Scar

 

Theme : Autumn

Author : Han Yeri / @etasyari

Rate : All age

Genre : Romance

Cast :

  • Jung Yonghwa
  • Lee Chaerin (CL)

Disclaimer : imajinasi muncul waktu dengerin lagu Oh Mum – Top BigBang sama lagunya FT. Island yang Sarangun Hajiman

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER YA….. ^^v

 

-Jung Yonghwa POV-

 

Sakit rasanya saat membuka mata dan tersadar bahwa dia tak ada lagi. Lebih baik mata ini tertutup selamanya, percuma jika aku tak dapat mencarimu kemanapun di Bima Sakti ini.

“Tuan muda, sarapan Anda sudah siap,” ujar salah seorang pelayan dengan sangat sopan.

Aku tidak butuh semua ini. Semua barang mewah, rumah yang megah, semua hal yang hanya membuatku muak. Aku hanya haus.. Anni.. Bukan tenggorokanku, tapi jiwa.. Jiwaku sangat haus.

Sekarang, aku hanya bisa meratapi kehampaanku. Di balkon kamar dengan sepoi-an angin musim gugur, berusaha menghindar dari dunia kepedihan di balik balkon ini.

Saat ini satu tahun setelah kepergianmu, di musim gugur lalu. Aku bahkan tak percaya aku masih sanggup hidup. Meski dengan sakit yang amat sangat di jiwa ini. Bahkan rasa sakit ini menyeruak saat mengingat bahwa diri ini mampu bernafas. Breath..

Sudah kucoba berbagai macam cara untuk melupakanmu, aku ikuti semua kata orang, mereka bilang dengan mencari penggatimu maka aku bisa melupakanmu, tapi nyatanya.. Tidak! Sama sekali tidak! Bahkan batinku berkali-kali lipat lebih hancur, jeongmal appoyo..

 

‘Tuk!’

 

“Ah.. Apa ini? Cock?” rangkaian bulu-bulu kecil mengenai kepalaku.

“Yaa.. Chogiyo.. Mianadha.. Bisa kau lempar kembali benda itu?” teriak seorang yeoja dari taman bawah balkon.

Siapa yang berani-beraninya bermain bulu tangkis di tamanku?

“Yaa! Jinja..,” aku menggagalkan rencana umpatanku pada yeoja itu.

Wajah itu.. Aku mengenalnya.. Sangat familiar di dunia imajinku. Rasanya seperti seluruh aliran darahku naik ke kepala, jantungku berdegub cepat tak beraturan. Ige mwoyeyo?

“Waeyo? palli lempar saja benda itu,” seru yeoja itu.

“Mina? Hong Mina?” bibirku bergerak masih tak percaya.

“Chogiyo? Siapa Hong Mina? Jebal lempar saja benda itu,” sahutnya.

Geure! Tentu saja bukan.. Mana mungkin yang sudah di alam lain bisa kembali ke bumi. Ini bukan drama atau neverland yang bisa mengembalikan waktu.

“Kenapa di taman rumahku?” tanyaku berusaha memahami keadaan yang ada.

“Ah.. Mianadha.., appaku ada urusan bisnis dengan pemilik rumah ini, aku masih boleh main bulutangkis kan?” ujarnya menatap cock yang masih di tanganku.

“Oh geure.., ige..,” seruku sambil melempar benda itu padanya. “Nugu.. yeyo?” tanyaku sedikit ragu.

“Lee Chaerin-imnida,”

“Oh, Jung Yonghwa-imnida,”

Haha, beda, dia bukan Mina, dia lebih ceria, atraktif dan.. Ah.. Aku tak sanggup memandangnya lebih lama, menambah guratan hati yang lebih dalam.

