‘L’ For Love, ‘L’ For Lies [part 2]


Author: Tirzsa

Rating: PG-15/NC-17

Genre: Romance, Family, Crime

Main Cast: Lee Jong-hyun ‘CN Blue’, Im Yoona ‘SNSD’

Other Cast: Kang Min-hyuk ‘CN Blue’

Disclaimer: FF ini murni buatan saya sendiri. Nggak pake kata ‘plagiat’. FF ini lebih cepat di publish di http://readfanfiction.wordpress.com/

Part 2

 

Yoona bisa merasakan kepalanya yang terasa berat dan agak pusing. Tapi, ia tak sanggup membuka matanya karena ia tahu bahwa ketika matanya terbuka, dunia akan seolah berputar-putar di hadapannya dan membuat keadaan semakin buruk. Gadis itu berbaring miring dan mendengarkan suara-suara gaduh dari luar kamar.

“Min-hyuk! Berhenti berlari kesana-kemari! Kau harus menghabiskan buburmu!” Yoona mengernyit ketika mendengar suara teriakan seorang wanita disertai dengan suara cekikikan seorang pemuda.

Min-hyuk? Siapa Min-hyuk?

Dengan satu sentakan, Yoona membuka matanya. Efek pusing yang ia rasakan saat itu tak membuatnya terlalu kelimpungan karena ia sudah dikuasai oleh rasa kagetnya sendiri ketika menyadari bahwa ia sedang berada di kamar seseorang. Bukan kamarnya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang pemuda masuk. Baik Yoona mau pun pemuda itu terlihat sama-sama shock saat saling adu pandang satu sama lain.

“K-k-kau siapa?” tanya Yoona terbata-bata.

Pemuda itu hanya diam. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan memicingkan mata. Pemuda itu mulai beringsut pelan mendekati Yoona dan hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh gadis itu, tapi tangannya buru-buru ditahan oleh tangan seseorang lainnya.

“Hyung!” seru pemuda itu saat tangannya ditahan oleh Jong-hyun.

“Habiskan buburmu, cepat!” kata Jong-hyun.

Pemuda itu mengangguk dengan wajah jenakanya kemudian keluar kamar. Jong-hyun lalu melemparkan pandangannya kearah Yoona yang nampak masih merasa asing berada di kamarnya.

“Kalian sebenarnya siapa?” tanya Yoona lagi. Ia bersedekap, seolah takut Jong-hyun akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.

Jong-hyun tersenyum hangat. “Aku Jong-hyun, dan tadi itu adikku, Min-hyuk. Apakah kau tidak ingat sama sekali dengan kejadian kemarin?”

Yoona menelan ludah. Ia semakin mengeratkan dekapan kedua tangannya di tubuhnya sendiri dan semakin curiga. “Apa maksdumu dengan ‘kejadian kemarin’? Apa yang sudah kau lakukan padaku?”

Pria itu berusaha menahan tawanya saat melihat tindak waspada Yoona. “Aku tidak melakukan apa-apa padamu,” jawabnya. “Kau masih ingat saat beberapa orang remaja mencoba untuk berbuat jahat padamu? Aku yang menolongmu saat itu. Dan tiba-tiba saja kau jatuh pingsan.”

“Jinjjayo? Apa kau tidak bohong?”

“Tentu saja.”

Yoona menghembuskan nafas lega. Namun sorot matanya masih terlihat waspada.

“Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Sebaiknya kau makan dulu, karena tubuhmu terlihat sangat lemah,” kata Jong-hyun.

Yoona tak langsung menjawab. Ia terlihat ragu. Diraihnya ponsel dari dalam tasnya dan ia tersentak kaget saat layar ponselnya sudah dipenuhi oleh beberapa puluh miss called dan pesan singkat dari ibunya. Ia sudah bisa menduga bahwa ibunya pasti tengah cemas karena ia tak pulang semalaman.

“Ada apa?” tanya Jong-hyun saat menyadari ada yang salah dengan raut gadis itu.

“Sepertinya aku tidak bisa,” tolak Yoona, halus. “Aku harus segera pulang. Ibuku pasti sangat khawatir karena aku tak pulang.”

“Tapi kau sedang dalam keadaan lemah. Makanlah sedikit saja.”

