Playboy VS Playgirl [chapter 11 – end]

chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10

 

Author: mmmpeb

Genre: romance, friendship, family

Length: chaptered

Rating: PG16

Cast:

  • Kang Minhyuk CNBLUE
  • Krystal / Jung Soojung F(X)
Other cast:
  • Key / Kim Kibum SHINee
  • Kang Minyeon [OCs]
  • Choi Hyerin [OCs]
  • Jung Yonghwa CNBLUE
  • Seo Joohyun SNSD
  • Lee Jonghyun CNBLUE

Disclaimer: this’ my own plot *walaupun keliatannya ceritanya basi* keluar dari otak seorang febri

Note: Pertama-tama, maaf karakter Krystal aku buat jutek. soalnya tampangnya mendukung #plak. Yang kedua, gara-gara baca clandestine (cmiiw klo judulnya salah) di ffindo, aku jadi suka minhyuk-krystal, yah saya shipper mereka. Tapi soal jutek2an aku ga ikut2an dr ff itu, seperti yang aku bilang tadi, tampangnya mendukung (?). Dan yang ketiga dan terakhir, SELAMAT MEMBACA~ jangan lupa komen ^^

****************

 

“Kau lihat apa, Joo-ya?” tanya Minhyuk begitu selesai menautkan seatbelt pada tubuhnya. Dia sendiri juga bingung pada keponakannya yang terus saja menatap sesuatu yang tidak jelas apa itu.

Jooyeon menoleh pada Minhyuk, lalu menautkan seatbelt pada tubuhny sendiri.

“Itu!” seru Jooyeon menunjuk seorang wanita yang sibuk mengoceh dengan ponselnya. Minhyukpun menoleh mengikuti kemana jari telunjuk Jooyeon menunjuk. Dilihatnya seorang wanita yang kini melambaikan tangannya dan sebuah taksi berhenti di depannya. Agak kesulitan membuka pintu karena sebelah tangannya sedang memegang ponsel yang menempel ditelinganya, sebelahnya lagi sedang memegang tas.

“Siapa dia?” begitu taksi itu meluncur pergi, Minhyuk menoleh pada Jooyeon. Keningnya mengerut, seperti pernah melihatnya tapi dia tidak tahu kapan dan di mana.

“Mwolla! Saat paman ke toilet, dia duduk di bangkumu dan banyak tanya padaku. Sebelum kau muncul dia tiba-tiba pergi.”

“Oh!” jawab Minhyuk acuh. Tidak begitu mempedulikannya karena toh dia juga tidak mengenal siapa wanita itu. Mungkin hanya perasaannya saja. Toh orang Korea ada beberapa yang mirip.

 

 

 

Dugaanku tepat, Krys!”

Tepat apa, eonni?”

Dia sudah berkeluarga! Sesuai apa kata-katamu waktu itu, kalau kau sudah mengetahui kabarnya dan ternyata dugaanku terbukti, kau harus segera menikah.”

Siapa yang tahu kalau ucapanmu itu benar? Bisa saja kau berbohong, kan?”

Penggal kepalaku kalau aku berbohong!”

Krystal memutus sambungan secara tiba-tiba. Mendengus kesal lalu melempar ponselnya ke tempat tidur. Diapun merebahkan dirinya di sana. Menatap langit-langit kamarnya dan menerawang ke masa lalu.

Dia tahu kakak iparnya –Seohyun- tidak mungkin berbohong, berbicara sesuai fakta dengan apa yang memang telah dilihatnya. Dia percaya dengan kata-kata Seohyun, termasuk Minhyuk yang sudah berkeluarga.

“Aku terlalu berharap banyak! Tidak sia-sia aku menghindar darinya!”

Memejamkan matanya dan berusaha mengenyahkan bayang-bayang Minhyuk dari pikirannya.

 

*****

Dengan kaca matanya yang masih setia bertengger di atas hidunya selama hampir dua jam, Minhyuk sibuk menekuri beberapa file yang semestinya dipelajari kemarin. Kalau saja Jonghyun dan Jooyeon tidak datang mendadak, mungkin hari ini dia bisa berleha sedikit.

Minhyuk mendorong map-map tersebut agak menjauh darinya. Melepas kaca matanya dan meletakkannya di atas meja begitu saja. kemudian dia bersender pada kursinya, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, melipat ke belakang dan menjadikannya tumpuan untuk kepalanya. Matanya menelusuri setiap ukiran atap ruangan besarnya, ruangan yang ditempati ayahnya dulu.

Saat-saat seperti ini membuatnya ingat kembali pada Krystal, perempuan yang hingga kini masih membuatnya penasaran. Mencari kesana-kemaripun tetap tidak menemukan jejaknya. Setiap kali menemukan titik terang, titik itu kembali meredup.

“Seenaknya kau pergi dariku, huh?” dengus Minhyuk.

 

 

 

Musik mengalun dengan keras memekakkan telinga, tapi orang-orang di sana tampak menikmati suasana itu. Penerangan redup, hanya bermodalkan lampu-lampu kelap-kelip membuat pengunjung makin terhanyut dengan suasana. Terkecuali Minhyuk. Sibuk dengan usahanya menuang air dari botol minuman berkadar alkohol tinggi ke dalam gelasnya. Namun sayang, cairan yang lagi-lagi ingin diminumnya tak kunjung keluar.

“Ya, botol bodoh!” gerutu Minhyuk. Sedikit membanting botol itu hingga membuat seorang bartender yang berdiri di depannya terkejut.

“Berikan aku satu botol lagi!” seru Minhyuk dengan kepala tertunduk.

