[LombaFF] Gomawoyo, because you still remember me..

Rating : G

 

Genre  : Romance, AU[Alternate Universe]

Cast     :

~ Jung Yong Hwa CNBlue

~ Han Hyun Joo

~ Lee Jong Hyun CNBlue (ocst)

~ Park Shin Mi (ocst)

~ Lee Jung Shin CNBlue (ocst)

 

Disclaimer : Karya ini hasil imajinasi saya. Terinspirasi setelah menonton beberapa drama korea.

Note    :  Annyeong Haseyo, readers. Ini adalah FF pertamaku. Cerita ini hasil karangan saya sendiri. Mohon maaf jika ceritanya kurang menarik. Selamat membaca! Semoga kalian menyukainya ^^

 

 

 

“Arti bahasa dari bunga tanpopo adalah berpisah sampai saat bertemu lagi.”

_Imadoki (manga jepang)_

 

Hyun Joo dan Shin Mi sedang menyantap makan siang mereka di Restoran Bada. Mereka datang ke Jeju-do untuk menikmati liburan akhir semester. Kecuali Hyun Joo, Shin Mi kuliah di Sungkyunkwan University.

Hyun Joo tidak mengambil kuliah karena keterbatasan biaya. Dia melakukan 3 pekerjaan dalam sehari. Di waktu pagi, dia mengantar susu dan koran. Setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya sebagai pelayan restoran hingga malam. Dia juga mendapat pekerjaan dari kantor penerbit sebagai penerjemah. Dia menerjemahkan buku-buku atau novel-novel berbahasa jepang. Dia pandai berbahasa jepang berkat teman jepangnya yang juga bekerja bersamanya di restoran.

“Aku ke toilet sebentar.” Kata Hyun Joo. Shin Mi hanya mengangguk dan meneruskan makannya. Beberapa menit kemudian Hyun Joo kembali dan melihat Shin Mi menghabiskan makanannya tanpa sisa.

“Hei, kenapa punyaku kau habiskan juga?”

“Mianhae. Perutku lapar sekali.” Ucapnya sambil memasang muka polos.

“Sekarang kau bayar makanannya.” Shin Mi mengangguk pelan. Lalu memanggil pelayan untuk meminta bon. Setelah melihat bonnya, dia membuka tas untuk mengambil dompetnya. Namun dompet yang dia cari tidak ketemu. Lalu Shin Mi ingat bahwa dia lupa membawa dompetnya. Hyun Joo yang menyadari hal itu hanya menghela nafas.

“Kau ini tidak pernah berubah ya? Selalu ceroboh.”

“Mianhae.” Ucapnya sambil menelungkupkan kedua tangannya.

“Ya, sudahlah. Aku saja yang bayar.” Hyun Joo membuka tas selempangnya untuk mengambil dompetnya. Namun dompetnya tidak ada.

“Lihat. Ternyata kau juga sama cerobohnya denganku.” Ejek Shin Mi, mengira dompet Hyun Joo ketinggalan.

“Tidak. Aku yakin tadi aku membawa dompetku.” Ucapnya yakin.

“Kalau begitu coba cari lagi.” Hyun Joo pun mencoba mengeluarkan semua isi tasnya dan mencarinya lagi. Tapi dompetnya tidak ada di dalam tasnya.

“Bagaimana ini?” Tanya Shin Mi panik.

***

 

“Hyung, bangunlah kita sudah sampai.” Jong Hyun membangunkan Yong Hwa yang tertidur di belakang mobil. Mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke sebuah restoran. Ketika mereka masuk, terdengar suara ribut.

“Bilang saja kau tidak punya uang.” Ucap salah seorang pelayan laki-laki yang bertubuh tinggi.

“Sudah kubilang dompetku hilang.” Hyun Joo mencoba menjelaskan kepada pelayan itu namun pelayan itu tidak mempercayainya.

“Ada apa ini, Jung Shin?” Laki-laki yang bernama Yong Hwa datang menghampiri mereka. Jung Shin menoleh dan tersenyum pada Yong Hwa.

“Hyung, kau sudah datang rupanya. Kita ada sedikit masalah. Dua perempuan ini tidak mau membayar makanan mereka.”

“Bukannya kami tidak mau membayar. Tapi kami tidak bisa, karena dompet temanku hilang. Sedangkan dompetku tertinggal di hotel.” Shin Mi mencoba menjelaskan masalah yang sebenarnya. Tapi Jung Shin masih tidak percaya.

“Jadi, kesimpulannya kalian tetap tidak bisa membayar.  Jadi, kalian harus bekerja di sini untuk mengganti uang makan kalian.” Kata Yong Hwa kepada Hyun Joo dan Shin Mi.

“Biar aku saja yang bekerja.” Kata Hyun Joo. Yong Hwa terkejut dengan jawaban Hyun Joo.

“Cukup bertanggung jawab juga dia.” Ungkapnya dalam hati.

“Shin Mi, kau hubungi hotel. Minta mereka untuk menjemputmu.” Tambahnya.

“Bagaimana bisa aku membiarkan kau bekerja sendirian? Ini semua karena salahku. Jadi, kita bekerja bersama-sama.”

