. Kita bisa mendapatkan keuntungan lebih dari bisnis ini.”

Tae-jin terdiam untuk beberapa saat. Ia berpikir keras dan berusaha memutar otaknya. “Berapa yang akan berani mereka bayar untuk satu orang wanita?”

Lucas tersenyum tipis lalu menjawab, “Kau bisa membeli satu negara dengan satu orang wanita yang kau serahkan.”

 

***

                Malam hari, ketika suasana rumah menjadi sepi, Yoona duduk di kamarnya dalam buaian rasa malas. Kantuk tak kunjung mendatanginya malam itu. Gadis itu berbaring di ranjangnya dan mencoba membayangkan masa lalu dan kesepian yang meliputi dirinya selama ini. Masa lalu itu datang semakin dekat dan dekat hingga mereka menyentuh kulit gadis itu dan tidak ada jalan baginya untuk melarikan diri.

Setelah itu, yang hanya bisa ia dengarkan adalah bisikan-bisikan kecil jangkrik yang ada di luar rumah, seolah memperingatkan tentang keberadaan dirinya di dunia ini.

Dalam balutan selimut yang tebal, Yoona memandangi berbagai bungkusan obat yang ada di sisi ranjangnya. Matanya terlihat sendu dan putus asa. Sejak ia didiagnosa menderita penyakit Vertigo, Yoona tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa merelakan tubuhnya digerogoti oleh penyakit itu dan merenggut semua apa yang sudah menjadi miliknya.

Mulai dari pekerjaannya, cintanya, dan kehidupannya. Terkurung, tersiksa, dan kesepian. Hanya itu yang bisa ia rasakan selama ini. Perjuangannya untuk tetap bertahan hidup perlahan-lahan mulai menipis. Ia bahkan tak yakin, ingin benar-benar meneruskan kehidupan tak berarti ini atau tidak. Namun, tiap kali ia melihat ibunya yang selama ini bersusah payah menyemangatinya, Yoona lagi-lagi dilanda kebimbangan. Ia tak berani meninggalkan ibunya sendiri di dunia ini, tanpa dirinya.

Yoona tak tahu berapa banyak macam kecemasan yang kini berputar-putar dan menyesaki kepalanya. Yang jelas, ia tak mau memberi celah pada rasa cemasnya itu untuk menebus dinding kelemahannya yang selama ini ia selubungkan.

 

***

                “Siapa ya gadis lucu itu?”

Jong-hyun refleks mencari asal suara, yang ternyata berasal dari beberapa remaja laki-laki SMU yang bergerombol duduk di bangku bis, tepat di depannya. Remaja-remaja itu nampak masih lengkap dengan seragam sekolah mereka, hendak berangkat ke sekolah.

Terganggu dengan tawa mesum remaja-remaja itu, Jong-hyun berusaha mencari tahu siapa gadis yang tengah mereka bicarakan. Dan tak berapa lama kemudian, setelah mendapatkan beberapa hints dari remaja-remaja itu, Jong-hyun bisa menebak bahwa mereka sedang membicarakan seorang gadis yang duduk di bangku deretan kedua. Gadis itu sedang diam, memperhatikan jalanan lewat jendela.

“Dadanya sangat menggemaskan,” celetuk seorang remaja dari mereka sambil menggerak-gerakkan tangannya dengan cara ganggu. Seperti sedang membayangkan menyentuh dada gadis itu dengan kedua tangannya.

Entah kenapa, Jong-hyun lama-lama mulai merasa risih dengan ucapan hina remaja-remaja itu. Jelas saja membuatnya kesal, terlebih lagi, gadis itu terlihat seperti gadis baik-baik. Bukan tipe-tipe gadis yang mungkin sedang dibayangkan oleh remaja-remaja itu dan tipe-tipe yang selalu Jong-hyun temui di klub malam milik ayahnya.

“Bagaimana jika kita merencakan sesuatu?” Jong-hyun kembali fokus mendengarkan obrolan remaja-remaja itu. Walau pun ini—menguping—sepertinya bukanlah perbuatan baik, tapi Jong-hyun terlanjur dirundung rasa penasaran.

“Rencana apa?”

“Jika bis sudah mulai sepi, kita kerjai saja gadis itu.”

“Maksudmu?”

Terdengar kekehan pelan sebelum terdengar jawaban ambigu, “Kau pasti tahu apa maksud kata ‘mengerjai’ itu”

Setelah itu, Jong-hyun bisa mendengar suara tawa mesum itu kembali dan membuatnya berpikir negatif.

Tak berapa lama kemudian, satu per satu penumpang bis itu mulai turun. Seiring dengan satu per satu penumpang yang turun, terdengar tawa cekikikan tak sabar dari remaja-remaja itu dan membuat Jong-hyun semakin khawatir.

