[LombaFF] I Love You, My Ex-Sister

Genre               : Romance, Sibling (?)

Rating              : PG-15/ PG-17

Main cast         :

–          Jung Hyunja

–          Jung Yonghwa

–          Lee Jonghyun

Other Cast        :

–          Lee Jungshin

–          Kang Minhyuk

–          Kang Junhae

–          Mr. and Mrs. Jung

–          Mr. Lee

Note                 : mianhae kalo telat, modemnya ga bener, nih TT

 

 

Hyunja POV

“Huh… kau ini! Seperti tak ada pekerjaan lainnya selain sms-an.” Yonghwa oppa mulai menceramahiku. Aku melirik sejenak.

“Kenapa sih, Oppa? Apa kau tak suka melihat adikmu ini bahagia walau sedetik saja.” Aku mengantongi handphoneku, “aku pergi dulu, Oppa! Biasa, malam mingguan..”

“Hey!” seru Oppa, tapi sepertinya ia sudah tak punya alasan lain untuk mencegahku, “Ya sudahlah.”

Aku nyengir gembira. Namun, tak lama kemudian aku mendengar ia menggumam, “Kapan aku bisa seperti adikku itu ya? Pacaran, malam mingguan, kencan, ciu…”

“MAKANNYA CARI PACAR!!!” teriakku, lalu segera menutup pintu untuk menghindari serangan bantal dari Yonghwa Oppa.

Hyunja POV end

Jonghyun POV

“Appa mau pulang?!”

“Ne. Seminggu lagi oppa akan pulang ke Busan.”

“YESSSS..!”

“Haha… sebentar lagi kau bisa melepas rindumu padaku, Nak…”

“Yes! Aku senang sekali, appa! Akhirnya kau pulang juga.”

“Iya, ya. Sudah setahun appa meninggalkanmu. Eh, ngomong-ngomong, kau sedang apa?”

“Aku sedang di taman, appa.”

“Bersama yeojachingumu itu?”

“Ne. Namanya Jung Hyunja.”

“Hyunja?”

“Iya. Waeyo?”

“Sepertinya nama itu familiar sekali di telinga appa.”

“Siapa? Perasaan appa aja, kali…”

“Tapi perasaan appa mengatakan bahwa kau tak bisa bersamanya…”

“Apa maksudmu, appa?”

“Eh… sudah, lupakan saja. Ya sudah, appa tutup dulu, ya. Bye.”

“Bye.”

Aku mengernyit. Apa maksud appa tadi, ya?

“Jonghyun!!” aku celingak-celinguk saat mendengar seseorang memanggilku. Sebelum aku berhasil menemukannya, seseorang itu telah memelukku dari belakang.

“Hyunja-ya…” kataku sambil memutar badan, membelas pelukannya.

“Jagi~ hari ini kita mau ke mana?” tanyanya.

“Kamu mau ke mana?”

“Restoran es krim yuuk…”

“Boleh! Ayo ke sana!”

Jonghyun POV end

Hyunja POV

“Aduh, aku kenyang sekali, jagi,” kataku sambil memegangi perutku.

“Jinja? Padahal kau tadi cuma makan es krim.”

“Tapi kan 3 porsi, Jonghyun…”

“Kau terlalu rakus, jagi! Aku saja cuma makan seporsi.”

“Yee… kau saja yang lambat makannya. Week.” Aku menjulurkan lidahku.

“Ish. Mworago?”

“Haha… santai, Jong. Kita mau ke mana lagi, nih?”

“Ke taman tempat kita janjian aja, ya?”

“Hmmm… Oke deh!”

***

Aku duduk di bangku taman. Perutku masih penuh. Sedangkan Jonghyun sudah hilang entah ke mana.

“Hyun, sini deh,” panggil Jonghyun.

“Apa, Jong? Masih kenyang, nih…”

“Ih, buruan napa?” kali ini dia menarik tanganku untuk melihat sesuatu yang telah ia perbuat. “Baca, deh!” suruhnya.

“JongHyunJa, Everlasting Love.” Aku membaca tulisan yang berada di pohon itu. Kurasakan wajahku memanas, tapi aku berusaha stabil. “Waw. Kamu nulis pake apa?”

“Ige!” katanya sambil menunjukkan pisau lipatnya.

“Haha… kau ini…”

“Aku kenapa?!”

“hahahahaha… kau…”

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!!!” tiba-tiba seorang penjaga keamanan meneriaki kami. Aku heran, apa ada yang salah?

Omo~ pisau lipat Jonghyun tepat mengarah ke wajahku!

Sebelum aku bicara, Jonghyun segera menarikku dari tempat itu, berlari menghindari petugas keamanan tersebut. Setelah agak jauh, ia berkata sambil terengah-engah, “Kita pulang aja, yuk.”