“Kau yakin mau bekerja di sini?” Pertanyaan Hyun Joo menyadarkan Shin Mi. Shin Mi lupa bahwa dirinya tidak bisa bekerja sebagai pelayan restoran. Shin Mi sejak kecil hidup berkecukupan. Keluarganya memiliki beberapa Department Store. Wajar jika dia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci dan lain-lainnya.

“Sudahlah. Lakukan saja apa yang aku suruh.”

“Baik. Hubungi aku jika kau sudah selesai bekerja.” Shin Mi berjalan keluar Restoran. Hyun Joo masih memandanginya punggung Shin Mi yang semakin menjauh.

“Hei, siapa namamu?” Tanya Jung Shin, menyadarkan Hyun Joo dari lamunannya.

“Han Hyun Joo.”

“Maafkan aku atas kejadian tadi. Aku terlalu emosi.” Hyun Joo merasa aneh dengan perubahan sikap Jung Shin yang berubah 180 derajat menjadi orang yang ramah.

“Tidak apa-apa. Aku mengerti.” Ucapnya penuh senyum. Jung Shin menjelaskan apa saja yang harus Hyun Joo kerjakan. Hyun Joo tertawa melihat Jung Shin yang terus berbicara tanpa berhenti. Yong Hwa memperhatikan Hyun Joo dari lantai dua. Ponsel Hyun Joo berdering. Hyun Joo mengangkatnya. Wajah Hyun Joo tampak panik setelah menerima telepon.

“Kau baik-baik saja? Mukamu tampak pucat.” Tanya Jong Hyun khawatir.

“Ah, iya. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terkejut menerima telepon.”

“Telepon dari siapa?”

“Dari Shin Mi, yang tadi bersamaku. Katanya Ayahnya terkena serangan jantung. Jadi, dia harus pulang ke Seoul.” Hyun Joo menjelaskan mengenai ayah Shin Mi. Di luar ada mobil yang masuk ke area parkir dekat Restoran Bada. Hyun Joo mengenali mobil itu dan langsung bergegas keluar. Yong Hwa turun ke bawah dan melihat Hyun Joo keluar restoran. Mobil itu ternyata milik hotel tempat dia menginap. Mereka datang membawakan koper milik Hyun Joo. Hyun Joo berterima kasih karena mereka mau mengantarkan barang miliknya. Hyun Joo sedikit berat membawa kopernya. Lalu Jong Hyun datang membantu Hyun Joo membawakan kopernya.

“Gomapseumnida.” Ucapnya pada Jong Hyun.

“Jangan berterima kasih padaku. Tapi berterima kasihlah padanya.” Katanya sambil melihat ke arah Yong Hwa. Hyun Joo pun menoleh dan menemukan Yong Hwa sedang memandangnya. Mata mereka saling bertatapan. Yong Hwa menoleh ke tempat lain dan berjalan menuju ruangannya. Hyun Joo hanya tersenyum melihatnya.

“Gomapseumnida.” Ucapnya lirih. Hyun Joo pun masuk dan meneruskan pekerjaannya. Sedangkan Yong Hwa mondar-mandir di kantornya.

“Ada apa denganku? Mengapa jantungku berdebar-debar.” Tiba-tiba Jong Hyun masuk dan Yong Hwa terkejut dengan kedatangannya.

“Yaa! Kau ini. Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?” Yong Hwa menegurnya.

“Aku sudah mengetuk berulang kali. Kau saja yang tidak mendengarnya.” Jong Hyun duduk dan menjulurkan kakinya di sofa.

“Kau sendiri, kenapa mondar-mandir seperti orang yang stress. Apa yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Jong Hyun. Sebelum Yong Hwa menjawab, Jong Hyun sudah menjawab.

“Aah, aku tahu. Kau pasti jatuh cinta pada Hyun Joo, kan?” Jong Hyun memandang Yong Hwa yang sedikit terkejut dengan pernyataan Jong Hyun.

“Aniyo. Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?” Yong Hwa mencoba menyangkal.

“Lihat wajahmu. Merah sekali. Itu bukti bahwa kau sedang jatuh cinta. Hahaha..”Jong Hyun tertawa keras sekali. Yong Hwa tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menghentikannya. Lalu dia duduk di sebelah Jong Hyun. Jong Hyun pun menghentikan tawanya dan langsung memasang wajah serius. Yong Hwa terkejut dengan perubahan ekspresi Jong Hyun yang begitu cepat.

“Hyung, aku punya permintaan. Kuharap kau mau mengabulkannya.” Ucapnya serius.

***

 

Jong Hyun, Yong Hwa dan Hyun Joo keluar dari mobil. Mereka sampai di depan villa milik Yong Hwa.

“Hei, kau gila menyuruh Hyun Joo tinggal di sini bersama kita.” Yong Hwa memarahi Jong Hyun karena mengajak Hyun Joo tinggal di villanya.

“Bukankah kau sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku.” Ucapnya polos tanpa perasaan bersalah.

“Iya, tapi bukan seperti ini.”

“Hyung, tidakkah kau kasihan padanya. Sekarang dia tidak punya uang dan tempat untuk tidur. Kita satu-satunya orang yang bisa membantunya.” Yong Hwa tidak bisa berkutik setelah mendengar perkataan Jong Hyun. Hyun Joo melihat mereka berdua dengan tatapan bingung.

“Apa yang sedang mereka bicarakan?” Tanya Hyun Joo bingung.

