‘L’ For Love, ‘L’ For Lies [part 4]

Author: Tirzsa

Rating: PG-15/NC-17

Genre: Romance, Family, Crime

Main Cast: Lee Jong-hyun ‘CN Blue’, Im Yoona ‘SNSD’

Other Cast: Kang Min-hyuk ‘CN Blue’

Disclaimer: FF ini murni buatan saya sendiri. Nggak pake kata ‘plagiat’. FF ini lebih cepat di publish di http://readfanfiction.wordpress.com/

 

***

 

                “Ini gadis yang akan saya tawarkan untuk diperdagangkan ke Singapur,” ujar Tae-in sambil menyerahkan foto Yoona pada Lucas. Keduanya duduk berhadapan dengan Lucas di meja kerjanya.

Lucas melihat beberapa lembar foto yang diserahkan Tae-jin dengan takjub. Ada berbagai pose Yoona di foto itu dan gadis itu tampak tidak sadar telah difoto.

“Cantik sekali,” gumamnya kagum.

“Itu masih belum seberapa. Aku akan menyuruh Jong-hyun untuk mencari gadis lain yang jauh lebih baik daripada dia,” kata Tae-jin dengan nada bangga.

“Tidak usah,” Lucas melambai-lambaikan tangannya ke udara. Dia mengambil cerutu dari dalam saku jasnya dan menyelipkannya di bibir lalu menyalakannya. “Aku rasa gadis ini sudah cukup untukku. Dia sangat cantik dan sepertinya akan sangat memuaskan.”

“Tapi—”

“Tak usah khawatir, Tae-jin,” Lucas tersenyum penuh arti. Dia memainkan cerutunya ke udara lalu berkata, “Untuk yang satu ini, aku yakin mereka mau membayar lebih. Gadis ini adalah the best of the best quality.”

Lucas melihat wajah Tae-jin yang bingung dan menambah penjelasannya, “Aku berani menjamin, mereka akan membayar dua atau tiga kali lipat untuk gadis ini. Tapi, dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Aku mau kau membawa gadis ini untukku minggu depan. Sepertinya aku tak bisa menunggu lebih lama lagi sampai akhir bulan. Bagaimana?”

Tae-jin tersenyum puas. “Itu persoalan gampang. Aku akan menyuruh Jong-hyun untuk membawanya kesini minggu depan.”

 

***

                Seorang pelayan datang dan meletakkan dua buah porsi salah di atas meja. Setelah mengatakan terima kasih, sambil tersenyum jijik, Jong-hyun mengaduk-aduk mangkuk yang berisi sayur-mayur itu dengan ragu. Dia lalu beralih menatap Yoona yang mulai menyuapi mulutnya dengan dedaunan itu dengan lahap.

“Kenapa kita harus memakan semua dedaunan ini? Aku tidak suka,” protes Jong-hyun.

“Makanlah!” kata Yoona sambil menunjuk mangkuk salad Jong-hyun dengan garpu. “Itu sangat sehat.”

Jong-hyun membanting garpu ke atas mangkuk saladnya dan melipat kedua tangan di atas dada dengan kesal. Dia menggeleng dan memasang tampang tak suka. “Tidak, aku tidak akan pernah menyukainya. Mengapa kau memaksaku untuk makan ini? Aneh sekali.”

Yoona hanya mendengus sambil terus menyuapi salad itu kedalam mulutnya dengan lahap.

“Jonghyun-ah!” Tiba-tiba saja terdengar suara lengkingan wanita dari arah pintu keluar rumah makan itu. Yoona dan Jong-hyun serentak menoleh kearah sumber suara dan mendapati seorang wanita berumur 30 tahun berdiri disana dan melambaikan tangannya kearah Jong-hyun.

Wajah Jong-hyun seketika memucat ketika wanita itu menghampiri meja Jong-hyun dan Yoona.

“Hei,” sapa wanita itu pada Jong-hyun. Menyadari ada seseorang lagi disana, wanita itu melirik kearah Yoona lalu bertanya pada Jong-hyun. “Siapa gadis ini? Klien barumu?”

Jong-hyun menelan ludah. Dia menatap wajah Yoona yang kebingungan diseberang meja lalu menjilati bibirnya yang mendadak sekering gurun pasir. “Bukan. Dia hanya temanku.”

Wanita mengangguk-anggukkan kepala. “Oh, aku kira dia klienmu. Kalau iya, aku akan sangat kaget, karena tampangnya seperti tak punya banyak uang,” kata wanita itu dengan tatapan sinis.

