[LombaFF] Ajasshi, Comment Çava? (Girl, How are You?)

Rating                   : T

Genre                   : Family, Romance, Friendship

Cast                       : Adora Laurent (Ocs)

Jung Yonghwa

Other Cast          : Kang Minhyuk

Lee Hyerin (Ocs)

Note                      : Fanfic ini, lahir karena kekagumanku pada Seoul dan Paris. Dua kota yang suatu hari akan kuhampiri.

Summary             : Rasa pahit akan sirna seiring dengan hadirnya rasa manis. Seperti seorang gadis keturunan Korea-Perancis yang hidupnya mulai terasa lebih manis saat segalanya terkuak.

 

 

 

Paris, 3 pm..

“Appa! Hentikan!” seruku sambil berlalu. Lewat begitu saja di depan appa yang sejak tadi mengumpat tentang eomma. Sudah cukup. Aku muak dengan semua ini.

“Adora!” panggil appa. Tapi aku sama sekali tidak peduli. “Adora Laurent!” serunya lagi. Alih-alih berhenti untuk berpaling dan menanggapinya, aku terus menyeret langkahku menuju lantai dua. Di sana aku masuk kamarku, membanting pintu sekuat tenaga. Meninggalkan appa yang kemudian mengejarku dari ruang tamu. “Adora!” Aku mendengar suaranya tepat di muka pintu. Memanggil namaku dengan suara menggelegarnya.

Écoutez[1]! Aku hanya menceritakan yang sebenarnya tentang dia. Tentang ibumu. Wanita itu memang selingkuh dan meninggalkanku. Meninggalkan kita, Adora!” serunya.

Sementara itu, aku hanya meringkuk di atas tempat tidur, membasahi wajahku dengan air mata. Dengan frustasi, kulempar sebuah guling hingga mengenai pintu kamar. “Bohong! Selama sepuluh tahun kau bilang eomma meninggal karena kecelakaan. Lalu, sekarang kau bilang eomma selingkuh? Kau pikir aku akan percaya denganmu?!” kutumpahkan semua emosiku dengan sekali lagi melempar pintu kamar dengan bantal. Masih dengan banjir air bah dan sesekali sesenggukan.

“Kau tahu kenapa aku selalu menolak saat kau mengajak ke makam wanita itu? Karena ia tidak benar-benar mati! Dia masih hidup, Adora. Dia dengan pria lain!”

Aku tersentak. Seperti barbel seberat sepuluh ton yang tiba-tiba jatuh menimpa kepalaku. Tubuhku terasa kaku dan sensasi campur aduk menguasai jiwaku. Tapi, aku hanya mematung, bergeming sambil terus menangis.

Kemudian, pintu kamar terbuka. Aku masih diam menatap appa yang menghampiriku dengan hati-hati. “Désolé[2], Adora. Aku hanya tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Saat itu, kau masih terlalu kecil. Aku menunggu waktu yang tepat.”

Dengan wajah sembab, aku memberi appa tatapan kebencian. Tatapan yang belum pernah kuberikan pada siapa pun sebelumnya. Tak kusangka appa membohongiku. Ia menyembunyikan alasan kepergian eomma. Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Berharap semuanya akan baik-baik saja dengan kebohongannya?

Aku masih mematung. Namun air mataku mulai mengering. “Aller[3]!” seruku sebelum appa sempat melangkah beberapa senti lebih dekat. Ia tersentak. Terkejut oleh jeritanku. “Aller!” sekali lagi. Kali ini lebih kencang. Setelah berhasil mengatasi keterkejutannya, ia melangkah pergi. Sempat menatapku dengan pandangan bersalah, sebelum kemudian menutup pintu.

Sementara itu, aku memejamkan mata. Berusaha menampik bahwa ucapan appa adalah benar. Kemudian, kubanting tubuhku di atas tempat tidur dan air mata kembali menyeruak. Aku bergumam, “eomma, benarkah itu?

***

Di saat yang sama. Seoul, 11 pm..

Aku memejamkan mata, menikmati tiap alunan nada dari permainan jemariku pada senar gitar kesayanganku. Kemudian, kembali kubuka mata. Dengan sebuah pensil yang sejak tadi bertengger bersama pick gitar di tangan kananku, kutulis nada yang baru saja kuciptakan. Sambil tersenyum, kupandang selembar kertas dengan namaku tertera di bagian kanan atas, by: Jung Yonghwa. Sebenarnya, aku bukan penyanyi, bukan pula pencipta lagu. Aku hanya seorang mahasiswa di Universitas Korea. Sesekali mampir dari satu cafe ke cafe lain untuk bernyanyi dan sesekali pula mendapat bayaran. Itulah satu-satunya hal yang membuatku bahagia setelah berkutat dengan mata kuliah yang menyakitkan kepala. Tapi, aku bermimpi suatu saat akan menjadi seorang penyanyi terkenal. Terkadang, aku membayangkan para penggemar meneriakkan namaku, meminta tanda tangan dan foto bersama. Terlalu absurd kah? Ah.. tidak juga. Siapa tahu, dengan membawakan lagu ciptaan sendiri saat tampil di sebuah cafe, seorang produser pencari bakat menghampiriku dan merekrutku sebagai penyanyi. Ah.. andaikan…

Lamunanku buyar seketika saat seekor binatang menjijikan yang aku bahkan jijik menyebutkan namanya, sekonyong-konyongnya muncul, berlari kecil di kakiku. Aku melotot dan jantungku hampir lepas.