“Maaf tuan, Anda sudah mabuk berat!” sahut sang bartender dengan sopan.

“Aku bayar berapa saja! Cepat berikan!”

Sang bartender menoleh pada seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Yang mengenal klub itu pasti tahu siapa dia. Manajer di klub ekslusif di sebuah hotel ternama, tempat Minhyuk berada saat ini.

Mendapat sebuah gelengan, bartender itu kembali menolak.

“Maaf Tuan!”

Minhyuk mendongakkan kepalanya dan menatap geram sang bartender. Namun sorot matanya berubah menjadi sorot mata kebingungan.

“Krystal?”

Kening sang bartender mengerut.

“Kau Krystal? Kenapa kumisan? Hahaha!” seru Minhyuk lemah sebelum kepalanya ambruk di atas meja bar.

Sang manajer yang sedari tadi mengamati Minhyuk dari ujung meja mulai berjalan menghampiri tamu yang sekaligus berstatus sebagai teman dekatnya. “Kali ini kau mabuk terlalu berat, Minhyuk!”

Minhyuk mengangkat kepalanya dan tersenyum. “Krystal ada dua? Kali ini suaranya seperti Jungshin! Di mana aku? Di Planet Krystal?” tanyanya seperti orang bodoh.

Pria ber-name tag Lee Jungshin itu lantas hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya.

“Sunjong, jaga Minhyuk sebentar!”

“Baik, boss!”

Jungshinpun pergi meninggalkan Minhyuk, bermaksud menyewakan sebuah kamar untuk Minhyuk bermalam. Dalam kondisi seperti itu sangat tidak mungkin bagi Minhyuk untuk menyetir. Dia sendiri tidak sempat mengantar Minhyuk ke apartemennya karena klub hari ini begitu ramai.

Saat bartender itu lengah, Minhyuk bangkit berdiri dengan kesadaran dibawah 20%. Langkahnya sempoyongan. Kepalanya menoleh kesana-kemari dan hanya tertawa dengan apa yang dilihatnya.

“Krystal? Itu juga Krystal! Kenapa semuanya Krystal?” lagi-lagi dia seperti orang bodoh.

Minhyuk terus melangkah tak tentu arah hingga kesadarannya semakin menurun dan akhirnya ambruk di sebuah sofa. Tidak sadar kalau kepalanya jatuh di atas pangkuan seorang perempuan yang sama mabuknya dengan Minhyuk. Minhyuk menengadah kepalanya dan melihat wajah perempuan itu yang sibuk meminum minumannya. Dan mata merekapun bertemu.

“Siapa kau, brengsek?” tanya perempuan itu tanpa memberontak sedikitpun.

“Aku Minhyuk! Kau Krystal juga?”

“Minhyuk? Krystal? Siapa mereka?” tanya perempaun itu. Kepalanya mulai terasa sakit karena pengaruh minuman alkohol yang diminumnya. Memejamkan matanya dan menyandarkan kepala dan punggungnya di senderan sofa, mengabaikan Minhyuk.

“Mwolla! Romeo dan Juliet yang tidak berjodoh! Aish!! Harusnya dulu aku mati saja biar dia juga ikut mati karena ingin menyusulku. Itu baru Romeo dan Juliet.”

“Bodoh!”

Setelahnya mereka hanya terdiam. Pengaruh alkohol masih mempengaruhi mereka.

“Hey, cantik! Jadilah Krystalku untuk malam ini!”

 

*****

Minhyuk kembali menarik selimut, menutup tubuhnya yang mulai terasa kedinginan. Namun rasa dingin itu tak kunjung pergi, membuatnya terpaksa membuka matanya dengan pandangan yang masih mengabur. Tangannya meraba-raba atas nakas, tempat dimana biasanya dia meletakkan remot pengatur suhu ruangan. Tapi benda itu tak kunjung ditemukan.

“Tsk!”

Minhyuk kembali merebahkan diri ditempat tidur dengan posisi miring. Tangannya memeluk perut ramping seorang perempuan yang masih terlelap. Butuh waktu cukup lama bagi Minhyuk untuk menyadari sedang di mana dirinya kini dan seseorang yang tidur di sampingnya.

Dalam sekejap Minhyuk bangkit dari tidur. Baru menyadari tubuhnya tidak tebungkus apapun kecuali celana boxer hitamnya. Mata sipitnya membulat begitu melihat seorang perempuan terlelap dengan damai hanya dengan pakaian dalam.

Kepalanya bergerak ke sana-kemari, matanya tak lepas menelusuir setiap ruangan yang begitu asing.

“Di mana ini? D…dia-”

“Enggh!”

Tubuh perempuan itu bergerak, meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Kepalanyapun ikut bergerak hingga Minhyuk bisa melihat wajah si perempuan itu.

“Tolong bunuh aku sekarang!” gumamnya tidak percaya. Apa yang dilihatnya kini sungguh sangat tidak bisa dipercayanya. Merasa mustahil.

Respon yang sama dari sang perempuan begitu membuka matanya perlahan dan menangkap wajah Minhyuk yang dilihat pertama. Tenggorokan mereka berdua serasa tercekat, ingin menyebut nama orang yang dilihatnya pun sulit.

 

 

 

Krystal duduk termenung di sofa hitam. Mengangkat kedua kakinya dan memeluknya. Kepalanya terbenam diantara dua kakinya.

Masih tidak percaya kalau pria yang sudah tidur dengannya adalah Minhyuk, orang yang masih diharapkannya hingga kini.

“Arrrgh!” Krystal berteriak sembari mengacak rambutnya yang berantakan.