Yoona balas menatap wanita itu dengan kesal. Dia meremas taplak meja makan itu sampai kusut, berusaha menahan emosinya agar tidak meledak.

“Baiklah, aku pergi dulu ya?” Wanita itu baru saja ingin melangkahkan kakinya, tapi dia berhenti lagi dan membungkuk lalu membisikkan sesuatu ditelinga Jong-hyun. “Lusa nanti aku membutuhkanmu. Kau bisa, kan?”

Jong-hyun menatap wanita itu lalu balik menatap Yoona dengan khawatir. Gadis itu masih terlihat kesal. “Akan aku usahakan,” jawab Jong-hyun datar.

“Oke!” Wanita tadi mengedip centil kearah Jong-hyun lalu berlalu begitu saja.

“Siapa wanita tadi? Menyebalkan sekali,” gerutu Yoona sambil terus menatap wanita itu yang tengah berdiri di depan bar rumah makan itu.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Jong-hyun. Yoona masih ingin melontarkan kata-kata pedas, tetapi buru-buru ditahan Jong-hyun. “Sudahlah, dia memang seperti itu,” ujarnya dengan wajah capek.

Yoona menghela nafas. Dia kembali fokus dengan saladnya dan menatap Jong-hyun. “Tapi, sebenarnya apa yang dibicarakan wanita tadi? Klien apa maksudnya? Memangnya pekerjaanmu apa?”

Jong-hyun menelan ludah. Bingung harus memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Melihat alis Yoona yang terangkat, cepat-cepat Jong-hyun berdehem lalu menjawab, “Pengacara.”

 

***

                Jong-hyun dan Yoona berhenti tepat di depan sebuah kafe bernuansa western milik ayah Jong-hyun. Di sepanjang perjalanan menuju kesana, Jong-hyun menjelaskan sejarah dan juga menu-menu yang ada di kafe milik ayahnya itu.

“Jadi ingat, attitude adalah hal yang paling diutamakan untuk bekerja sebagai seorang pelayan,” kata Jong-hyun mengakhiri penjelasannya.

Yoona menggigit bibir bawahnya lalu bertanya, “Tapi, menurutmu, apakah aku benar-benar bisa diterima?”

Jong-hyun mengangkat bahu. “Ini semua tergantung padamu. Jika kau bisa melakukan yang terbaik dan mengikuti semua perkataanku, maka kau pasti diterima.”

Yoona tersenyum lebar lalu mengangguk. Dia lalu pamit pada pria itu untuk segera masuk ke dalam kafe. Sebelum dia masuk ke dalam, gadis itu menyempatkan diri untuk mengecek penampilan finalnya di depan kaca kafe itu.

“Yoona-ah, hwaiting!” seru Jong-hyun.

Yoona berhenti sebentar, tersenyum, lalu berlari lagi. Tidak boleh gagal, putusnya dalam hati. Hari ini, aku harus mendapatkan kerjaan! Harus!

Setelah Yoona menghilang dari balik pintu kafe itu, Jong-hyun segera meraih ponsel dari saku celananya dan memutar nomor seseorang.

“Il-gu, ini aku Jong-hyun.”

“Ne, ada apa, tuan?” sahut seseorang diseberang telepon.

“Akan ada seorang gadis yang melamar pekerjaan di kafe milik ayah. Aku ingin kau memastikan bahwa dia akan diterima bekerja disana.”

“Tapi, tuan, Anda tahu sendiri kami sedang tidak menerima karyawan baru,” ujar Il-gu dengan sesal.

“Aku tidak peduli,” kata Jong-hyun dingin. “Terima saja dia bekerja disana. Lagipula aku sudah meminta izin kepada ayah, jadi pastikan dia diterima. Mengerti?”

“Baik, tuan.”

 

***

                “Aku diterima!” jerit Yoona dari ujung lorong. Dia berlari riang menuju Jong-hyun, yang sengaja menungguinya sedari tadi. “Aku diterima! Aku diterima! Aku akan kerja!”

Yoona melompar kearah Jong-hyun, bergelayut di leher kokoh pria itu. Untuk sesaat keduanya lupa diri. Tubuh Yoona berputar-putar dalam pelukan Jong-hyun, tertawa riang bersamanya.

Sesaat kemudian, seperti ada yang menyadarkan, Yoona minta diturunkan dan mengurai pelukan Jong-hyun dari tubuhnya. “Hm, mianheyo,” Yoona berdehem sungkan, “Aku hanya terlalu bersemangat.”

