[LombaFF] CIRCLE OF LOVE

Rating : PG-15

 

Genre : Romance, AU

 

Cast : – Kang Minhyuk as Lee Minhyuk–  Shin Minji – Lee Jonghyun as Lee Jonghyun

 

Other cast : – Kim Nara

 

 

NOTE : Nama asli minhyuk sedikit saya ubah karena disini dia berperan sebagai saudara kandungnya jonghyun. ^^  Umurnya juga aku ubah, Minhyuk yg lebih tua dr Jonghyun karena kelihatannya mmg lebih cocok #soktau ._.v Mohon maaf yang sebesar besarnya #sebesar gajah klo bsa# atas FF saya yg kacaunya minta ampun ini karena masih berani saya kirimkan utk mengikuti lomba. Maaf klo msh ada typo dikit dikit😀 Maaf juga klo judul ga nyambung sama ceritanya -_- Happy reading..😀

 

 

#author pov#

 

 

“Aku ingin bergabung dengan anggota OSIS lainnya. Aku akan berusaha semaksimal mungkin.” Minji berdiri didepan meja ketua OSIS sambil takut takut menatap ke arah orang yang sedang berdiri di hadapannya. Kang Minhyuk si ketua OSIS di Seoul Art High School (?) yang dikenal sebagai namja yang pendiam, namun tegas dalam hal yang berhubungan dengan program OSIS, apapun itu. Termasuk dalam pemilihan anggota baru, ini adalah tugas utamanya. Karisma nya yang membuat satu sekolahan memilihnya menjadi seorang ketua OSIS. Tidak diragukan lagi, minhyuk juga selalu memegang juara pertama di kelas nya, hampir setiap semester dia dinobatkan sebagai siswa teladan di sekolahnya, memiliki paras yang tampan, ramah kepada setiap orang yang dia jumpai, ya, benar benar sempurna. Tetapi di balik semua itu, ada 1 hal yang masih tidak dapat dimilikinya dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui hal itu.

 

“Tetapi orang bodoh tidak dapat bergabung dalam club OSIS, tau sendiri kan? Tugas anggota OSIS cukup berat. Aku tau kalau kau selalu mendapat nilai yang paling buruk di kelas mu, jadi sebaiknya kau pergi saja” Minhyuk yang tadinya berdiri di hadapan Minji sambil melipat kedua tangannya kini beralih membelakanginya sambil membongkar beberapa berkas yang harus di urusnya dalam waktu 1 minggu kedepan.

 

“Aku, engh.. aku akan berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik! Aku janji, tapi tolong terima aku. Jebal!!” Minji terus memaksa untuk bergabung dengan club OSIS, biar bagaimana pun, itu adalah satu satunya cara yang dapat dia lakukan agar dikenal oleh seluruh siswa. Walaupun sebenarnya tujuan utama Minji adalah agar bisa selalu bersama dengan Minhyuk.

 

“Tidak, tidak usah repot repot” Minhyuk tetap membelakangi Minji tanpa menghiraukannya dan semakin sibuk dengan urusannya sendiri.

 

“Jadi? Aku diterima tanpa harus mendapatkan nilai terbaik? Ah.. gamsahamnida Minhyuk-ssi, aku tau kau pasti akan mengizinkan aku untuk bergabung. Gamsahamnida!” Minji menunduk hingga 90 derajat beberapa kali kearah minhyuk.

 

“Kata siapa?” Minhyuk berbalik dan menatap Minji dengan datar. Seakan akan matanya ingin menyampaikan bahwa –kau-adalah-orang-terbodoh-yang-pernah-kutemui.

 

“Eh, tapi tadi kan.. kau sendiri yang mengatakan kalau aku tidak perlu––”

 

“Aku bilang kau tidak perlu repot repot, karena biar bagaimana pun gadis bodoh tidak mungkin di terima disini.” Minhyuk memutar kedua bola matanya sambil menghela nafas panjang kemudian kembali merapikan berkas berkas yang ada dihadapannya. Mendengar ucapan Minhyuk yang sekasar itu, Minji benar benar merasa sakit hati dan matanya mulai berkaca kaca. Namun niat nya untuk menangis seketika tertahan ketika ia mengingat bahwa tujuan utamanya adalah untuk mendekati Minhyuk, OSIS sama sekali tidak penting untuknya. Pasti ada cara lain.

