[LombaFF] Last Serenade

Rating   : General

Genre   : Romance

Cast       : Ahn Minji (OC), Kang Minhyuk, other CN Blue member

Note      : This is the best I can do, mudah-mudahan bisa diikutin buat lomba ff nya deh. Semoga readers suka dan maaf kalo banyak typo dan berbagai jenis kesalahan lainnya. Diharapkan LIKE nya ya ^^ eh iya, satu lagi, yang dimiringin itu artinya flashback ya….

 

 

 

“Minhyuk-ah, kau mau kemana?” tanya Yonghwa pada Minhyuk sambil menatap heran Minhyuk yang sedang sibuk memasukkan beberapa barangnya ke dalam sebuah ransel besar.

“Aku mau pulang, Hyung. Ke Ilsan,” jawab Minhyuk bersemangat.

“Tapi sekarang sudah malam, lagipula kau tidak mau bersama kami malam ini, kau ingat hari ini anniv ke dua CNBlue kan?”

“Aku sudah menghabiskan seharian penuh dengan kalian, Hyung. Aku ingin merayakan hari ini dengan beberapa orang lain yang turut membantuku hingga bisa seperti sekarang.” Senyum lebar tak henti-hentinya tersungging di bibir Minhyuk.

Tiba-tiba Jungshin ikut membuka mulutnya. “Aigoo, jangan bilang kau mau menemui orang itu, Minhyuk-ah. Benar-benar romantis, tengah malam menemui sang kekasih hati untuk berterima kasih karena sudah mendukungmu selama ini. Ah, so sweet….”

Minhyuk memandang Jungshin dengan wajah memerah. Yah, mau tidak mau ia harus mengakui kalau salah satu alasan kepulangannya ke Ilsan yang mendadak kali ini memang seperti yang disebutkan Jungshin tadi.

Usai berpamitan dengan seluruh penghuni dorm, Minhyuk turun ke lobby dan mencari taksi untuk membawanya ke stasiun MRT dan memesan tiket kereta ke Ilsan.

***

Dengan terpaksa Minhyuk mengeluarkan uang 7.000 won dari dalam dompetnya dan masuk ke dalam Jjimjilbang segera setelah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian yang disediakan sauna tersebut. Ia duduk di salah satu sudut dan kembali melihat buku rapor nya, pikirannya kembali tertuju pada nilai-nilai di buku tersebut, nilai rata-rata nya turun dan itu membuatnya enggan pulang ke rumah. Ia tahu orangtuanya pasti kecewa mengetahui hal tersebut.

Tak lama, ia merasakan perutnya mulai berontak minta diisi, sudah hampir 6 jam berlalu sejak ia makan siang di sekolah tadi. Dengan malas ia bangkit dan berjalan ke tempat penjualan makanan kecil di Jjimjilbang tempatnya berdiam sekarang, membeli beberapa telur rebus dan air mineral. Sambil menunggu si penjual memberikan pesanannya, ia melihat sebuah mobil mewah berhenti di depannya dan turunlah seorang wanita separuh baya dengan seorang gadis yang kira-kira seumuran dengannya. Gadis itu menatapnya sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum akhirnya kembali berjalan mengikuti ibunya masuk ke dalam ruang ganti.

“Semuanya 3000 won,” ucap si penjual mengagetkan Minhyuk.

Buru-buru ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seribu won dan kembali masuk berusaha mencari gadis tadi, entahlah, hanya saja, ia merasa penasaran dengan gadis tersebut.

“Aigooo, Minhyuk baboya, tempat pria dan wanita kan dipisah disini, tidak mungkin kau bisa menemukannya,” ujar Minhyuk pelan sambil menepuk kepalanya. Ia memutuskan untuk kembali ke tempat penjualan makanan kecil tadi dan mencari apa ada lagi makanan yang bisa dibelinya.

Baru saja ia masuk, ia mendapati kalau gadis itu juga sedang membeli makanan disana. Minhyuk berdeham pelan, mencoba menarik perhatian gadis tersebut. Sayang tidak ada respon, gadis itu terus saja sibuk memilih makanan dan minuman.

“Ehem…” Kali ini Minhyuk sedikit menaikkan suaranya.

Gadis itu menoleh dan melirik Minhyuk sekilas.

Minhyuk tersenyum memamerkan eye smile nya.

Bukannya menyapa atau sekadar balik tersenyum, gadis itu malah kembali menghadap counter di hadapannya dan berbicara pada penjual makanan tersebut. Saat itulah Minhyuk menyadari sepasang headset menyumbat kedua telinga gadis tersebut, pantas saja gadis itu memilih mengabaikannya dari awal.