“KECOAAA!!” Aku pun segera bangkit dari tempatku semula duduk. “Husshh!! Husssh!” usirku sambil mengayunkan gitarku ke sana kemari untuk membunuh hewan bau itu. “Ga[4]!!” jeritku histeris. Namun, Mr K (sudah kubilang, aku benci menyebut namanya) sama sekali tidak terganggu. Ia hanya berlari-lari kecil mengitari kamar kostku, seolah mengejekku karena bertindak seperti pengecut. Aku benar-benar benci hewan itu. Mereka punya bentuk kaki yang menggelikan, bahkan sungut-sungut mereka tidak lebih wangi dari bulu ketiakku. Dan warna tubuh mereka juga memuakkan.

Aku masih melompat sambil menyodok hewan itu dengan gitarku. Di tengah kepanikan yang melanda, tiba-tiba, seseorang membuka pintu kamarku. Dengan gagah berani, orang itu mengocok sebotol obat anti serangga sambil berseru, “Yonghwa, hyung! Aku datang!” Aku mengernyit, berusaha mengidentifikasi orang tersebut. Lee Min Hyuk! SROOOTT!! Ia pun memenuhi kamarku dengan cairan anti serangga. Menebarkan wangi jeruk ke penjuru ruangan.

Dengan tegang, kuamati Mr K yang mulai terhuyung. Untuk beberapa detik, ia berputar-putar pada porosnya. Perlahan tapi pasti, ajal menjemput. Ia pun tewas, kaki-kaki kotornya menendang-nendang di udara tanpa arti. Pasti cairan anti serangga telah memenuhi saluran pernafasaanya. Itu pun kalau ia punya saluran pernafasan. Aku tersenyum puas. “Good job, Min Hyuk-ah!” kataku sambil mengacungkan jempol.

Sambil tersenyum, bocah itu menyahut, “tak masalah. Selama kamar kost kita bersebelahan, aku akan selalu ada untuk membasmi hama di sini. Tenang saja.” Ia mengguncangkan botol anti serangganya dengan bangga.

Aku tersenyum sambil mengangguk. Baru tiga bulan aku menjadi tetangganya. Tinggal di kamar kost dengan membayar murah, dikelilingi para kecoa, ukuran kamar yang pas-pasan dan keadaan yang serba apa adanya, memang membuatku bertekad untuk pindah secepat mungkin. Namun, kehadiran Min Hyuk membuatnya tidak terlalu buruk. Setidaknya, aku tidak perlu mencemaskan masalah kecoa lagi.

Setelah berhasil mengalahkan Mr K, Min Hyuk masuk ke kamarku, mengambil secarik kertas dari atas lantai dan dengan sigap mengangkat mayat Mr K dengan kertas itu untuk membuangnya keluar jendela.

“Tidaaak!! Maha karyaku!!” seruku frustasi. Sekonyong-konyongnya, kutarik kertas dengan nada-nada ciptaanku tersebut, menimangnya dan membiarkan mayat Mr K kembali terbaring di lantai.

***

Paris, 7 pm..

Dengan pencahayaan kamar yang cukup terang, aku berhasil dibuat terbangun. Berusaha mengingat apa yang telah terjadi sebelum semuanya kembali jelas. Setelah menolak untuk percaya pada appa dan menangis sejadi-jadinya, aku tertidur. Dan kini, hari sudah malam. Pandanganku tertuju pada ponsel yang terletak di meja samping tempat tidur. Setelah sempat merenung sejenak, kuambil benda itu untuk menghubungi seseorang..

“Hye Rin-ah, kau belum tidur kan?” …. “Oui[5], aku ingin kau menemaniku membeli dua tiket ke Seoul untuk besok. Kau dan aku.” …. “Iya, aku tahu ini mendadak. Tapi, aku harus menemui keluarga eomma di sana. Penting dan kau harus ikut.” …. “Kau satu-satunya orang Korea yang kukenal.” …. “Oh, ayolah. Lagipula, dengan lahir di sana bukan berarti aku mengetahui seluk beluk kota itu. Tolonglah, kau kan sahabatku.” …. “Baiklah, segera kepakkan barang-barangmu, Hye Rin-ah. Bonne nuit[6].

Aku pun menutup pembicaraan sebelum kemudian membongkar isi lemari untuk menjejalkan sebagian bajuku ke dalam koper.

