[LombaFF] HURT IS LOVE, LOVE IS HURT

Rating:  General, Teenagers

 

Genre: romance, family

 

Cast:  han ji kyung (Ocs)

Kang min hyuk

Lee jong hyun

 

Other Cast:         Jung yong hwa

Lee jung shin

Han ji kyung`s father (Ocs)

Han ji kyung`s mother (Ocs)

Han Kyu Joo (Ocs)

Yoo sang min (Ocs)

 

Note: dimulai dari niat baik author untuk mengekspresikan diri dengan cara menyalurkan hobi menulis, terutama menulis fan fiction CN BLUE. Apalagi sekarang lagi lomba kan?. Mudah-mudahan aji mumpung mendarat di author😀. Happy reading! Terima kasih bagi yang mau membaca dan jangan lupa di komen dengan cara ketik SUKA, pokoknya yang berbau dukungan lah. Gomawo dan terima kasih J

 

 

 

 

AUTHOR POV

 

Namanya Han Ji Kyung, sekarang duduk dibangku kuliah. Dia hanya sendiri di kota Seoul. Kedua orang tuanya telah meninggal ketika ia berusia 9 tahun akibat kecelakaan sepulang berlibur. Sepanjang hidupnya ia akan merasa bersalah, ia menyalahkan dirinya sendiri. Jikyung bisa hidup sampai sekarang karena uang tunjangan orang tuanya dan hasil kerjanya. Sebenarnya ia mempunyai Oppa yang ikut meninggal bersama kedua orang tuanya. Oppa nya sangat sayang padanya. Ketika kejadian itu, Oppa nya berumur 16 tahun, umur mereka memang jauh berbeda. Sayangnya, Yeojachingunya menyalahkan Jikyung atas meninggalnya Oppa.

8 tahun yang lalu….

“oemma, aku ingin berlibur ke Busan. Aku kangen dengan Bibi dan paman. Disana aku juga ingin melihat-lihat” Jikyung kecil berlutut di depan oemmanya.

“hei ada apa ini? Kenapa kau berlutut?” oppa Jikyung berteriak didepan pintu, ia baru saja datang dan ternyata ia membawa onnie itu. Onnie jahat.

“aku ingin ke Busan, kan sekarang libur. Tapi oemma dan appa tidak mau” Jikyung kecil langsung berlari memeluk oppanya dan menceritakan hal yang terjadi.

“ah hanya itu, aku akan memohon pada oemma dan appa. Kau tenang saja” pernyataan oppanya membuat Jikyung senang. Ia bersyukur mempunyai Oppa seperti itu. Baik sekali.

Malam harinya, kami sekeluarga berkumpul di ruang keluarga.

“whoooam, aku tidur dulu ya, aku sudah ngantuk” pamit Jikyung pada keluarganya.

“selimut kau sudah oemma letakkan di lemari, hah kau ini, sudah 9 tahun tapi masih juga ngompol” tukas oemma Jikyung sedikit kesal dan meledek.

“baiklah oemma, terima kasih!” teriak Jikyung yang sudah sampai di ambang pintu kamarnya.

Dari dalam terdengar sayup-sayup pembicaraan oemma, appa dan oppa. Jikyung masih belum bisa terlelap, padahal ia merasa sangat ngantuk. Dan akhirnya terlelap.

Keesokan harinya…

“apa? Kita jadi ke busan oppa?” pekik Jikyung membuat Joki, marmut kesayangannya terbangun

“ssst, kau tidak perlu berteriak seperti itu, dasar babo!, kau lihat? Joki terbengun” tukas oppa Jikyung sambil membungkam mulut Jikyung lalu melepaskannya.

“kau sangat pandai menarik hati oemma dan appa, hebat! Kasih tau dong caranya. Jurus apa yang kau pakai? Hah?” Jikyung masih merayu oppanya.

“kau tidak perlu tau manis, yang pasti sekarang kau harus siap-siap” suruh oppanya sambil mengelus-elus rambut Jikyung dengan sayang.

Oppa Jikyung bernama Han Kyu Joo , dia tau sekali bagaimana menyenangkan hati Jikyung. Ketika seisi rumah tengah memasukkan barang-barang bawaannya kedalam bagasi mobil, Sang Min onnie datang, namanya Lee Sang Min, Pacarnya oppa. Dia bukan orang yang baik.

“hei kenapa kau kesini?” tanya Kyu Joo kaget.

“kenapa kau kaget? Bukankah kita sudah janjian kemaren untuk berkencan sekarang?” tanya Sang Min tak kalah kaget. Ia lalu memperhatikan kesekelilingnya.

“kau mau pergi kemana? Kau tidak memberi tahuku” tanya Sang Min lagi.

“aku pergi ke Busan untuk berlibur bersama keluarga, maaf baru memberitahukan kau sekarang, kemaren tidak sempat”

“hah, kau pasti menuruti perkataan adik kau yang sok manis itu kan? Sampai kapan kau mau diperbudak seperti ini?” pernyataan Sang Min  menusuk kyu Joo.

“apa maksud kau berbicara seperti itu? Kau!” Kyu Joo oppa sangat marah, tak sadar tangannya sudah mendarat kasar di pipi Sang Min.

“maafkan aku, kau yang duluan” Kyu Joo menyesal atas perbuatannya.

“terima kasih! Kita akhiri saja semua” kalimat terakhir dari Sang Min sampai akhirnya ia beranjak pergi, menjauh dan menghilang dari pandangan.

Saat itu juga kegalauan terjadi, Kyu Joo sangat galau. Tapi ia tetap melanjutkan perjalanannya ke Busan dengan keluarganya.

Waktu telah dilewati, hampir setengah jalan menuju ke Busan…

“appa, apa kau letih? Aku bisa menggantikan kau membawa mobil. Aku lihat tadi malam kau masih bekerja sampai larut” Kyu Joo menawarkan diri untuk membawa kendaraan tersebut.

“ah kau tau betul aku sedang letih sekali” appa Jikyung menerima tawaran dari anak sulungnya.