‘Astaga, pantas saja ia diam terus daritadi,’ rutuk Minhyuk dalam hati. Tiba-tiba ia mendengar gumaman samar yang keluar dari bibir gadis tersebut.

“I don’t mind spending everyday

Out on your corner in the pouring rain, oh

Look for the girl with the broken smile

Ask her if she wants to stay awhile

And she will be loved

And she will be loved “

“AH, KAU SUKA MAROON5 JUGA?” seru Minhyuk tanpa sadar sambil menepuk bahu gadis tersebut.

“KYAAA…” Karena terkejut, gadis itu malah berteriak keras sambil menatap Minhyuk ketakutan.

“Pssst, mian mian mian, aku tidak bermaksud mengagetkanmu,” ucap Minhyuk sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali.

“Nuguya?”

“Ah, Kang Minhyuk imnida.”

“Ahn Minji imnida. Kau kabur dari rumah?” tanya gadis itu langsung.

Minhyuk hanya dapat mengangguk lemah.

“Wae? Nilai rapor mu merah semua, eo?”

“Ani.. Tidak sampai merah semua juga sih, cuma yah, buruk saja lah, tidak mungkin aku bisa jadi pengacara seperti cita-citaku dengan nilai raporku sekarang.” Minhyuk mengangkat sedikit sudut bibirnya.

Tiba-tiba gadis itu menepuk pundak Minhyuk. “Coba kulihat!”

“Ne?”

“Aku malas menemani Eomma di dalam, lebih baik mengobrol denganmu saja disini. Sudah cepat berikan rapormu, biar kita bahas disini.”

“Hmmm, geurae. Tunggu sebentar disini, arra?”

Minji hanya mengangguk singkat.

Tak lama, Minhyuk kembali dengan membawa rapornya. “Ini dia.”

“Omonaaa, kau bilang rapormu jelek? Hampir semua nilaimu 8 Minhyuk-ssi! Kau bercanda ya? Untuk apa kau kabur? Dengan nilai sebesar itu, aku yakin 2 tahun lagi kau bisa masuk fakultas hukum Seoul University,” ucap Minji panjang lebar.

Minhyuk hanya dapat membelalakkan matanya. “Jinjja?”

“Lebih baik kau pulang sekarang. Cih, konyol, nilai begitu kau bilang jelek.”

Minhyuk hanya dapat manggut-manggut mendengarnya. “Ngomong-ngomong, kau kelas berapa? Sekolah dimana?”

“Aku masih kelas 10, sekolah khusus putri Ilsan,” jawab Minji singkat. “Kau?”

“Ilsan Senior High School,” balas Minhyuk. “Baiklah, Minji-ssi. Sepertinya kau memang benar. Aku harus pulang sekarang. Kecemasanku tadi terlalu konyol, Eomma pasti sudah pusing mencariku sekarang. Annyeong!!!”

***

Wajah kusut Minhyuk langsung berubah menjadi segar begitu ia sampai di depan pagar sebuah rumah sederhana dengan cat putih dengan mobil tua milik ayahnya yang terpajang di garasi rumah tersebut. Tiba-tiba ia melirik jendela rumah yang terletak persis di samping rumahnya. Lampu kamar yang masih menyala menandakan si empunya kamar kemungkinan besar masih terjaga. Seketika itu juga seraut wajah polos dengan kacamata tebal yang selalu menggantung di hidung peseknya terlintas di pikiran Minhyuk. Ia merindukan gadis itu. Sedetik kemudian, ekspresinya berubah. Sosok perempuan lain yang amat disayanginya keluar dari pintu rumah dan tersenyum hangat. Pancaran mata perempuan setengah baya yang tadinya sayu menahan kantuk itu menjadi berbinar begitu melihat putra kesayangannya.

“Minhyuk-ah? Omonaaa, neomu bogoshippo! Masuklah, kebetulan Eomma baru saja memasak Kimchi Jiggae untuk makan malam tadi dan masih bersisa. Biar Eomma hangatkan untukmu, eo?”

***

“Menurutmu bagaimana, Minji-ya?”

“Kau masih bingung menentukan cita-citamu, eo? Bingung antara menjadi pemain baseball atau pengacara? Konyol!”

“Aish, aku tidak butuh ejekanmu. Jadi menurutmu bagaimana?”

