‘L’ For Love, ‘L’ For Lies (Part 5)

Main Cast:

  • Lee Jong-hyun ‘CN Blue’
  • Im Yoona ‘SNSD’

Support Cast:

  • Kang Min-hyuk ‘CN Blue’

Genre: Romance, Family, Crime

Rating: PG-15/NC-17

***

Pengalaman pertama apa pun pasti akan membuat seseorang menjadi tegang. Yoona mengalami hal yang sama di hari pertamanya bekerja di kafe. Khawatir dan takut melakukan kesalahan membuatnya sedikit gugup.

Tapi, itu semua tidak akan membuat langkahnya surut. Dia sudah memutuskan akan membiayai dirinya sendiri. Memang menjadi waitress bukanlah jenis pekerjaan yang menghasilkan uang segampang keran mengucurkan air. Menjadi waitress juga bukan pekerjaan glamor tapi setidaknya Yoona bisa membantu keadaan finansial keluarganya.

Terbawa oleh pikiran gugupnya, dia malah jadi tidak kosen dan meletakkan pesanan di tangannya tanpa memerhatikan nomor meja sebelumnya.

“Permisi, ini bukan pesananku,” sela seorang wanita berbadan gemuk. Dia lalu menatap Yoona dengan sinis. “Memangnya aku terlihat rakus, memesan makanan sebanyak ini?”

“Jeongmalyo?” Yoona meneliti tubuh si wanita itu dengan saksama yang sudah menjelaskan semuanya.

Tiba-tiba, dari meja sebelah terdengar panggilan, “Permisi, nona, itu pesanan kami.”

Sontak wajah Yoona bersemburat merah. Dia menatap wanita tadi seraya membungkukkan badan berulang-ulang kali karena merasa tidak enak hati.

“Mianhada, jeongmal mianhada,” ucapnya.

“Cih, dasar!” sindir wanita itu dengan ketus.

Yoona membungkuk untuk terakhir kalinya lalu meletakkan pesanan makanan tadi ke meja yang dipenuhi oleh beberapa orang remaja.

Dia masih bisa bernafas lega sekarang karena untung saja manajernya sedang tidak ada di tempat.

“Fiuh~”

***

Yoona baru saja akan pulang ketika dia mendapati Jonghyun sedang duduk di kap mobilnya, menunggui gadis itu. Wajah Yoona berubah sumringah begitu pemuda itu mendekat.

“Kenapa kau bisa disini?” tanyanya, tanpa berusaha menyembunyikan rasa senangnya.

“Aku memang sengaja ingin menungguimu pulang. Aku penasaran bagaimana hari pertamamu bekerja disini,” jawab Jonghyun sambil tersenyum.

“Melelahkan!” seru Yoona, yang kontras sekali dengan raut bahagianya. “Aku banyak melakukan kesalahan hari ini. Banyak salah mengantar pesanan. Mungkin karena belum terbiasa. Tapi, sangat menyenangkan.”

Jonghyun hanya mengulum senyum dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan sayang. “Kalau begitu, dalam memperingati hari pertamamu bekerja, aku ingin mengajakmu makan malam bersama ayahku.”

“Makan malam? Bersama ayahmu?” Yoona tampak kaget. Entah bagaimana harus bereaksi. Haruskah dia senang? Atau malah merasa ini semua terlalu cepat?

“Ne, waeyo? Kenapa wajahmu terlihat tidak senang?”

“Ah, aniyo.” Yoona cepat-cepat menggeleng. “Tapi, apakah tidak apa-apa? Ayahmu kan sibuk.”

“Tentu saja tidak apa.”

Yoona terdiam. Kedua matanya yang sayu menatap sepasang mata teduh milik Jonghyun. “Hm, baiklah,” jawabnya.

Jonghyun balas tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuk gadis itu. “Masuklah.”

***

Taejin bolak-balik berdiri di depan pintu kamar Minhyuk. Dia menatap pintu itu dengan ragu. Haruskah dia masuk ke dalam sekarang atau menunggu lebih lama lagi?

