[LombaFF] It’s Heartquake Is Not Over

Cast : Kang Minhyuk CNBLUE, Jung Woonmin (Ocs/YOU), Lee Jonghyun CNBLUE, Jung Yonghwa CNBLUE.

Support Cast : Han Jikyo (OCs), Lee Jungshin CNBLUE.

Length : Oneshoot.

Rating : PG-13

Genre : AU, Romance, with a little (failed) angst.

Disclaimer : Ceritanya punya saya. OCs juga punya saya. CNBLUE milik BOICE ^_^

Note : Semoga suka sama cerita yang ku bikin ‘kilat’ ini.. Sorry fot typo.. Happy reading ^^

 

 

@Seoul, 06.00 KST

Woonmin terjaga dari tidurnya saat sinar matahari mulai menyinari kamarnya perlahan. Setelah melakukan sedikit perenggangan, ia bangkit dari tempat tidur dan pergi menuju dapur. Waktu masih menunjukkan jam 6 pagi. Woonmin menjepit poni dari rambut pendek sebahunya ke belakang dengan asal. Melangkahkan kakinya menuju dapur. Dan mulai menggoreng omelet, menyiapkan roti, susu, dan selai di atas meja. Selesai dengan pekerjaan menyiapkan sarapan, Woonmin bermaksud untuk kembali ke kamar dan mandi. Woonmin berjalan dan berhenti di depan kamar bertuliskan “Yong’s Room”.

TOK TOK TOK.

Setengah menit Woonmin menunggu sampai akhirnya pintu itu terbuka. Memperlihatkan sosok lelaki yang tampangnya acak-acakan karena bangun tidur. Cukup kaget mendapati Woonmin berdiri di depan pintu kamarnya.

“Sarapan sudah siap. Makanlah duluan.”

Woonmin melenggang pergi setelah mengatakan hal itu. Tiga langkah Woonmin berjalan, ia masih bisa mendengar suara lelaki itu berkata dengan –cukup lirih.

“Gomawo”

Woonmin terus berjalan tanpa berniat membalas ucapan laki-laki yang berstatus kakak kandungnya itu. Berjalan memasuki kamarnya dan membuat laki-laki tadi mematung dengan tatapan iba.

 

>>>

Woonmin mengambil setangkup roti dan mengambil omelet daging yang tadi ia masak sebagai isiannya. Menuangkan segelas coklat panas ke dalam mug sapinya. Yonghwa –kakak Woonmin yang sudah ada di meja makan itu menatap adiknya intens.

“Kau berangkat bersama Oppa kan?”

“Terserah.”

Woonmin memilih untuk memandang rotinya yang ada di piring daripada menatap kakaknya. Yonghwa menghela nafas pelan melihat tingkah adiknya. Namun tidak berani untuk berkomentar lebih jauh.

“Aku dengar Appa dan Eomma akan segera pisah.”

PRANG

Woonmin meletakkan mugnya cukup kasar ke meja. Menatap Yonghwa dingin.

“Aku. Tidak. Peduli.”

Yonghwa bergidik ngeri mendengarnya. Tatapan adiknya terasa begitu menusuk. Membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa kalau ia dalam keadaan terancam. Dan ucapan dingin Woonmin disetiap perkataannya bagaikan belati yang siap menghujam jantung siapa saja yang mendengarnya. Yonghwa tersentak saat dilihatnya Woonmin sudah pergi dari ruang makan itu menuju pintu depan. Yonghwa mengumpat sebal. Buru-buru ia menyambar kunci mobil di atas meja ruang tengah dan menyusul Woonmin, Ia tidak peduli meskipun Woonmin akan meronta nantinya menolak ajakannya untuk berangkat bersama. Yang Yonghwa tahu bahwa ia harus pergi bersama adiknya itu. Menyelesaikan semua masalah sebelum hubungannya dengan sang adik semakin memburuk.

 

>>>

Sepanjang perjalanan, Yonghwa dan adiknya itu tidak terlibat satu percakapan pun. Keduanya sibuk bergulat dengan pikiran masing-masing. Sampai mobil itu terparkir di gerbang kampus Woonmin.

“Maaf soal yang tadi. Aku berjanji tak akan mengungkitnya lagi, Min-ah.”

“…”

“Telpon Oppa kalau kelasmu selesai. Oppa akan menjemputmu. Ne?”, tanya Yonghwa.

“Hmm.”, gumam Woonmin sambil keluar dari mobil itu kemudian berjalan menuju gerbang kampusnya. Yonghwa sekali lagi menghela nafas pelan. Ia menatap punggung Woonmin yang mulai menjauh itu.

“Apa yang harus aku lakukan agar dapat melihatmu tersenyum lagi Woonmin?”, batin Yonghwa. Kemudian, Yonghwa menjalankan mobil Audi Red-nya membelah jalanan kota Seoul.

 

>>>

“Eonnie!!”

Suara seorang yeoja berteriak bersamaan memanggil Woonmin sedang berjalan dengan lesu. Ia sedikit berlari agar bisa sampai dengan cepat dihadapan Woonmin. Woonmin tersenyum sesaat. Yeoja itu menyadari ada sikap yang aneh dengan sikap Woonmin hari ini.

“Eonnie, kenapa? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Apa ada masalah?”, tanya Jikyo –nama yeoja itu. Woonmin mengangguk malas. Jikyo menatap Woonmin dengan tatapan iba.

“Gwaenchana Eonnie-yaaa.. Ayo kita buat moodmu hari ini menjadi lebih baik. Bagaimana kalau setelah pulang sekolah, kita jalan-jalan, heum?”, Jikyo menatap Woonmin dengan pandangan berharap. Woonmin mengangguk sejenak. Sebuah senyum terpatri dibibirnya.

“Nah, gitu donk eon. Senyum. Kan enak liatnya. Masuk ke kelas yuk.”, ajak Jikyo. Kedua yeoja itu menuju tempat duduk mereka masing-masing. Jikyo tidak tahu apa arti senyum Woonmin barusan. Yang pasti, itu bukan sebuah senyuman yang “sesungguhnya”.