***

Keesokan harinya. Seoul, 8 pm…

Dengan gitar dipunggu, kutatap sebuah cafe di hadapanku. Sebuah kertas bertuliskan lagu ciptaanku serta bayangan tepuk tangan dari para penonton telah membuatku tersenyum yakin. Segera aku melangkah ke dalam. Namun, seseorang menepuk pundakku.

“Min Hyuk-ah! Mwohaeyo[7]?!” seruku terkejut. Entah bagaimana bocah itu bisa muncul begitu saja.

Tanpa berkata sepatah kata pun, bocah itu nyengir kuda. Ia menunjukkan sebuah poster A3. Di atasnya tertulis.. Jung Yonghwa! Jangan gugup, aku di sini. You’re the best! .. Saranghae! ^^

Aku menatapnya heran, “ige mwoya[8]?”

Sambil tersenyum, ia berkata, “Yonghwa hyung, hwaiting!” Dengan sekuat tenaga, ia pun mendorong punggungku masuk ke cafe.

***

Aku memejamkan mata, berusaha beristirahat sejenak di kursi belakang pengemudi. Perjalanan selama sepuluh jam dari bandara Charles de Gaulle ke bandara Incheon, membuatku kelelahan. Namun, perlahan semangatku mulai bangkit ketika aku teringat akan ahjumma, keluarga eomma yang akan menceritakan yang sebenarnya. Cerita yang sesungguhnya mengenai eomma. Lamunanku buyar oleh dering ponselku. Appa menelepon. Tanpa ragu, aku memencet keypad reject. Untuk sementara ini, aku tidak mau bicara dengan appa. Terutama setelah ia membohongiku selama sepuluh tahun.

“Adora, setidaknya, kirim pesan padanya. Katakan bahwa kau baik-baik saja,” saran Hye Rin. Aku menggeleng sambil menerawang jalan raya lewat jendela.

“Ia tak perlu cemas, aku dua puluh tahun. Aku bisa menjaga diri. Lagi pula, aku sudah meletakkan catatan kecil di atas tempat tidur tentang kepergianku ke Seoul.”

Hye Rin menyerah, ia memilih tutup mulut. Beberapa menit kemudian, kami sampai di tujuan. Setelah membayar beberapa won dari money exchange di Incheon, kami mengambil koper dari bagasi dan keluar dari taksi. Menatap ke sebuah cafe yang tengah dipenuhi para muda mudi.

“Jadi, ahjummamu punya cafe?” tanya Hye Rin sambil menatap takjub pada cafe di hadapannya. Namun aku mengangkat bahu. Sama sekali tak tahu menahu mengenai keberadaan cafe ini. Sudah sepuluh tahun sejak aku meninggalkan Seoul. Sudah banyak perubahan, seingatku, dulu ahjumma hanya menjual minuman hangat di sebuah kios kecil. Tapi sekarang, ia sudah punya cafe sendiri. Syukurlah. Setidaknya aku bisa meneguk beberapa gelas hot chocolate float kesukaanku secara gratis. Dan tentu saja mengungkap kebenaran mengenai keberadaan eomma.

“Ayo masuk,” ujarku mendahului Hye Rin.

***

Aku memainkan senar gitarku dengan penuh penghayatan. Melantunkan untaian lirik yang telah kurangkai dengan sepenuh hati sambil sesekali menatap pada penonton. Namun, Min Hyuk-lah yang paling menarik perhatian. Ia menyeringai sambil mengangkat poster A3 layaknya seorang fangirl. Dari ekspresi semua orang di cafe ini, terlihat jelas bahwa mereka menikmati permainanku. Aku pun tersenyum, misiku berhasil.

Namun, sesuatu mengalihkan perhatianku. Seorang gadis blasteran dengan temannya baru saja masuk bergabung dengan sekian pasang mata lain. Pandanganku tertuju pada si gadis blasteran. Ia pun begitu, menatapku dengan pandangan setengah terkejut. Permainanku terus berlanjut, tapi pandanganku tetap pada gadis itu. Ada sesuatu pada dirinya. Sesuatu yang sangat familiar.

***

Aku menghambur masuk ke cafe mendahului Hye Rin, sebelum terkejut oleh kehadiran seorang pemuda yang tengah menjadi pusat perhatian dengan nyanyian dan gitarnya. Mataku menyipit, berusaha mengidentifikasi pemuda itu. Wajahnya familiar. Sangat familiar. Dengan potongan puzzle yang berusaha kususun dalam otakku, pelan-pelan aku berusaha mengingat siapa sesungguhnya pemuda di depan itu. Namun, pemuda itu menyudahi lagunya. Para penonton memberikan standing applause, salah satu dari mereka berteriak, “Jung Yonghwa! Jalhanda[9]!” Aku tersenyum pada pemuda di depan itu. Benar. Ia memang Jung Yonghwa. Jung Yonghwa yang sepuluh tahun lalu memasukkan seekor cicak ke bajuku, ia orangnya. Sekali lagi aku tersenyum padanya, memberikan tepuk tangan yang meriah. Jung Yonghwa, teman masa kecilku. Kini, ia bukan bocah ingusan lagi. Ia adalah seorang musisi.