Gadis itu tak menghiraukan ucapan Jong-hyun. Ia meraih tasnya lalu beranjak dari situ. Namun, baru saja ia keluar dari pintu kamar, Yoona merasakan kepalanya terasa sangat sakit dan pusing. Ia hampir saja jatuh ke lantai jika Jong-hyun tak segera memapah tubuhnya.

“Sudah ku bilang juga apa,” keluh Jong-hyun sambil membantu Yoona berdiri. “Kau harus makan sedikit dulu baru bisa pulang.”

 

***

                Yoona kini duduk berhadapan dengan Jong-hyun dan Min-hyuk di meja makan. Matanya bergantian memandangi Jong-hyun yang sedang asyik menikmati sarapannya—roti panggang dan telur mata sapi—dalam diam. Sementara Min-hyuk terus memandangi gadis itu sambil tersenyum takjub, seolah pemuda itu baru pertama kalinya melihat seorang wanita—membuat Yoona sedikit merasa risih.

Jong-hyun menatap Yoona dengan perasaan cemas saat tahu bahwa gadis itu sama sekali belum menyentuh sarapannya.

“Ada apa? Kenapa kau tak makan? Apa kau tidak suka dengan roti panggang dan telur mata sapi?” Jong-hyun bertanya sambil menyuapi mulutnya.

Yoona menghela nafas. Karena merasa tak enak, ia lalu menyentuh garpu dan pisau yang ada di sisi piring, lalu mulai mengiris kecil-kecil roti panggang dan telur mata sapinya, lalu memasukkannya dalam mulut. Jong-hyun tersenyum puas saat itu.

“Apakah rasanya enak?” tanya Min-hyuk, masih dengan wajah jenakanya.

Yoona mengangguk sambil tersenyum paksa. Min-hyuk lalu bersorak-sorai kegirangan dan melompat-lompat kesana kemari lalu pergi dari situ. Yoona menatap pemuda itu dengan keheranan dan memandang Jong-hyun.

“Ada apa dengan adikmu?” tanyanya, penasaran.

“Dia memang seperti itu jika menyukai seseorang yang baru pertama kali ia temui,” jelas Jong-hyun.

“Aneh sekali,” gumam Yoona.

Jong-hyun menghela nafas panjang. Ia meletakkan garpu dan pisaunya ke atas piring hingga menimbulkan dentingan yang keras. Yoona terlihat kaget saat melihat perilaku Jong-hyun.

“Dia tidak aneh,” kata Jong-hyun dengan suara tegas. “Dia hanya memang seperti itu.”

Yoona hanya diam dan menatap Jong-hyun sambil mengernyitkan dahi. Ia tak mengerti dengan maksud Jong-hyun. Ia hendak ingin bertanya lagi, tapi Jong-hyun sudah terlanjur bangkit dari duduknya dan meninggalkannya sendirian di meja makan.

 

***

                Jong-hyun mengamati gadis itu—Yoona—dari atas beranda kamarnya. Gadis itu nampak sibuk di ruang tengah, mengamati beberapa pigura foto besar yang berjejer di dinding putih rumahnya. Beberapa kali, Yoona terlihat mengangguk dan mengelus dagunya, seolah tengah berpikir.

Pria itu lalu disadarkan oleh dering ponsel yang ada di dalam sakunya. Buru-buru Jong-hyun merogoh ponselnya dan melihat layar ponselnya, Ayahnya.

“Halo.” Terdengar suara berat menggema di saluran telepon.

“Ne, aboji?” sahut Jong-hyun, lalu kembali berkonsentrasi memandangi Yoona di lantai bawah.

“Apakah gadis itu sudah bangun?”

“Ne, dia sudah bangun.”

“Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Apakah dia tidak beranggapan buruk tentangmu setelah tahu kau membawanya kerumah?”

“Hm, kurasa begitu.”

“Aku hanya ingin mengingatkanmu soal rencana kita. Ingat, kau harus bersikap baik padanya, jangan membuat dia curiga padamu,” jelas Tae-jin.

Jong-hyun menelan ludah. “Bagaimana jika aku gagal?”

Sunyi.

“Jong-hyun, kau tahu ayahmu ini tak pernah suka dikecewakan. Jadi, lakukanlah yang terbaik!” tukas Tae-jin dengan suara tegas.

Lagi-lagi sunyi. Jong-hyun tak mampu menjawab. Pikirannya sibuk beralih kearah wajah polos Yoona. Ini adalah kali pertamanya Tae-jin memberikan tugas sesulit ini padanya. Selama ini, ia tak pernah melawan jika ia dipaksa menjadi gigolo di klub malam ayahnya, dan juga dipaksa bercinta dengan seorang homoseksual. Walau pun awalnya sulit, tapi perlahan Jong-hyun mulai terbiasa.

