No One Get the Ideal [Chapter 9]

Author : nayom 

Rating : G

Length : Chaptered

Genre : Romance, Friendship

Cast :

–          Kang Minhyuk

–          Lee Jonghyun

–          Jung Yonghwa

–          Yuri SNSD

–          Yoona SNSD

–          Seohyun SNSD

Disclaimer : Ide dan alur cerita milik saya. Mohon maaf kalau ada kesamaan alur dengan cerita lain.

Note : Huwaaa~ mian kelamaan update-nya (terlalu lama), udah kuliah sih (alesssaan) hehe. Ini FF mau aku buat end di chapter 10 jadi dengan terpaksa Jungshin ditiadakan di chapter ini dan mungkin chapter berikutnya karena kisahnya Jungshin masih terlalu panjang untuk mencapai ending. Akhir kata, enjoy~ ^^

*********

Minhyuk terdiam sejenak, alisnya mengernyit dan mulutnya sedikit menganga, saking terkejutnya. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya secara tiba-tiba. Cukup menimbulkan suara yang mengundang orang-orang di sekitar mereka menoleh.

“Kita harus temui Jonghyun-hyung sekarang.”

Yuri terkejut melihat Minhyuk yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan menyadari beberapa pasang mata yang menoleh ke arah mereka, “Untuk apa?”

“Hm..” Minhyuk bingung sendiri memikirkan jawaban yang tepat.

Alih-alih menjawab, Minhyuk malah mengajak Yuri, “Ayo, Yuri.”

“Minhyuk, duduk dulu. Lihat itu, orang-orang melihat ke arah kita.” Yuri sedikit berbisik.

Minhyuk melihat sekelilingnya, tampak beberapa pasang mata melihatnya. Ia memutuskan untuk duduk.

“Jadi, Jonghyun-hyung pernah..” Minhyuk sangat penasaran, tapi tak rela menyelesaikan kalimatnya.

Yuri hanya mengangguk sebagai jawaban. Minhyuk berharap Yuri memaki-maki Jonghyun atau menjuluki Jonghyun orang jahatdi depanMinhyuk. Paling tidak itu sesuai dengan gambaran watak Yuri bagi Minhyuk, tapi Yuri justru terlihat sedih atau kecewa atau malu bagi Minhyuk. Itu berarti Jonghyun sudah terlalu jauh masuk ke kehidupan Yuri.

“Kau sudah menamparnya?”

“Apa-apaan itu?” Yuri justru terkejut dengan pertanyaan Minhyuk.

“Atau menerornya? Atau mempersiapkan balas dendam?”

“Minhyukie!”

“Atau.. kau justru menampar Yoona, bukan Jonghyun?” Minhyuk terus menerka-nerka, berharap salah satu jawabannya mendapat jawaban iya. Akan lebih baik bagi Minhyuk jika Yuri menjadi orang jahat kebanyakan daripada menjadi orang yang terpuruk.

“Minhyuk.” kata Yuri tenang, seperti bukan Yuri yang Minhyuk kenal.

Tambahnya, “Aku justru lebih membenci diriku sendiri.”

Minhyuk mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti bagaimana cara yeoja berpikir, terutama yeoja di hadapannya. Ia memberi tanda seolah meminta Yuri melanjutkan ceritanya.

“Aku benci telah percaya pada Jonghyun, juga telah membiarkan diriku menyukainya, membiarkan dia menciumku, membiarkan diriku percaya kepadanya.”

“Itu bukan salahmu. Itu salah Jonghyun-hyung. Harusnya kau benci dia.”

“Orang lain tidak pernah bersalah. Yang bersalah adalah diri kita sendiri dan keputusan yang kita ambil.”

“Motto hidupmu itu bisa membawa dirimu ke neraka, Yuri. Karena itu berarti kau selalu bersalah sepanjang hidupmu.”

Tawa Yuri meledak mendengar perkataan Minhyuk, “Kau ini melucu ya?”

“Ya! Yuri! Aku tidak melucu. Aku kan menyuarakan opiniku. Jangan tertawa.”

Ddrrrt..ddrrrt..

Masih tertawa, Yuri meraih ponsel di sakunya. Tawanya terhenti begitu melihat layar ponselnya.

