I’m in Love [Part 6]

 

Part 1 ι Part 2 ι Part 3 ι Part 4 ι Part 5

Title : I’m in Love [Part 6]

Author : Shineelover14

Rating : PG-13

Lenght : Chapter

Genre : Romance, Family

Main cast :

  • Lee Jonghyun (CN BLUE)
  • Park Jihyun (as readers)

Support cast :

  • Ny. Park a.k.a Ny. Kim Haneul
  • And other cast …

Disclaimer : FF ini murni buatan aku sendiri. Terinspirasi waktu liat Jonghyun oppa nyanyiin lagi I’m in Love—Narsha BEG. Dan FF ini juga pernah ku publis di beberapa WP.

A/N : Annyeong readers. DON’T FORGET LEAVE ME A COMMENT .. GOMAWO ..

Author P.O.V

“Jagi~a, bagaimana kabar mu di Amerika? Cepatlah pulang ke Seoul nak. Eomma merindukan mu.”

“Aku baik-baik saja. Secepatnya aku akan kembali.”

“Setelah kembali nanti, kau lanjutkan saja sekolah mu di Korea. Eomma tidak ingin jauh-jauh dari mu.”

“Ne.”

“Baiklah, eomma tunggu kepulangan mu.”

Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Ny. Min segera bergegas menyusul suaminya yang sedang membaca koran di taman belakang.

“Yeobo~ya!” panggil Ny. Min.

Suaminya menghentikan aktivitas membacanya sejenak, dan kini pandangannya beralih ke arah istrinya yang baru saja duduk di hadapannya.

”Aku baru saja menelpon anak kita,” ucap Ny. Min sumringah.

“Benarkah? Lalu bagaimana kabarnya? Apa ia sehat-sehat saja?”

“Ne. Ia sehat yeobo. Dia bilang akan segera kembali ke Korea. Kita juga harus segera pulang. Aku tak ingin ia kecewa setelah tau kita tak berada di Korea sekarang.”

“Baiklah, besok lusa kita bisa kembali. Aku akan menghubungi Miss Jung untuk memesankan tiket.”

Ny. Min tersenyum senang. Ia sudah tidak sabar lagi melihat wajah anaknya yang tampan itu.

***

Jihyun berjalan menyusuri lorong rumah sakit tempat neneknya di rawat. Sudah hampir dua pekan ia tidak menjenguk nenek tersayangnya. Untung saja hari ini adalah hari minggu, jadi ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Seoul walau ia harus mengorbankan waktu kencannya bersama Jonghyun.

“Annyeong halmoni?” sapa Jihyun ceria ketika masuk ke dalam kamar inap neneknya.

“Jihyun~a. Halmoni sangat merindukan mu,” ucap halmoni dengan suara yang agak sedikit serak.

“Aku juga,” ucap Jihyun sembari menggenggam tangan hangat neneknya.

“Bagaimana dengan sekolah mu?” tanya halmoni.

“Sekolah ku baik-baik saja.”

“Halmoni, maafkan aku karena hampir dua pekan ini aku tidak bisa menjenjenguk halmoni,” timpal Jihyun, namun kali ini nada bicaranya terdengar menyesal.

“Gwenchanayeo jagi~a. Halmoni tau kau pasti sibuk dengan sekolah mu,” ucap halmoni sembari tersenyum hangat.

Jihyun mendekatkan tangan halmoni ke wajahnya lalu mengelus-elus perlahan punggung tangan halmoni dengan pipi halusnya. Jihyun tersenyum menatap halmoninya yang kini terlihat lebih sehat dari sebelumnya.

“Cepat sembuh halmoni, aku kesepian di Seocho,” rengek Jihyun manja.

“Kau yakin kau kesepian di sana? Bukankah ada pemuda itu yang selalu menemanimu?” tanya halmoni dengan nada menggoda.

Jihyun membesarkan matanya kemudian tersipu malu.

“Halmoni bicara apa, aku tidak mengerti.”

“Bukankah kau menyukai pemuda itu?” tanya halmoni, sukses membuat wajah Jihyun merona merah.

“Ne, aku memang menyukai pemuda itu. Bahkan kami sudah berpacaran,” ucap Jihyun malu-malu.

