I’m in Love [Part 7]

Title : I’m in Love [Part 7]

Author : Shineelover14

Rating : PG-13

Lenght : Chapter

Genre : Romance

Main cast :

  • Lee Jonghyun (CN BLUE)
  • Park Jihyun (as readers)

Disclaimer : FF ini murni buatan aku sendiri. Terinspirasi waktu liat Jonghyun oppa nyanyiin lagi I’m in Love—Narsha BEG. Dan FF ini juga pernah ku publis di blog pribadi ku & di ReadFanFiction.

A/N : Hahahaha. Mian banget yang udah nunggu lama FF ini. Jujur baru sempet nerusinya tadi pagi. Langsung jadi gitu ajah n’ langsung ku publis begitu selesai. Udah beban banget dengan komentar para reader yang nuntut FF ini cepat di publis n’ akhirnya kesampaian juga. Beribu kata maaf ku haturkan buat para readers semua. Author terlalu lalai mengemban tugas. Sekali lagi maaf. Moga part ini gak membosankan. HAPPY READING!!

***

Author P.O.V

Sore begitu cerah dengan langit biru berawan menemani hamparan langit luas membentang. Semilir angin bertiup menerpa wajah putih Jihyun. Ia duduk seorang diri di taman itu. Menunggu sang pujaan hati menunjukkan keberadaanya.

Menunggu dan terus menunggu. Hatinya begitu gusar serta resah membaur menjadi satu. Tiap detik ia lewati hingga berubah menjadi menit kemudian berlalu menjadi rangkaian menit yang panjang. Langit telah berubah menjadi jingga. Ia tetap menunggu dengan setia kedatangannya.

Lama ia menatap kearah rerumputan yang bergoyang akibat tiupan angin. Berusaha merangkai kata untuk menyampaikan maksud hatinya pada yang dinanti. Namun satu pun kalimat tak dapat ia lontarkan. Terlalu sulit baginya.

Serpihan-serpihan kenangan indah yang baru ia ciptakan sirna begitu saja tatkala suara lembut itu terngiang-ngiang kembali di telinganya. Matanya memanas dan ingin mengeluarkan air mata, namun terlalu klise jika ia menangis untuk meluapkan isi hatinya. Ia berusaha tegar menghadapi semua. Berusaha kuat untuk menahan semua rasa yang bergejolak di dada.

“Jihyun~a ..” pekik Jonghyun dari kejauhan membuat si pemilik mata indah itu menoleh ke arah pujaannya. Ia sedang berlari ke arah Jihyun dengan tergesa-gesa.

“Maafkan aku karena datang terlambat. Hari ini kedai Appa sangat ramai. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Mianhae,” ucap Jonghyun tersengal dengan nada menyesal.

Pria itu sedang membungkukkan tubuhnya sembari memegangi kedua lututnya. Ia berusaha mengatur detak jantungnya yang memompa darah lebih cepat serta berusaha menyesuaikan tempo nafasnya hingga teratur.

Jihyun tersenyum tipis ke arah pria yang telah dicintainya beberapa bulan terakhir. “Gwenchanayeo.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir mungilnya.

Setelah benar-benar merasa lebih baik, Jonghyun segera mengambil posisi duduk di sebelah kekasihnya. Senyumnya merekah ketika matanya meniti wajah cantik pujaannya itu. Rasa rindu yang melandanya kini sirna seketika. Jonghyun mencoba untuk bersuara. Memecahkan kesunyian yang sangat pekat antara dua insan tersebut.

“Bagaimana keadaan Halmoni?” tanya Jonghyun tak lepas dari wajah Jihyun.

“Halmoni baik-baik saja. Mungkin beberapa hari lagi ia sudah diperbolehkan pulang,” jawab Jihyun seadanya.

Sesuatu yang sangat tak biasa bagi gadis itu. Berbicara ketika ditanya dan setelah itu ia kembali bungkam. Jonghyun belum menyadari segala perubahan yang ditunjukkan kekasihnya. Ia terlalu larut dengan suasana hati yang gembira karena yang dicinta telah kembali bersamanya.