Sejak mendengar Jonghyun bicara soal kesembuhan Minhyuk, Taejin jadi gelagapan. Tidurnya jauh dari pulas, dan belakangan ini gerak-geriknya sangat gelisah. Seolah ada yang mengganggu pikirannya. Sebagai ayah, seharusnya dia senang mendapat kabar tentang kesembuhan Minhyuk. Tapi sepertinya, Taejin malah menunjukkan sebaliknya.

Setelah meyakinkan hatinya sendiri, dia meraih gagang pintu dan membukanya. Dia melongokkan kepala ke dalam kamar yang gelap itu untuk mencari sosok Minhyuk.

“Minhyuk? Apa kau ada di dalam?” Taejin berusaha mencari Minhyuk ditengah kegelapan.

“Aku disini.” Terdengar suara parau dari arah sudut ruangan. Taejin mencoba meraih tombol lampu dan segera menyalakannya. Dia mendapati Minhyuk sedang duduk tegak di atas kursi, didepan meja belajar.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Taejin seraya mendekat kearah Minhyuk dengan hati-hati.

“Aku sedang menulis sesuatu.” Minhyuk menunjuk beberapa lembar kertas yang ada di meja belajarnya.

“Apa yang kau tulis?” Taejin menjulurkan kepalanya dan melihat tulisan tangan Minhyuk disana. Tulisan-tulisan diatasnya lebih berupa sebuah catatan kotor. Ada beberapa kata yang ditulis Minhyuk. Map, kertas putih, ibu, dan kematian.

Taejin menelan ludah. “Kenapa kau menulis hal-hal aneh seperti itu?”

Minhyuk mengerjap-ngerjapkan mata seolah lupa mengapa dia menuliskan kata-kata itu. “Entahlah, aku sepertinya tahu mengapa Ibu meninggal. Aku mengingat sesuatu hal buruk yang terjadi tentang Ibu, tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.”

Taejin menyeka keringat dingin yang mengucur di dahinya. Dia lalu berlutut di depan Minhyuk dan memegang erat kedua bahu Minhyuk.

“Minhyuk, lihat ayah sekarang,” katanya. Minhyuk menurut dan menatap sepasang mata milik ayahnya dalam diam. “Apakah… ayah terlihat seperti orang jahat dimatamu? Apakah kau membenci ayah?”

Minhyuk terdiam. Matanya terus beradu dengan mata Taejin, seolah mencari jawaban dari sorot mata Taejin.

“Minhyuk-ah,” panggil Taejin lagi. “Apakah kau ingat sesuatu tentang ibumu?”

Gerakan mata Minhyuk menurun. Dia tak lagi menatap mata Taejin. Pemuda itu tertunduk beberapa detik, lalu kembali mendongakkan kepalanya.

“Aku tidak ingat apa-apa. Bagiku, ayah bukanlah orang yang jahat. Kau adalah ayahku, mengapa aku harus mengatakan ayah jahat?”

Seketika seulas senyum tipis muncul di kedua sudut bibir Taejin. “Bagus. Memang itu kenyataannya. Aku adalah ayahmu, dan aku adalah ayah yang baik untukmu.”

***

Taejin langsung menghambur keluar rumah ketika mendengar suara mobil Jonghyun dari luar. Dia tersenyum ramah ketika melihat Jonghyun dan Yoona turun dari mobil.

“Annyeonghaseo!” sapa Yoona ramah sambil membungkuk kearah Taejin.

“Oh, annyeonghaseo! Kau pasti Yoona, kan?” Taejin menyambut gadis itu dan menjabat tangannya.

“Ne, aku Yoona.”

“Senang bisa bertemu denganmu. Jonghyun sering menceritakan tentang dirimu. Dia bilang kau sangat cantik dan baik, membuatku tidak sabar untuk segera bertemu denganmu,” ujar Taejin dengan suara besar. Sesekali dia menepuk-nepuk pundak Jonghyun lalu tertawa.

Pipi Yoona terasa panas mendengar pujian-pujian yang dilontarkan Taejin. Dia menyikut tubuh Jonghyun lalu tersipu malu.

“Memang kenyataannya seperti itu, kan?” bisik Jonghyun sambil mengedipkan matanya.