“Benarkah?! Chukkae Jihyun~a, halmoni turut senang mendengarnya,” ucap halmoni sembari mengelus wajah Jihyun dengan penuh kasih sayang.

“Setelah sembuh nanti halmoni ingin bertemu dengan pemuda itu. Maukah kau mengenalkannya pada halmoni?”

“Tentu saja halmoni,” ucap Jihyun sembari tersenyum tulus.

Tiba-tiba ponsel Jihyun berdering menandakan pesan masuk. Ia meraih ponselnya yang berada di dalam tas kemudian membaca siapa si pemilik pesan tersebut.

From : My Lee

Aku kesepian tanpa mu … Cepatlah pulang aku menunggu mu …

Jihyun tersenyum setelah membaca pesan singkat dari Jonghyun yang berhasil membuatnya melayang di udara.

To : My Lee

Baru ku tinggal sehari sudah merasa kesepian kah? Bagaimana kalau aku akan pergi untuk selamanya?

Jihyun terkekeh kecil setelah mengirim balasannya kepada Jonghyun. Ia ingin sekali menggoda si prince ice itu. Sedangkan halmoni hanya menatap Jihyun heran melihat tingkah cucu nya.

***

Seorang wanita paruh baya baru saja keluar dari jalur penerbangan luar negeri. Ia menyeret kopernya sembari melangkah anggun. Tiba-tiba seorang pria berjas hitam datang menghampirinya kemudian membungkuk memberi hormat.

“Selamat datang Ny. Park,” sapa pria berjas itu.

“Ne. Bagaimana keadaan Jihyun, Pak Jang?” tanya Ny. Park sembari berjalan menuju mobil sedannya.

“Dia baik-baik saja nyonya dan sekarang ia sedang berada di rumah sakit,” jelas pria berjas tadi.

“Mwo?! Rumah sakit?! Apa Jihyun ku sakit?” tanya Ny. Park khawatir.

“Tidak nyonya. Ibu mertua anda yang sedang sakit. Sudah dua pekan ini beliau dirawat disana.”

“Eomeoni sakit?! Kenapa kau tidak memberi tahu ku?!” ucap Ny. Park marah.

“Nona Jihyun menyuruhku untuk tidak memberitahukannya kepada anda dan Tuan Park,” ucap Pak Jang sembari tertunduk takut.

“Baiklah, cepat bawa aku kerumah sakit,” ucap Ny. Park kemudian masuk kedalam mobilnya.

Mobil sedan hitam itu melaju kencang melintasi jalanan kota Seoul. Hawa dingin masih menyelimuti Negara Gingseng tersebut.

Sepanjang perjalanan Ny. Park hanya menatap kosong keluar jendela. Ia berusaha menyiapkan diri untuk bertemu dengan anak semata wayangnya. Ada sedikit kekhawatiran dihatinya, ia takut Jihyun akan benar-benar membencinya.

“Pak Jang, apa sekolah Jihyun berjalan dengan lancar?” tanya Ny. Park memecah keheningan yang tercipta di dalam mobil tersebut.

“Se .. Sekolahnya berjalan dengan lancar nyonya,” ucap Pak Jang terbata.

“Kau yakin?” tanya Ny. Park dengan nada menyelidik.

“Tentu saja nyonya,” ucap Pak Jang sebisa mungkin menutupi rasa gugupnya

“Baiklah, aku percaya pada mu.”

Suasana kembali hening, hanya bunyi halus dari mesin mobil sedan itu saja yang terdengar mengiring laju mobil tersebut menuju tempat tujuannya.

Ny. Park keluar dari mobil sedan itu ketika Pak Jang membukakan pintu untuknya. Ia menatap sekilas gedung rumah sakit itu kemudian berjalan masuk diikuti Pak Jang dibelakangnya.

Langkahnya yang anggun membuat semua mata tertuju pada wanita paruh baya itu. Tak sedikit yang berdecak kagum atas kecantikan yang dimiliki wanita yang sudah memasuki umur 40 tahunan tersebut.

“Lewat sini nyonya,” ucap Pak Jang menuntun arah. Dan akhirnya ia sampai juga di depan pintu berwarna putih itu. Ny. Park menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk bertemu putri tercintanya.