Jihyun meremas tangannya. Berusaha menyampaikan maksud tujuannya ingin bertemu dengan Jonghyun sore itu. Tenggorokannya seperti tercekat hingga gadis itu tak dapat bersuara sedikit pun. Hatinya kembali meronta, tak ingin mengambil keputusan yang sangat sulit untuk ia lakukan. Tapi itu sebuah keharusan baginya karena tak hanya pria itu yang mengisi hatinya sekarang melainkan ada orang lain yang lebih membutuhkannya saat ini.

“Jonghyun~a ..” panggil Jihyun dengan suara lirih. Gadis itu tertunduk, tak mampu membalas tatapan Jonghyun yang sedari tadi terus mengamatinya. Tak mau membuat senyuman pria itu sirna begitu saja.

“Ne  ..” balas Jonghyun lembut sembari meraih pinggang ramping Jihyun kemudian membawa gadis itu semakin mendekat ke arahnya. Ia merebahkan kepalanya di pundak kecil Jihyun.

Lama gadis itu tak bersuara. Ia masih beradu dengan hati kecilnya hingga sebuah ciuman mendarat di pipi kiri Jihyun. Matanya membulat seketika. Tak percaya dengan tindakan frontal yang diberikan Jonghyun padanya.

Jonghyun berbisik di telinga Jihyun, hingga membuat si pemiliknya sedikit merasakan geli di sekitar daerah tersebut. “Aku sangat merindukan mu, Hyun. Jangan pernah pergi lagi dari ku. Terlalu sulit jika sehari saja aku tak melihat wajahmu. Aku bagai kehilangan pancaran surya disiang hari. Bagaikan lautan yang tak bertepi. Bagaikan sebuah kapal yang kehilangan haluan. Miris bukan nasib ku ketika kau tak ada. Entahlah rasa cinta ini begitu menjadi-jadi ketika kau tak disisi ku. Hasratku selalu ingin bertemu dengan mu membuat ku gila. Berhentilah membuat ku seperti itu Hyun. Sungguh aku tak bisa jauh dari mu.”

Seketika air mata meluncur sempurna hingga membasahi pipi Jihyun. Gadis itu menangis dalam dekapan hangat kekasihnya. Setiap kata yang terlontar dari bibir pria yang dicintainya itu seperti sebuah gembok yang semakin membuatnya bungkam dalam diam.

Jonghyun menjauhkan kepalanya dari pundak Jihyun. Menatap kekasihnya yang sedang menangis pilu. Jonghyun bangkit dari duduknya kemudian membungkuk dihadapan Jihyun. Ia menghapus air mata pujaanya dengan kedua ibu jari.

“Berhentilah menangis. Air mata mu terlalu berharga untuk di keluarkan. Aku ingin kau tersenyum sekarang. Bukankan ini sebuah kencan. Harusnya kau bahagia dengan kencan kita yang sangat romantis ini,” ucap Jonghyun berusaha membuat hati gadis yang dicintainya itu tenang. Namun tak sesuai dengan yang diinginkannya. Jihyun semakin menangis menjadi-jadi. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Terlalu berat baginya untuk memutuskan.

“Hei. Mengapa kau semakin menangis. Apa aku bersalah pada mu,” tanya Jonghyun mulai khawatir. Jihyun menggeleng pelan. Ia berusaha dengan sekuat tenang untuk bersuara hingga sebuah ucapan lirih terlontar dari mulutnya.

“Maafkan aku.” Dua kata yang sangat singkat, namun butuh perjuangan yang sangat keras untuk mengucapkannya.

“Gwenchanayo. Bukankan kau sudah berada disini sekarang. Tak ada yang perlu ku khawatirkan lagi,” ucap Jonghyun dengan senyum yang merekah. Jihyun masih menatap nanar manik mata Jonghyun dalam kemudian ia menggeleng pelan membuat kekasihnya tak mengerti maksud dari gelengan tersebut.

“Aku tak bisa terus bersama mu lagi, Jonghyun. Aku akan pindah ke Seoul besok. Eomma ku telah kembali dari Belanda. Ia sakit Jonghyun. Ia sangat membutuhkan ku. Dan aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku telah salah paham selama ini. Aku salah menilai Eomma yang tak perduli pada ku. Ia ke Belanda bukan hanya karena bisnis Appa, tapi juga karna Eomma sedang menjalani pengobatan disana. Aku—aku ingin menebus semua kesalahan ku padanya. Aku ingin terus bersamanya. Mianhae—Jeongmal mianhae.” Tangis Jihyun semakin pecah. Ia merasa bersalah dengan semua ucapan yang telah ia lontarkan, tapi ia harus mengatakan itu dan tak ada pilihan lain baginya.

