Untouchable Love Part 3

Part 1    |   Part 2

Author :  @Eonn1k4D

Rating : PG15

Genre : Romance

Leght : Chapthered

Cast :

Lee Jung Shin

Yoona

Note : Mungkin alur makin GaJe n rada2 mirip dgn sinetron atau novel .. entahlah coz author juga demen banget nonton drama n baca novel jadiii kalo idenya tercampur gini ya harap di maklumi ya .. pssstt jangan lupa koment yah

Sinar mentari yang menembus jendela menghangatkan  ruangan beraroma steril ini. Sejenak Yoona yang baru saja terbangun mengerjapkan mata menahan silau tapi itu tak berlangsung lama karena JungShin yang segera menutup tirai untuk menghalangi sinar matahari yang masuk itu. Yoona hendak mengatakan tidak apa2 sinar matahari masuk namun urung karena dilihatnya JungShin sedang berbicara dengan seseorang di telpon.

“ Aku tak ke kantor hari ini, …. terserah padamu jika tetap mau datang …”

“ Ani .. ..”

“…….”

“ Ne.. nanti kuhubungi kau lagi .. bye ..” Yoona mengernyitkan heran mendengar potongan percakapan yang janggal itu, sepertinya JungShin sedang berbicara dengan orang yang tak di kehendaki.

“ Nuguyo ? .. orang kantor kah ?. Kau tidak bilang ke mereka aku ada di sini kan Bos ?.”

“ Bukan orang kantor kok . Bagaimana perasaanmu pagi ini … sudah baikankah ?.” JungShin balik bertanya seraya membantu membetulkan letak bantal hingga posisi Yoona setengah duduk. Selang infus di pergelangan tangan sudah di lepas suster saat jelang pagi tadi. Tidak perlu botol kedua karena kondisi Yoona sudah membaik.

“ Aku hanya hamil bos, bukan sedang sakit parah .” JungShin tersenyum melihat mulut Yoona yang manyun itu.

Benar bukan sakit parah tapi ini pertama kalinya bagi JungShin menunggui orang hamil. Dulu sewaktu Noonanya dan ipar2 perempuan alias istri hyungnya hamil ataupun melahirkan tak pernah sekalipun JungShin terlibat jauh. Paling juga hanya memberi sebuket bunga saat persalinan selesai dan memberi kado aneka boneka untuk keponakan2nya itu.

“ Kau memang hanya hamil, hanya aku yang tak terbiasa dengan orang hamil yang …. “

“ Uhukk .. uhukkss …” Yoona tiba-tiba menutup mulutnya dan berusaha turun dari bed.

“ Kau mau kemana ? .. hai kau belum boleh turun ..” cegah JungShin

“ Aku ingin muntah … palli bantu aku ke kamar mandi .” jawab Yoona terbata sambil menahan rasa mual hebat di perutnya. JungShin bergegas menggendong tubuh mungil Yoona ke kamar mandi. Hampir 15 menit Yoona jongkok di depan kloset memuntahkan isi perutnya sementara JungShin menyeka kening dan leher yeoja itu dengan handuk dingin.

“ Apa yang terjadi ?.. kenapa kau malah muntah begini. Aku panggilkan dokter ya .. “ kata JungShin cemas saat meletakkan kembali Yoona di bed.

“ Gwecanayo JungShin-ssi, ini namanya morning sick. Hal yang biasa bagi ibu hamil muda beberapa ibu akan selalu muntah di pagi hari atau pusing atau ingin makan sesuatu … yeaahh begitulah.” Yoona menjelaskan secara singkat sambil tersenyum. Wajahnya memang terlihat pucat namun sorot matanya bersinar penuh kebahagiaan.

“ Ohh begitu yaa .. “ JungShin hanya bisa anggukkan kepala mencoba memahami. Ditatapnya Yoona yang sedang mengelus lembut perutnya yang masih datar itu. Lagi2 hatinya mencelos, yeoja itu bukan termasuk yeoja cantik menurut kriterianya namun sinar matanya yang bersinar dan senyum yang penuh kelembutan membuat yeoja itu Nampak lain di matanya.