Pak Jang meraih gagang pintu itu kemudian menggeser pintu tersebut kesebelah kiri. Ny. Park pun melangkah masuk. Ia mendapati putrinya sedang tertidur di samping ranjang neneknya.

“Annyeonghasimika,” sapa Ny. Park sembari menunduk hormat pada ibu mertuanya.

“Haneul~ah,” gumam ibu mertuanya pelan.

Ny. Park berjalan mendekat menuju tempat tidur mertuanya. Ia meraih tangan wanita tua itu kemudian mengecup punggung tangannya lembut.

“Lama tidak bertemu Eomeoni,” ucap Ny. Park sembari tersenyum ramah.

“Ne. Sudah sangat lama. Bagaimana dengan penyakit mu, apakah sudah sembuh?” tanya ibu mertuanya khawatir.

“Sudah sembuh, hanya saja masih dalam perawatan medis,” jelas Ny. Park.

“Syukurlah kalau begitu. Setelah ini ku mohon jangan tinggalkan Jihyun lagi. Ia butuh kasih sayang seorang ibu, Haneul~ah.”

“Tentu saja eomeoni, aku akan menjadi ibu yang baik untuknya,” ucap Ny. Park sembari menatap anak gadisnya yang sedang tertidur lelap. Ia berdiri kemudian berjalan mendekati Jihyun.

Wanita paruh baya itu membelai lembut rambut anaknya. Matanya mulai berkaca-kaca tatkala ia teringat atas sikapnya yang selama ini mengacuhkan putri cantiknya itu.

“Mianhae Jihyun~a. Bukan maksud eomma mengacuhkan mu nak. Eomma sangat menyayangi mu. Jeongmal mianhae,” ucap Ny. Park terisak.

“Ia pasti akan mengerti keadaan mu, Haneul~a. Percayalah.”

“Tapi selama ini aku tidak memperhatikannya dengan baik eomeoni, bahkan masa-masa remajanya ku lewatkan begitu saja karena kemo terapi yang harus ku jalani.”

“Itu bukan keinginan mu Haneul~a. Eomma yakin anak mu pasti akan memahaminya, ia sudah dewasa sekarang,” ucap ibu mertuanya bijak.

“Ku harap begitu eomeoni,” ucap Ny. Park sembari tersenyum hambar.

Author P.O.V end

***

Jonghyun P.O.V

From : My Hyunie

Baru ku tinggal sehari sudah merasa kesepian kah? Bagaimana kalau aku akan pergi untuk selamanya?

‘Aku takkan sanggup jika harus hidup tanpa mu Jihyun’ gumam ku pelan ketika sorot mata ku menangkap kalimat terakhir dipesannya.

///

To : My Hyunie

Aku tidak akan membiarkan mu pergi jauh! Kau hanya milik ku Park Jihyun

/////

From : My Hyunie

Baiklah, aku hanya milik Lee Jonghyun. Puas kah?

/////

To : My Hyunie

Tentu saja. Kapan kau pulang? Aku akan menunggu mu di taman jam 8.

/////

From : My Hyunie

Sore nanti. Baiklah, tunggu aku. Saranghae Lee.

/////

Aku tersenyum setelah membaca pesan terakhirnya. Ia selalu sukses membuat jantung ku berdegup kencang seperti ini.

Ku lirik jam tangan ku sekilas. Jam masih menunjukkan pukul 13.00 KST. Entah mengapa waktu terasa sangat panjang. Aku ingin jam itu menunjukkan pukul 8 sekarang.

Cukup lama aku terdiam dengan pikiran yang entah melayang kemana, hingga akhirnya ku raih gitas accoustic ku yang terpajang di sudut kamar.

Ku petik satu persatu senarnya hingga menciptakan sebuah nada yang sangat lembut. Ku mainkan jemari ku dengan kunci-kunci sederhana.

Mata ku terpejam kemudian mulai bersenandung pelan.
(Jason Mraz-I’m Yours)

Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I fell right through the cracks
and now I’m trying to get back
Before the cool done run out
I’ll be giving it my bestest
Nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon its again my turn to win some or learn some

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours

 

***

Detik-detik yang ku nanti sudah semakin dekat, hati ku merasakan kerinduan yang teramat pada gadis kota itu.