 

“Baik, aku pergi” Minji langsung berbalik dan cepat cepat pergi meninggalkan ruang OSIS. Minji menghentak hentakkan kaki nya karena kesal atas usaha yang dilakukannya selalu saja gagal seperti ini. Ini sudah setengah jam dari waktu pulang sekolah. Minji merasa sangat menyesal karena telah menghabiskan  setengah jam dari hidupnya  hanya untuk melakukan hal yang dia sudah tahu pasti hasilnya akan nihil. Semua waktu Minji tersita hanya gara gara ingin membujuk Minhyuk dan mengizinkannya untuk bergabung di club OSIS, tetapi sama sekali tidak berhasil.

 

“Eh, dia pergi? Benar benar pergi?” Minhyuk tidak percaya bahwa seorang yeoja yang keras kepala seperti Minji begitu mudah sekali menyerah hanya dengan 1 kali gertakan. Ketika minhyuk berbalik, Minji sudah tidak ada di tempatnya semula ketika ia bediri di belakang Minhyuk. Karena Minhyuk penasaran, ia sedikit berlari kearah pintu sambil mengintip apakah Minji sudah benar benar pergi atau tidak.

 

Ternyata benar. Minji sudah terlihat cukup jauh dari tempat Minhyuk berdiri. Minhyuk yang tadinya hanya menyembulkan kepala sedikit untuk memastikan keberadaan Minji, sudah tidak takut takut lagi dan sedikit berjalan keluar dari kantor OSIS. Minhyuk bersandar di pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Minhyuk terus menatap kearah punggung Minji yang semakin lama semakin tidak terlihat lagi.

 

“Dasar pabo. Baru di cobai sedikit saja, sudah langsung menyerah seperti ini. ckck” Minhyuk menggelengkan kepalanya sambil tersenyum senang. Dia tahu persis yeoja seperti apa Minji itu, dia pasti akan kembali lagi besok dan memohon kembali untuk bergabung.

 

“Minhyuk? Sedang apa berdiri sendiri disitu? Apa masih ada tugas kita yang belum selesai ya? Aku kan sudah memintamu untuk pulang duluan, aku dan Jonghyun yang akan mengerjakannya nanti”  Nara yang baru saja kembali dari toilet melihat minhyuk sedang berdiri di depan pintu ruang OSIS sambil senyum senyum sendiri, Nara langsung menghampirinya karena penasaran.

 

“Nara? Eum.. aniyo. Tidak ada apa apa. Ini aku mau pulang kok, tugasnya di lanjutkan besok saja. Kita akan adakan rapat untuk mengumpulkan dana. Tidak usah terlalu dipikirkan, ini tugas ku.” Minhyuk menepuk pundak kanan Nara, yang berhasil membuat Nara kaget dan menoleh ke arah tangan Minhyuk yang masih berada di pundaknya. Minhyuk merasa hal itu wajar wajar saja, tetapi tidak bagi Nara. Nara sudah menyukai Minhyuk sejak kelas 1 SMA, namun Minhyuk sepertinya tidak pernah menyadari hal itu. Nara menganggap bahwa setiap perlakuan Minhyuk yang lembut terhadapnya hanyalah karena 1 alasan, Minhyuk juga menyukainya. Tetapi itu salah besar. Kenyataan nya sama sekali tidak sama dengan apa yang ia harapkan. Minhyuk kembali memasuki Ruang Osis sambil mengemasi barang barang nya.

 

“Nara? Kenapa kau melamun? Mau pulang bersama ku tidak?  Ini sudah sore, kendaraan umum pasti sulit untuk di temukan.  Aku akan mengantar mu, kajja” Tanpa basa basi lagi, Minhyuk langsung menarik tangan Nara dan mengantarkannya pulang. Ini bukan pertama kalinya, melainkan sudah kesekian kali.

 

“Pegangan yang erat” Minhyuk menarik tangan Nara hingga membuat tubuhnya sedikit maju kedepan untuk memeluk Minhyuk. Bisa dirasakannya bahwa jantungnya sedang berdebar debar kencang saat ini. Nara secepat mungkin menarik kembali tubuhnya menjauhi Minhyuk, takut kalau nanti Minhyuk akan merasakan detak jantungnya yang begitu keras.

 

“Yah, Minhyuk–ssi! Tidak perlu seperti itu, aku bukan anak kecil” Nara memukul pelan punggung Minhyuk karena tubuhnya hampir terjatuh ketika Minhyuk menarik tutuhnya untuk mendekat.