***

Selesai sudah tugasku untuk membuat orang-orang bahagia. Mereka memberiku standing applause dan senyum sumringah. Setelah mengucapkan terima kasih kepada para penonton, aku segera turun dari panggung, berjalan menghampiri gadis blasteran yang memberiku senyuman dan tepuk tangan. Saat kami berhadapan, gadis itu kembali tersenyum. Kali ini senyuman yang lebih lebar. Aku pun tersenyum.

“Jung Yonghwa!” seru gadis itu sambil sekonyong-konyongnya memelukku. “Oraemanieyo, jaljinaesseoyo[10]?” tanyanya setelah melepas pelukannya. Sepuluh tahun tinggal di Paris telah membuat bahasa Koreanya tercampur dengan aksen Perancis.

Jaljinaeyo, neon eoteokeyo?[11]

Jeodo jaljinaeyo[12].” Aku tersenyum sumringah saat melihat dirinya kali ini. Sangat berbeda dengan sepuluh tahun lalu. Ia terlihat jauh lebih cantik dan dewasa. Rambut coklat karamelnya, matanya, caranya berpakaian, semua terlihat lebih cantik.

“Jadi, apa yang membawamu kembali ke Seoul?” tanyaku.

“Sebenarnya, aku ingin bertemu dengan pemilik cafe ini. Ada beberapa hal yang harus kuurus.”

Aku mengangguk. Pasti ada hal yang sangat penting. “Dan ayahmu, di mana dia?”

Ia terdiam sejenak sebelum kemudian menjawab, “aku tidak memberitahunya tentang kepergianku ke sini. Ia telah melakukan kesalahan hingga membuatku terpaksa meninggalkannya di Paris. Dan sekarang, aku harus menemui… ahjumma!” Adora berseru kepada seseorang di balik punggungku. Melambai dengan penuh senyum. “Kau tidak keberatan jika harus menunggu beberapa saat kan?” tanyanya. Aku menyanggupi, ia dan seorang temannya pun berlalu, menghampiri seorang wanita paruh baya yang disebutnya ahjumma. Aku mengamati mereka dari kejauhan, mereka telibat dalam seputar pelukan rindu dan senyuman sebelum kemudian ekspresi mereka berubah 180 derajat. Adora seperti menghujam si ahjumma dengan seputar pertanyaan yang sulit diutarakan jawabannya. Lalu, ahjumma membuka mulut, menjawab dengan sangat hati-hati dengan tatapan menyesal.

“Yonghwa hyung!” tiba-tiba Minhyuk muncul dengan posternya dan membuyarkan pengamatanku. “Hyung, geu yeoja ga nuguya[13]?

Aku melirik Min Hyuk sesaat. Memberi tatapan penuh arti. “Wae? Jowahae[14]?”

Ia membalas, “aku yakin kaulah yang menyukainya. Bukan begitu?”

Aku merona. Tak bisa menampik kebenaran ucapannya. “Namanya Adora. Adora Laurent. Sahabat masa kecilku,” jawabku sambil kembali memandang Adora.

***

“Sangat sulit bagiku untuk menceritakan yang sesungguhnya padamu, Adora. Tapi, mungkin inilah saat yang tepat,” aku dapat melihat raut penyesalan pada wajah ahjumma. Namun, aku siap. Aku telah mengantisipasi segala kemungkinan terburuk.

“Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi pada eomma?” desakku.

“Olivier telah mengatakan yang sebenarnya.” Aku tersentak. Tidak mungkin. Appa membohongiku! Ia tidak mengatakan yang sebenarnya. “Soo Yeon telah melakukan hal yang tidak terduga. Ia menghianati Olivier dan bahkan keluaganya sendiri dengan melakukan perselingkuhan itu. Saat itu, kau masih sembilan tahun, masih terlalu muda untuk mengerti kondisi orang tuamu. Olivier tidak salah, ia melakukan yang terbaik untukmu. Ia membawamu ke Paris agar tidak bertemu dengan Soo Yeon. Dan ia berharap, dengan membual bahwa wanita itu telah meninggal, akan membuatmu terus berada di Paris dan tidak kembali ke Seoul lagi. Itu semua untuk kebaikanmu, Adora.”

Entah bagaimana, aku mendadak bisu. Bibirku terlalu kaku untuk berkata-kata. Bahkan aku sempat tidak mempercayai pendengaranku. Aku mematung, dan tanpa kusadari, bulir air mata telah menetes, menyeruak membasahi kedua pipiku. “Tidak.. tidak mungkin. Gojitmal[15]! Kau dan appa berbohong.”

Mianhaeyo, Adora. Maaf atas segalanya.”