Yoona hanya tersenyum.

“Ayo, mari masuk! Aku sudah menyiapkan makan malam spesial untuk kita semua,” ujar Taejin sambil menarik tangan Yoona.

Ketiganya lalu duduk bersama di meja makan. Yoona terkesiap melihat semua jumlah jenis makanan yang Taejin siapkan. Entah ada berapa belas jenis makanan western yang sudah dia siapkan. Dan Yoona merasa sangat spesial dengan jamuan makan malam itu.

“Wah, ahjussi, apakah ini tidak terlalu banyak?” tanya Yoona, merasa sungkan.

Taejin menggeleng. “Aniyo. Gwaenchanhayo. Aku menyiapkan segala sesuatu dengan sangat spesial, karena aku tahu akan ada tamu spesial yang datang,” katanya lalu tertawa kecil.

“Gamsahabnida. Aku merasa sangat tersanjung,” kata Yoona sambil menundukkan kepalanya.

“Ne, ayo, segera dimakan sebelum dingin. Jangan sungkan.”

Taejin meraih salah satu piring dan menyendokkan nasi serta beberapa macam lauk untuk Yoona. Dia bahkan mengambilkan serbet dan menumpahkan air ke dalam gelas Yoona.

“Tidak apa, ahjussi, biar aku sendiri yang melakukannya,” kata Yoona mulai benar-benar tak enak hati.

Namun Taejin tetap bersikeras. “Tidak apa. Kau nikmati saja makan malam hari ini. Biar aku yang melayanimu.”

Yoona terpaksa mengalah. Gadis itu lalu menoleh kearah Jonghyun yang duduk di sebelahnya. Wajah pemuda itu tampak murung dan dingin. Mata Jonghyun tak lepas dari sosok ayahnya. Seolah dia merasa kesal dengan perlakuan Taejin kepada Yoona.

Yoona menyikut pemuda di sebelahnya dan berbisik kepadanya, “Hei, ada apa? Kenapa kau diam saja?”

Jonghyun terlonjak kaget dan menggeleng. “Tidak apa-apa.”

“Ayo, dimakan!” kata Taejin, membuyarkan situasi yang terjadi diantara keduanya.

Yoona sebenarnya agak merasa khawatir dengan suasana hati Jonghyun yang aneh. Dia baru saja ingin bertanya lebih lanjut kepada pemuda itu, tapi Taejin terus mengajaknya mengobrol.

***

“Bagaimana makan malam tadi? Apakah menyenangkan?” tanya Jonghyun sambil terus menyuapi dirinya dengan es krim.

Yoona terdiam sesaat. Dia menengadahkan kepalanya dan menatap bintang-bintang di langit lalu bergumam, “Hm, lumayan. Tapi, kadang aku merasa ayahmu bersikap terlalu berlebihan padaku.”

“Aku rasa juga begitu,” sahut Jonghyun pelan.

Yoona menoleh dan menatap Jonghyun lama-lama. “Apakah kau sedang bertengkar dengan ayahmu?” tanyanya tiba-tiba.

Jonghyun menggeleng lalu balas menatap Yoona. “Memangnya kenapa?”

Gadis itu mengangkat bahu. “Entahlah. Kau sepertinya tidak terlalu menyukai ayahmu.”

Jonghyun tertegun lalu tertawa gugup. “Apa maksudmu? Dia ayahku, mengapa aku tidak menyukainya? Sangat tidak beralasan.”

Yoona ikut tertawa. “Benar juga. Aku mengada-ada.”

Suasana mendadak menjadi sangat hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan deru mobil yang lewat di depan rumah Jonghyun.

Jonghyun menghela nafas berat. Dia meletakkan cup es krimnya ke lantai dan menatap Yoona yang sedang asyik menatap langit gelap di atas.

“Yoona-ah,” panggil Jonghyun.

Yoona buru-buru menoleh dan menyahut. “Hm?”

“Mianheyo.”

Gadis itu mengerutkan alisnya. “Untuk apa kau minta maaf?”