 

~~~~~oo~~~~~

 

Haru-haru.. Yeoja cock itu muncul di balkon kamarku lagi, lagi dan lagi. Membuatku semakin akrab dengannya. Dia cepat beradabtasi dengan kehidupanku. Kami suka berjalan menyusuri taman pribadiku, melewati guguran-guguran dedaunan yang menemani setiap langkah kami. Semakin lama wajahnya semakin nampak jelas di mataku. Gadis cock itu.. Berhasil mengembalikan ingatanku lebih dalam tentang Mina. Eotthoke? Rasanya hati ini menyeruak ingin merasakan sentuhannya lagi, ingin mendapatkan kehangatannya lagi, ingin mendengar bisikan cintanya lagi.

“Yonghwa-ssi?” suara itu berhasil menyadarkan lamunanku.

“Boleh aku tau tentang Hong Mina? Kau pernah memanggilku Hong Mina,” tanyanya terlihat ragu.

“Dia.. Dia penyemangat hidupku, cahaya di hatiku,” jawabku.

“Bisa kau kenalkan padaku? Apa wajahku mirip dengannya?” tanyanya, lagi.

“Ne, dia sangat mirip denganmu, hanya saja hidupmu lebih ceria. Kau tak bisa.. Tak bisa berkenalan dengannya, karena aku.. Sudah membunuhnya tahun lalu,” jawabku tanpa ekspresi.

Sentakan ekspresi kaget Chaerin tidak bisa disembunyikannya, aku melihatnya dengan jelas.

“W-waeyo? Apa maksudmu?” Chaerin masih terbelalak.

“Aku yang membunuhnya.. Aku yang salah.. Aku yang membuatnya meninggalkan dunia.., aku..,” tak sanggup, air mataku mengalir begitu deras di depan yeoja ini, memalukan, tapi.. Inilah aku.

“Ah, cukup.. Aku mengerti.., tak perlu membuka luka lama itu, bagaimana kalau lupakan, buang semua memori itu?” serunya kembali tersenyum padaku, mencoba menghiburku, eh?

Molla, tapi kurasa caranya berhasil, aku suka melihatnya tersenyum, sangat manis.

Dia benar, tak perlu lagi ku ingat kejadian itu, kecelakaan yang merenggut nyawanya.

 

-Flashback-

Hari itu aku mengajaknya merayakan kelulusan kami berdua di universitas yang kami inginkan.

Aku menjemputnya dengan motor sport keluaran terbaru kesayanganku.

“Chagiya.. Sebenarnya kita mau kemana?” tanyanya.

“Sabarlah chagi.. Ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu,” sahutku, mencoba merahasiakan kejutan yang sudah aku dan sahabat-sahabatku siapkan di tempat itu.

“Yonghwa saranghaeo..,” serunya.

“Na do chagie.. Jeongmal saranghae..,” jawabku.

Aku benar-benar tak sabar ingin segera tiba di tempat itu, memberinya kejutan dan memperhatikan senyum kebahagiaannya.

“Chagiya.. Jebal.. Jangan ngebut, aku takut,” ujar Mina.

“Tenang saja Mina.. Serahkan pada pembalap nomor satu di dunia ini,” sahutku, kami masih dikelilingi tawa.

“Tentu saja Yonghwa Rossi..,” ucapnya meledekku sambil tertawa.

 

‘CKIIIIIIIT!’

‘SRAAAAK! BRAAG!’

 

Mengerem mendadak dan motorku terpental jauh, tapi aku di sini, tergeletak dengan mata terbuka, bahkan terbelalak shock, namun tubuhku tak dapat bergerak, sama sekali tak dapat bergerak.

Truk itu kelebihan muatan, badan truknya oleng, dan aku berusaha menghindar, namun nasib yang membawaku begini.

Dimana? Dimana Mina? Aku tidak melihatnya.. Badanku tak bisa bergerak.. Aku hanya melihat segerombolan manusia yang mengelilingiku dan sirine ambulan yang memekakkan telingaku.

Aku melihat plastik kuning besar yang diangkat tim medis menuju ambulan. Mina.. Katakan sesuatu.. Jebal.. Berteriaklah.. Menangis kesakitan atau mencariku.. Aku ingin dengar suaramu. Agar aku tak mengira bahwa yang di benda kuning itu kau. Jebal Mina.. Chagiya..

