[LombaFF] Can You Smile?

Rating             : PG-15

Length                        : Oneshot

Genre              : AU, Tragedy, Romance

Cast                 :

  • Kang Hyeri (OCs)
  • Lee Jonghyun
  • Jung Yonghwa
  • Lee Jungshin
  • Kang Minhyuk

Note                : Aku cuma menyalurkan hobiku lewat ff ini. Kebetulan ff ini terbit karena imajinasiku dan sedikit campur tangan oleh pengalaman seorang teman. Semoga ff ini dapat dinikmati oleh pecintanya. Terima kasih juga buat yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca ff yang penuh dengan kekurangan ini. Aku juga bukan penulis hebat jadi mohon maaf jika didalamnya terdapat typo menyebalkan. Hehehe selamat membaca! J

 

 

 

 

Summary: Lee Jonghyun, ia tidak tahu apakah dirinya harus berhenti bermimpi atau tidak ketika gadis yang sudah lama dicintainya dan gadis si pemberi semangatnya itu pergi meninggalkannya. Padahal Jonghyun yakin ketika ia bersamanya mereka bisa menjadi lebih baik.

***

Tepat di balkon kampusnya kini mereka berada. Seperti sebelumnya, balkon adalah tempat favorit mereka ketika menghabiskan jam istirahatnya sembari menghamparkan pandangannya keseluruh penjuru kampus dari atas. Namun di waktu sekarang situasinya berbeda.

“Oppa,” ucap Hyeri membuka perbincangan.
“Ya?” jawab Jonghyun datar sembari ia menghabiskan sebungkus roti yang ada di genggaman tangannya.
“Maaf. Aku rasa hubungan kita cukup sampai disini saja.”
Pandangan Jonghyun seketika langsung berubah. Sorot matanya tampak berkaca. Bibirnya seakan membeku dan detak jantungnya mungkin berhenti berdegup untuk beberapa saat.
“Kenapa?” tanyanya sambil menggenggam erat kedua bahu Hyeri dengan sedikit mengguncangkannya.
“Jujur, aku tidak suka caramu mengatur hidupku. Aku tidak bisa menjadi sempurna seperti yg kau ingin! Kau sudah terlalu jauh mengaturku. Sadarkah kau akan hal itu? Aku lelah.” Pungkas Hyeri.

 

Tanpa dirasa, butiran air mata bening itu keluar bagai meneriakan isi hati Hyeri. Sementara Jonghyun tak kalah sedihnya. Hanya saja ia dapat menahannya. Mentalitas prianya terbangun kokoh. Hingga kelenjar air matanya tidak basah sedikitpun.

 

“Apa maksudmu? Aku hanya ingin kau menjadi pribadi yang berani dan siap memikul resiko atas keputusan apa yang telah kau ambil. Jawab aku! Aku tidak pernah mengekangmu. Aku hanya ingin kau berubah demi aku. Alasan macam apa itu?” Jonghyun yang tampak selalu keren itu mulai terbawa emosi. Desahan nafasnya pun naik turun karena ini benar-benar mencambuk hatinya.

“Kau tidak tahu! Kau tidak mengerti aku. Selama 2 tahun ini aku memendamnya. Bahkan, asal kau tahu. Aku terpaksa merelakan kesempatan kuliahku di Jerman dengan gelar insinyur nantinya dan mengambil jurusan kedokteran di Korea, kau tahu itu kan? Tapi kau tidak tahu betapa beban sungguh mengintimidasiku. Ayahku yang memohon agar aku kuliah di fakultas kedokteran. Dan ia melakukan itu agar aku bisa bersanding denganmu. Aku mencari beasiswa kesana kemari untuk mengejar ini. Mengejar cita-cita ayahku agar kita nantinya bisa menjaadi sepasang kekasih calon dokter, mengabdi kepada masyarakat. Itu semua demi kau. Demi menjaga imej keluargamu juga. Agar mereka tidak malu jika kelak mempunyai menantu dari keluarga yang teramat sangat sederhana dikalangan kaum borjuis seperti kalian.” Ujar Hyeri terisak.  Tangisnya pecah, dengan segenap hati Jonghyun langsung mendekap Hyeri kedalam pelukannya. Semua emosi jiwa Hyeri tumpah didalam pelukan hangat itu.