“Aku mengerti perasaanmu,” ucap Hye Rin sambil merangkulku dengan tangan kanannya. Namun, air mataku tak berhenti keluar, emosiku terus meledak-ledak. Aku butuh tempat. Tempat untuk berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Kulepaskan rangkulan Hye Rin, kupandang ahjumma dengan tatapan menusuk. Tanpa berkomentar apa pun, aku segera beranjak dari cafe itu, berlari sejauh-jauhnya dari kerumunan orang yang mulai memandangku dengan tatapan heran.

***

Aku dan Minhyuk masih menunggu Adora dan temannya menyelesaikan pembicaraan mereka dengan ahjumma pemilik cafe. Kemudian, kusadari bahwa Adora tengah menangis. Ia hanya mematung sebelum kemudian berlalu meninggalkan ahjumma dan temannya. Bahkan ia berlalu melewatiku begitu saja dan pergi keluar dari cafe. Aku bertanya-tanya, sebenarnya, apa yang terjadi? Ini pertama kalinya aku bertemu dengan gadis itu setelah sepuluh tahun. Dan aku hanya bisa melihatnya menangis?

“Adora! Adora Laurent!” seru gadis yang sejak tadi bersama Adora. Ia berlari menuju pintu cafe, namun Adora telah jauh.

Tanpa banyak komentar, aku segera berlari menyongsong pintu cafe dan mengejar Adora. Sementara itu, aku dapat mendengar Minhyuk berusaha menenangkan seorang gadis yang terdengar begitu khawatir dengan Adora.

***

Sulit dipercaya. Keluargaku hancur berantakan saat aku masih terlalu muda untuk mengerti. Eomma meninggalkan appa dan aku begitu saja. Bahagia dengan pria lain, sementara appa harus memendam rasa sakitnya. Aku tidak mengerti kenapa eomma tega melakukan itu pada kami. Aku benci eomma!

Air mataku terus mengalir, namun langkahku terhenti. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Baru kusadari bahwa aku merasa asing dengan sekitarku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana kembali menuju cafe. Lalu lalang orang di sekitarku, sama sekali masa bodoh dengan keberadaanku. Mereka punya terlalu banyak beban untuk dipikirkan. Lampu dari toko-toko di kanan kiri jalan, zebra cross, mobil, hanya keadaan normal saat malam hari yang kutemukan. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan di tempat asing ini.

Kemudian, sebuah taksi berhenti, Yonghwa muncul dari balik jendela dan meneriakkan namaku, “Adora!” Ia keluar dan meraih pergelangan tanganku. “Deureooseyo[16].” Aku pun menurut dan masuk ke dalam taksi. Tak tahu ke mana ia akan membawaku. Tapi setidaknya, aku merasa aman karena sahabat masa kecilku ada di sampingku.

***

Aku tahu ini pertama kalinya Adora pergi ke Banpo bridge. Ia terlihat begitu kagum akan air warna warni yang muncul dari kedua sisi jembatan setiap menit. Seolah air mata yang sempat ia teteskan tadi sama sekali tak berarti.

“Indah kan?”

Adora tersenyum sambil mengangguk. “Sangat indah,” imbuhnya.

“Jadi,” aku berusaha bicara sehati-hati mungkin. “Apa yang terjadi? Kau… ada masalah?”

Adora terdiam sejenak, menghela nafas, sebelum kemudian menceritakan semuanya padaku. Mulai dari sangat awal. Dari ayahnya yang membual dan bagaimana kebenaran terkuak seiring dengan waktu. Aku mengerti bagaimana perasaannya. Pasti sulit untuk dipercaya. Namun, beginilah kenyataannya.

Saat mengakhiri kisahnya, ia menunduk, membiarkan rambut coklat karamelnya menutupi wajahnya. Kemudian, aku baru sadar bahwa ia menangis lagi. Menangis tanpa suara. Ia tidak ingin aku tahu bahwa ia sedang menangis.

“Sudahlah, semuanya telah terjadi. Tak ada yang perlu ditangisi,” ucapku sambil mengelus rambutnya. Namun, tak ada reaksi. Ia terus menunduk dan menangis. Sesekali aku mendengarnya sesenggukan.

Lalu, sekonyong-konyongnya, muncul seorang gadis kecil berumur sekitar lima tahun. Ia menghampiri Adora, mengamati sebentar sebelum kemudian berkata, “eonni, uljimarayo.” Aku tersentak. Gadis kecil ini, begitu berani. Ia bahkan menyuruh seseorang yang tidak dikenalnya untuk berhenti menangis.

Adora mengangkat wajahnya, menatap gadis kecil itu dengan wajah sembabnya. Ia terkejut, tapi kemudian tersenyum dan menghapus air matanya. “Gomawoyo..” imbuhnya pelan sambil menghapus air matanya. “Di mana orang tuamu?” ia bertanya sambil mengelus rambut gadis kecil itu.

