‘L’ For Love, ‘L’ For Lies [part 3]


 

Author: Tirzsa

Rating: PG-15/NC-17

Genre: Romance, Family, Crime

Main Cast: Lee Jong-hyun ‘CN Blue’, Im Yoona ‘SNSD’

Other Cast: Kang Min-hyuk ‘CN Blue’

Disclaimer: FF ini murni buatan saya sendiri. Nggak pake kata ‘plagiat’. FF ini lebih cepat di publish di http://readfanfiction.wordpress.com/

***

 

                Jong-hyun menempelkan sweater katun biru itu ke wajah dan aroma yang sudah sangat ia kenal langsung menyerbu indra penciumannya, membuatnya tersentak. Dukacita yang amat dalam membuat perutnya seperti diremas-remas, dan hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Ribuan jarum dan peniti seakan menghujani tengkuknya dan tenggorokannya tercekat gumpalan yang nyaris membuatnya tercekik.

Ia memerhatikan ke sekelilingnya. Seluruh penjuru kamar itu sunyi senyap. Ia sendirian. Ibunya sudah pergi dan tidak akan kembali. Itu kenyataan pahit yang harus diterimanya. Dia tidak bisa lagi merasakan kelembutan kulit ibunya saat kulit mereka bersentuhan oleh sebuah pelukan hangat, tidak bisa lagi menangis di pundak ibunya saat ia merasa letih dengan kehidupan ini, dan ‘tidak bisa’ lainnya. Yang tersisa hanyalah segepok kendangan indah, serta bayangan wajahnya yang semakin hari semakin samar.

Jong-hyun mendesah.

Seperti yang terjadi setiap malam selama beberapa minggu terakhir, Jong-hyun baru tertidur menjelang pagi, tapi tidurnya gelisah dan jauh dari pulas. Dan ketika dia baru saja ingin memejamkan matanya yang sudah memerah, dering telepon berbunyi.

“Halo,” jawabnya dengan mengantuk. Suaranya serak karena kebanyakan menangis, tapi dia sudah lama berhenti berusaha memperlihatkan sikap tabah di hadapan orang lain.

“Jong-hyun? Apakah aku mengganggu tidurmu? Mian. Apakah kau baik-baik saja?” Suara Yonghwa, sahabat Jong-hyun yang bernada cemas dan prihatin menggema di saluran telepon. Dia hafal dan tahu betul bahwa Jong-hyun masih tak bisa melepaskan kenangan tentang ibunya.

“Ne, aku tidak apa-apa,” jawabnya datar. Ia mengucek-ngucek matanya dengan bosan.

Jong-hyun hanya bergumam pelan sepanjang percakapan, tidak mendengarkan sepatah kata pun yang diucapkan Yonghwa.

“Hari ini cerah sekali, Jong-hyun. Akan sangat berguna bagimu bila sekali-sekali kau keluar untuk jalan-jalan. Menghirup udara segar.”

“Hm, ne, mungkin.” Itu lagi, menghirup udara segar—seolah itu bisa menjawab semua persoalannya.

Sunyi.

Terdengar helaan nafas Yonghwa. “Apakah kau benar baik-baik saja?”

“Ne, SANGAT baik-baik saja.” Jong-hyun sengajar menekankan kata ‘sangat’ agar dapat meyakinkan Yonghwa.

“Hm. Oh ya, hampir saja aku lupa.”

“Apa lagi?”

“Apa kau ingat laporan yang kau ajukan ke kantor polisi beberapa bulan yang lalu, sejak kematian ibumu?”

“Ne, ada apa?”

Yonghwa berdehem. “Aku dengar, polisi kembali menemukan fakta-fakta baru tentang kecelakaan itu.”

Mata Jong-hyun kontan membulat. Ia memperbaiki posisi duduknya dan fokus. “Oh ya? Apa yang mereka katakan?”

