[LombaFF] He’s not my appa

Rating : PG-12 (?) karna ada sedikit unsur kekerasan

Genre :  family, tragedy, angst, friendship

Cast : Kang Minhyuk, Kang Minna (OC), Minhyuk’s appa (OC).

Other Cast : Minhyuk’s eomma (OC), Minhyuk and Jungshin’s partners (OC), Minhyuk’s uncle(OC).

Note : tulisan miring berarti flashback🙂 OCs dan plot karangan author sendiri, MinShin milik Yang Maha Kuasa kkkk dan mereka dipinjem dari FnC music! (?) kemungkinan ada typo & out of character, happy reading :3

 

 

 

“Jangan marah ya, aku mohon…”

Pemuda itu menatap penuh harap ke anak perempuan yang duduk didepannya. Anak itu memalingkan wajahnya, menunjukkan kekesalannya. Susah payah pemuda itu untuk membuatnya mengerti, ia mulai panik, sesekali ia melihat kearah pintu. Ia takut seseorang itu akan datang.

“Aku akan membelikanmu es krim tapi tidak untuk sekarang. Aku sedang sibuk, tugasku banyak. Kau bisa mengerti kan, Minna?” ucapnya dengan sabar sambil memegang pelan lengan anak itu –anak yang dipanggilnya Minna. Namun ekspresi Minna tetap sama. Pemuda itu mulai kesal.

“KAU BISA MENGERTI ATAU TIDAK?!” dia kemudian terdiam, ia membekap mulutnya. Dia sadar bahwa dia sudah melakukan kesalahan. Minna terkejut lalu menatapnya.

“Aku..maaf, maafkan aku….” Ujar pemuda itu terbata-bata. Ia semakin gusar.

“Kau membentakku?” tanya Minna. Raut mukanya yang polos itu tampak sedih.

“Minna..tidak..bukan begitu maksudku, Minna diam-diam saja ya, Minna aku mohon.”

“Kau membentakku?” Minna terus mengulang pertanyaan yang sama. Ingin rasanya lelaki itu berteriak, mengatakan kepada gadis kecil itu kalau dia memang membentaknya karena dia sangat kesal, karena gadis itu selalu membuat posisinya makin terpuruk. Tapi diurungkannya niatnya tersebut, mengatakn hal-hal itu tidak akan gunanya. Justru memperparah keadaan.

“Minna, jangan tanyakan hal itu lagi. Minna diam ya. Kalau Minna diam aku janji akan membelikan Minna es krim. Tapi tidak sekarang, oke?”

“Kau membentakku?” kali ini Minna seperti ingin menangis. Lelaki itu geram. Membujuk Minna memang bukan merupakan hal mudah, tapi dia harus tetap melakukannya, sebelum seseorang itu melihat ini semua. Namun,pemuda itu terlambat, pintu itu akhirnya terbuka…

“Ada apa ini? Minhyuk, kau berulah lagi?!” tanya seseorang yang keluar dari pintu tersebut, ya Minhyuk adalah nama lelaki itu. Wajahnya yang sangar membuat Minhyuk tambah ketakutan. Minhyuk menggelengkan kepalanya dengan gugup.

“Minhyuk oppa, kau membentakku?” setelah bertanya untuk ketiga kalinya, Minna mulai menangis. “Minhyuk oppa membentakku kan? Minhyuk oppa tidak sayang padaku? Oppa…Oppa..” tangisan Minna tambah keras. Seseorang yang muncul dari pintu tadi menutup telinganya. Ia mulai gusar, lalu menatap Minhyuk dengan tatapan penuh amarah.

“Bocah kurang ajar! Kau apakan adikmu?! Kau ini!!” ia melangkah mendekati Minhyuk. Minhyuk berjalan mundur, situasi ini benar-benar membuatnya takut.

“BODOH!”

Tangan orang itu mendarat di pipi Minhyuk. Cukup keras bahkan membuat Minhyuk kehilangan keseimbangan dan jatuh membentur dinding. Minhyuk merasakan nyeri dikepalanya. Namun nyeri itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Ia ingin melawan, tapi orang ini sangat kuat. Ia ingin melawan, tapi ada janji yang harus ditepatinya. Ia ingin melawan, tapi Minhyuk terlalu patuh untuk melakukan itu pada ayahnya sendiri.

“Appa, appa jangan bentak-bentak begitu. Minna takut,” ujar Minna tiba-tiba. Kepolosannya menghilangkan suasana tegang dirumah itu. Orang yang dipanggil appa oleh Minna – yang juga merupakan ayah Minhyuk — segera menggendong putrinya dan membawanya keluar. Meninggalkan Minhyuk tanpa mengucapkan apa-apa.