 

“Sudah, hentikan ini. Aku tidak butuh celotehan yang keluar dari mulutmu itu.” Dikecupnya puncak kepala Hyeri oleh bibir manis Jonghyun. Hal tersebut seketika dapat meleburkan hati Hyeri. Hanya seketika, hanya sementara dan tidak dapat mengubah keteguhan hatinya.

 

“Tapi aku mohon, akhiri hubungan ini atau kau akan menyesal nantinya. Tolong percaya padaku, aku bukanlah wanita yang terbaik untukmu, oppa.”

 

“Tidak ada seorang wanita yang sempurna untuk mendampingiku di dunia ini tapi aku yakin harus ada seorang wanita setia disampingku untuk menjadi teman hidupku dan itu kau, Hyeri-ya.”

 

Kata-kata Jonghyun barusan sekali lagi dapat meleburkan hatinya, membuatnya terbuai dan terkadang melenyapkan keteguhan hatinya untuk berpisah dengan pria yang sudah 1 tahun menjadi kekasihnya ini.

 

“Ini, aku kembalikan kalung pemberianmu ini. Kalung ini sudah tidak bisa aku anggap sebagai milikku. Kau bisa memberikannya kepada wanita lain yang lebih baik dan sempurna daripada aku. Sekarang aku harus pergi.”

 

“Hyeri.. k k k kau mau kemana? Hyeri-yaa.. tunggu aku.” Dengan susah payah Jonghyun mengejar Hyeri yang pergi begitu saja. Tapi sosok Hyeri lebih dahulu menghilang. Dan dari kejauhan ia terlihat sudah menumpangi taksi yang lewat di depan kampusnya.

 

***

 

Seminggu berlalu, Hyeri menghilang tanpa kabar. Jonghyun sudah mencaarinya kesana-kemari tapi nihil hasilnya. Sanak saudaranyapun sulit dijumpai.

 

Dengan mengendarai motor ninjanya, segera setelah jam kuliah usai Jonghyun bergegas menuju tempat dimana mereka pertama kali berkencan dahulu, taman rekreasi. Tanpa mempedulikan pengendara jalan lain yang mengklaksonnya dikanan kiri akibat perbuatannya yang berkendara dengan kecepatan tinggi di sepanjang jalan. Namun ia tak menghiraukannya, yang ada dipikirannya hanya Hyeri, satu-satunya wanita yang ia cinta tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

 

“Hyeri-ya.. dimana kau sebenarnya? Aku sulit hidup tanpamu.” Batin Jonghyun.

 

Jonghyun segera menghamparkan pandangannya ke segala sudut taman rekreasi ini agar dapat menemukan sosok yang ia cari. Berjalan terus dan terus.

 

“Maaf,  apakah Anda melihat wanita yang ada dalam foto ini disekitar sini?” tanyanya kepada seorang pria setengah baya yang sedang berjalan bersama anak kecil dengan membawa kembang gula itu.

 

“Tidak anak muda, aku tidak melihatnya.”

 

“Oh, terima kasih.”

 

Perjuangannya yang tak pernah padam ini membuat seorang badut berkostum panda itu tertarik untuk mendekat. Si badut itu malah memintanya berfoto bersama, bayangkan saja.

 

“Maaf, aku sedang terburu-buru. Tolong jangan aku yang lain saja.”

 

Akan tetapi si badut itu kemudian mengajaknya ke sebuah kedai teh dipinggiran taman rekreasi ini. Mengerti bahwa niat si badut ini baik maka Jonghyun menurutinya saja.

 

“Surprise!!” badut membuka kostum panda di kepalanya.

 

“Lee Jungshin. Ternyata kau! Sial. Aku sedang terburu-buru tadi.”

 

“Hahahaha kau apa kabar? Lama kita tak bertemu. Anyway, kau mau pesan apa? Biar aku yang traktir.”

 

“Kabarku buruk, terserah kau saja mau pesan apa.”

 

“Ada apa denganmu? Kau tampak bukan seperti Jonghyun yang biasanya. Dan tadi itu, aku lihat kau membawa secarik kertas. Itu ditanganmu. Aku mau lihat. Kemarikan.”

 

“Hah? Siapa dirimu? Enak saja kau ini.” Dengan sigap foto yang dimaksud Jungshin itu kertas putih dimasukannya ke dalam saku jaketnya.

 

“Aku tahu kau sedang ada masalah, ceritalah sedikit kepadaku.”