Jong-hyun tersenyum. “Aniyo, gwaenchanhayo. Selamat atas pekerjaan barumu.”

Yoona iku mengulum senyum. “Ne, gomawoyo. Aku juga sangat berterimakasih atas bantuanmu selama ini.”

Pria itu mengangguk.

Selanjutnya, keduanya tampak diam dan mengamati wajah masing-masing. Yoona bersemburat malu ketika Jong-hyun tak henti-hentinya tersenyum kearahnya dan menatap wajahnya. Dia langsung memalingkan wajah saat itu juga agar tak ketahuan.

“Tunggu sebentar,” kata Jong-hyun.

“Ada apa?”

Jong-hyun mendekatkan wajahnya ke jarak cium Yoona dan memicingkan mata. “Kau menggunakan make-up, ya?”

“Ne?” Yoona menyahut gelagapan. Dia menutup kedua sisi wajahnya dengan tangan lalu buru-buru mengelak. “Aniyo, aku tidak menggunakan apa-apa.”

Jong-hyun kembali memperbaiki pose tubuhnya lalu melipat kedua tangan diatas dada. Dia tersenyum jahil kearah gadis itu dan berkata pada Yoona dengan nada menuding, “Kau menggunakan make-up! Tak biasanya kau seperti ini. Kau menggunakan make-up itu agar bisa terlihat cantik di depanku, ya?”

“Mwo? Ani! Aku menggunakannya karena aku tahu akan ada wawancara kerja hari ini, babo!” elak Yoona.

“Oh ya?” goda Jong-hyun. “Tapi kenapa kemarin kau tidak menggunakan make-up? Sudahlah, jangan mengelak lagi.”

“Aish…” Yoona mendengus dan memukul lengan pria itu dengan keras lalu beranjak pergi.

Jong-hyun meringis kesakitan lalu berteriak kearah Yoona, “Ya, kau mau kemana?!”

 

***

                Yoona semakin dekat dengan pria itu. Matanya tak berhenti memandangi wajah Jong-hyun yang samar diterpa oleh cahaya bulan. Semilir angin malam menerpa wajah Jong-hyun, membuat rambut pria itu ikut terbawa dan menari-nari bersama angin. Dan entah kenapa, setiap detik yang Yoona lewati dengan memandang wajah tulus pria itu, tak henti-hentinya membuat jantungnya berdegup sangat kencang.

Dia tidak tahu manakah bagian dari diri Jong-hyun yang paling ia kagumi. Entah apakah matanya yang teduh, atau rambutnya yang halus, atau kemeja yang ia pakai, yang selalu membuatnya tampak berwibawa. Dia menyukai semuanya.

“Apakah aku begitu tampan sampai kau harus melihatiku terus?” Jong-hyun menolehkan kepalanya dan balik menatap Yoona sambil tertawa geli.

Entah mendapat keberanian darimana, Yoona tak memalingkan wajah sama sekali ketika beradu pandang dengan Jong-hyun. Dia terus memandang wajah Jong-hyun sambil mengulum senyum, tak peduli jika pria itu akan menganggapnya sudah gila.

“Ne, kau begitu tampan,” tuturnya jujur.

Wajah Jong-hyun seketika datar. Dia tak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu meluncur dari mulut Yoona. Dia bahkan tak menyangka situasi akan menjadi awkward seperti ini. Seharusnya Yoona lah yang menjadi gugup, tapi kenapa tiba-tiba dirinya yang berubah menjadi gugup ketika dipandang terus-terusan oleh Yoona?

Jong-hyun benar-benar terbuai dengan suasana saat itu. Dia memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya kearah jarak cium Yoona. Ketika dia memejamkan mata dan siap beradu dengan gadis itu, bibirnya ditahan oleh jari telunjuk Yoona.

“Ada apa?” tanyanya, bingung, sekaligus khawatir jika Yoona akan menganggapnya aneh.

Yoona tersenyum lalu menjawab, “Jangan menciumku terlalu lama.”

“Memangnya kenapa?”

“Kepalaku akan sangat pusing jika aku terlalu merasa bahagia.”

Jong-hyun mengerutkan alis, tak mengerti. Tapi setelah itu dia tersenyum lalu menuruti permintaan Yoona. Bibir mereka lalu bertemu dalam dinginnya malam, namun memberikan sensasi hangat di diri masing-masing.

 

***

                “Minhyuk! Kau dimana?” teriak perawat itu. Ditangannya kini penuh oleh piring makanan dan gelas. Dia sudah berkeliling kesana-kemari, menyusuri setiap sudut rumah itu tapi tak menemukan Minhyuk dimana-mana.

