[LombaFF] Bittersweet Life

Rating                   :  T

Genre                   :  Mystery

Cast                       :  Lee Jonghyun

Lee Yoo Kyung

Other Cast          :  Lee Hae In

Kim Minjung

Lee Minhyuk

 

 

Kamar bercat putih pucat itu tetap tidak bergeming, tampak seorang perempuan muda yang berumur sekitar 20an sibuk mengobrak abrik tumpukan buku usang. Buku-buku usang itu berserakan, beberapa ada yang sudah bercerai berai dari sampulnya yang bergambarkan makhluk aneh.

Buku-buku itu hampir mempunyai kesamaan, disampul depannya terdapat gambar makhluk mengerikan berwarna hitam-merah dengan latar belakang padang gersang. Tampak sorot kehausan akan kejahatan dimata makhluk itu, tapi tampaknya hal itu tidak membuat perempuan itu ketakutan. Walaupun perempuan muda itu tampak lelah mencari, tapi dia tak berhenti mencari buku yang bisa membantunya menghadapi kenyataan pahit akan hari-hari yang akan dilewatinya.

Sorot mata kesepian dan raut wajah penuh kebencian menghiasi wajahnya yang cantik namun angkuh. Diruang lain, telepon tak henti-hentinya berdering tapi tetap diacuhkan olehnya, pikirannya sekarang dipenuhi buku usang peninggalan ibunya dulu.

Dengan sentakan kasar di tariknya buku bersampul hijau zamrud yang ada di atas lemari, benda tersebut diraihnya dan dibukanya dengan penuh semangat sampai-sampai lengannya bergetar hebat. Dengan tidak sabaran, dibaliknya halaman buku tua itu dengan kasar. Senyumnya menggembang penuh kemenangan saat dia berhasil menemukan sesuatu yang sudah lama dicarinya, yaitu cara memanggil iblis

*

Langit mendung menyambut menyongsong malam, burung-burung beterbangan beriringan, meneriakkan suara serak secara bersamaan. Jalanan sore itu tampak lebih ramai daripada biasanya, pejalan kaki berhamburan kesegala penjuru arah. Berjalan berdampingan ataupun seorang diri, beberapa dari mereka menunjuk-nunjuk kumpulan burung yang tak hentinya hilir mudik, adapula yang melirik jam tangan yang melingkar indah dipergelangan tangan mereka sambil sesekali meminta maaf kepada pejalan lainnya, tampaknya mereka terburu-buru.

Bus yang baru berhenti itu menurunkan lebih banyak penumpang dibanding dengan calon orang-orang yang akan menaikinya, dengan berjalan sedikit merangkak karena arus lalu lintas yang padat, bus itu meninggalkan daerah pusat kota seoul menuju daerah pinggiran seoul.

Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi, payung-payung serontak terkembang, melindungi pemiliknya. Orang-orang yang tidak membawa payung berlarian kearah halte-halte bus yang nantinya akan sesak dipenuhi orang.

Cafe-cafe ramai dikunjungi orang yang ingin menghangatkan badan mereka, kebanyakan dari mereka sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Mereka saling menautkan jari, senyum terkembang menghiasi bibir mereka, pipi bersemu merah menyatu dengan lampu gantung hiasan cafe itu.

Yoo kyung merapikan file-file yang sudah ditandatangani atasannya, menyusun dan mengkelompokkannya dalam beberapa bagian. Setelah itu dimasukkannya peralatan kerjanya dengan terburu-buru, dia melangkah besar-besar keluar kantor.

Beberapa kali dia hampir terpeleset di jalanan yang basah , lengannya beradu dengan pejalan kaki lainnya sembari kata-kata umpatan terlontar dari bibir merahnya. Yoo kyung bergerak kearah barat, bersamaan dengan 4-5 orang lainnya. Kakinya berbelok kearah kiri, kearah rumah neneknya, rumah yang ditempatinya seorang diri setelah beliau meninggal.

Yoo kyung menutup rapat semua pintu dan jendela, bergegas dia menuju kamarnya. Dengan penuh semangat ,dia menggambar lantai kamarnya dengan lingkaran beserta bintang ditengahnya, diletakkannya lilin besar di setiap sudut bintang tersebut. Mulutnya berkomat kamit mengucapkan kata-kata rumit dengan buku terbuka ditangannya.