“Korban luka bernama Jung Yonghwa, dan korban tewas bernama Hong Mina,” suara sayup-sayup yang kudengar itu menusuk hatiku, sakit, rasanya sangat sakit.. Bahkan luka-luka disekujur tubuhku ini tak sebanding dengan luka di hati ini. Aku ingin berteriak.. Kenapa bukan aku?! Aku ingin mati saja! Dan menyusul ke alam itu bersamamu! Maafkan aku! Salahku! Aku yang membunuhmu!

 

-Flashback End-

 

Sekarang kan ada aku, Lee Chaerin,” senyumnya penuh percaya diri.

Dia benar, aku mengingatnya sampai 100 tahun pun, dia tak akan muncul dan kembali padaku.

 

Baby don’t cry, you stand vacantly alone

Don’t worry, It maybe lonely, but you’re not the only one

Look beside you, you’re not alone

Don’t cry

 

Aku suka senyumnya, serasa mampu menghilangkan kepedihanku sesaat saat melihat senyumnya yang manis.

“Geure, sekarang ada kau,” sahutku padanya sambil tersenyum, senyum? Aku kembali tersenyum? Ah.. Terimakasih Chaerin, kau telah mengembalikan senyumku.

“Yonghwa, boleh aku panggil kau ‘chagiya’?” ujarnya yang sukses mengagetkanku.

“Maksudmu?” tanyaku, dia menyukaiku atau bagaimana?

Chagie.. Hong Mina.. Kalau kau dapat mendengar suara hatiku, bisakah aku bertanya? Bolehkah aku mencintai yang lain? Dan sedikit melupakanmu.. Bukan berarti aku tidak mencintaimu, tapi aku merindukan cinta, aku ingin dicintai lagi.

“Ne, saranghaeyo Yonghwa-ssi..,” ucapnya dengan begitu santai, tersenyum lepas.

Aku harus jawab apa? Aku juga menyukainya, tapi aku belum siap melupakan Mina.

“Na.. do.. Chagiya..,” akhirnya rasa itu memunculkan dirinya.

“Jeongmal?” tanyanya dengan ekspresi senang tak percaya.

“Jeongmal saranghaeyo,” sahutku kembali tersenyum.

“Jinja jinja jinja? Ahahaha.. Gomawo..!” teriaknya sambil melompat-lompat di reruntuhan dedaunan kuning yang mengering.

Aku.. Serasa hidup kembali.

“Mulai saat ini tak ada lagi Hong Mina, sekarang yang ada hanya Lee Chaerin, arra?” senyumnya manis sekali.

“Arra,” sahutku sambil terus memperhatikannya yang terlihat begitu cantik, rambutnya terkibar oleh angin dan sesekali dijatuhi dedaunan kuning yang serasi sekali dengan setelan bajunya.

Autumn, selalu melukiskan kenangan di hatiku.

 

 

 

-Lee Chaerin POV-

 

Hari ini aku akan kencan, lagi. Yonghwa benar-benar sosok namja idamanku. Tampangnya keren tapi hatinya rapuh. Aku harus bisa mengembalikan kekuatan hatinya.

“Chagiya.. Kemana kita hari ini?” tanyaku.

Aku sudah siap dengan dandananku yang serba pink hari ini, ini hari kencan, aku harus terlihat lebih manis. Pink kan warna girly. ^^

“Kemana saja yang kau mau chagie. Jamkka, kau manis sekali hari ini,” serunya sambil mengambil daun kering yang menyangkut di rambutku.

See? Aku benar kan? Pink, terimakasih ;*

“Aku ingin naik motormu, bagaimana kalau kita naik motor saja?,” ucapku manja.

“Shirro! Andwae! Tidak boleh motor!”

Dia selalu marah kalau aku menyebut motornya, memangnya kenapa? Aku membayangkan dia akan terlihat sangat keren saat mengendarai motor sport nya. Fiuh.. Jangankan mengendarai motor, mengendarai mobilnya saja dia tidak mau. Kami selalu memakai sopir kesana kemari, bahkan saat kami kencan.