“ Anyeong Yoona … bagaimana kabar pasien favoritku hari ini ?. Kau merindukanku  ya hingga harus di rawat segala di sini .” sapa seseorang dengan suara berat.

“ Anyeong dokter, tentu saja aku merindukanmu.” jawab Yoona menyambut uluran tangan dokter tua yang baru saja masuk itu.

“ Hmm dan namja ini … ?.”

“ Dia suaminya dokter .” kali ini suster yang mengikuti di belakang dokter itu menjawab. Suster ini juga salah satu perawat yang semalam berdinas dan  kesalahpahaman yang tak di ralat tetap melekat hingga pagi ini.

“ Ehhh … “ Yoona dan JungShin kompak hendak mengucapkan sesuatu namun dokter tua itu hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya.

“ Mari kita periksa kandunganmu Yoona .” perawat yang mendampingi si dokter dengan cekatan memasang alat USG dan membuka perut Yoona. Mengolesi dengan krim pelicin dan dengan seksama dokter itu kemudian memaju mundurkan alat yang seperti scan di perut datar Yoona.

Sementara itu JungShin hanya bisa melongo melihat adegan demi adegan di depannya. Entah kenapa si dokter tidak menyuruh JungShin keluar dahulu saat memeriksa Yoona dan dirinyapun ternyata memang enggan untuk keluar dari kamar itu. JungShin menatap layar monitor yang menampakan gambar hitam putih. Ada 2 gumpalan bundar nampak disana …

“ Jadi itu janin Yoona ?.” tanya JungShin tanpa sadar.

“ Ne .. yang kecil ini janin dan yang besar kista atau tumor jinaknya. Letak mereka berdekatan tapi semoga saja saat janin ini berkembang lebih besar, kista ini tidak menganggunya lagi. Kita harus tetap memantau perkembanganmu Yoona. Kau semalam pendarahan karena terlalu lelah, kuharap kau mengurangi beban kerjamu jika ingin janin ini selamat hingga akhir.”

“ Aku jamin dia tak akan lagi kelelahan dokter .” jawab JungShin cepat.Sang dokter tua hanya tersenyum dan menepuk bahu JungShin layaknya seorang bapak.

“ Kalau ada apa-apa segera bawa kerumah sakit ini. Dia pasien favoritku … “ JungShin anggukkan kepala dan kemudian menutup pintu begitu si dokter selesai memeriksa dan memberi beberapa nasehat perawatan untuk Yoona selama di rumah karena Yoona sudah di perbolehkan pulang.

“ Soo … mari kita pulang .” kata JungShin setelah keduanya lama terdiam.

“ Gumawo JungShin-ssi, kau sudah berbaik hati menemaniku semalam hingga hari ini.” kata Yoona dengan mata berkaca.

“ Heii heii .. aku hanya kebetulan ada di saat yang tepat saja. Kurasa aku juga akan melakukan hal ini walau bukan kau yang terkapar di toilet seperti semalam . Kau kan tahu aku itu orang baik.”  Yoona tersenyum mendengar jawaban JungShin bersamaan dengan dering ponselnya.

“ Yoboseyo .. Rumii … “

“….”

“ Ne .. Araa .. “

“ Gwecanayo .. aku hanya kelelahan, hari ini tidak masuk. Tolong kau mintakan ijin ke Bos ya.” kata Yoona seraya melirik JungShin yang berdiri membelakanginya sedang membereskan tas kerja mereka.

“ Ahh .. bos kita belum datang ya .. ? Ne .. Ne .. bye Rumi .” Yoona menutup ponsel seraya nyengir kearah JungShin yang berkacak pinggang memandangnya

“ Tentu saja aku belum datang ke kantor … kenapa kau tak bilang tadi pada Rumi kalau aku ada disini ?.”

“ Nggak enak ah Bos. Siapa tahu nanti timbul gosip yang merugikan anda.” JungShin hanya angkat bahu dan tak lama kemudian mereka sudah meninggalkan halaman Rumah Sakit.

“ Yoona … bangun kita sudah sampai apartemenmu .”

