[LombaFF] Last Winter

Rating : PG-15

Length : oneshot

Genre : Romance, Angst

Cast :   – Shin Soe Ri ( Ocs )

– Lee Jong Hyun

– Kang Min Hyuk

– Jung Yong Hwa

Other cast :    – Lee Jung Shin

-Min Eun Ji ( Ocs )

Disclaimer : Cn blue characters is belong to god and all of BOICE, J . Shin Soe Ri, Min Eun Ji, and the story is mine.

Note : nyoba ikutan siapa tau beruntung dapet First Step. *amiiinnn. Makasih yah udah mau baca ff ku. Jangan lupa ikutan ngeVOTE  kalo suka. Gampang kok, kalo baca di wordpress cukup post comment LIKE. Kalo baca di facebook cukup klik jempolnya aja. LIKE THIS yooo.. J

 

Enjoy it!!!      

 

Shin Soe Ri POV

Malam ini, salju turun perlahan. Mengakhiri tahun penuh kenangan. Mengakhiri bulan penuh kesakitan ini. Aku hanya diam, duduk diatas kasur memeluk tungkaiku erat. Erat sekali. Berharap sedikit kehangatan membelai tubuhku. Pandanganku menerawang keluar kaca besar tepat 2 meter dari samping ranjangku. Kaca, yang mungkin lebih tepat disebut pintu menuju balkon kecil flatku ini, mulai tertutup tirai-tirai embun salju. Kerlap-kerlip lampu dibarengi dengan guyuran salju mengheningkan Seoul malam ini.

Kusapu poni yang mulai nakal menutupi pandanganku, ketika ku sadari handphoneku berdering disampingku.

“ yobosseyo?.” Jawabku lirih. tak tau siapa yang menelfonku, aku mengangkatnya tanpa ku lihat dulu, dan aku memang tak mau tahu.

“ kau dimana? “ tanpa ku lihatpun kini aku tahu siapa yang menelfonku.

“ flat, “ jawabku malas. kenapa kau tak pernah mengerti? aku tak butuh siapapun kini, termasuk kau jonghyun. rutuku dalam hati.

“ aku dicafe, menikmati pergantian taun bersama yang lain.” Terserah apa katamu.aku hanya diam, menerawang langit malam yang berhias salju.

“ kau butuh seseorang? Aku bisa datang untukmu sekarang. “ lanjutnya lagi.

“ aku ingin sendiri. “ jawabku singkat.

Baru sedikit ku jauhkan posel dari telingaku bermaksud mengakhiri percakapan ini begitu saja, ia berseru lagi dari ujung sana. Membuatku terpaksa menempelkan benda ini lagi.

“ telfon aku, jika kau butuh seseorang.“ dasar jonghyun babo, aku tersenyum sinis. Aku tak butuh seseorang, aku merindukan seseorang.

Kini aku beralih pada pintu kaca menuju balkon. Embun salju pada kaca mulai menutupi pandanganku. Ku lap kaca yang sejajar dengan wajahku, hingga aku dapat melihat kerlap-kerlip lampu seoul lebih jelas. Jemariku bermain, tak sadar menuliskan satu demi satu huruf hangul. “ YONG OPPA”, damn! Apa yang ku tulis? Kau lihat kan Jong Hyun, aku merindukan seseorang bukan membutuhkan seseorang.

Geuriwo? Ne, aku memang merindukanmu yong oppa, tak sadar air mata ini ikut turun. Menemani kerinduan ini dan kenangan yang tak kunjung menguap.

Flash back POV

Suasana cafe tempatku bekerja paruh waktu sedikit sepi. Hanya beberapa pengunjung yang menempati bangku didekat kaca besar, menikmati keindahan salju diawal Desember ini. tinggal sendiri dan jauh dari orang tua yang memilih tinggal di kampung halaman ayahku di Indonesia, membuatku terbiasa hidup mandiri seperti ini. Aku dan Min Eun Ji, teman satu kampus yang sama-sama bekerja paruh waktu disini, mempersiapkan pernak-penik natal dibeberapa sudut cafe. Natal memang tinggal 23 hari lagi, bahkan tuan kim pemilik toko buah langgananku di sebelah cafe ini sudah menyulap tokonya dengan penak-pernik hijau, merah, dan putih jauh-jauh hari. Menarik pelanggan katanya.

