‘L’ For Love, ‘L’ For Lies (Part 6 – Ending)

Main Cast:

  • Lee Jong-hyun ‘CN Blue’
  • Im Yoona ‘SNSD’

Support Cast:

  • Kang Min-hyuk ‘CN Blue’

Genre: Romance, Family, Crime

Rating: PG-15/NC-17

***

Yoona duduk terpaku diatas tempat tidur ruang inapnya. Ketika suster memaksanya untuk makan malam, gadis itu menggeleng lemah dengan tatapan kosong. Wajahnya begitu pucat dan membuat suster itu khawatir kalau-kalau Yoona tetap bersikeras tak mau makan.

“Ayolah, nona, Anda harus tetap menghabiskan makan malam Anda. Nanti kalau Anda tidak makan, Anda bisa sakit,” kata suster itu sambil menyendokkan bubur ke depan mulut Yoona, tapi Yoona tetap menggeleng.

Karena masih tak mau juga makan, suster itu akhirnya menyerah. Dia menghela nafas berat dan mengangkat nampan berisi bubur dan air putih lalu beranjak keluar dari kamar Yoona.

Setelah suster itu benar-benar pergi, tiba-tiba saja Yoona mulai terisak. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Dadanya masih terasa sesak dengan kejadian kemarin. Dia tak menyangka Jonghyun akan mempermainkannya seperti itu.

“Brengsek!” umpat Yoona kesal.

Masih sambil terisak, Yoona segera menoleh kearah pintu ketika mendengar ada decitan dari sana. Jonghyun melongokkan kepalanya dengan hati-hati lalu segera masuk tanpa meminta izin ketika melihat Yoona menangis.

“Yoona-ah, aku ingin menjelaskan semuanya,” ujar Jonghyun lirih.

Ketika Jonghyun beranjak maju mendekatinya, Yoona meraih beberapa bantal di samping tubuhnya dan melempari Jonghyun terus-menerus.

“Pergi! Keluar dari kamarku sekarang! Pergi! Aku benci padamu! Aku benci!” teriaknya histeris.

Jonghyun berdiri terpaku di tempatnya. Dia ikut meneteskan air mata melihat kondisi Yoona dan perasaan gadis itu. Dengan tubuh bergetar, dia masih mencoba untuk mendekati gadis itu, tapi Yoona kembali memberontak dan meronta-ronta, membuat Jonghyun khawatir keadaan gadis itu akan semakin memburuk.

“Baiklah, baiklah,” kata Jonghyun lirih. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah, dan beranjak keluar dari kamar itu.

Sementara Yoona masih terus meronta-ronta. Air matanya terus mengalir walau pun dia berusaha untuk tidak terlihat menyedihkan di depan pemuda itu.

Yoona menegakkan kedua lututnya, melipat kedua lengannya di atas lutut lalu menenggelamkan wajahnya di atas sana dan kembali menangis.

***

“Aku tak bisa melakukannya.”

Taejin mengangkat alisnya dan menatap wajah Jonghyun yang tertunduk lesu.

“Apa maksudmu kau tak bisa melakukannya? Kau bilang semua sudah terencana dengan baik, tapi sekarang kau mengatakan bahwa kau tidak bisa. Jangan main-main denganku, Jonghyun!” pekik Taejin, mulai kesal.

Jonghyun mendongakkan kepala dan balas menatap Taejin dengan tajam. “Dia sakit. Aku tak tega melakukan hal sekeji itu padanya. Aku tidak mau menambah penderitaannya!”

Taejin melabrak meja yang ada di depannya dengan kasar. “Aku tidak peduli!” teriaknya. “Aku tidak menerima alasan apa pun. Entah itu dia sakit atau sekarat, aku tidak peduli.”

Jonghyun mulai tersengal, berusaha menahan emosinya. Dia mengepalkan tangannya dan melangkah maju mendekati Taejin. “Apakah uang sudah membutakan matamu? Mengapa kau sampai hati melakukan hal sekejam ini pada Yoona? Mengapa?!”

PLAK!

Taejin melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kiri Jonghyun. Jonghyun tersungkur jatuh ke lantai dan merasakan pandangannya mengabur akibat hantaman keras telapak tangan Taejin. Telinganya berdengung begitu keras, dan rahangnya terasa bergeser.

“Tahan dia,” ujar Taejin kepada beberapa anak buahnya yang juga berada di dalam ruangan itu.

Beberapa pria bertubuh besar dan tegap langsung memapah tubuh Jonghyun yang tak berdaya. Masing-masing dari mereka mencengkeram lengan Jonghyun dengan sangat keras, mencoba menahan setiap pergerakan tubuh pemuda itu.

Taejin berjalan mendekat kearah Jonghyun dan mencengkeram rahang pemuda itu lalu menatapnya tajam.

“Kau pikir, kau berharga untukku?” Taejin tertawa sinis, lalu melanjutkan, “Bagiku, kau hanya seonggok daging dan tulang yang tidak berguna. Tapi, aku patut berterima kasih atas bantuanmu dalam membantuku untuk menjebak gadis idiot itu.”