“Hei, mau sampai kapan kau berdiri di situ. Ayo, masuklah.” Mereka bertiga lalu masuk. Villa Yong Hwa tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk di tinggali. Hyun Joo yang sedari tadi penasaran mengapa dia dibawa kesini, memberanikan diri untuk bertanya.

“Maaf, bisakah kalian jelaskan. Mengapa kalian membawaku ke sini?” Yong Hwa tidak mau menjawab. Dia masih marah karena Jong Hyun. Dia pergi menuju kamarnya di lantai dua.

“Baiklah. Aku akan menjelaskannya. Ini adalah villa milik Yong Hwa. Mulai sekarang kau akan tinggal di sini bersama kami.”

“Mwo??” Hyun Joo kaget.

“Maaf. Tapi aku rasa aku tidak bisa tinggal di sini.” Hyun Joo menolak tawaran Jong Hyun.

“Lalu kau akan tinggal dimana? Apa kau punya uang untuk menginap?” Tanya Jong Hyun. Hyun Joo hanya diam saja. Tidak tahu harus berkata apa. Memang saat ini dia sedang tidak punya uang dan tempat untuk beristirahat.

“Sekarang kau ikut aku.” Ajak Jong Hyun. Hyun Joo mengikutinya di belakang. Mereka berjalan menuju arah kolam renang hingga nampak bangunan kecil di seberang sana. Untuk bisa kesana ada jembatan yang menghubungkannya sampai ke rumah itu. Rumah yang akan menjadi tempat tinggal Hyun Joo beberapa hari ke depan.

“Terima kasih kau sudah mengijinkanku tinggal disini. Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu.” Kata Hyun Joo.

“Dan…sampaikan juga terima kasihku pada orang itu.”

“Orang itu? Maksudmu Yong Hwa hyung?”

“Benar. Sampaikan terima kasihku pada Yong Hwa.” Ucapnya sambil mengingat-ingat namanya dalam hati.

“Baik. Nanti akan kusampaikan. Istirahatlah. Besok kau harus bekerja. Selamat malam.” Ucapnya seraya pamit.

“Malam.” Balas Hyun Joo. Hyun Joo pun masuk ke dalam rumah itu. Di dalamnya ada ruang tamu, dapur kecil, kamar tidur, dan kamar mandi. Walaupun terlihat kecil, namun cukup nyaman. Yong Hwa sedang berdiri di beranda atas kamarnya. Entah sudah berapa lama dia ada di sana. Matanya terus menatap ke arah rumah kecil itu.

***

“Selamat pagi.” Sapa Hyun Joo. Yong Hwa dan Jong Hyun terkejut dengan apa yang dilakukan Hyun Joo.

“Kau yang memasak ini semua untuk kami?” Tanya Jong Hyun.

“Iya. Ini sebagai tanda terima kasihku karena kalian sudah mengijinkanku tinggal di sini.”

“Kau tidak perlu melakukan ini. Ada bibi yang biasa memasak untuk kami.” Kata Yong Hwa.

“Untuk apa dibahas. Ayo, makan. Sepertinya ini enak.” Jong Hyun langsung menyantap makanan yang ada di depannya.

“Mashittda. Enak sekali.” Puji Jong Hyun sambil meneruskan makannya. Yong Hwa tidak berkomentar sedikitpun.

“Kenapa? Apa rasanya tidak enak?” Tanya Hyun Joo.

“Tidak. Ini sangat enak sekali. Rasanya sangat sempurna.” Ucapnya tersenyum puas dengan masakan Hyun Joo. Hyun Joo pun senang mendengarnya. Sedangkan Jong Hyun melongo melihat sikap Yong Hwa yang tidak biasa. Lalu tersenyum. Menyadari bahwa temannya sudah setuju membiarkan Hyun Joo tinggal di rumahnya.

Jam 12 siang, Restoran Bada sedang sibuk-sibuknya melayani tamu yang datang. Banyak turis-turis dari jepang yang datang untuk makan di sana. Beberapa pelayan sempat kewalahan karena tidak mengerti bahasa jepang. Beruntung ada Hyun Joo disana membantu menerjemahkannya. Sehingga mereka bisa melayani mereka dengan baik. Yong Hwa kagum melihatnya bekerja dengan baik.

“Aigo, badanku pegal sekali. Hari ini tamu yang datang banyak sekali. Sepertinya semenjak Hyun Joo kerja di sini, keuntungan kita jadi berlipat-lipat. Jika setiap hari seperti ini, gajiku pasti akan bertambah.” Ucapnya senang sambil membayangkan dirinya mendapat tambahan gaji 2 kali lipat. Namun lamunannya buyar bersamaan dengan pukulan yang agak cukup keras dari Yong Hwa.

“Hyung! Sakit!!” Teriaknya sambil memegang bagian belakang kepalanya. Semua tertawa melihat kejadian itu.

“Restoran ini untung atau tidak, gajimu tetap sama. Tidak berubah.” Katanya pura-pura marah.

“Hyung!” Jung Shin merasa jengkel. Yong Hwa pergi dengan tersenyum usil. Lalu ada seseorang yang datang memanggil Hyun Joo. Hyun joo mengenali suara itu dan menoleh. Ternyata dugaannya benar.

