[LombaFF] ILLUSION

Rating : General, Teenagers

Genre :Romance, Mystery

Main cast : – Jung Yonghwa (CNBLUE)

– Kitagawa Naomi (Imaginary cast)

Other cast : – Lee Jonghyun (CNBLUE)

– Kang Minhyuk (CNBLUE)

– Lee Jungshin (CNBLUE)

Note : Fan Fiction ini, merupakan cerita yang terjadi kira-kira ketika CNBLUE hidup di Jepang dan leadernya adalah Jonghyun, bukan Yonghwa. Jadi semua latar di ff ini adalah di Jepang, bukan Korea. Serta, semua POV di ff ini adalah Yonghwa. Untuk cerita, ini semua cuman imajinasi aku J

Disclaimer : CNBLUE belongs to God, and Kitagawa Naomi is imaginary cast. Of course, this Fan Fiction is mine. It’s really from my mind J

 

 


ILLUSION

Summary : Aku dapat melihatmu, aku dapat merasakanmu, tapi aku tak dapat membawamu dalam kenyataan hidup ini.

TOKYO, JEPANG

YONGHWA POV

Jalanan di daerah Shibuya sudah dipenuhi oleh para remaja yang sedang bersenang-senang, meskipun sekarang tak bisa lagi disebut siang ataupun sore. Ini sudah jam 8pm waktu Jepang, dimana hanya ada bulan dan bintang untuk membantu penerangan di bumi dan matahari begitu enggan untuk muncul. Shibuya, daerah ini memang terkenal di kalangan remaja, terlebih dalam hal shopping. Kebanyakan dari mereka datang untuk hang out dan hanya untuk sekedar nongkrong. Sebagian dari mereka juga berpikir, berkunjung ke Shibuya itu merupakan suatu kewajiban untuk setiap harinya. Mereka bisa rugi jika libur sehari saja, terlebih para siswi Jepang dimana mereka selalu mendapatkan mode baru di daerah ini, dan mereka benar-benar menikmatinya. Meskipun aku bukan orang Jepang, tapi aku sudah cukup mengenal daerah ini. Ya, aku asli Busan, Korea Selatan aku ke sini karena ingin mempelajari lebih jauh tentang musik. Karna seperti yang kalian tau, Korsel lebih mengunggulkan boyband dan girlband yang memang sedang maraknya. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke Jepang bersama teman-teman satu grup ku.

Aku terus berjalan di sekitar daerah Shibuya yang ramai ini. Aku ke sini bukan karna tertarik untuk shopping, hang out, nongkrong ataupun sejenisnya, tapi aku ingin menenangkan pikiran sebentar, dan duduk-duduk di sekitar taman Inokashira karna kebetulan rumahku tak jauh dari sini. Entah apa yang mengganggu pikiranku sehari ini, aku tak dapat berpikir dengan jernih. Bahkan teman-temanku bilang aku seperti memikirkan sesuatu. Tapi aku yakin, tak ada hal yang aku pikirkan sehari ini. Aku hanya terlihat seperti orang bingung. Ah ya, mimpi itu…aku ingat mimpi itu. Dimana ada seorang yeoja yang mendatangiku dan tiba-tiba menangis. Tapi ketika aku mencari sapu tangan di balik jasku, ia tiba-tiba menghilang. Hanya itu yang aku ingat dari mimpi itu, dan tak ada satu hal pun yang aku mengerti. Siapa yeoja itu? Mengapa ia menangis? Dan mengapa ia tiba-tiba menghilang?

Aku masih berjalan di sekitar taman, mencari tempat duduk yang kosong dan terhindar dari kebisingan. Kulihat ada sebuah bangku taman yang kosong berada di balik sebuah pohon yang cukup besar. Sepertinya itu akan menjadi tempat idealku. Tapi ketika aku mendekati bangku itu, ternyata bangku itu tidak kosong, ada seorang yeoja yang duduk di sana. Aku pun memutuskan untuk duduk disebelahnya. Yeoja itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bahunya terlihat sedikit naik turun. Sepertinya ia sedang menangis.

“gwenchanayo?”, tanyaku pada yeoja itu tapi yeoja itu tetap saja menutupi wajahnya dan menangis. Aish babo, aku lupa ini bukan Korea tapi Jepang.