 

“Tidak ada, lupakan saja. Lalu kenapa kau bisa berubah menjadi badut panda seperti ini? Lelucon haha.”

 

“Aishh, jangan meledek. Awas kau.”

 

“Hyeri…. Dia….” Tanpa sengaja Jonghyun melihat Hyeri sedang berjalan di depan kedai yang sedang ia singgahi dengan Jungshin.

 

“Apa? Siapa yang kau bilang?” Tanya Jungshin spontan karena mendengar Jonghyun berkata sesuatu dengan samar tadi.

 

Belum selesai Jungshin bercerita panjang lebar, Jonghyun malah pergi meninggalkannya dan memutuskan untuk mengikuti kemana sosok wanita yang ia cari selama satu minggu ini pergi. Setelah mengitari beberapa tempat akhirnya ia mendapati wanita ini duduk diam dipinggir halte dekat telepon umum.

 

“Hyeri-ya.. ternyata kau masih mengingatnya.” Batin Jonghyun.

 

Tepat ditempat ini dulu mereka dipertemukan untuk pertama kalinya. Dengan penuh kehatian ia bersembunyi dari seberang jalan dibalik pohon.

 

*flash back*

 

Hari begitu gelap padahal jam baru saja menunjukkan pukul 2 siang. Cuaca hari ini sangat tidak menentu. Hyeri yang baru saja pulang sekolah sengaja berteduh dari guyuran air hujan yang membasahi jalanan itu di halte. Seragam sekolahnya basah dan ia sedikit menggigil karena kedinginan. Petir yang tebentukpun tidak kalah mengerikan juga bunyinya.

 

Beberapa menit berlalu, teman-teman sekolahnya yang sama-sama berteduh mulai meninggalkan halte ini satu  persatu. Ada diantara mereka yang pulang dengan menumpangi taksi, bahkan dijemput oleh orang tuanya. Akan tetapi tidak dengan Hyeri. Ia hanya duduk diam sambil menunggu bis datang.

 

“Aishh, hujan sialan.” Gerutu seorang lelaki yang baru saja berteduh dan turun dari motor ninjanya ini.

 

“Kau sedang berteduh juga?” tanyanya kemudian kepada Hyeri.

 

 

“Iya, hujannya begitu deras dan bis ke arah rumahku tak kunjung datang.”

 

“Pakai ini.” Dengan inisiatifnya lelaki itu memberikan sapu tangannya kepada Hyeri. Ia tahu gadis ini sangat kedinginan. Walau mimik mukanya tidak menampakkan hal itu.

 

“Terima kasih.” Hyeri menerimanya dengan senang hati, langsung saja ia pergunakan untuk mengringkan wajah dan beberapa bagian tubuhnya yang kebasahan. Dan senyum sumringah itu maih terpancar dari wajahnya yang ramah.

 

Sementara itu, raut wajah Jonghyun juga menunjukkan kebahagiaan. Tapi ia menyembunyikannya dengan sebisa mungkin. Ia berusaha tetap tampil cool, terlebih kini ia sedang berada didepan gadis yang telah membuatnya jatuh cinta (pada pandangan pertama).

 

Dan disinilah segala ceritanya dimulai. Sejak saat itu mereka jadi akrab, walaupun mereka berbeda sekolah tapi mereka seumuran.

 

*flash back end*

 

 

“Ku sudah datang rupanya.”

 

“Maaf membuatmu lama menunggu, tadi aku terjebak macet dijalan. Pakai ini.” Lelaki itu memberi Hyeri sebuah helm dan mereka langsung pergi dengan motornya.

 

Terdapat sesak di dada Jonghyun. Ia masih menerka-nerka siapakah lelaki yang bersama Hyeri, kekasihnya itu. Dan mereka sangat akrab. Pemikiran buruk segera saja mampir diotak Jonghyun. Tanpa di aba-aba motor yang mereka kendarai pergi. Hyeri memeluk erat pinggang si lelaki itu. Sungguh ini bukan pemandangan yang mengenakkan hatinya.

 

***

“Tentang sarkoma osteogenikmu aku tidak dapat berbuat banyak. Kau harus melakukan operasi sumsum tulang belakang jika kau ingin sembuh.” Ucap dokter itu dengan penuh prihatin kepada sang pasien, Kang Hyeri.

