Even Your Tears (Chapter 2)


Author: dimplesyororo

Rating: PG-15/NC-17

Genre: Romance

Cast:

Lee Jonghyun

Yoon Eunchae (Ocs)

Disclaimer: FF ini murni buatan saya. Inspirasi dari lagunya FTISLAND-Even Your Tears dicampur illusion dicampur always be mine di campur even it is not necessary.

Note: Hello everybody ..maaf terlalu lama publishnya.. yang penting sekarang uda di publish..hahahhahaa… saya lagi sibuk. Saya juga tau kalian pasti habis sibuk sama yang namanya UTS. Yuk, yang stress karena UTS mari saya hibur, yang masih UTS >>> : ‘masih nekat aja baca FF disaat UTS?’ by the way terima kasih yah buat Komennya ^^ terima kasih buat semangatnya J . di FF ini aku lebih banyak pakai sudut pandangnya eunchae. Jonghyunnya di next part deh ..kekkekekeke…

Oke deh yuk capcus mari..author kasih pencerahan…krik

 

Insa-dong, 5 AM KST

Eunchae POV

Aku menatap lekat-lekat atap kamarku. Mata ini masih berusaha untuk mengumpulkan tenaga agar terbuka sepenuhnya. Aku pun menoleh ke arah jam dinding.

‘’Masih jam 5 pagi.”

Ini pertama kalinya aku bisa bangun sepagi ini sendiri tanpa bantuan Abeoji. Aku menarik kembali selimutku dan berusaha menutup mata kembali. Masih ingin tidur rasanya. Aku pun mencoba tidur kembali sambil memeluk boneka teddy bear putih pemberian Abeoji. Setelah berkutat di tempat tidur selama 15 menit. Aku memutuskan untuk bangun, tidak ada ruginya aku bangun pagi.

Aku berjalan menuju kamar mandi, ternyata Abeoji masih belum bangun. Mungkin kesiangan karena semalaman ia begadang bersama dengan makhluk asing itu.

Ngomong-ngomong tentang makhluk asing itu, aku jadi ingat kalau hari ini aku akan mulai menyelidikinya. Asal usulnya, orang tuanya, kewarganegaraannya, dan keterlibatannya dengan anggota gang mafia, akan aku cari tahu hari ini.

“Yap! Mungkin pertama-tama aku harus menyelidiki apa isi dompet dan tasnya!”

Aku pun melirik tangga menuju ke lantai bawah dan segera melangkahkan kakiku menuju kamar makhluk asing itu. Perlahan-lahan aku berjalan menuju ruangannya. Berharap dia sedang tak ada diruangan itu.

Sesampainya di depan pintu kamar makhluk asing itu. Aku membuka sedikit selambu kamarnya. Sebenarnya aku bukan penguntit atau pengintip profesional, aku hanya benar-benar ingin tahu identitas makhluk asing itu. Aku hanya takut jika keluargaku dalam bahaya. Apalagi, keluargaku satu-satunya di dunia ini hanya Abeoji saja.

“Oh!syukurlah dia tidak ada.”

Makhluk asing itu tidak terlihat di kamarnya, humm kemana yah makhluk itu? Ahh sudahlah, sebelum dia kembali aku harus menemukan sesuatu tentang identitas dirinya. Aku menoleh ke kanan kiri juga belakang, melihat kondisi di sekitarku. Aku rasa cukup aman untuk masuk ke dalam kamar makhluk asing itu. Aku pun membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Dan menutup kamar itu pelan-pelan sampai tak terdengar suara sedikit pun.

Perlahan-lahan aku dekati tas hitamnya.

“Jamkkanman!Mwo? Ruangan ini berantakan sekali!ckckckck….makhluk asing itu benar-benar bisa tidur di kamar seperti ini? Dasar !dari kamarnya aku pun sudah tahu kalo dia bukan orang baik-baik.”