“Percuma saja,” kata Jonghyun tiba-tiba dengan susah payah. “Dia sudah tidak percaya padaku lagi. Aku sudah mengacaukan semuanya. Aku pikir, lebih baik memang seperti itu. Karena aku memang tidak mau menyakitinya lagi.”

Taejin kembali melayangkan sebuah tinjuan keras di perut Jonghyun, membuat pemuda itu tersentak dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Taejin mencengkeram rahang Jonghyun dengan begitu erat dan meludahi wajah pemuda itu dengan hina.

“Kau pikir aku bodoh, Jonghyun? Aku sudah merencanakan hal lain sebagai antisipasi kalau-kalau kau berani memberontak. Jadi, kita lihat saja nanti siapa yang akan tertawa nantinya,” ujar Taejin dingin.

Tubuh Jonghyun kini membeku. Matanya membelalak mendengar pengakuan Taejin. Sementara Taejin hanya tersenyum sinis kearahnya.

“Kau… bukan ayah kami…”

***

Taejin dan dua orang anak buahnya berjalan menyusuri koridor rumah sakit mencari kamar rawat Yoona. Ketiganya sontak berhenti tepat di depan kamar dengan nomor 67. Taejin tersenyum tipis lalu meraih gagang pintu dan membuka pintu.

Tampak Yoona sedang duduk terpaku di atas ranjang dengan mata sembap. Wajahnya pucat dan lusuh karena terlalu banyak menangis.

“Ahjussi?” Yoona terkesiap mendapati Taejin berdiri di ambang pintu.

Taejin beranjak masuk ke dalam kamar dan menghampiri Yoona. “Ya Tuhan, apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau bisa seperti ini?” tanya Taejin lirih.

Yoona tersenyum kecut, tak berani mengungkapkan apa yang sudah terjadi antara dia dan Jonghyun di depan ayah pemuda itu. Takut kalau Taejin akan bertindak buruk padanya.

“Aku…”

“Apakah Jonghyun melakukan sesuatu yang buruk padamu?” sela Taejin.

Yoona terdiam. Dia menatap Taejin dengan ragu, haruskah menceritakannya atau tidak.

“Ceritakan saja. Aku tidak akan marah,” kata Taejin dengan nada meyakinkan.

Yoona berdehem sebentar lalu akhirnya angkat bicara. “Dia bermain dengan wanita lain. Tepat dihadapanku,” ujarnya lalu mulai terisak.

“Oh ya?” sahut Taejin, berpura-pura prihatin.

Yoona mengangguk sambil mengusap air matanya.

“Itu kesalahanmu sendiri, Yoona,” ujar Taejin tiba-tiba. Yoona terkesiap melihat Taejin, tak percaya dia akan berkata seperti itu padanya. “Kau sudah jatuh cinta pada orang yang salah,” lanjut Taejin.

“Apa maksud, ahjussi?”

“Aku pikir kau tahu bahwa Jonghyun bekerja sebagai seorang gigolo. Jadi, kau seharusnya tahu bahwa resikonya sangat besar menjadi pacarnya.”

Gadis itu terpaku dalam keheningan yang cukup panjang. Dia berusaha menerka-nerka apa maksud ucapan Taejin. “Gigolo? Jonghyun?”

Taejin mengangkat kedua alisnya, membenarkan. “Ne, dia seorang gigolo. Aku pikir dia memberitahumu soal pekerjaannya.”

Yoona terdiam. Dadanya terasa sangat sesak. Seolah ada beribu-ribu palu yang menghantam dadanya. Sungguh menyakitkan.

“Selain itu,” kata Taejin lagi. “Jonghyun bukanlah pemuda sebaik yang kau kira. Asal kau tahu, dia hanya berpura-pura mencintaimu untuk menjebakmu masuk ke dalam perangkapnya.”

Yoona merasa dunia mendadak berhenti berputar selama satu detik, kemudian melanjutkan putarannya dengan gerak lambat. Tidak mampu berkata-kata, dia hanya bisa diam dan terus menatap Taejin dengan penasaran. Terus menanti pengakuan-pengakuan Taejin tentang Jonghyun yang sebenarnya.

“Jonghyun berniat menjualmu ke Singapur dengan harga yang sangat mahal…”

“Menjualku?” tanya Yoona, tak percaya.

Taejin mengangguk. “Ne, menjualmu. Dia bisa mendapatkan uang yang cukup banyak hanya dengan menjualmu ke Singapur. Selama ini dia hanya ingin memperdayamu, Yoona. Kau terlalu baik untuk pemuda sejahat dirinya.”

Air mata terus meluncur dari pelupuk mata Yoona tanpa suara isak tangis. Yoona tampak masih tak mempercayai ucapan Taejin barusan. Hatinya seolah di iris-iris kecil sedemikian rupa hingga sulit baginya untuk menyatukan kembali irisan-irisan kecil itu. Dan berapa pun usahanya untuk menyatukan hatinya yang hancur, retakan-retakan itu akan tetap terlihat pula.