“kau tidak apa-apa?”, tanyaku lagi dalam bahasa Jepang. Ya, penguasaan bahasa Jepangku sudah tidak buruk lagi. Karna setahun lebih aku disini, dan fokus untuk mempelajari bahasanya. Yeoja itu mengangkat wajahnya dan melihatku, lebih tepatnya mataku. Aku pun mengambil sapu tangan dalam kantong celanaku dan mengarahkan sapu tanganku pada yeoja itu. Ia terlihat sedikit ragu untuk menerimanya, tapi akhirnya ia mengambil sapu tangan itu dan menghapus air matanya.

“arigatou gozaimasu”,  katanya dengan sedikit membungkukkan kepalanya.

“hai”, jawabku dengan membungkukkan sedikit kepalaku.

“kalau begitu aku pulang dulu”, kataku lagi.

“tapi—“

“sapu tangan itu bisa kau kembalikan besok di bangku ini jam 8 pagi”, lanjutku memotong perkataannya.

“aku tidak bisa, bagaimana kalau 8 malam?”, tanyanya padaku.

“baiklah, tidak masalah”, kataku akhirnya dan membalikkan tubuh berniat untuk meninggalkannya.

“tunggu dulu, siapa namamu?”, tanya yeoja itu. Akupun membalikkan tubuhku untuk melihatnya.

“Yonghwa, Jung Yonghwa-desu”, jawabku.

“oh, Kitagawa Naomi-desu”, lanjutnya sambil tersenyum.

“baiklah, aku pergi dulu”, kataku sambil berjalan menjauhi tempat tadi.

 

 

Aku sedang berada di ruang latihan musik bersama teman-temanku, Jonghyun, Minhyuk, dan Jungshin. Ya, mereka adalah teman satu grupku. Kami menamai grup kami, ‘CNBLUE’.  CN berarti Code Name dan BLUE berasal dari nama masing-masing, B-Burning Jonghyun, L-Lovely Minhyuk, U-Unctouchable Jungshin, dan E-Emotional Yonghwa. Kami berharap nama ini akan disebut orang-orang sebagai grup band terbaik di Asia, dan tentu saja dunia.

Kami berhenti berlatih, karna Minhyuk terlihat kelelahan setelah memukul drumnya berkali-kali. Ia tampak sedikit gusar dan mengacak-acak rambutnya sendiri.

“hyung, istirahat sebentar ya”, katanya pada Jonghyun. Ya, Jonghyun adalah leader kami. Leader yang terlihat beribawa tetapi sebenarnya ia gila.

“baiklah, kita istirahat sebentar dan minum. Lovely Minhyuk sepertinya kehausan hahahaha”, kata Jonghyun tertawa dan diikuti oleh tawaku dan Jungshin. Minhyuk hanya mengerucutkan bibirnya sedikit. Aigo, dia benar-benar imut, tidak salah kalau kami menamainya Lovely  hahaha

“Jonghyun-ah, aku ada lagu baru”, kataku sambil menyerahkan beberapa lembar kertas pada Jonghyun.

“Don’t say goodbye?”, tanya Jonghyun membaca judul lagu itu.

“ne”, kataku sambil tersenyum sedikit bangga. Jonghyun pun membaca lagu itu dan memahami kunci gitarnya. Lagu itu seminggu yang lalu kubuat. Lagu itu menceritakan tentang seseorang yang tidak ingin berpisah dengan orang yang ia sayangi, tapi ia sudah terlanjur kehilangan orang itu.

“siapa yang meninggalkanmu hyung?”, tanya Jonghyun tiba-tiba padaku.

“ah, aniya Jonghyun-ah. Itu kan hanya sekedar lagu”, jawabku.

“tapi liriknya benar-benar bagus, seperti kau pernah mengalaminya. Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu hyung”, kata Jonghyun menggodaku. Dia benar-benar gila, aku pun menjauhinya. Dapat kudengar jelas dia tertawa begitu lepas  -_-

“baiklah, kita lanjutkan latihannya. Yonghwa hyung memberi kita lagu baru, ‘Don’t Say Goodbye’ “, teriak Jonghyun untuk mengumpulkan 2 member lainnya.

“Don’t say goodbye?”, tanya Minhyuk dan Jungshin serempak.

“ne”, jawab Jonghyun.

“judul yang bagus”, komentar Jungshin si maknae. Member yang lain pun mempelajari musik dari lagu yang kuciptakan. Mereka dapat mempelajarinya dengan  sebentar.