Hatinya seperti diremas kuat. Sakit. Gadis itu merasakan sakit yang sangat teramat didadanya karena telah meluruhkan semua harapan pujaanya itu. Bukan sebuah omelan atau ekspresi marah yang diberikan Jonghyun padanya. Pria itu hanya tersenyum tulus menatap orang yang dicintainya.

“Pergilah jika itu sebuah keharusan. Aku tidak akan menahan mu Hyun walau hati ku ingin. Eomma mu pasti sangat membutuhkan mu. Pergilah. Aku akan baik-baik saja disini. Mungkin aku harus lebih bersabar untuk bisa bersama-sama dengan mu nantinya. Bukankah 6 bulan lagi akan kelulusan kita? Setelah lulus nanti, aku pasti akan menyusul mu ke Seoul Hyun. Aku berjanji.” Jihyun menghambur kedalam pelukan hangat Jonghyun. Meluapkan segala keresahan serta kegelisahan yang sedari tadi terus berkecambuk didalam sana. Membuat kedua insan tersebut larut akan harmonisasi cinta mereka yang begitu besar.

***

Jonghyun menatap gusar kelangit-langit kamarnya. Sepertinya ia harus merelakan kekasihnya untuk berpisah jarak yang cukup jauh dengannya. Kembali pria tampan itu mengacak-acak rambutnya kasar. Rasa kantuk tak terasa lagi. Yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah sebuah nama indah milik pujaannya yang selalu ia rindukan.

Matanya mendelik ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia menatap lekat tiap detik pergerakan jam tersebut. Tujuh jam lagi, maka ia akan benar-benar berjauhan dengan gadis yang dicintainya. Jonghyun bangkit dari posisi tidurnya. Ia memantapkan hatinya untuk bertemu dengan gadis itu malam ini juga. Ia tak ingin menyia-nyiakan tujuh jam tersebut dengan termenung dan meratapi kepergian Jihyun. Segera diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja belajar. Ia menghubungi sebuah nomor yang sangat dihafalnya.

Jonghyun menunggu beberapa saat hingga nada tunggu tersebut berubah menjadi sebuah suara yang sedari tadi ingin didengarnya.

“Hyun~a. Apa kau sudah tidur?” tanya Jonghyun sembari memasang jaketnya kemudian berjalan menuju pintu.

“Belum. Kenapa?” tanya Jihyun dengan suara lembutnya.

“Bisa temui aku ditepi dermaga? Aku akan menunggu mu disana.”

“Baiklah, aku bersiap-siap terlebih dahulu.” Setelah mendapat jawaban dari kekasihnya, Jonghyun segera bergegas menuju tempat yang dimaksudnya tadi. Ia tak mau membuang waktu lebih lama dan membiarkan gadis yang dicintainya menunggu.

Jihyun menatap bayanganya di cermin. Memastikan penampilannya telah rapi. Ia kembali mengetarkan sweter rajut berwarna pinknya, kemudian membenarkan posisi topi yang juga berbahan rajut itu di kepalanya. Setelah benar-benar siap, ia segera bergegas pergi menuju dermaga.

Angin malam berhembus kencang, membuat siapa saja yang terkena terpaanya membeku seketika. Untungnya Jihyun mengenakan baju berlapis hingga rasa dingin yang menyerangnya sedikit berkurang. Gadis itu terus saja menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, berusaha mencari kehangatan di tengah cuaca dingin seperti sekarang.

Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di dermaga yang dimaksud Jonghyun karna memang jarak tempuh yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Mata indahnya mulai mencari-cari keberadaan kekasihnya. Ia meniti ke setiap sudut jalan yang tampak sepi. Cahaya redup penerangan dari lampu jalanan membuat gadis itu sedikit kesulitan untuk menemukan prianya.

Jihyun memutuskan untuk menunggu di tepian pagar pembatas. Ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Jonghyun. Terdengar nada tunggu yang cukup lama. Panggilan itu tak di angkat oleh pemiliknya. Jihyun mulai terlihat kesal. Ia menendang-nendang pagar dengan ujung sepatu ketsnya.