Tiba-tiba saja Yoona merasakan pandangannya mulai mengabur dan kepalanya terasa berat. Wajah Taejin terasa mengabur di matanya dan gadis itu akhirnya tak sadarkan diri.

Taejin tersenyum puas, sudah berhasil membodohi gadis tak berdaya itu.

Dia melirik kearah dua anak buahnya lalu memerintah, “Bawa gadis ini. Dia sepertinya ingin bertemu dengan pangeran pujaannya yang menyedihkan itu.”

***

Yonghwa meneliti wajah detektif Han di seberang meja sambil mengerutkan kening. Sudah sejam lebih sejak Yonghwa menerima telepon dari detektif Han, untuk memberi tahu kabar selanjutnya tentang kasus kematian nyonya Lee.

“Jadi… apa yang Anda temukan?” tanya Yonghwa, mulai tak sabar.

Detektif Han mengangkat wajahnya dan melepas kacamatanya. Dia menghela nafas lalu menatap Yonghwa dengan ragu. “Aku tidak tahu, ini kabar menyenangkan atau malah kabar buruk,” ujarnya.

“Maksud Anda? Memangnya, apa yang terjadi?”

Detektif Han menghela nafas untuk kesekian kalinya. Dia memperbaiki posisi duduknya dan mencondongkan tubuhnya. Diletakkannya berkas-berkas bukti yang ada di tangannya ke atas meja.

“Kecelakaan mobil yang dialami nyonya Lee sepertinya bukan murni sebuah kecelakaan.” Suara detektif Han terdengar berat dan lirih.

Yonghwa terbelalak. “Jadi…”

“Ne, benar,” sela detektif Han, lalu mengangguk. Seolah sudah tahu, apa yang akan dikatakan Yonghwa. “Ada yang sengaja melakukan ini agar terkesan bahwa nyonya Lee meninggal karena kecelakaan.”

Yonghwa menegak ludah dengan susah payah. Ludahnya terasa menusuk dan pahit di tenggorokannya. Dia tak percaya akan ada orang yang melakukan hal sejahat itu pada sahabatnya.

Pemuda itu berdehem lalu menatap kembali detektif Han. “Menurut Anda… siapa yang sudah melakukan hal ini?” tanyanya.

Detektif Han menyandarkan bahu ke belakang kursi lalu terdiam sebentar. Dia mengelus-elus dagunya yang kasar lalu berujar, “Sepertinya aku tahu siapa orangnya, tapi aku tidak begitu yakin.”

***

Yonghwa langsung melompat turun dari mobil ketika mobilnya berhenti tepat di depan rumah Jonghyun. Dia berlari secepat mungkin dan langsung menggedor-gedor pintu rumah dengan rusuh.

“Jonghyun-ah! Jonghyun-ah! Cepat keluar! Jonghyun!” teriaknya.

Tak berapa lama kemudian, pintu itu terbuka pelan dan Minhyuk muncul dari balik pintu. “Yonghwa hyung?”

“Minhyuk? Mana Jonghyun?” tanya Yonghwa, terlihat panik.

“Jonghyun hyung? Entahlah. Tadi pagi dia langsung pergi entah kemana. Memangnya ada apa?”

“Minhyuk…” Yonghwa menggenggam erat kedua bahu Minhyuk dan menatap adik sahabatnya itu dengan mata sendu. “Kami sudah mengetahui semua rahasia dibalik kecelekaan ibumu.”

Minhyuk mengernyit. “Mwo? Kecelakaan ibuku?”

Yonghwa mengangguk.

Minhyuk bergeming. Dia mematung. Matanya membulat dan seluruh tulangnya terasa dingin dan menggigil. Jantungnya berdebar juga dihinggapi perasaan melayang-layang.

Yonghwa mulai merasakan keanehan itu, mengguncang-guncang tubuh Minhyuk. “Minhyuk? Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba seperti ini?”

Minhyuk menggeleng lalu meremas helai-helai rambutnya. Tangannya mulai dingin dan membuatnya semakin keras meremas rambutnya. Air mata mengalir di kedua sudut matanya. Lalu, akhirnya pemuda itu terjatuh ke lantai dan berteriak-teriak histeris.

“Ibu! Ibu! Kenapa? Kenapa? Kenapa kau melakukan hal sekejam itu pada ibuku? Kenapa? Kenapa?!” teriak Minhyuk diiringi suara lolongannya yang bergema.

Yonghwa yang panik langsung menghampiri Minhyuk dan berusaha menolong pemuda itu. Tapi Minhyuk terus memberontak layaknya orang kerasukan. Pemuda it uterus meremas rambutnya dan tak peduli akan rasa sakit yang dia rasakan.

“Ya Tuhan, Minhyuk, mengapa kau seperti ini?” tanya Yonghwa lirih. Tak tahu harus berbuat apa.

Minhyuk menatap Yonghwa dengan matanya yang merah dan penuh amarah. “Aku tahu, hyung! Aku ingat semuanya! Aku ingat siapa yang telah membunuh ibuku! Aku ingat! Orang itu! Orang itu yang telah membunuh ibuku!”