“Terserahmu lah…”

“Tapi kau tahu, akhir-akhir ini aku mulai mempertimbangkan untuk jadi, hmmm, pemusik…”

“Pemusik? Yah, sebenarnya tidak ada yang salah juga sih. Aku masih ingat waktu pertama kali kau datang ke rumahku dan langsung memainkan piano yang biasanya hanya menjadi pajangan saja di ruang tamu, dan lagi, kemampuan bermain flute mu juga bisa dibilang bagus,” jawab Minji masih dengan tatapan mata yang terpaku pada buku biologi di tangannya.

Minhyuk terkejut mengetahui Minji masih bisa mengingat insiden piano di rumahnya. Ia memang refleks langsung berlari dan memainkan piano begitu masuk ke dalam rumah Minji. Grand piano putih yang entah berapa harganya itu menggoda jemari nya untuk segera menekan tuts-tuts piano tersebut.

“Memangnya kau mau menjadi apa? Pianis? Pemain flute professional?” tanya Minji dan melepaskan tatapannya dari buku biologi yang sedaritadi dibacanya sambil melemparkan senyum pada Minhyuk.

Minhyuk hanya bisa mengangkat bahu dan merebahkan tubuhnya di ranjang Minji. Sejak pertemuan itu, ditambah Minji yang kebetulan tidak lama setelahnya pindah ke rumah yang ada di samping rumahnya, mereka memang menjadi sahabat dekat. Sudah tak terhitung lagi banyaknya Minhyuk diperbolehkan orangtua Minji menginjakkan kaki di kamar putri tuan dan nyonya Ahn ini. “Drummer mungkin,” gumamnya pelan.

“Drummer?” tanya Minji dengan nada tidak percaya.

Minhyuk sudah bisa menebak reaksi itulah yang akan dikeluarkan Minji begitu ia mengatakan keinginannya. Ia memang tidak bisa bermain drum, hanya saja sejak melihat salah seorang temannya menunjukkan kemampuan bermain drumnya siang tadi, Minhyuk mulai tertarik musik yang satu itu. Ia hanya menjawab pertanyaan Minji dengan anggukan tegas.

Tiba-tiba Minji menunjukkan senyum termanisnya.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Minhyuk.

Minji ikut melemparkan tubuhnya ke ranjang. “Yah, kenapa tidak? Aku yakin kau bisa.”

***

“Kau mau kemana, Minhyuk-ah?” tanya Ny.Kang pada putra nya tersebut.

Minhyuk hanya melemparkan senyum kecil.

“Aaah, mau menemui Minji, ya? Akhir-akhir ini ia sibuk sekali mengerjakan tugas akhir kuliahnya”.

“Haruskah aku menyemangatinya?”

“Omona, Minhyuk-ah. Kenapa kau masih menanyakan hal itu?”

Senyum lebar mulai menghiasi wajah Minhyuk.

Begitu selesai mencuci piring terakhir, Ny. Kang mengambil tempat di samping Minhyuk. “Ayolah, Minhyuk-ah…”

“Eomma tahu aku tidak bisa berkutik di depan gadis yang satu itu kan? Semua kata-kata yang kusiapkan selalu hilang setiap bertatap muka dengannya.”

“Lalu untuk apa kau tengah malam datang dari Seoul, menemuinya, dan tetap tidak bisa juga menjadikan gadis itu kekasihmu?”

“Tapi aku belum menemukan saat yang tepat, Eomma. Lagipula Minji benci hal romantis, jadi aku bingung harus bagaimana.”

Ny.Kang menarik napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar setiap jawaban Minhyuk.

Minhyuk hanya bisa meringis. Tidak biasanya Eomma nya ini berbicara panjang lebar, terlebih lagi mengenai urusan cintanya.

“Aku mau jalan-jalan ke luar dulu ya, Eomma. Tidak usah menungguku, biarkan saja pintu belakang tidak terkunci. Annyeong!!”

***

Usai berpamitan dengan seluruh anggota keluarganya, Minhyuk berjalan dengan santai melewati koridor bandara Incheon sebelum matanya menangkap sesosok gadis yang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang dengan tatapan tajam yang mengarah tepat ke arahnya.

Gadis itu lalu melangkahkan kakinya, memperkecil jarak antara mereka.

Minhyuk tersenyum kecil sambil tetap diam di tempatnya, menunggu gadis itu berada pada jarak yang bisa dibilang cukup dekat dan nyaman untuk mengadakan pembicaraan.

Gadis itu hanya diam begitu ia sampai tepat 5 langkah di hadapan Minhyuk. Ia membetulkan letak kacamata supertebalnya dan menarik napas seakan sedang bersiap untuk mengatakan sesuatu.