“Ya Tuhan, dimana anak itu?” gerutu perawat itu dengan kesal lalu kembali mencari Minhyuk ke seluruh sudut rumah.

Yang tak diketahui adalah, Minhyuk diam-diam bersembunyi di kamar mendiang ibunya sambil meringkuk di sudut ruangan. Pemuda itu paling benci dengan jam makan malam, karena lagi-lagi dia harus beradu dengan berbagai macam jenis pil dan obat yang sangat pahit.

Minhyuk terkikik geli sambil mengintipi perawatnya yang kebingungan di luar sembari terus memanggilnya.

Pemuda itu merangkak menuju sebuah lemari yang cukup besar disudut ruangan. Dia membuka lemari itu dan debu tebal lalu beterbangan di depan wajahnya, membuatnya bersin beberapa kali. Lemari itu sudah lama tak dipakai sejak ibunya dan meninggal. Lemari itu juga hanya berisikan beberapa dokumen penting milik ibunya.

Saat Minhyuk ingin masuk ke dalam dan bersembunyi disana, sebuah map berwarna hijau yang terletak di rak paling atas menarik perhatiannya. Dia menjulurkan tangannya dan meraih map itu dengan susah payah.

“Dapat!” serunya pelan.

Pemuda itu memandangi ke sekelilingnya, memastikan bahwa perawatnya belum menemukan dirinya. Dia lalu masuk ke dalam lemari dan meringkuk di dalam sana.

Dibukanya map tadi dengan perlahan dan Minhyuk menemukan beberapa lembar kertas di dalamnya. Dia mengamati satu per satu kertas-kertas itu dengan raut bingung. Kertas-kertas itu terlihat menguning karena sudah lama disimpan dan tak pernah disentuh.

Wajah Minhyuk seketika merengut ketika membaca kertas yang paling terakhir. Matanya membulat dan nafasnya tertahan. Seolah tak percaya dengan apa yang dia baca, pemuda itu keluar dari lemari itu dan mendekatkan kertas itu kearah lampu meja, untuk melihatnya lebih jelas.

Dan sesaat kemudian, nafasnya mulai tersengal. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mundur beberapa langkah. Kedua tangannya mengepal dan mulai memukul-mukul dadanya sendiri. Pemuda itu melempar map-map itu bersama isinya ke sembarang arah lalu berteriak histeris.

Tak berapa lama kemudian, terdengar derap langkah diluar kamar. Perawat Minhyuk muncul di ambang pintu dan mendapati Minhyuk meringkuk di lantai sembari menangis layaknya orang kemasukan setan.

“Ada apa, Minhyuk?”

 

***

                Tae-jin berdiri dengan tangan bersedekap, mengamati raut wajah Jong-hyun yang tertunduk. Suara bising musik diluar terdengar bagaikan bunyi jangkrik. Diabaikan begitu saja dan tak bisa menepis suasana tegang yang dirasakan Jong-hyun setiap kali harus berhadapan dengan ayahnya di ruang kerja kelab malamnya.

“Jadi, bagaimana? Apakah ada kemajuan?” tanya Tae-jin sambil meletakkan gelas berisi cocktail ke atas meja.

Jong-hyun menghela nafas. “Ne, ada.”

“Oh ya? Bisakah kau ceritakan padaku?”

“Dia sepertinya mulai jatuh cinta kepadaku. Dan…” Jong-hyun terdiam.

Tae-jin mengangkat sebelah alisnya. “Dan—apa?”

“Bukan apa-apa.”

Tae-jin menghela nafas. “Aku menyuruhmu untuk membuatnya jatuh cinta padamu dan menuruti semua keinginanmu. Itu saja, kan?”

Jong-hyun mengangguk.

“Dan kau…” Tae-jin menatap anaknya dengan curiga. “Tidak jatuh cinta padanya, kan?”

Jong-hyun terdiam. Dia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan kenyataan yang ada.

Tae-jin meraih salah satu buku yang tergeletak di atas meja kerjanya dan melemparkannya kearah Jong-hyun. “Jawab aku, brengsek!”

“Ani, aboji!” sahut Jong-hyun sambil meringis. “Aku tidak jatuh cinta padanya. Aku hanya berusaha melaksanakan tugasku semaksimal mungkin.”

“Baguslah kalau begitu,” desah Tae-jin. “Oh ya, Lucas ingin kau membawa gadis itu padanya minggu depan. Ingat itu!”