Jonghyun memalingkan wajahnya lalu menjawab, “Ani. Aku hanya sekedar ingin minta maaf saja padamu. Aku takut jika ada hal-hal yang tidak kusadari dan membuatmu merasa terluka.”

Yoona tertawa kecil dan mengalungkan tangannya di lengan kokok Jonghyun. Dia menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu lalu menjawab, “Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, bodoh. Aku malah merasa bahagia bisa bertemu dengan pemuda sebaik dirimu. Kau membantuku mendapatkan pekerjaan dan selalu menghiburku.”

Jonghyun tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Dadanya terasa sakit. Kau tidak mengenalku, Yoona. Aku tidak sebaik seperti apa yang kau lihat selama ini. Justru sebaliknya, aku sangat jahat.

“Tetapi, jika kau sampai berpaling kepada wanita lain, tentu saja aku akan sangat marah padamu,” kata Yoona dengan suara kesal. Dia mengangkat kepalanya dan membekap kedua pipi Jonghyun. “Kau sengaja meminta maaf padaku duluan, bukan karena kau menyimpan wanita lain, kan?”

Jonghyun menggeleng. “Aniyo. Tentu saja tidak.”

Yoona menyeringai lebar lalu tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal. Jonghyun mengernyit heran melihat tingkah gadis itu yang tertawa secara tiba-tiba.

“Ada apa?” tanyanya.

“Lihat itu.” Yoona berusaha menahan tawanya dan menunjuk kearah bibir Jonghyun. “Ada bekas es krim disana.”

“Oh, jinjjayo?” Jonghyun hendak mengusap es krim itu dengan punggung tangannya, tapi tangannya langsung ditahan oleh Yoona.

“Biar aku saja,” kata Yoona pelan.

Gadis itu mengalungkan kedua lengannya di leher Jonghyun dan mendekatkan wajahnya kearah wajah Jonghyun. Jonghyun tak bisa mengatasi degup jantungnya ketika wajah Yoona mendekat.

Lalu, Yoona mengecup lembut bibir pemuda itu tepat di bekas es krim tadi. Jonghyun terlonjak saat merasakan ujung lidah Yoona menyapu bekas es krim yang ada di mulutnya. Tak berapa lama kemudian, Yoona segera melepas ciumannya dan menatap wajah Jonghyun.

Keduanya akhirnya tertawa lalu kembali melanjutkan ciuman itu.

***

Jonghyun menggeram pelan ketika Yoona mendekat dan membalas kecupannya. Jonghyun balas menciumnya lebih intim dan hangat. Mereka menjauhkan diri sesaat, menghayati sensasi manis yang tertinggal di bibir masing-masing. Jonghyun lalu mendaratkan ciumannya lagi ke bibir Yoona, dan kali ini Yoona pasrah dan membuka mulutnya.

Dia membiarkan Jonghyun menelusuri ruang di dalam mulutnya, merasakan getaran saat lidah mereka bersentuhan, dan hangat nafas di depan wajahnya.

Tangan Jonghyun melingkari tubuh Yoona, yang pelan-pelan merosot ke bawah. Ketika tangannya berhenti di pinggul gadis itu, dia menariknya lebih dekat, merapatkan dada mereka yang terbakar karena permainan sentuhan tadi.

Yoona berjalan maju, mengikuti gerakan Jonghyun yang pelan-pelan mundur dan terduduk di tempat tidur. Ciuman mereka semakin dalam dan dia meletakkan sebelah kakinya di atas tempat tidur. Yoona kini berada di atas pangkuan Jonghyun, merasakan sesuatu mengeras di balik celana yang dipakai pemuda itu. Wajah Yoona merona ketika menyadari hal itu, tapi tidak terpikir sedikit pun untuk mengakhiri keintiman yang sudah terjadi diantara keduanya.

Akhirnya, Yoona menjauhkan wajahnya dan membiarkan Jonghyun beralih ke lehernya, menciumi setiap inci kulit lehernya. Dia merasakan jantungnya berdebar-debar tak karuan ketika hidung Jonghyun yang mancung menghembuskan nafas hangat dan menyentuh kulit lehernya.