 

Hyunja POV end

Yonghwa POV

Aku benci Jonghyun! Sungguh, aku membencinya melebihi apapun!

Bukan tanpa alasan aku membencinya. I have the reason.

***

*Flashback*

“Ssst… Yonghwa hyung. Lihat itu!” kata Jungshin, hoobae sekaligus sahabatku. Aku yang sedang serius dengan partitur dan gitarku, menoleh padanya.

“Apa, Shin?”

“Kang Junhae noona…”

Aku terkesiap. Mataku berkeliling mencari sosok yang disebutkan oleh Jungshin. Aku tersenyum simpul saat menemukan Junhae, yeoja yang kucintai, sedang duduk di bangku taman. Tapi… aku melihatnya tak sendirian. Dia bersama seorang namja.

“Omo! Siapa namja itu, Jungshin?!” tanyaku kaget.

“Haha…” Jungshin malah tertawa, “gak usah kaget gitu kali, hyung. Dia Kang Minhyuk, adiknya Junhae noona. Apakah kau tak melihat kemiripan mereka? Hehehe..”

Huffft… ternyata adiknya. Hampir saja aku mati duduk (?).

“Oh.. syukurlah. Dia temanmu?”

“Ne. Apa kau mau jika aku memintanya untuk mencomblangkanmu dengan noona nya Minhyuk?”

“Hmm… boleh. Tapi aku malu, Shin… Bagaimana jika si Minhyuk itu tak rela jika aku menjadi pacar kakaknya?”

“Santai saja, hyung. Minhyuk itu baik kok. Pasti dia mau menjodohkan kalian berdua.”

***

“Hai, Kang Junhae,” panggilku.

“Eh, Jung Yonghwa sunbae.” Katanya sambil membungkuk.

“Haha… tak usah se formal itu, Junhae. Panggil saja oppa.”

“Ne, Yonghwa oppa.” aku tersenyum melihatnya.

“Kau mau pulang?”

“Iya, oppa. Tapi sejak tadi tak ada angkutan yang lewat.”

“Bagaimana jika kuantar?”

Jawab iya, jebaal…

“Hmm… apa tak merepotkanmu oppa?”

“Tentu saja tidak, Junhae…,” kataku sambil mengacak rambutnya, “Kajja!”

Junhae mengangguk, lalu mengikutiku menuju motorku.

Yess! Rencanaku dengan Minhyuk berhasil!

***

“Sebenarnya dia suka cowok yang seperti apa sih, Hyuk?”

“Mmm… sepertinya noona suka lelaki yang perhatian, mandiri, jujur dan setia.” Minhyuk mengernyit padaku, “Apa kau benar-benar mencintai noonaku, hyung?”

Aku mendesah, “Sudah berapa kali aku berkata padamu, Minhyuk-ah…”

“Kalau begitu, cepat tembak dia!”

“Tapi…”

“Sebelum dia diambil orang, hyung!”

Tatapan Minhyuk kali ini benar-benar mematikan. Aku masih berusaha untuk menunda. Kurasa, aku belum siap menjadi namjachingu Junhae.

“Apa dia…”

“Junhae noona pasti mau, hyung!”

Aku mengernyit. “Kau ini aneh, Minhyuk-ah. Sepertinya aku yang mau menembak noonamu, tapi kenapa kamu yang rebut?”

Minhyuk menggaruk kepalanya, lalu meringis, “Hehehe… aku kasihan padamu, hyung. Aku akan sangat senang jika kau menjadi kakak iparku kelak…”

“Kau ini! Belum juga jadian udah mikirin sampe ipar-iparan segala!”

“Lah! Kau mau tidak, sih, hyung?”

“Eeehh… tentu saja aku mau.”

“Makanya, cepat jadikan dia sebagai yeoja mu.”

Aku menghela nafas. “Arraseo, tunggu saja tanggal mainnya.”

Minhyuk tersenyum lebar, sampai-sampai kedua bola matanya tidak tampak lagi.

***

Jungshin menepuk-nepuk bahuku.

“Hwaiting, hyung! Lakukan yang terbaik!”

Aku membalasnya dengan cengiran. Aku menunduk, melihat benda yang ada di tanganku. Di sana ada sekotak cokelat dan sebuket bunga. Junhae pasti senang.

“Doakan aku, Shin.”

Jungshin mengangguk. “Ne, Yonghwa hyung.”

Hari ini aku akan melakukan sesuai dengan yang Minhyuk sarankan. Ya, hari ini aku akan menembak Kang Junhae, pujaan hatiku!

“Jungshin, aku pergi dulu, ya,” kataku sambil menaiki motorku. Jungshin mengangguk, lalu melambaikan tangannya.

.

.

.

Aku sudah sampai di depan pintu rumah Junhae.