Jong-hyun mendongakkan kepalanya dan menatap Tae-jin. “Bukannya akhir bulan?”

“Ani. Lucas sepertinya sangat menyukai gadis itu. Dan dia ingin gadis itu langsung diserahkan kepadanya dalam waktu singkat.”

“Tapi…”

“Tapi—apa?”

Jong-hyun buru-buru menggeleng lalu mengangguk. Dia menelan ludah lalu menjawab, “Bukan apa-apa.”

 

***

                Jong-hyun baru saja melangkahkan kakinya ke teras rumah ketika perawat Minhyuk menghambur keluar dan memanggil-manggil namanya.

“Tuan Jong-hyun! Tuan Jong-hyun!”

“Ada apa?”

“Minhyuk! Minhyuk!” seru perawat itu dengan wajah khawatir.

Jong-hyun ikut khawatir dan panik. “Ada apa dengan Minhyuk? Apa yang terjadi dengannya?”

Perawat itu menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku baru saja ingin menyuapinya untuk makan malam, tapi tiba-tiba dia bertingkah aneh. Lain dari biasanya. Aku tak mengerti harus berbuat apa.”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jong-hyun masuk ke dalam rumah dan berlari menghampiri kamar Minhyuk. Ketika pintu itu dibuka, dia mendapati Minhyuk meringkuk di atas ranjang kamarnya dan menutup wajahnya dengan bantal.

“Minhyuk?” panggil Jong-hyun pelan. Tapi Minhyuk tak bereaksi.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jong-hyun lagi. Dia berusaha mendekati adiknya dengan langkah ragu dan akhirnya duduk di tepi ranjang.

Tiba-tiba saja Minhyuk mengangkat wajahnya dan menatap Jong-hyun. Raut wajahnya datar, tak ceria seperti biasanya.

“Memangnya aku kenapa?” tanyanya balik.

Jong-hyun tertegun melihat adiknya menyahutinya seperti itu. Dia berbicara layaknya orang normal.

“Kau… sudah… sembuh?”

 

-TBC-

16 thoughts on “‘L’ For Love, ‘L’ For Lies [part 4]

  1. omigos omigos minhyuk sembuh…
    akhirnya.
    nasibnya yoona sekarang yg dipertanyakan. klo jonghyun juga suka, otomatis dia berusaha nolong.
    penasaran.
    lanjut~

  2. hyaaaaaaaaaaaaa minhyuk kenapa itu ???
    apa yg ditemukan minhyukkkkk.???
    aduuuuuhhhh ini kasian amat minhyuk ya hiks..
    aiiiiihhh itu udah saling jatuh cinta ya yoona ma jonghyuuun prikitiwwww hohohoh
    hmmmmm si taejin perlu dibasmi nih ma si lucasss. hmmmm
    hayooo lanjutkan part berikutnya cepat cepat author hehehe

  3. Wa~ sy yakin jonghyun g akn tinggal diam yoona dibawa pergi..
    Dan akhirx mereka slg menyukai, , kya~
    Ditunggu part sdlanjutny y thor ^_^

  4. chingu mianhae bru komen skrg.. susah bgt mw komen lewat hp.

    suka suka bgt ma ceritanya, aku senyum2 sendiri pas Jonghyun godain yoona.. tapi tapi tapi aku langsung emosi pas jonghyun ktemu ayahnya, dia ayah tiri ya? mana ada ayah kandung kyk gtu *sotoy*

    map yg ditemuin Minhyuk isinya apa? *penasaran

  5. baru ketemu beberapa hari udh kisseu?! keren bgt y jonghyun! mau dong dicium! #plaakk
    jonghyun pst udh jtuh cinta sm yoona juga,,
    aish onnieku emg cantik sih y, kurelain deh sm jonghyun.

    kira” minhyuk bca apa sih smpe bs kyk gtu? sembuh??

  6. aigoo, 1st kiss diantara Ms. Deer dg Mr. Burning terjadi *v* bapaknya Jonghyun sadis bgt sih, dikit2 main tangan..ckckck..KDRT tuh! kasihan kan uri Jonghyun TT.TT

    lanjut ke part 5, aahh ^^
    gomawo, author chingu!

  7. mwo minhyuk udah normal kembali? o.O
    kayaknya makin seru deh ceritanya….jonghyun oppa pasti mulai jatuh cinta deh sama yoona unni!^^
    ga sabar lanjutin ke next part – last part
    semakin penasaran akhirnya akan seperti apa kkkk

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s