 

“Apa tidak ada cara lain, Dokter Han? Aku ingin sembuh. Aku juga lelah kalau setiap malam harus menahan rasa nyeri yang begitu hebat disekitar leher dan punggungku.” Hyeri bertanya dengan penuh harap. Matanya berkaca.

 

“Iya, apakah kau berani menjamin berapa persen kemungkinan Hyeri noona sembuh jika ia melakukan operasi?” Minhyuk, adik Hyeri ini tak kalah juga untuk bertanya.

 

“50 persen.”

 

“Ah, baiklah dokter. Akan aku pikirkan terlebih dahulu. Terima kasih sebelumnya.”

 

“Tunggu, sebagai alternatifnya kau bisa melakukan pengobatan herbal. Bagaimana? Ya tetapi dosis obat-obatan herbal itu lebih banyak dari pada dosis yang aku berikan selama pengobatanmu ini.”

 

“Mungkin aku lebih memilih operasi saja dok, lusa aku akan memberikan keputusannya. Kami pamit pulang.”

 

Dalam perjalanan pulang menuju ke rumahnya Hyeri dan Minhyuk terus saja berbincang untuk menemukan jalan keluarnya. Minhyuk sebagai adik yang paling dicintainya pasti ingin yang terbaik untuk kakaknya. Begitupn Hyeri yang ingin sembuh dari penyakitnya. Mereka sama-sama menginginkan yang terbaik. Setelah sampai dirumahnya, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak, bersantai diruang keluarga sambil menonton televisi.

 

“Noona, apa kau tidak takut jika kau menjalankan operasi sumsum tulang belakang?”

 

“Takut, bahkan aku sangat takut. Aku tidak mau tidak dapat melihat adikku ini untuk selamanya setelah operasi. Karena aku begitu menyayanginya.”

 

Pernyataan Hyeri barusan sangat mencambuk hati Minhyuk. Ia tidak dapat mengira bahwa kakak kandungnya yang sudah berpisah selama 2 tahun terakhir ini begitu melankolis. Mereka terpisah karena Minhyuk harus melanjutkan sekolah musiknya di Beijing dan tinggal bersama orang tuanya.

 

“Noona..” langsung saja Minhyuk memeluk erat kakaknya bagai tidak ingin kehilangannya. “Aku berjanji, aku akan menjagamu. Kau tidak boleh lepas dari kehidupanku terlebih lagi jika kau menghilang setelah operasi nanti.”

 

Suasana kesedihan begitu melekat pada mereka. Satu sama lain dari mereka ingin yang terbaik dan tidak ingin kehilangan salah satu diantara mereka.

 

***

 

Lee Jonghyun, dengan penuh kedamaian sedang mendengarkan musik menggunakan iPod nya. Posisinya terduduk dibawah pohon sakura ditaman belakang kampus. Dengan memejamkan mata ia seakan terbawa suasana oleh lantunan lagu ballad Teardrops In The Rain.

 

Ia tidak habis pikir jika Hyeri gadis yang dicintainya berani mengkhianatinya. Hyeri memang belum diputusi olehnya. Akan tetapi Hyeri yang memintanya sendiri. Padahal Jonghyun tidak ingin dan tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Beban di otaknya sungguh menyebalkan. Ia benci hal ini. Jika ia teringat sepertinya ia ingin lari dari kehidupan yang fana ini.

 

“Ya! Lee Jonghyun.. sedang apa kau?” seorang teman memanggil namanya dari arah lapangan voli dekat taman belakang.

 

Jonghyun langsung melihat kearah sumber suara dan ia dapati itu adalah suara Jung Yonghwa, kakak tingkat dikampusnya namun mereka berbeda jurusan. Jika Jonghyun adalah mahasiswa fakultas kedokteran maka Yonghwa dia adalah mahasiswa fakultas seni.  Mereka bertemu ketika berada dalam satu pertemuan di kampusnya dan sejak saat itu mereka menjadi dekat karena sama-sama memiliki hobi pada musik.

 

“Hyung, tumben sekali kau kemari.” Sapa Jonghyun ketika Yonghwa menghampirinya.

 

“Tadi aku sedang berada di gedung seni rupa dan kebetulan lewat sini. Kita ke kantin yuk? Kau sudah tidak ada jam kuliah kan?”

 

“Boleh. Kau yang mentraktirku yaa hehe J”

 

“Tidak masalah, tapi kau janji harus bercerita kepada hyungmu ini. Aku tahu kau sedang dalam masalah.”