+++

Minhyuk, Kang Minhyuk. Lelaki muda ini baru duduk dikelas dua di salah satu sekolah menegah atas yang berada di kota Seoul. Dulu, Minhyuk kecil berada dikeluarga yang harmonis. Orangtuanya sudah lama saling mencintai. Ayahnya seorang petinju, sedangkan ibunya mantan pramugari yang sangat cantik. Saat berumur 6 tahun,anggota keluarga mereka bertambah satu. Sang ibu melahirkan gadis mungil yang diberi nama Kang Minna. Kata dokter, pertumbuhan otak Minna tidak bagus. Hal itulah yang membuat perhatian orangtuanya seakan hanya tertuju pada Minna. Terlebih lagi perhatian dari ayah Minhyuk, Minna mungkin tidak dilahirkan seperti anak lainnya, namun semenjak kelahiran itu ayahnya selalu menang di setiap kejuaraan. Ayah mereka percaya semua itu bisa terjadi karena Minna.

Minhyuk tak pernah merasa keberatan. Asalkan ibu dan ayahnya tetap menyayanginya. Namun tidak saat suatu pengakuan mengubah hidupnya yang bahagia….

+++

Seorang lelaki tegap menghampiri istrinya yang sedang memasak didapur. Raut wajahnya datar. Ia duduk di kursi meja makan dan memperhatikan punggung istrinya. “Tadi aku pergi bersama Minna, Minhyuk, dan adikku,” ucapnya, memulai pembicaraan. Laki-laki ini adalah ayah dari Minhyuk, seorang anak laki-laki berumur 11 tahun dan Minna, anak berumur 5 tahun yang memiliki penyakit cacat otak.

“Oh benarkah? Bagus. Minna mulai dekat dengan pamannya, ya kan?” jawab wanita cantik itu tanpa menoleh kebelakang untuk melihat suaminya. Iya sedang sibuk dengan bahan makanan didepannya.

“Ya.. apalagi Minhyuk. Mereka sangat sangat dekat, seperti ayah dan anak.”

Wanita itu terdiam sebentar, firasatnya buruk, “oh…..bagus dong kalau begitu.”

“Hanya bagus?”

“I I Iya, tentu saja bagus, paman dan keponakan rukun, itu hal yang bagus bukan?” istri dari tuan Kang itu berbalik. Melihat kearah suaminya dan tersenyum, mencoba meyakinkan. Tuan kang berdiri, ia melangkah mendekati istrinya. Tak disangka tangannya langsung melayang ke pipi istrinya yang mulus itu.

“Ka kau kenapa?” tanya wanita itu. Air matanya mengalir sangat deras.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN SAAT AKU SEDANG DI LUAR NEGERI HAH?! APA SESULIT ITU MENAHAN NAFSUMU!??!! KITA BARU SAJA MENIKAH WAKTU ITU! JADI MINHYUK ADALAH ANAKNYA? BENAR KAN??!!” bentak pria itu, tangannya mengepal. Ia mengamuk, siapapun yang melihatnya saat ini pasti akan takut.

“Apa dia yang memberitahukannya padamu? Aku…aku minta maaf, jeongmal mianhae” Ucap nyonya kang tersedu-sedu. Ia bangkit dan berlari menjauh dari suaminya.

BRAAAK!!!

Naas, saat ia keluar dari rumah sebuah mobil menabraknya. Pikirannya saat itu benar-benar kacau sehingga terus berlari tanpa melihat kiri-kanan.Tuan kang terdiam. Ia sangat menyesal, tapi kebenciannya jauh lebih besar daripada rasa penyesalannya. Apalagi setelah melihat anak itu, minhyuk, yang sedang berlari menuju tubuh ibunya yang penuh dengan darah.

“Eomma, eomma bangun eomma! Eomma..eomma!!” panggil Minhyuk berulang-ulang. Minhyuk menggoncangkan tubuh ibunya. Nyonya Kang mengambil nafas yang sangat sulit ia dapatkan. Dipegangnya erat kedua tangan Minhyuk.

“Minhyuk….. anak eomma…… selalu sayangi appa dan Minna  ya?” nafasnya tersengal, “Kau adalah anak yang sangat baik, kau pasti akan selalu patuh pada appa, ya kan?”

“eomma…” rintih Minhyuk dengan airmata yang sudah mengalir deras dipipinya.

“eomma sayang Minhyuk, Minna dan appa…….” Kata ibunya Minhyuk yang merupakan kata terakhirnya.

Sementara tuan Kang, berdiri diunjung jalan. Tatapannya kosong. Dia tak menyangka semuanya akan seperti ini.Dia mungkin kesal pada wanita itu, tapi bagaimanapun wanita itu adalah istrinya, istri yang sangat ia cintai. Bahkan pertanyaan si Minna kecil yang berdiri disebelahnya tak digubrisnya.