Akhirnya mereka menukar posisi tempat duduk. Entah kenapa saat itu Kyu Joo sangat galau, tentu saja karena kejadian tadi. Ketika akan memasuki gerbang kota Busan, Kyu Joo tidak bisa mengendalikan mobilnya karena ada yang mengacau. Dan mereka kecelakaan. Mobil yang mereka sekeluarga tumpangi jatuh ke jurang di perbatasan itu. Ketika itu Jikyung dipeluk oleh oemmanya. Jikyung hanya bisa terdiam, ia tau bahwa sekarang adalah masa diantara hidup dan matinya. Dia tidak sadar….

 JIKYUNG POV

Ah kenapa ini? Panas sekali dan terang, aku berada dimana? Kenapa tidak ada orang disini?. Beribu-ribu pertanyaan menancap dibenakku. Mana oppa? Appa? Oemma?. Apa ini? Ha? Aku menangis?.

“hiks hiks hiks” suara tangisanku memecah tidurku. Mimpi yang mengerikan, masa lalu itu mampir dibenakku. Aku tidak sanggup membuka mataku yang terasa berat dan sembap, padahal aku sudah terbangun dari mimpiku. Dengan sengaja aku mengangkat tanganku untuk membantu membuka mataku. Seperti ada lem yang merekat di kelopak mataku. Ya ampun.

Akhirnya aku benar-benar terbangun, aku lihat jam dinding. Ah aku belum terlambat, batinku. Pantas saja tadi saat aku tidur, aku kepanasan. Aku ternyata tidur diatas kasur yanng disirami cahaya matahari. Terik sekali.

Aku baru saja menempati tempat ini, bisa dikatakan kos-kosan.

Aku masih termenung, yang isinya adalah masa laluku.

Setelah kejadian itu sebenarnya aku tinggal bersama Paman dan Bibi ku yang ada di Busan, tapi mereka tidak seperti yang kulihat. Dulu mereka sangat baik, aku tinggal dengan mereka sampai aku berumur 13 tahun. Kenapa?

 4 tahun yang lalu…

Aku tidur disalah satu kamar atap di rumah Bibi dan Pamanku. Selama ini Pamanku memang kasar, tapi sesungguhnya dia penyayang. Entah karena apa dia seperti itu.

Sampai pada suatu malam, aku terbangun dari tidur. Kulihat jam dinding telah menunjukkan pukul 2 malam. Aku turun kebawah berniat ke kamar mandi. Tapi langkahku terhenti ketika aku mendengar seperti ada pertengkaran. Aku bersembunyi dibalik dinding, niatku ke kamar mandi sepertinya batal. Lalu aku mendengar pembicaraan itu.

“apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak ada yang mau membeli keramik kita, rentenir keparat itu juga selalu mendesak kita” itu seperti suara Bibiku, ya jelas sekali.

“aku tak tau, hah bagaimana kalau kita gantung diri bersama saja?” itu juga seperti suara Pamanku, tapi apa yang dibilangnya sangat membuatku terkejut. Aku sudah mengerti sekarang. Ini hanya masalah ekonomi.

“apa? Kau gila hah? Aku masih ingin hidup tau!” suara Bibiku sangat lantang tapi jelas sekali banyak masalah yang ditopangnya.

“percuma! Kita tidak akan bertahan lama bila tidak mendapat uang untuk makan dan hidup!” suara Paman sangat pasrah, segitu beratkah masalahnya? Kenapa? Kenapa berhenti bertengkar? Saat itu suara mereka tidak terdengar. Tapi beberapa menit kemudian mulailah Pamanku berbicara.

“aku punya ide! Bagaimana kalau kita jual saja Ji Kyung ke Seung Lim?” suara Paman sangat bersemangat, tapi itu membuat aku sangat shock, akupun terduduk dilantai.

“apa? Seung Lim? Dia kan bandar kejahatan disini!” Bibi juga ikut kaget sepertiku, aku berharap Bibi membelaku.

“kau pasti mengerti, Jikyung kan sekarang sudah besar, dia harus membalas jasa kita selama ini. Benarkan?” suara paman seperti bertambah semangat.

“kau betul juga, apa orang tuanya tidak marah?” apa? Bibi menyetujui paman? Ini sungguh membuatku terpukul. Aku segera bangkit, aku tidak mau mendengar percakapan itu lagi. Aku segera menuju kamar, pikiranku membatu. Ternyata tidak ada yang bisa dipercaya dibumi ini. Aku kehilangan arah sekarang. Tanpa kusadari aku segera memasukkan pakaian-pakaian dan barang-barangku. Sekarang aku sudah siap, aku berniat kabur dari neraka ini. Apa bisa?. Kamarku berada di lantai tiga, kamar atap. Tapi aku tidak meperdulikan resikonya, kalaupun aku mati, itu sangat bagus bagiku. Aku meloncat ke atap lantai 2, tidak begitu jauh. Tapi untuk ke lantai 1? Aku meloncat lagi. Aku tutup mataku. Dan, siapa yang mengira aku tidak cidera sama sekali?. Aku selamat. Dan langsung berlari. Untung saja uang tunjangan orang tuaku selalu aku pegang. Aku tak tau mau pergi kemana, mungkin aku akan kembali ke Seoul.

MINHYUK POV

“Oemmaaa” teriakku pagi-pagi.

“iya, kau kenapa sih teriak-teriak seperti tarzan kota, hah? Oemma ku langsung menghampiriku di kamar. Pagi ini aku harus pergi lebih awal.

“mana bajuku mma?” tanyaku pada Oemma

“itu diatas meja, makanya cepat bangun, angkat kepalamu, masa baju juga harus Oemma yang menyiapkan, apa kau tak malu?” Oemma ceramah sambil berusaha mengangkat kepalaku yang masih nemepel mesra dengan bantal. Nyaman.

“iya iya aku akan bangun” aku berusaha mengangkat kepalaku yang masih berat, kemaren menonton film drama sampai larut malam, makanya aku seperti ini.

Aku Kang Minhyuk, bisa dipanggil Minhyuk. Aku adalah anak tunggal, Oemma dan Appa sangat menyayangiku. Hidupku di dunia sangat indah. Aku sekarang sudah kuliah, ah tak terasa umurku sudah 18 tahun. Aku adalah pria populer disekolah, bersama dengan 3 sahabatku lainnya. Orang tua kami penyumbang terbesar di kampus. Yang senangnya di kampus itu aku bisa dapat banyak hadiah dari teman-teman yang menyukaiku, beruntungnya aku.