“Hyun Joo!” Teriak Shin Mi. Mereka berdua saling bertatapan. Shin Mi langsung berlari menghampiri Hyun Joo dan memeluknya erat.

“Hyun Joo, aku rindu padamu. Tiga hari tidak bertemu, rasanya seperti tiga tahun.” Ucapnya masih memeluk Hyun Joo.

“Aku juga merindukanmu.” Mereka berdua sangat bahagia. Tiba-tiba perut Shin Mi berbunyi sangat keras. Semuanya terdiam. Jong Hyun yang tidak tahan melihatnya, langsung tertawa keras. Yang lainnya juga ikut tertawa. Shin Mi mendengus kesal melihat Jong Hyun.

“Makanlah selagi hangat.” Jung Shin membawakan makanan untuk Shin Mi.

“Terima Kasih.”

“Makanlah pelan-pelan. Jangan sampai tersedak.” Jong Hyun mencoba menasihati. Namun sadar dirinya telah salah bicara, dia langsung pergi keluar. Shin Mi bingung dengan apa yang dikatakan Jong Hyun barusan. Shin Mi tidak mau pusing memikirkannya. Dia langsung menyantap makanan yang ada didepannya dengan lahap.

“Menurutmu Jong Hyun menyukai Shin Mi?” Tanya Hyun Joo pada Yong Hwa.

“Menurutmu begitu? Tapi sepertinya Shin Mi tidak menyukainya.”

“Dia tidak begitu mengerti tentang cinta. Selain itu dia buruk dalam hal mengingat. Bahkan ulang tahunnya sendiri tidak ingat.” Kata Hyun Joo.

“Lalu kau sendiri, kapan ulang tahunmu?” Tanyanya sambil memandang ke arah Hyun Joo. Yong Hwa bingung mengapa dia berani menanyakan kapan ulang tahunnya.

“Ulang tahunku minggu depan.” Jawabnya memandang Shin Mi yang masih makan dengan lahap hingga tersedak. Hyun Joo ingin menghampiri Shin Mi. Namun langkahnya terhenti melihat Jong Hyun datang dan menepuk punggung Shin Mi. Hyun Joo tersenyum melihatnya.

“Sepertinya Jong Hyun benar-benar menyukai Shin Mi. Tidakkah kau lihat? Dia begitu perhatian pada Shin Mi. Aku jadi iri.” Hyun Joo menoleh dan menyadari bahwa Yong Hwa sudah tidak ada disampingnya.

“Kemana perginya dia?”

***

 

“Apa yang akan kuberikan padanya saat ulang tahun nanti?” Pikirnya sambil melihat tanggal yang dilingkari dengan wana merah.

“Yaa! Mengapa aku harus pusing memikirkan ulang tahunnya?” Keluhnya pada dirinya.

“Ini aneh. Kenapa selama ini aku selalu memikirkannya? Apa benar seperti yang Jong Hyun katakan padaku bahwa aku jatuh cinta pada perempuan itu. Yong Hwa keluar dari ruangannya dan mendengar ada yang bernyanyi. Ternyata Hyun Joo sedang bernyanyi diiringi petikan gitar dari Jong Hyun.

Maeil neoreul anajugo shipeo

Niga neomu manhi bogo shipeo

Eonjena ni gyeoteseo malhalgeoya oh

 

Saranghae saranghae

Geudaeui ttatteuthan geu misoreul

Yeongwonhi gaseume mudeulge gieokhae

Idaero idaero meomulleojwo

(Nollawora by NAVI)

 

Hati Yong Hwa berdebar-debar mendengar bait-bait yang dinyanyikan Hyun Joo. Suaranya menentramkan hati siapapun yang mendengarnya. Hyun Joo melihat Yong Hwa yang sedang memandangnya. Hyun Joo tersenyum melihatnya.

“Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padanya.” Katanya terus memandang Hyun Joo. Jong Hyun memperhatikan Yong Hwa.

“Ternyata benar kau menyukainya.” Kata Jong Hyun dalam hati.

“Namun aku sedikit cemas akan hal ini.” Katanya lagi. Yong Hwa masih menikmati nyanyian Hyun Joo. Setelah selesai bernyanyi, Hyun Joo menyuruh Yong Hwa untuk bernyanyi. Yong Hwa menolak. Tapi dia terus memaksa. Jung Shin dan yang lainnya juga menyuruh Yong Hwa untuk menyanyi. Akhirnya Yong Hwa pun menyetujuinya. Yong Hwa menyanyi dan Jong Hyun memainkan gitarnya.

Geudaega useoyo nareul bomyeonseo useoyo

Geudaeui geu misoga gomawoyo

Saranghandan mareun anhaedo naneun neukkil su isseoyo

Geureon geudae sarangi nan gomaul bbunijyo

 

Geudae sarang neomu gomawoyo

Geudae sarang itji anheulkkeyo

Gyeote inneun geot maneuro do nan haengbokhalsu isseoyo

Geudae sarang neomu gomawoyo

Gedae sarang itji anhayo

Nun gamneul geu nalkkaji geudael itji anheul geoyeyo

(Gomawoyo – CN Blue)

***

Yong Hwa memarkirkan mobilnya di depan Toko Beautiful Flowers. Yong Hwa mencari bunga mawar merah untuk diberikan kepada Hyun Joo. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Hyun Joo. Hari ini pula ia akan menyatakan cintanya pada Hyun Joo.