Bis hampir sepi, kenapa gadis itu tak turun-turun juga, batin Jong-hyun sambil mengamati gadis itu.

Berselang kemudian, bis benar-benar sepi. Hanya tersisa Jong-hyun, gadis itu, dan remaja-remaja mesum tadi. Nampaknya, remaja-remaja mesum itu mulai berembuk dan merencakan kejahilan mereka, sementara Jong-hyun terus diam, berpura-pura tidak ada di sana agar membuat remaja-remaja itu mengira bahwa hanya gadis itu dan mereka yang tersisa di dalam bis.

Rencana Jong-hyun berhasil. Kelompok remaja itu rupanya tidak menyadari kehadirannya di belakang mereka. Beberapa orang dari mereka lalu mulai beranjak dan mendekati gadis itu. Sebelum benar-benar menghampiri gadis itu, beberapa orang itu sempat menolah sambil tertawa kecil. Sementara remaja-remaja lainnya yang hanya menonton bersorak-sorai memberi semangat.

“Hai,” sapa mereka pada gadis itu.

Gadis itu sontak menoleh dan mengerutkan alis.

“Apa kau sibuk? Ingin bermain dengan kami?” goda mereka sambil menunjuk ke belakang, kearah teman-teman mereka yang lain.

Wajah gadis itu terlihat pucat dan gugup. Ia menggeleng. “Tidak.”

“Ayolah!” Mereka mulai menarik tangan gadis itu. “Ayolah! Sebentar saja!”

“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak gadis itu, berusaha memberontak.

“Ayolah, Cantik! Sebentar saja. Kami tidak akan membuatmu kesakitan!”

“Lepaskan!”

Mereka mulai bermain kasar. Kelompok remaja itu menahan tangan gadis itu agar tak berontak sembari tertawa mesum. Sementara gadis itu terlihat kelimpungan. Wajahnya mulai pucat pasi dan gerakan memberontaknya mulai melemah. Alisnya mengerut, seolah ia sedang menahan rasa sakit.

“Hei, lepaskan gadis itu!”

Kelompok remaja itu sontak terkaget saat mendengar suara pria dari belakang mereka. Mereka menoleh dan kaget saat melihat Jong-hyun berdiri di sana. Terdengar bisikan-bisikan heran dari mereka.

“Kenapa bisa ada pria itu di dalam bis?”

“Bukannya dia sudah turun tadi?”

Jong-hyun menganggap angin lalu bisikan-bisikan mereka, lalu berjalan mendekat.

“Apakah kalian tuli? Aku bilang, lepaskan gadis itu!” teriak Jong-hyun kesal.

Kelompok remaja itu lalu langsung melepas cengkeraman tangan mereka dari lengan gadis itu. Mereka nampak ketakutan saat melihat Jong-hyun memelototi mereka satu per satu. Mereka mengambil tas mereka masing-masing kemudian langsung turun dari bis dengan tergesa-gesa.

Sementara gadis itu tiba-tiba oleng dan jatuh ke atas lantai bis. Jong-hyun menghampiri gadis itu dan mulai panik. Ia mengguncang-guncangkan tubuh gadis itu namun tak ada reaksi.

“Bangun! Hei, bangun!”

 

***

                Tengah malam, dan Tae-jin baru saja tiba di rumahnya. Rumahnya terlihat sangat sepi dan lengang. Ia menduga bahwa para pembantu dan suster yang merawat Min-hyuk sudah terlelap. Namun, ia yakin Jong-hyun belum terlelap karena ia tahu Jong-hyun sering mengalami insomnia.

Pria itu lalu melangkah pelan kearah kamar Jong-hyun. Ia menyentuh gagang pintu itu lalu terdengar deritan pintu saat digeser. Tae-jin tersentak kaget saat melihat ada seorang gadis terbaring di atas ranjang Jong-hyun. Ia lalu membuka pintu itu lebih lebar lagi untuk memastikan bahwa ia sedang tak salah lihat.

“Aboji?”

Tae-jin menoleh saat mendengar suara yang ia hafal yang berasal dari belakang punggungnya. “Jong-hyun?”

Jong-hyun berjalan mendekat kearah ayahnya lalu bertanya, “Ada apa?”

“Siapa gadis itu?” tanya Tae-jin.

Jong-hyun melongokkan kepalanya kearah dalam kamarnya lalu menjawab, “Saat di bis tadi, ia pingsan, tapi belum sadar juga. Jadi, aku membawanya kesini.”

“Dia bukan gadis yang meminta jasamu, kan?”

Jong-hyun menggeleng.