“Kenapa teriak-teriak?” tanya Minhyuk yang tiba-tiba duduk di sofa yang sama begitu selesai membersihkan tubuhnya yang lengket. Sengaja mengambil jarak agak jauh dari Krystal. Sedangkan Krystal sendiri makin menenggelamkan kepalanya sebisa mungkin. Tidak punya kekuatan untuk menatap Minhyuk.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan!” Minhyuk kembali membuka suara. Membuat kepala Krystal terangkat dan menatap geram mata Minhyuk.

“Kau bilang tidak usah dipikirkan? Mana bisa begitu?”

“Aku tidak merasakannya dan kau juga begitu! Lebih baik lupakan saja!” Minhyuk mengalihkan pandangannya dari Krystal. Diraihnya remot televisi di atas meja di depannya. Sebelum televisi itu menyala, Krystal sudah merebutnya terlebih dahulu.

“Ya!” protes minhyuk.

“Kau bisa-bisanya sesantai ini, huh?”

Krystal melempar remot itu sembarangan.

“Lalu aku mesti bagaimana? Ke kantor polisi dan membuat pengakuan kalau aku memperkosamu? Siapa tahu kalau kau yang justru memperkosaku, Jung Soojung!”

Krystal tertawa. Merasa tidak terima atas semua yang telah menimpanya. Diputarnya tubuhnya, menghindar dari tatapan tajam Minhyuk. Melipat kedua tangannya di atas dada dan bersender. Minhyukpun melakukan hal yang sama.

Lima belas menit mereka habiskan berdiam diri. Ingin bertanya kabar tapi masih tetap menjaga gengsi.

“Kau apa kabar?” tanya Minhyuk –yang akhirnya- membuka suara.

“Baik! Kau?”

“Sama!”

Tujuh tahun tidak saling berkomunikasi membuat mereka merasa canggung satu sama lain. Hubungan mereka dulu tidak pernah sekaku sekarang ini.

Krystal tersentak begitu Minhyuk mencengkeram lengannya. Membuatnya mau tidak mau berhadapan dengan pria yang sangat dirindukannya itu.

“Bisa jelaskan padaku kenapa kau pergi tanpa pamit padaku?” tanya Minhyuk dengan sorot matanya yang cukup tajam. Krystalpun menelan ludah dibuatnya.

“Aku sudah pamit padamu.”

“Kapan?”

“Kau tidak sadar!”

Krystal menarik tangannya begitu merasakan cengkraman Minhyuk melonggar. Bergeser sedikit posisi duduknya menjauhi Minhyuk.

Dan keheningan kembali menyelimuti mereka.

“Minyeon eonni apa kabar?” kali ini Krystal yang membuka suara.

“Siapa?”

“Kakakmu!”

“Oh, noona sudah meninggal dua tahun yang lalu.”

“MWO?” pekik Krystal menoleh pada Minhyuk.

“Kanker serviks.”

Krystal terenyuh. Tidak pernah membayangkan orang yang selama ini dia anggap kuat sudah pergi terlebih dahulu.

“Aku turut berduka cita!” seru Krystal lirih.

“Sudah telat tahu!”

“Tsk! Sudah bagus aku bersimpati!”

Perasaan sedih itu tiba-tiba menghilang karena perlakuan Minhyuk yang begitu acuh. Namun tidak dipungkiri kalau dia merasa kehilangan sosok kakak perempuan yang sejak dulu diidam-idamkannya.

“Key pasti sangat kehilangan!” gumamnya.

“Semua orang merasa kehilangan. Aku, Key, suaminya, anaknya.”

“S…suami? Aku kira Key itu suaminya!”

“Kau kehilangan banyak informasi!”

Krystal kembali merenung. Dia tahu kalau Minyeon –kakak Minhyuk- sudah menikah dari seseorang dan dugaan yang sangat dia yakini adalah Key. Dan kini muncul pertanyaan baru, siapa suaminya?

“Tidak pernah sangka kan kalau noona lebih memilih Jonghyun hyung?”

“M…MWO?”

Tubuhnya tersentak begitu mendengar nama Jonghyun. Dia sudah bisa melupakan semua hal berbau Jonghyun, tapi mendengar Minyeon menikah dengan Jonghyun, tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Krystal.

“Banyak kejutan, ya?” gumam Krystal.

“Iya!”

Kembali mereka berdua terdiam membisu. Kembali bingung ingin bicara apa lagi. Krystal kembali menaikkan kakinya dan memeluknya erat. Sedangkan Minhyuk hanya diam menatap layar televisi tanpa gambar. Pikiran mereka melayang ke mana-mana. Tidak bisa dipungkiri jika sebenarnya mereka ingin tersenyum karena telah bertemu dengan orang yang sangat mereka rindukan. Namun senyum itu mereka sembunyikan rapat-rapat. Lagi-lagi alasan gengsi.

Tanpa bicara apa-apa Minhyuk menggeser posisi duduknya mendekat pada Krystal yang tidak menyadarinya. Digenggamnya tangan Krystal hingga membuat perempuan itu tersentak kaget. Krystal berusaha menepis, tapi Minhyuk lebih kuat darinya.

“Kau mau apa, sih?” tanya Krystal pasrah.

“Hubungan kita bagaimana?”

“Bagaimana apanya? Sudah tidak ada!”

“Itu dari mulutmu! Semua keputusan ada ditanganku!”

“Cih! Kau siapa memang?”

“Suamimu!”

“B..buahahahaha!!!” tawa Krystal meledak. Minhyuk hanya tersenyum kecut memandangi, tahu kenapa Krystal tertawa dan pada siapa yang dia tertawakan. Setelah puas menertawakan Minhyuk, Krystal mengambil nafas dan mulai serius. “Jangan bermimpi!”