“ Ughhh .. masih ngantuk … “ Yoona bergelung di jok mobil

“ Yoonaa … nanti kau lanjutkan lagi tidurmu di rumah.” bujuk JungShin. Yoona enggan sekali membuka mata karena tubuhnya masih terasa lemas.

“ Ughhh iya iyaaaa … cerewet amat sih .” jawab Yoona asal2an sambil menyeret kakinya menuju lobby apartemen.

“  Apartemen ini nggak punya lift ya ?.” tanya JungShin mengekor di belakang  saat Yoona perlahan menaiki tangga

“ Ada sih, tapi sering kali rusak dan aku pernah terkurung dua jam di sana. Lebih baik lewat tangga toh kamarku hanya di lantai 2 .” jawab Yoona dengan nafas sedikit tersengal.

“ Pantas saja dia selalu terlihat lelah, naik turun tangga seperti ini tiap hari dan sedang hamil pula .” guman JungShin.

“ Kau bilang apa Bos ?.” tanya Yoona di ujung tangga.

“ Ani .. “ jawab JungShin menggantung dan sepertinya Yoona juga tidak menantikan jawaban JungShin karena yeoja itu berbalik cepat dan berlari tergesa menuju salah satu pintu

“ Yoona .. “

“ Yoona kau tidak apa 2 ?.” JungShin berlari menyusul dan langsung masuk di salah satu apartemen yg pintunya terbuka lebar. Ini pasti apartemen Yoona, suasana dan aromanya khas yeoja itu guman JungShin menatap sekeliling ruangan. Kosong … dimana yeoja itu.

“ Yoonaa … “ panggil JungShin lagi, dan kemudian didengarnya suara air mengguyur toilet.

“ Kau … muntah lagi ?.” tanya JungShin mengintip dari balik pintu kamar.

“ Ehh heehh .. iya, tapi nggak apa2 kok…..” jawab Yoona sedikit terengah. Tanpa permisi JungShin segera masuk dan mendapati yeoja itu bersandar di wastafel. Wajahnya terlihat pucat dan bulir2 keringat nampak di dahi

“ Aishh … “ JungShin dengan cekatan membasahi handuk dan menyeka wajah serta leher Yoona kemudian membantu yeoja itu berbaring di ranjangnya.

“ Gumawo bos .. Biasanya ini hanya berlangsung sampai tengah hari .“

“ Adakah seseorang yang bisa kutelpon untuk menemanimu ?.”

“ Ani .. aku baik2 saja. Sumpah … kau bisa pulang bos. Sekali lagi gumawo .”

“ Benar aku bisa meninggalkanmu sekarang ? Kau belum sarapan lho Yoona … “

“ Kalau aku makan sekarang juga percuma pasti akan kumuntahkan lagi. Janji bos, nanti aku akan makan .. aku toh tak akan membahayakan janinku .” JungShin menatap sekilas perut datar Yoona.

“ Baiklah … kalau ada apa2 segera telpon aku ya. Dan berapa nomer keamanan apartemenmu ini .”

“ Aku baik2 saja …. “

“ Berapa …?.” potong JungShin. Yoonapun menyebut deretan angka sambil sedikit cemberut. Baru kali ini dia memberikan nomer keamanan apartemennya pada orang lain.

“ Aku tak bermaksud apa2 Yoona, Hanya sekedar untuk berjaga2 saja. Jaga dirimu baik2 .” kata JungShin. Yoona mendengar suara pintu depan tertutup,…

“ Beruntunglah aku punya bos yang baik hati, bukankah begitu nak ?.” kata Yoona sambil mengelus perutnya dan tak lama kemudian kedua matanyapun ikut tertutup.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 10 malam namun JungShin masih berkutat dengan pekerjaan  karena sepanjang hari ini konsentrasinya terbagi dua. Antara pekerjaan dan keadaan Yoona. Berulang kali otaknya memutar gambar janin yang tadi nampak di layar monitor USG. Begitu mengagumkan karunia Tuhan ..