 

>>>

Woonmin melangkahkan kakinya memasuki rumah. Membuang sepatu ketsnya dengan asal di depan pintu. Mengabaikan Yonghwa yang tengah menatapnya cemas kali ini.

“Darimana kau Woonmin-ah?”, tanya Yonghwa. Woonmin memperbaiki tali tas selempangnya yang melorot dari bahunya, menatap Yonghwa enggan.

“Pergi dengan teman.”

“Bukankah sudah Oppa bilang kau harus telpon Oppa kalau sudah pulang? Oppa akan menjemputmu. Pergi kemana saja kau? Kenapa handphonemu tidak aktif? Dan kenapa pulangnya malam sekali? Kau sudah makan?”, tanya Yonghwa beruntun. Sama sekali tidak memberikan kesempatan adiknya itu untuk menjawab. Bukan nada dan pancaran mata penuh amarah yang terpancar dari ucapan dan tatapan mata Yonghwa, tapi hanya ada rasa khawatir. Rasa khawatir dari seorang kakak kepada adiknya. Woonmin menatapnya tajam.

“Bukan. Urusanmu.”, Woonmin mengucapkan satu per satu kata itu dengan sangat dingin. Perasaan terhibur setelah jalan-jalan tadi sudah hancur sekarang. Woonmin memilih untuk segera masuk ke kamarnya dan menghempaskan pintu dengan keras.

BLAMMMMM

Yonghwa menghembuskan nafas dengan berat. Sesungguhnya ia sudah lelah dengan sikap Woonmin kepadanya. Sejak 4 tahun lalu, Woonmin berubah menjadi sosok yang dingin kepadanya. Semenjak orang tua mereka terus-terus bertengkar. Yonghwa memilih untuk membawa Woonmin pergi dari rumah tempat dulu mereka tinggal ke sebuah rumah kontrakan kecil. Alasannya? Sederhana. Yonghwa tidak mau adiknya terlalu banyak mendengarkan pertengkaran orang tua mereka berdua . Yonghwa tidak mau Woonmin terlalu terluka lebih dalam. Lebih jauh. Menjadi pribadi yang semakin tidak dikenalnya. Meskipun Yonghwa tahu, apa yang dilakukannya terlambat karena Woonmin sudah lebih dahulu terluka jauh sebelum masalah keluarga mereka datang. Sialnya Yonghwa mengerti apa yang membuat adiknya menjadi sangat terluka seperti sekarang ini.

 

>>>>

Seorang laki-laki tengah duduk di sebuah bangku yang ada di City Park kota London. Ia tengah menyeruput coffee-latte nya dipagi hari. Semilir angin musim semi yang menerpa wajah tampannya membuat laki-laki itu memejamkan mata. Perlahan, tersungging sebuah senyum dari bibir laki-laki itu. Sebuah senyum bahagia saat ia mengingat hal-hal yang sering dilakukannya dulu di kota kelahirannya pada saat musim semi. Bermain dengan seorang gadis. Gadis yang telah menyita hatinya dan membuatnya 4 tahun ini memendam rindu yang teramat sangat. Namun, senyum manis dari bibir laki-laki itu berubah menjadi senyum miris. Laki-laki itu baru tersadar kalau ia sedang melamun saat ia merasakan handphone di saku celananya bergetar. Buru-buru ia mengangkat telpon itu cepat.

“Hallo?”

“Hei Sebastien!! Are you sure come back to Korea today??”

Laki-laki itu tersenyum ringan mendengar suara sepupunya di seberang telpon.

“Lee Jungshin! Jangan berlagak sombong berbicara bahasa inggris denganku apalagi menyebut nama western ku! Aku tahu bahasa inggrismu itu payah.”, ucapnya dengan bahasa korea yang fasih. Terdengar suara cekikikan di seberang sana. Orang yang disebut Lee Jungshin itu tertawa.

“Jonghyun-ah, aku memakai telpon internasional! Cepat jawab pertanyaanku sebelum pulsaku habis! Kau benar benar akan kembali ke Korea?”. Laki-laki itu tersenyum kecil.

“Ya, studiku disini sudah selesai. Lagipula aku kembali juga ingin memenuhi panggilan kerja di Seoul Hospital Center.”

“Dan untuk mengejar cintamu kembali?”

Pertanyaan sepupunya membuat laki-laki bernama Jonghyun itu terdiam. Senyum di bibirnya memudar.

“Aku tidak tahu apa dia mau bertemu denganku apa tidak, Jungshin-ah.” Terdengar suara helaan nafas di seberang sana.

“Kau melewatkan banyak cerita selama 4 tahun ini, Lee Jonghyun. Aku rasa keputusanmu tepat untuk kembali ke Korea. Oh ya, pulsaku hampir habis. SMS aku jika pesawatmu  akan lepas landas dan kira-kira sampai di Korea jam berapa. Oke? Bye, Jonghyun-ah.”

TUT TUT TUT

Jonghyun kembali menyimpan handphone di saku celananya. Kali ini mengambil dompet, membukanya dan melihat sebuah foto di dompet itu. Di sebuah foto, seorang yeoja tengah mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan –membentuk V sign dan tersenyum manis ke arah kamera. V sign nya berada di dekat mata kanannya yang terpejam sebelah, membuatnya semakin cantik. Jonghyun mengelus foto itu perlahan dengan sebuah pengharapan besar dihatinya.

 

>>>

Woonmin baru saja selesai mandi ketika ia melihat ponselnya bergetar di ranjang. Woonmin mendengus sebal saat melihat siapa yang memanggilnya. Kang Minhyuk. Woonmin mengacuhkan hal itu. Sampai sebuah pesan akhirnya masuk ke handphonenya.

“Ingat perkataanku tadi pagi kan sayang. Cepat datang dalam 30 menit atau aku akan menjemputmu secara paksa. Kau harus tahu aku tidak akan segan-segan dalam perkataanku. Kutunggu kau sayang. Priamu, Kang Minhyuk.”