“Huft… Ya Tuhan, semoga semuanya lancar.” Aku menggenggam tanganku dan menaruhnya di dada. Ya ampun, jantungku berdebar kencang sekali.

Aku memencet tombol bel. Sekali, dua kali. Pintu belum saja terbuka. Saat aku akan memencet bel lagi…

“Yonghwa hyung! Kau benar-benar akan melakukannya?” bukannya Junhae, malah Minhyuk yang kulihat. Wajahnya cemas. Firasatku menjadi buruk karenanya.

“Ya iyalah! Junhae mana?”

“Junhae noona sedang pergi…”

“Pergi kema…” sebuah mobil berhenti di belakangku, membuatku tidak menyelesaikan kalimatku.

“Yonghwa oppa…” DHEG! Itu kan suara Junhae!

Aku membalik badanku. Omona~ Junhae sedang berjalan dirangkul oleh seorang namja! Tiba-tiba sekujur tubuhku terasa membeku.

“Annyeonghaseyo,” kata namja tersebut sambil membungkuk. Aku ikut membungkuk.

“Oppa, kenalkan, dia Lee Jonghyun…”

“Namjachingumu?” entah kenapa, pertanyaan itu meluncur dari bibirku tanpa kendali.

“Ne, Lee Jonghyun imnida, aku namjachingu Junhae, baru datang dari Amerika Serikat,” kata namja itu sambil mengulurkan tangan kanannya.

“Jung Yonghwa,” kataku tanpa membalas uluran tangannya.

“Maaf, bunga dan cokelat itu untuk siapa, ya? Untuk Minhyukkie?”

“A-aniyo…” Minhyuk yang menjawab.

“A-apakah itu untukku, oppa?” tanya Junhae. Aku tidak menjawab, kepalaku masih tertunduk.

“Mwo? Untuk yeojachinguku? Ya, Jung Yonghwa, anda tidak berniat untuk merebut kekasihku dan membuatnya meninggalkanku, kan?” Aigo~ kenapa namja kurang ajar ini terus bertanya?!

Aku tidak tahan lagi. Pandanganku semakin buram. Dengan marah, aku membanting semua yang ada di tanganku.

“Junhae-ya, Minhyukkie, aku pulang dulu,” pamitku, lalu segera meninggalkan teras rumah ini tanpa menoleh ke belakang lagi.

“Hyung! Yonghwa hyung! Chakkaman!” teriak Minhyuk, namun aku sama sekali tak menggubrisnya. Aku berjalan semakin cepat.

“HYUNG!!” Minhyuk berhasil menahanku. “Mian, hyung. Jeongmal mianhae… aku tak tau jika Junhae noona masih berpacaran dengan namja itu…”

“Apa maksudmu, Hyuk!” tanyaku, namun lebih terdengar seperti bentakan.

“Mian, hyung, aku tak memberi tahumu sebelumnya. Saat SMP, Junhae noona memang berpacaran dengan Jonghyun hyung. Setelah SMA, Jonghyun hyung mengikuti pertukaran pelajar di Amerika. Kupikir, mereka sudah berpisah. Karena… noona tak pernah menyebut nama itu lagi. Nah, sekarang Jonghyun hyung sudah menyelesaikan sekolahnya di Amerika itu, dan kembali ke Busan. Dan ternyata… mereka berdua masih saling mencintai.”

Aku tertunduk, tak bisa berkata lagi. Air mataku meleleh.

“Yonghwa hyung, jeongmal mianhaeyo…”

Aku tersenyum miris, “Gwenchana, Minhyuk. Ini bukan salahmu. Aku… aku hanya agak sakit hati dengan perkataan namja itu –siapa namanya- ohya, Lee Jonghyun.”

Aku menyeka kedua mataku yang basah dengan punggung tanganku. Minhyuk terisak.

“Hyung… nae jeongmal mollayo…”

“It’s okay… aku gak papa kok. Uljima…” kataku sambil menyeka air mata di sudut mata Minhyuk yang sipit.

“Sekarang, aku pulang dulu, ya… Ohya, sampaikan permintaan maafku untuk Junhae. Dan… bilang juga pada Lee Jonghyun, jaga Junhae baik-baik.”

Minhyuk mengangguk. Aku segera menaiki motorku dan segera meninggalkan tempat itu.

“Hati-hati, hyung!!” seru Minhyuk.

Sejak hari itu, aku memutuskan untuk membenci seseorang yang bernama ‘Lee Jonghyun’.

 

*Flashback end*

***

Aku mendengus. Mengenang masa lalu yang kelam membuatku merasakan sakit hatiku kembali. Dan yang membuatku semakin kesal, mengapa orang yang paling aku benci itu kini menjadi pacar adikku, bahkan mungkin dia akan menjadi adik iparku?