Aku memperhatikan kamar makhluk asing ini, benar-benar sangat berantakan. Rasanya tanganku refleks ingin membuang barang-barang yang berserakan ini. Ups! Aku teringat kembali dengan misi awal untuk datang ke kamar ini. Aku menyentuh tas hitam itu dan membuka isinya. Hanya terlihat pakaian, headphone, beberapa kosmetik pria, tissue, parfum.

‘’Urghhh….dimana yah kartu identitas dan passportnya.”

Aku pun mencari-cari kartu identitas dan passportnya hingga ke lapisan terdalam tas itu.

“sigh.. dimana sih…”

‘CKLEK’

Tiba-tiba terdengar suara gagang pintu yang akan terbuka. Mungkin karena pintu itu sudah tua jadi agak sulit membukanya.

“AIGOO!” Aku panik bukan kepalang. Refleks aku langsung berjalan jongkok dan sembunyi di bawah kasur.

Hatiku berdebar kencang bukan main. Untung saja tidak ketahuan. Aku berusaha bersembunyi ditempat yang sempit ini. Urghh..kakiku kram…

Dari bawah sini, aku dapat melihat kakinya. Dia mengambil beberapa pakaian dari dalam tasnya.

“Itu dia passportnya! Aigoo! Jeongmal baboya!” ujarku pelan saat melihat passport di tas hitam itu.

Mwo..apa yang dia lakukan? Ganti pakaian??

Aku dapat melihat sebuah pakaian dalam tergeletak di depan mataku.

“Urghhh… kakiku sakit..”

Aku tidak tahan menahan kram di sekujur kakiku. Secara tidak sadar, badanku pun miring kesamping dan punggungku menatap ke kasur.

‘DUAKK’

“Aigoo!” aku menahan rasa sakit dan memegang punggungku.

Tiba-tiba di depan mataku, aku melihat sepasang mata yang cantik. Sebuah bola mata yang hitam kecoklatan, jernih dan bulu mata yang panjang.

“YA! Apa yang kau lakukan?”

Urghhh..apa aku ketahuan? aku menutup mataku rapat-rapat dan mempertahankan posisi ku yang masih tetap menunduk di bawah kasur.

 

***

Jonghyun POV

‘DUAKK’

Aku pun segera memakai kaosku dan mendekati sumber suara itu.

“Sepertinya ada yang aneh.”

Aku merasa ada manusia lagi diruangan ini selain diriku. Perlahan-lahan aku menundukkan kepalaku dan menengok kolong kamarku. Aku melihat Eunchae sedang berada di kolong kasurku. Apa yang dia lakukan disini,

“YA!Apa yang kau Lakukan?” Tanyaku padanya.

Wajahnya terlihat ketakutan dan sepertinya menahan rasa sakit.

“Gwaenchanayo??” Aku mengulurkan tanganku agar dia mau keluar dari kolong kasurku.

Aneh-aneh saja gadis ini, untuk apa dia ada di bawah kolong kasurku.

Perlahan dia keluar dari dalam kolong kasurku.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanyaku padanya. Beranjak dia merangkak keluar dari kolong kasur dan menatapku.

“Jamkkanman, biarkan aku  bernafas sejenak.”

Aku memandangi wajahnya, gadis ini sebenarnya cantik tapi aneh. Dia mengambil nafas sedalam-dalamnya dan duduk bersandar di dinding.

“A..a..aku..sedang mencari sesuatu di sini. Mianhae, aku tidak tahu kalau ruangan ini menjadi kamarmu. Aku kaget karena ada kau yang masuk kedalam ruangan ini. Makanya, aku sembunyi di kolong kasur itu.”

Wajahnya terlihat kebingungan. Terlihat seperti mencari-cari alasan. Dia tipe orang yang tidak pandai berbohong. Mungkin bukan itu tujuan utamanya masuk ke kamar ini.

“Mencari sesuatu? Apa? Mungkin bisa aku bantu.” Tawarku padanya.