“Geure oppa.., terserah kau saja,”

Entah mengapa, tapi aku percaya saja padanya. Dia pasti punya alasan dibalik semua hal yang dilakukannya.

Kami bersenang-senang hari ini, mulai dari taman ria, mall, makan bersama. Aku senang melihatnya tertawa sepanjang hari, meskipun yang ditertawakan itu aku -.-

“Chaerin-ah, sudah mulai malam, mau lanjut atau pulang saja?” tanyanya membuat keningku berkerut.

“Yaa! Oppa.. Ini masih jam 6 sore, masa sudah mau pulang? Oppa ga asik ah!” celotehku.

“Hahaha.. Geure.. Mau kemana kita sekarang?” tanyanya masih senyum-senyum.

“Oppa ada ide?” tanyaku penuh semangat.

“Bagaimana kalau duduk disini saja, memandangi senja dan guguran dedaunan yang membuat gradasi warna yang indah?” sahutnya membuatku menaikkan sebelah alisku.

Ah geure.. Dia kan melankolis.. Tapi dia benar juga, hatimu akan terasa sejuk jika benar-benar merasakan sepoian angin yang membawa dedaunan menguning, dan kehangatan warna senja itu menghangatkan batinmu.

 

‘CKIIIIIIT!’

‘BRAG!’

 

“Ah oppa, bunyi apa itu?!” teriakku yang refleks menoleh ke arah bunyi.

Sepertinya terjadi kecelakaan di jalan raya di belakang kursi kami.

“Oppa, ada kecelaka..,”

“Andwae! Hajiman.. Jebal.. Di sini saja.. Jangan ke sana..,” ucap namja ini sambil menahan tanganku erat-erat saat aku berdiri dari kursi.

“Jebal.. Jangan lihat ke sana..,” serunya lagi sambil menutup matanya, seperti kesakitan.

“Oppa gwenchana?” tanyaku ragu.

“Sudah cukup. Aku sudah mulai melupakannya, jangan lukis kenangan itu lagi di hatiku,” suaranya bergetar.

“Oppa?”

“Andwae.. Aku tak mau kehilangan lagi. Aku sangat menyayangimu, jeongmal saranghae, jangan tinggalkan aku,” suaranya semakin bergetar.

Dia menarik tanganku dan memelukku sangat erat.

“Na do oppa, jeongmal saranghae oppa, aku tak akan meninggalkanmu,” sahutku dalam pelukannya, merasakan getaran tubuhnya, sengalan nafasnya yang tak beraturan, dan jantungnya yang berdegub kencang.

 

 

 

-Jung Yonghwa POV-

 

Hampir satu bulan Chaerin menggantikan sosok dia di hatiku. Membuatku merasakan cinta lagi. Kamsahabnida Chaerin-ah.. Meskipun akhir-akhir ini kami jarang bertemu, dia selalu menolak saat kuajak bertemu, tapi kami saling percaya dan terus saling berkomunikasi. Tentu saja.. Aku serasa hidup kembali.

 

Iseodo baby I am so lonely lonely lonely lonely lonely

From : Chae-Chagie

Oppa, Mianhae..

 

Mianhae? Kenapa? Apa yang perlu kumaafkan?

 

For : Chae-Changie

Waeyo? Ada apa? Kau punya salah apa?

 

Tak ada balasan? Bahkan setelah dua jam aku bersabar menanti balasannya dan menelponnya berkali-kali, tapi tidak diangkat.

 

For : Chae-Changie

Waeyo chagiya? Jebal balas smsku, paling tidak angkat telponku.

 

Kenapa dengannya? Kenapa perasaanku tak enak.

 

For : Chae-Changie

Chagiya?

 

Haruskah kutelepon sekali lagi?

Rrrr.. Rrrr..

Ah! Yeobboseyo.. Chagie-ah.. Ada apa?” leganya.. akhirnya diangkat juga.

“Yeoboseyo,” s-siapa dia? Ini bukan suara Chaerin.

“Dimana Chaerin?” Aku tak suka ini, perasaanku benar-benar tidak nyaman.

“Yonghwa-ssi? Mianadha.. Datanglah ke sini, ke rumah kami,” ujarnya, dia ibunya Chaerin?

“Ah, geure eomma,” sahutku kemudian menutup telpon dan memanggil supir pribadiku.