 

 

Ini sudah pukul 7.56 pm, aku buru-buru menuju taman. Malam ini aku ada janji dengan yeoja yang kemarin, Kitagawa Naomi. Aku masih mengingat wajahnya ketika menatapku malam itu. Kulitnya putih bersih meskipun sedikit pucat. Bibirnya merah, matanya tidak terlalu sipit. Dia memiliki paras yang cantik, jujur saja aku mulai menyukainya. Aku tidak bisa berbohong, pertama melitnya saja aku sudah tertarik, ia begitu cantik dan suaranya begitu lembut bahkan aku kesusahan untuk menyembunyikan kegugupanku. Bisa kutebak, ia adalah yeoja yang baik. Tapi, mengapa ia menangis malam itu?, aku akan menanyakannya nanti.

Aku pun menuju bangku taman yang kemarin, seperti biasa bangku itu masih sepi. Hanya ada Kitagawa-san di sana. Ia memakai dress putih selutut dengan motif bunga. Ia terlihat begitu cantik malam ini.

“Kitagawa-san”, kataku menyapanya.

“ah, Jung-san”, ia melihatku dan berdiri sambil membungkukkan badannya sedikit. Aku pun membalasnya, dan kami duduk di bangku itu.

“ini sapu tanganmu, arigatou gozaimasu”, katanya sambil menyerahkan sapu tanganku.

“daijoubu(tidak apa-apa). Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?”, tanyaku.

“hai, nan deshou ka(apa itu)?”, tanyanya balik padaku.

“mengapa kau menangis kemarin?”, tanyaku hati-hati.

“oh, itu. Aku…aku divonis dokter mengidap penyakit kanker hati”, katanya sambil menundukkan kepalanya. Dapat kudengar nada kesedihan pada suaranya.

“osoreirimasu ga(maaf), menanyakan hal itu”, kataku merasa bersalah.

“daijoubu, aku sudah merasa lebih baik”, katanya sambil tersenyum padaku.

DEG

Senyumnya, senyumnya begitu manis. Aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku. Ia berdetak begitu cepat, bahkan aku takut Kitagawa-san dapat mendengarnya.

“ada apa?”, tanyanya heran padaku. Babo, tentu saja ia merasa heran karna aku tak berhenti memandanginya dengan tampang bodohku.

“ah, nai (tidak). Aku hanya merasa aneh saja, kau tidak terlihat seperti orang sakit kecuali wajahmu yang sedikit pucat”, kataku lagi.

“aku tidak ingin orang-orang merasa kasihan padaku karna penyakitku ini dan memanjakanku. Aku ingin terlihat tegar, kau tau meskipun Tuhan sudah mentakdirkannya tapi tak ada alasan bagi kita untuk tidak dapat merubahnya”, katanya dan terdiam sebentar menarik nafasnya dalam-dalam.

“meskipun sakit, tapi tak berarti apa-apa jika aku menerimanya dengan lapang dada. Aku hanya berusaha menyenangkan orang-orang yang aku sayangi di sisa-sisa hidupku.”, lanjutnya.

“sisa hidup? Apa maksudmu?”, tanyaku lagi. Aku mohon, jangan katakan jika ia akan pergi. Aku belum mengenalnya lebih dekat.

“dokter bilang, hidupku tak lama lagi”, jawabnya.

“apakah kau mau menjadi temanku di sisa hidupku ini?”, tanyanya sambil menatap mataku dalam. Entah apa yang ia cari, tapi ia menatapku begitu dalam.

“tentu saja”, jawabku sambil tersenyum padanya. Aku merasa kasihan, ia terlihat begitu kesepian karena penyakitnya.

“arigatou, yonghwa-kun. Maaf, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?”, tanyanya.

“tentu saja, Naomi-chan”, jawabku. Aku begitu senang ia memanggilku seperti itu.

“kau bukan orang Jepang?”, tanyanya lagi.

“hai, aku berasal dari Busan, Korea Selatan. Darimana kau tau?”, tanyaku begitu bodohnya.

“tentu saja dari margamu. Di Jepang tidak ada marga Jung”, jawabnya. Yonghwa babo-ya, bahkan karna terlalu gugup aku melontarkan pertanyaan yang bodoh.

Dddrrrrtttt dddrrrtttt dddrrrrrrttttt

Tiba-tiba HPku bergetar, kulihat nama Minhyuk tertera di layar HP. Aku pun langsung menjawab telfonnya.