“Oh..tidak usah.. aku kembali ke kamarku dulu ya! Gomawo.” Refleks dia berdiri dan meninggalkan kamarku

‘BLAM’

“Dasar gadis aneh.”

 

***

 

Eunchae POV

‘BLAM’

“Aigooo…misi pertama gagal!! Aku ketahuan!” Aku mengacak rambutku frustasi di depan pintu kamar makhluk asing itu. Dan berlari menuju tangga dan kamarku. Aku membuka pintu kamarku dan menguncinya rapat-rapat meraih boneka teddy bear berwarna putih.

“AISHHHH!!! Ihhhh memalukannnnn…….” Aku memukul-mukul teddy bear putihku.

 

“CHAE-YAAAA! Ireona! Ini sudah jam 6 pagi. Kau harus mandi dan pergi ke sekolah.” Terdengar suara Abeoji di depan pintu kamarku.

“Ne Abeoji…. Jamkkanmannyo… Aku sudah bangun kok… “ Jawabku sekenanya.

Aku mengambil seragam sekolah dan juga handukku, melangkahkan kaki hingga kamar mandi. Langkah yang berat. Kejadian pagi ini benar-benar ingin membuat tubuh ini meledak.

“ AKU MALUUUUUUUUUUUUUU………….” Teriakku lirih sambil menatap atap kamar mandi.

 

***

 

06.30 AM KST

Aku benar-benar tidak nafsu makan hari ini. Pikiranku masih terbebani oleh kejadian pagi ini. Aku hanya mengaduk-ngaduk bubur buatan Abeoji dan memangku wajah menggunakan kedua tanganku.

“Chae-ya! Ayo dimakan. Ini sudah jam setengah tujuh. Bukankah kau bersekolah lebih awal hari ini. 5 menit lagi bel sekolahmu pasti berbunyi.” Abeoji menepuk-nepuk pundakku dan tersadar dari pikiranku yang kalut ini.

“MWO?Omo…Abeoji benar… aku berangkat dulu ya…. “ aku segera berdiri, menundukkan kepalaku menghindari tatapan aneh makhluk asing ini dari hadapanku dan segera mengambil tas. Astaga bisa-bisanya aku lupa kalau hari ini ada pelajaran tambahan dari Kim songsaenim. Ahh….ini gara-gara makhluk asing itu.  Pasti dipikirannya aku ini terlihat seperti gadis aneh yang hobi sembarangan masuk ke kamar orang.

“ CHAE-ya… hati-hati…itu…”

“KYAAAAAAAAAAAAAAAA…. “

Aku terpeleset dari tangga. 6 buah anak tangga sukses aku lewati dengan pantat. Dan aku rasa pantatku benar-benar sakit. Seperti terbelah menjadi empat bagian.

“OMONA!! Baru saja Abeoji ingin bilang kalau hati-hati ,tangga baru saja di pel.”

Abeoji berlari ke tempat dimana aku jatuh dan terduduk.

“Apheo… Abeoji..sakit….. “ Tidak terasa bulir air mataku mengalir. Aku mencoba berdiri tapi kakiku tidak kuat menahan tubuhku.

“YA! YA! Jangan bangun dulu!”

Perlahan Abeoji menggendongku dan mendudukkanku di kursi.

“Abeoji…kakiku sakit..badanku terasa sakit… aku tidak kuat berdiri..” aku menahan semua rasa sakit disekujur tubuhku. Terasa nyeri dan rasanya seperti tulang-tulang ini ingin melepaskan diri dari tubuhku.

“KYAAAA….itu sakit!!!!” Aku menampar tangan makhluk asing itu dari kakiku.

Entah sejak kapan makhluk asing itu ada di depanku dan berani-beraninya dia menyentuhku.

“Begitu sakitkah? Sepertinya ini terkilir.” Makhluk asing itu kembali memegang kakiku.

“Ne…sepertinya juga begitu… Kau harus ke rumah sakit Chae-ya…” Abeoji menepuk pundakku.