 

“Apa?”

 

“Pasti dengan kekasihmu kan? Aku ini bisa membaca raut wajahmu. Aku kan hebat. Hahaha”

 

Mereka berdua berbincang banyak di kantin, terkadang saling tertawa dan Yonghwa sebagai hyung nya tidak segan untuk memukul kepala Jonghyun. Pemandangan itu sangat penuh kekeluargaan, walaupun mereka bukan saudara kandung sekalipun.

 

“Sebenarnya kau kenapa?”

 

“Hyeri, kekasihku.. kemarin aku melihatnya menumpangi motor bersama dengan seorang lelaki. Nampaknya ia seumuran dengan kita.”

 

“Lalu?”

 

“Ah kau bodoh hyung. Masa tidak mengerti perasaanku.”

 

“Eh? Sial kau. Mengataiku bodoh.”

 

Tanpa diaba-aba Yonghwa memukul kepala Jonghyun yang berakibat membuat Jonghyun meringis agak kesakitan.

 

“Justru kaulah yang bodoh. Jangan buruk sangka kepada kekasihmu itu, siapa tahu lelaki yang bersamanya waktu itu adalah adik atau sepupunya.”

 

“Bukan begitu, sudah 1 minggu kami lost contact dan aku sangat merindukannya.”

 

“Kau sudah menghubungi keluarganya?”

 

“Belum, mereka ada di Beijing bukan di Seoul. Hyeri hanya seorang diri disini.”

 

”Hmm… dan aku bingung bagaimana harus memberi saran kepadamu.”

 

***

 

Sore yang mendung ini bagai melukiskan suasana hati seorang Kang Minhyuk yang diliputi penuh kekhawatiran. Tim dokter didalam sana sedang menjalankan proses operasi pencangkokan sumsum tulang belakang untuk kakaknya, Kang Hyeri. Minhyuk yang sedari tadi mondar-mandir tak karuanpun tak henti-hentinya memanjatkan doa pada Sang Pemberi Nafas agar segala sesuatu yang menyangkut kelangsungan hidup sang kakak diberi kemudahan. Kedua orang tua mereka tidak hadir pada hari yang penuh kelabuan ini. Ya, mereka sengaja tidak member tahunya karena mereka tidak ingin membuat orang tuanya cemas. Ini memang hal yang terberat yang pernah dijalani seorang Kang Hyeri. Berjuang untuk hidup atau matinya. Bertarung dengan nasib. Karena takdir yang membuat nasibnya memiliki penyakit mematikan ini.

 

Sementara itu, dalam pengaruh obat bius Hyeri tertidur lelap. Bayangan masa lalunya tiba-tiba saja muncul. Mulai dari ia balita sampai beranjak dewasa dan kenal seorang Jonghyun. Ada rasa iba didalam halusinasinya. Ia seperti ingin memanggil nama Lee Jonghyun. Ingin seperti dulu lagi ketika mereka masih bersama.

 

 

 

“Hyeri-ya.. aku tidak pergi kemanapun. Aku masih menunggumu disini. Peluklah aku sekarang.” Pemilik honey voice itu menyatakan keinginannya.

 

Hyeri yang sedang duduk dengan anggunnya ditaman bunga terkejut akan kedatangan Jonghyun yang secara tiba-tiba langsung berada disisinya. Akan tetapi ini adalah mimpi dimana ruh mereka dipertemukan. Mereka sama-sama mengenakan pakaian yang serba putih. Hyeri dengan anggunnya memakai gaun putih dengan bandana mawar dikepalanya itu memancarkan aura kasih sayang yang penuh akan kerinduan.

 

“Oppa, tapi kenapa kau berada disini?”

 

“Aku menyusulmu, kita akan bahagia di taman syurga. Kau nafasku. Kaulah isi hidupku.”

 

“Tidak, kau tidak boleh pergi bersamaku. Kedua orang tuamu masih menginginkan anaknya hidup sukses. Mereka ingin melihatmu memakai jas putih dan mengabdi kepada masyarakat. Jangan ikuti aku, aku mohon oppa..” Muncullah air mata bening itu dipelupuk mata Kang Hyeri.

 

“Lalu kenapa kau meninggalkanku terlebih dahulu? Kau tidak merasakan betapa hatiku ini bagai dirajam pisau.”