Kini susah payah kupasang pernak-pernik ini didepan pintu masuk yang lumayan tinggi ini. Tanganku terulur tak sampai. Kakiku bertumpu pada kursi kayu kecil. Eun Ji menjaga keseimbanganku, memegangi kursi pijakanku.

“ ya, Eun Ji, kau mau aku jatuh. “ ku lirik eun ji yang tak lagi serius memegangi kursiku. Matanya terpaku begitu antusias mengamati sesuatu dari balik badanku.

“ Eun Ji. “ dia masih diam, tersenyum sendiri.

“ cepat turun. Ada tamu spesial. “ katanya mengguncang tubuhku. Matanya masih lekat mengamati sesuatu diluar pintu masuk.

“ anneyounghaseyo, hwangyong hamnida.”sapaku sembari membungkukan badan. Aku langsung turun, memaknai perkataan eun ji. Memang benar ada seseorang memasuki caffe.

“ Yong Hwa-ssi?” kata ku setengah berteriak menyadari siapa yang ada dihadapanku. Jung Yong hwa, namja populer dikampusku. Dia sunbae di klub musik yang aku ikuti. Belakangan ini dia lumayan dekat denganku. Alhasil aku sering menjadi incaran para pengagumnya. Tatapan sinis mereka sudah menjadi makanan pokok untukku. Padahal kami hanya berteman, bagaimana kalo sampai aku jadi yeoja chingunya.

“ ahh benarkan ada tamu spesial. “bisik eun ji disampingku. “ dia tampan sekali yah. “ matanya tak lekat mengamati yong hwa yang masih berdiri didepan kami.

“ Hm, aku tamu disini cepat layani aku. “ katanya yang langsung memilih duduk dimeja yang dikhususkan untuk dua orang didekat jendela kaca besar, tak jauh dari sini.

“ aku sibuk sekarang. Eun ji kau bisa melayaninya kan? “ kataku. Eun ji mengangguk setuju. Matanya berbinar, dia sungguh antusias.

“ yaa, aku ingin kau yang melayaniku, pembeli adalah raja bukan. “ katanya setengah berteriak, membuat seisi caffe beralih mengamati kami.

“ miahae.” Aku menundukan kepala meminta maaf kepada pengunjuung yang mungkin terganggu karena ulahnya. Dia hanya diam seolah tak ada yang terjadi, membiarkanku didera perasaan malu ini sendiri. Haa, dasar. Aku terpaksa mendekatinya. Eun ji menghentakan kakinya. Bibirnya ditekuk kecewa. Memilih melayani pengunjung lain. Haha, eun ji, eun ji.

“ ne, tuan jung. Silahkan pesanan anda.”  Aku tersenyum masam.

Ia kini mengamatiku dari kaki sampai keubun-ubunku. Ya, apa yang dia lihat. Kututupi dadaku dengan bulu untuk pernak pernik natal yang masih ku genggam. “ kau kenapa? Aku tidak nafsu melihatmu. “ apa katanya? “ aku mau jalan denganmu.” Ucapnya begitu saja. Ucapanya lebih mirip perintah dari pada sebuah ajakan.

“ mwo? Sekarang?” aku terkejut, apa katanya? Aku memang sangat menantikan saat-saat seperti ini, tapi kenapa disaat-saat seperti ini?

“ ne, kapan lagi?” katanya yang langsung menyambar tanganku dan menariknya kearah pintu.

“ yaaa, aku sedang bekerja sekarang. Kau tak boleh seenaknya.” Aku berusaha melepaskan genggamannya.

“ itu urusanku.” katanya tanpa melepaskan genggaman ini.

“ mwo?”

******

“ Minumlah, cuaca sore ini cukup dingin.” katanya sembari memberiku segelas cappucino panas.

“ bagaimana kalo managerku sampai tahu aku keluar disaat jam kerja? Haaa, aku bisa bayangkan bagaimana nenek sihir itu memaraihku.” Aku jengkel, ku tekuk bibirku. seenaknya saja dia.