Menit telah berganti. Lagi-lagi pria yang dinanti belum juga muncul. Langit malam begitu pekat dengan gumpalan awan tebal yang menyelimuti. Tak satu pun bintang menampakkan cahayanya yang gemerlap. Sunyi. Suara deburan ombak yang menghantam tepian dermagalah yang menjadi iringan musik penghibur bagi gadis itu.

Jihyun mengetuk-ngetukkan jarinya ditepian pagar tanda kesabarannya mulai menipis. Didalam hatinya ia mulai mengomel sendiri mengingat pujaanya selalu tak tepat waktu akhir-akhir ini. Tiba-tiba sebuah tangan hangat memeluknya dari belakang dengan sebuah kantong plastik ditangannya.

Jihyun tahu siapa pemilik tangan tersebut. “Ya! Lee Jonghyun. Mengapa kau selalu datang terlambat? Aku sudah menunggu mu dari tadi,” omel Jihyun.

“Mianhae. Aku pergi membeli kue dulu tadi. Toko-toko sudah banyak yang tutup,” jelas Jonghyun kemudian mengendurkan pelukannya.

“Kue?” gumam Jihyun. Jonghyun hanya memberikan anggukan kemudian menarik tangan gadisnya untuk ikut bersamanya. “Kita mau kemana?” tanya Jihyun heran dengan sikap Jonghyun yang terlalu tiba-tiba dan tak biasa.

“Duduklah,” ucap Jonghyun menyuruh kekasihnya untuk duduk di sebuah bangku tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Jonghyun menggenggam tangan Jihyun yang mulai kedinginan kemudian tersenyum kearah gadis tersebut. “Aku ingin menghabiskan sisa waktu ku bersama mu malam ini. Aku tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja. Enam bulan bukan waktu yang singkat bagi ku, dan dapat ku pastikan aku akan sangat merindukan mu, Hyun. Biarkan malam ini menorehkan kenangan manis untuk kita sebelum kau benar-benar hilang dari pandangan ku.” Ucapan-ucapan yang terlontar begitu saja dari mulut Jonghyun membuat gadis itu menatap tak percaya ke prianya.

Jihyun tak menyangka begitu besar rasa cinta Jonghyun padanya mengingat sikap angkuh pujaanya dulu. Ia tersenyum kemudian merebahkan kepalanya di pundak kokoh milik kekasihnya. Matanya menerawang jauh kedepan membayangkan apa yang akan terjadi setelah pertemuan terakhir mereka. Bayangan Jonghyun yang akan menemuinya nanti dengan senyum yang merekah membuat gadis itu semakin membalas genggama pujaannya semakin erat.

“Aku pasti akan sangat merindukan mu, Jonghyun. Seberap lama kita akan berpisah, ku harap tak akan pernah merubah sedikit pun setiap rasa yang ada didalam hati kita masing-masing. Aku percaya pada mu bahwa akulah satu-satunya gadis yang memiliki hati mu, begitu pula kau yang menjadi satu-satunya pria yang menggenggam erat hati ku,” ucap Jihyun masih dengan posisi sebelumnya. Rasa bahagia karena saling memiliki satu sama lain membuat keduanya mengerti akan arti cinta yang sesungguhnya.

“Yakinlah, bahwa suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Aku berjanji, Hyun. Aku berjanji, kaulah satu-satunya orang yang akan ku temui setelah kelulusan nanti.”

Jihyun tersenyum mendengar ucapan kekasihnya. “Benarkah? Baiklah, akan ku pegang janji mu, Lee Jonghyun.”

“Oh ia, aku lupa. Aku membeli kue ini untuk kita makan bersama.”

“Waa .. Ada strawberry diatasnya.”

“Apa kau suka?”

“Ne, tentu saja …”

“Dimana kau membelinya?”

“Di sebuh toko yang terletak di pusat kota.”

“Mwo?! Pusat kota?! Pantas saja kau datang terlambat.”