***

“Aku mohon. Maafkan aku! Jangan siksa Jonghyun dan Minhyuk. Mereka tidak bersalah apa-apa padamu!”

Minhyuk mendengar suara ibunya yang diselingi oleh isakan tangis dari arah kamar. Lalu, disusul oleh suara berat seorang pria.

“Aku tidak peduli. Aku sangat membenci mereka berdua.”

“Kau benar-benar jahat! Ayah macam apa kau ini!”

PLAK! Terdengar suara keras dari dalam kamar. Minhyuk menduga bahwa pria yang ada di dalam kamar bersama ibunya sudah menampar ibunya.

Dia menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan tegang. Dia meraih gagang pintu itu lalu membukanya dengan perlahan. Tubuhnya terasa dingin dan dia mulai gelisah ketika melihat ibunya tersungkur di atas lantai dengan wajah yang basah oleh keringat.

“Ibu?” gumamnya pelan.

Pria yang ada bersama ibunya menoleh ketika mendengar suara Minhyuk yang mengintip.

“Minhyuk? Kenapa kau masuk kesini? Cepat lari!” pekik ibunya panik. Tapi, Minhyuk menggeleng. Dia bersikeras tetap berdiri disitu sambil menangis.

Pria itu menarik lengan Minhyuk dengan kasar dan menatap kedua mata sayu milik anak itu dengan tajam. “Berani-beraninya kau menguping. Apakah kau tak pernah diajari oleh ibumu untuk tidak menguping pembicaraan orang lain?”

Minhyuk hanya diam dan terus menangis.

“Jangan sentuh dia! Dia tak salah apa-apa!” teriak ibunya. Tapi pria itu menghiraukannya.

Pria itu menarik lengan Minhyuk dan menyuruhnya duduk di atas kursi, lalu mengikat tangan dan kakinya. Dia menoleh kearah ibu Minhyuk yang tak berdaya lalu tersenyum licik.

“Maafkan aku. Dia sudah mendengar banyak tentang obrolan kita barusan. Jadi, aku rasa, aku harus melakukannya.”

Jantung ibu Minhyuk berdegup kencang ketika melihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Di tangan pria itu ada benda yang ukurannya sebesar walkie-talkie, hanya saja ujungnya bisa mengeluarkan arus listrik.

Dan tidak seperti alat sejenis yang akan membuat korbannya tidak sadarkan diri sejenak, alat ini dirancang untuk membuat korbannya tetap dalam keadaan sadar dan bisa merasakan gigitan demi gigitan arus listrik yang merasuk hingga tulang.

“Jangan lakukan itu! Jangan!” teriak ibu Minhyuk. Dia bangkit dan berusaha menahan pria itu, tapi tubuhnya langsung di dorong hingga jatuh ke atas lantai.

Kengerian ibu Minhyuk tumbuh seiring dengan langkah kaki pria itu yang makin mendekat kearah anaknya, dan memuncak ketika pria itu tanpa bicara sepatah kata pun, menempelkan alat tersebut ke leher Minhyuk. Dengan penuh horor, ibu Minhyuk menyaksikan jari pria itu membuka klip pengaman dan menyentuh tombol merah yang ada di sana.

Selanjutnya Minhyuk merasa nafasnya terputus ketika tubuhnya menggelinjang, setiap inci tubuhnya teregang, semua ototnya tertarik, dan detak jantungnya seakan kehilangan irama. Entah berapa lama alat itu menempel di lehernya, pastinya hanya beberapa detik walaupun rasanya seperti neraka yang takkan pernah berakhir.

Mendadak Minhyuk merasakan suatu kehampaan yang melegakan ketika alat itu ditarik dari tubuhnya, yang kini rasanya seperti tidak bertulang, dan semua otot di sekujur tubuhnya terasa gemetar. Suatau teriakan yang sedari tadi sudah tertahan pun keluar dari mulutnya, disusul dengan deru nafas yang memburu.

Kelegaannya tidak bertahan lama karena alat itu dilekatkan lagi ke tubuhnya dan kembali nafasnya terasa seperti ditarik tangan-tangan yang tak terlihat di lehernya. Ototnya kembali teregang seakan ingin melompat keluar dari tubuhnya yang bergerak liar tanpa arah.

Ketika alat itu ditarik kembali, Minhyuk sudah tidak punya nyali untuk merasa lega. Suara nafasnya yang memburu diselingi erangan lirih menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Suara pria itu terdengar tenang dan bening bagaikan membeli suara tangis dan teriakan Minhyuk yang kesakitan, “Buang jauh-jauh pikiran itu.”

Minhyuk menatapnya dengan bingung, masih berusaha menyesuaikan nafasnya dan belum mampu mengeluarkan suara lain, dan sepertinya pria itu membaca arti tatapannya.

“Anggap saja semua yang kau lihat dan dengarkan tadi hanyalah sebuah mimpi yang tidak pernah terjadi.”