Di villa, Hyun Joo sedang bersiap-siap untuk pergi. Jong Hyun melihatnya dan bertanya kemana dia akan pergi.

“Yong Hwa mengajakku untuk bertemu.” Jawabnya sambil memeriksa isi tasnya. Berharap tidak ada yang tertinggal.

“Hyung mau bertemu denganmu?”

“Benar. Aigo, aku sudah terlambat. Aku pergi dulu.”

“Biar kuantar.” Akhirnya Hyun Joo pergi dengan diantar Jong Hyun. Mereka sampai di mercusuar, tempat mereka akan bertemu. Setelah membeli beberapa ikat bunga mawar, tak lupa dia mampir ke toko perhiasan. Yong Hwa ingin menghadiahi sebuah kalung yang sudah dia pesan jauh-jauh hari

Yong Hwa menambahkan kecepatannya. Mobilnya melaju sangat kencang. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Hyun Joo. Di depannya ada mobil, Yong Hwa berusaha menyalip dengan mengambil lajur kiri. Namun sebelum menyalip, mobil didepannya mendadak mengurangi kecepatannya. Sehingga Yong Hwa menabrak mobil didepannya. Kepalanya terbentur stir kemudi. Beberapa detik kemudian dia pingsan.

Di mercusuar, Jong Hyun menerima telepon dan shock dengan apa yang dia dengar. Hyun Joo melihatnya.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Hyun Joo khawatir.

“Ayo, kita pulang.” Ajak Jong Hyun.

“Kenapa? Bukankah kita harus bertemu dengan Yong Hwa disini.”

“Itu tidak akan terjadi. Jadi, mari kita pulang.”

“Wae? Kenapa? Apa sesuatu terjadi kepadanya?” Tanyanya cemas. Jong Hyun hanya diam. Tidak berkata apa-apa. Di rumah, Hyun Joo sendirian di kamarnya. Sedangkan Jong Hyun pergi setelah mengantarnya pulang ke rumah. Dia tidak mengatakan dia mau pergi kemana.

Ternyata Jong Hyun pergi ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Yong Hwa. Yong Hwa mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya. Jong Hyun berbicara dengan dokter pribadi Yong Hwa.

“Dokter, bagaimana keadaannya?” Tanya Jong Hyun khawatir.

“Dia mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya. Tapi sekarang kau tidak perlu khawatir. Sepertinya ingatannya sudah pulih kembali.” Jelasnya sambil memegang pundak Jong Hyun. Dokter pergi meninggalkan Jong Hyun. Jong Hyun terduduk lemas setelah apa yang dia dengar. Dia nampak bahagia tapi juga sedih. Bahagia karena sahabatnya sudah kembali ingat serta sedih karena dia tidak akan mengingat Hyun Joo lagi.

Jong Hyun masuk ke kamar tempat Yong Hwa dirawat. Ketika masuk dia melihat Yong Hwa sudah duduk bersandar di tempat tidurnya.

“Hei, Lee Jong Hyun. Bukankah seharusnya aku ada di Jepang? Kenapa aku bisa ada di sini?” Tanya Yong Hwa. Jong Hyun hanya tersenyum dan hanya berkata, “Lama tidak bertemu, Hyung.”

***

1 tahun kemudian..

“Pantai…” Hyun Joo terpesona dengan keindahan pantai di Pulau Jeju. Bus pariwisata yang membawanya dari Seoul hingga Pulau Jeju melalui jalur transportasi laut itu berhenti di tempat parkir yang tidak jauh dari lokasi pantai. Semua orang yang berada di dalam bis langsung berhambur keluar untuk menikmati deburan ombak pantai. Hyun Joo turun paling terakhir. kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan berteriak,

“Jeju-do, aku datang lagi!!” teriaknya bahagia. Hembusan angin yang begitu sejuk menyibakkan rambutnya yang panjang berkilau. Sahabatnya yang bernama Park Shin Mi, hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Hyun Joo.

“Kau senang sekali, ya? Tanya Shin Mi. Mereka berdua melepaskan sepatu dan berjalan menyusuri pasir yang putih.

“Ne. Aku sangat sangat sangat sangat senang.” Jawabnya dengan senyum yang lebar. Manis sekali.

“Sepertinya liburan ini bukanlah alasanmu datang ke Pulau Jeju.” Hyun Joo menoleh terkejut mendengar perkataan Shin Mi. Tiba-tiba muka Hyun Joo menjadi merah.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini.” Hyun Joo hanya terdiam dan mengibas-ibas pipinya yang terasa panas.  Mencoba tidak mendengarkan perkataan Shin Mi.

“Huuh, kenapa cuacanya panas sekali, ya?” Keluhnya sambil berjalan menjauhi Shin Mi.

“Yaa!! Kenapa kau kabur??” Ucapnya sambil mengejar Hyun Joo yang berlari. Mereka berdua bermain kejar-kejaran hingga Shin Mi terjatuh karena lelah.

“Han Hyun Joo! Jangan harap kau bisa lari dariku.” Shin Mi berusaha bangkit dan kembali mengejarnya.  Lalu Hyun Joo membalikkan badannya dengan posisi masih berlari sambil menjulurkan lidahnya.