“Aku tidak begitu yakin. Tapi mereka menyebut-nyebut bahwa ada seseorang dibalik kecelakaan yang dialami ibumu.” Yonghwa menarik nafas. “Karena ketika mobil ibumu yang masuk di jurang telah diperbolehkan untuk diperiksa, dan polisi itu menemukan rem mobil ibumu rusak. Entah itu sengaja dirusak oleh seseorang atau bagaimana, aku tidak yakin.”

Gagang telepon kontan terlepas dari tangan Jong-hyun.

 

***

                “Boleh aku masuk?” Yonghwa tersenyum gugup. Ia langsung datang ke rumah Jong-hyun ketika pria itu memintanya.

“Tentu saja. Masuklah!”

“Baiklah.” Yonghwa menggosok-gosokkan sepatu selama dua menit penuh di atas keset sebelum masuk ke rumah.

“Ingin minum sesuatu?”

“Ne, terserah kau saja.” Yonghwa menghembuskan nafas ketika ia mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu yang terasa begitu empuk.

Tak berapa lama kemudian Jong-hyun kembali dari dapur dengan membawa nampan dan segelas air putih. Air wajah Yonghwa seketika merengut melihat Jong-hyun meletakkan air putih itu di atas mejanya.

“Kau bilang terserah, kan?” Jong-hyun tersenyum jahil.

Yonghwa mendengus. “Dasar!”

Jong-hyun hanya terkekeh pelan lalu duduk di tempat yang dipilihnya, di dekat perapian. “Silahkan diminum.”

Yonghwa yang masih terlihat kesal meraih gelasnya kemudian menenggak air putih itu sampai habis. Ia lalu menyeka pinggiran bibirnya yang basah dengan punggung telapak tangannya.

“Jadi, bisa kau jelaskan padaku soal yang ditelepon tadi?” tanya Jong-hyun, langsung to the point.

Yonghwa menghela nafas. “Kemarin detektif Han menghubungiku untuk memberitahukan kabar ini. Oh ya, sebelumnya dia sudah menghubungimu, tapi katanya kau tidak mengangkat teleponnya.”

Jong-hyun berdecak. “Aku memang tidak seharian itu memegang ponselku. Lalu, apa yang ia katakan?”

“Well,” seru Yonghwa, terlalu keras untuk ruangan yang bergema itu, “Mobil ibumu yang dulu menjadi satu-satunya barang bukti kecelakaan itu akhirnya diperiksa beberapa hari yang lalu. Kau ingat, kan, mobil itu entah mengapa ditahan dan tak diijinkan diperiksa oleh pihak kepolisian karena alasan yang kurang jelas? Tapi, atas desakan detektif Han dan beberapa polisi lainnya, akhirnya kepala polisi Seoul mengijinkannya untuk diperiksa.”

Yonghwa menarik nafas dalam-dalam lalu melanjutkan, “Menurut hasil pemeriksaan, rem ibumu rusak. Ada dugaan bahwa rem itu dirusak dengan sengaja, karena kerusakan yang ada disana dinilai terlalu ‘rapi’ untuk ukuran ‘ketidaksengajaan’.”

Jong-hyun terlihat agak kaget, namun ia berusaha mengontrol dirinya. “Jadi, maksudmu, ada orang yang sengaja mencelakai ibuku?”

“Dugaan kami begitu. Tudingan polisi terhadap ibumu yang mengatakan bahwa dia tengah menyetir dalam keadaan mabuk terlihat mengada-ada. Seperti yang kau katakan, ibumu tidak suka dengan alkohol, kan?”

Jong-hyun mengangguk. Ia menundukkan kepalanya dan menatap lantai ubin ruang tamunya sambil mengerutkan alis. Berusaha berpikir keras dan mencerna semua yang dikatakan oleh Yonghwa. Hal yang selama ini ia curigai akhirnya menemukan titik terang.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa tiba-tiba.

Jong-hyun menegakkan kepalanya dan menyahut. “Ne, aku baik-baik saja.”