“waeyo Minhyuk-ah?”, tanyaku.

“hyung, kau ada dimana sekarang?”, tanya Minhyuk.

“aku ada di taman, wae?”

“bisa pulang sekarang? Kami membutuhkanmu?”

“ah ne, arasseo”, jawabku sambil memutuskan hubungan telfon. Minhyuk-ah, kau menggangguku saja.

“Naomi-chan, sepertinya aku harus pulang sekarang. Teman-temanku mencariku”, kataku pada Naomi-chan tidak enak.

“hai, tidak apa-apa. Kalau begitu sampai jumpa”, katanya. Aku pun pergi menuju rumah.

 

 

07.45 pm

CNBLUE, kami baru selesai manggung di salah satu café di Shibuya. Café ini cukup terkenal, karna merupakan salah satu list untuk hang out bagi para remaja Jepang. Penampilan hari ini tidak buruk, kami mendapatkan respon yang cukup baik. Uang yang kami dapatkan juga tidak sedikit, setidaknya cukup untuk makan kami. Tapi memang, untuk menuju rumah kami harus berjalan kaki. Karna tiket kereta bawah tanah cukup mahal, dan tidak masalah bagi kami untuk berjalan karna cafenya tidak jauh dari rumah.

“hyung, kau mau kemana?”, tanya Jonghyun padaku.

“oh, mianhae aku tidak langsung pulang. Kalian pulang duluan saja, aku ada janji dengan temanku di taman”, jawabku.

“siapa hyung? Apakah seorang yeoja? Apakah dia cantik?”, tanya Jungshin padaku.

“ya, ya. ya, untuk yeoja. Dan ya, untuk cantik. Aku pergi duluan, aku tidak ingin membuatnya menunggu. Annyeong…”, kataku sambil berlari meninggalkan mereka. Aku tidak ingin mereka bertanya yang lebih jauh.

Setelah berada cukup jauh dari café, aku mulai berjalan normal. Untuk menuju ke taman, aku membutuhkan waktu sekitar 15 menit jika berjalan kaki. Aku pun berjalan sambil menyandang gitarku. Aku tidak mau menitip gitar ini pada dongsaengku  karna kasihan, mereka kan juga membawa alat masing-masing. Sesampainya di taman, kulihat Naomi-chan sudah duduk di bangku itu. Rambut hitam  panjangnya dibiarkan terurai, ia memakai dress putih selutut serta cardigan putih. Seperti biasa, ia terlihat cantik malam ini. Aku pun berjalan menuju bangku itu dan duduk di sebelahnya sambil mengambil nafas dalam-dalam karna kelelahan berlari.

“kau kenapa?”, tanyanya heran melihatku.

“nai, aku tidak apa-apa”, jawabku sambil tersenyum.

“kau membawa gitar malam ini?”, tanyanya lagi. Karna tidak biasanya aku membawa gitar jika bertemu dengannya.

“hai, selesai manggung aku langsung ke taman ini menemuimu”, jelasku. Dia hanya menganggukkan kepalanya.

“bersediakah kau menyanyikan sebuah lagu bersama gitarmu itu?”, ia meminta sambil tersenyum manis. Tuhan, mana bisa aku menolak permintaannya.

“hai”, jawabku sambil mengeluarkan gitar akustik putihku dari dalam tas. Akupun mulai memainkan intro lagu Don’t Say Goodbye yang belum lama ini kuciptakan. Aku menyanyikannya dengan penuh kehati-hatian, dan setiap liriknya kupahami. Setelah menyanyikan lagu itu, Naomi-chan langsung bertepuk tangan. Senyuman manis tak pernah lepas dari wajahnya.

“wah, bagus sekali ! apakah lagu itu ciptaanmu?”, tanya Naomi-chan padaku.

“hai, lagu ini beberapa hari yang lalu kuciptakan. Bagaimana, apakah lagunya bagus?”, tanyaku padanya.

“bagus, basgus sekali. Aku suka liriknya, mengandung makna yang dalam. Maukah kau menyanyikannya sekali lagi? Aku ingin ikut bernyanyi bersamamu”, pintanya padaku. Aku pun memainkan lagu itu sekali lagi, dan tercengang ternyata Naomi-chan dengan mudah menyanyikannya. Suaranya sangat merdu di pendengaranku.