“Kalau begitu, Abeoji yang mengantarkanku?” Aku memegang tangan Abeojiku.

“Uhmm..abeoji tidak bisa mengantarkanmu. Hari ini ada beberapa kolega yang akan mengambil peralatan musik yang sudah di servis dari seminggu yang lalu. Abeoji harus menjaga toko. Oh..bagaimana kalau Jonghyun-ssi saja yang mengantarkanmu, Kau tidak keberatan kan Jonghyun-ssi?”

“Ne.. tidak apa-apa. Hanya mengantarkan saja kan. Tapi aku belum terlalu hafal dengan seoul.”

Aku terdiam mendengarkan percakapan dua pria disampingku ini. Aigo…aku saja belum mengatakan iya. Abeoji seenaknya sendiri, tega-teganya memberikan anaknya sebagai mangsa. Kalau ditengah jalan aku diculik dan……….. dan………. bagaimana?

“Tidak usah Abeoji!aku bisa pergi sendirian. Aku bisa pergi menggunakan Taxi.” Jawabku tegas berusaha meyakinkan Abeoji.

“Tidak bisa begitu, setidaknya ada yang menemanimu dan kau tidak bisa berjalan, lalu yang akan memapahmu nanti siapa?”

“Tenang saja, aku yang akan menjagamu di rumah sakit nanti. Aku akan menjaminmu pulang dengan selamat sampai kembali ke sini lagi.” Makhluk asing itu berbicara padaku sambil tersenyum. Senyumnya terlihat tulus tapi aku tidak yakin.

‘cih’  gerutuku dalam hati.

“ne..ne ..baiklah..ayo cepat antarkan aku!” perintahku pada makhluk asing di depanku. Kemudian dia berjalan mendekatiku dan mengangkat sedikit tubuhku, berusaha untuk menopang berat badanku.

 

***

TAXI, 08.00 AM KST

Sudah lima menit kami berada di sebuah taxi. Abeoji benar-benar bersemangat sekali, melihatku pergi diantarkan oleh makhluk asing ini. Di dalam hati, aku pun masih terus berdo’a berharap agar Tuhan masih melindungiku dari segala macam ancaman terutama ancaman yang berasal dari makhluk asing ini. Aku hanya memainkan ponselku saja dari tadi. Semenjak masuk ke dalam Taxi hingga sekarang, makhluk asing ini hanya diam, pandangannya lurus ke depan.

“Mianhae…untuk kejadian tadi pagi.” Ujarku memulai pembicaraan.

“Musun Sorieyo? “

“Kau jangan berfikir macam-macam tentangku, aku hanya mencari barangku yang tertinggal saja.”

“Jinjjayo? Aku pikir kau mencari ini?” Dia menatapku dan menunjukkan sebuah kartu identitas di tangannya.

Melihat itu aku hanya tertunduk tanpa bisa berkata apa-apa. Urghhhh… makhluk asing ini sepertinya dapat membaca pikiranku.

“Tenang, sesegera mungkin aku juga akan keluar dari rumahmu. Mianhae membuatmu menjadi sangat tidak nyaman.” Ujarnya padaku.

Kali ini dia berbicara tanpa menatapku, pandangannya tetap lurus ke depan. Mendengar ucapannya, aku pun merasa sedikit bersalah. Aku pun tak berbicara lagi, aku bingung harus menjawab apa. Aku pun kembali memainkan ponselku.

 

***

“Sepertinya sebentar lagi kita sampai,”

“ne….” Jawabku

Sesampainya di depan lobby rumah sakit, dia segera turun dan membukakan pintu untukku. Memapahku, dan membantuku berjalan juga membantuku duduk di kursi roda. Antrian pasien masih panjang, di bagian ortopedi saja masih sekitar 20 orang lagi.

“Eunchae-ya,sepertinya kita harus menunggu giliranmu agak lama. Kalau kakimu ada yang sakit, katakan padaku.” Ujarnya lembut sambil mendorong kursi rodaku.