“Tidak usah terlalu dipikirkan, Jong-hyun. Ini masih dugaan.”

“Ne, aku tahu. Tapi, jika semua fakta itu benar, menurutmu, siapa yang tega melakukan ini pada ibuku?”

Yonghwa mengangkat bahu. “Tak tahu.”

 

***

                Yoona menghembuskan nafas untuk ke sekian kalinya. Ia berdiri di depan pagar rumahnya sambil sibuk mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke atas tanah. Kepala dan matanya tak henti-hentinya menoleh kearah kiri dan kanan, seolah tengah menunggu seseorang akan muncul dari sana. Tapi, ini sudah satu jam sejak ia menunggu, dan seseorang yang ia tunggu tak datang juga.

“Kenapa dia tak datang juga?” gerutunya sambil melirik jam tangannya. Ia mendesah. “Tapi, untuk apa juga aku harus menunggunya?”

Yoona merapikan bajunya lalu hendak berjalan, tapi sesaat kemudian tin, tin! Terdengar suara klakson mobil dari belakang punggungnya. Gadis itu segera menoleh dan mendapati Jong-hyun menjulurkan kepalanya dari balik jendela mobil sambil menyeringai lebar.

“Hei!” sapa pria itu sambil melambaikan tangannya.

Yoona mendengus sambil menaikkan sudut bibirnya dengan kesal. “Cih.” Ia berjalan terus tanpa memedulikan Jong-hyun. Sudah sejam ia menunggu kedatangan pria itu, dan sejam itu cukup membuat kakinya terasa pegal.

Jong-hyun mengerutkan alis, kebingungan. Ia keluar dari mobil lalu berlari menghampiri gadis itu. Berusaha mencegatnya.

“Kau mau kemana?” tanyanya.

“Tentu saja pergi mencari kerja!” kata Yoona ketus. Ia hendak melanjutkan langkahnya, namun Jong-hyun langsung merentangkan tangannya, menghalangi jalan gadis itu.

“Eits. Biar aku antar.”

Yoona menepis tangan Jong-hyun. “Tidak usah!”

“Tidak bisa,” Jong-hyun menarik lengan gadis itu. “Kau harus mau!”

“Hei, lepaskan!” Yoona mencoba memberontak tapi Jong-hyun jauh lebih kuat darinya. Tubuh lemah gadis itu terpaksa ditarik dengan agak kasar hingga masuk ke dalam mobil.

“Kenapa kau selalu melakukan segala sesuatu dengan seenaknya, huh?” protes Yoona sambil mengusap lengannya yang memerah, bekas cengkeraman Jong-hyun.

Jong-hyun memakaikan seatbelt di tubuh gadis itu lalu menatapnya. “Aku hanya khawatir jika kau jatuh pingsan lagi seperti kemarin.”

Yoona menelan ludah. Ia tak menyangka Jong-hyun akan melontarkan jawaban seperti itu.

“Lagipula, kau sebenarnya tadi menunggu, kan?” tanya Jong-hyun.

Wajah Yoona sontak bersemu merah. Ia memalingkan wajah ke luar jendela. “Cih. Untuk apa aku menunggumu? Buang-buang waktu saja.”

Jong-hyun hanya tersenyum lebar. “Oh ya?” Ia lalu menunjuk sepatu Yoona lalu kembali berkata, “Tapi ujung sepatumu yang kotor sudah membuktikan bahwa kau sudah menungguku dari tadi.”

Sontak saja Yoona langsung menyembunyikan kakinya dibawah jok mobil sambil menggerutu. Sementara Jong-hyun hanya terpingkal-pingkal melihat kelakuan gadis itu.

“Jadi,” Jong-hyun berdehem pelan setelah tawanya reda. “Kau sedang mencari pekerjaan, kan? Kebetulan aku punya satu lowongan kerja untukmu.”

“Oh ya?”