Minhyuk tak sanggup berkata-kata. Kepalanya tiba-tiba tertunduk lesu, seolah tulang lehernya menghilang dari balik kulitnya. Matanya terasa kunang-kunang dan dia mulai merasakan kepalanya seakan segera meledak.

Pria itu tersenyum tipis. Dia menoleh kearah ibu Minhyuk dan melanjutkan ucapannya dengan nada tajam, “Dan kau… aku mungkin tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Tapi, lihat saja, aku akan segera merebut semuanya dari tanganmu. Aku akan membunuhmu suatu saat nanti. Tunggu saja!”

***

Jonghyun bersimpuh, tak mampu lagi berdiri, ketika dia menerima tinjuan keras tepat di perutnya. Wajah dan tubuhnya kini babak belur dan dipenuhi memar dimana-mana.

Dengan susah payah, Jonghyun mengangkat wajahnya dan menatap Lucas yang duduk di hadapannya sambil menyesap sampanye miliknya dengan tenang. Pria itu menatap Jonghyun dengan tatapan dingin dan menusuk.

Tak berapa lama kemudian, pintu ruang kerja Lucas berbunyi. Taejin dan dua anak buahnya masuk ke dalam sambil menyeret tubuh Yoona dengan kasar. Anak buah Taejin meletakkan tubuh Yoona yang masih tak sadarkan diri ke sudut ruangan itu.

“Yoona? Apa yang sudah kau lakukan pada Yoona?!” teriak Jonghyun kesal, berusaha memberontak. Tapi pipinya kembali mendapat tamparan keras dari Taejin.

“Bukan urusanmu, brengsek!” ucap Taejin, dingin.

Lucas menatap tubuh gadis itu yang tergolek lemah di atas lantai lalu menoleh kearah Taejin. “Apa yang terjadi dengannya?”

Taejin membungkuk dan berbisik di telinga Lucas. “Dia hanya pingsan sebentar. Bagaimana? Dia cantik, bukan?”

Lucas meletakkan gelas sampanye miliknya ke atas meja dan mengangguk. “Aku yakin dia pasti akan sangat disukai di Singapur,” katanya lalu tertawa pelan.

“Jangan berani-berani menyentuh Yoona atau aku akan membunuhmu!” teriak Jonghyun.

Taejin hendak memukul Jonghyun lagi, tapi Lucas segera mencegatnya. “Biar aku saja.”

Jonghyun merasakan degup jantungnya semakin kencang ketika melihat Lucas yang menghampirinya. Rambut ikal pria itu menutupi sebelah matanya, membuat penampilannya semakin misterius dan menyeramkan dari biasanya.

Lucas mendekatkan wajahnya kearah wajah Jonghyun lalu beradu tatap dengan pemuda itu. Jonghyun bisa merasakan nafas Lucas yang berbau alkohol menusuk hidungnya.

“Berani-beraninya kau membentakku. Apakah kau tidak pernah diajari ibumu untuk tidak membentak ayahmu sendiri?”

Jonghyun terkesiap mendengar ucapan Lucas. “Kau…”

***

Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya dan mendapati tangan dan kakinya sudah terikat di kursi. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah dan melihat beberapa orang pria bertubuh besar berdiri di sekelilingnya, ada Taejin, Lucas, dan Jonghyun yang bersimpuh di lantai dengan wajah babak belur.

“Jonghyun?”

Lucas menoleh begitu mendengar suara Yoona. Pria itu tersenyum lalu berjalan menghampiri Yoona. “Jadi, inikah wanita beruntung yang sudah berhasil merebut hati anakku?”

Yoona hanya mengerutkan alis, kebingungan.

“Aku mohon, jangan sakiti dia!” teriak Jonghyun lagi.

“Siapa kau?” tanya Yoona, sembari menuding Lucas dengan tajam.

Lucas tersenyum penuh arti lalu mendekatkan wajahnya kearah Yoona. “Kau tidak mengenalku? Aku adalah ayah dari pemuda itu. Pemuda yang kau puja-puja. Lee Jonghyun.”

Yoona semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia mencari-cari sosok Taejin di ruangan itu dan menatap pria itu dengan ragu. “Tapi…”

Lucas meraih gelas sampanye miliknya dan meneguknya sampai habis. Dia lalu beralih menatap Jonghyun. “Aku memang ayahmu, Jonghyun. Tapi, aku tidak yakin bahwa kau anak kandungku. Apa kau ingat ibumu yang hina itu, Jonghyun? Dia telah berselingkuh dan menghasilkan dua anak haram untukku. Kau dan Minhyuk!”

Jonghyun terdiam. Menanti pengakuan Lucas yang selanjutnya.

“Aku langsung menceraikannya begitu kau beranjak balita dan kudengar kabar bahwa dia mengandung Minhyuk. Aku sangat membenci kalian berdua. Tapi bodohnya, aku tetap memberi semua harta bendaku pada kalian. Dan aku berniat menarik semua harta bendaku kembali dan ingin kalian hidup sengsara!” pekik Lucas, emosional.