Ya! Aku sekarang sudah siap ke kampus. Tapi mana teman-teman ku? Hah, mereka memang selalu ngaret.

“kau diantar Appa ya?” tawar Oemma ketika aku sampai di meja makan.

“apa? Tidak! Tidak usah, aku akan dijemput temanku ma” tolakku.

“oh baiklah kalau begitu, jam berapa teman-temanmu datang?” tanya Oemma ketika aku menyuapkan seiris roti ke mulutku.

“entahlah, mereka ngaret” aku memanyunkan bibirku yang kata teman-temanku yang lain sangat seksi. maaf aku sedikit narsis, tapi itulah adanya.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga datang dengan mobil sport kami. Ya, mobil itu milik kami. Pemegang kuncinya tentulah Yonghwa hyung.

“Oemma, Appa, teman-temanku sudah datang, aku pergi dulu ya” segera aku mengambil tas dan bergegas untuk menuju mobil. Sesampainya di mobil.

“ya! Kalian lama sekali” aku duduk di bangku belakang bersama jungshin.

“hei kau harus ingat, rumah kau paling jauh. Jadi kau diam saja, harap dimaklumi” Yonghwa hyung yang tak  terima untuk disalahkan langsung angkat bicara.

 JONGHYUN POV

Ini hari pertamaku ke kampus setelah libur semester berbulan-bulan, aku kangen kampus.

Aku lee jonghyun, aku mempunyai 3 orang sahabat yang setia dan cocok satu sama lain. Sekarang umurku 19 tahun. Sekarang aku tinggal dengan appa ku. Kalian tau? Masa laluku sebenarnya tidak kelam, tapi ada seseorang yang membuatnya kelam.

Aku mempunyai noona, namanya Lee Sang Min. Dia cantik dan pintar, semua orang menyukainya. Tapi aku tak tau orang seperti apa yang dia benci. Ketika berumur 16 tahun, ia berpacaran dengan seorang namja, kalau tidak salah namanya ada unsur-unsur Han. Sungguh, aku tidak ingin mengingatnya. Ketika itu dia pulang dengan bercucuran air mata, aku bingung. Aku berusaha bertanya, dia menceritakan ke aku semuanya. Menurutku, Memang noona ku ini punya salah, tapi lelaki itu tidak berhak menamparnya. Setelah mengetahui kalau pacarnya meninggal, ia galau keras, karena namja itu adalah cinta pertamanya. Beberapa hari ia memang selalu berbicara sendiri, yang aku dengar, dia selalu menyalahkan adik namja itu. Dan Aku mengerti sekarang.

Tiba-tiba seperti ada jitakan keras di kepalaku.

“hei kau melamun?” tanya Jungshin yang ternyata sedari tadi menjitak kepalaku. Buktinya sampai sakit begini.

“ ya! Kepalaku sakit, seberapa banyak kau menjitak kepalaku hah?” sambil mengelus-elus kepalaku yang masih sakit karena menjadi korban jitakan.

“kau yang melamun, awalnya hanya aku yang menjitak. Tapi karena kau belum juga sadar, ya kami mencoba menjitak kepala kau menggunakan tangan kami masing-masing, hahaha bagaimana rasanya?” jelas Minhyuk, si tukang jitak pertama sambil tertawa.

“kau seperti ada masalah, ayo ceritakan” Yonghwa menawarkan diri sebagai pendengar curhatku.

“tidak, terima kasih. Lagipula aku tidak ada masalah” tolakku berusaha halus.

 JIKYUNG POV

Hari ini adalah hari pertama kuliah setelah libur 3 bulan. Selama libur aku lebih memakan banyak waktu untuk bekerja keras, uang tunjangan orang tuaku tidak akan mencukupi biaya hidupku sampai mati. Hidupku terlalu keras, bisakah aku melewatinya? Tanyaku dalam hati.

Dengan segera, aku menuruni tangga dan mengambil sepeda. Sepeda ini adalah sepeda peninggalan Kyu Joo Oppa. Aku masih saja melamun sambil memegang sepeda.

“ya! Kau terus melamun, apa kau tak takut dimarahi oleh dosenmu hah?” Bibi kos mengagetkanku. Ia merupakan orang yang sekarang kuanggap paling baik.

“ah untung saja kau mengingatkanku, kalau tidak, bisa-bisa aku mati berdiri seperti ini. Gomawo, aku pergi dulu ajumma” aku langsung mengayuh sepedaku turun kejalanan.

Cuaca hari ini sungguh cerah, aku bisa meresapi semilir angin yang menampar wajahku. Rambutku yang panjang sepinggang berterbangan kebelakang, aku seperti di drama-drama.

Tak lama perjalanan yang perlu aku tempuh untuk mencapai kampus. Hanya dengan memakan waktu 45 menit aku sudah sampai di gerbang. Karena saking senang dan ngebutnya tiba-tiba ada sebuah mobil sport berjalan ngebut dihadapanku, berlawanan arah. Ah tidaaak!

BRUUUK!

Aish, sial. Sekarang apalagi yang menimpa diriku, tanyaku membuncah dalam hati. Aku tak kuasa ingin berdiri dan menghajar si pemilik mobil ini, tapi lutut dan sikuku ngilu, semuanya berdarah.

AUTHOR POV

Kecelakaan itu membuat seluruh isi sekolah yang berada di tempat kejadian perkara (TKP) menjadi heboh. Jikyung tergolek lesu di tengah lapangan, roda sepedanya pun masih kencang berputar. Keempat pria yang berada di dalam mobil sangat shock, mereka juga baru menyadari bahwa mereka tadi menabrak seseorang, ah tidak, tepatnya ditabrak seseorang.