“ kau lebih cantik seperti itu.” Ia memandangku sekilas dengan senyum penuh arti kemudian beralih menenggak cappucinonya lagi.

“ mwo? bisa-bisanya kau bicara seperti itu di saat seperti ini. Aigoo!! Dia bisa memecatku. Eotteoke?” Aku beralih memelototinya yang masih asik dengan cappucino ditangannya.

“ ini lebih cantik lagi.” Katanya yang tanpa permisi menyapu bibirku singkat. Aku terpaku, degup jantungku dapat kurasakan, walau hanya sebuah ciuman singkat, sangat singkat malah. Hidupku serasa berhenti, kini otaku hanya dipenuhi kejadian ini. ciuman singkatnya.

Dia berjalan menjauh meninggalkanku yang masih terpaku, “ kau..” aku menggerutu, berusaha mengejarnya dengan perasaan terkejutku, bahakan cappucino ini hampir terlepas dari genggamanku.

“ yong hwa-ssi tunggu aku.” Aku berlari mendekatinya yang terus saja berjalan didepanku.

“ yaa, kenapa kau memangilku seperti itu? Bukankah kita sudah lama saling kenal?” diapun menghentikan langkahnya dan beralih mengamatiku yang berlari tergopoh-gopoh kearahnya.

“ hahah, padahal kakimu pendek tapi kau berjalan begitu cepat.” Kataku ketika aku berhasil mensejajarinya. “ tapi kita belum lama saling dekat bukan?”

Ia lingkarkan tangannya dipinggangku dan menarik tubuhku merapat kearahnya. “ sekarang sudah dekat kan?”

“ kau ini.” ku tarik tubuhku menjauh “ lalu aku harus memanggilmu apa? Yong hwa chingu?”

“ mwo? Jelek sekali. Bagaimana dengan oppa?” usulnya

“ oppa? Memang aku yeoja chingumu.”

“ memang harus menjadi yeoja chingu baru boleh memangil oppa?”

Aku berfikri sejenak, memang benar, tapi menurutku  itu terlalu sepesial. “ aniya,,” kataku akhirnya.

“ kau panggil aku oppa.” Katanya yang lagi-lagi meninggalkanku yang terpaku.

“ yaa, yong oppa tunggu aku.” Aku berlari kearahnya dan dia pun tersenyum kearahku.

******

Benar dugaanku, nenek sihir itu telah menungguku dipintu cafe. Pasti dia sudah menyadari aku tak lagi berada dicafe. Ia berkacak pinggang dan melotot ketika melihatku dan yong hwa berjalan mendekati cafe.

“ oh, jadi kau pergi meninggalkan pekerjaanmu demi seorang namja? Apa dia namja chingumu miss shin?” dia beralih mengamati yong hwa, aku muak, ada ketertarikan ditatapanya. Kenapa aku harus muak? Apa aku cemburu? Lupakan. Dasar nenek sihir genit.

“ aniya. . .” belum sempat ku selesaikan kalimatku yong hwa menyela berusaha membujuk wanita ini.

“ ne, kami hanya jalan-jalan sebentar.” Kini yong hwa beralih menatap wanita ini lekat-lekat, menampilkan senyum memikatnya. Ahh, aku mulai tau apa yang dipikirkannya.

“ ah, apa kau berusaha membujuku untuk memaafkanya? Hahah, siapa namamu?” kata nenek sihir ini yang kini mulai mendekati yong hwa dengan genitnya.

“ jung yong hwa, “ katanya sembari membungkukan badannya pada wanita ini.

“ ah, yong hwa-ssi mari kita bicarakan ini didalam. Kita bisa minum segelas kopi hangat bukan? “ wanita ini menggandeng lengannya, dan berusaha menambawanya masuk kedalam cafe.

“ ne, “ yonghwa turuti kemauwan wanita ini, mengikutinya kedalam cafe. Kulihat ia mengerlingkan sebelah matanya kearahku.ah aku tau maksudnya. Aku hanya tersenyum dan mengekori meraka.