Aku melihat jam di dinding. Ya ampun, ternyata sudah malam. Kenapa Hyunja belum pulang, ya?

“Oppaaaaaa!!! Aku pulaang!” demi mendengar seruan tersebut, aku hampir jatuh dari sofa. Sambil mengumpat, aku melangkah menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.

“Bagus, sudah jam segini, kau baru pulang, Hyun…” omelanku terhenti ketika melihat sesosok lelaki di samping Hyunja. Lee Jonghyun!

“Annyeong, hyung,” kata Jonghyun sambil membungkuk.

“Hmmph… annyeong,” balasku ketus.

“Jonghyun, ayo masuk dulu!” Hey, kenapa Hyunja malah mengajaknya mampir? Aku memelototi dongsaeng-ku itu, tapi dia malah balik memelototiku. Jonghyun mengangguk, lalu mengikuti Hyunja memasuki rumah.

“Hyung, temani namjachinguku sebentar, ya. Aku mau ambil sesuatu dulu,” kata Hyunja sambil melirik Jonghyun. Aku hendak protes, tapi Hyunja sudah menutup pintu kamarnya.

Aku duduk di salah satu kursi. “Duduk.” Aku mempersilahkan Jonghyun duduk. Dia tersenyum, lalu menduduki kursi di seberangku.

“Apa kau masih benci padaku, hyung?”

Yonghwa POV end

Hyunja POV

Aku mengaduk-aduk isi lemariku. Mana kado itu ya?

Ohya, hari ini Jonghyun ulang tahun. Eh, lebih tepatnya, kami berdua sedang berulang tahun. Entah bagaimana ceritanya, aku dan Jonghyun lahir di tanggal yang sama, bulan yang sama, dan tahun yang sama. Tanggal 15 Mei. Mungkin jodoh kali, ya. Hehehe…

Hey, ini dia kadoku untuk Jonghyun. Aku mengecupnya, lalu segera berlari menuju ruang tamu.

“Apa kau masih membenciku, hyung?”

Aku terlonjak demi mendengar kalimat itu. Aku mengurungkan niatku untuk menemui Jonghyun.

“Hmm… bagaimana ya? Sepertinya, rasa benciku padamu akan sulit dimusnahkan. Kau… kau telah menorehkan luka yang terlalu dalam, Jonghyun!”

Aku lebih kaget lagi ketika mendengar perkataan Yonghwa oppa. Aku tahu… tentu aku tahu apa penyebab semua ini. Sahabatku sendiri, Kang Junhae, mantan pacar Jonghyun. Junhae pindah ke Seoul setelah sebulan Jonghyun pulang dari Amerika. Mereka putus karena sama-sama sibuk. Apagi Junhae juga tak pernah mengunjungi Busan lagi.

Aku tahu, cinta Yonghwa oppa pada Junhae sangat besar, tapi dia juga tak bisa membenci Jonghyun begitu saja. Lagipula, Jonghyun juga tak bersalah. Mana dia tahu jika Yonghwa oppa mencintai pacarnya?

“Mianhae, hyung. Jeongmal mianhae. Harus berapa kali kata maaf yang terucap supaya kau mau memaafkanku?” tanya Jonghyun. Miris. “Lagipula aku juga sudah lama putus dari Junhae, bukan?”

“Sulit untuk memaafkanmu. Tapi aku akan berusaha…”

“Gomawo hyung. Neomu…”

“AKU BELUM MEMAAFKANMU, BABO!” aku tersentak, dan sepertinya Jonghyun pun tersentak. “Aku akan memaafkanmu, jika Junhae menjadi milikku dan melupakanmu!”

“Ya ampun, hyung. Aku saja belum bertemu dengannya lagi semenjak dia pindah…”

Kurasa, kini aku harus memisahkan mereka.

“Jonghyun-aah! Saengil chukhaee!” seruku sambil menunjukkan hadiahku untuk Jonghyun.

“Mwo? Gomawo, jagi! Apa ini?” tanya Jonghyun. Sepertinya dia masih kaget atas kemunculanku yang tiba-tiba tadi.

“Buka dong…”

“Waw! Miniatur gitar listrik dari kayu!”

“Aku buat sendiri, loh!” pamerku dengan bangga.

“Daebak! Neomu neomu gomawo, jagi…” kata Jonghyun sambil mengecup keningku.

“Chonmaneyo, Jonghyun…”

“Ohya.” Jonghyun merogoh saku jaketnya. “Ini untukmu Hyunja! Saengil chukhae…”

Aku serta merta menerima hadiah Jonghyun.

“Jam tangan digital! Gomawo Jonghyun chagiya…” Aku memeluk Jonghyun.

“Mwo? Hari ini kau ulang tahun, Hyun?” tiba-tiba Yonghwa oppa bertanya.