“Appa, eomma kenapa berdarah?”

+++

“Pergi kau!”

“Appa, jangan usir aku..aku bisa kau andalkan, aku bisa menjaga Minna saat kau sedang tidak dirumah, aku akan mengerjakan semua pekerjaan rumah, dan kau tahu bahwa aku dapat beasiswa. Biarkan aku tinggal dan makan disini. Aku tidak akan merepotkanmu…” rayu Minhyuk sambil berlutut didepan ayahnya. Tuan Kang yang melihatnya langsung berfikir bahwa memang benar anak ini dapat diandalkan. Daripada harus menyewa pembantu kan?”

+++

“Ayahmu lagi?”

“Ya, seperti biasa. Aish, sudahlah Jungshin! Jangan memperhatikan jidatku lagi!” ucap Minhyuk sambil menjauhkan kepala temannya yang sedari tadi memperhatikan lebam dijidatnya.

“Hahahaha, lihat keadaanmu. Konyol sekali, masa pemuda sebesarmu bisa lebam-lebam begini hanya karena ayahmu sendiri? Kalau karna si brengsek-brengsek yang suka mencari masalah dijalanan sih itu wajar. Malah kau akan dianggap keren. Tapi ini……….payah!” ejek pemuda yang dipanggil Jungshin itu. Ia kembali fokus pada pekerjaan rumah –yang ia kerjakan disekolah- itu. Waktu tinggal beberapa menit lagi sebelum guru mereka masuk.

“Jangan mulai lagi deh….” keluh Minhyuk sambil mengambil buku yang menjadi bahan contekan untuk pekerjaan rumahnya Jungshin, “kerjakan saja PR mu itu sendiri!”

“Ya! Ya! Jangan cepat marah begitu, aku kan cuma bercanda. Berikan aku bukumu itu ya?” rayu Jungshin, dan dengan cepat ia mengambil buku milik Minhyuk itu. Minhyuk hanya bisa pasrah. Ia hanya menggeleng-geleng melihat tingkah temannya yang setiap pagi tak pernah absen meminjam buku PR nya.

+++

Saat itu sedang jam istirahat, Minhyuk dan Jungshin disudut kantin sambil melahap makanan mereka. Minhyuk hanya makan sedikit, walaupun dia tahu dia bisa memakan sesuka hatinya. Tapi tidak, sekalipun Jungshin adalah teman baiknya, sangat baik malah, ia tidak tega menghabiskan makanan yang dibeli Jungshin dari hasil kerja kerasnya.

Ya, Jungshin sudah bisa bekerja tanpa harus merepotkan kedua orangtuanya. Tapi mungkin bagi Jungshin, bekerja ya untuk dirinya sendiri. Bukan karna ia sedang mencoba untuk tidak merepotkan orangtuanya atau mencoba membahagiakan mereka. Hah! Jungshin bahkan tidak perduli lagi dimana sekarang keberadaan dua manusia yang sudah membesarkannya itu. Soal profesinya apa, Minhyuk pun tidak tahu. Minhyuk seringkali mencoba bertanya tapi ia selalu menjawab “Makanya, kau ikut aku dan tinggalkan ayahmu yang keparat itu. Kau akan tau apa pekerjaanku. Lagipula, alasanmu tetap tinggal disana aneh! Ibumu sudah meninggal, dia tidak akan tau kalau anak tersayangnya ini sudah meninggalkan ayah dan adiknya,” begitu katanya sehingga kadang membuat Minhyuk kesal. Tapi Minhyuk selalu mencoba untuk tidak marah pada orang yang kalau berbicara sesuka hatinya ini, Jungshin adalah satu-satunya orang yang selalu berada disampingnya.

“Minhyuk, aku tidak akan pernah bosan untuk mengajakmu. Tapi sebagai sahabat, aku tidak tahan melihat kondisimu. Ikut aku dan kita nikmati hidup ini bersama-sama!” ajak Jungshin tiba-tiba untuk memulai obrolan diantara mereka. sementara mengobrol, mulutnya tetap asik mengunyah.

“Jungshin…..kau tahu kan….”

“Ya ya ya, aku tahu. Kau punya janji pada ibumu dan sebagainya dan sebagainya. Hah, berbakti sekali kau ini! yang jelas, kalau kau sudah tidak tahan. Hubungi aku!” ucap Jungshin sambil menepuk-nepuk punggung Minhyuk.

+++

“Ayo Minna, buka mulutmu, aaaaa…” Minna lalu membuka mulutnya. Membiarkan suapan makanan dari Minhyuk masuk kemulutnya. Semua pekerjaan sudah diselesaikan. Minhyuk sudah agak tenang karna hari itu Minna tidak berulah macam-macam ditambah lagi ayahnya belum pulang. Ya, Minhyuk senang jika tidak melihat pria itu, lebih baik ayahnya pulang saat Minhyuk sedang disekolah, dengan begitu mereka tidak akan bertemu kan?