Seperti yang selalu ayahnya tekankan, Jong-hyun bukan sedang ‘having sex’ atau ‘free sex’ tapi ‘earn money’. Jadi, setidaknya itu membuat pikiran Jong-hyun sedikit lebih lega jadi ia tak perlu mengambil hati soal pekerjaannya yang dianggap murahan oleh kebanyakan orang.

Tapi soal menjebak seseorang? Menipu? Memperdagangkan manusia? Rasanya terlalu sulit untuk membayangkan seberapa kejinya perbuatan itu. Terlalu keji dan jauh lebih keji daripada menjajahkan diri pada pria dan wanita belang di luar sana.

“Kau masih disana?”

Jong-hyun tersentak kaget. “Ah, ne,” jawabnya gelagapan.

“Ingat, jangan sampai rencana ini gagal! Arasso?”

“Ne!”

Setelah itu Jong-hyun menutup telepon. Ia masih berkonsentrasi dengan Yoona, lalu menguatkan hatinya sendiri. Jika ini bisa menyelamatkan Min-hyuk, aku akan melakukannya.

 

***

                Yoona menyentuh pigura-pigura besar yang tergantung di dinding ruang tengah dengan ujung-ujung jari tangannya. Dingin, batin gadis itu. Di pigura besar itu terpampang foto keluarga Jong-hyun. Ada seorang pria dan wanita—yang sepertinya itulah kedua orangtua Jong-hyun—juga dua remaja pria yang berdiri di belakang mereka sambil tersenyum lebar.

Yoona sedikit merasa aneh melihat wajah Min-hyuk di foto itu. Di foto itu Min-hyuk tidak terlihat seperti kenyataannya. Ia terlihat dewasa dengan balutan jas putih hitam yang membalut tubuh tingginya, rambut disisir rapi, dan ia tersenyum layaknya seorang pemuda bahagia. Tak tersenyum bodoh sama seperti apa yang Yoona lihat beberapa jam yang lalu.

“Aku bisa menebak apa yang ada di pikiranmu sekarang.”

Yoona menoleh ketika mendengar suara Jong-hyun dari belakangnya. Pria itu lalu berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya, ikut memandangi foto itu bersama keluarganya.

“Min-hyuk mengalami keterbelakangan mental ketika ibuku meninggal,” kata Jong-hyun lirih.

Tak tahu harus berkata apa, Yoona memilih diam. Ia menatap pria disampingnya dengan tatapan ingin tahu. Tapi mulutnya tak sanggup untuk bertanya.

“Ibuku meninggal karena kecelakaan mobil. Pihak kepolisian bilang itu murni sebuah kecelakaan, tapi aku menduga ada orang dibalik semua kecelakaan yang merenggut nyawa ibuku.”

Yoona masih diam. Matanya tak berpindah dari wajah Jong-hyun.

“Min-hyuk adalah orang yang paling terpukul atas kejadian ini. Dan setelah itu, dokter memvonisnya mengalami keterbelakangan mental. Maka dari itu, ia bersikap seperti anak-anak.”

Jong-hyun menoleh kearah Yoona, dan membuat gadis itu terlihat kaget dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain. “Aku turun menyesal atas kejadian itu,” kata Yoona terbata-bata.

“Terimakasih.”

“Oh ya,” Yoona mendongakkan kepalanya. “Aku harus segera pulang.”

“Biar aku antar.”

“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Terimakasih untuk sarapannya dan pertolongannya.” Yoona hendak pergi keluar rumah, namun tangannya ditahan oleh Jong-hyun.

“Tidak bisa. Mau tidak mau, kau harus mau aku antar pulang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu,” kata Jong-hyun.

Yoona menelan ludah saat Jong-hyun menatapnya lembut seperti itu. Ia menjilati bibirnya yang mendadak sekering gurun pasir dan akhirnya menjawab dengan susah payah, “Baiklah.”

 

***

                “Ya Tuhan, Yoona! Kemana saja kau semalaman? Mengapa tidak mengabari ibu? Ibu sangat khawatir padamu, sayang!” seru nyonya Im dengan ekspresi khawatir. Ia memeluk anak gadisnya dan mengusap rambut Yoona dengan lembut. Namun, pelukannya tak berlangsung lama ketika ia menyadari ada orang lain bersama Yoona.