“Coba tangkap aku kalau bisa.” Tantang Hyun Joo. Namun kesenangan Hyun Joo terhenti sampai disitu. Karena tidak sengaja dia menabrak orang yang sedang duduk di tepi pantai.

Bruukk..

“Aduuh!!” Ucap seorang laki-laki yang mengaduh sakit di punggungnya.

“Joesonghamnida. Maaf, aku tidak melihat anda.” Hyun Joo meminta maaf sambil memegang tangan kirinya yang sakit. Laki-laki itu hanya diam saja.

“Joesonghamnida.” Hyun Joo mengucapkan maaf lagi padanya.

“Hyun Joo, kau baik-baik saja?” Shin Mi datang menghampirinya dan memutar-mutar tubuh Hyun Joo. Berharap tidak ada luka yang serius.

“Aku tidak apa-apa. Hanya tanganku sedikit sakit.” Hyun Joo berusaha tidak membuat cemas teman kecilnya itu. Shin Mi orangnya memang selalu khawatir. Walaupun itu masalah yang sepele.

“Syukurlah kalau begitu. Ayo kita pergi.” Ajak Shin Mi. Hyun Joo mengangguk setuju. Tiba-tiba laki-laki yang ditabraknya itu bangkit dan memanggil Hyun Joo.

“Hyun Joo.. Benarkah kau Han Hyun Joo?” Tanya laki-laki itu. Mereka menoleh ke belakang.

“Ternyata benar kau orangnya. Apa kau tidak ingat aku?” Hyun Joo dan Shin Mi saling berhadapan. Bingung. Hyun Joo mencoba mengingat laki-laki yang sekarang berjalan ke arahnya.

“Jong Hyun-ah ?” Tanyanya ragu. Jong Hyun mengangguk membenarkan.

“Annyeong haseyo. Lama kita tidak bertemu.” Ucapnya.

“Ne, annyeong haseyo, Jong Hyun. Iya, lama kita tidak bertemu.” Mereka berdua tersenyum bersama. Sedangkan Shin Mi hanya berdiri mematung melihat Jong Hyun.

***

 

“Jadi, dia benar-benar si keriting yang menyebalkan itu. Dia sekarang jauh lebih tampan dengan rambutnya yang lurus. Apakah dia sudah punya kekasih?” Tanyanya dalam hati sambil memandang Jong Hyun.

“Aah, kenapa aku memikirkannya??” Tanyanya sambil sedikit berteriak. Hyun Joo dan Jong Hyun terkejut karenanya.

“Hei, Lee Shin Mi, ada apa denganmu? Kenapa kau bicara sendiri seperti orang gila?”

“Mianhae, Hyun Joo.” Jong Hyun tertawa kecil melihat tingkah Shin Mi.

“Memangnya siapa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Jong Hyun penasaran. Hyun Joo pun berhenti meletakkan makanannya. Dia juga penasaran apa yang dipikirkannya.

“Hmm..Bukan siapa-siapa, kok.” Jawabnya sambil memegangnya pipinya. Malu. Hyun Joo dan Jong Hyun tampak tidak puas dengan jawaban Shin Mi. Mereka masih penasaran siapa yang sedang dia pikirkan.

“Sungguh, bukan siapa-siapa.” Ucapnya tegas namun tangannya sedikit gemetar.

“Baiklah, Nona Shin Mi. Kami percaya padamu.” Kata Hyun Joo.

“Jadi kau sedang liburan?” Tanya Hong Hyun. Hyun Joo  sedang sibuk mengeluarkan makanan yang dia bawa dari rumah.

“Iya. Kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan disini?”.

“Aku juga sedang liburan. Sekalian melihat perkembangan Restoran Bada.” Mendengar nama Restoran itu, Hyun Joo jadi teringat seseorang.

“Kau masih ingat, kan?” Hyun Joo mengangguk.

“Tentu saja aku masih ingat.”

“Yong Hwa hyung menyerahkan restorannya padaku.” Mendengar nama Yong Hwa, hati Hyun Joo berdebar.

“Aku sudah 8 bulan aku tinggal di Seoul. Ada teman yang mengajakku untuk membuka bisnis di sana.” Lanjutnya sambil mengalihkan pandangannya ke Shin Mi. Shin Mi yang sedari tadi memandangi wajah Jong Hyun, langsung memalingkan wajahnya ke tempat lain.

“Bagaimana kabar dia?” Apa dia tidak menghubungimu?”

“Yong Hwa hyung tidak pernah menghubungiku.” Katanya bohong. Jong Hyun terpaksa bohong karena takut akan mengecewakan hatinya jika Hyun Joo tahu kejadian yang sebenarnya.

“Apa kau merindukannya?” Tanya Jong Hyun.

“Ne.” Jawabnya pelan. Hyun Joo menghela nafas. Inilah alasan Hyun Joo datang ke Pulau ini. Bibir Hyun Joo menyenandungkan sebuah lagu. Lagu yang mengingatnya akan laki-laki itu. Laki-laki yang berhasil menduduki tempat teristimewa di hatinya.

Geudaega useoyo nareul bomyeonseo useoyo

Geudaeui geu misoga gomawoyo

Saranghandan mareun anhaedo naneun neukkil su isseoyo

Geureon geudae sarangi nan gomaul bbunijyo.