Yoona menangkup wajah Jonghyun dan mencium hidung dan bibirnya dengan lembut. Ciuman itu meninggalkan bekas basah disana.

Keduanya menghentikan kegiatan mereka lalu saling menatap.

“Haruskan kita melanjutkannya?” tanya Jonghyun, terlihat agak khawatir.

Yoona tersenyum tipis lalu mengangguk dengan wajah tersipu malu.

Jonghyun segera menekankan bibirnya dengan semangat, sementara tangannya bergerak agak terburu-buru membuka satu per satu kancing kemejanya. Setelah bertelanjang dada, dia beralih membantu Yoona membuka satu per satu kancing kemejanya.

Keduanya melucuti semua pakaian masing-masing kecuali pakaian dalam. Biar mereka masing-masing yang mendapat kehormatan untuk melepaskannya. Setelah semuanya selesai, keduanya akan sama-sama sans apparel dan… whatever will be, will be.

***

Sore itu, seperti biasa, Jonghyun menunggui Yoona selesai bekerja. Tapi kali itu, dia tidak menunggu diluar, melainkan menunggu gadis itu di dalam sambil menikmati secangkir kopi. Sekaligus, dia bisa leluasa menikmati detik-detiknya memandangi wajah Yoona yang sedang sibuk mengantarkan pesanan.

Dan ketika Yoona tidak sengaja menoleh kearahnya, Jonghyun cepat-cepat melambaikan tangan kearah gadis itu.

“Kau tidak apa-apa menunggu terus?” tanya Yoona sembari menghampiri pemuda itu.

Jonghyun menggeleng. “Tidak apa. Tidak usah terlalu memerhatikan aku. Kau fokus saja dengan pekerjaanmu hari ini.”

“Baiklah.” Yoona tersenyum lalu beranjak pergi dan melanjutkan kesibukannya.

Tak berapa lama kemudian, terdengar bel kafe itu bergemerincing. Seorang wanita masuk ke dalam kafe dan tersenyum tipis ketika menyadari bahwa Jonghyun juga berada di sana.

“Hai,” sapa wanita itu lalu ikut duduk berhadapan dengan Jonghyun.

Jonghyun memutar bola matanya dengan bosan. “Ada apa kau kemari?”

“Kau ingat, kan, janji kita lusa lalu? Kau berjanji untuk menemaniku hari ini,” ujar wanita itu dengan nada misterius.

“Aku tidak bilang akan menemanimu hari ini. Aku baru bilang akan aku usahakan. Sayangnya, sekarang aku sedang sibuk, jadi tidak bisa menemanimu,” jawab Jonghyun datar.

“Oh ya?” Wanita itu meneliti wajah Jonghyun dan menoleh kearah Yoona yang sedang mencatat pesanan seorang tamu. “Siapa gadis itu? Kenapa kau memandanginya seperti itu? Apakah dia pacarmu?”

“Bukan urusanmu.”

Wanita itu tertawa sinis. “Kasar sekali. Kau tidak seperti Jonghyun yang kenal. Siapa yang membuatmu seperti ini? Apakah gadis itu?”

Jonghyun mulai terlihat kesal. Dia balas menatap wanita itu dengan tatapan dingin lalu berkata dengan ketus, “Kau bukan siapa-siapa dan tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!”

“Baiklah,” Wanita itu mengambil ponsel miliknya dari dalam handbag yang dia bawa lalu menunjukkannya pada Jonghyun. “Lihat, bagaimana reaksi ayahmu jika aku memberitahunya soal perilaku kasarmu padaku.”

Wajah Jonghyun memucat. Yang tadinya raut wajahnya terlihat tegas dan garang, kini berubah menjadi sayu dan ketakutan.

“Baiklah, baiklah. Aku mohon, jangan katakan pada ayahku, dia bisa membunuhku jika kau mengatakannya,” pinta Jonghyun.

Wanita itu tersenyum puas. “Aku tidak akan mengikutinya jika kau mau menuruti keinginanku.”

Jonghyun terdiam beberapa saat. Dia menatap Yoona yang masih sibuk dengan ragu. Setelah itu, dia akhirnya mengangguk kearah wanita itu.