Flash back end

Tak terasa senyum tersungging dibibirku, mengingat semua kenangan manisku dengannya. Walaupun kenangan-kenangan manis ini selalu membuatku tersenyum, ada saja perasaan nyeri yang menggerogot, kadang aku tak kuat hingga air mata tak sanggup ku bendung lagi. Sepeti malam sunyi ini, dan semuanya kembali berkelebat.

Flash back POV

Aku mencari bahan makanan yang masih tersisa dikulkasku, sudah 2 minggu aku tak berbelanja, aku pikir aku masih memiliki cukup bahan makanan untuk beberapa hari karena belakangan ini aku begitu sering makan diluar dengan Yong oppa.

perutku tak juga berkompromi.“ cacing-cacingku sabarlah sebentar.” Aku masih berusaha mencari apa saja yang tersisa dikulkas yang kini terlihat begitu longgar.

Bel flatku berbunyi, ah siapa yang bertamu disaat seperti ini. Rutukku yanag tergopoh-gopoh menekan monitor yang tergantung didinding dekat pintu masuk. Aku terkejut menyadari siapa yang ada di monitor ini, aku langsung membuka pintu seolah lupa dengana rasa lapar ini.

“ yong oppa?!” pekikku, persis seperti bayi yang mendapatkan susu kesukaannya. dia sudah berdiri didepan pintu dengan kotak karton ditanganya.

” wae?  Kau seperti melihat monster. ” ucapnya yang membuatku terkekeh.

” kau bawa apa? ” ku amati kotak karton  itu. Lumayan besar.

” kue beras.” Katanya yang begitu saja meletakan kotak itu ditanganku. Ku tangkap kotak ini dengan terkejut.

” kue beras? ” aku masih bingung. Bukankah kue beras hanya diberikan pada acara-acara tertentu.

” ne, bukankah wajar tetangga baru memberikan kue beras pada tetangganya.”

” mwo? Tetangga baru? ” apa maksudnya? Aku sungguh tidak mengerti arah pembicaraannya. Tetangga?

” ne, itu flatku. Tepat disebelahmu. ” tangannya terulur menunjuk pintu tepat disebelah pintuku.

” kau pindah sendiri? ” aku bingung, kenapa dia memilih pindah keflat kecil seperti ini.

” mana mungkin, dengan yang lain tentunya. ”

” flat disini kan sempit, terlalu kecil untuk ditinggali berempat. Kenapa kau tidak memilih flat diseberang sana. Bukankah lebih luas? ” aku masih tidak mempercayainya. Tidak masuk akal. mereka semua kaya bukan hal sulit untuk menyewa flat besar, apartemen mewah sekalipun mereka masih kelebihan uang.

” haa, dasar yeoja babo. “ tangannya menjitak kepalaku keras.

“ yaa, apa yang salah dengan pertanyaanku? ” ku usap kepalaku.

“ Tentu saja karena aku ingin dekat denganmu. ”

” mwo? ” aku menatapnya penuh tanya. Sungguh konyol.

Yong oppa mendekatkan mukanya padaku. Aku mundur selangkah. Tunggu dulu, apa yang akan dia lakukan.Mukaku memanas, pasti pipiku sudah berubah kemerahan. Kini kami sungguh benar-benar dekat. Ku tutup mataku membiarkannya melakukan apa yang ia mau.

Lumayan lama ku rasakan tak ada perubahan yang terjadi, ia tak melakukan apapun padaku. Kubuka sebelah mataku mencoba melihat apa yang terjadi.

” flatmu rapih juga. ” katanya yang beralih mengamati isi flatku dari kepalanya yang menjulur dari sisi kepalaku.

” mwo? ” dasar namja babo. Haaaa.. rutuku dalam hati.

Ku masuk dan ku tutup pintu begitu saja. Meninggalkanya dibalik pintu tanpa memberi salam.

” yaa, kau sungguh tidak sopan. ” masih ku dengar dia berteriak dibalik pintu.

Haaaa dasar, kenapa dia tidak bisa memahami yeoja. Ku hempaskan tubuhku pada kasur busa ku ini. Ku benamkan mukaku pada bantal. Aku sungguh malu. Ahhh, ku hentakan kakiku keras-keras. Eottoke?