“Kalau begitu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Tae-jin sambil menarik lengan Jong-hyun untuk mengikutinya kearah ruang tengah.

Sesampainya di ruang tengah, Jong-hyun dan Tae-jin duduk berhadapan dan saling bertatap muka.

“Kau ingat Lucas, kan? Partner kerjaku di Singapur?”

“Ne, aku mengingatnya.”

Tae-jin menghela nafas. Ia menyapukan pandangannya kearah sekitar mereka, seolah takut kalau-kalau ada yang mendengar obrolan mereka. Ia lalu berbisik kecil.

“Ia ingin aku mencari beberapa wanita untuk diperdagangkan di Singapur. Dan… aku ingin, kau yang mencari wanita-wanita itu untuknya.”

“Tapi—”

“Jangan membantah!” tukas Tae-jin. Jong-hyun mengangguk lemah. “Usahakan agar kau mendapatkan beberapa orang wanita yang bisa kau jebak dalam sebulan terakhir ini. Mereka memintaku untuk mengumpulkan semua wanita itu akhir bulan ini.”

“Tapi, aku tidak mungkin bisa menjebak seorang wanita sebanyak mungkin dalam hanya waktu satu bulan,” sela Jong-hyun. “Dan bagaimana caranya aku bisa menjebak mereka?”

“Aku tidak peduli bagaimana pun caramu agar bisa menjebak mereka. Yang jelas, aku ingin kau bisa membawa mereka padaku akhir bulan ini. Dan satu lagi…”

“Apa itu?”

“Aku juga ingin, gadis yang sedang tertidur di kamarmu itu, masuk dalam salah satu daftar wanita yang akan dikirim ke Singapur…”

 

-TBC-

 

16 thoughts on “‘L’ For Love, ‘L’ For Lies [part 1]

      • maaf maaf, hyeri yg dia maksud itu aku. lupa ganti si pemosting😄

        suka banget sama ceritanya. unik.
        gabisa ngebayangin deh kalo jonghyun jadi gigolo, laku keras kali ya #EH
        minhyuknyaaaaaaaaaaaaa.. speechless. itu tadinya normal kan ya? atau udah bawaan dr lahir? *kurang konsen bacanya, ngantuk*
        yg dibawa jonghyun itu Yoona kan ya? sotoy dah.
        lanjut lanjut

  1. ohhhh tidaaaaaaaaaaaaaak jonghyun masa jd gigolo. bapa macam apa itu masa anak dijual. hiks..
    itu yg pingsan yoona ya. aduuuuuh kasian jgn buat yoona jd cewe yg mau dijual. aduuuuuuuh..
    lanjut deh, author plis buat jonghyun ma minhuk keluar aja dr rumah neraka itu. terus buat yoona semangat hidup lg dan jgn pisahkan yoona-jonghyun ya. hehe…

  2. author tega bgd minhyuk dbuat sakit…
    sampek dbilang cacat pula… T.T
    mang minhyuk skit apa sih thor??

    g nyangka jonghyun jdi gigolo…
    selamatkan yoona,,, kasihan cew polos gtu mw djual…

    suka thor sma ff u… keren…
    daebak deh authornya…
    lanjutannya jgn lma” y…🙂

  3. keren lah nih FF..tadi di kasih tau sm mmmpeb..
    beda..feel Jonghyunnya juga dapet

    speechless deh mau komen apa..dr bahasa yg dipake juga bagus dan enak (?)
    cerita juga beda..
    bener2 kepikiran kalo Jonghyun jd gigolo..(bookinggg XD)

    nih FF..masuk list wajib baca ku deh🙂

  4. ANDWAEEEEEEE! JONGHYUNKU JD GIGOLO! #PLAAKK
    huweeee~ kenapa oh kenapa nasibnya jonghyun tragis bgt pny bpk jahat!
    niat nolongin yoona kok malah jd ngebawa ke jurang gtu sih! *lebay*

  5. astaga jonghyun… kasian… minhyuk juga kasian… TT___TT
    bapaknya kenapa berubah jadi jahat gitu ya? sampe-sampe yoona juga pengen dijaring(?), ckck…
    oke lanjut chapter 2…

  6. hi, author chingu! aq visitor br di blog mu..hehe..salam kenal, yah! ^_^v
    cerita ffnya menarik, ada Deer-Burning couple..kekekek..
    aq suka sm desain blog mu yg minimalis🙂
    smgt mnulis yah! ^^9

  7. wah baru dapat ff ini…..
    baru part 1 tapi feelnya dapet bgt sampe nangis ㅠㅠ kkkk~
    jonghyun sayang banget sama minhyuk huhuhu minhyuk kapan sembuh unni??!
    keep writing!! ff nya daebak

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s