“ Argghh kenapa aku jadi ingat itu terus … “ gerutu JungShin. Namun tak urung juga jemarinya malah mengklik halaman online tentang bagaimana merawat kehamilan .. ibu hamil … pertumbuhan janin

“ Bagaimana keadaannya setelah kutinggal tadi ya ?.”

“ Apa dia sudah makan ?.”

“ Atauu … Hahhh kenapa aku jadi kepikir gini. Dia kan hanya seketarisku saja yang kebetulan sedang hamil.” Junghin garuk2 kepalanya yang nggak gatal .

“ Masuk atau tidak yaa … “ JungShin berdiri di depan pintu apartemen Yoona dengan bimbang. Entah kenapa tadi sewaktu perjalanan pulang dari kantor tiba2 terbersit keinginan untuk melihat keadaan Yoona.

“ Tanggung sudah sampai disini .. aku masuk saja mengecek keadaannya dan langsung pulang.” guman JungShin memencet sederet angka dan KLIK pintupun terbuka. Suasana remang menyelimuti ruang tamu yang masih persis sama seperti saat tadi pagi di tinggalkannya. JungShin mengendap pelan kearah kamar Yoona yang pintunya setengah terbuka

“ Dimana yeoja itu ?.” tanya JungShin dalam hati melihat tempat tidur kosong dan hanya ada selimut acak2an.

“ Apa di dapur sedang makan malam … ? Jam segini … ?.” JungShin hendak berbalik kearah dapur saat telinganya mendengar suara seseorang muntah disusul gemercik air di toilet.

“ Kau muntah lagi ? … Sudah berapa kali hari ini ?.” tegur JungShin mendapati Yoona sedang berjongkok di depan kloset.

“ JungShin – ssi … ? … Aa … apa yang kau lakukan malam2 begini ?.” Yoona balik bertanya heran melihat bosnya berdiri didepan pintu toilet. JungShin tak menjawab hanya menyeka handuk basah ke dahi dan leher Yoona setelah itu menggendong yeoja itu kembali kekamarnya.

“ Aku nggak tahu kenapa hari ini muntah terus, padahal kata buku itu hanya terjadi di pagi hari saja .” Yoona bicara terus sambil mencoba meluruskan bajunya yang kust. Namun JungShin tak menghiraukannya dan di bawah tatapan heran Yoona, JungShin malah dengan santai mengaduk2 isi lemari baju Yoona.

“ Apa yang kau lakukan ?.” tanya Yoona saat melihat JungShin mengepak baju2nya dalam koper.

“ Mulai malam ini kau pindah ke apartemenku .” jawab JungShin singkat.

“ Mwooo … tapi .. tapi .. “

“ Apakah kau hari ini sudah makan ?.” tanya JungShing yang di jawab gelengan kepala Yoona.

“ Bagusss .. kau membahayakan janin itu. Setidaknya dari yg kudengar ibuhamil harus makan dengan porsi dua kali lipat dan untuk kondisimu kau harus banyak istirahat.”

“ Tapi bukan berarti aku harus pindah ke apartemenmu kan Bos. Lagipula hubungan kita tak sejauh ini .. “

“ Hubungan kita tak ada yang berubah Yoona. Aku hanya khawatir terhadapmu dan terutama janin yang ada di perutmu itu. Kalau kau tak bisa menjaga diri bisa2 kau kehilangan bayi itu .” Yoona terdiam mendengar jawaban JungShin.

“ Tapi .. “

“ Tak ada tapi2an … Kau hanya tinggal sementara di tempatku Yoona, hingga kondisimu lebih baik.  Ditempatku tiap hari ada ahjumma yang datang membersihkan rumah, dia bisa kusuruh untuk menyiapkan masakan untukmu jadi kau nggak perlu ke dapur. Dan pastinya kau cukup mendapatkan gizi untuk bayimu. Kajja .” JungShin membantu Yoona berdiri dan mengenakan mantel yeoja itu.

Yoona tak banyak bicara selama perjalanan menuju apartemen JungShin. Sepertinya membantah JungShin juga percuma apalagi dia juga menyadari kondisinya memang menbutuhkan bantuan dari orang lain. Seharian ini berulang kali Yoona bolak balik ke toilet hanya untuk muntah saja, boro2 untuk makan. Berdiri sebentar untuk sekedar menyeduh teh saja kepalanya sudah pening berat.