“Mimpi apa?”

“Kau bukan suamiku.”

Sebelah ujung bibir Minhyuk terangkat, membentuk seringaian yang mampu membuat Krystal bergidik ngeri. Minhyuk kembali menggeser posisi duduknya, memeluk pinggang Krystal, dan menariknya mendekat. Tanpa aba-aba Minhyuk menempelkan bibirnya di bibirnya Krystal. Menyapu hangat hingga membuatnya merasa sedikit nyaman karena perlakuan Minhyuk. Tanpa sadar bibir Krystal bergerak merespon mengikuti alur yang diberikan Minhyuk.

Kedua tangannya nyaris ingin melingkar di leher Minhyuk, tiba-tiba sesuatu terlintas dipikirannya. Krystalpun mendorong dada Minhyuk dengan kuat. Yang selanjutnya terdengar hanya nafas mereka yang tidak beraturan.

“Wae?” tanya Minhyuk sedikit tersengal-sengal.

“Kau itu bedebah!”

“Bedebah?” Minhyuk kembali mendekat pada Krystal. Namun terhalan oleh tangan Minhyuk yang menahannya. “Itu kesanmu padaku setelah tidak lama bertemu?”

“Kau tidak ingat dengan orang-orang yang menunggumu semalaman?”

“Siapa?”

Tangan Minhyuk jahil kembali memeluk pinggang Krystal dan tentunya dia menepisnya sekuat tenaga.

“Istri dan anak perempuanmu, bodoh!”

“Huahahahahaha!” kini tawa Minhyuk yang meledak. Tubuhnya menjauh, menekan perutnya sendiri karena sakit akibat tertawa banyak.

“Kau tertawa? Cih, bedebah, kan?”

Minhyuk berhenti tertawa dan dalam sekejap kembali menerjang tubuh Krystal hingga mau tidak mau Krystal terhimpit di bawah tubuh Minhyuk. Belum pernah Krystal melihat Minhyuk yang seperti ini. Menyeringai seakan puas sudah menangkap mangsanya.

“Kau banyak berubah, ya?” kata Krystal lirih.

“Itu semua karenamu!”

Nafas Minhyuk menyapu seluruh permukaan Krystal, membuat darah perempuan itu berdesir dengan hebat.

“Termasuk mengabaikan orang-orang yang mencintaimu demi aku?”

“Yang mencintaiku hanya ibu, noona, Key dan… kau!”

“K…kau-!”

“Hey, dari mana datangnya pikiranmu tentang istri dan anakku? Aku ini masih lajang!”

Krystal semakin kegelian saat Minhyuk berbicara tepat di telinganya. Kedua tangannya terkunci hingga dia tidak bisa mendorong tubuh Minhyuk menyingkir darinya seperti tadi.

“Jangan berbohong hanya karena ingin mendapatkan cintaku lagi! Jangan harap!”

“Berbohong apanya?”

Tubuh Krystal tersentak saat Minhyuk dengan beraninya menggigit ujung daun telinga Krystal.

“Aku sudah bertemu dengan anakmu, bodoh!”

Kepala Minhyuk terangkat, menghentikan kegiatannya yang sudah mulai dia sukai. Keningnya mengerut dengan sorot mata kebingungan yang terarah pada mata Krystal.

“Anak apa? Aku hanya sekedar mencium bibir perempuan, tidak pernah ke tahap seperti yang kita lakukan semalam! Kau seperti anak kecil, percaya ciuman dapat menyebabkan hamil.”

“Jeongmal? Oh, tuan playboy sudah kembali rupanya!”

Dengan sekuat tenaga Krystal mendorong dada Minhyuk. Membenahi pakaiannya yang ternyata sudah tidak karuan.

“Ya! Tolong jelaskan padaku anak siapa yang kau maksud?” tanya Minhyuk menuntut.

“Anak perempuan. Sekitar enam tahun. Seseorang pernah bicara dengan anakmu!”

Kening Minhyuk kembali mengerut dan kembali teringat sesuatu.

“Ah! Maksudmu di kafe kemarin? Bodoh! Dia anak Minyeon noona!”

Mulut Krystal menganga. Apa yang dia dengar dari Minhyuk bertentangan dengan apa yang dikatakan Seohyun padanya.

“T..tapi eonni bilang anak itu berkata kau ayahnya!”

“Konyol! Siapa lagi eonni yang kau maksud? Oh, kau menyuruh orang untuk memata-mataiku, ya?”

“Percaya diri sekali kau! Dia istri oppa, Seohyun eonni! Dia tidak sengaja melihatmu di kafe itu bersama anak perempuan.”

Untuk kesekian kalinya Minhyuk menerjang tubuh Krystal, mengunci tubuh perempuan itu dengan tubuhnya sendiri.

“Namanya Jooyeon! Dia memang paling tidak suka aku dekat-dekat dengan seorang wanita! Kau orang yang ke seratus yang telah dibohonginya.”

“Bohong!”

“Bunuh saja aku kalau aku benar berbohong!”

Lagi-lagi jahil, tangannya kini berani menyusup ke balik kemeja yang dikenakan Krystal kemarin. Mengusap perut ramping Krytal hingga membuat perempuan itu spontan mendesah.

No, Minhyuk!”

Yes!”

“NO!”

Apa lagi? Semuanya sudah jelas, kan?”

“I..ini terlalu cepat.”

“Cepat? Sebentar lagi kita menikah dan aku rasa kalau melakukannya sekarang tidak apa-apa!”

Lagi-lagi Krystal mendorong Minhyuk.