(Gomawoyo – CN Blue)

 

Jong Hyun tinggal di hotel yang sama dengan Hyun Joo. Mereka bertiga masuk dan menuju lift. Mereka menunggu pintu lift terbuka. Sembari menunggu, Hyun Joo ingin menanyakan sesuatu kepada Jong Hyun.

“Jong Hyun, ada yang mau kutanyakan padamu?”

“Apa?” Tanyanya bersandar di samping pintu lift.

“Bunga Tanpopo. Bunga yang kau berikan padaku. Apa maksudnya?” Otak Jong Hyun mencoba mengingat kembali setahun yang lalu. Saat itu dia sedang dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit. Sesampainya di rumah, dia mencari Hyun Joo. Hyun Joo merasa senang dan mengira Yong Hwa datang bersamanya. Senyum Hyun Joo hilang setelah menyadari bahwa Yong Hwa tidak ikut bersamanya.

“Hyun Joo, Mianhae.” Hyun Joo bingung dengan sikap Jong Hyun.

“Maaf kenapa?”

“Sekarang saatnya kau kembali ke Seoul. Aku sudah membelikan tiket pesawat untukmu. Penerbangannya sore hari ini.”

“Kenapa tiba-tiba begini? Lalu, Yong Hwa, dimana dia? Mengapa dia belum menemuiku?” Jong Hyun terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.

“Dia mendadak ada urusan penting. Jadi, dia terbang ke Jepang.” Katanya bohong.

“Dia pergi ke Jepang? Tanpa memberitahuku?” Hyun Joo sedih mendengarnya.

“Mianhae.” Jong Hyun menyerahkan sesuatu pada Hyun Joo. Bunga Tanpopo.

“Ini untukmu. Dari Hyung.” Hyun Joo menerima bunga itu dengan gemetar. Jong Hyun membelikan bunga untuk Hyun Joo setelah mendengar cerita Yong Hwa. Bahwa dirinya bermimpi bertemu seorang perempuan. Perempuan itu berdiri di kelilingi banyak bunga tanpopo. Yong Hwa berjalan menghampirinya. Namun perempuan itu menjauh dan semakin menjauh. Lalu dia terbangun dari mimpinya. Yong Hwa menanyakan pada Jong Hyun apa arti mimpinya itu. Jong Hyun tidak tahu pasti. Namun dia tahu arti dari bunga tanpopo itu.

“Artinya berpisah sampai saat bertemu lagi.” Katanya pada Hyun Joo.

Ting! Pintu lift terbuka. Hyun Joo menoleh dan terkejut melihat sosok yang dia kenal. Yong Hwa! Hyun Joo melangkah mundur. Masih terkejut dengan apa yang dia lihat. Jong Hyun ikut menoleh mencari tahu apa yang membuat Hyun Joo terkejut.

“Hyung?” Ucapnya setelah menyadarinya.

“Hei, kemana saja kau? Susah sekali menghubungimu. Aku datang ke Restoranmu di Seoul, mereka bilang kau ada di Jeju. Jadi, aku langsung terbang kesini mencarimu.” Kata Yong Hwa cerewet.

“Sekarang karena kita sudah bertemu, ayo kita makan di Restoranmu. Aku lapar sekali.” Ajaknya sambil merangkul bahu Jong Hyun.

“Iya, tapi…”

“Waeyo?” tanyanya. Lalu sadar bahwa Jong Hyun sedang bersama seseorang.

“Siapa dia? Pacarmu?” Sindirnya.

“Kau tidak mengenalku?” Tanya Hyun Joo.

“Aniyo. Nuguseyo?” Tanyanya membuat Hyun Joo shock. Bingung. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Shin Mi juga ikut terkejut. Jong Hyun hanya menghela nafas.

***

Di Restoran Bada..

Hyun Joo dan Jong Hyun duduk berhadapan. Yong Hwa memperhatikan mereka dari jauh.

“Kau temannya kan? Apa yang sedang mereka bicarakan? Wajahnya tampak serius sekali.” Yong Hwa bertanya pada Shin Mi.

“Kau benar-benar tidak ingat sama sekali?” Tanya Jung Shin. Sekarang Jung Shin manajer di Restoran itu.

“Memangnya apa yang harus kuuingat?” Shin Mi nampak kesal mendengar ucapannya.

“Han Hyun Joo. Kau tidak ingat dia?” Tanya Shin Mi.

“Siapa? Perempuan yang bersama Jong Hyun kah?” Tanya Yong Hwa. Yong Hwa menjawab dengan menggelengkan kepala. Tidak ingat Han Hyun Joo.

“Jadi, maksudmu saat aku bertemu dengannya, dia sedang mengalami amnesia?” Tanya Hyun Joo.

“Benar. 6 bulan yang lalu dia mengalami kecelakaan mobil di Jepang. Kepalanya terluka karena terbentur sesuatu yang sangat keras hingga menyebabkan dia hilang ingatan. Dokter menyarankan agar Yong Hwa di bawa ke Jeju-do agar dia tidak merasa tertekan. Dia harus menjalani hidupnya dengan tenang. Selain itu juga untuk mempermudah dokter mengawasinya kondisinya. Karena dia juga membuka rumah sakit di Jeju-do.”