Gemas melihat tingkah Minji, tanpa pikir panjang Minhyuk langsung menarik gadis itu pelukannya.

Gerakan Minji langsung terhenti. Sendi-sendinya seakan kaku tak dapat digerakkan.

“Pesawatku sebentar lagi berangkat. Ada apa, Minji-ya?”

“Kang Minhyuk babo!”

“Ya! Apa maksudmu?” tanya Minhyuk sambil menjitak kepala Minji pelan.

Minji melepaskan pelukan Minhyuk. “Kau mau pergi begitu saja tanpa berpamitan denganku hah?”

“Kau sendiri yang selalu sibuk berkutat dengan buku-buku tebal kesayanganmu itu. Lagipula aku tidak mau mengganggu calon dokter kita ini,” ucap Minhyuk sambil mengacak rambut Minji.

Minji menepuk bahu Minhyuk. “Kalau untuk sahabatku sendiri mana mungkin aku abaikan!!! Kau baik-baiklah di Jepang sana! Kalau band mu sudah terkenal jangan lupakan aku, arra?”

Sahabat, yah, hanya sebatas itulah Minji menganggap Minhyuk, membuat Minhyuk tersenyum miris. Ia mengangguk lemah lalu mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Aku harus berangkat, Minji-ya. Sampai jumpa lagi, eo? Annyeong!!”

***

Minhyuk mendongak menatap jendela kamar Minji yang terletak di lantai dua. Samar-samar, ia bisa melihat siluet gadis itu yang sedang sibuk membolak-balik halaman buku yang kelihatannya cukup tebal. Belum lagi beberapa buku yang membuat tumpukan tinggi di salah satu sisi meja belajarnya.

“Aigoo, sudah jam berapa ini, kenapa gadis itu belum tidur juga, ckckckck,” gumam Minhyuk sambil mengulum senyum.

Ia lalu mengambil kerikil kecil dan melemparkannya ke jendela kamar Minji berharap bisa membuat gadis itu membuka jendela dan turun ke bawah menemuinya.

Gagal, gadis itu masih saja tetap pada posisi nya semula.

“Minji-ya! Ini aku, Minhyuk!” seru Minhyuk pelan sambil kembali melempari kaca jendela Minji dengan kerikil kecil.

Kali ini terlihat siluet tubuh Minji yang menegak. Sepertinya ia mendengar seruan Minhyuk. Gadis itu lalu memundurkan kursi nya dan bangkit sambil berjalan menuju jendela kamarnya.

“Ya! Minhyuk-ah! Sedang apa kau disitu?” seru Minji sambil mengucek kedua matanya sipitnya, seakan belum percaya dengan penglihatannya sendiri.

“Aku kesini hanya untuk…mmmm, berlibur. Mau berjalan-jalan sebentar?” tanya Minhyuk pelan.

“Ckckck, kau datang dan melempari jendelaku di tengah malam lalu mengajak jalan-jalan? Keterlaluan! Tunggu sebentar!”

***

“Yobseyo, Minji-ya?” panggil Minhyuk lemah sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Sebelah tangannya sedang memegang telpon tetangganya, menerima telpon dari Minji.

“MINHYUK-AHHHH!!!!”

Minhyuk segera menjauhkan telpon di genggamannya dan tersenyum kegelian mendengar ‘serangan’ mendadak dari Minji. Begitu yakin gadis itu sudah menyelesaikan serangannya, ia kembali menempelkan telpon ke telinganya dan mendengar Minji yang sedang tertawa puas di seberang sana.

“Pssst, diamlah. Kapan kau mau bicara kalau tertawa terus, ingat aku memakai telpon tetanggaku, tidak enak kalau lama-lama meminjamnya.”

“Arra arra, bagaimana alarm ku? Ampuh? Kau sudah bangun sepenuhnya? Siap berkelana ke sekeliling Jepang mengenalkan musik band mu?” tanya Minji sambil sekuat tenaga menahan tawa.

“Hmmm, mollayo, aku sudah terlalu lelah. Bahkan aku tidak benar-benar yakin band ku bisa terkenal nantinya. Kehidupan kami disini, kau tahu sendiri, amat mengenaskan.”

“Ya! Sejak kapan kau gampang menyerah begitu, Minhyuk-ah? Pokoknya kau tidak boleh putus asa, terus berjuang arra? Aja aja, Hwaiting!”

Minhyuk tersenyum kecil mendengar ceramah singkat Minji. “Ne, hwaiting!”