Minhyuk yang menyadari kejanggalan itu bertanya, “Dari siapa?”

***

“Kenapa dari tadi kau sibuk dengan ponselmu?” tanya Jonghyun.

Yoona tidak menjawab, ia tetap saja sibuk dengan ponselnya. Ia kemudian terlihat menelepon seseorang, namun tidak ada respon.

“Haa.. Yuri-unnie kenapa sih?” gerutu Yoona.

***

Yonghwa melangkah dengan semangat dan senyum yang terpeta di wajahnya. Tangannya menggengam sebuah CD yang dihiasi pita berwarna merah muda. Langkah begitu pasti menuju kelas dimana Seohyun berada sebelum kelas berikutnya dimulai. Tidak seperti biasa, hari itu Yonghwa tidak bisa menjemput Seohyun ke kampus karena ia sudah lebih dulu berada di kampus untuk tugas kuliahnya.

Namun, langkahnya yang cepat mendadak berhenti saat melihat Seohyun di ujung lain dari koridor bersama dengan seorang namja yang Yonghwa ketahui telah lulus dari universitas mereka, Jungmo. Seohyun terlihat tertawa begitu bahagianya lalu membungkuk dan melambai mengiringi perginya Jungmo. Seohyun kemudian berbalik berjalan menuju kelasnya. Sementara di ujung yang lain, Yonghwa terlihat tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya. Langkahnya kini pelan. Awalnya sempat terpikir olehnya untuk mengurungkan niatnya untuk memberikan CD di tangannya pada Seohyun, tapi langkahnya meski gontai tetap berjalan menuju kelas Seohyun.

Baru saja Yonghwa menampakkan kepalanya di pintu kelas, Seohyun sudah menyambutnya dengan riang seperti biasa.

“Yo~ong oppa!”

Mendengarnya, Yonghwa tersenyum namun bukan senyum yang tulus.

“Ini.” Tanpa basa-basi Yonghwa mengulurkan CD di tangannya pada Seohyun.

“Waa.. Oppa, apa ini CD lagu?”

“Ne.”

“Lagu ciptaanmu?”

“Ne.” Yonghwa hanya menjawab singkat.

“Oppa, kau kenapa? Kau belum sarapan ya?”

“Sudah, Hyun.” jawab Yonghwa berusaha bersikap seperti biasanya.

“Aku ke kelasku sekarang ya.”

“Ne, Oppa. Annyeong.”

Seohyun bingung melihat tingkah Yonghwa yang tidak seperti biasanya, ada apa dengannya?

***

“Unnie!” Yoona memanggil Yuri yang berjarak beberapa meter di hadapannya.

Yoona tidak yakin Yuri mendengarnya atau tidak, namun terlihat olehnya langkah Yuri semakin cepat.

“Yuri-unnie!” Kali ini Yoona memanggil Yuri lebih kencang, namun Yuri tetap tidak menoleh dan berjalan cepat.

Yuri, di sisi lain, sebenarnya mendengar Yoona memanggilnya, namun ia tidak mau bicara dengan Yoona –paling tidak untuk saat ini– sampai dirinya siap untuk memaafkan Yoona dan Jonghyun dan bersikap seolah tidak ada hal apapun terjadi.

Yuri masih berjalan dengan langkah cepat, saat tiba-tiba sebuah tangan meraihnya.

“Minhyukie!” Yuri tersentak.

“Kenapa jalannya buru-buru sekali?”

“Tidak apa-apa. Aku harus cari bahan kuliah sekarang. Annyeong~”

“Tunggu.” Minhyuk menahan Yuri, Yuri membalas dengan tatapan ‘ada apa lagi?’

“Lebih baik katakan saja pada Yoona. Sayang sekali kalau persahabatan kalian rusak hanya karena Jonghyun.”

Tampak di kejauhan, Yoona sedang mendekat ke arah Yuri dan Minhyuk. Nampaknya, sedari tadi Yoona masih mencari Yuri.

“Oke. Akan kukatakan padanya.” kata Yuri, kemudian menghela napas.

Melihat itu, Minhyuk bergurau, “Kau terlihat lebih gugup dari orang yang akan menyatakan cinta.”