“Ne, kebetulan, ayahku punya salah satu kafe di daerah Kaebong-dong. Disana sedang butuh karyawan baru. Aku pikir, kau bisa diterima bekerja disana. Bagaimana?”

Yoona menghela nafas berat. “Tapi, apakah aku benar-benar bisa diterima bekerja disana?”

Jong-hyun mengangkat sebelah alisnya dan menatap Yoona. “Memangnya ada apa? Kenapa kau pesimis seperti itu? Setidaknya, kau bisa membawa nampan, kan? Menjadi pelayan kafe bukanlah pekerjaan sulit.”

“Ne, aku tahu, tapi…” Yoona tak melanjutkan ucapannya. Membuatnya mengingat kejadian itu saja sudah membuatnya pesimis. Yoona dulu bekerja sebagai seorang karyawan di perusahaan iklan. Tapi, sejak ia menderita Vertigo, ia sering jatuh pingsan dan tak masuk kantor. Akibatnya berujung pada pemecatan. Penyakitnya ini jadi satu-satunya alasan untuknya tak diterima bekerja di mana pun. Sudah setahun ini Yoona terus mencari pekerjaan. Karena ia tak mau merepotkan ibunya yang bekerja hanya sebagai seorang pedagang kecil-kecilan.

“Tapi, apa?” Suara berat Jong-hyun membuyarkan lamunan gadis itu.

Yoona cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Aniyo. Bukan apa-apa. Tapi, sebaiknya kita cari saja dulu pekerjaan yang lain, baru ke kafe milik ayahmu. Boleh, kan?”

“Hm. Baiklah, terserah kau saja.”

 

***

                Jong-hyun meneguk air mineral dinginnya sambil mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Ia duduk di bangku depan sebuah hotel sambil sesekali melongokkan kepalanya ke dalam pintu hotel kecil itu. Tak berapa lama kemudian, Yoona keluar dari sana dengan wajah sekusut benang.

“Bagaimana?” tanya Jong-hyun.

Yoona menggeleng lemah.

“Ditolak lagi?”

Yoona mengangguk.

Jong-hyun mendecakkan lidah dan menghela nafas. Ia mendongakkan kepalanya keatas, menatap langit yang mulai gelap. “Sudah malam. Bagaimana kalau kita makan saja dulu?”

“Tapi ibuku sudah—”

“Ya Tuhan, ayolah! Jangan seperti anak SD, kau sudah besar. Tak pantas lagi untuk dicari ibumu jika pulang malam.”

Yoona baru saja ingin kembali melanjutkan kata-katanya, tapi Jong-hyun sudah duluan menarik tangannya menuju mobil.

 

***

                Yoona mengaduk-aduk makanannya dengan tidak bersemangat. Ia sama sekali sedang tak bernafsu untuk makan. Bahkan, perutnya sama sekali tak berteriak sama sekali untuk menuntut haknya seharian ini. Mungkin tubuhnya sudah terlanjur dikuasai oleh pikirannya yang tengah khawatir memikirkan pekerjaannya.

Jong-hyun menatap gadis itu cemas lalu menjetikkan jari-jarinya di depan wajah gadis itu. “Hei? Apakah kau baik-baik saja?”

Yoona mendongakkan kepalanya dan mencoba tersenyum. “Ne, aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?”

Yoona hanya diam, tak menjawab.

Jong-hyun menghela nafas dan meletakkan sendoknya. Ia menangkupkan kedua tangannya di atas meja dan menatap Yoona lekat.

“Tidak usah terlalu memikirkan soal pekerjaan itu. Aku akan membantumu untuk mencari pekerjaan. Ingat, kau masih punya lowongan besar untuk bekerja di kafe milik ayahku.”

Yoona ikut meletakkan garpunya lalu balik menatap Jong-hyun. “Aku tahu. Tapi aku tak mau diterima bekerja disana hanya karena kau adalah anak dari pemilik kafe itu.”