“ Kau bisa menempati kamar ini Yoona dan kamarku ada di sebelah, hanya saja kamar mandinya cuma satu dan bisa di buka dari dua arah. Jadi kusarankan kau agar tak lupa mengunci pintu pada bagian kamarku saat kau mandi .”

“ Dan besok kau tidak usah masuk kerja ambil saja cuti 3 atau seminggu sekalian.”

“ Tapi …. “

“ Tak ada  tapi2an. Tidurlah besok kita ngobrol lagi. “ kata JungShin seraya menutup pintu kamar tamu meninggalkan Yoona yang masih tidak percaya sekarang dirinya malah tinggal di rumah JungShin.

Hubungan mereka di kantor hanya sebagai atasan dan bawahan , tidak akrab sekali untuk bisa di sebut sahabat. Yoona juga tahu JungShin sedang menjalin hubungan dengan seorang yeoja walau entah itu siapa karena bosnya sering berganti pacar layaknya membeli baju baru.

“ Apa kata orang-orang kantor jika mereka tahu aku tinggal di apatemen mewah ini. Argghh JungShin-sii apa sih sebenarnya yang kau pikirkan .” kata Yoona seraya menatap langit2 kamar dan interior kamar tamu yang elegan ini. Sementara di kamar sebelah JungShin berbaring terlentang di tengah tempat tidur tak bisa memejamkan mata.

“ Ahh apa sih yang barusan aku lakukan ? ….”

“ Kenapa aku malah membawanya ke rumahku segala sih. Kan bisa saja aku membayar orang untuk menjaganya, mungkin seorang perawat atau pembantu paruh waktu. Aiisshh JungShin .. kemana larinya otak warasmu .”

“ Arrghhh …….”

***

Aroma kopi menusuk hidung Yoona saat yeoja itu melangkahkan kaki ke dapur. Disana JungShin sedang asyik dengan sesuatu yang di masaknya.

“ Anyeong Bos, … “

“ Pagi juga Yoona .. bagaimana kondisimu. Aku baca di internet kalau pagi hari kau minum teh hangat dengan madu dan perasan jeruk nipis akan mengurangi mualmu. Tuh sudah kubikinkan dan aku tak merekomendasikanmu untuk minum kopi. Kafein tak bagus untuk janinmu .” kata JungShin saat melihat Yoona sedang melirik teko kopi yang mengepul panas.

“ Omelet juga nggak apa2 Bos. Gumawo … “ Yoona menatap punggung JungShin dan menyesap teh hangatnya.

“ Taaraaaa sudah jadi…. silahkan makan. Kalau rasanya nggak enak tetap kau paksakan makan demi janinmu. Ara ..!”JungShiin meletakkan piring yang berisi omelet porsi besar di depan Yoona.

“ Sebanyak ini harus kuhabiskan … ?.” Yoona menatap heran piring dan JungShin secara bergantian.

“ Kau harus makan untuk dua orang. Kajja makanlah dan jangan banyak bicara .”

Porsi untuk dua orang gerutu dalam hati Yoona seraya menyendok omelet dengan enggan. JungShin tersenyum lebar menatap wajah Yoona yang terlihat kesal itu. Tak ada yang bicara selama makan hingga …..

“ Jagiyaaaa … aku merindukanmu … Dimana kau ? “

Yoona menatap JungShin kaget saat suara seorang yeoja menggema di ruang depan. Ketukan sepatu yang mengarah ke dapur semakin membuat paras Yoona memucat. Dan tak lama kemudian sosok tinggi dan langsing muncul di pintu dapur . Sulli model sekaligus penyanyi yang saat ini sedang dipacari JungShin

“ Hallo jagiya …. Mwoollaaa siapa dia ?.” tatapan ramah itu mendadak berubah tajam saat melihat Yoona.

“ Hallo juga jagiya … duduklah. Aku sudah sarapan ?.”