“Siapa dia?” bisik nyonya Im sambil melirik kearah Jong-hyun yang berdiri canggung di belakang Yoona.

“Namanya Jong-hyun. Aku pingsan saat di bis kemarin, bu, dan dialah yang menolongku,” jelas Yoona.

Jong-hyun maju beberapa langkah dan mengulurkan tangannya kearah nyonya Im. Dengan antusias, nyonya Im menyambut uluran tangan Jong-hyun dan berjabat tangan dengan pria itu.

“Terimakasih, Jong-hyun. Aku tidak tahu bagaimana nasib Yoona jika saat itu kau tidak menolongnya.”

“Ne, cheonmaneyo,” sahut Jong-hyun sambil tersenyum hangat.

“Masuklah! Bibi akan membuatkanmu teh.”

Jong-hyun menggeleng dan menolak dengan halus. “Tidak usah. Aku masih ada urusan, jadi harus segera kembali.”

Setelah berbasa-basi sebentar dengan nyonya Im dan pamit untuk pulang, Yoona mengantarkan Jong-hyun sampai di depan pagar.

“Terimakasih untuk sarapannya.” Yoona kembali mengulang perkataannya.

Jong-hyun hanya tersenyum tipis dan mengangguk. “Apakah kau sibuk besok?”

“Hm, ne. Aku sedang sibuk mencari lowongan pekerjaan. Ada apa?”

“Baiklah, aku akan menjemputmu besok pagi disini.”

Yoona mengernyit, “Untuk apa?”

“Untuk mengantarmu mencari pekerjaan tentunya.”

“Tapi—”

“Tidak ada kata ‘tapi’. Ingat, aku akan menjemputmu besok, jadi pastikan jangan berdandan terlalu lama,” kata Jong-hyun sambil mengerlingkan matanya.

Yoona mendengus kesal. “Cih.”

Jong-hyun hanya terkekeh pelan lalu masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya menjauh dari rumah itu.

 

***

                Jong-hyun menepikan mobilnya di pinggir jalan begitu mendapat pesan singkat dari ayahnya. Ia menegakkan duduknya di belakang kemudi mobil dan menarik nafas dalam-dalam. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas dashboard.

Dengan jari-jari gemetar, Jong-hyun membuka pesan singkat yang masuk. Jantung Jong-hyun seakan berhenti berdetak dan perutnya seolah diaduk-aduk ketika membaca kalimat-kalimat yang diketik oleh ayahnya. Ia menelan ludah dan melemparkan pandangannya kearah luar jendela mobil, lalu berbicara pada dirinya sendiri.

“Apakah aku benar-benar sanggup melakukan semua kebohongan ini?”

Jong-hyun menghela nafas dan meletakkan kembali ponselnya diatas dashboard dan pulang.

 

***

                Min-hyuk menggosok-gosok matanya dengan pelan dan menoleh kearah jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Ia menguap dan meregangkan ototnya yang kaku, lalu beranjak keluar dari kamar. Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan hanya sepi yang menyambutnya.

“Ibu!” panggilnya dengan suara serak. Tapi tak ada yang menyahut. Hanya suaranya yang menggema.

Min-hyuk mengerutkan alisnya, kebingungan. “Ibu!” panggilnya lagi, kali ini dengan suara jauh lebih keras. Tetapi rumah itu sunyi senyap. Biasanya, tiap Min-hyuk memanggil ibunya, nyonya Lee pasti melongokkan kepala dari salah satu ruangan di rumah itu dan menyahut dengan suara lembut, “Ada apa, sayang?”

Namun sekarang tak ada satu suara pun yang terdengar. Min-hyuk menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan ragu. Ia nampak seperti orang yang hilang ingatan. Keadaannya sangat kacau. Seolah ia benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.

“Ibu! Ibu dimana?” panggilnya lagi, dengan suara sedih. Matanya kali ini tergenang oleh air mata. Dan ia tak tahu kenapa.

Pemuda itu melangkah keluar rumah dan menatap kandang anjing yang ada di samping pekarangan. Min-hyuk ingat dulu pernah memelihara seekor anjing puddle yang dihadiahkan oleh ibu, saat ia pulang bekerja. Dan Min-hyuk pernah menangis dan kesepian setelah anjing kecil itu mati, setelah itu nyonya Lee akan membujuk Min-hyuk dan berjanji pada anak bungsunya akan membelikannya seekor anjing yang jauh lebih lucu lagi. Tapi Min-hyuk tetap menangis.