Keduanya menikmati malam yang pekat namun mengandung unsur bahagia akibat percikan cinta yang mereka ciptakan. Tanpa ada rasa kantuk sedikit pun, keduanya menghabiskan malam yang singkat. Tawa serta candaan yang mereka lontarkan menjadi bumbu manisnya kenangan mereka malam itu. Rasa rindu serta lara, membaur menjadi satu hingga membulatkan tekat keduanya untuk saling tetap setia. Menunggu waktu yang tepat untuk bertemu kembali di waktu yang berbeda dan tempat yang berbeda. Bahkan mungkin di keadaan yang akan berbeda pula nantinya.

Author P.O.V end

***

 

 

Jihyun P.O.V

Aku menatap diri ku yang sekarang di cermin  dengan balutan jas berwarna biru tua serta rok berwarna abu-abu se atas lutut. Sudah seminggu sejak kepindahan ku ke Seoul. Kini mata ku teralih pada jas berwarna merah terang di sudut sana.

Jas itulah yang selama beberapa bulan yang lalu selalu ku kenakan ketika pergi kesekolah dan kini hanya terpajang dengan rapi tanpa bernyawa sedikit pun.

Ku lirikan mata ku ke arah jam tangan yang melingkar dengan setia di pergelangan tangan kiri ku. Jam telah menunjukkan pukul 06.30 KST. Segera ku raih tas ransel kemudian bergegas menuju mobil yang siap mengantar ku menuju sekolah ternama tersebut. Tak lupa Eomma mengecup keningku sebelum berangkat dan memberikan beberapa pesan nasehat layaknya orang tua pada umumnya.

“Jihyun~a, jangan lupa belajar dengan giat. Ujian akhir sudah didepan mata. Jangan bermalas-malasan. Arraseo?”

“Ne, eomma. Semua nasehat mu selalu ku turuti.”

“Ah ia, satu lagi. Pulang sekolah nanti eomma akan ikut menjemput mu. Kita akan makan siang diluar.”

“Baiklah terserah eomma saja.”

Aku berlari dengan sangat cepat memasuki mobil pribadi yang disiapkan khusus untuk mengantar jemput ku ke mana pun. Udara masih terasa sejuk karena sekarang baru memasuki awal bulan Januari. Nafas ku mengeluarkan kepulan asap hasil proses kerja organ-organ tubuh ku didalam sana.

Mobil ini melaju cepat membelah jalanan Seoul yang tidak terlalu padat. Di kanan kiri jalanan, terlihat beberapa pejalan kaki yang berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat tujuan mereka masing-masing. Ada juga beberapa siswa siswi yang berjalan berdampingan bersama kekasihnya. Mereka saling berpegangan tangan, itu membuat ku teringat akan sosoknya. Sosok yang selalu kupikirkan setiap kali hati ini terus menjerit memanggil namanya.

“Jonghyun~a, Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Aku merindukan mu,” lirih ku sembari tetap fokus menatap keluar jendela. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak ku. Ku raih ponsel yang berada di saku jas dan segera ku panggil nomornya.

“Hyun~a …” panggilnya riang di seberang sana. Suara ribut pun terdengar mengiringi suaranya yang begitu ku rindu.

Aku tersenyum, “Kau sedang apa? Mengapa akhir-akhir ini kau jarang menghubungi ku. Apa kau sibuk?”

“Ne. Aku lebih banyak membantu Appa di kedai. Eomma ku sering sakit-sakitan akhir-akhir ini. Dan Appa sangat kesulitan mengurus kedai tanpa eomma. Aku pun harus menyempatkan belajar untuk mempersiapkan ujian nanti. Bukankah aku ingin menyusul mu kelak dan kita akan melanjutkan ke Universitas yang sama,” terangnya.

“Benarkah? Ku harap ibu mu lekas sembuh,” ucap ku sedikit prihatin dengan kondisi Eomma Jonghyun yang mulai semakin rentan dan menua. “Mm .. baiklah. Aku akan menunggu saat itu. Ku pastikan kita akan masuk ke Universitas yang sama,” lanjut ku yakin.

“Tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya.” Ia berhenti sejenak dan tiba-tiba suara ribut itu terdengar tenang. “Hyun~a, sudah dulu. Miss Jung telah memulai kelasnya. Lain kali aku akan menelpon mu,” lanjut Jonghyun mengakhiri sambungan telpon jarak jauh kami.