“Kau lupa, oppa? Aigooo…”

“Mianhae, Hyun. Saengil chukhae,” kata Yonghwa oppa dingin, mungkin karena masih ada Jonghyun.

“Hmmm… ya sudah. Aku pulang dulu, Hyun. Annyeong, hyung.”

“Hati-hati, jagi…” kataku sambil mengecup pipi namjachingu-ku itu. Yonghwa oppa hanya mengangguk. Jonghyun mengacak rambutku sambil tersenyum. “Bye.”

“Bye,” balasku.

Hyunja POV end

Yonghwa POV

Aku segera menutup pintu.

“Mian, Hyunja. Aku benar-benar lupa jika kau ulang tahun hari ini…”

“Kau masih membenci Jonghyun, oppa?” aku terkesiap. Hyunja… kau ini to the point sekali.

“Kau mendengar obrolan kami?”

“Jawab dulu pertanyaanku!!”

“Oke. Kau sudah tahu jawabannya, bukan?”

“Aku tak tahu apa yang ada di otakmu itu, oppa!”

“Ne, kau memang tak tahu. Dan TAK PERNAH TAHU!”

Aku memasuki kamarku, dan mengunci pintunya.

Sebenarnya aku tadi bohong.

Aku sudah tak mempunyai perasaan apapun pada Junhae, meski aku masih membenci Jonghyun.

Ya Tuhan, apa yang sedang kurasakan? Kenapa tadi aku sebal sekali saat melihat Hyunja dan Jonghyun berpelukan dan saling mengecup satu sama lain?

Apakah aku cemburu?

Apakah… aku sedang jatuh cinta?

Tidak! Aku tak boleh mencintai yadongsaengku sendiri!

 

Yonghwa POV end

Hyunja POV

“Hai, jagi…”

“Eh, haiii… waaah, jam tangannya dipake!”

“Ya jelas dong. Kan sayang kalo cuma jadi pajangan doang. Hehe”

“Kau ini lucu sekali, sih!” ujar Jonghyun sambil mencubit pipiku gemas. Tanpa kusadari, wajahnya semakin dekat denganku. Aku segera memejamkan mataku. Jonghyun-ah… akhirnya kau akan memberikan first kiss-mu juga!

Aku merasakan hembusan nafas Jonghyun semakin dekat, namun….

“HYUNJAAAAA…!!” teriak seseorang. Aku langsung membuka mataku. Jonghyun pun sudah menegakkan badannya. Aku menoleh kesana kemari, mencari sosok yang memanggilku tadi, sambil mengumpat. Tega-teganya dia menggagalkan acaraku dan Jonghyun tadi!

“Jung Hyunja!!” kulihat Yonghwa oppa melambaikan tangan dari seberang jalan. Oh, jadi dia.

“Ayo pulang!” serunya kembali. Aku cemberut.

“Aku pulang dulu, Jonghyun,” kataku setengah hati. Jonghyun meringis.

“Arraseo… hati-hati, ya.” Jonghyun mengecup pipiku.

Aku tersenyum, lalu cemberut lagi saat melihat Yonghwa oppa. Aku langsung menyeberang jalan tanpa menoleh lagi. Pandanganku fokus pada Yonghwa oppa. Tiba-tiba, raut wajah Yonghwa oppa berubah.

“Hyun, awaaaaaaaaasss…!!”

Setelah itu terdengar bunyi yang keras. Aku merasakan tubuhku melayang, dan aku sudah tak ingat apa-apa lagi.

Hyunja POV end

Yonghwa POV

Aku menunggu di depan sekolah Hyunja sambil memainkan handphone-ku. Hey, bel pulang sudah berbunyi. Aku menunggunya keluar gerbang.

Aku memainkan handphone-ku kembali. Aduh, anak satu ini lama sekali, sih. Saat aku melihat ke gerbang sekolah lagi… OMONAA~ apa-apaan dia? Apa dia akan berciuman dengan namja berengsek itu? Apa dia tidak malu?

“HYUNJAAAAA…!!” teriakku tanpa sadar. Huft… syukurlah. Hyunja dan Jonghyun segera menegakkan kepala mereka.

“Jung Hyunja!!” seruku kembali sambil melambaikan tangan. Sepertinya Hyunja telah melihat keberadaanku.

“Ayo pulang!” lanjutku. Dia cemberut, namun tersenyum saat Jonghyun mencium pipinya. Aku merasakan dadaku panas, seperti kemarin. Sial, dia kembali cemberut saat melihatku.

Hyunja langsung menyeberang. Raut mukanya seakan berkata, ‘Gara-gara kau, oppa, kami tak jadi berciuman!’

Tiba-tiba, sebuah mobil melaju kencang ke arah Hyunja. Aku terkesiap. Aigo… sepertinya dia terlalu membabi buta untuk menyeberang sehingga tak melihat mobil tersebut.