‘Damn! Apa lagi sih yang diinginkan laki-laki aneh itu?!’, batin Woonmin gusar. Ditambah dengan mengingat kejadian tadi siang yang membuatnya pusing.

 

Flashback

Woonmin’s POV

Aku sedang ingin pergi ke kantin untuk istirahat bersama Jikyo ketika tiba-tiba Seorang namja berhenti di depanku, menghentikan langkahku.

“Siapa kau?”, ucapku heran. Laki-laki itu bukannya menjawab, malah mengalihkan pandangannya kepada Jikyo yang ada di sebelahku, lelu memasang senyum.

“Bisa aku pinjam temanmu sebentar, Nona? Aku akan mengembalikannya saat jam istirahat selesai.”. Apa dia bilang tadi??? Pinjam?? Dia pikir aku barang?? Namja ini benar-benar kurang ajar!! Beru saja aku akan memakinya, ku dengar Jikyo sudah menjawab pertanyaannya.

“Silakan sunbae. Aku tidak melarangnya.” Tunggu, ada tatapan segan di mata Jikyo kulihat. Dan dia bilang sunbae?? Berarti ini kakak kelasku?? Baru tahu aku ada kakak kelas se-kurang ajar ini. Namja itu tersenyum lalu menarik tanganku sepihak sebelum aku sempat berkata apa-apa. Hei!! Apa-apaan ini?? Aku meronta dengan kuat saat dia menarikku. Namun cengkraman tangannya sangat kuat sehinggga membuat tanganku sakit. Aku yakin tanganku akan merah setelah ini.

“Hei, kita mau kemana?”

“Ikut saja, cantik..” Lihat kan? Belum apa-apa ku lihat dia sudah berbuat kurang sopan. Laki-laki ini menyeretku keatap sekolah. Aku segera melepaskan tanganku darinya. Namja ini benar-benar keterlaluan!!

“Siapa kau? Dasar gila!! Apa maumu membawaku kesini?? Aku tidak takut!! Ayo sini lawan aku kalau kau berani!!”, ucapku sambil menggulung lengan bajuku. Bersiap mengambil posisi kuda-kuda untuk mengahajarnya. Namun, yang ku lihat dia malah tersenyum. Ia melangkah maju mendekatiku. Tapi, sebisa mungkin ku tahan keinginanku untuk mundur. Aku tidak ingin terkesan lemah di hadapannya. Sampai ia menyentuh tanganku dan menurunkan kepalan tanganku.

“Jangan kasar begitu dong. Aku tak akan macam-macam kok. Annyeong! Aku Kang Minhyuk. Seperti yang kau dengar tadi, aku sunbaemu. Kelas 3-2 tepatnya. Aku membawamu kesini untuk memintamu jadi kekasihku. Kau mau kan?”

Aku benar-benar yakin seorang yang katanya ‘sunbae’ didepanku ini benar-benar kurang waras. Aku tidak mengenal dia dan sekarang dia memintaku untuk menjadi pacarnya?! (._.)

“Mungkin kau tidak mengenalku. Tapi aku sangat mengenalmu. Kau Jung Woonmin. Murid kelas 2-5. Dengan IQ sedikit di atas rata-rata. Hobi bernyanyi, bermain gitar, dan menulis lagu. Mata pelajaran yang paling disenangi adalah Biologi dan Bahasa Inggris. Kurang fasih menggunakan otak jika disuruh hitung-menghitung. Kau hanya punya satu orang yang kau percayai disekolah ini, Han Jikyo. Temanmu di kelas 2-5. Dan satu hal lagi, kau diam-diam juga punya hobi balap motor dan sering ikut lomba balap untuk memenangkan uangnya. Bagaimana? Aku benar kan?”, ucapnya sambil tersenyum. WOW!! Apa lagi ini?? Dia ternyata seorang stalker, heuh??

“Aku tak menyangka kalau aku mempunyai secret admirer di sekolah ini semacam kau, sunbae. Aku salut atas semua pengetahuanmu tentangku. Tapi, maaf saja aku tak tertarik menjadi kekasihmu.”, aku memutuskan untuk segera pergi dari tempat ini. Namun, sunbae itu dengan segera menangkap lenganku lagi sehingga kini aku menghadap ke arahnya.

“Sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku juga tahu latar belakang keluargamu. Dengan ayah yang selalu terlibat skandal dengan wanita lain, ibumu yang keras kepala, dan kini kehidupan keluargamu berada di  ambang kehancuran, benar bukan?”. Aku terkejut ia juga tahu tentang hal ini. Darimana orang aneh ini bisa tahu!? Bahkan Jikyo saja tidak ku beri tahu. Aku akui aku mulai waspada sekarang. Namja ini tidak bisa ku sepelekan.

“Kau tak mau kan kalau rahasia keluaramu diketahui oleh orang-orang satu sekolah? Aku akan bersedia tutup mulut kalau kau mau bekerja sama denganku. Ku tunggu di ujung jalan Kwangdong jam 11 nanti malam. Percayalah Woonmin, aku tidak akan main-main dengan perkataanku kalau kau berani menentangku. Sampai bertemu nanti, sayang.”

ARRRGGGHH!! Namja sialan!!

Woonmin’s POV end

 

Woonmin melangkahkan kakinya sebal menuju kelas. Menghampiri Jikyo yang kini tengah duduk dengan sebuah novel ditangannya.

“Jikyo-ah!!”, hardik Woonmin membuat Jikyo terkejut.

“Eonnie, kau membuatku kaget. Ada apa?”

Woonmin menarik Jikyo sehingga keduannya berada di toilet.

“Katakan sesuatu! Apa yang kau tahu tentang sunbae bernama Kang Minhyuk, hah?”, ucap Woonmin tak sabaran.

“Eonnie, kenapa kau jadi kasar begini?”, ucap Jikyo takut.