“Baiklah, kita lakukan saja digudang dan aku tidak bisa lama-lama.”

***

Wanita itu mendekatkan diri dan mencium bibir Jonghyun, dalam dan mesra. Jonghyun menggeser duduknya saat bibir wanita itu bersentuhan dengan bibirnya, dan tanpa sengaja gerakan disengaja itu malah mengirimkan gelenyar khusus bagi wanita itu.

Wanita itu tersengal karena sensasi itu dan dia menganggap itu sebagai isyarat untuk Jonghyun untuk menciumnya lebih intens lagi. Sayangnya, Jonghyun sepertinya enggan-engganan melakukannya.

Terpaksa, wanita itu yang memaksa Jonghyun. Dia mendorong wajah Jonghyun dan menyelipkan lidahnya dengan lembut ke mulut Jonghyun, lalu menekan bibir pemuda itu lebih dalam.

Tangan Jonghyun melingkari pinggang wanita itu, membuat tubuh mereka semakin dekat lagi. Ciuman tadi tak terburu-buru, bahkan lambat pada awalnya, tapi pelan-pelan semakin intens saat wanita itu mulai dikuasai nafsu.

Tangan wanita itu mencengkeram dan tenggelam dihelai-helai rambut Jonghyun. Dia melingkarkan kedua tangannya ke leher Jonghyun, berusaha mempertahankan posisi tubuhnya supaya tetap berada sedekat mungkin dengan pemuda itu.

Dia lalu menarik tangan kiri Jonghyun dan memaksa pemuda itu untuk memasukkannya ke dalam bajunya. Jonghyun tampak sedikit memberontak ketika dia dipaksa melakukan hal itu, tapi wanita itu langsung memelototinya. Dan yang bisa Jonghyun lakukan saat itu hanyalah menuruti keinginan wanita itu.

***

Yoona meletakkan nampan ke atas meja bar dan meregangkan tangannya yang mulai keram karena terus mengantarkan pesanan. Dia lalu melongokkan kepalanya mencari sosok Jonghyun.

“Kemana dia?” gumamnya.

Gadis itu mengitari satu per satu meja kafe untuk mencari sosok pemuda itu. Tetapi, dia tak menemukannya dimana-mana.

Ketika salah seorang rekan kerjanya sesama pelayan berpapasan dengannya, Yoona buru-buru mencegat orang itu.

“Apa kau melihat Jonghyun?” tanyanya.

“Jonghyun? Tadi dia pergi ke gudang belakang dengan seorang wanita,” jawab pelayan itu.

“Gudang belakang? Bersama wanita?”

Pelayan itu mengangguk.

“Ah, ne, gomawo.”

Entah kenapa, tiba-tiba Yoona merasa tak enak. Dia segera menghampiri gudang belakang yang biasa dipakai untuk mengisi alat-alat kebersihan. Dipandanginya pintu itu dengan ragu.

Apa yang dia lakukan bersama seorang wanita di dalam sini?

Yoona lalu meraih gagang pintu dan membukanya dengan satu kali sentakan. Dia tersentak kaget ketika melihat pemandangan itu. Jonghyun sedang berciuman dengan seorang wanita lain. Bahkan mereka terlihat begitu intim.

Melihat kehadiran Yoona diambang pintu, Jonghyun cepat-cepat mendorong tubuh wanita itu dengan panik.

“Yoona, ini tidak seperti apa yang kau lihat,” kata Jonghyun sambil mendekat kearah gadis itu.

Yoona hanya diam. Dia masih tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya barusan. Tak terasa, air mata langsung merembes membasahi pipinya. Dia lalu menampar pipi Jonghyun dengan keras dan meninggalkan jejak merah di pipi pemuda itu.

“Kau brengsek, Jonghyun! Kau brengsek! Aku benci padamu!” teriaknya histeris.

Yoona langsung berlari sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Jonghyun juga langsung berlari mengejar gadis itu dan mencegatnya.

“Dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud menyakitimu,” kata Jonghyun sambil menarik lengan Yoona.