Diraihnya pisau dan disayatnya pergelangan tangannya. Darah segar menetes, mengalir indah meliuk-liuk ditangan putihnya. Diteteskannya darah itu dalam sebuah lingkaran kecil berbentuk mata, mulutnya kembali berkomat kamit, sampai dia merasakan kamar itu bergetar. Pigura-pigura bergoyang, lalu berjatuhan.

Perasaan panik mulai menyerang Yoo kyung, dirasakannya udara semakin dingin menusuk-nusuk kulitnya. Bulu kuduknya meremang, bibirnya pucat bagaikan hantu, tenggorokannya tercekat. Tiba-tiba sebuah pusaran angin kecil bergerak ditengah kamar, semakin lama semakin kencang.

Yoo kyung ingin berteriak, tapi tenggorokannya bagaikan dijejalkan segenggam pasir. Jendela kamar menggertak nyaring, namun memilukan. Angin kencang menyerbu masuk, entah dari mana datangnya, membuat serpihan-serpihan kertas beterbangan tak tentu arah.

Hujan turun dengan derasnya, mengetuk-ngetukkan kukunya yang besar dan tajam pada setiap jengkal rumah tua Yoo Kyung. Suasana menjadi semakin gelap, karena malam sudah menghiasi langit kelabu. Malam ini, Yoo Kyung melakukan suatu ritual yang sangat terlarang, tapi itulah yang dicarinya, sebuah tantangan untuk hidupnya yang singkat.

Yoo Kyung mengerjapkan matanya, membiasakan matanya dengan suasana kamar yang gelap. Samar-samar dilihatnya wujud manusia lain dikamar itu selain dirinya. Perlahan dia berjalan terseok-seok menuju sosok itu. Mulutnya terbuka lebar, pupil matanya seketika membesar. Sesosok manusia itu ternyata iblis!

Iblis itu membalas tatapan terkejut Yoo Kyung. Matanya yang tajam menatap dengan licik, senyum misterius terkembang dibibirnya. Dengan gerakan cepat, sayap kelabu hilang dari punggung kokoh iblis itu. Dia menatap lantai kamar itu dengan bangga.

Yoo Kyung sudah bisa mengatasi rasa kagetnya, dicobanya mengeluarkan suara. Tapi mulutnya terkunci rapat, tidak membiarkan sepatah katapun keluar. Iblis itu berjalan kearahnya, kearah Yoo Kyung yang terdiam bagai patung.

Iblis itu tidak bertampang menyeramkan seperti yang orang-orang bilang, dia juga tak seperti iblis-iblis yang disebut-sebut dibuku. Tidak ada taring mengerikan, tidak ada dua tanduk yang menghiasi kepalanya. Dia bukanlah makhluk yang memiliki wajah mengerikan, maupun bentuk tubuh yang menjijikkan.

Iblis ini sama layaknya manusia yang mendekati kata sempurna. Wajahnya yang tampan dihiasi dengan mata coklat pekat yang tajam. Rambutnya yang hitam pekat berpotongan rapi, jatuh hingga pundaknya. Badannya yang kokoh dibalut pakaian serba hitam, dengan sayam kelabu dipunggungnya.

Dia tidak cocok disebut iblis yang mengerikan, dia lebih cocok disebut pemuda tampan dan misterius. Dengan keberanian sekaligus penasaran, Yoo Kyung bagai mendapat kekuatan, dia mencoba mengeluarkan suara..

“siapa kau?” tanya Yoo Kyung, walaupun dia sudah tau jawabannya

“iblis” dia menjawab dengan penekanan disetiap katanya, memperkuat kesan licik dalam dirinya

“tapi kau bukan iblis, iblis tidak ada yang sepertimu!”

Senyuman merendahkan terpapar jelas dibibirnya “jadi kau anggap iblis itu makhluk menjijikkan? Padahal kalian, manusia, jauh lebih menjijikkan dari kami”

“apa maksud perkataanmu itu?”

“dasar manusia bodoh. Manusia sepertimu itu lebih rendah dari kami, para iblis”

“aku tidak lebih rendah darimu! Karena aku bukan makhluk terkutuk sepertimu!”

“aku tidak peduli apa katamu. Apa alasan kau memanggilku?”

“apa kau bisa mengabulkannya?”