“Aku akan segera menikah! Tidak denganmu!”

Minhyuk terdiam. Tubuhnya kaku seperti orang mati. Setelah sekian lama menunggu dan akhirnya menemukan belahan jiwanya, justru mendapat berita yang sangat tidak mengenakkan hatinya.

“Bercandamu kelewatan, Krystal!”

“Aku serius!”

“Kalau aku membawamu menghadap ayahku sekarang dan mengatakan kalau aku akan menikahimu, kau akan tetap memilih pria itu?”

Krystal bimbang. Kalau saja dia tidak membuat janji pada seseorang yang selama ini sudah berjasa dengannya dengan menikahi anaknya, mungkin saat ini juga dia akan menerima Minhyuk tanpa ragu, melupakan status yang dia anggap dirinya sebagai pembawa sial. Sungguh sangat tidak enak hatinya jika untuk kedua kalinya membatalkan janji.

Dengan pelan Krystal mengangguk. Tak terasa air matanya menetes satu persatu. Pilihan hidup yang sulit. Menyakitkan. Terpaksa memilih perak ketimbang emas.

Krystal menutup wajahnya dengan kedua talapak tangannya. Berusaha menyembunyikan tangisannya yang mungkin akan meledak. Dia sendiri tidak tahu kenapa harus menangis tersedu begitu.

Bingung apa yang mesti Minhyuk lakukan. Kedua tangannya terulur pada Krystal dan menariknya menuju dada bidangnya. Sebelah tangannya mengelus rambut panjang Krystal yang cukup berantakan, sebelahnya lagi mengusap punggung Krystal. Berharap mendapat ketenangan.

“Kau tau, Krys? Aku rindu saat-saat ini!” kata Minhyuk lirih. “Aku gila karena kau! Aku akan tetap mencarimu ke ujung duniapun sampai aku mati!”

Krystal masih tidak bergeming di dalam pelukan Minhyuk.

“Aku rindu aroma tubuhmu, ekspresi wajah dinginmu, kecerewetanmu, masih banyak lagi! Dan saat sekarang kau sudah ada di depanku lagi, haruskah aku melepasmu? Tidak, Krystal! Tidak akan! Langkahi dulu mayatku baru pria itu bisa mendapatkanmu.”

Tidak menduga sebelumnya kalau justru tangan Krystal memeluk pinggang Minhyuk. Memeluknya erat seakan tidak ingin kehilangan lagi.

“Bawa aku lari kalau begitu!”

 

*****

Kedua mata Krystal mengerjap. Cahayapun masuk ke dalam matanya. Setengah nyawanya masih belum terkumpul karena itu dia masih enggan untuk bangkit. Dihirupnya aroma ruangan dalam-dalam. Ia mulai menyukai aroma itu.

Perempuan itu meregangkan seluruh tubuhnya. Saat merasa nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya, Krystal bangkit. Ia melipat lengan kemeja putih yang ukurannya terlalu besar untuknya hingga setengahnya.

Kedua ujung bibirnya tertarik begitu ia membuka pintu. Dilihatnya objek kesenangannya itu lekat-lekat. Iapun melangkah menuju sofa dimana tempat Minhyuk menghabiskan malamnya.

“Bangun!” Krystal duduk di tepi sofa, mengguncang-guncang kaki Minhyuk. Namun Minhyuk hanya diam tidak bergeming.

“Ayolah! Aku tahu kau sudah bangun!”

Mata Minhyukpun terbuka perlahan dan ia tersenyum. Mengulurkan sebelah lengan tangannya seolah meminta tolong untuk dibangunkan. Krystal menyambutnya dan keseimbangannya hilang saat Minhyuk menariknya menuju dekapannya.

“Selamat pagi!” sapa Minhyuk. Nafasnya menyapu telinga kiri Krystal.

“Selamat pagi! Cepat lepaskan aku!” cetus Krystal.

“Hey, pagi-pagi begini sudah dingin pada calon suami sendiri.”

“Percaya diri sekali aku akan menjadi istrimu.”

“Memang kau tidak mau?”

“Aku tidak bilang tidak mau! Selesaikan dulu masalah kita!”

Minhyuk bangkit duduk tanpa melepaskan Krystal sedikitpun.

“Aku akan menyelesaikan semua masalah kita.”

Krystal memandang Minhyuk, mengernyit bingung. “Masalahku dan masalahmu?”

“Masalahmu dan masalahku!” jiplak Minhyuk.

Krystal menyenderkan kepalanya di bahu kiri Minhyuk. Dengan jarak sedekat itu ia bisa mencium aroma tubuh Minhyuk, termasuk aroma parfum yang masih menempel di leher pria itu.

“Kau bau!” seru Krystal.

“Jeongmal? Kau betah dekat-dekat pria bau sepertiku?”

“Baumu seperti sampahpun aku tidak peduli.”

Minhyukpun tertawa. “Kau menyamaiku dengan sampah?”

“Begitulah! Mau tahu kenapa?”

“Apa?”

“Dimana-mana sampah itu pasti mengotori, sama saja dengan cintamu yang telah menyampahi hatiku. Semakin menggunung semakin hangat.”

Minhyuk menoleh pada Krystal dan mata keduanya saling beradu. Diam sejenak dan tak lama wajah mereka mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka. Mereka tersenyum disela ciuman mereka. Walau hanya menempelkan bibir mereka satu sama lain, rasa nyaman menyelimuti mereka.

“Mandi sana! Ayo kita selesaikan semuanya sekarang juga!” kata Minhyuk tanpa melepaskan sentuhan bibirnya.