Jong-hyun tertawa kecil. “Tak perlu khawatir. Aku juga tak mau merayu ayahku untuk menerimamu bekerja disana hanya karena aku mengenalmu,” katanya sambil menjulurkan lidah.

“Cih.” Yoona hendak menjitak kepala pria itu, tapi tangannya sudah dikunci oleh cengkeraman tangan Jong-hyun.

“Kau terlihat cantik jika sedang marah seperti ini,” goda Jong-hyun sambil membelai rambut gadis itu sekilas.

Yoona tertegun dan mematung ketika mendapat perlakuan Jong-hyun. Beberapa detik memang, tetapi entah kenapa efeknya mengendap di hati gadis itu. Yoona memang bukan sekali ini dekat dengan seorang pria, tetapi baru sekali ini Yoona merasakan sekujur tubuhnya seperti mendadak lumpuh hanya karena satu sentuhan.

Yoona tak bisa menyangkal lagi. Kedekatan selama dua hari ini bersama pria itu tak hanya mengakrabkan dirinya dengan Jong-hyun. Jong-hyun sepertinya sangat baik dan bersikap sangat perhatian padanya melebihi dari kata ‘teman baru’. Dan Yoona sepertinya sadar akan satu hal bahwa sejak berpisah dari mantan kekasihnya tahun lalu, ia merindukan dan hampir lupa bagaimana rasanya dicintai seorang makhluk bernama ‘pria’. Dan hal itu menyadarkan gadis itu tentang satu hal. Sepertinya… dia jatuh cinta pada Jong-hyun.

 

***

                Jong-hyun baru saja pulang dari mengantarkan Yoona pulang. Ia meregangkan badannya dan punggungnya yang terasa sakit karena seharian ini letih mengemudi mobil untuk menemani Yoona kesana-kemari. Ia memutar gagang pintu rumahnya dan tersentak kaget ketika mendapati ayahnya duduk di ruang tamu sambil membaca sebuah majalah.

“Aboji?” gumamnya.

“Bagaimana?” Tae-jin menutup kembali majalahnya dan meletakkannya di sampingnya. “Apakah ada kemajuan hari ini?”

Jong-hyun melangkahkan kakinya masuk ke rumah. “Ne, kurasa begitu.”

Tae-jin mengernyit tak suka. Ia bangkit lalu menghampiri Jong-hyun. “Jawaban macam apa itu?”

Jong-hyun menelan ludah. “A-a-aku…” Sesaat kemudian Jong-hyun bisa melihat bayangan hitam menampar wajahnya, membuat hidungnya mengucurkan darah segar dari sana. Tamparan Tae-jin cukup membuat pandangan Jong-hyun terasa kabur untuk beberapa detik.

Tae-jin menarik tubuh Jong-hyun dan mencengkeram kerah baju pria itu. “Ingat, Jong-hyun,” bisik Tae-jin dengan suara rendah dan dingin. “Aku tak mau melihat rencana ini gagal. Bagaimana pun juga, kau harus bisa menjebak gadis itu. Ingat, buat ia jatuh cinta padamu, lalu manfaatkan itu agar ia mau menuruti semua perkataanmu.”

Jong-hyun menatap Tae-jin dengan tatapan memohon belas kasihan. “Gadis itu tak bodoh, aboji. Bagaimana jika ia tidak mau menuruti perkataanku? Aku tak berani memaksanya.”

Tae-jin semakin memperkuat cengkeramannya. “Tak ada kata tak bisa, Jong-hyun. Kau tahu, kan, aku paling tak suka dengan kata ‘gagal’.”

Jong-hyun menelan ludah. Jantungnya berdetak keras dan bercampur dalam gerakan kikuknya yang tak beraturan. Ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti perintah Tae-jin. Dan saat itu pula ia bisa merasakan paru-parunya bisa bernafas dengan bebas ketika Tae-jin melepaskan cengkeramannya.