“Chaerin keluar rumah dan handphone nya tertinggal?” batinku mencoba merangkai kejadian-kejadian yang mungkin terjadi.

“Palli pak.. Jebal sedikit lebih cepat,” seruku pada supir itu.

Ya Tuhan.. Yeoja ini mampu membuatku ketakutan, aku benar-benar khawatir.

“Kita sudah sampai tuan,” ujar pak supir.

“Kamsahabnida,” teriakku kemudian berlari ke rumah megah di depanku.

Apa ini? Kenapa ada banyak orang di sini?

“Chaerin-ah? Chagiya?” teriakku berusaha menemukannya di sekian banyak orang.

Kenapa? Kenapa semua orang di rumah ini memandangiku? Ada yang salah dengan pakaianku? Chaerin-ah palli.. Cepatlah keluar, aku benar-benar tak nyaman ditatap oleh banyak mata seperti ini.

“Yonghwa-ssi?”

“Ah, ne, eomma? Jeongsoabnida saya tiba-tiba masuk, kalau boleh saya tau, Anda punya acara? Ada banyak orang di rumah Anda,” seruku sambil tersenyum. Aku harus menampilkan kesan yang baik pada calon mertuaku, benar kan?

Eomma? Kenapa diam saja, kenapa memandangku begitu? Ada yang salah dengan kata-kataku? Jongsoabnida eomma..

“Mianadha.. Mianadha Yonghwa-ssi.. Mianadha..,” ujarnya kemudian tersedu dan mengalirkan banyak air mata dari matanya.

Ada apa ini? Ini hari apa? Kenapa semua orang meminta maaf tanpa sebab? Ya Tuhan, perasaanku tak enak.

“Ige.. Chaerin bilang ini untukmu, gomawo Yonghwa-ssi.., gomawo sudah membuatnya jatuh cinta dan dicintai,” sahutnya lagi, kemudian pergi meninggalkanku.

Apa ini? Kertas? Surat dari Chaerin?

 

Untuk oppa yang sangat kucintai.

Mianadha.. Aku tidak menepati janji.

Aku tidak bisa menemanimu. Tapi aku masih akan terus mengingatmu, di alam lain pun aku akan terus mengingatmu.

Saat kau baca surat ini, mungkin aku sudah menjadi debu. Mianadha oppa.. Aku tidak katakan yang sebenarnya.

Sebulan lalu, saat aku bertemu denganmu, aku mengidap leukimia, dan divonis, usiaku tinggal sebulan lagi.

Aku tak sanggup mengatakannya padamu dan membuatmu merasakan sakit yang kurasakan.

Jebal turuti permintaan terakhirku oppa, aku minta kau terus tersenyum, bahkan saat kau mengingatku, maka tersenyumlah.

 

Mianadha oppa..

Saranghaeyo..

Oppa hwaiting! ^^

 

Apa ini? Ini bercanda kan? Katakan ini bercanda! Jebal! Siapapun.. Teriaklah bahwa ini bercanda! Semua orang memandangiku, jadi.. Surat ini tidak berbohong? Mereka datang ke rumah ini karena..

Ya Tuhan.. Kakiku lemas, badanku gemetar hebat, tenggorokanku terasa sangat panas, kepalaku pusing, pusing sekali, telingaku mendengung sangat keras.

Aku ditinggal lagi? Aku sendiri lagi? Sendirian? Tuhan.. Kenapa kehidupan ini sangat lucu? Kenapa semuanya serba tidak adil untuk ku?

“Chagiya?” Andwae.. Ini tidak mungkin..

Aku terjatuh lemas, kakiku gemetar tak sanggup menahan beban tubuh ini, kemudian memejamkan mata yang berair, berusaha merasakan keberadaannya dan batinku terus berteriak, “Chaerin-ah.. Jangan tinggalkan aku.”

 

Don’t love. Good bye will always come.

It hurts so much that you can’t even breath.

I thought that it’d only hurt as much as I love you, that it’d be ok, that I could forget it.

But no.., it hurts thousand times more.

I’m affraid.. Living with my eyes opened.

Because even I’m searching, I won’t be able to see you.

Instead of yearning for you.. Living with my eyes closed is probably better.

 

 