“Ibu?” Min-hyuk melangkahkan kakinya keatas rerumputan hijau di pekarangan. Langkahnya begitu hati-hati, seolah-olah ada paku yang tersembunyi dibalik rerumputan itu dan bisa saja menancapi kakinya yang telanjang tanpa memakai alas.

Min-hyuk melemparkan pandangannya kesana-kemari dan tak menemukan apa yang ia cari. Ia kembali masuk ke dalam rumah. Langkahnya kini membawanya ke lantai dua, di salah satu kamar yang kini menjadi tempat menyimpan alat-alat olahraga; tapi dulunya adalah kamar nyonya Lee.

“Ibu? Apakah ibu ada di dalam?”

Min-hyuk membuka pintu kamar tidur itu. Kamar itu kosong. Beberapa helai handuk kecil dilipat rapi di salah satu sudut meja. Ada segelas air; sisa milik seseorang yang terletak di atas meja dan telah menguap dari gelas.

“Ibu? Ini aku Min-hyuk,” kata Min-hyuk pada dirinya sendiri di dalam kamar kosong itu, kedua pundaknya terkulai lemah. Di salah satu sudut kecil hati Min-hyuk, ia menyimpan harapan bahwa saat dia melangkah masuk dan berseru, “Ibu!”, nyonya Lee akan menyambutnya seperti dulu, “Oh, ya sayang? Ada apa?”—barang kali sambil sibuk berkutat dengan laptopnya atau sedang menonton TV sambil berbaring.

Tapi ternyata kosong.

Min-hyuk beranjak dari situ dan membuka semua pintu di dalam rumah. “Ibu, apa kau ada di dalam sana?”, Min-hyuk bertanya di setiap pintu. Ia membuka pintu kamar Jong-hyun, pintu kamar tidur tamu, pintu dapur dan pintu ruang pemanas. Baru pertama kali ini Min-hyuk mati-matian mencari ibunya, namun tak menemukannya dimana-mana.

Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai basah. Ia menjambak rambutnya sendiri dan menangis tergugu disana. Dia pun jatuh berlutut di lantai ruang duduk.

 

***

                “PRANG!!!”

Jong-hyun yang baru saja memarkir mobil di garasi, terhenyak kaget mendengar suara barang pecah dari dalam rumahnya. Dengan terburu-buru, ia lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah. Dan lagi-lagi terdengar suara benda berat jatuh ke lantai dan suara itu berasal dari kamar Min-hyuk.

Pria itu berhenti sejenak di depan pintu kamar adiknya dan menyentuh gagang besinya yang dingin, lalu memutarnya dengan perlahan.

“Ya Tuhan, Min-hyuk!” seru Jong-hyun. “Apa yang telah kau lakukan?”

Di lantai kamar telah berhamburan pecahan-pecahan kaca dari patung Bunda Maria yang pernah dibeli oleh ibunya, juga beberapa buku serta bantal dan selimut yang berserakan di mana-mana.

Jong-hyun mencari sosok adiknya yang sedang meringkuh dan bersandar di tepi tempat tidur sambil menangis pilu. Saat ia mencoba mendekati adik laki-lakinya, Min-hyuk malah membentaknya dengan sangat kasar.

“Keluar!”

“Min-hyuk,” panggil Jong-hyun dengan suara lembut.

Pemuda itu terisak dan berusaha mengatur pernafasannya. “Mana ibu? Kemana dia? Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi aku tidak juga menemukannya!”

Jong-hyun tertegun. Ia melangkah pelan kearah Min-hyuk, tapi tiba-tiba pemuda itu bangkit dan meraih tongkat golf dari sudut ruangan dan melayangkannya tepat di depan wajah Jong-hyun.

“Jangan mendekat!” teriaknya dengan nada tinggi, masih terisak.

Jong-hyun mematung. “Min-hyuk, aku mohon,” pintanya dengan suara memelas. “Jangan seperti ini. Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik.”

Min-hyuk menggeleng. “Aku tanya sekali lagi, dimana ibu? Dimana kalian menyembunyikan ibu?”