“Aku kalah…kalah lagi….” Ujar suara yang tiba-tiba datang dari luar. Minhyuk mendesah, dia tidak jadi tenang hari ini. dengan segera ia bangkit untuk membuka pintu. Ayahnya muncul dengan keadaan mabuk, membawa botol minuman ditangannya.  “Membuka pintu saja lama sekali kau bodoh!”

PRANG!!

Minhyuk terkejut. Dibukanya matanya yang sempat terpejam ketika pria itu melayangkan botol itu kearahnya. Beruntung botol itu mendarat di dinding, dinding yang letaknya hanya beberapa centi dari kepala Minhyuk.

“Appa, ayo, biar kuantar kau kekamar,” ajak Minhyuk dengan sabar. Digandengnya tangan pria itu, namun dengan cepat pria itu menepis tangan Minhyuk.

“Jangan panggil aku appa! Sudah berapa kali aku bilang! Sejak kapan aku jadi ayahmu hah?!! Ayahmu disana, si brengsek penggoda istri orang!” makiannya makin menjadi-jadi. Namun Minhyuk hanya diam, menahan pedih dihatinya, ia sudah terbiasa dengan situasi ini. Jika ayahnya mabuk, maka sumpah serapah akan masa lalu keluar dari mulutnya. Minhyuk kembali memapah ayahnya.

“Jauhi aku! Atau kau mati, anak tidak berguna!” tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Kali ini Minhyuk mundur, lawannya kali ini benda tajam! Pria itu terus maju, mengacung-ngacungkan pisaunya. Minhyuk lari kekamar dan segera menutup pintunya. Badannya gemetaran.

“Kali ini ia mencoba membunuhku. Tidak, aku belum siap mati. Aku sanggup hidup dibawah tekanannya, tapi tidak untuk mati ditangannya. Gila……DIA ITU SUDAH GILA!!! Benar, dia gila dan sebentar lagi aku juga akan gila,” ronta Minhyuk dalam hati. Pikirannya dipenuhi oleh benda tajam yang hampir saja menusuk perutnya tadi. Ia mulai menangis, seandainya saja kejadian itu terjadi dan ibunya tetap berada disisinya,

“Eomma……maaf………..maafkan aku. Aku tidak bisa, eomma aku benar-benar minta maaf.”

+++

“Sudah berapa lama sih kau jadi temanku? Baru kali ini kau datang ketempatku.”

Minhyuk diam saja. Tanpa dijawab juga Jungshin pasti tau kenapa ia tak pernah mengunjungi rumahnya.  Ia hanya sekedar tau dimana rumah Jungshin tanpa pernah mampir. Bisa celaka kalau ia sempat-sempatnya keluyuran diluar rumah. “Ya! aku mau mandi dulu, kalau kau mau makan ambil saja. Anggap saja rumah sendiri,” lanjut Jungshin sambil berlalu dari hadapan Minhyuk.

Dengan canggung Minhyuk duduk disisi tempat tidur. Jujur saja, ia takjub. Ia tahu kalau Jungshin selalu punya banyak uang, tapi dia tidak menyangka Jungshin punya apartment besar seperti ini. Setengah jiwanya merasa betah, namun yang setengah lagi masih takut. Bagaimana kalau ayahnya tahu? Hah, cepat-cepat dibuang Minhyuk pikiran itu.

“Mau ikut aku atau tidak? Katanya penasaran?” tanya Jungshin setelah ia keluar dari kamar mandi. Minhyuk menaikkan alis matanya tanda tak mengerti. “Ke tempat ‘kerja’ku” tambah Jungshin sambil mengedipkan sebelah matanya.

+++

Minhyuk merasa tidak nyaman. Pertama, laki-laki gemuk yang keliatannya perokok dan peminum berat ini memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki, dengan tampangnya yang keliatan meremehkan. Kedua, tentu saja tempat ini. Tempat yang sepertinya tidak akan mungkin dikunjungi seorang Minhyuk, yah oke, mungkin saja sekarang jadi mungkin. Dengan lampu disko yang berkelap-kelip, music yang berisik, manusia-manusia malam, dan wanita-wanita penari yang rrrrr sudahlah, yang jelas, ini club malam!

Laki-laki gemuk itu menoleh kearah Jungshin, memberinya isyarat untuk segera mengikutinya. Jungshin berlalu setelah sebelumnya menepuk pundak Minhyuk, seakan memberi pandangan, “aku akan kembali”.

“Kau pikir aku anak kecil hah?!” protes Minhyuk. Jungshin tertawa lalu pergi.