“tergantung bayaranmu untukku”

“berapa yang harus aku bayar?”

“bukan berapa, tapi apa. Aku ingin jantungmu, gadis manis”

“baiklah, tapi kau harus bisa mewujudkan keinginanku”

“haha, aku suka jantung yang diselimuti rasa kebencian”

“baiklah, kalau begitu kita setuju. Aku memberikan jantungku dan kau memberikan waktumu untukku”

Iblis itu menarik pergelangan tangan Yoo Kyung yang bersimbah darah, dan menancapkan jari-jarinya yang pucat. Yoo Kyung berteriak kesakitan, luka sayatan itu bertambah berkali lipat lebih sakit dari sebelumnya. Yoo Kyung mulai menangis, dan pandangan matanya menjadi kabur. Rasa lelah tiba-tiba menghampiri dirinya, dia terkulai lemas dan akhirnya tak sadarkan diri.

*

Cahaya terang masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Ciap-ciap burung terdengan dikejauhan, saling menyahuti satu sama lainnya. Orang-orang kembali memadati jalanan, berjalan bergandengan tangan. Hari ini semua bahagia, karena ini adalah chooseok.

Suara-suara berisik terdengan dari televisi, telepon bordering dengan nyaringnya. Yoo Kyung terbangun dari tidurnya dan segera keluar kamar untuk mengatasi suara ribut itu. Dicabutnya dengan paksa kabel saluran telpon, diraihnya remote televisi dan ditekannya tombol off.

Yoo Kyung menghempaskan badannya disofa berwarna coklat. Dia kembali mencoba untuk melanjutkan tidrnya, tapi tidak bisa. Perutnya terlalu kosong untuk tidur. Dia bangkit menuju kulkas. Diambilnya dua butir telur dan dimasaknya. Dibawanya hasil masakan itu menuju meja makan dan mulai disantapnya.

“kau tidak makan?” tanya Yoo Kyung

“aku tidak makan makanan manusia, aku makan manusia”

Nafsu makan Yoo Kyung hilang mendengar perkataan iblis itu, rasa mual menggantikan lapar. Diteguknya segelas air untuk menghilangkan rasa mual itu.

“jadi, siapa namamu? Aku Kim Yoo Kyung”

“apa nama penting bagimu?”

“apa kau lebih suka aku menyebutmu ‘iblis’? padahal kau akan menjalani hari-harimu di dunia sebagai ‘seseorang’?”

Iblis itu memalingkan muka “panggil saja aku Jonghyun”

“jadi apa permintaanmu Kim Yoo Kyung?”

Tatapan mata Yoo Kyung melembut, menunjukkan kesedihan “aku kesepian. Semenjak nenekku tiada, aku selalu sendirian. Aku tidak bisa membuka diriku pada orang lain, karena aku terlalu membenci mereka. Keluargaku membenciku”

Yoo Kyung menarik napas dan melanjutkan ceritanya “mereka sudah bercerai, tidak ada yang menginginkan aku menjadi bagian dari keluarga baru mereka. Mereka membuangku kesini, menelantarkan aku bersama nenek.

Tapi mereka malah memperebutkan Hae In, perempuan tidak tau diri itu merasa bangga dan menganggap aku sampah. Dia menertawakan aku dari belakang”

Mata Yoo Kyung memanas, butiran-butiran air mata tampak disudut matanya. Mengalir jatuh membasahi pipinya , tak bisa dibendung.  Dadanya berdebar-debar, penuh dengan kebencian. Tapi hatinya tidak merasa sesak lagi, hatinya lega karena dia bisa menceritakan penderitaan yang dialaminya.

“kau ingin balas dendam?” tanya Jonghyun

“tidak, aku tidak ingin balas dendam. Aku ingin kau menemaniku yang kesepian ini”

“apa hanya itu?”

Yoo Kyung mengangguk pelan bersamaan dengan ketukan dipintu. Yoo Kyung menatap pintu itu. Tapi  dia sama sekali tidak bergeming, ketukan semakin keras. Jonghyun menatap Yoo Kyung dan pintu secara bergantian. Dia memutuskan akan membuka pintu.