Jong-hyun menggigit bibirnya dan rasa panas merebak di dadanya. Digosok-gosoknya dadanya dengan tangan kanannya dengan pelan lalu ia menggumam pelan, “Aku akan memberitahumu kemana ibu jika kau berhenti bersikap seperti ini.”

Tangis Min-hyuk perlahan mulai mereda. Pemuda itu lalu menyeka air matanya dengan punggung tangannya lalu mengangguk. Ia kembali meletakkan tongkat golf itu ke lantai dan duduk di tepi tempat tidur, seolah tak terjadi apa-apa barusan.

 

***

                Jong-hyun ikut duduk di tepi tempat tidur Min-hyuk. Ia menatap adiknya pilu dan menyeka sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipinya dan tersenyum hangat. Tapi Min-hyuk tak bereaksi. Ia terus menatap Jong-hyun, dan berharap Jong-hyun segera menjelaskan apa yang sudah terjadi.

“Min-hyuk,” kata Jong-hyun, lembut. “Apa kau tahu bahwa ibu sangat menyayangimu?”

Pemuda itu menggeleng. Jong-hyun mengangguk sekali-dua kali. Dia menarik nafas dalam-dalam, sampai menggigil. Jong-hyun meraih tangan Min-hyuk dan menggenggamnya dengan erat.

“Ketahuilah, Min-hyuk, ibu sangat menyayangimu.”

“Bukan itu yang aku ingin tahu,” sela Min-hyuk. “Dimana ibu berada? Aku tidak melihatnya dari tadi!”

Jong-hyun mengusap pelipisnya dan berkata, “Tidak ada yang tahu dimana ibu berada sekarang. Yang jelas, aku yakin dia sekarang sedang berada di tempat dimana ia bisa mengawasimu.”

Min-hyuk melepaskan tangannya dari genggaman Jong-hyun dan bangkit dari duduknya. Ia berjalan kearah meja belajar dan mengambil sebuah peta besar dari sana.

“Tunjukkan padaku, dimana tempat itu. Tempat dimana ia bisa mengawasiku.” Min-hyuk membuka peta itu lebar-lebar dan meletakkannya di atas tempat tidur.

Jong-hyun hanya duduk memandangi Min-hyuk dalam diam. Tubuhnya mulai bergetar. Tak bisa ia hentikan. Lalu ia sadari, ia mulai menangis, meski ia tak tahu apakah itu karena Min-hyuk atau karena kepergian ibu mereka.

Tiba-tiba saja Min-hyuk mengulurkan tangan dan merangkul pundak Jong-hyun. Pemuda itu menarik lengan Jong-hyun dan ikut menangis. Perlahan-lahan Min-hyuk sudah merasa setengah-tiada, saat meletakkan dagunya di atas bahu Jong-hyun dan terus menangis. Ia merasa sangat lelah. Ia memikirkan ibunya. Ibunya, terkunci di dalam peti dan dimasukkan ke dalam liang lahat. Pemuda itu lalu memejamkan matanya dan tertidur di pelukan Jong-hyun.

 

-TBC-

 

13 thoughts on “‘L’ For Love, ‘L’ For Lies [part 2]

  1. huaaaa minhyuk kasian harus ketemu sosok yg bisa jd ibunya gitu buat mulihin keadaanya. huhu..
    plissss jonhyun jgn jual yoona ke singapur buat jd waanita ga baik ishhhh kasian dia kayanya pny penyakit kan tuh trrus kasia tar ibunya, hikssss.
    bapanya jonghyun nih yg parah jahat hina haduuuuuh. sadarlah pak.

  2. gawat! aku mewek!
    huweeeee~ kenapa minhyuk hrus sakit?! kenapa jonghyun hrus jd gigolo?! kenapa ayahnya jahat?! *author: biar critanya seru* #plaakk

    jd gk bs nyalahin jonghyun klo dy ngejebak yoona,, abisnya kasian minhyukkkkk

  3. terlintas lagu Agnes Monica “Dimana Letak Surga Itu” wkt baca part Minhyuk & Jonghyun di kmr *tears going down*
    lanjut yah, author chingu! ^_^9

  4. annyeong unni^^
    huhu aku bacanya ngejer bgt
    sepertinya taejin bukan ayah kandungnya minhyuk&jonghyun deh-_- kok tega bener yah
    SEMAKIN PENASARAN DENGAN KELANJUTAN CERITANYA!!
    aku lanjut di next chapter dulu unn *bow 180degree*

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s