I don’t know how to sleep without you (aku tidak tau bagaimana tidur tanpamu)
I don’t know how to fix my heart (aku tidak tau bagaimana menyesuaikan hatiku)

Tell myself I’d stop everyday knowing that I won’t (memberitau diriku sendiri aku akan berhenti setiap hari mengetahui bahwa aku tidak akan)
even if I did I don’t know, If I’d try (bahkan tidak akan tau, jika aku mencobanya)

Do I wanna believe you think the same (apakah aku ingin mempercayaimu berpikir yang sama)
I am missing you (aku kehilanganmu)
And I want you believe same love as me (dan aku ingin kau percaya cinta yang sama denganku)
I am missing you (aku kehilanganmu)
You’ve given me your one last adios, but (kau memberiku adios terakhirmu, tapi)
why do I still wanna believe (mengapa aku masih ingin percaya)
I don’t know I’m missing you in good time, (aku tak tau bahwa aku kehilanganmu dalam waktu yang baik)
don’t say good bye (jangan katakan perpisahan)

 

“aku benar-benar menyukai lagumu”, katanya.

“arigatou gozaimasu. Hm, bagaimana keadaanmu sekarang?”, tanyaku hati-hati.

“seperti yang kau lihat, aku masih bersemangat seperti hari-hari sebelumnya”, jawabnya tanpa ada kesedihan di wajahnya.

“bagaimana kalau kita bertemu di taman ini, besok pagi? Aku ingin memperkenalkanmu pada teman-temanku”, pintaku padanya. Ia terlihat terdiam sebentar.

“besok pagi? Watashi wa zan’nenn (maafkan aku), aku tidak bisa”, jawabnya. Jujur saja, aku sedikit kecewa mendengarnya.

“Riyū o? (kenapa?)”, tanyaku lagi. Masih terdengar nada kekecewaaan pada suaraku.

“aku….ibu melarangku untuk bepergian. Hanya malamlah aku bisa keluar, karna ibu tidak akan mengetahuinya”, jawabnya sedikit gugup.

“baiklah, tidak masalah. Bagaimana jika besok aku membawa teman-temanku?”, tanyaku lagi.

“tidak usah”, jawabnya cepat.

“maksudku, kau tidak perlu membawa teman-temanmu. Aku, aku takut bertemu dengan orang lain…”, jelasnya.

“kenapa? Mereka anak baik-baik, kau tidak perlu takut”, kataku meyakinkannya.

“tidak, aku tidak mau. Aku mohon…”, jawabnya sedikit memohon. Ada yang aneh darinya, tapi aku tidak tau. Mungkin dia hanya tidak ingin bertemu dengan orang lain. Atau dia tidak ingin, lama-kelamaan banyak orang yang mengetahui tentang penyakitnya.

“baiklah, aku tidak akan memaksamu”, kataku akhirnya. Kami terdiam cukup lama, hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Naomi-chan”

“yonghwa-kun”, panggil kami berbarengan.

“kau duluan”, kataku.

“tidak kau saja. ini bukan hal yang penting”, katanya.

“kau yakin?”,tanyaku.

“hai”, jawabnya yakin dan tersenyum.

“ini terlalu malam, aku mengawatirkan keadaanmu”, kataku.

“hai, aku mengerti. Terima kasih sudah mengingatkanku, kalau begitu sampai jumpa”, katanya.

“sampai jumpa”, kataku sambil tersenyum. Kami pun meninggalkan bangku itu bersamaan. Beberapa langkah aku berjalan, aku menoleh ke belakang untuk melihatnya lagi, tapi aku tak menemukannya. Mungkin dia sudah berjalan di balik keramaian remaja itu. Kurasa rumahnya tak jauh dari sini. Aku pun melanjutkan perjalananku menuju rumah. Badanku sudah sangat lelah, aku juga belum makan malam. Aku harus sampai di rumah secepat mungkin.

 

 

 

07.50 pm

“hyung, kau ingin menemui yeoja itu lagi?”, tanya minhyuk padaku ketika melihatku sudah berpakaian rapi.

“ne, waeyo?”, tanyaku padanya.

“aniya, kau tidak pernah mengenalkannya pada kami”, katanya.

“mungkin lain kali saja”, kataku akhirnya.

“siapa namanya, hyung?”, tanya Jonghyun yang tiba-tiba sudah berada di belakang Minhyuk.