Tidak ada kata-kata pencegahan terucap dari mulut Yoo Kyung. Dia membiarkan Jonghyun membukakan pintu untuk tamunya. Matanya mengikuti setiap langkah kaki Jonghyun, dia merasa bisa mempercayai Jonghyun. Senyuman terlukis indah dibibirnya mengingat wajah Jonghyun. Dia tidak merasa takut pada iblis itu, dia merasa mereka seperti teman lama yang dipisahkan, kemudian dipertemukan lagi.

Pintu terbuka perlahan, tampak seorang perempuan cantik berdiri dengan bingkisan -yang sepertinya kue- ditangannya. Dia mengenakan dress biru pucat, dipadu dengan mantel coklat tua yang menampilkan kesan dewasa. Perempuan itu hendak memeluk si pembuka pintu, tapi tak jadi karena orang itu tidak dikenalnya. Orang itu terlihat familiar baginya, tapi orang itu bukan adiknya.

“maaf, apa benar ini rumah Kim Yoo Kyung?” tanyanya dengan keraguan. Karena seingatnya, adiknya itu yang menempati rumah ini

“ya, dia didalam. Masuklah” ujar Jonghyun

Jonghyun membuka lebar pintu, mempersilahkan perempuan itu masuk dengan canggung. Dia tidak pernah menyambut seseorang seramah ini. Dan lagi, dia tidak mengenal perempuan itu. Tapi perempuan itu mirip seseorang yang dia cintai sekaligus dia benci.

Perempuan yang bernama Hae In itu melangkah menuju meja makan. Dia hapal betul letak rumah ini dan dia belum lupa kebiasaan adiknya. Adiknya itu pasti ada dimeja makan, menyantap sarapan di hari libur ini.

Seketika dia berhenti, pandangannya bertemu dengan Yoo Kyung. Yoo Kyung tidaklah seperti ingatannya beberapa tahun lalu. Adiknya itu menjadi lebih kurus, dengan rambut coklatnya yang ikal terurai melewati bahu. Yoo Kyung mirip dengan orang yang tadi membukakan pintu.

“Yoo Kyung-ah. Apa kabarmu?”

“untuk apa kau kesini?”

“Yoo Kyung-ah, hari ini chooseok. Jadi aku membawakan kue, aku membuatnya khusus untukmu”

Di tatapnya sinis kakaknya itu. “untuk apa berpura-pura baik? Pergi sana!”

Yoo Kyung beranjak dari kursinya. Dilewatinya Hae In, pandangan matanya penuh dengan kebenciannya. Kemarahannya memuncak melihat Hae In. Yoo Kyung terus berjalan memasuki kamarnya, membanting pintu dengan keras. Menenggelamkan dirinya dalam bantal dan menangis dalam diam.

Hae In merasa iba melihat keadaan adiknya. Dia tidak menyangka adiknya begitu membencinya. Mengingat mereka dulu selalu bermain bersama, pulang sekolah bersama dan menyukai orang yang sama. Mereka dulu juga sering bertengkar, walaupun dia selalu memarahinya. Yoo Kyung tidak pernah membencinya.

Dihapusnya air mata yang mengalir dan diapun memutuskan untuk pulang. Diletakkannya kue buatannya itu diatas meja. Dirapikannya meja makan yang berantakan. Hae In pamit pulang pada Jonghyun dan memberikan salam sebelum menutup pintu dan pulang menuju rumahnya.

*

Setelah kejadian itu, Yoo Kyung merasa sangat dekat dengan Jonghyun. Dia menceritakan apa saja yang dialaminya, tentang hari-hari yang membosankan. Pekerjaan dikantor yang banyak namun tetap dinikmatinya, tentang hal-hal sepele yang dialami tiap harinya. Yoo Kyung menjadi lebih periang dan sering tersenyum semenjak adanya Jonghyun.

Dan Jonghyun selalu mendengarkan celotehan-celotehan dengan tenang, dia tidak pernah menyela ataupun bertanya. Seperti hari inipun, mereka pergi berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat di Seoul. Pagi harinya mereka mengunjungi beberapa kuil tua, kemudian berjalan di Apgeujong hingga hari beranjak sore.

Mereka berjalan menyusuri sungai Han yang tampak indah memantulkan cahaya kemerlap gedung-gedung disekelilingnya. Angin bertiup cukup kencang, tapi itu tampaknya tidak masalah bagi pengunjungnya yang semakin bertambah.