 

“Hahaha.. mianhae Nara. Ya sudah, kita berangkat sekarang ya?” Minhyuk memakai helm merah yang selalu ia bawa sambil menyalakan mesin motornya.

 

“Ne, ayo pulang sekarang”

Minhyuk kembali mengencangkan pegangan dan mulai melajukan motornya.

 

 

 

 

*     *      *

 

 

“Annyeonghaseyo, aku pulang” Minji berjalan lemas memasuki rumahnya yang tampaknya sepi tanpa satu orang pun penghuni di dalamnya.

 

“Umma? Appa? Dimana kalian?” Minji meletakkan tas ranselnya di ruang tamu kemudian berjalan ke dapur untuk mencari sosok kedua orantuanya. Tetapi mereka sama sekali tidak ada. Minji melihat ada sebuah catatan kecil berwarna biru yang di tempelkan di depan lemari es di dapur.

 

“Ini pasti umma”. Minji memutarkan kedua bola matanya karena dia sudah dapat menebak apa isinya dan menganggap hal ini adalah hal yang biasa. Minji mencabut kertas itu lalu membacanya. Hanya beberapa saat setelah itu, kertas yang dipegangnya langsung diremuk di lemparkannya ke tempat sampah.

 

“Selalu saja karena pekerjaan. Aku muak”. Tidak terlalu memikirkan hal itu, Minji pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke pasar malam yang terkenal di seoul. Salah satu pasar di korea yang setiap malam minggunya selalu ramai oleh para pengunjung. Walaupun kebanyakan pengunjungnya adalah orang yang sudah mempunyai pasangan, namun sama sekali tidak ada larangan untuk yeoja seperti Minji datang ke tempat itu.

 

~

 

22.00

 

 

Minji berdiri didepan salah satu toko kue yang sudah tutup hanya saja lampunya masih menyala. Ini sudah cukup malam namun Minji tidak bisa pulang ke rumah karena terjebak hujan yang cukup lebat. Pasar malam itu sudah mulai sepi oleh para pengunjung. Lampu lampu di beberapa tenda dan toko kecil sudah mulai di matikan. Para pengujung yang sebagian besar juga terkena hujan berlari secepat mungkin untuk mencari tempat berteduh.

 

Minji mengeratkan kancing jacketnya dan memasangkan penutup kepala karena angin yang menerpa kulit nya terasa semakin dingin. Minji berkali kali mengusapkan kedua telapak tangannya ke bagian pipi, punggung tangan dan lengannya secara bergantian karena tubuhnya terasa semakin lama semakin menggigil dan tidak tahan dengan cuaca dingin. Sejak kecil Minji memang sudah seperti ini.

Yang tidak diduga duga adalah, hujan yang sangat deras seperti ini bisa turun secara tiba tiba ketika dia tidak membawa payungnya. Minji menghentakkan kakinya kesal karena sudah hampir setengah jam hujan yang sejak tadi ditunggunya tidak juga reda.

 

Tiba tiba Minji melihat seorang namja yang berdiri di tengah hujan sambil membawa sebuah payung mendekat ke arahnya.

 

GREPP

 

“Ayo, akan aku antar kau pulang”

 

Namja itu menarik pundak Minji ke bawah payung yang sedang di pegangnya dan memeluk tubuh dingin Minji dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan nya tetap mengarahkan payung ke atas kepala Minji agar dia tidak terkena hujan.

Minji yang kaget melihat hal itu langsung cepat cepat melepaskan tangan namja yang memegang pundaknya lalu mundur beberapa langkah hingga rambut panjangnya yang terurai sedikit basah karena terkena air hujan.

 

“Jonghyun? Apa yang kau lakukan?” Minji menatap Jonghyun dengan tatapan bingung dan tidak mengerti bagaimana orang seperti Jonghyun bisa berada di tempat tempat seperti itu. Seorang kapten basket sekaligus anggota OSIS yang terkenal dengan sifatnya yang dingin, memiliki fans yang cukup banyak di sekolah —ya, wanita yang menyatakan cinta padanya tidak hanya berjumlah satu atau dua orang saja, melainkan lebih— dan Jonghyun yang Minji kenal bukanlah Jonghyun yang seperti sekarang ini. Selalu bersikap dingin terhadap wanita dan tidak begitu memperdulikan kehidupan orang lain yang tidak begitu dekat dengannya. Begitu juga dengan Minji yang tidak terlalu dekat dengannya, cantik sama sekali tidak, pintar juga tidak, lalu kenapa malah berbaik hati mau menolongnya?