“Hyun, awaaaaaaaaasss…!!”

Terlambat.

Mobil itu telah menabrak Hyunja.

Dan Hyunja sudah tak sadarkan diri.

“Hyunjaaaaaaa…!” aku segera berlari menuju Hyunja yang terkapar tak berdaya, sementara mobil yang tadi menabraknya sudah kabur.

“Hyunja…” Jonghyun sudah berada di depanku, “Cepat bawa dia ke rumah sakit, hyung.”

“Naik motorku? Bagaimana caranya?!”

“Ya sudah, naik mobilku saja. Kajja!”

Aku mengangguk, lalu menggendong Hyunja dan berjalan mengikuti langkah Jonghyun yang panjang.

***

Aku mondar mandir di depan ruangan Hyunja. Akhirnya kuputuskan untuk duduk saja. Aku sudah menelpon eomma dan appa. Sebentar lagi mereka akan kemari. Tanpa terasa, air mataku meleleh. Hyunja sayang, maafkan oppa…

Sementara Jonghyun sibuk menelpon. Dari kata-katanya, sepertinya dia sedang menghubungi ayahnya.

“Mian, appa, tadi aku tak menjemputmu di Incheon.”

“…..”

“Yeojachinguku baru saja mengalami kecelakaan, appa! Sekarang dia berada di UGD.”

“…..”

“Kau akan menyusul?”

“…..”

“Kira-kira sejam lagi? Arraseo. Aku akan menunggumu.”

Jonghyun memutus sambungan telponnya.

“Ayahku akan datang, hyung,” kata Jonghyun, namun aku tak mempedulikannya.

Lalu Jonghyun duduk di sampingku. “Sabar, hyung. Yadongsaengmu pasti baik-baik saja.”

Aku masih diam.

***

“Yonghwa!”

“Eomma, appa…” aku memeluk eomma.

“Hyunja bagaimana? Gwenchanayo?”

Aku menggeleng, “Molla, eomma. Dokter belum memberitahu…”

.

.

Tak lama kemudian, dokter keluar.

“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” tanya appa.

“Hyunja agasshi kehilangan banyak darah.”

“Saya ayahnya, saya akan mendonorkan darah saya untuk Hyunja, dokter…”

“Golongan darah Hyunja O, tuan…”

“Mwo?” appa kaget, lalu menoleh ke arahku dan eomma. Aku lebih kaget lagi, golongan darahku, appa, dan eomma adalah A. kenapa Hyunja bisa O?

“Eotteohke?” tanya dokter.

“Tapi… golongan darah saya A,” kata appa, dia kelihatan sangat frustasi.

“Saya dan ibu saya juga A,” lanjutku.

“Golongan darah saya O, dok,” sontak aku, eomma, dan appa menoleh ke arah suara itu. Jonghyun?

“Kau?” tanyaku tak percaya. Jonghyun mengangguk.

“Saya siap mendonorkannya untuk Hyunja…” lanjutnya.

“Baiklah… ikuti saya,” kata dokter. Mereka menuju sebuah ruangan.

Ketika Jonghyun sudah sampai di depan pintu ruangan tersebut…

“Jonghyun-ah!!”

“Appa!”

Jonghyun berlari kembali menuju ayahnya, lalu memeluknya.

“Kau ke sana mau ngapain, Jong?”

“Aku ingin mendonorkan darahku untuk Hyunja, appa.”

Ayah Jonghyun kaget. Dia mengurai pelukannya.

“Kenapa harus kau, Jong?”

“Kedua orang tua Hyunja dan oppanya tak memiliki golongan darah yang sama…” kata Jonghyun sambil menunjuk ke arah kami bertiga.

“Mwo? Bagaimana bisa?” tanya ayah Jonghyun. Jonghyun hanya menaikkan bahunya. “Memangnya… apa golongan darah Hyunja?”

“O, sama sepertiku.”

“Appa saja yang mendonorkan darah. Kau masih kecil, Jong…”

“Tapi appa…”

“Gwenchana. Everything gonna be okay, Jonghyun,” katanya sambil mengacak rambut anaknya. Dia tersenyum pada kami, lalu masuk ke ruangan yang hampir Jonghyun masuki tadi.

Yonghwa POV end

Jonghyun POV

Aku menemani Yonghwa hyung berkeliling rumah sakit. Setelah mendonorkan darahnya (yang ternyata cocok) untuk Hyunja, dia meminta waktu sebentar untuk berbicara 6 mata dengan kedua orangtua Hyunja dan Yonghwa hyung.

“Jonghyun, kita balik, yuk. Mungkin mereka udah selesai bicara. Masak sampe sejam gini.”

“Hmm… ya sudah. Ayo, hyung.”