Lucas mulai tersengal lalu melanjutkan ucapannya, “Tapi, aku pikir, dengan membunuh ibu kalian, itu akan membuat kalian lebih menderita. Dan jika dipikir-pikir lagi, aku bisa memanfaatkanmu untuk menjadi penghasil uang untukku. Kau menjadi gigolo untukku dan menyuruh Taejin untuk mengawasi gerak-gerikmu dan Minhyuk. Aku pula yang membuat Minhyuk cacat dan lupa ingatan.”

Jonghyun dan Yoona sama-sama terbelalak mendengar ucapan Lucas. Jonghyun mulai menangis sementara Yoona menatap Jonghyun dengan miris. Dia telah berburuk sangka pada pemuda itu. Dia tak tahu, bahwa pemuda itu menyimpan begitu banyak rahasia yang sebenarnya sudah menyakiti dirinya sendiri.

“Aku mohon,” kata Jonghyun, sambil terisak. “Hentikan semua ini. Bebaskan Yoona dan kau boleh melakukan balas dendammu padaku. Jangan sakiti dia. Dia tak ada sangkut pautnya dengan ini.”

Lucas tersenyum licik. “Tentu saja ada, Jonghyun. Dia adalah gadis yang kau cintai. Aku ingin melihat reaksimu, bagaimana jika dia mati di hadapanmu…”

Mata Jonghyun kontan membulat ketika melihat Lucas mengeluarkan pistol dari saku jasnya.

“Andwae!”

***

“Hentikan!”

Detektif Han, Yonghwa, Minhyuk, beserta beberapa polisi lainnya mendobrak pintu ruang kerja Lucas. Detektif Han mengarahkan pistol yang ada di tangannya kearah Lucas.

“Lepaskan Jonghyun dan gadis itu!” pekiknya.

Taejin dan beberapa anak buah Lucas lainnya hendak melarikan diri, namun mereka langsung ditahan oleh beberapa polisi dan langsung dibawa keluar. Lucas mulai panik ketika menyadari bahwa dia hanya sendiri. Jonghyun kini juga sudah bebas. Sementara Yoona masih menjadi sanderanya.

Lucas menarik lengan Yoona, membuat gadis itu meringis dan berteriak kecil. Pria itu mengarahkan pistolnya kearah leher Yoona dan mengancam, “Jika kalian berani mendekat, aku akan membunuh gadis ini.”

Jonghyun menatap wajah Yoona yang memucat dengan panik. Dia beralih menatap detektif Han dan memberi kode untuk tidak melakukan apa-apa terlebih dahulu sampai Yoona berhasil dilepaskan dari genggaman Lucas.

Tiba-tiba saja, Minhyuk beringsut mendekat kearah Lucas dan memanggil Lucas. “Ayah, aku mohon, hentikan semua ini.”

“Jangan memanggilku ‘ayah’ seperti itu! Aku tidak sudi!” teriak Lucas marah.

Entah kenapa Lucas mulai merasa panik dan menggigil ketika Minhyuk bersikeras untuk mendekat kearahnya. Pemuda itu terus berjalan dan menghampiri Lucas.

Lucas mendorong tubuh Yoona menjauh dan mengarahkan pistolnya ke depan Minhyuk. Jonghyun langsung menarik tubuh Yoona dan mengamankan gadis itu di belakangnya.

Walaupun telah diancam oleh pistol yang digenggam Lucas, Minhyuk tak urung menghentikan langkahnya untuk mendekati Lucas.

“Minhyuk, menjauh dari situ!” teriak Jonghyun.

Karena dihinggap perasaan takut yang entah muncul darimana, tak sengaja Lucas menarik peletuk pistolnya dan peluru itu terbang lalu menembus dada Minhyuk. Minhyuk langsung jatuh tersungkur ke atas lantai sambil meringis.

“Minhyuk!” Jonghyun berlari menghampiri adiknya dan menangis melihat darah Minhyuk mengalir begitu deras dari dadanya.

Lucas yang melihat pemandangan itu ikut jatuh bersimpuh ke lantai dengan tubuh gemetar. Dia menatap wajah Minhyuk yang memucat dan matanya yang mulai meredup. Rasa bersalah langsung hinggap di dadanya dan rasanya sangat menyesakkan.

Dengan tenaga yang tersisa, Minhyuk menoleh kearah Lucas dan berusaha tersenyum tipis. “Ayah, aku sangat menyayangimu,” ujarnya lalu menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Jonghyun menggotong tubuh adiknya dan berteriak ke sekeliling arah. “Tolong, panggil ambulans! Sekarang! Selamatkan adikku!”

***

Hari itu hujan deras. Jonghyun dan Yoona berdiri di depan pemakaman Minhyuk menggunakan payung. Beberapa pelayat lainnya sudah pulang ke rumah. Hanya tersisa Jonghyun dan Yoona disana.

Yoona menatap wajah Jonghyun yang pucat dan dingin. “Apa kau baik-baik saja?”

Jonghyun tak menyahut.

Yoona menghela nafas. “Jonghyun, biarkan Minhyuk tenang. Dia tidak senang jika melihatmu sedih seperti ini.”