Yuri memukul pelan lengan Minhyuk, “Tidak pernah menyatakan cinta saja, tidak usah komentar.”

Tepat setelah Yuri meredakan kegugupannya –salah satunya karena gurauan Minhyuk– Yoona sudah mencapai tempat Yuri berdiri.

“Unnie!” Yoona tampak sedikit terengah-engah setelah berlari.

“Kau kenapa sih? Aku panggil, tidak menyahut. Aku telepon, tidak diangkat.”

“Aku ada sedikit masalah, Yoona-yah.”

“Unnie kenapa tidak cerita? Ayo ceritakan.”

“Jangan sekarang. Nanti malam ya? Jam 7.”

***

Malam itu pukul 7, sesuai janji Yuri pada Yoona, mereka bertemu di sebuah kedai kecil. Yoona nampak duduk di sudut kedai itu menunggu Yuri. Rasa penasaran telah mengantarnya datang lebih cepat dari janji.

“Unnie!” Yoona melambaikan tangannya pada sesosok yeoja di pintu masuk kedai.

Yuri mengambil langkah menuju tempat Yoona duduk. Keduanya kemudian berbincang kecil seperti yang biasa mereka lakukan seakan lupa bahwa ada suatu masalah menghalangi mereka, tapi Yoona tidak lupa.

“Unnie, kau ada masalah apa? Ceritakan saja padaku.”

“Ah! Itu. Ehm..” Yuri tampak menimbang-nimbang perkataannya.

“Masalahnya rumit?”

“Bisa dibilang.”

“Ceritakan saja semuanya, aku akan membantumu.”

“Oke.” Yuri kemudian menarik napas.

Tambahnya, “Aku melihatmu berciuman dengan Jonghyun di malam gladi resik pentas kampus.”

Yoona tampak sedikit terkejut, “Apa kau menyukai Jonghyun, Unnie?”

Yuri terdiam sejenak, kembali menimbang perkataannya, “Harus kukatakan, iya.”

“Unnie, aku sungguh-sungguh tidak tahu. Kau.. Jonghyun.. aku tidak.. maafkan aku.” Yoona tidak sanggup menyusun kata-katanya.

“Tidak apa-apa, Yoona-yah. Sungguh tidak apa-apa.”

“Unnie, kalau aku tahu kau suka pada Jonghyun dari awal, hal itu tidak terjadi. Lagipula saat itu, Jonghyun yang..” Yoona berhenti sejenak, “Kami tidak ada hubungan apa-apa, aku bahkan tidak menyukainya.”

“Justru kalau kau dan Jonghyun saling menyukai, aku akan sangat senang. Kalian berdua adalah teman terbaikku. Mana mungkin aku tidak senang jika kalian bersama.”

“Kalau begini, masalahnya ada padaku. Aku benar-benar minta maaf, Unnie.”

“Bukan itu masalahnya, Yoona.”

“Lalu?”

“Kalau aku tahu kalian saling menyukai, di sisi lain Jonghyun dan aku tidak ada hubungan apa-apa, maka aku akan biasa saja menyikapinya. Tapi, Jonghyun telah..”

“Telah menyatakan perasaan padamu?”

“Mungkin. Dia juga menciumku.”

Yoona semakin terkejut mendengarnya. Serpihan kenangan tentang dirinya, Jonghyun, dan Yuri memenuhi kepalanya. Jonghyun yang ia kenal sebagai namja terbaik sepanjang hidupnya, kini ia dengar telah mempermainkan perasaan seorang yeoja yang notabene adalah sahabat terbaiknya.

Yuri mulai meneteskan air mata. Yoona pun tak kalah sedihnya dengan sahabatnya, ia turut pula menangis. Mereka berdua saling merangkul dan menangis lirih tanpa kata. Tak perlu dijelaskan, mereka merasakan kesedihan yang sama, kesedihan akan nasib diri sendiri dan juga sahabat karena seorang namja. Ya, hanya karena seorang namja, menyedihkan.

***

Yonghwa melangkah dengan tergesa-gesa menuju rumah Seohyun. Ia tahu ia terlambat untuk menjemput Seohyun. Di antara langkahnya, sempat ia mengutuki dirinya yang belum juga memiliki SIM sehingga tidak bisa dengan leluasa mengantar jemput Seohyun dengan mobil yang terparkir manis di rumahnya.