Woonmin yang melihat perubahan ekspresi wajah Jikyo segera melunakkan sikapnya. Menyadari kalau ia tak seharusnya bersikap begitu pada Jikyo.

“Arraseo. Mian tadi aku terbawa emosi. Sekarang katakan padaku, apa yang kau ketahui tentang sunbae itu? Aku mau kau jujur dan menceritakan semua yang kau tahu padaku.”

“Hmm.. sebelumnya eonnie baik-baik saja kan?”

“Cepat jawab sebelum emosi ku naik lagi, Han Jikyo.”, ucap Woonmin tegas.

“Baiklah.” Jikyo mengehentikan sejenak perkataannya untuk bernafas dan mulai bercerita. “Kang Minhyuk. Sunbae dari kelas 3-2. Ia disegani oleh teman seangkatannya karena keluarganya salah satu penyumbang dana terbesar untuk sekolah ini. Yang ku dengar Minhyuk sunbae termasuk salah satu anak emas bagi para guru karena kemampuannya yang sangat baik dalam pembelajaran MIPA. Minhyuk sunbae juga jarang membolos. Namun, guru-guru dan teman-temannya suka sebal dengan kelakuan Minhyuk sunbae yang egois bahkan terkadang terkesan kurang ajar. Tapi, tak ada seorang pun yang mau menegurnya karena takut Minhyuk sunbae akan melaporkan hal itu pada ayahnya dan membuat bantuan untuk sekolah ini dicabut. Itu saja yang ku tahu, eonnie.”

Woonmin menggaruk kepalanya frustasi. Membuat Jikyo bingung dibuatnya.

“Eonnie, neol gwaenchana?”

“Tidak juga. Keadaanku cukup buruk. Ayo, kita kembali saja ke kelas.”, ucap Woonmin dan membiarkan Jikyo mengekor dibelakangnya.

Flashback end

 

>>>

Woonmin mengendap-endap keluar dari rumah kecil itu. Dengan pakaian serba hitam –jaket kulit, kaus, skinny jeans, sepatu kets-, ia sangat hati-hati membuka pintu keluar rumah itu. Takut membangunkan Yonghwa pastinya. Woonmin segera mengambil motor sport Yonghwa, baru menyalakannya setelah membawa motor itu cukup jauh dari rumah dan segera pergi menuju sebuah tempat.

 

>>>

“Kau datang chagi?”

Woonmin menatap malas namja yang ada di depannya. “Jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu! Apa maumu menyuruhku kesini, Kang Minhyuk?”

Namja bernama Minhyuk itu tersenyum. Lalu menunjuk barisan yeoja-namja yang ada di depan mereka. Tengah berkumpul disertai dengan deru suara motor.

“Mau bermain bersamaku? Aku janji kalau kau menang, aku tak akan mengerjar-ngejarmu lagi. Tapi kalau kau kalah, kau harus menuruti apa yang ku inginkan. Bagaimana?”

Woonmin mengepalkan tangannnya kuat. Rahangnya mengeras menandakan kalau ia menahan amarah yang besar.

“Diam berarti setuju. Masalah motor kau bisa pinjam motor yang ku persiapkan disana. Atau kau mau pakai motormu sendiri? Pilih saja. Satu putaran ku rasa cukup. Persiapkan dirimu, sayang.”

Woonmin terdiam di tempatnya. Menghembuskan nafasnya yang kali ini cukup terengah-engah. Kesabarannya diuji kali ini.

 

>>>

Pertarungan balap motor antara Woonmin dan Minhyuk malam itu berlangsung seru. Keduanya saling mengejar dalam masalah posisi. Namun di detik-detik terakhir, Woonmin sempat terkecoh karena Minhyuk sempat ingin membelokkan stirnya ke kanan, dan namun ia ternyata mengambil jalan ke kiri. Alhasil, Woonmin ketinggalan cukup jauh karena berusaha membalikkan motor terlebih dahulu. Semua yang hadir di area itu menyoraki kemenangan Minhyuk. Woonmin mendengus sebal. Ini pertama kalinya ia kalah dalam bertanding balap motor melawan orang lain. Belum selesai Woonmin berpikir, Minhyuk sudah membawanya jauh dari keramaian. Membawanya bersembunyi di balik sebuah pohon.

“Sesuai perjanjian. Kalau aku menang, kau harus menuruti keinginanku. Sekarang, kau mau kan jadi kekasihku?”

“Kenapa harus aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

“Aku bahkan tak mengenalmu.”

“Kita bisa saling mengenal seiring berjalannya waktu. Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku.”

“Egois.”

“Terima kasih. Aku tersanjung.”

Woonmin membuang wajahnya. Menghindari tatapan Minhyuk. Woonmin akui wajah Minhyuk cukup tampan. Tapi, haruskah sikapnya seperti ini? Genggaman tangan Minhyuk pada Woonmin mulai melemah. Woonmin menundukkan kepalanya. Menyerah dengan keadaan.

“Sekali lagi, diam ku anggap iya. Jadi mulai sekarang, kau adalah yeojachinguku. Oke?”, ucap Minhyuk sambil mengedipkan sebelah matanya. Woonmin hanya bisa berdoa dalam hati semoga keputusannya ini tidak salah.

 

>>>

@Seoul, 10.00 KST

Jonghyun membuka kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling bandara Incheon. Dan pada saat itu juga ia mendengar seseorang menyerukan namanya.

“LEE JONGHYUN!!”.

Jonghyun setengah berlari mendatangi Jungshin yang tengah melambai padanya. Kedua saudara sepupu itu lalu berpelukan erat.

“Kau tambah tinggi saja, Jungshin-ah.”, gurau Jonghyun.

“Dan lihat dokter muda kita yang satu ini. Semakin bertambah tampan saja.”, balas Jungshin sambil memukul pelan lengan Jonghyun. Jonghyun tersenyum mendengar ucapannya.