~~~~~oo~~~~~

 

Setahun sudah dia meninggalkanku. Daun-daun ini berguguran lagi, setiap melihat reruntuhan daun ini membuatku mengingatnya, Chaerin-ah.. Aku tersenyum, kali ini aku akan selalu tersenyum, merasakan keberadaanmu lewat sepoian angin musim gugur yang indah, seperti dirimu.

Chagiya, aku tak ingin mencintai lagi. Appo, mencintai itu sangat sakit.

 

‘Tuk!’

 

“Ah.. Apa ini? Cock? Tidak mungkin!” rangkaian bulu-bulu kecil mengenai kepalaku, mengingatkanku pada…

“Yaa.. Chogiyo.. Mianadha.. Bisa kau lempar kembali benda itu?” teriak seorang yeoja dari taman bawah balkon.

Ha? Suara itu.. Chagiya?

“Cha.. Chaerin?” seruku tak percaya, wajah itu.. Aku benar-benar mengenalnya.. Tidak mungkin! Dia.. Dia muncul lagi?

“Chaerin? Siapa Chaerin? Mianadha.. Aku masih boleh bermain bulutangkis di sini kan?” ujar yeoja itu sambil menatap cock yang kugenggam.

“Kau…,” aku masih menganga, tak percaya.., ” Chaerin-ah.. Chagiya.. Bogoshippoyo..,” ucapku sambil berusaha menahan air mata.

“Kau tidak gila kan? Aku bukan Chaerin! Namaku Yeri! Han Yeri!”

 

 

-FIN-

13 thoughts on “Scar

  1. satu , TRAGIS…tragis bener kisah cinta yonghwa!!!

    dua , emg bener mencintai itu menyakitkan, setuju 90%, lbh baik dicintai *tp kesannya posesif yah?

    tiga , nice ff, nice author ^_^
    terus berkarya , hwaiting…

  2. Aigooo… ternyata ada 3 nama dengan sosok berbeda… wuah ada SkyDragon Couple disini… (yonghwa vers ya bkan Jiyong vers)… like..like.. feel nya dapet banget… aku suka ^^ #karena ada CL sih

    • Gomawoyo..😄
      soalnya aku juga suka CL n aku suka Yonghwa.. negbayangin… bakal keren ga ya kalo mereka disatuin?? seneng rasanya kalau ada yang suka😄

  3. Yonghwa Oppa, aku ngga bisa bilang apa-apa soal kisah cintamu yg satu ini. cuma satu kata, NGENES O.o Berulang kali mencintai, dicintai, dan akhirnya ditinggalkan, kasian banget >,<
    Buat authornya, ini keren banget ^^ Aku hanyut dalam kata-katanya..🙂

  4. itu ceweknya mungkin reinkarnasi kali ya, tapi janjian sama setan, jadinya ga bisa hidup lama lama tiap ketemu ama yong oppa *pletak
    bagus thor! ide ceritanya unik😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s