Tepat saat Yonghwa berbelok di tikungan terakhir, nampak Seohyun sedang memasuki mobil SUV hitam yang kemudian pintunya ditutup oleh seorang namja. Yonghwa berusaha mengingat nama laki-laki yang ia lihat bersama kekasihnya. Kyuhyun! Spontan nama itu muncul dan ia yakin betul laki-laki itu pasti Kyuhyun.

Kyuhyun masuk ke dalam mobil setelah mempersilahkan Seohyun masuk terlebih dahulu. Mobil yang Kyuhyun kendarai kemudian melaju melewati Yonghwa yang masih di tikungan. Yonghwa terus memperhatikan mobil itu hingga lenyap dari pandangannya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju halte. Langkahnya mengiringi tanya di benaknya, apa dirinya salah menilai Seohyun selama ini?

***

Yoona melangkah keluar begitu kelas usai. Bukan harapannya, Jonghyun terlihat sedang menunggu dirinya dan melambai padanya saat matanya menangkap sosok Jonghyun. Sebenarnya, Yoona ingin sekali melarikan diri dan meninggalkan Jonghyun seperti orang bodoh, tapi ia teringat akan Yuri.

“Annyeong. Kau menungguku pulang?” tanya Yoona santai.

“Tentu saja. Kajja.” Jonghyun nyengir. Ia tidak menyangka bahwa Yoona akan menyambutnya.

“Aku pulang sendiri. Aku tidak mau pulang dengan seorang player.”

Yoona berjalan santai melewati Jonghyun yang jadi bingung karena perkataannya.

“Yoona, tunggu! Apa maksudmu?”

“Mencium Yuri-unnie, besoknya menciumku paksa. Kau pikir kami mainan?”

Meski perkataannya mengandung kebencian, Yoona terlihat santai. Ia lalu melenggang pergi meninggalkan Jonghyun. Lagi, Jonghyun berpikir keras.

***

“Yuri!”

Tanpa menoleh, Yuri langsung berlari menjauhi sumber suara. Ini sudah ketujuh kalinya dalam tiga hari terakhir Yuri menjauhi si pemilik suara. Ia masuk ke dalam perpustakaan, pikirnya orang itu tidak akan berani berteriak-teriak memanggilnya di dalam perpustakaan.

Yuri berjalan menyusuri rak-rak buku yang tingginya mungkin lebih dari dua kali tinggi badannya. Ia berjalan acak, siapa tahu orang yang ia hindari itu jadi bingung mencarinya. Meski ia akui strateginya brilian, namun jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan adrenalin yang tinggi dalam hal pengejaran semacam ini.

Sampai di satu sudut, lengan Yuri mendadak ditarik oleh seseorang. Jantungnya yang tadi berdegup kencang seakan hendak naik ke kerongkongannya saking kagetnya. Ia hampir berteriak kencang, namun tangan yang lain dari si penarik dirinya menutup mulutnya.

“Ssst.” seru si penarik Yuri.

“Minhyuk-ah! Jantungku hampir keluar!” kata Yuri setelah Minhyuk melepaskan satu tangannya dari mulut Yuri.

“Kau lari dari Jonghyun-hyung lagi ya?” kata Minhyuk, tangannya masih menggenggam lengan Yuri seperti saat ia menarik Yuri tadi.

Yuri menolak menjawab.

“Dengar, Yuri.”

Tanpa sadar, Minhyuk membuat Yuri sedikit terdorong ke dinding di belakangnya. Yuri masih diam, namun jantungnya yang hampir keluar tadi berdegup kencang lagi.

“Kau harus menghadapinya. Katakan segalanya sekarang, maka tidak akan ada lagi masalah antara kau, Jonghyun-hyung, dan Yoona..”

Tiba-tiba, sosok yang Yuri hindari muncul. Jonghyun akhirnya menemukan Yuri. Alih-alih memanggil Yuri, Jonghyun terdiam sejenak melihat Yuri dan Minhyuk yang berjarak dekat.

“Ayo kita bicara.” ujar Yuri.

***

From : Yo~ong Oppa.

Hyu~un kau dimana?

From : Hyu~un Buin.