Aku menghela nafas panjang setelah panggilan itu berakhir. Bersabarlah Park Jihyun, suatu saat pasti akan bersama-sama lagi dengannya. Segala sesuatunya butuh pengorbanan dan itulah yang akan membuat semuanya indah pada saatnya. Aku percaya semua akan tampak sangat nyata seiring waktu berjalan. Menanti mu disini adalah perkara yang mudah. Tadi untuk menghindari memikirkan mu, sungguh sangat sulit. Otak ku terus saja disesaki hal-hal yang mengingatkan ku akan kenangan manis sepeninggalannya. Ku hela nafas panjang sekali lagi. Terus-terusan mengeluh bukanlah jalan yang terbaik. Aku harus kuat dan tegar untuk menanti hasil yang lebih memuaskan. Hwaiting Park Jihyun!!

***

Waktu pulang terasa sangat panjang bagi ku. Bahkan hari ini tidak ada pelajaran tambahan, namun detik seakan berputar sangat lambat. Mata ku yang terasa berat seketika berubah segar kembali saat bell berdentang menandakan sekolah telah berakhir. Sebuah penantian panjang yang melelahkan.

Ku langkahkan kaki ku sedikit tergesa ketika dari kejauhan ku lihat seorang wanita paruh baya tedang berdiri di tepia mobil. Ia terlihat anggun dengan mantel bulunya. Selera Eomma memang tinggi untuk masalah fashion, tak salah jika ia menjadi pusat perhatian kali ini.

“Eomma,” sapa ku pada wanita cantik itu.

Eomma tersenyum kemudian meraih tangan ku untuk di gandengnya. “Bagaimana sekolah mu, sayang. Apa menyenangkan?” tanya Eomma sembari mengajak ku masuk kedalam mobil.

“Sangat melelahkan. Bahkan bisa dikatakan sangat-sangat membosankan,” jawab ku sembari menekuk wajah.

“Apa kau belum mempunyai teman?” tanya Eomma kini tengah membelai rambut ku sayang. Aku menggeleng sebagai jawaban. Mencari teman disini tak semudah yang ku bayangkan. Bahkan ada beberapa murid yang tak senang dengan kehadiran ku. Mereka terlihat sangat angkuh dan penuh amarah ketika menatap ku. Sungguh pribadi yang tidak bersahabat.

“Jangan khawatir sayang. Kau pasti akan mendapatkan teman jika kau sedikit bersabar,” ucap Eomma masih dengan tangan yang mengelus puncak kepala ku.

“Ya ku harap begitu,” jawab ku singkat.

Mobil mewah milik Eomma ku ini melaju melewati pusat kota. Kami berdua duduk di bangku tengah sembari menikmati lantunan musik klasik kesukaan Eomma. Mendengar iramanya yang mendayu-dayu membuat mata ku semakin terasa berat. Aku terlelap beberapa saat sebelum akhirnya Eomma membangunkan ku dari tidur.

“Ayo sayang, kita turun,” ucap Eomma.

Ku kucek kedua mata ku yang terasa gatal. Kemudian membenahi sebentar tatanan seragam ku yang sedikit berantakan. Ku langkahkan kaki ku mengikuti Eomma dari belakang. Kami memasuki sebuah restoran mewah dengan interior yang elegan disetiap sisinya.

Tepat di tengah-tengah restoran tersebut terdapat lampu kristal yang sangat besar dengan balutan emas pada pusarannya. Lagi-lagi musik klasik itu mengalun. Seakan terhipnotis, mata ku mulai bergerak untuk tertutup kembali. Namun sebisa mungkin aku berusaha untuk tetap terjaga dan terus mengikuti langkah Eomma yang menaiki sebuah tangga menuju lantai dua.

Seorang pelayan menuntun kami menuju sebuah ruangan privat khusus untuk pertemuan-pertemuan khusus. Di dalam ruangan itu terdapat meja panjang dengan dua belas kursi yang mengisinya. Disisi sebelah kiri terdapat lukisan abstrak yang entah siapa penciptanya.

Aku terus saja mengamati kesekeliling. Ini terlalu luar biasa untuk sebuah makan siang untuk ku dan Eomma. Aku segera mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Eomma.