Padahal kenyataannya Minhyuk takut kalau-kalau ada yang mendekatinya. Dasar!

+++

“Gaya seperti anak tukang jual buku itu kau bawa kemari?! Dia bisa melakukan apa untuk kita?!” kata laki-laki gemuk itu setelah tiba ditempat yang sedikit tenang untuk berbicara dengan Jungshin.

“Kau tahu saja kalau dia aku bawa untuk bergabung dengan kita, haha. Dia itu serba bisa, gayanya saja yang seperti itu, anaknya cerdas, nilai olahraga nya disekolah tinggi kok! Dilatih sedikit, clap! Dia bisa jadi seperti yang kau inginkan.”

“Gayamu sok meyakinkan. Kau pikir ini persahaan pencari bakat? Oke, lagi pula anggota kita sudah sesak dengan manusia-manusia tolol. Apa salahnya menambah satu yang cerdas? Bisa aku pertimbangkan..”

“Terimakasih!!! Tapi boss….aku…juga tolol?” tanya Jungshin dengan polosnya. Si “boss” itu diam saja dan melangkah pergi.

“Boss!!!” panggil Jungshin, laki-laki gemuk itu menoleh. “Bukannya ayahmu dulu tukang jual buku ya?”

“Sialan kau!” umpat laki-laki itu sambil berlalu. Jungshin tertawa keras melihatnya.

“Kalau kami ini manusia-manusia tolol, lalu kau apa? Pemimpin manusia-manusia tolol kan?”

+++

Dua orang pemuda berjalan keluar dari tempat persembunyian kelompok mereka. Kelompok yang tentu saja ditentang negara. Mereka berdua memakai kacamata dan kerah yang menutup sampai leher, cukup misterius. Lelaki yang tinggi menguncir rambutnya yang panjang, sementara lelaki yang lebih pendek 2 cm dari orang disebelahnya itu memakai topi dan berponi cukup panjang.

“Bos memujimu lagi. Padahal baru delapan bulan bekerja. Sebentar lagi mungkin kau akan lebih kaya daripada aku haha,” ucap lelaki yang paling jangkung, ya tentu saja, itu Jungshin yang sedang berjalan bersama Minhyuk.

“Jangan berkata seperti itu, aku jadi tidak enak. Ingat, kau yang membawaku kelembah hitam begini. Aku sampai tidak sekolah dan benar-benar sudah berubah sekarang, dasar kau!!” ujar Minhyuk yang lalu duduk dihalte bis, disusul oleh Jungshin.

“Hahahaha, maaf. Tapi kau menikmatinya, kan? Jadi ingat betapa susahnya dulu aku membujukmu untuk bergabung bersama kami. Sekarang, kau bahkan lebih jago daripada aku… Oh, besok boss besar akan datang lho… Aku penasaran bagaimana tampangnya..”

“Boss besar? Semakin lama aku bergabung disini semakin aneh-aneh saja…”

“Ya! Kau pikir kelompok pengedar kita ini pengedar sembarangan?! Kita mengedarkan barang untuk pejabat, model, bahkan orang-orang terkenal.”

“Ssssst! Pelankan suaramu bodoh! Nanti ada yang dengar, konyol sekali kalau sampai tertangkap dihalte bis seperti ini hanya gara-gara mulut besarmu.”

Jungshin menatap Minhyuk tajam. Temannya itu sudah sering mengatainya sekarang. Namun Jungshin tidak sempat membalasnya karna Minhyuk sudah beranjak untuk naik kedalam bis.

+++

Minhyuk terdiam. Badannya sedikit gemetaran. Rasanya ingin sekali ia berlari dan langsung memukul wajah pria yang sedang tertawa itu. Semuanya sudah berkumpul disana, sedangkan Minhyuk hanya berdiri didekat pintu dan menatap pria itu dengan penuh kebencian.

“Ya! Junhee,ayo beri salam pada boss besar!” ucap salah satu pria diruangan itu. Ya junhee, itu adalah nama samaran yang diberikan Jungshin kepada Minhyuk. “Kang Minhyuk adalah nama dari pemuda yang baik, sopan, dan selalu patuh pada orangtuanya. Aku tidak tega kau mengotori nama Kang Minhyuk itu hahaha mulai sekarang, didepan mereka namamu adalah Yeo Junhee, anggota dari pengedar narkoba terkuat di korea selatan, yang kebaradaannya bahkan sulit dicari polisi,” ujar Jungshin waktu itu.

Dengan terpaksa Minhyuk mendekat dan memberi salam padanya, “Annyeonghaseyo, Yeo Junhee imnida. Aku masih baru disini, aku dengar kau adalah orang yang paling berpengaruh dikelompok ini. kau sangat hebat!”