“Ne….” Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku semakin merasa bersalah. Dari tadi dia yang bolak balik mengurus semua administrasiku disini. Yah, aku akan mengurangi sedikit negative thinking ku pada makhluk asing ini.

Aku menunggu giliranku hampir 1,5 jam lamanya, Makhluk asing itu tetap berdiri disampingku. Semua tempat duduk di ruang tunggu sudah penuh ditempati karena banyaknya pasien yang datang.

“Jonghyun-ssi kalau kau capek, kau  bisa meninggalkanku. Aku sendirian bisa kok.” Ujarku padanya.

“Gwaenchana, sebentar lagi juga giliranmu kan. Aku akan membantumu sampai selesai.” Aku senang mendengarkan jawabannya. Yah, mungkin ini salah satu bentuk balas budinya karena Abeoji memperbolehkannya tinggal di rumah.

“Mana bisa aku meninggalkan gadis aneh dan payah sepertimu dalam kondisi seperti ini.” Lanjutnya lagi. Mendengar pernyataan keduanya itu, aku pun tidak jadi untuk berfikir menghilangkan negative thinking ku padanya. Aku pun menatapnya tajam walau pandangannya lurus ke depan dan mengerucutkan bibirku.

“Cih…” keluhku pelan.

“Sudahlah… ayo ini sudah mendekati giliranmu.” Dia mengusap-usap puncak kepalaku dan mendorong kursi rodaku untuk memasuki ruang pemeriksaan.

 

***

Aku sudah selesai menjalakan pemeriksaan. Dokter bilang ada bagian yang retak pada tulangku, mungkin akan perlahan sembuh dalam waktu tiga bulan. Dan aku tidak boleh terlalu banyak bergerak. Dalam hati aku sedikit bersyukur, selama 3 bulan ini, aku pasti diijinkan untuk tidak ikut mata pelajaran olahraga. Aku tidak menyukai olahraga. Aku benar-benar payah dalam mata pelajaran yang namanya Olahrga. Lari selalu menjadi 5 besar terlambat, aku juga tidak pandai dalam bermain basket, menghafal gerakan senam, berenang, pokoknya bisa dikatakan aku ini benar-benar tertinggal dalam pelajaran Olahraga.

Cuaca diluar mendadak terlihat gelap, ternyata beberapa menit kemudian hujan turun sangat deras. Aku ingat kalau aku tidak membawa payung. Aku menoleh ke atas dan menatap bingung wajah makhluk asing itu.

“Ada apa?” Tanyanya tiba-tiba padaku.

“Umm…bagaimana?aku tidak bawah payung. Kalaupun naik Taxi kita harus berjalan sampai depan sana dulu kan?”

“Oh! Itu ada taxi yang berhenti di depan lobby. Ppalli!Ayo cepat naik ke punggungku. Kalau aku memapahmu bisa kupastikan badanmu basah kuyup.”

Makhluk asing itu berdiri didepanku dan memakaikan jaket kulitnya ke tubuhku. Lalu membalikkan badannya dan jongkok didepanku.

Aku bingung melihatnya, tidak tahu harus bagaimana.

“YA! Ayo cepat naik ke punggungku!Kau tidak berat…tak perlu malu!”

Makhluk asing itu menarik kedua tanganku ke lehernya, refleks aku memeluknya dari belakang. Dia menggendongku dan berlari menuju sebuah taxi.

“YA!Kalau kau malu tutup saja matamu!” Ujarnya padaku.

“Ne….”  Aku pun menutup mataku, ini benar-benar membuatku merasa aneh dan memalukan. Aku pastikan banyak orang yang melihat ke arah kami.

“YA! Ini sudah di depan taxi, ayo longgarkan pelukanmu ini, erat sekali! Kau masih ingin memelukku?nanti saja jika kau masih ingin memelukku.”