Jonghyun dan Yoo Kyung tidak berkata satu sama lain, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Mereka terus berjalan menyusuri sungai Han dalam diam. Yoo Kyung yang berada didepan Jonghyun berjalan kearah restaurant ditepi sungai Han. Restaurant itu bernama On River & Fairies, yang didesain dengan warna biru kemerlap dan nuansa hitam yang elegant.

Restaurant itu sangat indah, dengan pemandangan malam sungai Han yang bisa dilihat melalui jendela-jendela besar  yang mengelilingi restaurant. Disebelah meja yang mereka tempati, empat orang perempuan yang kelihatannya seumuran dengan Yoo Kyung berbisik-bisik sambil sesekali melirik Jonghyun.

Pelayan datang menanyakan pesanan mereka,  Yoo Kyung memesan steak dan salad. Dan dengan agak bingung pelayan itu mencatat pesanannya. Ya, hanya pesanan Yoo Kyung saja. Jonghyun kan tidak bisa makan makanan manusia ini.

Pesanan Yoo Kyung datang dan dia mulai memakannya karena perutnya memang sangat lapar. Jonghyun diam sembari menatap Yoo Kyung yang sedang mengunyah steak. Perempuan dimeja sebelah mulai berbisik-bisik lagi, tapi dengan suara yang bisa didengar dengan jelas. Mereka melirik Jonghyun dan Yoo Kyung bergantian. Bagaimana perempuan jelek itu membiarkan pemuda tampan tidak makan, begitu pikir mereka.

Yoo Kyung membalas tatapan perempuan-perempuan itu, dengan salah tingkah mereka melanjutkan makan malamnya. Yoo Kyung menatap Jonghyun dengan sebal, disodorkannya sepotong steak pada Jonghyun.

“ini, makanlah” kata Yoo Kyung dengan gerakan tangan hendak menyuapi

“bukannya aku sudah bilang, aku tidak makan. Ini bukan makananku” ucap Jonghyun

Ucapan Jonghyun itu mendapat tatapan dari perempuan-perempuan tadi. Mereka pikir, Jonghyun adalah seseorang yang mau mengalah demi kekasihnya yang menyedihkan. Jonghyun mengalihkan pandangannya dari Yoo Kyung dan melihat perempuan-perempuan itu. Kemudian dia tersenyum, senyum yang sangat mematikan dan imut disaat bersamaan.

Yoo Kyung yang melihat Jonghyun tersenyum kepada perempuan yang tidak dikenalnya itu merasakan dirinya dibakar cemburu. Dan pada saat itu, Yoo Kyung menyadari dia menyukai Jonghyun, sang iblis kematiannya.

*

Ruangan rapat mendadak sunyi, semua pandangan tertuju pada Yoo Kyung. Setelah membungkuk pada semua anggota rapat, dia bergegas menuju toilet. Banyak orang memperhatikannya, beberapa terlihat syok. Ada yang bertanya apakah dia baik-baik saja, tapi tidak diacuhkannya. Dia terus melangkah menuju toilet.

Sesampainya ditoilet, dinyalakannya kran dan dia membasuh mukanya yang bersimbah darah. Darah terus mengalir melalui hidungnya. Yoo Kyung berusaha menghentikannya menggunakan bajunya, tapi tidak berhasil. Lengan bajunya yang berwarna biru muda berubah menjadi merah. Dia merasa mual dan pening melihat banyaknya darah, dia jatuh terduduk dilantai yang dingin.

Yoo Kyung terbangun karena mendengar tangisan. Lampu putih yang bersinar terang di langit-langit kamar menyambutnya. Bau obat-obatan tercium terbawa angin, gorden hijau lembut membatasi kasur-kasur kecil diruangan ini. Yoo Kyung tidak heran kenapa dia bisa berada dirumah sakit. Karena dia berlari-lari dikantor dengan bersimbah darah. Kejadian itu pastilah menarik perhatian rekan-rekan kerjanya.

Yoo Kyung mengalihkan perhatiannya kearah kiri. Seseorang sedang menangis membelakanginya, berpelukan dengan ibunya. Menangisi pasien dikasur sebelah, yang berbaring dengan kaki diikat keatas. Sepertinya patah kaki, pikir Yoo Kyung.