Senyum mengembang manandakan kebahagiaan yang sedang ku rasakan sekarang. Sebelum pergi, ku pandang sekilas bayangan ku di cermin.

Ku benahi sedikit kerah baju ku yang agak kusut. Setelah memastikan semuanya telah rapi, aku segera bergegas pergi menuju taman.

Ku edarkan pandangan ku setibanya di sana. Sepi, tidak ku temukan sosok Jihyun disana. Aku pun memilih untuk menunggunya. ‘Mungkin aku datang terlalu awal’ pikir ku.

10 menit . . .

30 menit . . .

60 menit . . .

Sudah satu jam berlalu tapi sosoknya tak jua muncul. Ada sedikit kekhawatiran di benak ku.

Tanpa pikir panjang, segera ku raih ponsel yang ada di saku jaket ku. Ku tekan nomor ponsel Jihyun yang sudah ku hafal di luar kepala.

Ku dengar nada sambung telah berbunyi. Namun tak ada jawaban di seberang sama. Aku mulai semakin panik.

***

“Jihyun~a, tolong jawab telpon ku. Ada dimana kau sekarang?”

Aku meninggalkan pesan di mailboxnya ketika langkah ku sampai di depan rumah Jihyun.

Ku amati sekeliling rumah tersebut. ‘Gelap, sepertinya Jihyun belum pulang dari Seoul. Tapi mengapa ia tak mengabari ku? Apa mungkin ia masih di dalam perjalanan?’

Jonghyun P.O.V end

***

Jihyun P.O.V

Ragu-ragu ku langkahkan kaki memasuki rumah mewah itu. Suasananya begitu asing. Sudah beberapa tahun terakhir rumah ini tidak diisi dengan kehangatan keluarga kami.

Nyaris tak terdengar lagi canda serta tawa yang menggema memenuhi sudut ruangan yang ada sejak kepergian ku ke Amerika untuk melanjutkan study.

Bahkan setelah ke pulangan ku pun kehangatan itu tidak kembali karena kedua orang tua ku pergi ke Belanda. Nyaris aku membenci ibu kandung ku sendir karena ke bodohan yang telah ku perbuat.

Ku lihat beberapa pelayan menyapa ku ramah. Aku hanya menunduk membalas sapaan mereka.

“Maaf, apa kau tau dimana eomma berada?” tanya ku pada salah seorang pelayan itu ketika ia hendak pergi meninggalkan ku dan meneruskan pekerjaannya.

“Ny. Park sedang berada di kamarnya nona,” jawab pelayan itu segan.

“Baiklah terima kasih.”

***

Ku pandangi pintu coklah berukuran big size yang ada di hadapan ku. Jantung ku berdegup kencang. Rasa canggung menghantui pikiran ku. Bagaimana tidak, setelah hampir 3 tahun aku tidak bertemu dengan eomma tentu rasanya akan berbeda tidak seperti dulu.

Perlahan ku putas gagang pintu itu, mata ku mencari-cari sosoknya. Samar-samar ku lihat eomma sedang duduk di tepian tempat tidurnya. Pandangan ku tidak begitu jelas karena terhalangi sebuah tirai.

Aku melangkah mendekati eomma, sepertinya ia tak menyadari ke beradaan ku. Ku amati sosoknya yang begitu kurus. Hati ku menangis.

Flashback …

Mata ku terasa berat. Akhirnya aku memilih untuk tidur di tepi tempat tidur halmoni. Ku lipat ke dua tanganku, kemudian ku rebahkan kepala ku. Posisinya memang tidak nyaman, tapi aku berusaha untuk mulai terlelap.

Tangan lembut halmoni membelai rambut ku penuh kasih sayang, mengantarkan ku menuju gerbang mimpi. Namun tiba-tiba suara pintu itu mengejutkan ku.

‘Siapa yang datang? Jung Ajumma kah?’ pikir ku.

“Annyeonghasimika.” Ku dengar suara lembut seorang wanita menyapa halmoni.