 

“Nanti saja penjelasannya, Kajja! Akan aku antar kau pulang. Ini sudah malam dan biar bagaimana pun seorang wanita tidak diperbolehkan untuk berada di luar sendirian” Jonghyun kembali menarik tangan Minji yang secepat mungkin langsung di tepis oleh Minji karena ia merasa tidak nyaman dengan sikap Jonghyun yang sangat sangat berbeda dari yang biasanya.

 

“Aku bisa sendiri, tidak perlu menarik ku seperti itu” Minji menatap sinis kearah kedua manik mata Jonghyun dan menyiratkan pesan –jangan-harap-bisa-mempengaruhiku-dengan-kebohongan-sesaat-mu-itu. Minji masih tidak percaya atas sikap Jonghyun terhadapnya. Takut kalau kalau jonghyun punya maksud lain, atau mungkin dia ingin mencelakai Minji, atau mungkin kakak laki lakinya yang tidak punya perasaan itu yang menyuruh nya untuk mencelakai Minji. Otak Minji terus berputar dan memikir-mikirkan hal apa yang akan terjadi setelah ini dan bagaimana caranya nanti untuk kabur apabila Jonghyun benar benar ingin mencelakai Minji. Memang ini sedikit berlebihan, tetapi untuk menjaga diri sepertinya tidak ada salahnya.

 

“Mianhae kalau aku lancang. Ya sudah, mobil ku ada di sebelah sana.” Jonghyun mengarahkan telunjuknya kearah sebuah mobil berwarna hitam pekat yang parkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

 

Minji hanya mengangguk pelan sambil mengiyakan ajakan Jonghyun lalu masuk ke dalam mobilnya. Didalam mobil Jonghyun dan Minji hanya saling membisu dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya Minji mengalah dan memulai percakapan.

 

“ Mau mengantarkan ku pulang atau tidak? Kenapa diam saja?”

 

“Oh. Ah-a-iya mianhae aku lupa. Hehe” Jonghyun menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, melainkan karena dia malu. Ia bahkan sampai lupa untuk menyalakan mesin mobilnya.

 

“ Kenapa di sekolah kau selalu bersikap dingin? Yang sedang ada bersama ku ini sebenarnya siapa? Atau jangan jangan kau sedang di masuki oleh malaikat ya?” Minji menyenggol siku Jonghyun pelan dan mulai tertarik untuk mengobrol dengannya.

 

“Aku hanya tidak ingin terlihat bodoh di depan para yeoja itu, kau lihat sendiri kan? Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya untuk memulai percakapan dengan para yeoja yang ada di luar sana” Jonghyun hanya tersenyum sekilas kearah Minji lalu kembali melihat kearah jalanan yang sedang mereka lalui sambil melajukan mobil yang di bawanya.

 

“Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, kau hanya perlu sedikit terbuka. Pasti akan ada yeoja yang mau menerima dan mengerti akan kekurangan mu. Kau han—”

“Apa kau bisa mengerti akan kekuranganku?” Jonghyun menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Terlebih lebih pertanyaan yang baru saja dilontarkannya terhadap Minji berhasil membuat yeoja itu kaget dan segera melemparkan pandangan bingung kearah Jonghyun yang masih terus menatapnya penuh harap.

 

“Jonghyun? Apa maksud mu?” Minji mengalihkan pandangannya kearah luar mobil melalui kaca yang ada di sebelahnya. Minji paham betul apa yang dimaksudkan Jonghyun, tetapi dia berpura pura tidak tahu.

 

“Jadilah yeojachinguku Minji!” Jonghyun menarik tangan kanan Minji lalu menggenggamnya erat. Mengalirkan arus kehangatan melalui tangan Jonghyun ke tangan Minji yang benar benar dingin dan kaku. Minji yang tidak tahu harus berbuat apa hanya berdiam diri saja sambil menatap tangan Jonghyun yang masih terus menggenggamnya. Minji menggigit bibir bagian bawahnya, dia bingung harus mengambil keputusan yang seperti apa. Dia tidak tega untuk menolak Jonghyun, tetapi disatu sisi, Minji juga sedang menyukai namja lain, bukan Jonghyun.