“Mau langsung pulang?”, ajalk Jungshin. Jonghyun mengangguk pelan. Dilihatnya kota Seoul yang tidak terlalu banyak perubahan setelah 4 tahun. Pandangan Jonghyun menerawang. Ada keinginan yang kuat dalam hatinya. Sesuatu yang ingin dituntaskannya semenjak empat tahun lalu. Dan kini ia bertekad untuk menggapainya.

 

>>>

Next day, 07.00 KST

Woonmin turun dari mobil Yonghwa dan berjalan santai menuju gerbang sekolahnya. Namun, langkahnya terhenti melihat Minhyuk melambaikan tangannya di depan lobi utama gedung sekolah.  Mata Woonmin menyipit. Bingung. Namun, ia memutuskan untuk terus melangkah karena tak ada lagi jalan masuk ke dalam sekolah selain melewti lobi gedung utama.

“Hai, chagi.”

Woonmin mendelik sebal kepada Minhyuk. “Aku sudah pernah bilang berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan itu. Apa kau tuli?!”. Ucap Woonmin marah. Minhyuk terkekeh lalu mengulurkan tangan kanannya, mencubit pipi kiri Woonmin.

“Aigooo..Kau semakin manis jika sedang marah. Hihi..”

“Minhyuk!! Berhenti mencubit pipiku.. Sakitttt…”. Woonmin mencoba melepaskan tangan Minhyuk yang mencubit pipinya. Dan setelah berhasil, Woonmin mengelus pipinya yang kesakitan. Melotot marah pada Minhyuk. Bukannya merasa bersalah, Minhyuk malah merangkul bahu Woonmin. Menariknya dalam satu gerakan. Dan berteriak di depan anak-anak lainnya yang melintas di  sekitar mereka.

“SEMUANYA.. AKU MINTA PERHATIAN KALIAN SEBENTAR!!! HARI INI, AKU AKAN MEMBUAT SEBUAH PENGAKUAN. AKU.. KANG MINHYUK TELAH RESMI BERPACARAN DENGAN JUNG WOONMIN. JADI AKU MINTA, JANGAN ADA DIANTARA KALIAN YANG COBA UNTUK MENGGANGGUNYA. TOLONG SEBARKAN HAL INI KEPADA YANG LAIN.”, ucap Minhyuk lantang dan membawa Woonmin pergi dari kerumunan itu. Membiarkan Woonmin menganga lebar mendengar ucapannya.

 

>>>

Jonghyun menatap pintu yang ada di depannya. Empat tahun sudah ia tak pernah berkunjung kesini. Perlahan Jonghyun melangkah mengetuk pintu itu.

TOK TOK TOK

Hening. Tak ada jawaban. Apa mereka tidak ada dirumah?, batin Jonghyun. Ia mencoba sekali lagi. Namun tetap tak ada jawaban.

“Jong..hyun?”

Jonghyun menoleh ke belakang. Mendapati Yonghwa berdiri di belakangnya, dengan ekspresi.. terkejut?

“Hyung!”

Dengan satu gerakan, Jonghyun memeluk Yonghwa erat. Namun, tak dirasakannya Yonghwa mbalas pelukannya.

“Apa kabar hyung?”

“Untuk apa kau pulang?”

“Eh?”. Jonghyun bingung dengan maksud perkataan Yonghwa. Ia melepaskan pelukannya dan mendapati Yonghwa yang –masih memandanginya dengan tatapan terkejut.

“Hyung.. aku- “

“Ikut aku. Kita perlu bicara.”

 

>>>

“Eonnie, kau benar-benar pacaran dengan Minhyuk sunbae?? Kok bisa?? Eonnie, ceritakan padaku!!”, Jikyo menggoyang-goyangkan bahu Woonmin heboh. Woonmin menatap Jikyo malas.

“Aku sangat tidak ingin membahasnya.”

“Eonnie..”, Jikyo memohon dengan puppy eyesnya.

“Bahkan sekalipun kau memasang tampang seimut kura-kura, aku tak akan menceritakannya.”

Jikyo mengerucutkan bibirnya kesal. Percuma memaksa Woonmin jika memang dia sedang idak niat menceritakan apapun. Jikyo hanya bisa bersabar meladeni sikap Woonmin.

“Baiklah kalau eonnie tidak mau cerita. Nanti kalau eonnie sudah siap saja baru ceritakan padaku yaa.”

Woomin memutuskan untuk tak menjawab pertanyaan Jikyo. Membuiarkan Jikyo berlalu dari hadapannya. Woonmin duduk dibangkunya, mengambil buku tulis dan pulpen, menulis sebiuah kalimat di lembar belakang bukunya. ‘Kang Minhyuk. Tunggu tanggal kematianmu ditanganku. Dasar bodoh!!’

 

>>>

Kejutan besar bagi Yonghwa melihat Jonghyun kini ada di hadapannya. Ia menatap tak percaya kepada namja yang berumur setahun dibawahnya ini.

“Kau pulang?”, tanya Yonghwa memecah keheningan diantara mereka. Saat ini mereka berdua sedang duduk di ruang tamu rumah Yonghwa. Kedua orang ini mengenal satu sama lain, namun entah kenapa suasana menjadi sangat canggung kali ini.

“Kurasa sudah saatnya aku kembali, hyung. Pendidikan dokterku sudah selesai.”

“Lalu untuk apa kau datang kesini?”, nada bicara Yonghwa sedikit meninggi.

“Menyelesaikan masalah hatiku yang belum terselesaikan. Aku yakin kau tahu maksudku hyung.”, ucap Jonghyun tenang. Yonghwa menghela nafas pelan.

“Kalau kau kesini untuk menemui Woonmin, lebih baik kau pulang saja. Tak akan ada gunanya.”

“Hyung, biar aku menjelaskan maksud- “

“Dia berubah, Jong.”, sela Yonghwa.

Jonghyun menatap Yonghwa heran. Berharap Yonghwa melanjutkan perkataannya.

“Woonmin sekarang bukan adik manisku yang seperti dulu lagi. Dia bukan Woonmin yang kita kenal dulu. Dia..”, ucapan Yonghwa terhenti membuat Jonghyun semakin penasaran.