“Bagus,” kata Tae-jin. “Pastikan gadis itu jatuh ke tanganmu.”

 

***

                Jong-hyun sedang meringkuk engan tidak nyaman di kamarnya, di antara dinding dan tempat tidur. Dia mengendap-endap masuk ke tempat itu beberapa saat sebelumnya, dan brusaha menenangkan dirinya, sehingga orang lain tidak akan mendengarnya. Tapi, sepertinya usahanya sia-sia karena tak lama kemudian Min-hyuk masuk dan mengetuk pintu kamarnya yang gelap itu.

“Hyung? Kau ada di dalam, bukan?” Min-hyuk mendorong pintu kamar Jong-hyun dan menjulurkan kepalanya.

Jong-hyun dengan terburu-buru menghapus bekas air matanya dan menyahut. “Ne, aku ada disini.”

Sandal karet Min-hyuk menimbulkan decitan di lantai ketika ia berjalan masuk. Pemuda itu lalu ikut duduk bersama Jong-hyun dan mengamati wajah kakaknya, mengira ada yang tidak beres telah terjadi.

“Ada apa dengan matamu? Kenapa bengkak seperti itu?” tanya Min-hyuk sambil menunjuk-nunjuk.

Jong-hyun tersenyum tipis sambil mengusap-usap matanya—seolah itu bisa menghilangkan bengkak itu dalam sekejap. “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Mungkin hanya kelilipan sedikit dan akhirnya jadi membengkak.”

Min-hyuk mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya terdiam cukup lama. Sesekali Min-hyuk menggosok-gosok jemarinya ke pakaiannya lalu menatap kakaknya yang masih diam.

“Wajah hyung mirip sekali dengan ibu,” kata Min-hyuk tiba-tiba.

Jong-hyun terlihat kaget dan langsung tertawa gugup, “Apa maksudmu?”

Min-hyuk menempelkan ujung-ujung jemarinya di pipi Jong-hyun. “Kulit hyung juga sama halusnya dengan kulit ibu.”

Jong-hyun memandang Min-hyuk lekat-lekat. Selama beberapa saat, Jong-hyun mengira melihat suatu keheranan yang sama di matanya, seperti yang dilihatnya beberapa hari yang lalu saat Min-hyuk terus menggumamkan nama ibunya. Jong-hyun merasa takut, dia mungkin akan tiba-tiba menangis.

“Kita sudah lama tidak bermain trampolin bersama, bukan?” kata Jong-hyun seraya berdiri dan mengenakan sandalnya.

“Tapi diluar sudah gelap. Aku takut.”

“Tidak apa-apa.” Jong-hyun tersenyum hangat dan meraih tangan adiknya. “Ada aku.”

 

***

                Dengan lengan kemejanya, Jong-hyun mengusap keringat yang mengucur. Min-hyuk juga bersimbah peluh sambil terus melompat-lompat di atas trampolin dengan semangat yang nampak tak berkurang barang sedikit pun.

“Ayo, hyung! Ayo!” kata Min-hyuk sambil menarik lengan kakaknya yang terlihat sudah kelelahan.

“Tunggu sebentar,” kata Jong-hyun disela-sela nafasnya yang tersengal. “Aku ingin istirahat sebentar.”

Jong-hyun mengistirahatkan kaki dan tubuhnya sambil duduk di teras rumah, sambil menggunakan tangannya untuk mengipas-ngipas dirinya. Dia tersenyum melihat Min-hyuk yang masih terus melompat-lompat di atas trampolin itu dan menyorak-nyorakkan namanya. “Ayo, hyung! Ayolah!”

“Aku lelah,” sahut Jong-hyun malas.

Namun Min-hyuk tak menyerah. Dia turun dari trampolin itu dan bergerak ke samping Jong-hyun untuk menarik lengannya. Tapi Jong-hyun masih tetap bersikukuh. Tiba-tiba Min-hyuk berhenti menarik lengan kakaknya, lalu tertawa kecil. Jong-hyun pun ikut menatapnya dan entah mengapa tersenyum lebar.