Pelayan itu menyerahkan buku menunya pada kami, kemudian Eomma mulai memesan banyak sekali menu makanan untuk makan siang kali ini. Aku menyernyit heran dengan semua tindakan Eomma yang terlihat sedikit berlebihan. Mulai dari restoran mewah ini, kemudian ruangan privat yang khusus dipesan Eomma setelah itu menu-menu masakan khas Itala berbagai jenis dipesan olehnya.

“Eomma serius ingin menghabiskan semua makanan yang Eomma pesan?” bisik ku di telinga wanita paruh baya yang masih sibuk dengan menu-menunya.

“Tentu saja, sayang,” ucapnya membuat ku semakin terheran-heran. Apa seseorang yang menderita leukimia akan memiliki nafsu makan yang meningkat seperti itu? Banyak pertanyaan yang bermunculan memenuhi benak ku.

Aku berusaha untuk tidak memperdulikan semua itu dan lebih memilih menyibukkan diri dengan ponsel kesayangan ku. Senyum ku reka ketika membaca pesan singkat dari sang pujaan ku. “Kau pasti sedang makan siang bukan,” ujarnya melalui pesan singkat itu dengan percaya dirinya. “Makanlah yang banyak. Kau terlihat sangat kurus,” baca ku dalam hati dan sukses membuat wajah ku bertekuk.

Segera ku replay pesan tersebut dan mulai mengetik beberapa kata untuk membalasnya, “Tahu dari mana kalau aku sedang makan siang?” Aku berhenti sebentar dan memikirkan kata-kata apa lagi yang akan ku tambahkan. “Aku tidak sekurus yang kau kira, Lee Jonghyun. Tubuh ku terlihat proporsional,” lanjutku lagi dengan PD-nya.

Aku tersenyum setelah mengirim pesan tadi dan kembali menunggu beberapa saat. Mata ku mendelik ke arah Eomma yang sedang bertelpon ria dengan seseorang di seberang sana. Aku tidak tahu siapa yang sedang dihubungi Eomma, tapi ia terlihat sangat berbinar ketika menanggapi semua ocehan seseorang didalam sambungan tersebut.

Kembali aku menyibukkan diri dengan ponsel ku dan ternyata kekasih ku tercinta telah membalasnya. “Aku mengawasimu dari sini Park Jihyun. Haha. Jadi kau tidak dapat macam-macam disana,” ungkapnya. Aku tersenyum kecil kemudian melanjutkan membaca pesan singkat itu. “Aku bercanda. Aku sedang makan siang sekarang dan ku pikir kau juga sedang makan siang. Bukankah sekarang sudah waktunya?” Aku mengangguk menanggapi pesan tersebut kemudian membalas dengan cepat. “Hahaha. Ku pikir kau menempelkan kamera pengintai untuk mengawasiku kemana pun. Tapi kau benar, aku memang sedang makan siang bersama Eomma. Hubungan yang harmonis bukan? Seperti inilah yang ku inginkan dulu dan baru terwujud sekarang.” Ku tekan tanda send dan pesan itu pun terkirim.

Tak berapa lama ponsel ku bergetar dan ia kembali membalas, “Aku percaya pada mu melebihi apa pun. Aku mencintai mu Hyun. Baguslah jika hubungan mu membaik. Aku turut senang. Baiklah, selamat makan Hyun. Jaga kesehatan mu selalu. Dan jangan lupakan aku sedetik pun.” Aku tersenyum ketika membaca baris terakhir pesannya. Tanpa menunggu lebih lama segera kubalas pesannya, “Aku juga mempercayaimu Mr. Lee. Baiklah selamat makan. Aku tidak akan pernah melupakan mu walau sedetik.” Aku berhenti sebentar kemudian mengubah format penulisannya dengan huruf kapital, “AKU JUGA MENCINTAI MU.” Sedetik kemudian pesan itu terlah terkirim kepada yang ku cinta.

Aku tersenyum senang lalu memasukkan kembali ponsel ku kedalam saku jas. Pandangan ku beralih pada meja yang belum terisi apa pun. Lama sekali, batin ku. Tiba-tiba seseorang mengetuk dari pintu dari luar ruang privat ini. Ah, pesanannya sudah datang, batin ku.

Mata ku menatap heran ketika seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu tersebut. Eomma menghambur menyambut wanita yang ku kira-kira sebaya dengan Eomma. Ia mengenakan setelan pakaian dingin yang sangat mewah. Mungkin teman Eomma batin ku. Dan tak berapa lama muncul seorang pria dari pintu itu lagi. Siapa ia? tanya ku dalam hati.