“ Apa-apaan ini JungShin. Kemarin kau bilang tak ke kantor waktu aku akan datang…, lalu kau bilang sedang sibuk dan banyak urusan. Inikah urusan yang kau maksudkan itu .” tatapan tajam Sulli menelusuri Yonna dari atas ke bawah.

“ Ehh .. aku sudah selesai makan. Kalian ngobrol saja dulu ….” JungShin menahan bahu Yoona saat hendak beranjak.

“ Kau lanjutkan makan dan harus habis. Kita ngobrol di depan Sulli … “ kata JungShin menarik Sulli yang melotot kesal kearah Yoona

“ …… tapi bukan begitu caranya … memangnya rumahmu ini penampungan apa ?.” sayup suara Sulli yang meninggi terdengar hingga dapur.

” …. ”

“ Atau sebenarnya bayi itu adalah anakmu ?…. Kau hanya sedang mencari alasan JungShin-ssi …”

Yoona menutup mulutnya kaget, entah jawaban apa yang di berikan JungShin, Yoona tak bisa mendengarnya namun suara perdebatan terus berlangsung hingga terdengar suara pintu yag menutup dengan keras. Apakah mereka berdua pergi keluar ? guman Yoona

“ Yaa … belum habis juga makanmu ?.” tegur JungShin mendapati Yoona hanya mengaduk2 omeletnya.

“ Apa nona Sulli marah bos ?…. “

“ Kalian bertengkar karena aku ya ? Mianhe ..” tanya Yoona nggak enak.

“ Marah ? … tentu saja marah…”

“ Biarlah dia marah.., toh ini kan rumahku terserah padaku siapa yang kuijinkan dan tak kuijinkan tinggal tidak ada hubungan dengannya.” jawab JungShin santai

“ Tapi … jika nanti kalian putus hanya gara2 aku tinggal disini bagaimana? .“

“ Hahahaha .. kalau aku putus akan kucari yeoja cingu baru Yoona. Kayak kau nggak tau aku saja. Yeoja cantik bukan hanya seorang Sulli saja.” jawab JungShin sambil tergelak geli membuat Yoona tersenyum kecut. Memang benar Bosnya yang tampan dan playboy ini pasti akan dengan mudah mendapatkan kekasih baru jika Sulli meninggalkannya.

“ Hmm …. atau aku balik kerumahku saja Bos, kurasa kondisiku sudah lumayan baikan kok.”

“ Tidak … kau tetap disini. Santai sajalah Yoona. Anggap aja kau sedang liburan di tempat bagus.” kata JungShin tegas.

“ Yach .. anggap saja aku sedang berlibur di tempat mewah ini. Terserah kau saja bos, jangan salahkan aku jika nantinya aku betah tinggal disini dan tak ingin pulang ke apartmenku yang sederhana itu.” kata Yonna angkat bahu berlagak pasrah.

JungShin hanya tersenyum lebar mendengar jawaban pasrah Yoona. Disesapnya kopi yang mulai mendingin dan ditatapnya Yoona yang kembali asyik menyendokkan omelet buatannya.

Rasanya aku juga tak ingin kau pulang kerumahmu Yoona guman JungShin yang kemudian mendadak terdiam, …. kaget dengan pikiran yang baru saja melintas di otaknya.

Ahhhh

tbc

24 thoughts on “Untouchable Love Part 3

  1. huaaaa,eon makin seru aja nih ff nya >.<
    mereka nikah kan eon terus bikin adek (?) #plaaak *reader sok tau
    yaudah eon,semakin seru.kutunggu ya ff lanjutannya \(^.^)/

  2. wah keren chingu ..
    lanjutan ny kpan?? tepat ny hari apa ??
    tdi tiba” ke pikiran ff ini ,, uda ad lnjutan ny ato blum ,, skali di cek ada ..
    hahaha😀
    aq tnggu lanjutan ny minggu dpan yaa ..😀

  3. seneng dech,jung shinnya dh suka sma yoona. .
    tapi aq msh kepikiran sma bpk dr bayi yg d kandung yoona. .(?)
    next part jng lama ya eon….

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s