“MWORAGO?!ANDWAE!” Seketika aku memukul-mukul lengannya. Rasanya memalukan, bisa-bisanya makhluk asing ini berkata seperti itu. Pertama, dia menggendongku paksa dan yang kedua .. kalimatnya itu, sukses membuat isi jantungku ingin meledak.

Dia menurunkanku perlahan-lahan dan membantuku masuk ke dalam Taxi. Dalam perjalanan pulang, aku pun hanya terdiam. Aku hanya memainkan ponselku dan membaca beberapa pesan yang masuk ke ponselku. Isinya dari teman-teman yang mengkhawatirkanku. Oh iya, ada satu pesan juga dari namja yang menarik perhatianku akhir-akhir ini.

Aku tersenyum membaca pesan-pesan itu, terutama pesan dari seseorang yang bernama ‘song seunghyun’. Isi pesannnya sangat lucu dan sukses membuatku tertawa.

Sudah 7 menit aku dan makhluk asing ini berada di Taxi, tidak ada yang memulai pembicaraan.  Aku pun memberanikan diri menoleh ke arah makhluk asing itu. Terang saja, dia tertidur, wajahnya terbaring ke sudut kiri dekat bahuku. Dari posisiku saat ini, aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dari kejauhan kulitnya terlihat putih bersih seperti kulit wanita, tetapi kalau dilihat dari dekat kulitnya tidak sesempurna itu, ada bercak-bercak bekas jerawat di pipi hingga lehernya. Ditambah pula dengan bulu-bulu halus di dekat bibirnya. Yah.. namanya juga pria, mana bisa memiliki kulit sehalus dan sebersih wanita, sekali pria tetap saja pria.

Aku mendekatkan wajahku ke dekatnya dan perlahan berbisik pelan di dekat telinganya.

“Gomawoyo….” lirihku.

 

***

Insadong, 1 PM KST

Kami pun tiba di depan gang, karena gang di rumahku adalah gang pertokoan, akan sangat sulit kendaraan seperti mobil melewatinya. Untungnya cuaca pun sudah mulai cerah, hanya saja jalan terlihat sedikit tergenang air. Makhluk asing itu pun kembali memapahku berjalan. Kali ini jalan yang kami lewati agak sedikit sulit, banyak bagian-bagian yang tergenang oleh air.

“Eunchae-ya… kau kugendong saja ya, aku khawatir kakimu terkilir karena kau harus selalu melebarkan kakimu ketika melewati genangan air.” Dia menggenggam lenganku, memberi isyarat agar aku berhenti berjalan sejenak.

“Umm… ..”

Aku tidak dapat berkata apa-apa, yang dia katakan memang benar. Tapi aku malu, ini benar-benar aneh, dia ini bukan Oppa ku, dia hanya orang yang menumpang tinggal dirumahku. Aku hanya menundukkan wajahku, menatap genangan air di depanku.

“Sudahlah, kajja!ini demi kebaikanmu juga.” lagi-lagi, dengan tiba-tiba dia menarik kedua tanganku dan melingkarkan tanganku di lehernya. Sesaat kemudian aku sudah merasakan hangat punggungnya.

“Eunchae-ya..sudah aku katakan kalau kau malu..tutup matamu saja.”

“Ne….umm..kenapa kau mau melakukan ini semua..kita baru saja kenal kan?”

“Humm kenapa ya? Aku juga tidak tahu, tapi alasanku tentunya karena Abeojimu. Dia sangat baik kepadaku. Bahkan dia percaya padaku dan tidak berfikiran macam-macam seperti………..”

Tiba –tiba dia tidak melanjutkan perkataannya. Yah, tanpa menyebutnya, aku pun tahu siapa yang dimaksud.

“Ne…mianhae… jeongmal mianhae, Jonghyun-ssi.”

“Gwaenchana, itu wajar terjadi. Yah, aku harap mulai saat ini kita bisa jadi lebih akrab. Kau teman pertamaku di Korea.”

“ne..Opp..ppa.” Tanpa terasa aku memberanikan diri memanggilnya oppa. Yah, aku yakin sepenuhnya kalau dia memang lebih tua dariku.