Yoo Kyung sangat terkejut ketika tau Hae In sedang duduk disisi lain kasurnya, menatapnya penuh senyum kesedihan. Jonghyun berdiri disebelah Hae In, dan pura-pura mengalihkan pandangannya ketika Yoo Kyung menatapnya. Hae In meraih tangan Yoo Kyung dan mengelusnya lembut.

“merasa sudah baikan Yoo Kyung-ah?”

“aku mau pulang” ucap Yoo Kyung kepada Jonghyun, dia mengacuhkan Hae In

Jonghyun hanya diam saja, tidak membalas perkataan Yoo Kyung

“Yoo Kyung-ah, kau harus istirahat dulu. Aku sudah memberi tahu ibu, dia akan segera datang” ujar Hae In penuh pengertian

Yoo Kyung merasa mual, muak melihat Hae In. Diraihnya botol-botol obat di meja kecil dekat tempat tidurnya. Dilemparkannya botol-botol kecil itu kearah Hae In. Hae In membeliak terkejut, dalam hitungan detik saja botol-botol itu akan menghantam tubuhnya, dan pecah berhamburan bersimbah darahnya.

Hae In pasrah, tidak ada gunanya dia menghindari botol-botol berkaca kuning gelap itu. Dia memejamkan mata, berharap hal itu akan membantunya menghindari rasa sakit. Bunyi pecahan beling menghantam lantai memecah kesunyian.  Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Hae In tidak merasakan botol-botol itu menghantam tubuhnya.

Dia membuka matanya secara perlahan, takut kalau-kalau ternyata badannya bersimbah darah. Tapi dia tidak merasakannya karena rasa takut yang terlalu mendominan. Dikerjap-kerjapkan matanya, agar matanya membiasakan cahaya lampu yang terang.

Jonghyun berdiri tepat dihadapan Hae In, dengan tangan terbentang melindungi perempuan itu. Pecahan beling berserakan dikakinya, tersebar menjadi pecahan-pecahan kecil. Tutupnya yang terbuat dari alumunium berputar, bergerak berkelok-kelok lalu jatuh terdiam dikaki Yoo Kyung.

Yoo Kyung pulih dari keterkejutnya. Perasaan bersalah dan rasa canggung menghampirinya. Jonghyun tampak lebih menakutkan, dengan matanya yang tajam dan menunjukkan kemarahan. Bahunya naik turun, dan sekilas tampak taring mengerikan disudut bibirnya.

Yoo Kyung memutuskan untuk pergi dari rumah sakit. Dicabutnya selang imfus, dengan sekali tarikan. Darah mengalir dari pembuluh darah ditangannya. Yoo Kyung meringis menahan sakit ditangannya, air mata mengalir jatuh. Dilepaskannya syal yang melingkar dilehernya, dan dibekapnya tangan kiri yang masih mengeluarkan darah.

Yoo Kyung menatap Jonghyun dan Hae In. Hae In tampak terkejut, tidak menyangka adiknya senekat itu. Yoo Kyung berjalan cepat menuju pintu, dan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan berlari. Lengannya bagai diremas-remas rasa sakit. Air mata mengalir membasahi wajahnya, tapi dia tidak peduli. Dia terus berlari hingga keluar dari rumah sakit.

Pergelangan kaki Yoo Kyung tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya, dia jatuh tapi Jonghyun berhasil menangkap pergelangan tangan Yoo Kyung. Dipapahnya Yoo Kyung kembali ke rumah sakit. Yoo Kyung hanya diam saja, dia tidak sangup lagi berteriak ataupun melepaskan diri dari Jonghyun. Dia setengah sadar karena rasa pusing yang menusuk-nusuk kepalanya, dipejamkannya matanya.

Dapat didengar Yoo Kyung potongan-potongan percakapan dokter yang memeriksanya dengan seorang wanita. Yoo Kyung mencoba membuka matanya, tapi matanya terlalu berat. Tenggorokannya terasa sakit, dia mencoba meraih-raih gelas dalam bayangannya.

Seseorang menegakkan tubuhnya yang tadi terbaring. Disodorkannya gelas dan diteguk Yoo Kyung isinya. Orang itu memanggil-manggil namanya. Dari suaranya yang serak, sepertinya orang ini habis menangis. Yoo Kyung kembali mencoba membuka matanya, dan kali ini berhasil. Dilihatnya seseorang yang tadi membantunya itu, orang yang bersuara serak sehabis menangis itu. Orang itu adalah ibunya!