“Kau keliatan misterius, nak,” ucap si boss besar. Mendengar suaranya lagi, Minhyuk muak. Orang itu, ayahnya, bukan, ia ayahnya Minna. Minhyuk jadi teringat pada adiknya itu, “apa laki-laki keparat ini mengurusnya dengan baik?” bathin Minhyuk.

“Boss, begitulah gayanya Junhee. Sudah jangan dipikirkan apa yang ada dibalik penampilannya itu –poni yang hampir menutup mata sebelah kananya, kacamata hitam, topi dikepalanya, dan kerah sampai keleher- Bisa-bisa kau mengubah image nya nanti,” celoteh pria tadi sambil tertawa. Mereka melanjutkan pembicaraan mereka sedangkan Minhyuk hanya tersenyum tipis lalu berpamitan untuk segera pergi dari tempat itu.

+++

“Balas saja kalau itu membuatmu senang,” saran Jungshin setelah Minhyuk menceritakan tentang boss mereka, yang tak lain adalah suami dari ibunya sendiri, “lagipula jika kau tetap didalam perkumpulan ini sementara kau punya dendam pada bossmu sendiri itu akan menjadi beban tersendiri buatmu.”

Minhyuk tertegun. Tanpa diberitahu oleh Jungshin pun dia pasti akan membalas. Kini dia bukan Minhyuk yang dulu lagi, kini dia adalah Minhyuk yang kuat! Tapi sekuat apapun, baik Minhyuk ataupun Junhee tidak akan pernah lupa akan pesan ibunya, “Minhyuk….. anak eomma…… selalu sayangi appa dan Minna  ya? Kau adalah anak yang sangat baik, kau pasti akan selalu patuh pada appa, ya kan?”

Dada Minhyuk terasa sesak. Rasa sayangnya pada ibunya melebihi apapun, sekalipun ia sudah menjadi namja yang berbeda sekarang. “Membalas dendam pada appa. Bukankan itu berarti aku akan melakukan kesalah yang kedua? Mengecewakan eomma lagi?”

“Minhyuk ternyata masih lemah, masih memikirkan eommamu kan? Eommamu juga pasti senang kalau kau senang, ayolah Minhyuk! Keputusan ada ditanganmu, bukan ditangan orang yang bahkan sudah meninggal.”

“Jungshin…….”

“Oke! Aku akan diam!”

+++

“Boss besar, maaf, apa kau punya waktu? Aku ingin berbicara empat mata saja.”

“Wah keliatannya ada hal yang penting Junhee, baik kau mau berbicara dimana?”

Minhyuk menuntun pria itu. Membawanya kesebuah ruangan yang cukup jauh dari tempat dimana para anggota berkumpul. Minhyuk mempersilakan pria itu masuk terlebih dahulu. Setelah ia masuk, Minhyuk mengunci pintunya.

“Sebegitu pentingkah sampai dikunci begitu, Kang Minhyuk?” tanya pria itu. Minhyuk terkejut, ia tak menyangka orang didepannya tau siapa Minhyuk sebenarnya. Maksudnya, jika dibandingkan dengan Minhyuk yang dulu, penampilannya sangat berbeda.

“Kau kaget? Sudah berubah sekali ya kau sekarang,” kata pria itu lagi berbasa-basi. Ia tersenyum, senyum yang berbeda dari senyumnya yang biasa. Melihat senyum itu, Minhyuk hampir menyesal punya niat untuk membunuhnya.

“Bagaimana kau tahu………..Kalau aku Kang Minhyuk?”

“Ayolah, tidak mungkin aku tidak mengenal kau. Aku akan appamu……”

“KAU BUKAN APPAKU!! SEENAKNYA SAJA KAU BERKATA SEPERTI ITU!! JANGAN SOK BAIK!! KAU KIRA AKU MINHYUK YANG DULU, YANG SELALU KAU SIKSA SAMPAI HAMPIR MATI?! SEKARANG AKU YANG AKAN MENYIKSAMU, KAU AKAN MATI PRIA TUA!!” bentak Minhyuk sambil mengeluarkan pistol dari sakunya. Ia mengarahkan pistol itu didepan wajah pria itu.

“Minhyuk, aku..aku tau kesalahanku begitu besar, tapi jangan main-main dengan benda itu. Aku hanya ingin kita mengulang semuanya dari awal. Minhyuk, aku merindukanmu. Merindukanmu, seperti appa yang rindu pada anak lelakinya.”

“DIAM KAU!!” bentak Minhyuk lagi. Tangannya sedikit gemetaran, ia sedikit luluh juga mendengar kata-kata orang itu. Tapi tidak, Minhyuk tidak akan tertipu. “TIDAK USAH BERSANDIWARA SEAKAN-AKAN KAU ITU MALAIKAT SUCI! KAU HANYA TAKUT KAN PADA BENDA INI? KAU TAKUT PADAKU KAN? APA KARENA KAU SUDAH TUA RENTA SEHINGGA KAU BERPIKIR UNTUK MENGEMBALIKANKU KERUMAH ITU UNTUK MELAYANIMU SELAMA SISA HIDUPMU? TIDAK USAH BERHARAP!!”