Semua pengunjung kafe itu terheran-heran melihat keduanya. Dan mendadak, mereka berhenti menikmati menu mereka masing-masing dan memilih menikmati drama yang berlangsung.

Yoona buru-buru menepis tangan Jonghyun dengan kasar. Tiba-tiba saja dia merasakan seisi kafe itu seolah-olah berputar-putar, membuat kepalanya serasa ingin meledak.

Dia memegangi kepalanya dan berusaha mengatur keseimbangan tubuhnya. Jonghyun yang menyadari ada yang salah dengan gadis itu, berusaha menopang tubuh Yoona. Tapi lagi-lagi Yoona menepis tangan Jonghyun.

Ketika dia bersikeras tak ingin dibantu sama sekali, Yoona akhirnya jatuh pingsan ke lantai dan tak sadarkan diri.

***

Jonghyun kini duduk berhadapan dengan seorang dokter. Ketika Yoona jatuh pingsan, dia segera membawa gadis itu ke rumah sakit dan menyuruh dokter memeriksa keadaannya. Sekelebat perasaan bersalah kini berputar-putar di kepalanya dan menghantuinya.

“Bagaimana keadaan Yoona?” tanyanya, penasaran.

Dokter itu memperbaiki posisi kacamatanya lalu berdecak. “Sangat buruk. Seharusnya Anda tidak membiarkannya mengalami guncangan mental yang terlalu hebat. Akhirnya penyakitnya semakin parah.”

“Penyakit? Penyakit apa? Apakah dia mengidap suatu penyakit?”

“Ne, dia mengidap Vertigo. Penyakit yang membuat pengidapnya akan mudah merasa lelah dan jatuh pingsan. Penyakit ini menyiksa penderitanya dengan efek pusing.”

***

Jonghyun duduk terpaku di bangku koridor rumah sakit. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis.

Aku benar-benar jahat! Aku benar-benar jahat!

Pemuda itu terus menangisi penyesalannya. Mengapa selama ini dia tidak sadar dengan penyakit Yoona? Kenapa Yoona tidak menceritakan kepadanya sama sekali soal penyakit yang dideritanya? Tahu begitu, Jonghyun tidak akan cukup tega untuk menjadikan Yoona sebagai korbannya.

Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang? Menyerahkan Yoona begitu saja? Tapi nyawa Minhyuk yang justru akan terancam.

“Argh!” Jonghyun mencengkeram erat rambutnya. Dia benar-benar bisa mati berdiri hanya karena memikirkan hal-hal rumit yang kini terjadi di dalam hidupnya.

To be continued…

***

Note: Mianhae ya para readers sekalian. FF ini akan saya protect untuk part terakhirnya. Jadi, bagi para readers yang ingin mengetahui cara mendapatkan password, silahkan masuk ke page ini. Ikuti format yang dituliskan di page tersebut, maka saya akan langsung memberikan passwordnya. Hal ini saya lakukan untuk menghindari para silent readers. Jadi, maaf ya kalo agak menyusahkan. Gamsahabnida ^^

33 thoughts on “‘L’ For Love, ‘L’ For Lies (Part 5)

  1. Wua~ smakin dugeun2 yah jalan ceritanya..
    Sy yakin bpknya minhyuk brperan dln kematian ibunya minhyuk..
    Jonghyun berjuang!!!
    Author daebak ^_^

  2. Duh thor makin penasaran sama endingnya, mudah2an minhyuk cepet inget semuanya ya, biar jong ga jadi nyerahin yoona ke bokapnya yg jahat ntu

  3. ihss..aku komen kepotong..yahhh..penasaran sm lanjtannya..wah part 5 uda ending yah..T^T..ada sequel lanjutannya yah🙂 humm..minhyuk ..pengen tau kejadian kematian ibunya..apa bapaknya yah yg bunuh?? *reader sok tau* kekekeke

  4. kyaaaaaaaaaaaaaa jonhyun melakukan itu jg ke yoona. kalo ini sama2 suka. hahah
    drpd ma tante2 itu.ishhhhhhhhhhhhhhhh..
    aduhhh taejinsadarlah. aihhh kebahagian anak2 itu lebih penting drpd uang. huaaaaa emosi tingkat dewa.
    lanjut