“Lalu, bagaimana ceritanya dia bisa ingatanya kembali pulih?”

“Tepat setahun yang lalu. Saat kau menanti Yong Hwa di Mercusuar. Dalam perjalanan untuk menemuimu, dia mengalami kecelakaaan. Dia dibawa ke Rumah Sakit. Di sana aku diberi tahu bahwa ingatannya sudah pulih. Aku tahu itu akan terjadi. Cepat lambat.”

“Karena itu kau berbohong padaku?” Jong Hyun mengangguk membenarkan. Lalu Jong Hyun teringat tentang bunga tanpopo.

“Mengenai bunga tanpopo yang kuberikan padamu. Aku memberikannya karena hyung. Dia bilang dia selalu bermimpi melihat seorang perempuan berdiri dikelilingi bunga-bunga tanpopo. Sedangkan arti dari bunga itu adalah berpisah sampai saat bertemu lagi. Aku menyimpulkan kalian akan berpisah untuk sementara dan kalian akan bertemu lagi di masa depan. Makanya aku memberikan bunga tanpopo itu padamu.” Jelasnya.

“Berpisah sampai saat bertemu lagi.” Hyun Joo mengulang arti dari bunga tanpopo.

“Tapi percuma saja kita bertemu. Dia sama sekali tidak ingat padaku.” Ucapnya sedih sambil menatap Yong Hwa. Jong Hyun pun ikut menatap ke arah Yong Hwa.

“Bagaimana bisa kau melupakan nuna?” Jung Shin masih tidak percaya bahwa Yong Hwa tidak ingat Hyun Joo sama sekali. Dengan kesal Jung Shin meninggalkan Yong Hwa. Yong Hwa stress karena disuruh mengingat seseorang yang tidak dia kenal. Shin Mi menyetel televisi yang terletak di sudut kiri atas sebelah jendela. Dia menyadari sesuatu saat melihat acara musik. Lalu dia mengeraskan volumenya. Terdengar lagu yang dulu pernah dinyanyikan oleh Hyun Joo.

Maeil neoreul anajugo shipeo

Niga neomu manhi bogo shipeo

Eonjena ni gyeoteseo malhalgeoya oh

 

Saranghae saranghae

Geudaeui ttatteuthan geu misoreul

Yeongwonhi gaseume mudeulge gieokhae

Idaero idaero meomulleojwo

(Nollawora by NAVI)

 

Yong Hwa mengalihkan pandangannya ke televisi. Menatapnya dengan tatapan kosong. Otaknya memutar kembali memori yang hilang. Sayup-sayup terdengar suara  seorang perempuan menyanyi. Suara itu semakin terdengar keras. Sosok perempuan itu pun semakin jelas.

“Han Hyun Joo.” Ucapnya dalam hati.

“Han Hyun Joo.” Ucapnya lagi.

“Mianhae, Hyun Joo. Kau tidak perlu khawatir lagi. Karena sekarang aku sudah ingat semuanya.” Yong Hwa beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju panggung. Hyun Joo dan Jong Hyun bingung apa yang akan dia lakukan. Yong Hwa mengambil sebuah gitar coklat. Dia memejamkan mata sebentar. Lalu bernyanyi.

Geudaega useoyo nareul bomyeonseo useoyo

Geudaeuni geu misoga gomawoyo

Saranghandan mareun anhaedo naneun neukkil su isseoyo

Geureon geudae sarangi nan gomaul bbunijyo

 

Geudae sarang neomu gomawoyo

Geudae sarang itji anheulkkeyo

Gyeote inneun geot maneuro do nan haengbokhalsu isseoyo

Geudae sarang neomu gomawoyo

Geudae sarang itji anhayo

Nun gamneul geu nalkkaji geudael itji anheul geoyeyo

(Gomawoyo – CN Blue)

 

Hyun Joo membekap mulutnya tidak percaya. Akhirnya Yong Hwa mengingat dirinya. Jong Hyun pun senang melihatnya. Setelah selesai bernyanyi, Yong Hwa meletakkan gitarnya dan berjalan menghampiri Hyun Joo.

“Mianhae, Hyun Joo. Karena aku melupakanmu. Mulai sekarang aku berjanji tidak akan melupakanmu lagi.” Hyun Joo mengangguk terharu. Air matanya keluar.

“Oh, ya. Hari ini ulang tahunmu, kan. Saengil Chukhahae.” Yong Hwa mengucapkan selamat kepada Hyun Joo. Saking bahagianya sampai Hyun Joo tidak bisa berkata apa-apa. Hyun Joo hanya mengangguk.

“Ada lagi yang ingin kukatakan kepadamu. Seharusnya kukatakan itu setahun yang lalu.” Yong Hwa tidak melanjutkan kata-katanya. Hyun Joo menunggu dengan penasaran.

“Saranghae.” Kata Yong Hwa. Hyun Joo menangis bahagia. Lalu dia memeluk Yong Hwa erat.

“Gomawoyo.” Ucap Hyun Joo bahagia.

“Ne.” Balasnya. Mereka berdua melepaskan pelukannya.

“Terima kasih atas cintamu.” Kata Hyun Joo.

“Ne.”

“Yang terakhir…Gomawo, you still remember me.”

 

 

 

***END***

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

2 thoughts on “[LombaFF] Gomawoyo, because you still remember me..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s