*

Sudah lewat tengah malam saat Jonghyun masuk kekamar inap Yoo Kyung. Pikiran Jonghyun sedang kalut, otaknya terus memutar ulang kejadian pertemuan dirinya dengan ibu Yoo Kyung. Dia tidak mengira Min Jung adalah ibu dari Yoo Kyung. Seseorang yang berarti dimasa lalunya itu.

Yoo Kyung bermimpi dalam tidurnya. Dia bermimpi bertemu ibu peri yang membawanya mengelilingi rerumputan luas. Ibu peri itu memberinya banyak kue dan buah-buahan. Yoo Kyung bagaikan anak kecil yang kelaparan, diraihnya semua makanan itu dan dikunyahnya. Tapi tak lama kemudian, kulitnya berubah menjadi biru, kemudian mengejang-ngejang. Ibu peri itu mulai berubah menjadi nenek sihir, dengan muka keriput dan senyuman menyeringai.

*

Jonghyun masuk keruang perpustakaan. Buku-buku usang bertebaran diatas karpet merah tebal. Buku tebal bersampulkan hijau zamrud itu menarik perhatiannya. Diraihnya buku itu, buku yang memanggilnya kedunia manusia. Dibawanya buku itu kekamar Yoo Kyung dan diletakkannya diatas meja.

Yoo Kyung menuju kamarnya, dia ingin berbaring. Mengistirahatkan badannya yang terlalu lelah bekerja. Dia meletakkan tas kerjanya, dan tangannya menyentuh sesuatu, buku yang tebal. Dibalik-baliknya halaman buku usang yang pernah dia gunakan dulu. Dihalaman belakangnya ada sebuah foto. Foto itu sudah usang, dengan tiga orang tersenyum bahagia didalamnya.

Betapa terkejutnya Yoo Kyung karena dia mengetahui wajah ketiga orang itu. Seorang perempuan berseragam sekolah dengan rambut panjang yang digerai itu adalah ibunya. Laki-laki berseragam bisbol yang merangkul ibunya adalah ayahnya. Dan seorang anak laki-laki yang menggunakan seragam seperti ibunya itu adalah Jonghyun.

Yoo Kyung sangat yakin itu adalah Jonghyun, iblis yang selama ini selalu bersama dirinya. Yoo Kyung membalik foto itu, disana tertulis “mengenang yang telah tiada, Lee Jonghyun”. Yoo kyung sangat yakin itu adalah tulisan tangan ibunya. Kepalanya pening, kejadian ini terlalu membingungkan buatnya. Kenapa Jonghyun yang dia ketahui sebagai iblis adalah teman ibunya yang telah meninggal.

Pintu kamar membuka nyaring ditengah kesunyian, Jonghyun berdiri dibaliknya dengan kepala menunduk. Yoo Kyung berjalan kearah Jonghyun, diacungkannya tepat dimuka Jonghyun foto itu.

“ige mwoya? Apa kau ingin mati hah?”

“bukannya aku sudah mati Yoo Kyung-ssi”

“ciih, apa kau ingin bercanda? Kenapa kau bisa ada difoto ini bersama orang tuaku? ”

“bukan, bukan bersama orang tuamu. Tapi hanya bersama ibumu”

“mwo? Apa maksudmu?”

“apakah kau tahu mengapa ayahmu membencimu?”

“apakah itu sesuatu penting yang perlu aku ketahui?”

“ne, hal itu sangat penting. Karena disitulah cerita ini dimulai Yoo Kyung-ssi”

“kau berkata bagaikan tahu segalanya. Hanya karena kau mengenal ayah dan ibuku”

“apa? Jangan panggil pria brengsek itu ayahmu” raung Jonghyun

Yoo Kyung merasa marah mendengar kata-kata Jonghyun. Diraihnya buku bersampul hijau zamrud itu. Dibaliknya halaman demi halaman dengan cepat, hingga samapailah dia dihalaman ‘cara memanggil iblis’. Jonghyun yang melihat gerakan tangan Yoo Kyung meraih buku itu dan melemparnya jauh kesudut kamar.

“apa kau tau akibatnya jika kau membaca buku itu sekali lagi?”