“Ada apa?” Jong-hyun mengusap wajahnya dengan bingung.

Min-hyuk hanya menggeleng. Pemuda itu berlari kearah garasi dan mengambil seember air bekas mencuci mobil lalu kembali menghampiri Jong-hyun.

“Hei, jangan berani lakukan itu!” teriak Jong-hyun panik, seolah bisa membaca pikiran Min-hyuk dan mengetahui apa yang akan hendak Min-hyuk lakukan dengan seember air keruh itu.

Min-hyuk menyeringai lebar dan memercikkan air dari ember itu dengan tangan kananya, sementara Jong-hyun berteriak kecil sambil memejamkan mata. Jong-hyun melupakan tentang air keruh dan kotor itu lalu ikut membalas. Dia berlari kearah Min-hyuk berusaha merebut ember itu dan ikut mencipratkan air itu hingga wajah dan rambut Min-hyuk ikut basah.

Keduanya berteriak-teriak, saling mengejar, basah-basahan, saling bercanda hingga yang terdengar di taman itu hanya gelak tawa bahagia.

 

***

                Yoona berjingkat ke kamar ibunya dan duduk di meja rias yang indah di depan ranjang. Sikat-sikat, sisir, dan botol-botol parfum menutupi permukaannya dan terpantul di cermin besar yang terpasang di dinding atas. Sambil membuka laci-laci kecil di sisi lain meja hias itu satu demi satu, Yoona mencium aroma bedak dank rim yang digunakan ibunya setiap pagi.

Dia menarik sebatang lipstick, membukanya, dan meletakkan tutupnya. Disentuhnya lipstick itu dengan ujung jarinya dan menatap warna merah tua di bibirnya sebelum menghapusnya kembali. Sebuah botol berhias yang berisi parfum kesukaan ibunya berdiri di tengah meja rias. Parfum itu beraroma kesturi mewah yang selalu tersisa di hidung Yoona lama setelah dia berhenti memeluk ibunya dekat ke hatinya. Dia menitikkan isi botol itu di pergelangan tangannya dan mengusapkan parfum di belakang telinga dan di cekungan lehernya.

“Kira-kira, apakah Jong-hyun akan menyukai wangi ini atau tidak, ya?” gumamnya pelan.

Yoona mengambil sisir besar dan mulai menyisir rambut panjangnya menjadi sebuah kuncir ekor kuda yang kencang. Dia melihat ke cermin dan berkedip pada wajah yang menatapnya kembali.

“Dia pasti suka.”

 

-TBC-

15 thoughts on “‘L’ For Love, ‘L’ For Lies [part 3]

  1. kyaaaaaaaa itu minhyuk bahagia bgt kayanya maen ma jonghyun hhe..
    huffft yoona udh mulai suka tuh ma jonghyun awww awwww…
    bener2 dahhhh pengen pukul bapanya di jonghyun itu bentar2 kerjanya mukulin jonghyun maksa2 ishhhhhhhhh… pasti ada penyebabnya dia kaya gitu hmmm…
    siapa sihdibalik meninggalnya ibunya jonghyun itu hhmmmm kok aku curiganya ma bapanya jonghyun ya????
    semogggaaaa cepet terungkap..
    trus trus semoga sebelum yoona dijadiin wanita ga baik2 trus dijual m semoga jonghyun keburu seka ma yoona jg jadinya ga jd tuhhhh hhhehe
    lanjut deh ahhhh…

  2. bapaknya jahat nih, dikit-dikit mukulin -_-
    dan kayaknya yoona udah mulai kepincut sama jonghyun… oh well, siapa juga yang ga bakal kepincut jonghyun? *apasih*
    bapaknya pinter juga manfaatin jonghyun buat ngedapetin yoona… *ngangguk-ngangguk*

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s