Ketika kami sudah hampir sampai di dekat ruangan Hyunja (tempat orangtua kami berdiskusi), ternyata mereka belum selesai berbicara.

“Sehari sebelum Jonghyun dan Hyunja ulang tahun, kami berangkat ke Busan, ke rumah saudara saya.” Suara appa membuatku menarik tubuh Yonghwa hyung yang akan menghampiri mereka. Dia terlihat protes, tapi akhirnya dia mengerti.

“Tiba-tiba kami mengalami kecelakaan. Mobil kami ditabrak oleh truk. Istri saya terlindas truk, Hyunja terlempar entah ke mana. Sementara Jonghyun berada di pelukan saya.

“Istri saya meninggal. Hyunja tidak ditemukan dan kami anggap sudah meninggal. Akhirnya saya hidup bersama Jonghyun sampai sekarang.

“Saat Jonghyun SMP, saya membawanya ke Busan, untuk tinggal bersama saudara saya tadi, karena saya bekerja di Jepang. Saya pulang ke Korea setahun sekali.

“Jadi, bagaimana anda bisa menemukan anak saya?”

Appa menyelesaikan ceritanya. Kini giliran ayah Yonghwa hyung yang bercerita.

“Pagi itu, saya tak sengaja mendengar suara tangisan bayi. Waktu itu saya sedang memancing. Setelah saya telisik, saya menemukan seorang bayi perempuan, dengan tubuh penuh darah. Saya kaget sekaligus kasihan, lalu saya bawa pulang.

“Saya masih ingat, waktu itu tanggal 15 Mei. Jadi saya peringati saja sebagai hari ulang tahun anak itu. Melihat tubuhnya, sepertinya dia berumur satu tahun.

“Mengenai namanya, balita itu memakai kalung bertuliskan ‘Hyunja’. Jadi saya pikir, nama anak itu Hyunja.

“Istri saya senang karena akan memiliki anak perempuan. Yonghwa juga senang karena dia punya adik. Akhirnya kami mengadopsi Hyunja, sampai sekarang.”

Appa mengangguk-angguk.

“Tuan Jung, bagaimana jika kita lakukan tes DNA? Supaya lebih yakin.”

Aku masih belum yakin dengan pendengaranku barusan. Hyunja… saudara kembarku yang hilang? Aku semakin kaget saat tak menemukan Yonghwa hyung disampingku.

“Mwoya? Hyunja bukan adikku?!” tanya Yonghwa hyung pada ketiga orang dewasa tersebut. Aku segera berlari menuju Yonghwa hyung, lalu mendekapnya.

“Hyung… tenang hyung…”

“Bisa kalian jelaskan tentang ini?!”

“Hyung!” sentakku, sementara orang-orang dewasa tadi hanya diam.

Seharusnya aku yang lebih shock, hyung…

Jonghyun POV end

Hyunja POV

Kondisiku terus membaik setelah mendapat donor darah dari Lee ahjussi. Oh bukan, sekarang dia-lah appaku. Ya, hasil tes DNA menunjukkan bahwa Lee ahjussi adalah ayah kandungku. Itu berarti Jonghyun adalah saudara kembarku.

Aku sedang mengemasi barang-barangku. Sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah yang sudah aku tempati selama ini, dan pindah ke rumah Jonghyun.

“Hyun…” panggil Yonghwa oppa.

“Oppa…” aku memeluk Yonghwa oppa, dan menangis di pelukannya. Entah kenapa, aku merasa sedih…

“Kenapa kau menangis, Hyunja-ya? Bukannya seharusnya kau senang karena akan tinggal di rumah keluargamu yang sebenarnya?”

“hhh… aku sendiri tak tahu, oppa. Tapi aku merasa… kehilangan.”

Yonghwa oppa terdiam. Dia mengelus kepalaku. “Kehilangan?”

Aku menengadahkan kepalaku. “Kehilangan semua ini, oppa! Kamar ini, eomma, appa, dan… kau.”

Yonghwa oppa tersenyum, namun sorot matanya terlihat sayu. “Kau tak perlu sedih dan takut. Kita kan masih bisa bertemu?” dia mengusap kedua mataku. Aku menunduk.

“Uljima… sekarang teruskan packingnya, sebelum Jonghyun dan appanya datang.”

“Arraseo…”

***

Several months later…

“Bagaimana hasil ujian kalian?” tanya appa.

“Lumayan, appa! Lihat ini!” kata Jonghyun sambil menunjukkan hasil ujian akhirnya.

“Aku juga lumayan bagus, appa!” aku mengulurkan tanganku untuk menyerahkan hasil ujianku.

“Wah, anak-anak appa memang cerdas!” kata appa, terselip rasa bangga pada raut wajahnya. Aku dan Jonghyun berpandangan, saling melempar senyum.