“Hwang Min!” Tiba-tiba seorang pria dan wanita datang. Si wanita menatap khawatir pada gadis kecil yang disebutnya Hwang Min itu. Lalu, ia tersenyum lega saat tahu gadis kecilnya baik-baik saja. “Kau seharusnya jangan pergi sendirian. Appa dan eomma mencemaskanmu, Hwang Min-ah,” ujarnya sambil membawa Hwang Min kepelukannya. “Terima kasih telah menjaga anak kami.” Ia menatapku dan Adora bergantian, lalu membungkuk memberi hormat. Suaminya juga melakukan hal  yang sama. Kemudian, ekspresinya berubah. Ia mengangkat wajahnya dan menatap lekat pada Adora. Berusaha mencerna sesuatu sebelum suaminya mengajak keluarga kecilnya pergi.

***

Aku tersentak. Wanita di hadapanku ini, sangat mirip dengan eomma. Aku masih dapat mengingat tatapannya. Tak perlu ragu lagi, ia memang eomma. Aku sadar, ternyata wanita itu juga tengah mengamatiku. Namun, suaminya segera mengajaknya pulang.

“Nyonya!” panggilku. Wanita itu pun berhenti, lalu berbalik badan. Aku tersenyum. “Hwang Min adalah gadis yang baik. Terus ajarkan dia seperti itu. Aku yakin, kelak ia akan tahu bagaimana memperlakukan semua orang dengan baik. Jangan biarkan ia menyakiti perasaan orang lain,” ujarku lalu menunduk. Berusaha menahan air mata yang mulai menyeruak lagi. “Ayo pergi,” ajakku pada Yonghwa. Kami pun berbalik dan menjauh dari keluarga itu. Dan saat itulah bendunganku jebol. Air mataku mengalir lagi.

Namun tiba-tiba, seseorang memanggil namaku dengan ragu. “Adora?” rupanya wanita itu.

Aku tetap bergeming pada posisiku, berusaha tersenyum bahagia meskipun air mata terus mengalir. “Iya, ini aku, Adora Laurent,” jawabku. Lalu, aku berbalik, menatap wanita itu dengan senyum terpaksa. “Senang bertemu denganmu lagi, eomma..” Wanita itu terperanjat. Ia pasti tidak menyangka bahwa gadis blasteran yang berdiri di hadapannya ini adalah anak yang dulu ia tinggalkan.

Namun, sebelum wanita itu berkomentar apa pun, aku menggandeng tangan Yong Hwa dan berkata, “maaf, kami harus segera pergi.” Dan kami pun pergi. Meninggalkan wanita yang masih dilanda rasa keterkejutan itu.

***

Kudorong pintu cafe dan kupersilakan Adora masuk terlebih dahulu. Dengan wajah sembab yang berusaha ditutupinya dengan senyuman, ia pun mengucapkan terima kasih dan masuk. Minhyuk dengan seorag gadis, teman Adora yang tidak kutahu namanya, tengah berbincang mengelilingi meja bundar sambil menikmati minuman mereka sebelum menyadari kedatangan kami.

Segera si gadis beranjak dari kursinya dan menghampiri Adora. “Adora, ça va[17]?” Aku tidak mengerti apa yang ia tanyakan sebelum Adora menjawab dalam bahasa Korea.

Gwaenchana, Hye Rin-ah. Tak usah cemas,” ujarnya sambil tersenyum.

“Duduklah, tenangkan diri dan akan kuambilkan minuman dari ahjumma,” kata gadis yang ternyata bernama Hye Rin itu sambil menuntun Adora ke kursi yang tadi digunakannya. Aku pun menarik kursi di antara Adora dan Minhyuk. Memberi tatapan untuk tidak cerewet pada Minhyuk setelah ia bertanya dengan memberi isyarat bibir mengenai apa yang terjadi pada Adora.

Sekian menit berlalu dengan keheningan. Hanya beberapa pelanggan yang berbicara dengan rekan atau keluarga mereka. Tidak satu pun diantara kami bertiga ingin repot-repot mencairkan suasana. Namun, Hye Rin datang dengan nampan dengan empat gelas hot chocolate float dan disambut oleh sorak gembira Minhyuk.

“Gomawo, Hye Rin-ah,” ujarnya. Aku tidak menyangka ternyata ia sudah begitu akrab dengan gadis itu.

Hye Rin membalasnya dengan senyum simpul sambil meletakkan nampan dan menarik sebuah kursi di sebelah Min Hyuk.

“Hye Rin-ah, aku ingin segera pulang. Appa pasti mencemaskanku,” ucap Adora.

Sebelum Hye Rin sempat merespok, aku tersentak. “Apakah secepat itu?”

Adora mengangguk. “Aku tidak punya siapa pun di sini. Eomma telah punya keluarga baru, ahjumma sibuk dengan cafenya. Tidak mungkin aku tinggal terlalu lama.”

“Tapi kau masih punya aku, Adora,” ujarku tanpa berpikir panjang. Namun, sepersekian detik kemudian, aku menyesal mengatakannya. Entahlah. Mungkin menyesal karena telah mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan pada gadis cantik di dekatku ini. Gadis yang dulu pernah menjerit histeris karena kenakalanku, gadis yang dulu meraung-raung karena topeng monster yang sengaja kupakai untuk menakutinya.