Jonghyun mulai terisak dan menangis dipelukan Yoona. Suara isakan tangisnya membelah suasana pemakaman yang basah, dingin, dan sepi itu. Yoona terus-menerus mencoba menenangkan pemuda itu dan mengusap punggungnya lalu ikut menangis.

***

Lucas menatap Jonghyun yang duduk di sebuah bangku yang disediakan di penjara itu. Wajah Jonghyun tersembunyi dibalik tundukan kepalanya yang masih menyuarakan kesedihan dan duka cita.

Pria itu melangkah pelan, lalu duduk disamping Jonghyun. “Aku pikir kau tidak mau melihat wajahku lagi,” ujar Lucas datar.

Jonghyun mendongakkan kepalanya lalu menghembuskan nafas panjang. “Mana mungkin aku seperti itu pada ayahku sendiri.”

Lucas menoleh dan menatap wajah Jonghyun lekat-lekat. “Kenapa kau masih mau berbaik hati padaku? Aku sudah membunuh ibu dan adikmu, seharusnya kau benci padaku.”

Jonghyun balas menatap Lucas. “Dulu, saat Ibu masih hidup, dia selalu menceritakan padaku bahwa Ayah sangat menyayangiku. Setiap dia pulang dari kantor, dia akan menyambutku dengan tawa lalu menggendongku. Aku pikir, yang Ibu bicarakan itu adalah Taejin, tapi rupanya kau.”

Pemuda itu menghela nafas lalu melanjutkan, “Ibu banyak bercerita tentangmu. Saat dia menceritakan hal itu, aku sering bertanya-tanya, sosok yang ada dipikiran Ibu dengan kenyataannya sangat berbeda. Aku memang sempat meragukan Taejin sebagai ayahku.”

Lucas tertawa lirih lalu tertunduk, “Ne, Taejin memang bukan ayahmu.”

“Tapi kaulah ayahku,” lanjut Jonghyun.

Lucas terdiam.

“Apakah kau masih tak percaya bahwa kami adalah anakmu? Aku yakin kau hanya salah paham pada Ibu. Ibu selalu menceritakan tentang dirimu, jadi tak mungkin ada pria lain dihatinya,” tutur Jonghyun.

“Aku merindukanmu, ayah.”

Lucas bisa mendengar suara samar isak tangis Jonghyun. Ketika dia menoleh, wajah dan mata Jonghyun sudah basah oleh air mata. Tak berapa lama kemudian, Lucas ikut menangis.

“Mianheyo, jeongmal mianheyo.” Lucas menarik tubuh Jonghyun ke dalam pelukannya dan terus mengulang perkataannya.

“Aku sangat menyayangimu, Nak. Sangat menyayangimu!”

THE END

***

NOTE!

Oh iya, awalnya part ini akan saya protect, tapi karena pulsa nggak mencukupi, maka saya kemungkinan nggak akan bisa bales smsnya readers. Jadinya nggak diprotect deh. Dan untuk yang udah ngebaca tapi nggak komentar (silent readers), mudah-mudahan nilai semester kalian jelek semua😛 haha *jahat*. Maaf juga ya kalau part terakhir ini agak aneh, gantung, kurang greget, dan bertele-tele >.<

54 thoughts on “‘L’ For Love, ‘L’ For Lies (Part 6 – Ending)

  1. Nanggung thor, kelanjutan jonghyun ma yoonanya ga ad neh??
    Masih penasaran soalnya endingnya jong sama ayahnya, trs yoona sama dia gmn thor??😦

  2. nice ff eon,walaupun aku baru baca yg part ini tapi aku langsung ngertilah dkit haha * reader sotoy*
    tapi gatega ngeliat jonghyun dpukulin huhu T_T

  3. Ah keren bgt chingu ff nya,, bener2 ending yg bgus dan g disangka.. Ternyata pria yg dikamar bersama ibu minhyuk yg diceritakan minhyuk trxata Lucas, tak pikir Taejin loh. Dan bener2 g aku sangka klu Lucas tuh ayah JH&MH🙂 .. Pokokx ni ff keren, JH&MH trnyata pemaaf, tp MH mati ><

  4. huaaa akhirnya selesai…happy..happy tapi minhyuk kok meninggal??trus yoona ma jonghyun berakhirnya gitu doang min???ahh aku mau ada sequelnya!!

  5. Huaaaa akhirnya mucul juga part 6nya😀 Satu kata thor, D-A-E-B-A-K!
    Ngga nyangka kalo Lucas ternyata ayah kandungnya Jonghyun & Minhyuk, ngga nyangka kalo Minhyuk akhirnya meninggal *ngelap air mata*, ngga nyangka kalo akhirnya bisa kayak gini, dan masih banyak kata ‘ngga nyangka’ yang lainnya😀
    Tapi part ini akhirnya rada ngegantung thor, kalo dibikin sekuelnya pasti bakal lebih pas🙂 Fighting! *\(^o^)/*

  6. aq bru smpet ngikutin ff nie, sblmnya mlz baca coz blm end. tapi stlh baca, aq suka ceritanya keren bgt, n JH pemaaf n baik hati bgtz. . aq tunggu karya slnjutnya ya thor. .