Aku di perpustakaan, Yo~ong.

Segera setelah membaca pesan itu,Yong memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melangkahkan kakinya ke perpustakaan. Rasanya sudah lama Yonghwa dan Seohyun tidak bertemu sejak Yonghwa sibuk dengan tugas besar kuliahnya sehingga ia tidak sempat meluangkan waktunya dengan Seohyun.

Begitu membuka pintu perpustakaan, nampak sosok yang ia nantikan sedang duduk dengan buku-buku yang tertumpuk di depannya. Namun belakangan kekecewaan meliputinya saat melihat sosok itu, Seohyun, tidak duduk sendiri melainkan ditemani oleh seorang namja yang ia kenali bernama Jinwoon.

Seohyun dan Jinwoon menoleh ke arah datangnya Yonghwa. Jinwoon kemudian tersenyum tipis pada Seohyun dan beralih meninggalkan perpustakaan. Sementara itu, Yonghwa yang perasaannya sudah tak karuan memilih duduk di hadapan Seohyun bukan di kursi tempat Jinwoon duduk sebelumnya di samping Seohyun.

“Annyeong, Oppa. Kau sudah makan?”

“Sudah.” jawab Yonghwa tidak sesuai dengan kenyataan bahwa dirinya belum makan. Awalnya ia berniat mengajak Seohyun makan bersama.

“Ah, aku belum makan. Kukira kau belum makan, kau terlihat lesu, Oppa.”

“Kenapa kau tidak makan bersama Jinwoon saja tadi?”

“Ah iya betul juga.” kata Seohyun bermaksud bercanda.

Namun, Yonghwa mengartikannya sebagai hal yang sungguh-sungguh dimaksudkan Seohyun.

“Hyun, kupikir aku telah salah menilaimu.”

Raut ramah Seohyun dalam sekejap pudar dan digantikan dengan raut kebingungan.

“Maksud Oppa?”

“Kau tidak sungguh-sungguh menerimaku.”

Seohyun mengernyitkan dahinya.

“Mungkin saat itu kau menerimaku agar aku tidak dipermalukan di depan orang banyak.”

Seohyun mulai mengerti arah pembicaraan Yonghwa, “Oppa, kenapa kau bisa berkata seperti itu?”

“Yah, kau tidak sepenuhnya membutuhkan aku. Tidak harus aku yang menjemputmu dari rumah, mengantarmu ke kelas, atau menemanimu belajar.”

Yonghwa menunduk. Ia tidak berani menatap Seohyun selagi mengutarakan pikirannya karena hatinya terus berkata bahwa Seohyun akan terluka bila ia mengungkapkan pikirannya. Namun ia harus mengatakannya, bukti yang terlihat sudah cukup. Siapa tahu pemikirannya yang salah atau kata hatinya yang salah selama ini.

Sementara itu di depan Yonghwa, Seohyun terdiam, bibirnya bergetar, hatinya juga. Ia bisa merasakan butiran air yang hendak keluar dari matanya, namun ia menahannya.

“Apa maksudmu.. kita.. kau ingin mengakhiri hubungan kita?” Seohyun berusaha menutupi suaranya yang bergetar, juga hatinya yang bergetar karena perasaan takut mendengar kata ‘ya’ dari mulut Yonghwa.

Yonghwa terdiam sejenak.

“Entahlah, Hyun. Kupikir hanya aku saja yang terlalu menyukaimu, selalu menemanimu, selalu memberikan ini dan itu untukmu. Bukannya aku mengharapkan imbalan, tapi aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kau pikirkan dan rasakan tentang diriku.”

Yonghwa masih menunduk, tidak kuasa menatap yeoja yang ia cintai di hadapannya. Sementara itu, Seohyun berusaha mengatur napasnya berharap hal itu membantunya mengendalikan air mata yang hendak keluar.

Yonghwa memilih memecahkan keheningan, “Kupikir kita butuh waktu. Waktu untuk memikirkan hubungan ini.”

Yonghwa kemudian beranjak dari tempatnya meninggalkan perpustakaan, meninggalkan Seohyun. Seohyun yang sedari tadi menahan butiran air yang hendak keluar dari matanya, paling tidak di depan Yonghwa. Kini butiran-butiran air itu sudah membasahi pipinya.