“Ma.. maksudku.. kita baru saja bertemu. Kau bahkan belum mendengar ceritaku selama sepuluh tahun terakhir kan? A.. aku.. maksudku..” Babo! Aku bicara seperti balita. Tergagap dan tidak teratur.

Mungkin Adora menganggapku lucu atau semacamnya, karena ia tertawa kecil. Itu bahkan membuatku tampak seperti orang idiot. Tiba-tiba, sesuatu menginjak kakiku. Aku pun meringis, berusaha menahan emosi setelah tahu bahwa Minhyuk yang melakukannya. Dengan penuh isyarat mata dan bibir, aku mengerti bahwa ia memerintahku melakukan sesuatu dengan gitar dan kemampuan bernyanyiku. Aku sempat melotot padanya, memberi isyarat bahwa itu adalah hal mustahil. Aku bahkan tak bisa berhenti membuat bunyi dag dig dug dengan jantungku saat berhadapan dengan gadis blasteran itu di dekatku. Bagaimana aku bisa melakukan sesuatu dengan keadaan demikian? Namun, bocah itu memaksaku dengan tatapannya.

Dengan gugup dan detak jantung yang semakin cepat, aku pun beranjak dari tempatku semula duduk, mengambil gitarku dari kaki kursi dan melangkah menuju panggung. Kuedarkan pandangan ke penjuru cafe kemudian berhenti pada Adora. Sambil berusaha mengatur nafas, aku pun mulai memainkan jemariku pada senar gitar. Bergumam tentang nada sebelum kemudian mulai melantunkan untaian lirik. Sesekali kupenjamkan mata, namun sekian detik kemudian kembali kutatap mata hitam milik Adora dari kejauhan. Dan yang kutemukan di sana adalah pancaran kebahagiaan. Aku tersenyum sambil terus bernyanyi. Perasaan gugup pun perlahan-lahan sirna. Digantikan oleh perasaan bahagia yang tiada duanya.

Sekian menit pun berlalu. Kututup penampilanku. Namun tanpa disadari, aku mengatakan sesuatu diluar kendaliku, “Adora Laurent, saranghaeyo..” Sontak para penonton memberikan tepuk tangan meriah. Bahkan Minhyuk terlibat di dalamnya. Aku tak tahu semerah apa wajahku. Segera aku beranjak dari panggung. Namun, sesuatu menghentikanku. Adora! Ia menyongsong kemudian memberiku sebuah pelukan di depan sekian pasang mata. Aku terkejut. Tak menyangka responnya akan seperti ini.

Dengan kedua tangan mengelilingi pinggangku, Adora mendongak kemudian berkata, “Jung Yonghwa, nado saranghae..” Saat itulah aku merasa benar-benar melayang. Kegembiraan yang membuncah dan meluap-luap langsung menyebar ke sekujur tubuhku. Dengan senyum terkembang, aku pun membalas pelukan gadis itu. Aku bahkan tak peduli seberapa berisik para penonton bertepuk tangan dan bersiul-siul. Yang aku pedulikan adalah, gadis dalam dekapanku. Hanya dia.

***

Satu tahun kemudian

“Appa, aku pergi dulu ya,” ujarku dengan penuh kebahagiaan sambil mencium pipi kanan appa.

Sementara itu, appa yang tengah sibuk dengan kertas-kertas yang tidak aku mengerti, hanya memandang dari balik kaca matanya sambil bertanya, “Vous allez où ?[18]

“Aku akan pergi ke Le Zenith. Tenang saja, aku pergi bersama Hye Rin. Au revoir[19]..” ujarku sambil berlalu dan melambaikan tangan saat appa berseru agar berhati-hati.

Di teras depan, Hye Rin tengah menungguku dengan pakaian kasualnya. Ia menatapku dengan tidak sabar. “Cepatlah, aku tidak ingin terlambat satu detik pun menyaksikan Minhyuk-ah.”

Tanpa bekomentar, aku segera masuk ke mobil pribadiku dan Hye Rin mengikuti. Kami pun segera melaju di jalan raya Paris menuju Le Zenith de Paris.

***

Le Zenith de Paris…

Masih dengan gitar kesayanganku, kutatap ketiga rekanku. Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, dan Lee Jungshin. Mereka pun menatapku dengan penuh percaya diri. Setelah mendendangkan lagu-lagu penyemangat, kami pun melangkah menuju panggung. Sontak, para penonton bersorak sorai. Beberapa membawa poster bertuliskan berbagai pujian. Kuedarkan pandangan ke penjuru stadion. Berharap menemukan Adora Laurent. Kemudian, pandanganku terhenti pada seorang gadis yang tengah berdiri dalam diam. Saat pandangan kami bertemu, ia tersenyum. Memberikan senyuman termanisnya. Dengan suntikan semangat baru, aku dan Jonghyun pun memulai pertunjukan dengan gitar kami. Alunan lirik pun kunyanyikan saat Minhyuk mulai menggebuk drumya. Bahkan Jungshin pun berhasil mengguncang seisi stadion dengan bassnya. Seluruh penonton turut dalam kesenangan, poster dan light stick diangkat, sesekali mereka ikut bernyanyi. Sungguh malam yang luar biasa. Terlebih lagi, seorang Adora Laurent datang untuk menyaksikanku.