Yonghwa baru saja bangun dari shocknya, kepalanya sedikit terbentur ke stir mobil, Jonghyun pun juga hampir terbentur. Untung saja mereka memakai seat belt. Sedangkan penumpang belakang kondisinya lumayan memprihatinkan, kepala Minhyuk dan Jungshin terbentur ke jok tempat duduk didepan mereka. Mereka sama-sama mengelus-elus kening mereka yang baru saja terpantul dari jok, sakit memang. Setelah mereka semua bangun dari kekagetan yang baru saja dialami, mereka segera keluar mobil. Semua penghuni sekolah yang melihat berteriak, entah itu teriakan histeris karena melihat kegantengan mereka atau histeris melihat benjolan yang ada dikening mereka. Siapa yang tahu?. Sementara itu, Jikyung masih tergolek lemas, ia berusaha untuk duduk dan berdiri. Tapi susah, sangat susah.

“kau tidak apa-apa?” sesegara mungkin Minhyuk menghampiri sesama korban.

“pertanyaan bodoh, sudah jelas dia terluka parah begitu, tentulah keadaannya parah” Jungshin menyusul Minhyuk yang masih sempoyongan.

“Ya! daripada kalian bertengkar, lebih baik kalian antar saja ke ruang kesehatan, sekarang!” perintah Yonghwa pada dongsaengnya.

Jadilah Jungshin, Minhyuk dan Yonghwa menggendong Jikyung.

“ya! Kau harus menolong kami, kenapa kau diam saja? Yeoja ini lumayan berat!” sahut Yonghwa yang masih menggendong Jikyung alias belum jalan.

“kenapa harus aku?” Jonghyun ogah-ogahan menolong.

“ya sudah, kalau kau tidak mau, kau bawa saja sepedanya dan mobil kita, masih tidak mau?” tukas Jungshin.

“ne.. akan kukerjakan” akhirnya Jonghyun mau menuruti perintah hyungnya.

JONGHYUN POV

Fiuh, pagi-pagi sudah membuat masalah. Dasar yeoja pembawa sial! Batinku.

Aku terpaksa harus membawa sepeda butut dan kumuhnya ke parkiran, dia harus tau tanganku akan lecet dan kotor membawa sepeda ini. Apa aku harus menutup wajah ku? Sial!

JIKYUNG POV

Bayang-bayang putih itu kembali lagi, ah aku pasti ada di alam mimpi. Atau alam antara hidup dan mati?, tapi aku lebih senang disini. Tidak ada manusia-manusia jahat yang mengangguku. Kenapa aku tidak disini saja selamanya?. Tok tok tok. Suara apa itu? Seperti ada yang mengetuk pintu, tapi aku lihat disini tidak ada pintu. Oh, ternyata suara itu nyata. Akhirnya aku membuka mataku. Berusaha bergerak tapi tubuhku lunglai.

“bagaimana keadaannya?” aku melihat Minhyuk, teman sekelasku bertanya pada petugas kesehatan.

“sebaiknya yeoja ini harus diperiksakan dirumah sakit, mungkin ada penyakit lain yang ia derita, apa kalian tau?” jawab petugas tersebut, wajahnya sangat serius dan keningnya berkerut.

“kami tidak tau, kami baru saja melihatnya di kampus ini. Mungkin yeoja ini mahasiswi baru” jungshin angkat bicara tapi menusuk hatiku. Hah, aku hidup memang untuk tidak dikenal. Kasihan.

“ah dia sudah sadar. Gwenchana?” tanya Minhyuk

“ne..gomawo, aku juga minta maaf telah menabrak kalian tadi. Adakah kerusakan?” sahut ku masih lemah dan menatap mereka dengan senyum manis.

“ ya tidak apa-apa. Lain kali kau harus hati-hati, tidak perlu ngebut” Yonghwa angkat bicara.

“ne, soal kerusakan tak usah kau pikirkan” Jungshin menambahkan.

MINHYUK POV

Aku menatap Jikyung baik-baik. Jujur, aku tidak pernah melihat wajahnya. Mungkin dia anak baru. Wajahnya sangat kusut, tampak tua dan sangat kurus. Apa dia seorang pekerja keras?. Yoeja semuda ini bisa bekerja keras?. Dan akupun melihat dibalik senyumnya ada kehampaan. Dia adalah yeoja yang tegar tapi hanya tampak diluar, belum tentu didalamnya juga tegar.

“kau tetap kuliah atau pulang?” tanyaku pada Jikyung yang sekarang sudah bisa duduk.

“aku ingin kuliah sekarang” kami semua kaget, apa serius dia mau masuk kuliah sekarang? Babo. Jikyung berusaha turun dari tempat tidur tersebut. Dan mencari tasnya.

“kau cari apa?” tanyaku padanya.

“tasku dimana?” Jikyung langsung bertanya tanpa berbasa-basi.

“dimana kau letakkan sebelumnya?” tanya Yonghwa.

“di keranjang sepedaku” Jikyung menjawab dengan polos sambil memakai sepatunya.

“oh kalau begitu akan kami antarkan kau pada jonghyun” tukas Minhyuk membuat Jikyung kaget.

 JIKYUNG POV

Aku tersentak dikala Minhyuk melafaskan nama Jonghyun. Aku seperti pernah mengenalnya. Saat itu juga mereka mengantarkanku pada Jonghyun. Mereka memang terkenal, banyak orang bilang seperti itu, tapi sayangnya aku kurang mengenal mereka. Entah kenapa aku tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Tidak seperti mahasiswi lainnya yang sangat tergila-gila dengan mereka. Bagiku itu biasa saja. Aku sudah melihat Jonghyun dari kejauhan, aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. Tapi tidak mungkin, aku hanya orang biasa yang hidup untuk tidak dikenal. Memang.

“hei hyung, Dimana kau taruh tas Jikyung?” Yonghwa menepuk lengan atas Jonghyun yang sedang asyik makan di kantin.

“mana kutahu, aku hanya disuruh untuk membawa sepeda bututnya dan mobil kita bukan?” jawab Jonghyun sekenanya sambil melahap makanannya.

“ya! Apa maksud kau mengatai sepeda ku butut? Mulutmu yang butut!” aku tidak tahan dengan sikapnya yang jelas seklai memperlihatkan kebenciannya padaku, aku merasa seperti kesialan baginya. Aku sangat murka, ingin sekali aku menamparnya.