Keduanya sedang tertawa lepas sembari berpelukan hangat dan pria yang baru masuk tadi tengah menatap ku dengan mata sipitnya. Ia tersenyum ramah kemudian sedikit membungkukkan kepalanya. Aku pun membalas dengan hal yang serupa.

Penasaran dengan kedua orang asing tersebut, segera ku tarik mantel bulu Eomma saat ia telah duduk di samping ku. “Mereka siapa?” tanya ku penuh selidik dan terus menatap wanita paruh baya yang ada di seberang posisi ku. Ia terlihat mengamati ku kemudian tersenyum ramah.

“Ah perkenalkan dia adalah putriku.” Aku langsung bangkit dari duduk ketika Eomma mengenalkan ku dengan temannya kemudian membungkuk hormat sembari memperkenalkan diri, “Annyeonghaseo, Park Jihyun imnida.” Wanita itu tersenyum kemudian menundukkan sedikit kepalanya menanggapi perkenalan ku tadi, “Min Yong Ri imnida,” ucapnya lembut.

“Jihyun~a, Ny. Min ini adalah istri dari rekan bisnis Appa mu,” jelas Eomma. Aku hanya mengangguk saja memberikan respon. Kini mata ku beralih pada pria yang berada di sebelah Ny. Min tadi. Seolah mengerti dengan rasa penasaran ku, Ny. Min pun bersuara untuk mengenalkan pria bermata sipit itu.

“Dan ini adalah putra ku,” ucap Ny. Min sembari menepuk punggung putranya. Pria itu melemparkan senyum manisnya pada ku. Aku sedikit terpana menatap senyumnya yang menenangkan, namun sedetik kemudian wajah Jonghyun berkelebat dibenak ku. Segera ku tepis jauh-jauh rasa kagum ku. Ingatlah Park Jihyun, hanya Jonghyun satu-satunya pria yang mampu membuat mu tergila-gila.

“Kang Minhyuk imnida. Senang bisa berkenalan dengan mu, Jihyun,” ucap pria itu membuat ku tersadar dari pikiran ku. Aku hanya melemparkan senyum padanya. Kemudian menatap Eomma yang juga sedari tadi tersenyum bahagia. Aku tak mengerti maksud dari pertemuan makan siang ini dan aku pun tak mau mengambil pusing tentang hal itu.

“Ku harap kalian bisa berteman dengan baik kelak. Jihyun sangat kesepian di sekolah barunya. Ia tidak memiliki teman,” ujar Eomma terang-terangan membuat mata ku membulat sempurna. Ku tarik mantel Eomma sedikit keras agar ia menghentikan bicaranya.

“Tentu saja aku akan menjadi teman yang baik untuknya. Mulai besok aku akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Jihyun. Jadi anda tidak perlu khawatir Ny. Park,”

“Mwo?! Di sekolah yang sama?!” ucap ku terkejut. Kembali pria bernama Minhyuk itu memamerkan deretan gigi kecilnya yang rapi. Ia tersenyum menanggapi rasa keterkejutan ku.

“Tentu saja kalian harus selalu bersama-sama. Bahkan kami sudah merencanakan pertunangan kalian,” tambah Ny. Min semakin membuat mata ku ingin keluar dari tempatnya.

“Mwo?!! Pertunangan …..”

To Be Continue …

DON’T FORGET LEAVE ME A COMMENT

14 thoughts on “I’m in Love [Part 7]

  1. aq tersentuh bgtz sma kata2 jonghyun yg ngerelain jihyun pergi. . .*so sweet
    lanjutannya jng lama ya thor. .aq semakin penasaran…
    :-))

  2. Jangan tinggalin Jonghyun, Jihyun~a >.<
    Kasian Jonghyunnya, nanti diambil balik sama Hyeri
    Author, jgn kelamaan ya ngelanjutin ceritanya..
    suka banget banget deh b^^d kereen~!

  3. Waduh…
    Jihyun d’jodohkan ma Hyukkie?
    Nasibnya Jonghyun gimana dun?

    Aish, udh long distance…
    Sekarang, dtg cobaan lain lagi?

    Thor, lanjuut!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s