“Woonmin kenapa hyung??”

“Dia menjadi pribadi yang dingin dan tertutup sekarang! Dan itu semua karena kita!”, teriak Yonghwa emosi.

“Hyung, aku tidak mengerti maksudmu.”

“Kau sudah meninggalkannya tanpa pamit. Kau pergi ke Inggris tanpa memberitahunya sedikit pun. Membuatnya menangis semalaman karena tak sempat bertemu denganmu. Itu alasan pertama.” Jonghyun meneguk salivanya pahit.

“Kau ingat Juhyun? Kekasihku dulu?”, tanya Yonghwa sedih. Jonghyun menganggukkan kepalanya.

“Seminggu setelah kau pergi, dia meninggal karena bunuh diri, Jonghyun-ah. Itu karena aku memutuskan hubunganku dengannya. Woonmin menyalahkanku karena hal itu. Dia bilang pikiranku terlalu sempit sehingga mengabulkan permintaan orang tua Juhyun yang tidak setuju dengan hubungan kami berdua lalu memutuskan hubunganku dengannya. Sejak saat itu, Woonmin bersikap dingin padaku. Dia berpendapat aku sama sepertimu. Suka meninggalkan wanita secara sepihak.”

“Dua tahun setelah itu, aku dan Woonmin mendapat kabar kalau ayah kami pergi ke sebuah bar dengan wanita lain. Sejak saat itu eomma dan appa sering bertengkar. Membuat Woonmin tertekan. Aku ingin menenangkannya. Tapi aku tak bisa! Ia membenciku, membencimu, dan membenci seluruh pria yang ada di bumi ini. Menurutnya semua ini karena keegoisan laki-laki yang suka memainkan perasaan wanita!”, nafas Yonghwa terengah-engah menceritakannya. Membuat keduanya terdiam untuk sejenak.

“Aku akan membuatnya kembali percaya padaku hyung. Aku akan buktikan hal itu. Terima kasih sudah menjelaskan semuanya padaku. Aku pamit.”

Setelah mengucapkan hal itu, Jonghyun segera keluar dari rumah Yonghwa dan meninggalkan Yonghwa di dalam rumahnya sendirian.

 

>>>

3 Days Later.

Woonmin sudah mulai terbiasa dengan Minhyuk. Dulu, dia selalu menjauh dari laki-laki. Yah, karena masa lalu yang membuatnya merasa anti dengan para laki-laki. Namun kini, ia mulai membuka hati. Woonmin berpikir kalau ‘mencoba’ dekat dengan Minhyuk tak ada salahnya. Seperti sekarang, ia membiarkan Minhyuk menggenggam tangannya. Menikmati suasana di amusement park –salah satu tempat bermain hiburan di Seoul.

Sudah dua jam keduanya disini. Mencoba berbagai macam wahana permainan yang ada. Sampai hari menjelang sore, barulah mereka pulang. Woonmin tersenyum manis. Sudah lama ia tidak merasakan hal ini. Perasaan bahagia yang menghampiri hati dan membuatnya bersemangat.

“Akhirnya aku bisa melihat senyummu.”, gumam Minhyuk. Woonmin menolehkan kepalanya. Merasa Minhyuk mengucapkan sesuatu. “Kau bilang apa tadi?”, tanya Woonmin kembali.

“Tidak. Bukan apa-apa.”

Keduanya kini sampai di depan rumah Woonmin. Minhyuk mengambil helm yang diserahkan oleh Woonmin.

“Terimakasih untuk hari ini. Hati-hati di jalan.” Sebelum Woonmin sempat melangkah, Minhyuk menahan lengannya dan berdiri dihadapan Woonmin. Menggenggam kedua tangannya. Erat.

“Seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Terimakasih karena mau memberikanku kesempatan. Membuka hatimu untukku. Kau harus tahu Woonmin-ah. Mengenai perasaanku, aku benar-benar tidak berbohong. Aku tulus menyukaimu, bahkan sekarang mencintaimu. Aku tak memaksamu menerimaku secara seutuhnya. Pelan-pelan saja. Aku tahu apa yang membuatmu tertutup pada laki-laki. Karena itu, aku berusaha untuk menyingkirkan rasa itu. Aku ingin membuatmu menjadi Woonmin yang ceria. Oke?”. Woonmin berusaha mencari kebohongan dimata Minhyuk. Namun ia tidak menemukannya. Hal itu membuat jantung Woonmin terasa berhenti berdetak sesaat saat Minhyuk memandangnya.

“Tidurlah. Sampai bertemu besok.”, Minhyuk melambaikan tangannya pada Woonmin. Mulai melajukan motor sportnya. Sampai Minhyuk menghilang di tikungan jalan. Barulah Woonmin berbalik. Namun ia terkejut melihat siapa yang ada di depannya.

“Jonghyun.. oppa?”

 

>>>

Nafas Jonghyun sesak saat melihat namja –yang Jonghyun tidak tahu siapa namanya itu- menggenggam tangan Woonmin. Sial! Siapa dia?, batin Jonghyun kesal. Dan ia melihat Woonmin diam saja tangannya digenggam seperti itu. Bahkan pandangan matanya fokus pada namja itu. Jonghyun merasa gerah. Tak boleh ada lelaki lain yang menyentuh tangan Woonmin seperti itu kecuali dirinya.

Setelah lelaki itu menghilang di tikungan jalan, Jonghyun keluar dari tempat persembunyiannya. Ketika Woonmin berbalik, ia lihat Woonmin terkesiap pelan. Terkejut melihatnya.

“Jonghyun.. oppa?”

Jonghyun maju mendekat. Dalam satu gerakan, ia memeluk Woonmin. Menenggelamkan kepala Woonmin pada dada bidangnya. Woonmin memberontak dengan susah payah. Dan syukurnya hal itu berhasil. Jonghyun menatap Woonmin heran.