“Minhyuk, tidak, tidak seperti itu, Minhyuk, aku tidak seperti itu lagi!” bantah pria itu, jujur saja ia sedikit ketakutan. Dia seperti tengah menghadapi monster sekarang, padahal dulu dialah monsternya.

DORR!!!!

Nafas Minhyuk terengah-engah. Pria didepannya terkejut. Minhyuk sengaja menembakkan peluru kearah lain, tepatnya didekat tumpukan tong bekas.

“Kau mau, kau mau kepalamu hancur seperti tong-tong itu? Tunggu saja, sebentar lagi aku akan melakukannya. Itu baru pemanasan…” ujar Minhyuk sedikit tertawa. Tawa yang menakutkan.

Tiba-tiba terdengar kehebohan dari luar. Kehebohan yang berasal dari sirine polisi. Ya, polisi berhasil melacak persembunyian mereka.

“KAU LEBIH BAIK LARI SEKARANG MINHYUK!! LARI LAH!!” perintah si boss besar. Minhyuk memang ingin segera pergi dari tempat itu, “tapi kau? Kau tidak lari?” tanya Minhyuk kepadanya. Pria itu menggeleng, “Aku kan hebat, kau sendiri yang bilang begitu. Larilah!” Minhyuk mengerti lalu segera kabur dari tempat itu. Dia tidak tahu mau lari kemana, yang ada dipikirannya hanya rumahnya dan Jungshin. Tapi untuk kerumah itu ia ia harus melewati kerumunan polisi. Sekarang, hanya rumah itu yang bisa ia kunjungi, rumah lamanya.

Minhyuk tiba dirumah lamanya. Dilepasnya semua hal misterius yang melekat dipakaiannya. Diketuknya pintu, “Apa dia meninggalkan Minna sendirian dirumah?” bathinnya.

Tiba-tiba pintu itu terbuka, seorang lelaki yang parasnya mirip dengan ‘appa’nya itu sedikit terkejut dengan kedatangan pemuda didepannya itu. “Oh, hai Minhyuk, sudah lama tidak bertemu.. silahkan masuk….”

Minhyuk masuk dan melihat-lihat rumah itu, ah sebenarnya ada kerinduan tersendiri pada tempat ia dibesarkan itu. Namun beberapa hal dirumah itu sudah berubah. Seakan-akan rumah itu sudah ditinggal lama oleh pemiliknya. “Ahjussi……… Dimana Minna?” tanya Minhyuk dengan canggung. Sudah lama sekali ia tidak melihat orang ini, setelah peristiwa itu orang ini memang menghilang, setelah orang ini tahu kalau ibunya Minhyuk meninggal karena terbongkarnya perselingkuhannya waktu itu. Minhyuk juga sedikit canggung karna ia memanggil ahjussi pada ayah kandungnya sendiri.

“Apa dia tidak menceritakanmu? Hyung ku tidak memberitahumu?”

“Tidak usah bertele-tele.”

“Tapi untuk apa dia mencarimu kalau dia tidak memberitahu semuanya!”

“Maksudmu apa? Tidak usah berbasa-basi! Mencariku? Memberitahu semuanya? Ada apa ini?!” tanya Minhyuk bingung.

“Minna…dia sudah meninggal. Minna itu sangat sayang padamu! Kau tahu kan bagaimana otaknya Minna? Ia anak yang lemah. Sewaktu kau pergi Minna sangat terpukul, ia tidak mau makan sampai jatuh sakit,” ujar pamannya Minhyuk, terlihat raut kesedihan dimatanya. Minhyuk terdiam, dia ingin menangis. Dia merasa sangat menyesal. Minna meninggal karna dia.

“Apa appa, mencariku untuk membunuhku? Benar kan? Karna Minna meninggal makanya dia ingin aku juga mati. Benar kan??!!”

“Minhyuk, tahan emosimu! Dia justru ingin meminta maaf, dia akhirnya sadar betapa berartinya kau baginya. Sekalipun…ia bukan ayah kandungmu!”

Aku hanya ingin kita mengulang semuanya dari awal. Minhyuk, aku merindukanmu. Merindukanmu, seperti appa yang rindu pada anak lelakinya.

“Tidak mungkin..” bantah Minhyuk. Ia terduduk lemas dan mulai mengeluarkan air mata. “Dia itu orang yang kejam! Tidak mungkin!”

“Minhyuk! Tidak bisakah kau memaafkan dia!!! Dia saja mau memaafkan aku yang rendah ini. kau harus ingat, dia ayahmu juga! Orang yang membesarkanmu!!”