“kenapa? Sepeda kau memang butut, mau dikata apa? Dan asal kau tau, kau hebat sekali melawan pada sunbae mu. Tak taukah akibatnya apa?” jawabnya dengan gontai sambil beranjak berdiri. Seperti ingin pergi. Ternyata ia memang pergi.

“maaf, aku telah menyusahkan kalian. Soal tas tidak usah kalian pikirkan, urusan kita selesai” ujarku yang setelah itu berlari menuju lapangan.

Aku tidak akan menangis meskipun hatiku ingin sekali menangis, aku tegar diluar tapi rapuh didalam. Aku sadar akan hal itu. Babo! Aku benar-benar menangis ternyata. Aku mencari dimana tasku, tapi entah mengapa aku pusing. Akhirnya ketemu juga yang aku cari. Sekarang aku harus ke kelas.

 JONGHYUN POV

Aku sangat yakin, kalau dia yang aku cari. Si pembawa sial!. Gara-gara, dia Noona ku di rumah sakit jiwa sekarang. Apakah dia tidak sadar!. Kau akan mati ditanganku, atau setidaknya aku juga akan membuatmu gila seperti apa yang kau buat pada noona ku! Aku segera ke ruang tata usaha. Aku ingin mencari tau lebih dalam tentangnya.

“terima kasih songsaenim” aku langsung mengambil map tebal yang baru dikasihkan pegawai tata usaha ini. Aku langsung mencari datanya.

Benar, aku tidak salah lagi. Aku tidak boleh dekat-dekat dengannya, tentunya aku harus memberinya pelajaran. Bagaimana caranya ya?. Aha! Aku punya ide.

AUTHOR POV

Jungshin, Yonghwa dan Minhyuk pun mencari Jonghyun. Mereka ingin Jonghyun meminta maaf ruangan tata usaha. Setibanya di Ruang tata usaha.

“ya! Kenapa kalian ada disini?” pekik Jonghyun ketika melihat temannya berdiri diambang pintu.

“kau sendiri?” tanya Minhyuk sedikit kesal.

“aku ada urusan, sudahlah ayo kita pergi” Jonghyun sedikit gelagapan.

“tunggu, kau harus meminta maaf kepada Jikyung” Yonghwa menarik tangan Jonghyun yang akan beranjak pergi.

“baiklah” Jonghyun pergi meninggalkan mereka yang masih terpaku melihat tingkah Jonghyun yang menurut begitu saja, biasanya kan dia melawan.

Tapi dibalik itu, Jonghyun berjalan dengan menyunggingkan senyum. Entahlah, arti dari senyumannya susah untuk diartikan.

MINHYUK POV

Dasar jonghyun aneh. Tidak biasanya dia menurut seperti itu. Tapi baguslah kalau dia berubah.

Kulirik jam tanganku, mwo! sudah lewat 10 menit. Tanpa banyak bicara, aku langsung berlari tanpa pamitan dulu dengan Hyung-hyungku. Hah aku tidak mau martabatku sebagai seorang yang populer jatuh hanya karena terlambat.

Akhirnya aku masuk kelas dan memang, aku terlambat. Keringatku bercucuran, ah untung saja keringatku harum, hahaha. Jadi aman saja.

“maaf saya terlambat” sambil membungkukkan badan aku meminta maaf kepada songsaenim.

“english please!” sahut songsaenim yang terkenal dengan kebanciannya. Ah, aku baru ingat kalau sekarang jam bahasa inggris. Lalu?

“sorry, i came late” entah itu benar atau salah, asal saja.aku lemah disini. Akhirnya songsaenim itu menoleh ke arahku, dia takjub. Jelas saja, aku kan tampan dan populer. Benarkan?

“ya kau boleh duduk” loh? Kenapa tidak bahasa inggris?. Licik sekali dia. Aku melihat ke sekeliling, aku sedang mencari tempat duduk yang bagus dan strategis. Sementara yeoja-yeoja berteriak kecil melihatku, aku berjalan menuju satu kursi di samping yeoja yang termenung. Aku perhatikan lebih detail, detail lagi. Ah ini yeoja tadi yang terluka itu. Tepat sekali aku bertemu dia disini. Aku benar-benar takjub melihatnya ketika melawan Jonghyun hyung. Yeoja lain biasanya langsung berteriak seakan kami boneka beruang tapi yang ini beda, dia tangguh, bukan sembarangan.

“hei, kau” senggolku ke lengannya. Jikyung langsung menoleh ke arah sumber senggolan.

“ya! Kau mengagetkanku” dia kaget melihat kedatanganku. Aku? Ya aku tau, ada yang aneh dari diriku sekarang. Apa ya? Aku belum mengetahuinya.

“kaki kau masih sakit?” tanyaku padanya sambil memperhatikan lukanya.

“tidak apa-apa, aku sudah sehat” apa? Dia gila, luka sebesar itu dikatakan sudah sehat?.

Selama jam pelajaran berlangsung, aku hanya diam dan sesekali melirik ke Jikyung. Mungkin dia sedikit risih, karena aku perhatikan. Aku sadar bahwa aku tidak hanya kagum, tapi juga menyayanginya. Sungguh!

JIKYUNG POV

Akhirnya jamnya sudah berakhir, tidak terasa. Sumpah, yang tadi itu aku benar-benar tidak konsentrasi. Kenapa? Karena ada dua cabang pikiranku saat itu. Yang pertama adalah aku memikirkan Jonghyun, bukan apa-apa tapi dia sangat mirip dengan Oppaku dan aku juga merasa pernah mengenalnya, tapi dengan sikapnya tadi membuat aku geram. Dan yang kedua, aku lupa namanya, dia selalu memperhatikanku, apa sih maunya?.

Sepulang kuliah biasanya aku bekerja di swalayan tidak jauh dari rumahku. Kalau tidak bekerja, aku tidak akan makan. ada satu yang menarik perhatian, aku mengenalnya. Ku sipitkan mataku agar bisa melihatnya dengan jelas. Itu adalah Jonghyun, datang dari seberang jalan sana. Beribu pertanyaan terbang di atas benakku. Kenapa dia ada disini?. Dan dia masuk  ke swalayan.

“annyeong Jikyung” sapanya padaku, aku kaget. Dia sangat mirip oppa, apa dia jelmaan oppa?, ingin rasanya aku menangis dan memeluknya. Tapi tentu saja aku tahan.