***

Satu bulan berlalu sejak kesalahan yang Jonghyun lakukan. Meski telah mendapat pernyataan dimaafkan dari Yuri, Yoona masih menolak bicara dengan Jonghyun.

Hari jumat pagi itu terasa seperti jumat-jumat biasanya, tetapi tidak seperti pagi-pagi biasanya selama satu bulan ini. Ia mengecek ponselnya dan tidak menemukan satu pesan pun yang belum ia buka. Yoona mengecek kembali, siapa tahu semalam tanpa sadar ia telah membuka pesan yang selalu ia terima setiap malam. Tapi benar saja tidak ada pesan yang belum ia buka.

“Baguslah.” gumamnya.

Tapi kemudian ia memandangi lagi ponselnya dan berpikir mengapa orang itu tidak lagi mengiriminya pesan setiap malam.

“Apa dia lupa?” Yoona menggelengkan kepalanya, tidak mungkin pikirnya.

“Apa dia menyerah?” Meski Yoona tidak pernah membalas pesan itu, Yoona tahu bahwa orang itu tidak akan menyerah.

“Tunggu. Apa dia benar-benar menyerah?”

Yoona tidak tahu harus senang atau sedih atau mungkin keduanya saat mengakui pikirannya bahwa orang itu benar-benar menyerah karena sikap Yoona. Bingung memikirannya, Yoona beranjak dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Saat melewati kulkas, ia melihat sebuah pesan yang ditulis ayahnya.

Im Yoona, appa pergi ke Jepang. Appa tidak sempat bilang padamu. Jaga dirimu baik-baik ya.

PS : Di ruang tengah, ada sebuah paket untukmu, appa tidak tahu dari siapa.

Yoona melemparkan pandangannya ke ruang tengah dan nampak olehnya sebuah bingkisan berbentuk kotak terletak di atas meja.

Segera setelah ia meminum segelas air di tangannya, ia mengambil bingkisan kotak untuknya dan membawanya ke kamar. Ia membuka bungkusnya dengan malas karena sudah tahu siapa pengirimnya, pastilah orang yang tidak mengiriminya pesan lagi itu. Ia lalu membuka surat yang tersemat dan membacanya. Benar saja dugaannya, si pemilik tulisan di surat itu adalah orang itu.

HIM YOONA!

“Tch, enak saja dia memanggilku begitu.” gerutu Yoona.

Kkk, mian aku memanggilmu begitu. Tapi dengan begitu kau jadi ingat masa-masa SMP kitakan? Yoona-yah, aku harap kau jangan marah lagi padaku. Kau tahu kan bahwa masalahku dan Yuri sudah terselesaikan? Aku dan Yuri sudah berteman lagi. Aku akui kesalahanku padamu dan Yuri. Kau tahu kan bahwa aku ini bodoh. Itu juga salah kalian berdua karena kalian berdua sangat mirip sehingga sulit kubedakan, kkk.

“Pabo!” gumam Yoona.

Kau juga tahu kan bahwa aku selalu menepati janjiku padamu. Meski aku pergi ke Busan, tapi aku tetap saja kembali ke Seoul. Aku juga selalu mengingatmu, tapi siapa yang tahu ternyata kesalahpahaman terjadi. Kau kira aku pergi tanpa pamit? Itu salah ayahmu, kkk.

Yoona-yah, sekarang kita sudah dewasa. Kau dan aku bukan bocah ingusan seperti kata ayahmu dulu. Aku juga bukan orang yang tidak bertanggung jawab seperti yang kau pikirkan selama empat tahun ini. Tidakkah kau berpikir kalau kita bisa memulai kisah baru?

“Kisah baru?” gumam Yoona.

Maksudku, aku berharap kau mau membuka lagi hatimu untukku. Kau tahu, tidak ada lagi halangan bagi kita seperti dulu. Ayahmu tidak bisa lagi menggunakan alasan usia kita, juga tidak ada Taecyeon, masalahku dengan Yuri juga sudah selesai. Hanya satu yang kuharapkan, kepastian darimu. Kau tahu, aku lelah mengejarmu setiap hari di kampus atau mengirimimu pesan tapi tidak mendapat balasan. Lama kelamaan aku juga bisa saja menyerah, Yoona-yah.