Pikiran Minhyuk menjadi kacau. Ia bangkit dan keluar dari rumah. Namun, ternyata polisi sudah menunggunya diluar. Dua orang polisi memborgol tangannya.

“Mana appa ku?” tanya Minhyuk, polisi-polisi itu hanya diam dan terus menyeretnya. “MANA APPA KU?? KATAKAN DIMANA DIA POLISI BRENGSEK!!”

“Jaga omonganmu nak. Apa kau mau hukumanmu bertambah? Kalau yang kau maksud appa itu adalah boss besar kalian. Maaf, ini diluar kuasa kami. Dia memberontak, membunuh dua orang polisi, kami tidak punya pilihan lain..”

“MANA APPA KU? KATAKAN SAJA!!”

“Dia sedang dilarikan dirumah sakit kondisinya kritis, sangat kritis.”

“KALIAN MELUKAI APPA KU? KALIAN HAMPIR MEMBUNUHNYA?! TEMUKAN AKU DENGAN APPA KU!!” bentak Minhyuk yang tiada hentinya. Para polisi hampir kewalahan dibuatnya, akhirnya Minhyuk berhasil dimasukkan kedalam mobil. Didalam mobil, pikiran dan hati Minhyuk kosong. “Eomma….aku benar-benar sudah membuatmu kecewa. Anak seperti aku pantasnya mati saja,” rutuknya berkali-kali dalam hati. Sementara ayah kandungnya Minhyuk menatap miris putranya itu, berharap Minhyuk bisa kuat.

+++

Jungshin’s POV

Hai, aku Jungshin. Penulis, dan mantan narapidana. Hahahaha, ya aku dulu adalah seorang pengedar narkoba di komplotan ternama. Mungkin semuanya sudah tahu setelah membaca buku pertama ku, buku yang berisi tentang hidupku yang yaaah agak menyedihkan. Keluarga yang hancur, bertemu komplotan itu, hidup senang, namun akhirnya berakhir dibalik jeruji besi.

Siapa saja yang membaca ceritaku mungkin sering melihat nama sahabatku, Kang Minhyuk. Di buku keduaku aku akan membuat cerita tentang dia. Kalian tahu, aku satu-satunya tempat Minhyuk bercerita. Mungkin aku butuh sedikit bantuan dari paman Kang, ayah kandungnya Minhyuk.

Sedikit saja, aku dan Minhyuk berasal dari keluarga yang berantakan. Perbedaannya, aku menemukan ‘jalan’ku, sedangkan Minhyuk agak telat menemukan ‘jalan’nya sendiri. Kesamaan dari kami lagi, jiwa kami mungkin bisa dikatakan setengah gila. Oh, tentu saja sekarang aku tidak lagi, aku kan sudah sempurna waras sekarang, hahaha!

Mungkin Minhyuk terlalu tertekan dengan keadaan keluarganya. Dari keluarga yang bahagia, kemudian ia menemukan dirinya beradik seorang cacat mental, ibunya meninggal dengan tragis, lalu ayahnya yang selalu menyiksanya. Minhyuk waktu itu percaya keluarganya akan bahagia lagi, ia berjuang mati-matian disekolah untuk mendapat kebanggaan sedikit saja dari ayahnya. Tapi seperti manusia lainnya, jiwa Minhyuk bisa memberontak. Dan sekali lagi, aku lah tempat ia menceritakan masalahnya. Jujur saja, aku sering menyesal karna membuatnya jadi orang yang buruk, tapi waktu itu yang aku pikirkan hanya bagaimana remaja seperti kami mendapatkan kesenangan yang tidak kami dapatkan dari orang tua.

Saat itu, saat komplotan kami ketahuan oleh polisi, otak dan jiwa Minhyuk seakan-akan diputar-putar. Dia seperti orang gila waktu itu. Ayah dan adiknya sudah meninggal, dan Minhyuk berasumsi dialah penyebab semuanya! Minhyuk yang sangat mencintai ibunya selalu bertingkah seakan-akan ibunya datang dan mengatakan “aku kecewa padamu Minhyuk,”. Dibalik jeruji itu, Minhyuk tak pernah mau makan,dan akhirnya mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Minhyuk-ah, saat itu aku benar-benar gila! Aku tak menyangka kau akan berbuat seperti itu.

Oh, sedikit saja cerita tentang Minhyuk. Nanti aku bisa menangis kalau terus menulis ini hahahaha. Dan hari ini peringatan sepuluh tahun kematian Minhyuk, aku mau ke makamnya dulu. Tunggu bukuku yang berikutnya ya, hahahahaha. Bye!

 

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

7 thoughts on “[LombaFF] He’s not my appa

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s