  7. Kasian bngt minhyuk, bru sembuh eh malah jd meninggal. Trnyata Lucas jg org yg baik (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ)‎​
    Tpi rada” gantung crta’a
    Mdah”an ad sequel’a dh
    hhe

  8. Oh,hihi. Annyeong~
    reader tidak dikenal ._.v iseng nyari di mbah gugel,dan akhirnya nemu blog ini,yeei! Haha.
    Gatau apa part 1 sampe seterusnya,kecuali part ini doang. Ceritanya tentang jonghyun/yoona,tapi kenapa akhirnya jonghyun-lucas? O.o
    but good ff🙂

  9. kurang scene jonghyun-yoona,, jd kurang brasa feel cinta mereka *halaahhhh*
    tapi jonghyun tuh baik bgt y, ayahnya yg udh ngbunuh ibu sm adeknya mlah gmpg bgt dimaafin,,
    intinya aku suka ceritanya thor!😀

  10. huaaa. .
    knapa minhyuk mati???
    tega tuh ayahnya…
    aq marathon bca dri part 1 . .
    ga rela ah, minhyuk mati . .

    tapi, aq suka ff ini. .

  11. Wah sayang gak di ceritain gmn ujungnya jonghyun sama yoona..
    Syng jg minhyuk nya meninggal.. heheh.. tapi klo gak ada hujan gak ada pelangi..

    Fighting!!!!

  12. wah akhr’a slesai, ini FF pertama yg aq bca, ksan prtama kren bgt, krn bgeeedz.. Semangat.. Mdh2an bsa bca FF yg eonnie bwt kdepan’a..

  13. Aaaaa kenapa Minhyuk harus meninggal😦
    Author, ceritanya gantung… Terus itu hubungannya Jonghyun sama Yoona gimana?

  14. Huh akhirnya ff ini ending juga, aku seneng yoona sama jonghyun bisa bersatu lgi, bener bener bagus ceritanya, konflikny dapet bgt🙂 aku tunggu FF yoona jonghyun selanjutnya

  15. hay thor lam kenal..mian baru coment di part akhir.
    Ceritanya bagus thor tp yang bagian jonghyun +yoona gantung dch ceritany kalau dibikin 1 part lg tengtang kisah mereka msh bs loh thor.
    Mgkn dah kelama’an y thor *sambil nglirik tangal pembuatny* maklum thor baru akhir2 ini q tau ni ff hehehe

  16. aih, minhyuk nya meninggal, padahal baru juga sembuh… TT___TT
    aku bener-bener ga nyangka ternyata ayah mereka yang sebenernya itu lucas. pantes taejin nya tega banget.
    kalo lucas ga salah paham, pasti ga bakal kayak gini jadinya…
    tapi jonghyun nya juga baik banget mau maafin ayahnya…
    FF nya bagus, seru!🙂 keep writing!😀

  17. aku suka ama ffnya🙂 suka bgt malah..
    Cuman endingnya aku krg puas, kelanjutan hubungan yoona ama jonghyun gmn??
    Makasii🙂

  18. DAEBAK!
    Maaf ya eon baru baca plus comment disini, baru nemu FF ini soalnya._.
    Bener bener keren deh! Berani ngangkat konflik begini, trus konfliknya juga kerasa banget!
    Nggak nyangka endingnya bakal kayak gitu. FF ini susah ditebak!
    Bener bener deh ya..
    Nggak rela Minhyuk meninggal. Disini Minhyuk itu bener bener awesome!
    Tapi JongYoon nya nggak diceritain mendetail sih ya._.
    Oke, dilanjut bikin FF keren yang lain ya eon! Fighting! (9’O’)9

  19. wooaaahhhh *nangis kejer*
    ksalahpahaman yg berujung maut..hiks..hiks..
    akhir dr hbgn Jonghyun & Yoona ga dijelasin bikin pnasaran, author chingu.
    anyway, daebak cerita!!! d^_^b
    smgt mnulis! smgt bwt ff trs! ^^9

  20. whoaaaa baru ngikutin dan maaf baru komen juga..
    kenapa kisah jongyoon nya tragis gitu? huhuhu minhyuknya mati juga..
    tapi daebak thor! mana dong ff deerburningnya lagi?

  21. mianhe komen’y d part akhir, k asikn bca n pngen cpet2 bca crita slnjut’y!!
    daebak thor, seru bgt, berasa bnern nontn drama dh. crita’y ngalir gitu za. tpi sedih bgt seh dnger crita hidup’y Jong Hyun. akhir’y mlah dtinggal jg ma Min Hyuk. tpi yg g kbyang tuh dia masih mau nerima lucas sbg ayh’y. kalo cerita nyata psti ksel n bneci bgt sma lucas, meski awl’y cuman slah pham ma ibu’y tpi ttep za kalo ampe ngbnuh gtu udh brlebihn bgt. T_T

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s