ANGAN~

Author : Rana

Rating :  G

Length : oneshot

Genre  : romance, family, entahlah-___-

Casts   :

  • Park Min Ah (Ocs)
  • Kang Min Hyuk
  •  Ibu Min Ah (Ocs)
  •  Nenek Min Ah (Ocs)

Disclaimer : semua mua hasil curahan pikiran ku J

Note  : fanfic ini terinspirasi dari pengalaman orang, ah tapi aku lupa siapa orangnya —

Ini post aku yang pertama, mohon dimaklumi. Masih pemula jeng~

Terima kasih bagi yang mau baca, mohon maaf atas segala-gala salah.

jangan lupa komen yakJ

 

 
Pagi indah yang hanya bisa didapat pada hari tertentu~

Min-Ah tak pernah bisa melupakan angan itu, sudah beberapa bulan ini hanya hal itu yang selalu terpikirkan dibenaknya, padahal orang itupun juga belum tentu ikut memikirkan hal itu.

berawal saat libur musim dingin, disaat semua orang sedang menikmati libur dan mempersiapkan apa-apa yang dibutuhkan di awal tahun.

—hari itu sangat dingin—

maa, aku harus memakai yang mana?” teriak Min-Ah dari sudut kamarnya

“terserah kau saja, yang nyaman bagi kau itulah yang kau pilih” teriak balik ibu Min-Ah dari dapur

mereka akan pergi berkunjung ke rumah nenek Min-Ah  yang ada di ujung pulau ini. di rumah neneknya sekarang ada acara semacam pertemuan untuk menghormati arwah leluhur disana. nenek Min-Ah hanya tinggal sendiri diantara pekuburan leluhur-leluhurnya, di suku Min-Ah memang seperti itu tradisinya, kelak Min-Ah juga akan seperti neneknya

—saat diperjalanan—

oemaa, apakah acaranya sampai malam? apakah kita menginap disana?” pertanyaan Min-Ah menganggu Ibunya yang sedang mengendarai mobil sport peninggalan Ayahnya.

“kemungkinan iya, kita kan salah satu keluarga dekat dari nenekmu” jawab Ibu Min-Ah

“ah aku tidak mau maa, disana tidak ada yang menarik, lagian aku harus mengerjakan tugas kantorku yang tertunda, tugas itu sudah banyak bertumpuk dirumah maa” bantah Min-Ah sambil menarik-narik syalnya.

Min-Ah memang tidak suka berkunjung kerumah neneknya, entah mengapa berkunjung kerumah neneknya membuat hatinya sedih karena disanalah Ayahnya dulu tumbuh besar. Min-Ah tidak suka liburan, ia lebih sering mengisi hari-harinya dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta terbesar dinegaranya. karena hanya dengan hal itu, ia dapat berangsur melupakan dua kenangannya yang sampai sekarang masih berbekas dibenaknya.

“kau harus mau, karena kalau misalnya kemalaman, kita tidak bisa pulang, kau tau sendiri kan?. kalau kita tetap jalan, itu akan sangat membahayakan untuk kita. kau mengerti Min-Ah?” sergah Ibu Min-Ah

—sesampainya di Kampung tempat neneknya berada—

“selamat pagi oemma” sapa Ibu Min-Ah ketika memasuki rumah

“akhirnya kau datang juga, aku telah menunggumu semalaman” sapa balik dari nenek Min-Ah

“ya, saya lihat persiapannya sudah matang, siapa yang menyiapakan semua ini?”

“tetangga sekitar sangat antusias dengan acara ini, jadi mereka sangat bersedia untuk membantuku”

—sementara itu Min-Ah—

“haaah, bosan sekali. tempat ini sangat terpencil, tapi masih asri. itulah kelebihannya. susana didalam sangat pengap, sesak oleh barang-barang aneh. aku tidak terlalu percaya dengan hal-hal seperti ini, walaupun ini kepercayaan leluhurku, whoooaaam” gerutu Min-Ah sendiri, beranjak ke tepi pantai belakang rumah neneknya, ia biasanya bermain disini dulu.

“kau tidak harus mengikuti apa yang leluhurmu ikuti” suara samar terdengar dari belakang Min-Ah

MinAh pun berbalik badan, ia sepertinya sangat mengenal suara ini. dan ternyata Min-Hyuk, berdiri  semampai ditampar angin dengan memegang kamera DSLRnya.

“Kang Min-Hyuk?” Min-Ah  terkaget

Min-Hyuk adalah orang yang ada dalam kenangan Min-Hyuk itu, Min-Ah benar-benar tidak bisa melupakannya. sudah lama dia ingin berbicara empat mata dengan Min-Hyuk.