“annyeong, kenapa kau ada disini?” tanyaku, sedikit kaku memang.

“jam berapa kau pulang?” dia tidak menjawab pertanyaanku. Sombong sekali!.

“jam 4  sore, kenapa? Kau mau menagih ganti rugi?, maaf aku tidak punya uang untuk itu” perasaan lemahku tadi berganti menjadi panas.

“tunggu dulu, jangan marah-marah. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan” jawabannya membuat aku kaget, amat kaget.

“apa? Aku tidak salah dengar?, kau sudah lupa kau siapa? Hah? Dan aku siapa?” peringatanku padanya, dia memang aneh. Tadi di kampus sangat kasar, sekarang lemah lembut.

“ini sebagai pernyataan maafku dan teman-temanku pada kau atas kecelakaan tadi” jawabnya.

Aku hanya bisa mengiyakan, ia berbeda. Ia seperti mempunyai masa lalu yang sama denganku, tapi tidak terlalu keras. Aku ingin mengingat-ingatnya, aku merasa pernah mengenalnya.

JONGHYUN POV

Terpaksa, kakiku sangat berat untuk melangkah ke tempatnya. Tapi jujur, niatku buruk untuknya, tapi baik untukku. Ia mengiyakan ajakanku yang palsu ini. Aku sangat benci yeoja ini. Ia tak sadar apa?. Setelah mengajaknya untuk jalan-jalan, aku pergi dari swalayan itu dengan wajah tidak jelas, aku tidak tau ini ekspresi apa. Antara senang, kesal atau bingung. Yeoja itu, dia pasti orang yang dikenalkan oleh noona ku ketika dengan pacarnya. Aku telah mencari tau semua tentangnya. Tunggu noona, aku bisa mengatasi masalahmu, senyumku.

AUTHOR POV

Sore itu, mereka berjalan-jalan. Sangat kaku namun Jonghyun bisa mengatasi kekakuan itu. Mereka berbicara banyak, saling mengenal satu sama lain. Mereka akhirnya benar-benar dekat, setiap hari mereka selalu bersama. Minhyuk curiga atas kedekatan mereka, ia mencium niat yang tidak baik dari Jonghyun. Minhyuk tidak ingin yeoja yang dicintainya itu jatuh ke lubang yang salah.

Suatu hari, Jonghyun dan Jikyung sedang santai bersandar di kursi panjang hitam di taman, dekat danau pinggir kota. Udara sangat dingin. Jikyung yang hanya memakai dress itu merangkul tubuhnya erat-erat, tiba-tiba Jikyung merasakan kehangatan ketika jaket Jonghyun menyampul tubuhnya, sensasi beda bergejolak dihati Jikyung. Jonghyun tersiksa kalau sudah seperti ini, ia rela berbuat munafik seperti ini demi orang yang disayanginya.

“sudah lebih hangat kan?” tanya Jonghyun tiba-tiba, ia menatap mata Jikyung menggoda.

“lumayan” jawab Jikyung berusaha cuek, padahal wajahnya sekarang sudah merah merona.

“kau ada acara besok?, kalau tidak aku ingin mengajakmu kesana” jonghyun sambil menunjuk danau yang ada diujung sana.

“hmm bagaimana ya, kalau sore saja bagaimana?” tanya Jikyung sedikit ragu, ia tidak mungkin langsung mengiyakan tawaran Jonghyun yang sebenarnya ingin sekali ia langsung bilang iya.

“tidak masalah, aku akan menunggumu. Kalau begitu, ayo kita pulang sekarang” ajak Jonghyun dan Jikyung menurut saja. Sungguh, ia tidak sabar untuk hari esok.

MINHYUK POV

Aku melihat Jikyung masuk ke dalam rumahnya diantar oleh Jonghyun hyung. Aku iri, sungguh. Setelah ia pergi, aku langsung menuju rumah Jikyung, untuk berkunjung. Sesampainya disana, aku menanyakan seluruh pertanyaan yang menancap di kepalaku. Aku tau, ia lumayan mempercayaiku. Ia juga cerita banyak ke aku. Ia menceritakan semuanya. Sampai pada akhir ceritanya yang membuat hatiku sesak.

“aku sangat senang bersamanya, kukira ia adalah tipe orang yang kasar, tapi tidak ternyata. Jujur, aku menyukainya. Oh tidak, mungkin aku mencintainya” itulah kalimat yang kudengar di akhir ceritanya. Aku ingin memenggal leherku dengan guillotine, agar aku tidak tersiksa dengan sakit ini.

“terima kasih banyak, kau orang yang berarti bagiku. Aku belum pernah cerita tentangku ke orang lain sebanyak ini, you are the first” kalimat penutup, aku tersanjung mendengarnya. Setikdaknya aku menjadi orang nomor dua yang berarti untuknya.

JIKYUNG POV

Sore ini, aku lebih cepat pulang dari hari biasa. Dan bosku mengerti. Bayangkan saja, tadi malam aku tidak bisa tidur karena jantungku tak lelah berdetak cepat. Sepertinya kantung mataku timbul, sial.

Angin sepoi-sepoi membelah rambutku, terbang. Aku merasa melayang dilautan cinta, ya aku sangat mencintai Jonghyun sekarang dan selamanya. Aku juga sudah ingat, Jonghyun adalah sahabatku ketika berumur 8 tahun, aku ingat ketika itu Oppaku dan Noonanya berpacaran, menurutku Noonanya memang jahat, aku membencinya. Karena hubungan itu, kita dekat dengan sendirinya. Tapi setelah keluargaku meninggal, dia juga menghilang.

Akhirnya aku sampai dirumah. Aku segera membersihkan diri dan segera mengenakan pakaian yang sudah kupilih dengan bersusah payah tadi malam. Aku berdandan semaksimal mungkin, jujur aku tidak biasa seperti ini. Tapi deminya, aku senang. Kulihat pantulan wajahku dicermin ketika berhias, pucat. Kenapa? Padahal aku tidak merasa sakit. Kuhiraukan wajahku yang pucat itu. Aku segera mengambil tas dan pergi. Tidak jauh menggapai tempat itu dengan sepeda, aku sampai.