“Naomi, Kitagawa Naomi”, jawabku sambil tersenyum.

“sepertinya dia cantik, sehingga kau menutupinya dari kami”, sambung Jungshin.

“aniya, bukan begitu. Dia masih temanku, kami tidak memiliki hubungan apa-apa”, jelasku.

“jeongmalyo?”, tanya mereka menggodaku.

“ne, kalau begitu aku pergi dulu”, kataku dan langsung berlari keluar rumah. Lama-lama disana aku bisa salah tingkah mendengar komentar mereka. Aku pun berjalan menuju taman dengan kecepatan tinggi. Aku berharap bisa datang duluan darinya, aku tidak ingin dia menunggu. Setelah sampai di taman, dapat kulihat bangku itu tidak kosong. Dia sudah datang duluan, padahal aku sudah berjalan dengan kecepatan tinggi, bahkan mungkin hampir berlari. Tapi mengapa ia sudah sampai duluan?. Dia menggunakan dress putih lengan panjang tanpa motif kali ini. Rambutnya tetap dibiarkan terurai sehingga angin dapat dengan mudah menghembusnya.

“oh, yonghwa-kun kau sudah sampai ternyata”, katanya melihatku sudah berada di depannya.

“hai, kau sudah lama menunggu?”, tanyaku dengan nafas sedikit tersengal-sengal.

“nai, aku baru saja sampai”, jawabnya sambil tersenyum meyakinkanku. Aku pun duduk di sebelahnya.

“yonghwa-kun, bolehkah aku meminta bantuanmu?”, tanyanya setelah kami terdiam cukup lama.

“apa?”, tanyaku.

“tolong gali sedikit tanah di dekat pohon ini, kau akan menemukan sebuah kalung”, jelasnya.

“untuk apa?”, tanyaku lagi sedikit heran dengan permintaannya.

“aku ingin kau menyimpan kalung itu”, jawabnya.

“hai”, jawabku. Aku pun menggali tanah itu dengan kayu yang tak jauh dari pohon itu. Tak lama menggali, aku menemukan kalung yang dimaksud Naomi-chan.

“aku menemukannya”, aku memperlihatkan kalung itu padanya dan kembali duduk.

“kumohon, jaga kalung itu baik-baik. Aku ingin kau selalu mengingatku”, katanya dengan kepala sedikit tertunduk.

“apa maksudmu? Tentu saja aku akan selalu mengingatmu, Naomi-chan”, kataku tetap melihatnya.

“aku hanya takut kau akan melupakanku jika kita sudah tak bertemu lagi…”, katanya lalu terdiam.

“aishiteru, yonghwa-kun”, katanya tiba-tiba. Apakah aku tidak salah mendengar? Dia mencintaiku? Benarkah?

“Watashi mo anata o aishite (aku juga mencintaimu)”, jawabku sambil tersenyum.

“yonghwa-kun, aku tidak bisa berlama-lama sekarang. Aku harus pergi. Arigatou, karna kau sudah menemaniku beberapa hari ini. Sampai jumpa”, katanya sambil membungkukkan badannya sedikit dan berlalu pergi menuju keramaian. Setelah itu, aku tak melihatnya lagi. Aku pun segera menuju rumah, tak lupa menyimpan kalung tadi ke dalam saku celanaku.

“hyung-ah, kau sudah pulang?”, tanya Jungshin melihatku membuka pintu rumah.

“ne”, jawabku sambil menuju ruang tengah.

“apa yang kau lakukan di taman itu sendirian?”, tanya minhyuk heran padaku. Sendirian? Apa maksudnya?

“sendirian? Aniya, aku bersama Naomi-chan”, jawabku.

“tapi, kami tidak melihatmu bersamanya hyung. Kami hanya melihat kau sendiri menggali tanah di dekat pohon itu, dan duduk sambil memegangi sesuatu”, jelas Jonghyun. Apa yang mereka katakan? Jelas-jelas Naomi-chan duduk di sebelahku tadi. Tidak mungkin mereka tidak melihatnya.

“itu tidak mungkin. Tapi, kalian membuntutiku?!”, tanyaku dengan meninggikan sedikit suaraku.

“hehehe mianhae hyung, kami hanya penasaran saja”, kata si maknae.