Dulu, sewaktu mereka masih duduk di sekolah menengah, Min-Ah bukanlah sosok yang terkenal, bahakan bisa dikatakan cewek cupu disekolahnya. sedangkan Min-Hyuk sangat sukses menjadi orang terpopuler disekolah,  ia merupakan cowok idaman disekolah mereka dulu.
Sampai suatu hari, datang sebuah pesan di ponsel Min-Ah, ternyata orang itu adalah Min-Hyuk, ia sangat kaget. darimana dia mendapatkan nomor ponsel Min-Ah, padahal ia bukan orang yang terkenal, sama sekali. mereka pun asik berkomunikasi ria, sampai suatu malam, Min-Ah ingin mencari tau tentang Min-Hyuk sebanyakmungkin, karena ia merasa telah ketergantungan dengan Min-Hyuk (baca:suka). Maklum saja, saat itu mereka masih berada disekolah menengah, saat-saat dimana semua remaja itu labil.

Tiba-tiba ia menemukan sesuatu yang menyatakan bahwa Min-Hyuk sedang berpacaran dengan seseorang. saat itu juga, Min-Ah kaku mematung termenung.
Keesokan harinya, Min-Ah tidak membalas pesan dari Min-Hyuk, sampai seterusnya.

dan sekarang ia bertemu dengan orang itu secara langsung, disini.

‘apa yang harus kukatakan?’ tanya Min-Ah dalam hati.

“ah kau ternyata” akhirnya keluarlah suara Min-Ah

“aku kaget kau ada disini, kukira kau gadis yang ingin bunuh diri tadinya karena tidak suka berada disamping neneknya” ternyata Min-Hyuk juga kaget. karena mereka hanya berdua disana, jadi mau tak mau Min-Hyuk harus berbicara dengan Min-Ah, dia tidak bisa salah orang kalau begitu.

Dulu, ketika disekolah, Min-Hyuk tidak pernah menyapa Min-Ah dan sebaliknya, mereka hanya bisa bermain mata, menandakan mereka pernah kenal dulu. Min-Ah sangat bingung, kenapa dia hanya melihat, tidak bicara sedikitpun setelah kejadian itu. Memang, itu adalah hal sepele yang mungkin Min-Hyuk sudah lupa. Tapi hal itu sangat berarti bagi Min-Ah, karena Min-Hyuk adalah cinta pertamanya. Cinta pertama!

“aku sangat menanti suara kau, bukan berarti aku mengidolakan kau” sanggah Min-Ah tanpa menatap Min-Hyuk. Angin masih saja menampar mereka.

“aku juga, aku memang pengecut. aku sangat tau itu” jawab Min-Hyuk

“aku tidak akan menghantuimu, aku hanya ingin bertanya itupun hanya 2 pertanyaan”

“aku tidak merasa dihantui, malah aku merasa aku menganggumu selama ini, iyakan?”

“ehem,langsung saja ke pertanyaan, bisa?”

“tentu, apa itu?”

“pertanyaan pertama, darimana kau mendapatkan nomor ponselku?”

“aku mencari semua tentangmu sendiri”

“oh, yang kedua, apa alasan kau menghubungiku, bukankah aku hanya orang terendam disekolah dulu, tenggelam diantara lautan siswa?”

“karena aku menyukaimu, sampai sekarang” terang Min-Hyuk

“ha?”

“kau seharusnya sudah harus peka dari dulu, mengapa aku menyukai orang sepertimu,huh??”

“kalau begitu, kenapa tidak dari dulu kau bilang padaku?” air mata Min-Ah mulai membuncah dari matanya, ketika keluar sayangnya air mata itu tidak mengalir diatas pipinya, melainkan terbang dibawa angin.

“sudah aku bilang, dulu aku sangat pengecut , aku tidak berani mengatakan hal ini, tapi sekarang tidak”

“aku masih belum percaya kau menyukaiku” sanggah Min-Ah

“apa kau perlu bukti? Huh?” sekarang Min-Hyuk menatap Min-Ah tajam, sangat tajam.

 

“tentu” Min-Ah tidak berani menatap mata Min-Hyuk, dia hanya bisa menunduk.

“baiklah, kalau itu maumu. Aku akan berendam di sana” pernyataan Min-Hyuk membuat Min-Ah kaget. Kenapa bisa begini?. Min-Hyuk menunjuk lautan.

 

“ah kalau begitu silahkan” lain dimulut lain dihati, sebenarnya Min-Ah tidak tega. Tapi ia tidak mau ditipu.

 

“benarkah?” pernyataan Min-Ah membuat Min-Hyuk gelagapan. Ia menyangka Min-Ah akan mencegahnya, tapi tidak. Perempuan ini memang berbeda, batin Min-Hyuk.