JONGHYUN POV

Perasaanku bercampur aduk sekarang, antara perasaan cinta dan benci. Jikyung adalah orang yang kucinta dari dulu, namun keadaan memaksaku untuk membencinya dan membunuhnya. Apa yang harus aku lakukan?. Akhirnya aku sampai di danau ini, kejutan yang kuberikan sudah siap. Terlihat dia sedang berdiri di bawah pohon rindang, tepat di tepi danau.

AUTHOR POV

Jonghyun menutup mata Jikyung, Jikyung terkejut. Tapi ia tau siapa pemilik tangan itu.

“kau terlambat Oppa” sahut Jikyung, ia terkejut mengapa ia memanggil Jonghyun dengan Oppa.

“mianhe chingu” jawab Jonghyun mesra. Jonghyun tidak rela membunuh Jikyung apalagi perasaannya, ia memang mencintainya, sangat mencintainya. Tiba-tiba saja air mata jonghyun mengalir. Jikyung terkejut melihatnya, tanpa aba-aba Jikyung langsung menghapus air mata itu.

“maaf, aku telat lalu tiba-tiba menangis. Ya! Kau pucat, apa kau sakit?” tanya Jonghyun khawatir. Sungguh, ia tidak bisa membenci yeoja ini. Sudah lama ia mecintainya.

“gwenchana, aku tidak merasa sakit” kata Jikyung sambil menundukkan kepalanya. Ia sedikit pusing, tapi memilih untuk mengatakan sebaliknya.

“aku ada kejutan untuk kau” Jonghyun ragu, apakah tindakannya ini benar atau salah.

Jonghyun menutup mata Jikyung dengan sapu tangan miliknya, lalu ia mengajak yeoja itu untuk berjalan. Tepatnya menuju ke sebuah perahu kecil, ia menuntun Jikyung untuk duduk di dalam perahu tersebut. Jikyung yang tidak tau apa-apa menurut saja. Setelah itu, Jonghyun melepaskan sapu tangan miliknya dari wajah Jikyung.

“apa sekarang aku boleh membuka mata?” tanya Jikyung ketika Jonghyun berusaha melepaskan ikatan sapu tangan itu. Perasaan jonghyun tidak menentu.

“jangan, kau tunggu aba-aba dariku. Baru kau bisa membuka mata” jawab Jonghyun sambil menahan air matanya, ia sungguh tidak tega. Tapi seperti banyak setan yang merayunya.

Mata Jikyung belum terbuka, perlahan Jonghyun berjalan mundur keluar dari perahu kecil itu lalu melepaskan talinya. Perahu itu bergerak dan bersiap-siap untuk berjalan. Tak sadar Jonghyun menangis dan menyuruh Jikyung membuka matanya. Setelah mata Jikyung terbuka.

“wah ini sungguh indah, tapi kau dimana Oppa?” Jikyung melihat kesekelilingnya, ia menduga bahwa Oppa yang dicintainya ada disampingnya, namun dugaan itu salah. Ia melihat Jonghyun berada di daratan tepi sungai.

“maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini!” teriak Jonghyun dari tanjung danau itu sambil menangis. Jikyung hanya diam termangu, dalam hati ia bingung harus bagaimana. Sekarang ia sedang berdiri, apabila ia meronta maka dirinya akan jatuh ke danau yang sepertinya dalam.

“kau menipuku? Kau ini sebenarnya bagaimana? Apa salahku?” sekarang Jikyung tidak peduli apakah dirinya akan jatuh atau tetap ditempat. Ia benar-benar menangis, takut dan kecewa.

“aku tidak mencintai kau, tapi sebaliknya. Kau tidak sadar apa, atas kesalahan kau dulu. Ketika saudara kita merajut kasih dan kau merusak rajutan itu!” teriak Jonghyun lagi, ia tidak kuasa untuk meneriakkan kata benci kepada yeoja yang ia sayangi itu, tapi ini semua demi keluarga terutama noonanya. Batin Jonghyun berkata bahwa tugasnya telah selesai, dan ia harus pergi sekarang.

“Oppa, aku takut! Aku tidak bisa berenang!” teriak Yeoja itu meminta tolong, wajahnya benar-benar pucat pasi, air matanya hampir habis. Ia hanya bisa memeluk tubuhnya dengan kedua tangan mungilnya. Tapi Jonghyun hanya diam, terpaku dalam tangisannya.

“inilah yang noonaku inginkan, kau lenyap. Kau juga harus merasakannya!” suara Jonghyun parau.

“aku takut disini!!” Jikyung tak tahan, ia benar-benar ketakutan. Hawa di danau itu sangat temaram, tidak seperti biasanya. Sebentar lagi hujan. Jikyung lemah dan tumbang, jatuh kedalam danau.

“JIKYUUUNG!” teriak Jonghyun begitu keras. Ia tidak ragu untu menyelamatkan yeoja yang dicintainya itu. Ketika ingin terjun, tiba-tiba saja ada sebuah bayangan yang melewati Jonghyun.

MINHYUK POV

Aku sengaja mengikuti Jikyung yang akan bertemu dengan Jonghyun-hyung. Tujuanku hanyalah ingin menjaganya, tanpa ia ketahui. Aku menyayanginya, ia lah yang membuatku menjadi seseorang yang sesungguhnya. Ia yeoja yang tangguh, mandiri dan aku banyak belajar dari kehidupannya.

Sesampainya ditempat yang dituju, aku belum melihat Jonghyun-hyung. Beberapa menit kemudian, ia datang. Mereka terlihat mesra dan serasi, membuatku cemburu dan iri. Sampai ketika Jikyung dibawa ke sebuah perahu kecil, tapi mengapa? Jonghyun tidak ikut. Aku curiga, mataku tak pernah lari dari mereka. Apa? Mereka bertengkar?, entah apa yang mereka teriakkan sampai akhirnya Jikyung menangis dan jatuh pingsan ke dalam danau. Tanpa ragu, aku mengambil langkah seribu untuk menyelamatkannya. Kulihat Jonghyun ingin menyelamatkannya tapi aku terlanjur duluan. Danaunya sungguh dalam dan dingin, punggungku seperti ditusuk paku es. Tapi aku terus menerjang air es tersebut demi cintaku. Aku mendapatkannya, tangannya begitu dingin dan pucat.