‘Sepertinya aku mengenal suara ini. Mirip suara eomma.’

“Haneul~ah,” ucap halmoni yang sukses membuat ku shock.

‘Apa yang sedang eomma lakukan disini?’ Ku dengar langkahnya semakin mendekat.

“Lama tidak bertemu Eomeoni,” ucap eomma yang ku yakin sekarang sudah merada di sebelah halmoni.

“Ne. Sudah sangat lama. Bagaimana dengan penyakit mu, apakah sudah sembuh?” tanya halmoni.

‘Sakit? Siapa yang sakit? Eomma kah? Mengapa ia tidak pernah cerita tentang penyakitnya? Aniy .. Aniy .. Pasti bukan eomma yang sakit. Dia adalah wanita terkuat dan keras kepala yang pernah ku kenal.’

“Sudah sembuh, hanya saja masih dalam perawatan medis.”

‘Perawatan medis apa? Aku semakin tidak mengerti. Sebenarnya siapa yang sakit?’ Ingin sekali rasanya aku bangun dari tidur ku dan menanyakan pada eomma apa yang sebenarnya terjadi. Namun aku memilih diam dan mendengarkan percakapan eomma dan halmoni. Aku ingin tau kemana arah pembicaraan mereka.

“Syukurlah kalau begitu. Setelah ini ku mohon jangan tinggalkan Jihyun lagi. Ia butuh kasih sayang seorang ibu, Haneul~ah.”

“Tentu saja eomeoni, aku akan menjadi ibu yang baik untuknya.” Kudengar bunyi langkah eomma berjalan mendekat ke arah ku. Dan tiba-tiba ku rasakan tangan seseorang membelai lembut rambut ku.

“Mianhae Jihyun~a. Bukan maksud eomma mengacuhkan mu nak. Eomma sangat menyayangi mu. Jeongmal mianhae.” Eomma terisak, ia menangis pilu.

“Ia pasti akan mengerti keadaan mu, Haneul~a. Percayalah.”

“Tapi selama ini aku tidak memperhatikannya dengan baik eomeoni, bahkan masa-masa remajanya ku lewatkan begitu saja karena kemo terapi yang harus ku jalani.”

‘Kemo terapi? Jadi selama ini eomma pergi keluar negeri karena ia harus menjalani kemo? Mengapa tidak memberitahuku eomma? Mengapa?’ Ingin rasanya aku menangis menyesali semua perbuatan ku yang telah membenci eomma.

‘Kau bodoh Park Jihyun. Sangat bodoh!’ Aku mengutuk atas segala prasangka buruk ku pada eomma.

‘Mianhae eomma, jeongmal mianhae. Seharusnya aku yang meminta maaf, bukan eomma.’

“Itu bukan keinginan mu Haneul~a. Eomma yakin anak mu pasti akan memahaminya, ia sudah dewasa sekarang.”

“Ku harap begitu eomeoni.” Suara eomma terdengar kecewa dan pasrah. Ia pasti benar-benar merasa sedih sekarang.

‘Eomma, maafkan anak mu yang tidak berbakti ini. Maafkan.’

Flashback end …

Ku rengkuh tubuh eomma dari belakang. Ia terkejut ketika melihat ku memeluknya.

“Jihyun~a,” panggil eomma. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Eomma, mianhae. Jeongmal mianhae,” ucap ku sembari memeluk pahanya memohon ampun.

“Aniy jagi~a. Kau tidak salah nak. Eomma yang salah karena telah menelantarkan mu,” ucap eomma sembari menarikku kedalam pelukannya.

“Mengapa eomma tidak bilang kalau eomma harus menjalani pengobatan di Belanda? Mengapa eomma harus berbohong pada ku?” tanya ku yang masih tetap terisak.

“Eomma tidak ingin membuat mu khawatir nak.”

“Tentu saja aku akan khawatir eomma, bahkan sekarang kau telah membuat ku semakin khawatir. Lihatlah, eomma sangat kurus. Aku jadi sedih, eomma.”

“Mianhae jagi.”

“Aku tidak ingin jauh dari eomma. Eomma harus selalu bersama ku. Yakso?”

“Ne, yakso.”