“Lepas dulu bibirmu!” Krystalpun sama.

“Mau aku bimbing ke kamar mandi?”

Krystal tiba-tiba mendorong kepala Minhyuk hingga pria itu terjengkang.

 

 

 

Hening. Ruangan yang sengaja Yonghwa sewa di sebuah restoran itu cukup hening. Tidak ada satu orang dari keempat orang itu membuka suara mereka. Terlebih Krystal dan Minhyuk yang lebih memilih Yonghwa untuk membuka suaranya duluan.

“Kalian serius?” tanya Yonghwa, memandang Minhyuk dan Krystal secara bergantian.

Krystal hanya bisa mengangguk. Merasa bersalah pada sang kakak. Terlebih karena tidak mengabari Yonghwa selama beberapa hari, menghilang bagaikan ditelan bumi. Apartemen Minhyuklah buminya akhir-akhir ini.

“Kau, Minhyuk? Kau seperti tidak serius?”

“Aku serius, hyung! Apapun itu, apapun alasannya, asalkan itu Krystal aku pasti akan selalu serius.”

Yonghwa terdiam mendengar ucapan mantap dari Minhyuk. Iapun menoleh pada Seohyun dan mendapatkan dua buah anggukan kecil dan senyuman dari sang istri.

“Oke! Aku akan merestui hubungan kalian asal kalian sendiri yang memohon pada paman!”

Minhyuk dan Krystalpun mengangguk. Mereka paham ‘paman’ siapa yang Yonghwa maksud. Dan dengan ini masalah pertama sudah selesai. Tinggal dua masalah lagi, paman yang membantu Krystal selama ini dan ayah Minhyuk.

Suasana yang tadinya hening kini mulai riuh. Mereka saling bercerita mengenai diri mereka masing-masing selama mereka tidak saling berhubungan tujuh tahun terakhir.

 

 

 

“Paman! Aku… aku tidak bisa menikah dengan putra paman! Mianhae! Lagi-lagi aku mengingkari janjiku!”

Krystal terdiam menunggu respon di seberang telepon.

“Paman?”

Kau serius, Soojung?”

“Maafkan aku, paman! Aku tidak pernah seserius ini.”

Pernah satu kali! Tidak ingat?”

Itu karena kebodohanku sendiri! Sekali lagi maafkan aku!”

Terdengar sebuah helaan nafas panjang di seberang sana.

Satu pertanyaanku dan tolong jawab dengan jujur! Kau bahagia dengan semua itu?”

Sangat!”

Jawabanmu mantap sekali! Baiklah! Paman merestui. Bagaimanapun aku telah berjanji akan membahagiakanmu dan Yonghwa. Itu janjiku pada ayahmu!”

Krystal tersenyum, sangat lebar.

“Jeongmalyo? Gamsahamnida! Gamsahamnida!”

Sudahlah! Kalau begitu kapan aku bisa bertemu dengannya?”

Aku akan mengenalkan dia dengan paman dalam waktu dekat ini. Namanya-“

“Nanti saja sebutkan namanya kalau aku sudah bertemu langsung dengan orangnya. Aku suka kejutan!”

“Ah, oke!”

Krystal memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menatap Minhyuk dengan senyum sumringah. Perempuan itu bersumpah kalau senyumnya tidak pernah selebar ini. Minhyuk yang mengertipun menarik tubuh Krystal dan memeluknya dengan senang.

“Aku tidak sangka akan semudah ini mendapatkan restunya.”

“Niat kita baik, Krys!”

Dan keduanya kembali larut pada rasa senang mereka.

“Kini giliranmu!”

Krystal mendorong Minhyuk, disambut anggukan dari orang yang sebentar lagi –mungkin- akan menjadi pasangan hidupnya kelak.

Sesaat begitu Minhyuk membuka pintu mobil, Krystal menarik tangan Minhyuk. Mencengkeramnya. “Aku takut!” katanya lirih.

Minhyukpun kembali menghadapkan tubuhnya pada Krystal. “Takut kenapa?”

“Aku takut ayahmu tidak merestui kita.”

“Tenang saja! Aku sudah punya senjata.”

“Senjata?”

Krystal tidak mendapatkan jawabannya karena Minhyuk sudah keburu pergi. Ditatapnya punggung Minhyuk yang mulai mengecil dan menghilang dari balik pintu restoran.

Jantung Minhyuk berdegup dengan kencang. Rasanya sama seperti sedang menunggu hasil kelulusan SMA-nya. Dan debaran itu makin kencang begitu matanya menangkap punggung orang sudah tidak sangat asing baginya.

Minhyuk berdiri di depan ayahnya. Membungkuk dalam-dalam, menarik kursi dan duduk di depan sang ayah.

“Kau tidak pernah membungkuk padaku seperti tadi sebelumnya, ada apa? Ingin mencari perhatianku.”

“T..tidak!” jawab Minhyuk terbata-bata.

“Sudahlah, cepat utarakan maksudmu. Kau tahu kan waktuku sangat berharga?”

Satu detikpun berharga untukmu!’ gerutu Minhyuk di dalam hatinya. “Aku tidak mau menikah dengan perempuan yang tidak kukenal.”

Ayah Minhyuk mengangkat cangkir kopinya dan meminumnya setengah.

“Jadi kau ke sini untuk bilang kalau kau sudah menemukan Krystalmu?”

Minhyuk diam menggantikan kata iya.

“Kalau aku tetap akan menjodohkanmu dengan putri temanku, bagaimana?”

“AYAH!”

“Kau tidak bisa membantahku!”

Minhyuk mencengkram serbet meja yang menjuntai ke pangkuannya. Giginya gemeretak.