“kalian kurang kerjaan. Aku tidur dulu, badanku sudah lelah”, kataku menuju kamar. Sebelum tidur, aku menatap kalung yang diberikan Naomi-chan tadi. Kalung itu bertuliskan huruf ‘YN’, apa artinya? Yonghwa Naomi?. Ah, tidak mungkin. Kalung itu kan sudah lama disimpannya, dan aku baru menemuinya beberapa hari ini. Aku pun lama-kelamaan tertidur dan tidak menyadari apapun.

 

 

 

07.45 pm

“hyung, kau ingin ke taman lagi kan?”, tanya jonghyun ketika aku ingin keluar rumah.

“ne”, jawabku singkat.

“bolehkah kali ini kami ikut? Kami hanya ingin memastikan perkataanmu kemaren, hyung”, jelas Jonghyun.

“baiklah, tidak masalah”, jawabku sambil keluar rumah duluan.

“ya, palli ! hyung mengijinkan kita untuk ikut”, teriak Jonghyun pada Jungshin dan Minhyuk.

Kami pun berjalan bersama menuju taman, lebih tepatnya bangku taman yang biasa kududuki bersama Naomi-chan. Tapi ketika sudah sampai di sana, aku tidak melihat siapa pun duduk di bangku itu. Bangku itu kososng, tidak ada Naomi-chan. Ada apa ini? Apakah ini maksud perkataannya kemaren? Apakah penyakitnya kambuh dan tak bisa menemuiku lagi?

“hyung, mana yeojamu itu?”, tanya Jungshin sambil memperhatikan bangku-bangku yang ada di taman.

“aku….aku tidak tau apa yang terjadi. Dia tidak mungkin, tidak akan datang malam ini”, jawabku. Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang.

“hyung, kami tidak salah. Kami benar-benar melihatmu duduk sendiri di bangku ini kemaren”, jelas Minhyuk.

“aniya, jelas-jelas aku duduk di sebelah Naomi-chan. Tidak mungkin kalian tidak melihatnya”, jelasku pada Minhyuk.

“bagaimana kalau kita tanyakan pada orang-orang disekitar sini, sepertinya yeoja itu sudah sering ke taman ini”, saran Jonghyun.

“ne, kita coba tanya pada ahjumma yang berjualan di sana saja”, saranku sambil menunjuk sebuah kedai mie ramen. Kamipun berjalan menuju kedai itu, dan masuk menemui ahjumma pemilik kedai itu.

“sumimasen ga(permisi), maaf kami ingin menanyakan sesuatu”, kataku pada ahjumma itu.

“hai, ada apa?”, tanya ahjumma itu.

“apakah anda tau dengan gadis yang selalu mengunjungi taman ini setiap malam? Dia selalu duduk di bangku itu”, tanyaku sambil menunjuk bangku yang terletak di tepi taman dan tertutupi pohon itu.

“siapa nama gadis itu?”, tanya ahjumma itu lagi.

“Kitagawa Naomi, ia gadis berambut panjang sepunggung”, jelasku.

“Kitagawa Naomi?”, tanya ahjumma itu mengulang nama Naomi-chan.

“hai, apakah anda tau?”, tanya Jonghyun.

“Naomi-chan yang kalian maksud, sudah meninggal satu tahun yang lalu”, jelas ahjumma itu. Apa? Naomi-chan sudah meninggal? Satu tahun yang lalu? Apa maksudnya? Jelas-jelas aku menemuinya 5hari yang lalu. Ini……ini tidak mungkin terjadi.

“apa maksudnya? Tapi, aku menemuinya dari 5 hari yang lalu sampai ia tak datang lagi mala mini. Kami….kami selalu duduk di bangku itu”, jelasku lagi.

“hai, dia sudah meninggal setahun yang lalu tepat di hari kau bertemu dengannya. Dia meninggal karna penyakit kanker hati”, jelas ahjumma itu meyakinkanku.

“darimana anda tau tentangnya?”, tanya Minhyuk kali ini.

“dulu Naomi-chan sering makan di sini. Aku mengenalnya cukup baik, dia adalah gadis yang sangat ceria dan bersemangat meskipun ia sudah divonis mendapat kanker hati”, ahjumma itu berhenti sebentar. Benar, Naomi itu yang kukenal. Seorang yeoja yang ceria dan bersemangat.

“dia sering menolongku di sini, karna rumahnya juga tak jauh dari sini. Tidak hanya dia sendiri, tapi pacarnya juga ikut membantuku selama ini—“

“pacar? Siapa pacarnya?”, tanya Jungshin memotong penjelasan ahjumma itu.