“Untuk apa kau kesini lagi, oppa?”

“Memintamu kembali, tentu saja.”

Woonmin tersenyum sinis. Woonmin yang dingin kini kembali.

“Kau bukan siapa-siapaku. Begitu pula sebaliknya.”

“Kalau kau marah padaku karena kejadian empat tahun yang lalu. Aku minta maaf.”

“…”

“Aku meninggalkanmu bukan tanpa alasan. Appa menyuruhku mendadak pergi ke Inggris. Aku ingin bilang padamu, tapi saat itu kau sedang ada pentas seni. Jadi aku memutuskan utnuk menghubungimu setelahnya. Aku mengambil jurusan kedokteran bukan tanpa alasan Woonmin-ah. Kau pernah bilang padaku, alangkah bagusnya jika aku bisa menjadi dokter dan menyembuhkan banyak orang. Aku mengambil keputusan itu karena kau. Aku ingin kau bangga padaku. Sekarang aku bekerja di Seoul Hospital Center. Menjadi seorang dokter Woonmin-ah. Ini semua untukmu!”

“Tapi, kau tak pernah menghubungi aku setelah itu. Kau jahat Oppa!”

“Aku kehilangan handphoneku dibandara. Aku juga sudah mencoba menghubungimu lewat email tapi kau tak pernah membalasnya. Sampai akhirnya aku tenggelam dalam studiku. Aku kalut karena tidak pernah tahu tentang kabarmu. Aku tak tahu kau mengalami hal yang berat disini Woonmin-ah. Maafkan aku.”, Jonghyun kembali memeluk Woonmin. Namun dengan cepat Woonmin menepisnya.

“Maaf Oppa. Lebih baik kau pulang saja. Sebaiknya sekarang kau kembali bekerja. Banyak pasien menunggu jasa seorang dokter kan?”, Woonmin berlalu dari hadapan Jonghyun. Namun, sebelum sempat ia membuka pintu rumah. Woonmin merasakan handphonenya bergetar. Panggilan masuk.

“Yeobseyo..”

“…”

“Ya, dengan saya sendiri. Ini siapa?”

“…”

“Mwo?? Ba..ba..ikk.. Saya sege..ra kesana.. Terimaa..kasih..”

Suara Woomin bergetar menerima telpon itu. Membuat Jonghyun menghampirinya bingung.

“Woonmin-ah, ada apa?”

“Minhyuk oppa.. hiks.. Minhyuk oppa kecelakaan..”, tangis Woonmin pecah. Jonghyun berpikir keras. Apa mungkin laki-laki yang mengantar Woonmin tadi?, batinnya.

“Sekarang ada di rumah sakit.. Eottohke?”, tangis Woonmin berubah menjadi sesegukan pilu. Membuat Jonghyun tak tahan mendengarnya.

“Arraseo. Kita kesana sekarang. Oke?”

Minhyuk membawa Woonmin yang tiba-tiba saja menjadi lemas.

 

>>>

@Seoul Hospital Center, 20.00 KST

Woonmin dan Jonghyun berlari menyusuri koridor rumah sakit. Menuju tempat Minhyuk dirawat. Menurut infomasi, Minhyuk kini ada di ruang instalasi gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan. Keadaannya cukup parah. Setelah mengambil jas dokternya, mereka berdua segera menuju ke UGD.

“Woonmin-ah, tenangkan dirimu. Aku sudah menelepon Yonghwa hyung. Dia bilang dia dalam perjalanan kesini. Temanmu itu, pasti akan baik-baik saja. Aku akan mencoba membantunya.”, ucap Jonghyun. Woonmin menahan tangan Jonghyun, membuat Jonghyun berbalik menghadapnya.

“Oppa.. kumohon selamatkan Minhyuk.. Kau dokter kan? Aku akan sangat memaafkanmu dan menghargai usahamu menjadi seorang dokter kalau kau benar-benar bisa menyelamatkan Minhyuk Oppa. Aku mohon..”, pinta Woonmin sambil menunduk, -menangis.

“Iya, aku berjanji padamu Woonmin-ah. Dia akan baik-baik saja.”

Jonghyun meninggalkan Woonmin yang kini terduduk di depan UGD.

 

>>>

“Perawat Hwang! Bagaimana keadaan pasien?”

“Tekanan jantungnya menurun dokter Lee. Fibrilasi ventikuler.”

“Perawat Jang, siapkan defiblilator segera!”

“Sudah siap, dokter Lee.”

Jonghyun bersiap untuk menempelkan defiblilator itu pada dada Minhyuk. Tubuh Minhyuk merespon cepat. Beberpa kali kejutan itu ada namun denyut jantung Minhyuk masih dibawah normal. Jonghyun mendekat kearah telinga Minhyuk dan berbisik.

“Aku tahu kau bisa mendengarku, Minhyuk. Dengar, pertahankan hidupmu. Woonmin menunggumu disini. Ia ingin kau selamat, kalau kau mencintainya, kau harus tetap bertahan.”, bisik Jonghyun pelan.

Defiblilator itu kembali dicoba pada tubuh Minhyuk.

 

>>>

“Woonmin-ah!!”

Kepala Woonmin berputar cepat mendengar suara Yonghwa.

“Oppa!”

Yonghwa bereaksi cepat dengan berlari kearah Woonmin dan memeluknya. Tanpa disangka, Woonmin menangis di dadanya.

“Oppa.. Minhyukkie.. Dia.. Terluka..”, tangis Woonmin di dada Yonghwa. Yonghwa mengeratkan pelukannya. Masih bingung siapa Minhyukkie yang dimaksud Woonmin. Namun, ia tak ingin merusak keadaan.

“Siapapun dia, dia pasti akan baik-baik saja Woonmin-ah. Berhentilah menangis.”

“Hiks..hiks..”

Saat itulah, pintu UGD terbuka. Menampilkan Jonghyun yang melepas maskernya dan menghampiri Yonghwa dan Woonmin.