  5. Wah… Bahaya. Jonghyun ya.. Kena deh tuh. Kesian yah si yoona. Ini nc banget. Berhubung aku suka bgt sama nih ff, aku minta pw deh.. Thor emang nc part nya banyak ya? Nggak ada skip part nya? But anyway good job

  6. Kyaaa jonghyunnya jahat, tapi kasian juga sih T_T
    itu kenapa ya bapaknya koq malah jd ketakutan sm minhyuk. jgn2 minhyuk tau sesuatu lagi kyaaa >_<

    Kutunggu part berikutnya author.

  7. kyaaaa jonghyun jahat, harusnya tuh tante girang jgn diladenin T_T
    Penasaran sama minhyuk, kayaknya dia tau sesuatu soal kematian ibunya.

    aku tunggu deh part berikutnya author ^^

  8. Baru tau kalau part 5 udah di post… Bagus Tirza, bahasa NC nya halus, tapi feel nya dapat..

    Makin penasaran ni, apa yg terjadi sama ibu minhyuk, apakah ayahx yg bunuh ibu minhyuk dan minhyuk meliat kejadian itu? *sotoy*

    bgaimana dg nasib JongNa? Moga JONGHYUN mau menceritakan semuax sama yoona, jadi biar yoona g salah paham dan memahami keadaan JongHyun.. Nice FF

  9. what the……!!!
    segitu gampangnya si yoona jatuh di genggaman jonghyun. dan begitu yoona mergokin jonghyun sama seorang wanita, sakitnya pasti bukan main.
    makin merasa bersalah deh.
    nyium2 bau keterbukaan (?), maksudku kayaknya ada hubungannya ayahnya minhyuk-jonghyun sama kematian ibunya.
    lanjutannya ditunggu~~

  10. semangat pas baca bagian jonghyun yoona begitu *reader yadong*
    harus baca part terakhirnya nih..
    apakah semuanya akan terungkap dan yoona kembali pada jonghyun!? #bahasanya

  11. Udh mau ending ya? Heemmmm
    Keren bgt !!!
    Itu si Minhyuk keliatannya ada sesuatu deh yg msh dia sembunyiin wkwkwk

    Wahahhaha yoona sma jonghyun😄
    D tunggu kelanjutannya🙂

  12. Wahh br nemu ff ini, kebetulan aq suka bgt ma pairingnya.. Lgsg ngebut deh bacanya🙂 author daebak, penasaran bgt ama lanjutannya, tu si minhyuk koq bs tb2 sembuh ya? Kynya bapaknya yg jahat deh ngebunuh ibunya.. Hmm.. Pnasarannn

  13. wah baru nemu nih FF T.T
    soalnya barusan sibuk sama ulangan” yg bejibun😀

    moga” yoonA ga msk dlm perangkap Tae jin. amiin

    HWAITING AUTHOR!

  14. hai author, aku reader baru disini, dan ini ff ke 3 yg aku baca stlh Falling and Waiting dan Back Hug. lagi asyik2 kok malah ketemu protekan😦
    ff nya bagus bgt apalagi aku suka pairing disini. ya udah deh, aku minya pw dulu yah…😀

  15. part 5 is done!!!😀 posisi Jonghyun jd serba salah, yah? kasihan uri anae…
    kayaknya, minhyuk ud mulai nunjukin tanda2 bhw dia sembuh & ada suatu keganjilan yg aq rasakan wkt Tae-jin ngomong sm Minhyuk ttg kmatian istrinya (ibu Jonghyun & Minhyuk).
    penasaran bgt, author chingu ^^
    part 6 dipassword, yah? aq minta passwordnya, bole kah? *puppy eyes*

  16. wahh yadong bgt part ini *readers khilaf*
    aigooooo gimani nih nasib percintaan jonghyun-yoona?😔😔
    semoga minhyuk ingat sesuatu dehhhh
    gasabar baca last part nya huhu
    btw aku suka bgt ff bikinanmu thor. bahasanya ringan trus alurnya daebak *telat*
    keep writing thor!! HWAITING^^)9

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s