Kotak yang kukirimkan padamu berisi semua kenangan kita yang kusimpan.

Yoona membuka kotak di hadapannya dengan antusias. Benar saja kata Jonghyun, kotak itu berisi tiket bioskop, bola tenis, tali sepatu, buku, dan semua benda kenangan mengenai mereka berdua.

Hari senin besok, aku akan ke Busan mengikuti final kejuaraan renang nasional bersama tim dari kampus kita. Keretaku akan berangkat pukul 4 sore. Aku minta jawabanmu di hari itu sebelum aku pergi. Kalau kau bersedia memulai kisah baru denganku, kembalikanlah kotak yang kukirimkan padamu itu. Kalau kau memilih tidak, mau kau apakan kotak itu terserah. Entah kau buang atau kau bakar, tidak ada gunanya lagi bagiku untuk mengingatmu jika kau menolakku di dalam kehidupanmu.

Jadi, kutunggu kau hari senin nanti sebelum jam 4 sore ^^

                                                                                                                                                                      Jonghyun

Yoona melipat kembali kertas di tangannya dan melemparkan pandangannya pada segelintir barang di dalam kotak di hadapannya.

Memulai kisah baru? Kedengarannya tidak mudah.

*********

23 thoughts on “No One Get the Ideal [Chapter 9]

  1. yaaaahhh ending nya nanggung banget ..
    padahal udah di tungguin banget X((

    yonghwa sabar yaaa..
    ngerti banget perasaannya yonghwa..
    pernah ngalamin soal nya :p

    tp thx udah di bikin ending nya🙂

  2. sekian lama aq menunggu akhir’a datang jg,,,he3

    klo bnr2 abang hyun player,,,,,,,sakit hati aq,,,,,wkwkwkwkwkkwkw

    oppa n seohyun jngn marah2’an donk,,,,,,cpt baikkan ye!!!!
    krena di chapter ini jungshin g ada jd penasaran ending’a ma spa?
    lanjuttttttt author ^o^

  3. Sebenernya kurang setuju jonghyun ma yoona tp itu trserah author, bagaimanapun ak akn slalu baca ff ini smp akhr ^^

    Yongseo jjang!!!

  4. akhir’yaaa.. muncul jg ni ff
    hehehe
    wach,, kasian itu seohyun
    yong oppa,, jgn marah sma seo dong mngkin drimu salah paham.. hehehe
    lanjuuuuutttt

  5. WWHHHAAAAAAAAAATTT????!!!!!! SEMUA KACAU, INI ITU KACAU!! yongseo salah paham, jonghyun minta balikan, yuri minhyuk COMPLICATED! Auhor good job ^^

  6. aku jg nunggu ff ni banget ^^
    semuanya kacau… ah, aku geregetan ><
    jonghyun sih, yoona djaga yuri diembat (?), jadi serba salah kan tuh jadinya…
    minhyuk sm yuri ajaaaaaa😀
    yonghwa, tabahkan hatimu nak (?)
    jungshin, aku menunggu kisahmu😀

  7. sebenarnya aku udah baca ini pas ff ini muncul. ternyata lupa komen..
    mau komen apa ya?? tuh kan lupa.
    tapi yg jelas aku suka, penasaran sama endingnya..
    ditunggu lanjutannya🙂

  8. Stelah lma menunggu akhirnya muncul juga!!!
    Penasaran stngh mati wktu akhir part 8!!
    Jonghyun-Yoona udh hampir selesai..
    Yonghwa-Seohyun makin bnyk aj konfliknya..
    Minhyuk-Yuri kapan sih pacarannya??? #marahgakjelas

    dtunggu lanjutannya ya..!!

  9. Baru liat ff ini terus ngebut baca dari chapter 1 sampe 9. kyaaa penuh lika-liku #plaak. jadi jonghyun minta balikan gitu ya. semoga yuri sama minhyuk. seohyun-yonghwa cepet baikan.

    ditunggu part berikutnya author🙂

  10. Toorr lnjut Part 10’a mna? Minhyuk Yuri gmna? YongSeo gmna nsib’a… Ayolh jgn bkin aq pnasarn gntung2 gni….

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s