 

Minji sedikit membuka mulut nya, ingin mengeluarkan jawabannya yang seharusnya sejak tadi ia beritahukan kepada Jonghyun. Namun niatnya kembali ia urungkan ketika dia tidak yakin dengan jawaban yang dipilihnya.

 

“Ottokhe?” Jonghyun menarik tangan sebelah kiri Minji dan menggenggam erat keduanya. Minji semakin bingung, dia merasa bahwa Jonghyun benar benar menyukainya dan dia pasti tidak main main dengan keputusan yang diambilnya ini.

 

“A-aku a-aku mau!” Minji menutup matanya sambil tertunduk, tidak menyangka kalau keputusan yang diambilnya adalah hal yang salah. Lalu, bagaimana dengan Minhyuk?

 

“Jinjjayo? Ah, gomawo Minji-ah! Saranghaeyo!” Jonghyun menarik Minji ke pelukannya dan mendekapnya erat, membuat Minji hampir kehabisan nafas karena terlalu kuat dipeluk oleh Jonghyun.

 

“A-iya i-ya su-sudah cukup” Minji memukul mukul punggung Jonghyun dan menarik tubuhnya menjauhi namja yang sedang kegirangan itu.

 

“M-mianhae Minji, aku terlalu senang. Hehe.. ya sudah, kita pulang sekarang ya?” Jonghyun mengacak acak rambut Minji lalu kembali menghidupkan mesin mobilnya.

 

“Ya ya terserah kau saja” Minji memaksakan seulas senyum terukir di wajahnya. Setelah Jonghyun mulai melajukan mobilnya, Minji kembali mengarahkan pandangannya kearah luar mobil dan menghela nafas panjang. Ekspresi nya yang tadinya tersenyum berubah menjadi datar. Minji benar benar tidak tahu apakah keputusan yang diambilnya benar atau tidak.

 

 

*     *     *

 

 

Minji berjalan lemas menuju kearah kelasnya dan terus membayangkan kejadian semalam yang dialaminya, benar benar tidak diduga. Minji berjalan sambil memukul mukul kepalanya sendiri, merasa bodoh dengan keputusan yang telah di ambilnya. Seorang Jonghyun yang selama ini bersikap dingin kepada semua yeoja, pendiam dan tidak terlalu suka berhubungan dengan orang lain itu menyatakan cintanya pada Minji?? Benar benar tidak masuk akal. “Ada belasan wanita cantik yang menyatakan cinta kepadanya, tapi kenapa dia malah memilihku yang sama sekali tidak punya apa apa?”

 

Minji terus berjalan menuju kelasnya yang masih cukup jauh karena berada di lantai tiga. Minji terus menunduk sepanjang jalan bahkan sudah 2 kali dia hampir menabrak sunbae nya. Hingga ketika ia hampir sampai dikelasnya, seorang namja yang sedang berdiri di hadapannya menghalangi jalan Minji. Minji hanya menghela nafas lalu berjalan melalui samping kiri. Namja itu juga bergerak kearah yang sama. Minji menghela nafas kembali tanpa sekalipun menatap kearah namja itu. Kepalanya masih terus menunduk, bahkan ketika Minji berjalan kearah kanan, namja itu juga melakukan hal yang sama. Kesabaran Minji sudah habis.

 

“Kau—” Dia mengangkat wajahnya dan ingin melontarkan caci maki kearah namja itu. Begitu sadar bahwa namja yang ada di hadapannya adalah orang yang sudah membuatnya stress hingga seperti ini, Minji secepat mungkin menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

 

“M-minhyuk? M-mian-mianhae sudah menghalangi jalan mu! Aku tidak lihat kalau kau ada disini. Silahkan jalan duluan, silahkan” Minji menunduk beberapa kali kearah minhyuk kemudian berlari secepat mungkin ke dalam kelasnya.

 

“eh, Minji tunggu dulu! Aku mau minta maaf!” Minhyuk terus menatap kearah punggung Minji yang semakin lama semakin tidak terlihat lagi.

 

Minhyuk yang melihat reaksi Minji yang begitu aneh tersebut benar benar bingung dan menggaruk garuk kepalanya. “Ada apa dengan yeoja itu? Biasanya setiap bertemu dengan ku, selalu saja memaksa untuk bergabung dalam club OSIS, kenapa sekarang malah lari ketakutan?” Minhyuk mengangkat kedua bahunya, tidak terlalu peduli dengan perubahan Minji, walaupun dia masih menyimpan sedikit rasa penasaran terhadapnya, tetapi dia lebih memilih untuk tidak memikirkan hal itu lagi.