“aku tidak peduli Jonghyun. Aku ingin kau kembali kedunia mu lagi”

“apa? Kau ingin aku kembali dengan cara itu? Apa kau tahu Yoo Kyung, cara itu akan membawamu ke dunia iblis”

“apa pedulimu kalau aku kedunia iblis? Apa pedulimu?”

“Yoo Kyung, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Kau boleh memutuskan keinginanmu setelah mendengarnya”

“Yoo Kyung, kita ini keluarga. Aku adik dari ayahmu”

-flashback-

Bunga-bunga berjatuhan disore itu, Minjung dan Jonghyun berteriak dijalan sepi dan tandus didekat rumah mereka. Ditangan Jonghyun terselip buku usang bersampulkan hijau zamrud. Beberapa kali Minjung ingin mengambil buku itu, tapi Jonghyun mencegahnya.

“Minjung-ah, percayalah padaku. Dia itu berteman dengan iblis”

“Jonghyun jangan sembarangan menuduh Minhyuk. Dia itu hyungmu kan? Bagaimana bisa kau menuduh dia yang tidak baik?”

“tapi Minjung-ah, aku melihatnya sendiri. Dia sudah berteman dengan iblis itu jauh sebelum kalian pacaran. Percayalah padaku Minjung-ah, aku akan membuat iblis itu pergi”

“jangan Jonghyun-ah, itu berbahaya. Bagaimana kalau dia memakanmu?”

“apa, memakanku? Itu hanya ada dicerita. Minjung-ah, aku akan membacakan mantranya. Tapi ada sesuatu yang ingin aku beritahu”

“ye? Apa itu Jonghyun-ah?”

“selama ini kita berteman baik, tapi itu tidak cukup karena aku mencintaimu Minjung. Walaupun kau sudah bersama hyung, aku tetap mencintaimu”

Jonghyun mulai membaca mantra dibuku itu. Angin datang dari arah timur, menerbangkan serpihan-serpihan daun yang berguguran. Pasir-pasir ikut tersapu angin, langit berubah menjadi kelam. Pagar-pagar kayu berderak-derak terdorong angin yang makin lama makin kencang.

Jonghyun menghentikan mantra dan membuka matanya. Minjung berdiri didepannya dengan wajah khawatir. Mereka berdua menatap langit yang gelap. Angin kencang menerjang Minjung membuatnya terjatuh. Buku bersampul hijau zamrud itu tergeletak dikakinya.

Minjung tak kuasa menahan air matanya. Sahabat baiknya menghilang secara tiba-tiba. Semejak kejadian hari itu, tidak ada lagi yang pernah melihat Jonghyun

-flasback end-

Jonghyun mengadahkan kepalanya, berusaha agar air mata itu tidak jatuh. Sedangkan Yoo Kyung menangis sejadi-jadinya.

“Yoo Kyung-ah, di tempat terkutuk itu yang ada hanyalah kebencian. Kami tidak mengenal bagaimana rasanya mengasihani”

Jonghyun bangkit dan mengambil buku bersambul hijau zamrud. Dicabutnya foto dirinya dengan Minjung dan Minhyuk hyung. Disobeknya bagian Minhyuk, hingga menyisakan foto dirinya dan Minjung.

Dia membacakan mantra yang sangat dihafalnya itu. Lampu dikamar mendadak mati, kemudian hidup lagi dengan bunyi gedebuk pelan. Buku itu tergeletak ditempat Jonghyun tadi berdiri. Tidak ada lagi Jonghyun yang menemani hari-hari Yoo Kyung. Yang ada hanyalah kenangan yang ditinggalkannya.

*

Teriknya matahari membangunkan Yoo Kyung dari tidurnya. pandangannya tertuju pada kalender bernuansa biru yang ada diatas meja. Segera dia melangkah menuju meja itu, memastikan bahwa pertemuannya dengan Jonghyun bukanlah mimpinya.

Sesuatu yang licin menghentikan langkah Yoo Kyung, dia menginjak sebuah foto yang sudah disobek. Diraihnya foto itu dan dipandanginya dengan senyuman bahagia. Yoo Kyung yakin, pertemuannya dengan iblis bernama Jonghyun itu bukanlah mimpinya.

 

 

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

15 thoughts on “[LombaFF] Bittersweet Life

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s