“Hanya ini permintaanku, ayah! Dan aku janji ini akan menjadi permintaanku yang terakhir!”

“Kalau aku tetap tidak mengizinkan?”

“Kau tidak ingat dengan janjimu dulu? Kau berjanji tidak akan menekanku mengenai perjodohan itu asal aku menuruti keinginanmu mengurus perusahaan.”

“Ada buktinya?”

BRAK! Minhyuk tiba-tiba menggebrak meja makan itu, membuat ayahnya beserta beberapa pengunjung restoran terkejut dibuatnya. Tidak pernah menduga ayahnya akan berbuat selicik ini. Tidak terpikirkan olehnya dulu untuk membuat perjanjian hitam di atas putih.

“Kau mau kisahmu terulang lagi olehku?”

Kening ayah Minhyuk mengernyit.

“Kau mau aku selingkuh di belakang istriku dengan orang yang benar-benar kucintai? Sama seperti yang kau lakukan pada ibu?”

Wajah ayah Minhyuk mengeras. Bagaimana Minhyuk bisa mengetahui itu semua?

“Bibi sudah cerita semua!” sambung Minhyuk, seolah dia tahu apa yang kini ada dibenak ayahnya. “Kau itu jahat, ayah! Ibu menderita mencintaimu seorang diri! Dengan susah payah berusaha membuat ayah mencintainya, tapi ayah masih tidak mau berpaling dari sahabat istrimu sendiri. Itu menyakitkan! Dan aku tidak mau menyakiti perempuan pilihan ayah itu!”

Minhyuk bangkit dengan tergesa-gesa. Lebih memilih pergi meninggalkan ayahnya ketimbang berada di sana yang bisa saja membuat emosinya meluap.

Langkah Minhyuk berat menuju tempat di mana ia memarkir mobilnya. Hampir saja menangis karena lagi-lagi mengingat masa lalu dan membayangkan bagaimana menderitanya sang ibu. Semua itu ia ketahui pada lima tahun yang lalu, saat tidak sengaja bertemu sang ibu tiri di makam ibunya sendiri.

Tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai mobilnya sendiri. Namun sebuah panggilan yang menyebut namanya dari kejauhan membuat langkahnya terhenti.

“MINHYUK!”

Enggan bagi Minhyuk untuk berbalik.

“Minhyuk!”

Dengan malas Minhyuk membalikkan badannya dan dengan jarak yang sangat dekat kini ia bisa melihat sosok ayahnya. Tak lama dirinya mendapat sebuah pelukan yang sudah lama tidak ia dapat dari ayahnya sendiri.

“Kau ingat kapan aku memelukmu seperti ini?”

Minhyuk hanya diam seribu bahasa.

“Saat ulang tahunmu yang ke-16. Aku tidak pernah menyangka aku merindukan memelukmu dan Minyeon seperti ini.”

Minhyuk ingin melepaskan diri namun ayahnya memeluknya terlalu erat.

“Aku sadar aku salah! Aku memang tidak mencintai ibumu. Aku bodoh dan aku tahu itu! Kematian ibumu memang karena penyakit, tapi bagiku akulah penyebab kematiannya. Kau tidak tahu seberapa menderitanya aku ditinggal dia. Bukan karena aku mencintainya tapi karena aku merasa bersalah padanya. Seharusnya aku menceraikannya dulu, membiarkannya bebas hingga cintanya padaku tidak semakin besar.”

Minhyuk tidak bergeming. Tangannya masih menggantung bebas, enggan membalas pelukan sang ayah.

“Aku merestui hubunganmu dengan perempuan itu! Asal kau bahagia. Aku hanya tidak mau kau melakukan hal yang bodoh seperti yang aku lakukan dulu.”

Kedua tangan Minhyuk bergetar. Ragu ingin memeluknya atau tidak. Namun kedua tangannya akhirnya memeluk sang ayah.

“Terima kasih, ayah!” kata Minhyuk lirih. Rasanya ingin menangis tapi tidak bisa. Bibirnya tersenyum. Hari yang membahagiakan untuknya.

Ayahnya mendorong bahu Minhyuk dengan pelan dan mata mereka yang berair saling bertemu.

“Maafkan aku sebelumnya! Tanpa kau memohon-mohon sekalipun, sebenarnya  aku akan tetap mengizinkan.”

“Wae?”

“Putri temanku sama keras kepalanya denganmu. Dia menolak!”

Harusnya Minhyuk merasa marah, tapi rasanya sangat sulit sekali. Seolah rasa senangnya sudah memutus seluruh urat (?) marahnya. Dan yang bisa ia lakukan hanya tetap tersenyum.

“Kenalkan aku dengan Krystal! Kau bisa membawakannya sekarang? Aku akan menunggu di sini!”

Minhyukpun tersenyum semakin lebar. “Berikan aku waktu dua puluh detik.” Ia beranjak dari hadapan ayahnya dan berlari menuju mobil yang tidak jauh darinya. Buru-buru dibukanya pintu mobil sisi kanan depan dan ditariknya Krystal yang sejak tadi termenung melihat momen ayah-anak itu.

Tercengang.

“Soojung?”

Krystal tidak merespon saat ayah Minhyuk memanggil namanya. Mulutnya masih menganga tidak percaya.

“Tolong bangunkan aku sekarang juga! Kau benar Soojung, kan? Kau itu…Krystal?”

“P…paman?”

Minhyuk sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi sekarang ini. Ia hanya menatap Krystal dan ayahnya secara bergantian.

“Ayah, ini Krystal yang aku ceritakan. Tapi bagaimana kau bisa tahu nama aslinya?”