 

“Aku menderita kanker tulang, aku selalu menahan nyeri disekitar leher dan punggungku. Aku tersiksa karena itu. Makanya aku tidak mau kau ikut tersiksa karena penderitaanku jika kita bersama lebih lama lagi.”

 

“Jadi kau? Kau selama ini menyembunyikannya dari aku?”

 

“Maaf oppa, aku telah berbohong kepadamu dengan alasan lain. Itu semata kulakukan demi kebaikanmu juga. Aku ingin melihatmu hidup bahagia tanpa aku. Umurku tidak….” Belum selesai Hyeri memberi penjelasan, Jonghyun langsung saja mencium bibirnya. Lembut penuh kasih sayang. Dan basah terasa dipipi mereka berdua. Tangis mereka sama-sama pecah.

 

“Ini yang pertama sekaligus terakhir darimu untukku, oppa.”

 

“Jangan berkata begitu, ini adalah permulaan. Percayalah.”

 

“Aku selalu percaya kepadamu, jadi bisakah kau tersenyum? Sekalipun kau hidup tanpa aku.”

 

Mereka berdua kemudian berpelukan erat. Dengan sekejap mata Jonghyun merasa memeluk udara. Tidak ada sosok tubuh Hyeri dalam pelukannya. Dan ini sangat mencambuk hatinya.

 

“Hyeri-ya dimana kau? Hyeri-ya!! Jangan tinggalkan aku! Aku mohon!”

 

Jonghyun menangis sejadinya. Berteriak tanpa tahu tujuan bahkan ia tidak dapat mengendalikan emosi jiwanya yang terguncang.

 

***

 

Pintu ruangan operasi itu terbuka. Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu Minhyuk setelah 3 jam bersandar didinding. Berharap hal yang pertama ia dengar adalah kabar baik.

 

“Dokter Han, bagaimana kondisi kakakku?”

 

Dokter itu membuka maskernya dan..

 

“Tuhan berkehendak lain, kau yang tabah ya. Kami tim dokter sudah berupaya semaksimal mungkin.”

 

“Tidak, tidak mungkin. Kau jangan membohongiku Dokter Han.”

 

Hari kelabu ini berhasil membuat semua keluarga dirundung duka yang mendalam. Dan tak seorangpun dapat merubah takdir jika Tuhan sudah berkata lain. Tuhan berhasil membuat air mata ini tumpah secara berbarengan.

 

“Hyeri..!!!!” teriak Jonghyun tanpa sadar.

 

Di lain keadaan Jonghyun baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa berat ketika bangun. Keringat dinginpun membasahi tubuhnya. Ia menengok kearah jam di dindingnya dan jam itu baru saja menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi kepadanya selama ia tidur sehingga dirasa kepalanya sangat nyeri.

 

“Hyeri, bagaimana keadaanmu sekarang? Kau membutuhkanku kan?” batin Jonghyun.

 

Masih dalam kondisi belum stabil Jonghyun pergi ke dapur rumahnya dan membuka lemari pendingin. Diteguknya segelas air putih itu dan ia kembali lagi menuju ke kamarnya. Melanjutkan tidurnya karena pagi ini ia ada praktikum dan harus berangkat pagi.

 

Sesampainya di kampus ia mendapati sekumpulan teman-temannya yang sedang ramai membincangkan sesuatu. Satu diantara mereka menangis tersedu. Penasaran, Jonghyun menghampirinya. Mencari tahu.

 

“Hyung, sedang apa kau disini? Lalu.. karangan bunga ini? Siapa yang meninggal?”

 

“Kang Hyeri mahasiswi tingkat 2 fakultas kedokteran. Ia kekasihmu. Masa kau tidak mengetahuinya?”

 

Deg. Bagai disambar petir Jonghyun tidak dapat berbuat banyak. Tas hitam berisi buku-buku tebal itu kehilangan tumpuannya dari genggaman tangan Jonghyun. Ia langsung berbalik badan dan berlari.

 

Ia tiba ditempat pemakaman. Masih tampak beberapa sanak saudaranya disana dan ia melihat, seorang lelaki yang pernah dicurigainya sebagai selingkuhan Hyeri.

Jonghyun memutuskan untuk tidak mendekat kesana, hatinya terkoyak akan takdir ini. Ia menangis dalam diam dan hanya waktu yang dapat menghapus kesedihannya.

 

-The End-

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

4 thoughts on “[LombaFF] Can You Smile?

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s