 

Di cuaca yang super dingin ini, seorang Kang Min-Hyuk tanpa membuka bajunya, langsung terjun ke air laut, sangat asin tentunya. Tapi Min-Hyuk rela, demi cinta yang sudah lama dinantinya. Namun, belum lama Min-Hyuk berendam, Min-Ah berlari menuju Min-Hyuk.

 

“hei pabo! Apa yang kau lakukan?” teriak Min-Ah sambil berlari mengejar Min-Hyuk.

 

“Min-Ah..” Min-Hyuk kaget melihat Min-Ah berlari mengejarnya, padahal air ini sangat asin.

 

Sambil menangis Min-Ah segera memeluk Min-Hyuk. Mereka berpelukan ditengah laut.

 

“kau? Pabo” Min-Ah melepaskan pelukannya dan memukul sayang kepala Min-Hyuk.

 

“demimu” jawab Min-Hyuk menggigil, jelas sekali dia sangat kedinginan.

 

“ayo, lama-lama kau disini, kau bisa mati~” Min-Ah segera menuntun Min-Hyuk yang kaku kedinginan menuju pantai.

 

—Sesampainya dipantai—

 

“jangan kau lakukan hal seperti tadi, aku takut” Min-Ah menatap Min-Hyuk, air mata tak kuasa ditahannya.

 

“hanya ini yang bisa kubuktikan” Min-Hyuk masih memeluk badannya sendiri karena dingin.

 

“bodoh, kalau kau mati bagaimana? Huh?” Min-Ah memukul lengan Min-Hyuk.

 

“tak apa, tak masalah bagiku” jawab Min-Hyuk tenang

 

“huwaaaaaaaaaa” tangisan Min-Ah pecah dan ia berusaha mencari bahu Min-Hyuk diantara tatapannya yang berembun karena air mata.

 

Min-Hyuk memeluk erat Min-ah seakan tidak mau kehilangan lagi.

“ayo kita pulang, disini dingin” sergah Min-Hyuk

 

“Pulang? Memangnya kau tinggal disini?” tanya Min-Ah heran

 

“ayoo” Min-Hyuk segera menarik tangan Min-Ah

 

“tunggu dulu, aku masih ada pertanyaan lagi untuk kau” Min-Ah berusaha menahan tangan Min-Hyuk yang sedari tadi selalu menggenggam erat tangan  Min-Ah

 

“kau bila tadi pertanyaannya hanya dua, kenapa nambah? “ Min-hyuk membalikkan badan.

 

“bawel! Kenapakau bisa ada disini, bukannya kau berkerja di New York?” tanya Min-Ah

 

“aku pulang, mengejarmu. Aku akan bekerja Seoul, karena kau juga beerja disana” jawab Min-Hyuk dengan eye smile nya.

 

“ya tapi maksudku kenapa kau disini? Di kampung ini. Apa kau sangat tertarik dengan tradisi ini? kalau aku sangat benci”

“ini karena ada sesuatu yang akan kukerjakan, sesuatu yang menyangkut masa depan hidupku” Jawab Min-Hyuk tulus. Membuat Min-Ah lumer.

Min-Ah tidak mengerti apa yang diakatakan oleh Min-Hyuk, ia merasa ada sesuatu yang janggal disini. Beribu-ribu pertanyaan nancep di benak Min-Ah. Ini membuatku sangat penasaran, seperti film-film detektif ah bukan, tapi sinetron.

Tiba-tiba, Min-Hyuk menjentikkan jarinya.

“kau mau apa?” tanya Min-Ah

“kau lihat saja”  jawab Min-Hyuk

saat itu, keluarlah seluruh keluarga besar Min-Ah dan Min-Hyuk sambil membawa peralatan, tapi peralatan apa itu?

“apa yang kalian bawa itu? mengapa kalian ada disini? lalu jentikkan jari kau?” Min-Ah masih bingung

“ini benda-benda yang digunakan di suku kita apabila ada seorang laki-laki yang melamar seorang perempuan” suara Ibu Min-Ah keluar

“siapa yang dilamar siapa? aku tidak mengerti” jelas saja Min-Ah masih sangat bingung

Min-Hyuk langsung mengambil posisi berlutut. # waw

“Park Min-Ah, saranghae!” pernyataan Min-Hyuk membuat mata Min-Ah terbelalak.

———————————————— THE END ————————————————–

 

9 thoughts on “ANGAN~

  1. omona so sweet bgd thor…
    mw deh dilamar kayak gitu sma minhyuk…
    aduh itu min-ah beruntung bgd…
    nice ff author…
    ayo bikin lgi thor…🙂

  2. huwoooo Daebak tor!! sumpah,keren abis!😀 sangat-sangat-sangat romantis ceritanya♥ mau dong di gituin MinHyuk .-. #plak

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s