Krystal meraih pergelangan tangan Minhyuk, mencari pegangan agar dirinya tidak ambruk saat itu juga. Matanya menoleh pada Minhyuk dan berbisik. “Dia orang yang kuhubungi tadi!”

 

-end-

 

 

alhamdulillah tamat (?). 

thanks buat kalian-kalian yang udah ngikutin dari awal sampe akhir, udah mau sempet2in komen+like.

 

48 thoughts on “Playboy VS Playgirl [chapter 11 – end]

  1. AAAAAAAAAAA……Akhirnya End juga cerita ini…kyaaa aku seneng deh akhirnya Happy Ending… ^^… And buat komen ku di chap kemaren kayanya banyak salah deh… ==”..

    Onni!!! Aku Fans berat FF mu ini ^^

  2. selesai?? segini aja?? ga ada lanjuan sesudah mereka menikah??? bikin lanjutannya dong ya ya ya…
    hmmm minhyuk ma krystal udah “itu” duluan dasar minhyuk yaaaa #jitak minhyuk.
    sweeeeeet bgt sih onn, aku aja yang bacanya sampe deg-degan >,,< ga mau tau harus ada cerita after married nya, harus!!!!

  3. Udah end ..😦
    gak mau ke mesraan minhyuk krystal berakhir ..

    Sequel .. Sequel ..
    Buat after story nya donx thor ..
    Oneshoot atw twoshoot jg gpp ..

    Hee ..
    Suka bgt ff ini ..
    Akhir nya happy ending juga ..
    Setelah sekian lama aku menanti di setiap part nya ..
    Hehe ..

    Buat lg yg kyk gini donx ..
    Haalah ..
    Aku banyak mau nya ..
    Hehehe ..

  4. END??
    Kok gantung sih thor??
    Mau epilog nya!!

    Tp keren bgt deh!! Sumpah demi apa pun ini bgus..sangat baguuus!!…
    Tp gantung banget..

    Author baik..author cantik..
    Epilog please…
    Ya..yaaa..
    Aku tunggu epilog nya😀 *BAWEL*

  5. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa udah terduga sih kalo itu paman yg berpengaruh dalam hidup krystal itu ayahnya minhyuk hihi…
    trus bener aja yg mabok jg krystal. hahaha…lucu ihhhh sama2 stres mereka tapi akhirnyaketemu jg emang takdir buahaha…
    kocak kan emang dah cocok nih mereka berdua sama2 jutek, sama2 gengsia,..
    ajhhhhhhh suka suka ma minhyuk – krystal….
    woaaaaaaaa peb akhirnya tamat jg. buatlah cerita lagi tapi tetep castnya mereka hehehe🙂

  6. buset… hubungan complicated yang berujung happy ending. yang terakhir tuh, kalau mereka berdua tau bakal dijodohin masing2, mereka berdua bakal jadi orang paling bodoh di dunia. good job thor

  7. Mian baru komen d.part ini eon.. Aku ngebut baca 2 part.. Hehe.. *nyengir kuda*
    Banyak hal yg ga terdugaaaaa.. Tp seneng bngt akhirnya mreka berdua bs sama2 lagi.. Tapi kok endingnya gitu? Kurang greget eon.. *gigit tali* O.o Eon, buat epilognyaaa donk *maksa #PLAK

  8. Yah udh end???
    D buat epilognya dong hehe
    Keren, aku suka
    Cie ketemu deh sma krystal lg wkwk
    Happy ending😀

    Ayo dong d buat epilognya hehe
    D tunggu karya selanjutnya🙂

  9. huaahhh eon koment di part terakhir .. hehehe .. gpp kan authorr
    bisnya baca juga ngebut dr part 6 sih … heehe
    setuju kalo ada sekuel lanjutannya nih …🙂

  10. WOOOOO!!!! JADI!!! PAMAN YANG KRYSTAL MAKSUD ITU AYAH MINHYUK!!!!!! O_____O
    Oaaaaa…!!! Akhirnya semuanya justru bahagia ya XDXD
    Hebat eonn endingnya benar-benar nggak terduga.
    Eh, pas kejadian mabuk itu kira-kira Krystal tekdung nggak? *PLAK* *otak mesum*
    Aduh, eonn sumpah suka banget sama ceritanya. Keren XDXD
    Jadi rada nggak rela di ff end ^3^

  11. Oh ternyata paman yg dimaksud krystal itu ayahnya minhyuk toh… Owalah… Seandainya mereka nerima perjodohan ini, udah dari dulu kali ya mereka nikah🙂
    Nice ff thor. Buat lagi dong yg castnya mereka hehe

  12. huaaahhh!!! akhirnya selesai!!
    hahaha… kocak pas baca yang minhyuk mabok itu…
    tuh kan, dari awal aku udah rada curiga pas dua-duanya dijodohin, ga taunya mereka dijodohin satu sama lain…
    minhyuknya…. agak-agak… ngebet gitu ya… yaudah kan semua udah clear nih, mending langsung tancap gas aja *apasih*
    eh ternyata masih ada epilog nya deng, oke lanjut~

  13. Akhirnya endingnya bahagia juga…
    Emang udah jodoh ya mereka, lagi sama2 mabok pun ujung2nya ketemu juga xD
    Keren banget ffnya author! Daebak!
    *lempar confetti ke author*

  14. haha ternyata endingnya gitu.. kalo emang jodoh ya nggak kemana ya…wkwkwk
    thanks buat ff ny ya thor.. lanjutkan buat terus nulis ya, aq menunggu ff mu berikutnya.. salut deh buat nih ff..^_^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s