“Nah, begitu dong. Ah, sayang sekali, ada yang harus kukerjakan. Aku akan menelepon lagi nanti, arra? Annyeong!”

“Annyeong!”

Begitu menutup telepon dari Minji, senyum Minhyuk mengembang. Yang ia tahu sekarang ia harus bekerja keras dengan band nya agar bisa kembali ke Korea secepatnya dan menemui gadis itu, Ia amat merindukan senyum polos Minji.

***

Senyum Minji mengembang begitu menutup pintu rumah dan melihat siapa yang ada di hadapannya. “Kapan kau sampai?”

Raut wajah Minji benar-benar polos, membuat Minhyuk tidak tahan untuk segera memeluk gadis itu.

Seketika itu juga ekspresi wajah Minji berubah, sorot matanya menunjukkan kebingungan yang amat sangat mendapati perilaku Minhyuk yang terlalu tiba-tiba.

“Ya! Kenapa kau memelukku sembarangan! Lepaskan!! Aku tidak bisa bernapas, Minhyuk-ah!”

Minhyuk hanya meringis sambil menggaruk tengkuknya.

“Omonaaa, aku tidak percaya bisa melihat Minhyuk CNBlue dengan mata kepalaku sendiri, hahaha,” goda Minji. “Aish, neomu bogoshippo, Minhyuk-ah!”

“Nado,” jawab Minhyuk singkat.

“Ah iya, untung kau datang, aku jadi bisa memberikanmu ini,” ucap Minji sambil menyerahkan sesuatu pada Minhyuk.

“Apa ini?”

“Menurutmu apa?”

“Seperti undangan pernikahan.” Minhyuk mengerutkan keningnya.

“Kau akan datang,kan?”

Mata Minhyuk melebar seketika. “Kau akan menikah? Dengan siapa?”

“Teman kuliahku, kau tidak akan kenal.”

“Kenapa begitu tiba-tiba?” tanya Minhyuk dengan tatapan mata yang terpaku pada kedua bola mata Minji.

“Tidak tiba-tiba juga sih. Aku sudah lama berpacaran dengannya, kok,” jawab Minji sambil menatap Minhyuk heran. “Jadi, kau akan datang?”

Minhyuk hanya dapat tersenyum pahit. Sudah ia duga kalau gadis yang disampingnya kini memang tidak pernah punya perasaan lebih terhadapnya. Ahn Minji memang menganggapnya sahabat saja, tidak lebih.

Tiba-tiba Minji memeluk tubuh Minhyuk. “Kau tahu, Minhyuk-ah, dulu… aku sempat suka padamu,” gumamnya di dada Minhyuk.

“Eh?” tanya Minhyuk tidak percaya.

Minji menganggukkan kepalanya. “Cukup lama sebenarnya, sebelum akhirnya aku sadar kalau aku tidak akan mungkin bisa bersanding dengan seorang Kang Minhyuk. Ahn Minji yang buruk rupa, seorang gadis yang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan gadis-gadis yang selalu ada di sekelilingmu. Untung saja aku akhirnya bertemu dengan pria yang sekarang menjadi calon suamiku itu, kalau tidak, aku yakin akan terus bermimpi bisa bersama denganmu.”

“Hahahaha…” Minhyuk tertawa miris. “Ini lucu, Minji, aku juga suka padamu,” bisiknya pelan.

Minji refleks langsung melepaskan pelukannya. “Jinjja? Kau tidak sedang bercanda kan?”

Minhyuk kembali menarik Minji ke pelukannya. “Hmmm, lucu kan?”

“Kalau begitu andai saja kita saling jujur dulu. Mungkin tidak akan begini ceritanya,” ucap Minji sambil terkekeh.

Minji menjauhkan tubuhnya. “Ah, lucu sekali. Dulu kita sama-sama saling menyukai tapi tidak berani jujur, mirip drama murahan saja ya, remaja sekali pula. Ah iya, bagaimana, kau sudah punya pacar belum? Aku saja sudah mau menikah, masa’ kau belum punya pasangan juga. Jangan seperti artis lain yang terus melajang sampai tua!”

Minhyuk hanya dapat tersenyum lemah. ‘Masalahnya aku menyukaimu sampai sekarang, Minji-ya. Bukan hanya ‘dulu’ tapi sampai ‘sekarang’. Jadi, bagaimana aku bisa mendapatkan gadis lain kalau aku hanya menginginkanmu?’

 

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

5 thoughts on “[LombaFF] Last Serenade

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s