Ketika telah sampai didaratan, aku melihat dengan sudut mataku. Wajah Jonghyun-hyung sembab, dia menangis tapi hanya termenung tidak menolongku.

AUTHOR POV

Sudah 2 minggu setelah kejadian itu, namun Jikyung belum sadar. Ia masih terbaring lemas di ranjang empuknya, Minhyuk selalu menemaninya. Sebaliknya, Jonghyun tidak pernah menampakkan batang hidungnya sejak kejadian itu.  Untuk sekarang, hanya Minhyuk yang tau bahwa jikyung divonis oleh dokter mengidap penyakit kanker tulang.

JIKYUNG POV

Sekali lagi, aku berada di tempat yang terang ini, tapi disini sunyi senyap. Masa laluku terflashback dibenakku, tapi ini masa laluku bersama Jonghyun-oppa. Aku tak pernah membencinya, kadang benciku timbul karena jengkel kepadanya. Aku ingin bertemu dengannya. Disini panas, aku harus kemana? Apa aku akan mati?. Aku belum mau mati, karena aku belum mengucapkan kata `saranghae` kepadanya. Aku ingin bangun, sekarang!.

Akhirnya aku terbangun dengan air mata yang melimpah. Sayangnya orang yang aku lihat pertama kali bukan Jonghyun-oppa, tapi Minhyuk. Aku merengek. Untuk kali ini aku menyerah, aku memang lemah. Didepannya aku selalu memperlihatkan ketegaranku. Aku tidak memikirkan itu lagi, aku membutuhkan seseorang untuk mengadu.

“hiks hiks hiks huee” tangisku kali ini aneh, seperti tangisan anak bayi.

“Jikyung? Syukurlah kau akhirnya sadar” senyum Minhyuk masih buram dimataku, air mata ini sungguh menyusahkan. Tapi aku bisa mendengar kesenangannya setelah mengetahui aku sadar. Aku tau, dia sudah kehabisan air mata. Aku sayang namja ini, sebagai saudara. Aku ingin menggerakkan tanganku dan memeluknya, tapi aku tidak bisa. Tiba-tiba, aku merasakan kehangatan di tubuhku. Omo! Minhyuk memelukku! Tangisku semakin membuncah.

“Minhyuk Oppa, maafkan aku” aku semakin bisa melepaskan tekanan hidupku, aku senang bisa mengenalnya, aku sangat menyayanginya tentunya sebagai saudara karena aku sebatangkara didunia ini.

“untuk apa? aku akan menjaga kau, tenanglah” bisiknya pelan ditelingaku.

Disaat itu, aku mendengar seperti ada seseorang yang masuk kedalam ruanganku. Aku tidak tau siapa. Minhyuk pun melepaskan pelukannya dengan pelan, ia berjalan menuju pintu. Aku segera melihat ke arah yang sama. aku berharap yang datang itu adalah Jonghyun oppa. Aku berusaha menjernihkan pandanganku. Bisa! Aku bisa melihat Jonghyun datang. Tapi penampilannya tidak sepertinya. Ia kacau, benar-benar kacau. Aku melihat ia berbicara dengan Minhyuk, namun aku tidak bisa mendengarnya. Lalu, Jonghyun berjalan kearahku dan tersenyum. Hatiku sungguh senang. Namja yang kuharapkan datang. Senyumnya membuat badanku segar. Tapi, ia menangis?.

“kau kenapa menangis? Babo!” aku ikut menangis, aku kecewa dengannya tapi aku mencintainya.

“mianhae, aku memang pengecut, aku terpaksa. Tapi aku menyayangimu. Saranghae.” Ucapnya sambil menangis memegangi tangan dan mengusap-usap rambutku.

“aku mengerti, sudah takdirku seperti ini. Hidupku untuk disalahkan. Aku memaafkan kau, sungguh. Naddo saranghae” tangisku tak kalah dahsyat. Kali ini, seluruh sendiku lemah. Aku tak sanggup.

“aku berjanji akan selalu manjaga kau” ia memelukku. Tapi aku sangat lemah untuk menanggapinya.

Sekarang aku merasa setengah mati, tapi aku belum mau. Aku ingin mencium namjachinguku untuk yang pertama dan terakhir. Aku lelah.

Sesaat kemudian, aku merasakan ada sesuatu yang mendarat di bibirku. Omo! Ia menciumku, seperti yang ku mau. Aku benar-benar lelah. Gelap.

JONGHYUN POV

Inilah untuk pertama kalinya aku mencium seorang yeoja. Aku tidak menyesal karena ia adalah yeoja yang aku cintai. Tapi mengapa? Mengapa aku tidak bisa merasakan deru nafasnya, akupun tidak mendengar detak jantung dan panas tubuhnya seperti yeoja pada umumnya. Bibirku belum lepas, aku tidak ingin membayangkan itu. Aku tidak ingin ia pergi. Aku baru saja menemukannya. Ketika aku mengangkat kepalaku, ia tersenyum simpul dengan mata terpejam, untuk selamanya.

 

8 tahun yang lalu…

“hei, lihat bintang itu!” tanya Jonghyun pada Jikyung malam itu, di taman tempat biasa mereka bermain dan berbagi suka-duka.

“ya, sangat indah dan terang. Omo! Disebelahnya juga terang” tanggap Jikyung polos.

“mereka serasi ya, seperti kita” Jonghyun tersenyum sembari memegang tangan kanan Jikyung.

“tentu. Tapi kan saudara kita saling mencintai. Lalu kita?” Jikyung menoleh kearah Jonghyun.

“kita akan selalu bersama untuk selamanya, seperti bintang itu” 

“tapi jika bintang itu lenyap duluan di pagi hari, bagaimana?”

“bintang yang satu lagi akan tetap hidup untuk bintang yang lenyap walapun bintang itu mulai redup dan lama-kelamaan akan menyusul dan menemani bintang yang lenyap, selamanya bersama”

 

END

 

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

7 thoughts on “[LombaFF] HURT IS LOVE, LOVE IS HURT

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s