“Eh..kau memanggilku Oppa? Hahahaha ..yah itu jauh lebih baik dibandingkan kau memanggilku Jonghyun-ssi. Berjanjilah mulai hari ini kau akan menjadi temanku.” Dia mengacungkan kelingkingnya. Aku pun menyambutnya. Yah setidaknya, aku dapat merasakan kalau dia ini pria biasa dan mulai saat ini sedikit demi sedikit aku akan mengurangi rasa curigaku padanya. Aku yakin seiring berjalannya waktu, aku juga akan tahu siapa dia sebenarnya.

***

8PM KST

Setelah selesai makan malam, aku duduk di depan televisi. Kali ini aku akan mengerjakan tugas yang diberikan songsaenim. Tugas ini besok sudah harus dikumpulkan. Yah, aku sendirian di ruangan televisi ini, abeoji dan Jonghyun oppa sedang mengobrol dan melanjutkan hobby mereka di lantai 1. Sayup-sayup aku mendengar suara Jonghyun Oppa bernyanyi diiringi petikan gitar yang dimainkan oleh abeoji. Aku pun larut dalam alunan suara indahnya.

Even if my heart’s still beating just for you

I really know you are not feeling like I do

And even if the sun is shining over me

How come I still freeze ?

No one ever sees, no one feels the pain

I shed teardrops in the rain

***

1PM KST

Jonghyun POV

Aku kembali masuk ke ruanganku, setelah semalaman bermain gitar dan bernyanyi bersama Yoon ahjussi. Baru dua hari aku tinggal disini, dan aku merasa cukup senang. Aku berharap Abeojiku seperti Yoon Ahjussi. Dia seorang musisi dan sangat baik.

“Eunchae…kau beruntung.”

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar ruangan. Ruangan ini menjadi cukup berantakan. Tidak enak juga rasanya, aku ini tamu tapi ruangan ini tidak aku jaga dengan baik. Aku pun memutuskan untuk membersihkan ruangan ini, supaya layak untuk aku gunakan tidur. Semua benda yang berserakan aku kumpulkan menjadi satu dan aku tata rapi kemudian aku masukkan ke dalam sebuah kerdus. Barang-barang yang ada didalam tasku aku pindahkan dan aku letakkan di sebuah meja.

“Yah..dengan begini setidaknya terlihat sedikit bersih dan rapi.” Aku meregangkan otot-otot tanganku.

Kemudian, aku mengeluarkan semua pakaianku dan memasukkannya kedalam lemari. Sebelumnya, semua isi lemari itu aku keluarkan dulu, ada banyak-banyak barang antik yang terlihat tidak lama digunakan didalamya. Mataku tertuju pada sebuah pucuk surat yang diselimuti amplop. Terlihat seperti surat yang masih baru. Aku pun membukanya, di depan surat itu terlihat kalau surat itu ditjukan pada Yoon Ahjussi. Tapi, sepertinya surat itu berasal dari instansi rumah sakit. Karena penasaran dengan isinya, aku pun membuka surat itu. Banyak istilah yang aku tidak mengerti, tapi aku dapat menyimpulkan sesuatu ketika aku membaca tulisan yang dicetak tebal.

“Jadi, yoon ahjussi….aigoo… 4 bulan………ini  …mengerikan……”

Setelah membaca surat itu, aku pun menutupnya kembali dan memasukkan surat itu ke dalam laci kecil di dalam lemari. Mungkin, besok aku akan menanyakan hal itu pada yoon Ahjussi.

 

***

Part 2 End

18 thoughts on “Even Your Tears (Chapter 2)

  1. eh..FFku pendek juga trnyata..*lol…hahahhaha.,.padahal buatnya 12 halaman…ini pendek gga sih sodara sodara???anywayyyy..makasih uda baca FF aku ^^..semangat deh nih authornya buat Part 3..Capcussssssssss….

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s