“Lalu… kalian mau meneruskan kuliah di mana?”

“Mmm… mana, ya? Yang bagus di mana, appa?” tanyaku.

“Semua baguslah, Hyun!” sahut Jonghyun sambil menjitak kepalaku. Aku menjerit sejenak, lalu mengelus kepalaku sambil mengerucutkan bibir. Appa tertawa.

“Bagaimana kalau di Seoul University? Di sana bagus, kan? Kalian mau tidak?”

Seoul university? Tanpa ditanya 2 kali, aku dan Jonghyun langsung mengangguk.

“Mauuu…” kata kami bersamaan.

“Ya sudah, besok kita berangkat.”

“Mwo? Cepat sekali.” Protes Jonghyun

“Iya besok. Appa cuma bisa besok. Setelah itu appa kembali ke Jepang, dan kalian urus sendiri? Arraseo?” dan kami hanya bisa mengangguk.

***

“Jonghyun, aku tak bisa tidur…” kataku sambil merebahkan diri di samping kembaranku itu.

“Sama… Bagaimana jika kita keluar sebentar?”

“Ha? Ke mana?”

“Ke taman!!” ajak Jonghyun, “Kajja!”

***

“Dingin juga, ya,” kata Jonghyun. Aku mendengus.

“Heyy… pohon ini!” aku menoleh mendengar seruan Jonghyun. “JongHyunJa, Everlasting Love”

Tiba-tiba aku mendapat ide. “Kau bawa pisau lipat, Jong?” Jonghyun mengangguk dan mengeluarkan pisaunya. Aku segera merebutnya, dan menggoreskannya ke pohon tersebut. “Coba baca, deh!”

Jonghyun mengernyit dalam kegelapan. “JongHyunJa, Everlasting Love Twin. Hahaha…”

Aku heran.” Kok ketawa?”

“Kau aneh!” serunya. Lalu dia berlari menghindari pukulanku, dan aku terus mengejarnya sampai dapat.

Hyunja POV end

Yonghwa POV

Sudah setahun sejak Hyunja meninggalkanku ke Seoul. Ya, dia dan Jonghyun diterima di Seoul University dan tinggal di sana. Selama itu, aku memendam rasa rinduku padanya. Ternyata… aku memang mencintainya. Pantas saja aku cemburu saat melihatnya bersama Jonghyun, yang kini menjadi saudara kembarnya sendiri.

Bagaimana dengan Jonghyun? Kami sudah berdamai. Kusadari, aku memang egois sekali. Seenaknya saja aku menyalahkan Jonghyun, padahal jelas dia tidak bersalah.

Aku sedang menonton TV, lebih tepatnya TV yang menontonku, karena aku hanya melamunkan Hyunja dari tadi. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu diketuk. Aku mendesah. Dengan malas, aku membuka pintu.

“Yonghwa oppa…!” seru seorang yeoja cantik di depan pintu.

“Hyunja?” tanyaku masih tak percaya. Yeoja itu mengangguk. Dia memelukku.

“Bogossipo, Jung Yonghwa oppa…”

“Nado, Lee Hyunja…”

Aku mempersilakannya untuk duduk.

“Jonghyun apa kabar?”

“Baik oppa… Eh, kau masih cinta pada Kang Junhae tidak?”

Yang kucintai hanya kau, Hyunja!

“Tidak, memang kenapa?”

“Jonghyun balikan lagi dengannya.”

“Wah, sampaikan selamat untuk mereka yaa…”

Hyunja tertawa. Aku tersenyum. Dia sangat menggemaskan.

“Bagaimana rasanya ganti marga?” tanyaku iseng.

“Awalnya aneh, tapi sekarang udah biasa,” dia meneguk minumnya sejenak, “tapi jujur, aku lebih suka margaku yang dulu.”

“Aku bisa membuat margamu kembali.” Aigo~ kenapa aku berbicara begitu?

“Maksudnya? Aku menikah… denganmu?”

Aku memejamkan mata. Apakah aku harus mengungkapkannya sekarang?

“Ss…saa… saranghaeyo, Lee Hyunja. Aku sangat mencintaimu, bahkan sejak kita masih menjadi saudara.”

Aku membuka mataku. Hyunja tersenyum, “Nado saranghae, Yonghwa oppa. Aku baru sadar bahwa aku mencintaimu saat aku di Seoul.”

Unbelievable.

Aku terdiam saat Hyunja memelukku.

“Kau… yeojachinguku?” Hyunja mengangguk.

“Dan kau namjachinguku, oppa. Saranghae,” kata Hyunja, yeojachinguku.

“Welcome back, my girlfriend…” ucapku sambil mengecup lembut bibirnya.

 

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

19 thoughts on “[LombaFF] I Love You, My Ex-Sister

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s