***

Pertunjukan usai, aku dan Hye Rin pun bangkit dari kursi penonton dengan perasaan puas.

“Ya Tuhan! Pertunjukan tadi membuatku semakin mengagumi Minhyuk!” seru Hye Rin dengan berbinar-binar. Aku mengangguk. Tapi, tidak ada yang lebih mengagumkan lagi selain Yonghwa. Aku sangat menikmati permainan gitar dan suaranya. Bahkan sejak setahun yang lalu. Saat ia menyanyikan lagu untukku di cafe ahjumma.

“Adora!” Tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku pun berbalik, dan menemukan Yonghwa berlari menghampiriku. Aku tersentak.

“Yo.. Yonghwa?”

Tanpa komentar apa pun, pemuda itu tersenyum kemudian mendekapku. Entah apa yang sebenarnya terjadi padaku, jantungku tiba-tiba berdegup semakin kencang. Otakku tak dapat berfungsi dengan baik dan bibirku mendadak kaku.

Bogo sipeoseo[20]” ujarnya tepat ditelingaku. Lalu, dilepaskan pelukannya.

“Adora, kau tahu betapa menyakitkannya menahan rinduku padamu selama ini? Aku tidak ingin seperti itu lagi. Aku tidak ingin kita terpisah lagi,” ucapnya sambil menatapku lekat. Dan kutemukan ketulusan di kedua matanya. Saat degup jantungku semakin kencang, pemuda itu berkata lagi, “tinggallah di Seoul.”

Sekali lagi aku tersentak. Pernyataan yang terakhir itu, terdengar seperti lamaran pernikahan calon mempelai pria pada calon istrinya. Jantungku mulai berdetak dengan tidak normal lagi. Namun, aku berusaha mengendalikan diri. Saat semuanya mulai kembali normal, aku sadar akan satu hal. Satu hal yang membuatku tersenyum. “Tanpa kau meminta pun, aku akan segera pindah ke Seoul,” ujarku dengan sedikit jeda. “Appa dipindahtugaskan ke sana. Dan mulai bulan depan, kami akan segera pindah ke Seoul.”

Yonghwa melotot, kedua alisnya terangkat. Terlihat jelas bahwa ia sangat terkejut.“Jinjja?”

Aku mengangguk mantap. “Lagipula, appa juga sudah melupakan masalahnya dengan eomma.”

Lalu, sekonyong-konyongnya, telingaku dipekakan oleh jeritan bahagia Yonghwa. Ia menumpahkan luapan kebahagian yang meledak-ledak dengan melonjak-lonjak. Aku tertawa karena tingkahnya yang berlebihan. Kemudian, karena jeritannya yang terlalu kencang, ketiga rekannya datang menghampiri Yonghwa dan dua diantara mereka menggeretnya menuju belakang panggung sambil tersenyum dan minta maaf atas tingkah memalukan rekan mereka.

“Adora! Aku menunggumu! Aku menunggumu di Seoul!” seru Yonghwa dari kejauhan.

“Aku tidak akan membuatmu menunggu lama!” balasku sambil melambai.

Sementara Yonghwa dan dua rekannya ke belakang panggung, seorang pemuda belum beranjak. Rupanya, ia menatap Hye Rin yang berdiri mematung di sebelahku dan tersenyum.

“Annyeong, Hye Rin-ah.. Kau tahu, hari ini kau terlihat sangat cantik,” ujarnya. Tenyata ini, pemuda yang bernama Minhyuk. Pemuda yang sama dengan yang kutemui di Seoul dan pemuda yang sama juga dengan yang dikagum-kagumi Hye Rin. Aku dapat melihat wajah merona pemuda itu saat mengungkapkan pujiannya. Namun, sebelum wajahnya semakin merona, ia segera pergi menyusul teman-temannya. Meninggalkan Hye Rin yang wajahnya semerah udang rebus.

THE END


[1] Dengar!

[2] Maaf

[3] Pergi!

[4] Pergi!!

[5] Ya

[6] Selamat malam

[7] Apa yang kau lakukan?

[8] Apa ini?

[9] Kerja bagus

[10] Lama tidak berjumpa, kau baik-baik saja?

[11] Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?

[12] Aku juga baik-baik saja.

[13] Siapa gadis itu?

[14] Kau menyukainya?

[15] Bohong!

[16] Masuklah

[17] Kau baik-baik saja?

[18] Mau ke mana?

[19] Selamat tinggal

[20] Aku merindukanmu

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

2 thoughts on “[LombaFF] Ajasshi, Comment Çava? (Girl, How are You?)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s