 

Disatu sisi, Jonghyun yang sedari tadi mengamati tingkah laku Minji dari tempat tersembunyi hanya tersenyum bangga. Langkah pertama sudah berhasil, Minhyuk sudah semakin penasaran dengan seorang Minji. Hanya perlu membuktikan satu hal lagi, Minhyuk menyukai Minji atau tidak.

 

“Jika terbukti, aku akan membongkarnya didepan Nara dan akan membuat Nara berpaling terhadap ku” Jonghyun hanya tersenyum sinis dan kembali memasuki ruang kelasnya yang berbeda dengan Minhyuk dan Minji.

 

 

*     *    *

 

“Minji!” Jonghyun sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Minji yang berada didepannya.

 

“Jonghyun? Ada apa?”

 

“Ada apa katamu? Aku ini namjachingumu, kau seharusnya pulang bersama ku.” Jonghyun menggenggam tangan kanan Minji sambil terus berjalan di sampingnya.

 

“Oh, b-begitu ya? Aku rasa yang itu tidak perlu” Minji menunjuk nunjuk tangan kanan nya yang masih terus berada di genggaman Jonghyun.

 

“Kau malu jalan berdua dengan ku?” Minji menggelengkan kepalanya secepat mungkin, takut kalau Jonghyun akan salah paham terhadapnya.

 

“Eh, a-aniyo. Bukan seperti itu! Aku hanya— ”

 

“Yasudah kalau begitu ayo kita pulang, aku yang akan mengantar mu” Jonghyun terus menarik tangan Minji dan mengajak nya pergi tanpa memperdulikan Minji yang beum meneyelesaikan kalimatnya. Jonghyun tahu betul kalau Minhyuk sedang mengamati mereka di belakang sana. Wajahnya tampak cemburu dan benar benar tidak suka.

 

“Bagaimana mungkin Jonghyun bisa melakukan hal itu sementara dia tidak ada hubungan apa apa dengan Minji? Atau jangan jangan, Minji itu adalah gadis yang—” Minhyuk memukul kepalanya sendiri karena merasa bodoh dengan hal hal yang baru saja tersirat di benaknya. Minhyuk semakin penasaran dengan hubungan kedekatan antara Jonghyun dan Minji.

 

“Ini aneh, aku tahu tipe orang seperti apa Jonghyun itu. Dan Minji bukanlah type wanita yang disukainya. Sebenarnya apa yang terjadi?” Rasa penasaran benar benar sudah merasuki diri Minhyuk. Tanpa pikir panjang lagi, Minhyuk langsung menyalakan motornya dan membuntuti kemana mereka pergi.

 

 

 

*     *     *

 

 

“Aku pulanggg..” Jonghyun yang baru saja ingin masuk ke dalam rumah langsung di hadang oleh Minhyuk yang sejak tadi sudah menunggunya di depan pintu. Minhyuk menarik lengan Jonghyun dan mendorongnya ke tembok hingga punggungnya sedikit terbentur.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan??”

 

“Apa yang aku lakukan? Minhyuk memutar kedua bola matanya dan sudah bisa menerka bahwa Jonghyun ada bersikap seperti ini, pura pura bodoh.

 

“Harusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang kau lakukan terhadap Minji? Apa yang kau inginkan darinya?!!” Minhyuk mengarahkan jari telunjuknya tepat kearah wajah Jonghyun, membuat namja yang sedikit lebih pendek darinya itu menelengkan kepalanya kearah kanan.

 

“Oh, jadi itu. Soal gadis bodoh itu? Kau takut kalau aku benar benar menyukainya? Haha.. tenang saja, dia bukan tipe ku!” Jonghyun menepis tangan Minhyuk yang berada tepat di hadapannya dan langsung pergi meninggalkan Minhyuk yang rasa penasarannya semakin berapi api.

 

“Ini semua karena Nara kan?” Minhyuk mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk menghajar Jonghyun, apapun jawaban yang akan dia berikan nantinya.

Mendengar hal itu, Jonghyun kemudian berbalik sambil melipat kedua tangan di dadanya. Senyuman sinis dan puas kini tampak di wajahnya tampannya.

 

“Aku tidak menyangka, ternyata kau sadar jauh lebih cepat dari yang kuduga. Tapi kenapa yeoja pabo itu tidak mengerti juga ya?” Mendengar hal itu, Minhyuk yang sudah habis kesabaran langsung menghampiri Jonghyun dan melayangkan sebuah pukulan keras tepat di wajahnya hingga Jonghyun terjatuh ke lantai.