Ku peluk tubuh eomma erat. Aroma tubuh eomma yang sangat ku rindukan membuat ku betah berlama-lama didalam pelukannya.

***

Karena terlalu banyak menangis tanpa terasa aku tertidur di pangkuan eomma. Sudah lama aku tidak bermanja-manja seperti ini.

Eomma membelai rambut ku, menidurkan ku dengan nyanyian pengantar tidur yang sangat ku suka hingga akhirnya mata ku terpejam dan tak menyadari seseorang sedang menunggu ku sekarang.

Ku pandang sekilas jam yang berpajang manis di sisi kanan tempat tidur eomma. Jam sudah menunjukkan pukul 05.30 KST.

Masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas. Aku kembali tidur dan mendekap erat tubuh eomma.

“Jihyun~a, bangunlah. Kau harus sekolah.”

“Ia, sebentar lagi. Ini masih terlalu pagi.”

“Sekarang sudah pukul 06.15, sudah setengah jam lebih kau terlelap.”

“Benarkah?!”

Aku bangkit dari tidur ku dan menatap eomma yang sudah rapi. Ia tersenyum kearah ku.

“Ayo bangun.” Eomma menarik tangan ku dan memaksa ku masuk kedalam kamar mandi pribadinya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Bagaimana aku bisa sekolah, akukan masih berada di Seoul. Raut wajah ku berubah panik. ‘Kalau eomma tahu, habis lah riwayat ku.’

“Waeyeo jagi?” tanya eomma ketika sadar dengan raut wajah ku yang panik.

“Aniyeo eomma. Aku akan segera mandi. Eomma tunggu di ruang makan saja,” dusta ku kemudian mendorong eomma keluar dari kamarnya.

“Baiklah , baiklah. Eomma akan menunggu mu di bawah. Jangan lama-lama, kau akan terlambat nanti.”

Setelah memastikan eomma sudah turun menuju ruang makan, segera ku raih tas ransel yang tergeletak di atas sofa yang ada di sudut ruangan ini kemudian mencari telpon genggam ku.

Ku lihat ada 50 misscall dan 20 pesan masuk. Semuanya dari Jonghyun.

Ku pukul jidat ku cukup keras. ‘Bodohnya aku tidak memberi tahu Jonghyun agar ia tidak menunggu ku. Semoga ia tidak marah.’

To : My Lee

Mianhae. Kemarin aku tidak jadi pulang karena ada urusan mendadak.

///

Lama aku menunggu balasannya sembari berdoa agar ia tidak marah dengan ku. Tiba-tiba ponsel ku berdering dan membuat adrenalin ku berpacu cepat.

From : My Lee

Mengapa tidak memberitahu ku? Aku menunggu mu semalaman.

///

Ku pukul kepala ku pelan. ‘Kau bodoh Park Jihyun!’

To : My Lee

Mianhae. Mengapa kau tidak pulang saja, kau membuat ku jadi serba salah

///

From : My Lee

Sudahlah tidak apa-apa. Cepatlah kembali, aku merindukan mu.

Aku terkekeh kecil setelah membaca pesannya dan ku yakin wajah ku sudah semerah tomat sekarang.

To : My Lee

Aku akan mengabari mu jika ku pulang nanti.

To Be Continue …

10 thoughts on “I’m in Love [Part 6]

  1. Ehmm… makin so sweeet and bikin aku jadi… mupeng… kapan aku punya pacar kaya jonghyun?? kapan?? #harapanyeojagaklaku ==”

    FF nya makin seru onn.. lanjutannya jangan lama-lama.. aku nunggu lho onn ff ini ._.

  2. cerita FF i’m in love makin seru aja,,,,
    jonghyun ma jihyun makin mesra….
    i hope, i can have a boyfriend like jonghyun…..#ngarep banget…
    di tunggu part selanjutnya….
    n jangan lama2 ya….

  3. yah udah tbc aja😄
    kalo bisa setiap akhir itu dibikin sesuatu yang bisa bikin readers penasaran setengah mati, biar selalu menantikan ff kita😀 *sok tau
    tapi suka ceritanya~
    belum terungkap siapa cowok misterius yg mau dijodohin itu

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s