“Oppa, bagaimana keadaaan Minhyuk??”, tanya Woonmin cepat.

“Dia selamat, Woonmin-ah.”

Woonmin menghembuskan nafasnya lega. Yonghwa mengelus bahu Woonmin pelan.

“Gomawo Oppa. Boleh aku melihat keadaannya sekarang?”

“Ya, silakan.”

 

>>>

Woonmin melangkahkan kakinya menuju ranjang Minhyuk. Melihat Minhyuk dipenuhi banyak luka seperti ini membuat dadanya sesak. Airmatanya mengalir begitu saja.

“Bangun Minhyuk-ah.”

“…”

“Kau bilang akan selalu menemaniku. Mana?”

“…”

“Kau puas sekarang? Aku sudah menangis untukmu. Bodohnya, aku juga sudah mencintaimu. Kau benar-benar akan mati kalau kau tidak bangun, bodoh.”

Woonmin menangis sambil menggenggam tangan Minhyuk. Ia terlalu lelah. Sampai akhirnya ia tertidur dalam tangisannya.

 

>>>

Jonghyun terdiam melihat pemandangan didepannya. Woonmin tertidur sambil memegang tangan Minhyuk erat. Dirasakannya sebuah tangan menepuk bahunya pelan.

“Apa aku sudah terlambat hyung?”

“Sepertinya begitu.”

“Ini salahku.”

“Kau sudah melakukan yang terbaik, Jong. Setidaknya, Woonmin sudah memaafkanmu. Relakan dia.”

“Harus meskipun hati ini tak ingin. Itu berat hyung.”

Yonghwa tak bisa berkata apa-apa. Hanya meninggalkan Jonghyun sendirian di depan pintu ruangan itu.

 

>>>

Woonmin menggeliat pelan saat ia merasa kurang nyaman dengan posisi tidurnya. Namun, ia langsung terbangun merasakan sebuah tangan membelai halus rambut pendeknya. Hatinya gembira melihat Minhyuk tersenyum manis padanya. Minhyuk sudah siuman.

“Minhyuk-ah, kau sadar??”

Minhyuk hanya mengangguk lemah menanggapinya. Woonmin mendesah lega dan tersenyum.

“Syukurlah. Tunggu aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu.”

“Min-ah..”

Woonmin berbalik ketika Minhyuk mendengar nama kecilnya.

“Temani aku disini saja. Aku tidak butuh orang lain memeriksa keadaanku.”

Dengan polos Woonmin bertanya, “Darimana kau tahu nama kecilku?”

“Kau tidak ingat aku?”

Melihat Woonmin terdiam, Minhyuk melanjutkan ucapannya.

“Sepuluh tahun lalu. Taman di belakang YooKyung Grade School. Anak laki-laki bermain harmonika. Sehabis hujan deras. Mencari pelangi. Kau ingat?”

“Kau.. anak laki-laki itu, Minhyuk-ah?”

Minhyuk menangguk pelan. Membuat Woonmin merasa kehilangan suaranya. Ia ingat hari itu.

 

Flashback

Seorang anak laki-laki tengah duduk di bangku taman belakang sekolah dasar YooKyung. Ia mengeluarkan harmonikanya. Hujan sudah reda lima belas menit yang lalu. Bangku taman pun masih terlihat basah. Namun, tak menyurutkan niat laki-laki itu utnuk bermain harmonika.

(Now playing : My Star – Kang Minhyuk [Harmonica Version])

PROK PROK PROK

Minhyuk terkejut mendengar suara tepuk tangan. Dilihatnya seorang anak perempuan dengan rambut sebahunya yang diikat kuda, bertepuk tangan. Minhyuk tersenyum malu. Baru kali ini ada anak perempuan yang suka pada permainan haronikanya. Dilihat dari seragamnya, anak itu satu sekolah juga dengan Minhyuk. YooKyung Grade School.

“Bagus sekali Oppa.. Neomu chuahae..”, ucapnya lucu.

“Gomawo. Kau sudah lama disana?”

“Ne.”, anak perempuan itu dengan semangat menganggukkan kepalanya, membuat kuncir kudanya bergerak lucu.

“Untuk apa kau kesini?”

“Mencari pelangi.” Minhyuk bingung, namun anak perempuan itu tersenyum.

“Itu dia pelanginya!”, tunjuknya ke depan. Minhyuk mengikuti pandangan anak itu. Ya, ada pelangi di di hadapan mereka. Begitu indah.

“Oppa, permainan harmonikamu sangat bagus dipadukan dengan datangnya peangi. Indaaaaaaahhh sekali. Min-ah menyukainya.”

“Namamu, Min-ah?”

“Ne.. Kalau Oppa??”

“Aku..”

“Min-ah!!”

Teriakan seorang anak laki-laki menyadarkan keduanya. Melihat kakaknya datang menjemput, anak perempuan itu segera berdiri dari bangku itu.

“Oppa, lain kali kita main lagi yaa..Yonghwa Oppa sudah menjemputku.. Annyeong..”. Dan Minhyuk menatap kepergian anak itu dengan wajah tersenyum. “Min-ah.. Akan ku ingat nama itu.”

Flashback end.

 

Epilog

“Kau tak pernah bilang kau sudah jauh mengenalku sebelum itu.”

“Itu kan rahasia. Yang penting sekarang aku sudah menemukanmu kan? Semua sudah merestuiku. Yonghwa hyung, Jonghyun hyung, Jikyo. Bagamaina denganmu sendiri?”

“Selamat.. Anda beruntung..”

“Yesss!! Apa itu benar?? Kita pacaran?? YEEEEEEEEESSSSSS..!!!”

“KANG MINHYUK, TURUNKAN AKU!!!”

 

 

*END*

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

26 thoughts on “[LombaFF] It’s Heartquake Is Not Over

  1. Suka!!
    Ceritamu bagus dek.. baru tau kamu cukup berbakat nulis cerita meski kakak sedikit ngga paham istilah korea..😀
    Smoga menang dek🙂
    Semangat!!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s