 

“Kau yang pabo! Tidak menyukai Minji tapi memaksakan diri untuk menjadi pacarnya hanya demi mendapatkan yeoja lain? Sudah ku bilang, aku tidak menyukai Nara!! Kenapa kau masih keras kepala juga ha?!” Minhyuk menarik kerah baju Jonghyun dan mengangkatnya hingga tubuh Jonghyun berdiri sejajar dengan tubuhnya. Jonghyun semakin tersenyum puas.

 

“Kau pikir kau tidak bodoh eum? Kau jauh lebih bodoh! Menyukai Minji tetapi tidak pernah menyatakan perasaan mu sama sekali? Selalu memarahinya agar kau terlihat lebih baik darinya? Apa itu tidak bodoh? Apa tujuan mu menghajarku seperti ini kalau bukan karena yeoja itu?” Minhyuk terhenyak begitu mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut adiknya itu. Itu semua memang benar. Minhyuk benar benar menyukai Minji tetapi tidak pernah punya kesempatan untuk mengatakannya. Dia tidak punya keberanian sama sekali.

 

“Kenapa kau diam? Ayo jawab aku! Jawab kalau kau bisa! Aku menyesal telah memiliki hyung seperti mu, bodoh!!” Jonghyun mendorong tubuh Minhyuk dengan kasar dan pergi meninggalkan Minhyuk yang masih berdiri kaku, pandangannya terus tertuju kearah lantai dengan kepala yang menunduk.

 

Jonghyun memasuki kamarnya dan membanting pintu sekencang mungkin. Sementara minhyuk, masih berdiri terdiam dia tempatnya semula. Pikirannya semakin kacau. Minhyuk menyandarkan tubuhnya ke dinding dan perlahan lahan tubuhnya merosot ke lantai. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri karena sadar bahwa masalah yang ada disekitarnya ternyata berujung pada dirinya sendiri.

Minhyuk tertunduk kemudian menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangan yang bertumpu pada lututnya.

 

“Apa yang harus ku lakukan sekarang?!”

 

 

*     *     *

 

 

“Hubungan kita cukup sampai disini! Tolong jangan terus menerus bertanya!” Jonghyun berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi meninggalkan Minji yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh namja yang baru saja genap 5 hari menjadi namjachingunya.

 

“Tunggu dulu! Apa tujuan mu melakukan ini? Kau sengaja ingin mempermainkanku kan?” Minji secepat mungkin berdiri dan menahan tangan Jonghyun agar tidak pergi meninggalkannya.

 

“Bukan urusanmu!” Jonghyun menepis tangan Minji yang sedari tadi memegang erat tangannya menunggu alasan apa yang akan ia dengarkan langsung dari seorang Jonghyun.

 

SRETT..

 

Minji menarik lengan baju Jonghyun lalu mengahadangnya.

 

“Bukan urusan ku katamu?”

 

PLAKK

 

“Tentu saja ini urusan ku! Kau dan aku! Kita! Kau yang memulainya dan sekarang kau yang mengakhirinya?! Dasar brengsek!” Minji menampar pipi Jonghyun sekeras mungkin dan merasa lega atas pembalasan dendam yang baru saja dia lakukan. Melihat apa yang sedang terjadi di antara mereka, beberapa siswa yang sedang berlalu lalang melayangkan tatapan aneh kearah mereka sambil berbisik bisik di antara keramaian.

“Ikut aku!!” Jonghyun menarik lengan Minji dan membawanya kearah gudang sekolah.

 

“Lepaskan aku! Tanganku sakit!!!” Minji menarik narik tangannya yang masih berada di genggaman Jonghyun. Jonghyun sama sekali tidak memperdulikan omelan Minji dan terus saja berjalan tanpa menoleh sama sekali.

 

 

BRUGG

 

Jonghyun mendorong Minji ke dinding dan mengunci Minji dengan kedua tangannya. Jonghyun menatap dalam dalam kearah kedua manik mata Minji. Bisa dilihatnya kalau Minji juga menyukai Minhyuk, bukan dirinya.

 

“A-apa yang akan kau lakukan?!” Minji bertanya sambil takut takut membalas tatapan mata Jonghyun yang ditujukan kepadanya.