“dia bukan orang Jepang, pacarnya berasal dari Korea Selatan, aku tak tau jelas dimananya. Namanya adalah Yonghwa-kun”, jawab ahjumma itu. Yonghwa? Itu kan namaku. Tidak mungkin aku sudah mengenalnya dari setahun yang lalu. Karna setahun yang lalu aku baru sampai di Jepang, dan tak mengetahui apapun.

“Yonghwa-kun?”, tanya Jonghyun heran, sambil melihat ke arahku. Aku yakin dia sama bingungnya denganku.

“hai, Lee Yonghwa”, Lee Yonghwa? Aku tidak percaya ini.

“mereka bertemu di taman itu. Tapi sayangnya, tepat satu tahun yang lalu Naomi-chan meninggal tepat di pelukan Yonghwa-kun di taman itu. Dia begitu panik ketika menyadari Naomi-chan tidak sadarkan diri. Setelah Naomi-chan meninggal, ia kembali ke Korea. Sampai sekarang ia aku belum bertemu dengannya. Tapi…..tapi, dia begitu mirip denganmu”, kata ahjumma itu sambil menunjukku.

“aku?”, tanyaku heran.

“hai”, jawab ahjumma itu yakin. Lee Yonghwa, pemuda dari Korea Selatan berwajah yang mirip denganku dan bertemu dengan Naomi-chan di taman itu. Apakah semua ini hanya sebuah kebetulan?

“kalau begitu, terima kasih untuk semua penjelasannya. Kami pamit dulu”, kata Jonghyun sambil membungkukkan badannya di ikuti oleh Minhyuk dan Jungshin.

“arigatou gaozaimasu, sobo”, kataku sambil membungkukkan badan dan pergi. Aku benar-benar shock hari ini. Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba aku mengetahui bahwa Naomi-chan sudah meninggal setahun yang lalu, dan sekarang aku mencintainya. Aku mencintainya yang sudah pergi meninggalkan orang-orang yang ia sayangi, setahun yang lalu.

“sebaiknya kita pulang sekarang, keadaanmu tidak baik hyung”, kata jonghyun.

“ne”, jawabku singkat. Kami pun berjalan kembali ke rumah. Aku butuh istirahat.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar. Selama perjalanan pulang aku tak berbicara apapun dengan yang lain. Pikiranku benar-benar fokus pada Naomi-chan. Tunggu dulu, aku mengingat sesuatu. Pertama kalinya aku bertemu dengan Naomi-chan adalah di taman Inokashira, awalnya aku tak melihatnya duduk di bangku itu tapi tiba-tiba dia sudah duduk di sana. Kami selalu bertemu di malam hari jam 8, ketika aku meminta bertemu di pagi hari ia selalu tak bisa. Setiap kali kami bertemu, ia selalu mengenakan dress putih, ia tak pernah mengenakan dress selain warna putih. Naomi-chan juga menolak untuk bertemu dengan teman-temanku, dan teman-temanku tidak melihat Naomi-chan ketika bersamaku. Berarti ia bukannya takut pada orang lain, tapi ia tau tak ada yang dapat melihatnya selain aku.setiap kami bertemu, ia selalu datang duluan. Secepat apapun aku pergi, ia sudah berada duluan di bangku itu. Aku selalu pulang duluan, aku tak pernah melihatnya pulang dengan jelas. Setiap kali ia pergi, ia begitu cepat menghilang dari penglihatanku. Aish, bodohnya aku. Mengapa aku tak pernah menyadari semua ini sebelumnya. Tapi Naomi-chan, jeongmal saranghaeyo. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku berharap suatu saat nanti kita dapat bertemu lagi, aishiteru~

And I want you to come and give me your love (dan aku ingin kau datang dan memberiku cintamu)
I’m missing you (aku kehilanganmu)
You’ve given me your one last adios, but
(kau memberiku adios terakhirmu, tapi)
now I believe your true mind (sekarang aku percaya dengan pikiranmu sebenarnya)

Now I know (sekarang aku tau)
I’m missing you whole time, (aku kehilanganmu di setiap waktu,)
Don’t say good bye (jangan katakan perpisahan)

END

 

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like). 

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

15 thoughts on “[LombaFF] ILLUSION

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s