 

“Lihat, lihat kedua mataku! Apakah aku menyukai mu eum? Perhatikan baik baik! Rasa itu sama sekali tidak ada!!” Jonghyun mengguncang guncangkan tubuh Minji yang masih tidak percaya kalau Jonghyun ternyata benar benar tidak menyukainya.

 

“Kenapa?! Kenapa kau memilihku?!! Apa alasan—”

 

“Alasan ku?! Jadi kau belum paham juga?! Aku memilihmu hanya untuk membuktikan apakah Minhyuk benar benar menyukai mu atau tidak, itu saja!!” Jonghyun melepaskan pegangannya dari pundak Minji.

 

“Jadi, Minhyuk??”

 

“Sudahlah! Aku sudah muak dengan kalian berdua. Mulai sekarang aku tidak akan ikut campur dalam urusan kalian lagi!” Jonghyun pergi meninggalkan Minji yang terduduk lemas di tempatnya berdiri semula. Benar benar tidak dapat diterima oleh akal sehatnya. Dia sedang berada di tengah permasalahan antara 2 orang namja yang ada disekitarnya, tapi dia tidak menyadari hal itu.

 

Minji menundukkan wajahnya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Jonghyun. Minji menangis sepuasnya dan melampiaskan kemarahannya sendirian. Punggungnya terlihat naik turun sebagai tanda kalau dia sedang menangis.

 

“Ini, ambil lah” Seorang namja datang dan menyodorkan sebuah sapu tangan kecil miliknya. Awalnya Minji tidak memperdulikan namja itu. Lama kelamaan Minji mengangkat dagunya dan mengarahkan pandangannya kearah namja yang sedang berdiri di sebelahnya sambil terus memegang sapu tangan yang ia tawarkan untuk Minji.

 

“M-Minhyuk?”

 

“Sudah, kagetnya nanti saja. Ambil ini, kau terlihat bodoh sekali jika menangis seperti itu.” Minhyuk menarik lengan Minji dan meletakkan sapu tangan itu tepat di telapak tangannya.

 

Minhyuk lalu beranjak pergi meninggalkan Minji yang masih terbengong di tempatnya tanpa sepatah kata pun. Minji lalu berlari mengejar Minhyuk dan memeluknya dari belakang.

Merasakan ada sepasang tangan yang sedang mendekapnya, Minhyuk menghentikan langkahnya dan hanya terdiam beberapa saat karena mendapat perlakuan seperti itu.

Minji menenggelamkan wajahnya di punggung Minhyuk hingga baju Minhyuk sedikit basah oleh air mata Minji.

 

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?” Tangisan Minji semakin terdengar ketika Minhyuk mengusap-usap sepasang tangan yang sedang memeluknya erat dari belakang.

 

“Maaf kalau kau sudah menjadi korban dari kemarahan Jonghyun” Minhyuk membalikkan tubuhnya dan mengangkat dagu Minji yang masih terus tertunduk sambil berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar lebih banyak lagi.

 

“Minta ma-af s-saja tida-k c-cukup” Ucapan Minji tersenggal senggal karena ia masih berusaha untuk menahan tangisannya yang bisa saja memecah sewaktu waktu.

 

“Lalu aku harus bagaimana?” Minhyuk mengambil sapu tangan yang dipegang Minji lalu mengusapkannya perlahan kearah pipi yeoja itu yang basah oleh air mata.

 

“Peluk aku”

 

“Mwo?”

 

“Peluk akuuu, sekarang. Apa kurang jelas?”

 

“Okey, everything for you” Minhyuk membuka lebar kedua tangannya dan menyambut Minji dengan senyuman yang tak dapat di gambarkan.

 

Minji langsung berhambur ke pelukan Minhyuk dan memeluk namja itu dengan erat. Tidak akan pernah membiarkan namja itu menjauh dari nya, tidak akan pernah melepaskannya begitu saja. Karena satu satunya yang ada dipikirannya, yang selalu saja ia khawatirkan, yang selalu saja membuat nya untuk tidak pernah menyerah, hanya namja itu. Lee Minhyuk.

 

 

-_- END -_-

 

 

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

11 thoughts on “[LombaFF] CIRCLE OF LOVE

  1. Like this
    Tadi namanya Kang deh klo ga salah waktu awal cerita di ketua osis
    Apa aku salah baca ya?
    ‎​;)hє^_^hє;) ..;)hє^_^hє;) .. Dibawah Lee

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s