Flash back end

Aku masih terpaku didepan pintu balkon ini, mengingat betapa babonya aku waktu itu. Jujur aku merasa bahagia saat itu, mengetahui alasan tak masuh akalnya pindah ke tempat seperti ini hanya karena aku. Benar, aku memang babo, membiarkan perasaan ini tak bertuan, membiarkan semuanya larut, dan masih mengharapkan balasan atas rasa yang samar.

Salju mulai enggan turun lagi, hanya udara yang menusuk yang masih setia membelenggu. Ku putuskan membuka pintu ini dan membiarkan langkahku bergerak menuju balkon. Entah apa yang tengah aku rasakan, udara malam masih mencekik aku hanya mengenakan trening panjang berpadu kaos lengan panjang yang berselimut sweter, dan sepasang kaos kaki. Tentu saja dingin akan segara menyeruak masuk ketubuhku.

Aku masih sama, diam. Dan meresapi keheningan darii kerlap kerlip lampu seoul yang tak kunjung padam. Ku alihkan pandanganku pada balkon sama persis di sebelah kanan balkon ini. Itu balkonnya balkon flatnya. Lagi-lagi air mata ini tak permisi menyapu pipiku.

Flash back POV

Tutup panci ini sudah mulai berderu dengan pancinya. Ku matikan kompor dan ku buka tutup panci ini.

“ hmmm, smell good. “ kataku puas dan mencicipi sedikit kuah kimchi jjigae yang ku buat ini. “waa, enaknya.” Aku tersenyum puas melihat hasil kerjaku yang tak sia-sia.

Aku bermaksud memberikan kimchi jjigae ini untuk mereka, yong oppa, jong hyun, min hyuk, dan jung shin tentunya. Besok natal mereka akan menghabiskan natal dirumah masing-masing, yong oppa dan jong hyun akan ke Busan. Meraka memberi tahuku semalam, hampir bersamaan malah.

Ku pencet bel flat tetanggaku ini.

” noona!” Minhyuk tersenyum lebar sembari membuka pintu lebih lebar. Dia pasti sudah melihatku di monitor. Yah, seperti biasanya dia selalu tersenyum lebar padaku, ramah padaku, dia selalu memanggilku noona katanya aku terlalu baik untuk sekedar dipanggil nama. Padahal menurutku karena aku dekat dengan hyungnya, yong hwa seperti alasan jung shin yang juga memanggilku noona. Dan, minhyuk juga selalu membuatku tersenyum.

” annyeong!! ” ku bungkukan badanku untuk memberi salam padanya.

Min hyuk ikut membungkuk membalas salamku. ” aku senang Sekali noona datang kemari. ”

” wah ada noona rupanya. ” kata jung shin yang muncul di belakang minhyuk.

” ne, ini ada kimchi jjigae untuk kalian. Buatanku sendiri. ” kataku mengulirkan mangkuk besar berisi kimchi jjigaeku tadi.

” waa, gomawo noona. ” jungshin langsung menyambar mangkok ditanganku dan membawanya masuk.

“ yaa, shin itu punyaku.” Kata min hyuk yang sama sekali tak digubris jung shin.

” noona, aku harus segera menyusul jungshin sebelum ssmuanya ludes dihabiskanya. Noona tau kan aku sangat ingin mencicipi kimchi jjigae buatan noona. Noona masuk saja. ” minhyuk langsung berlari mengejar jung shin yang sudah berlari lebih dulu. Ahh dasar mereka. Aku tersenyum sembari melepas sendal dan ku ganti dengan sendal rumah.

Aku terhenti, mengamati sepatu yang tergeletak di pintu masuk. Bukankah ini sepatu yeoja? Apakah ada yeoja dirumah ini? Pikiranku sudah mulai berkelebat tak menentu. Siapa? Ah, mungkin kekasih jong hyun. Aku berusaha menutupi kegelisahanku sendiri.

Ku langkahkan kakiku ragu memasuki ruang tamu kecil ini. Aku baru saja memasuki ruang tengah ketika seseorang mencegat tanganku dan menarikku kembali kepintu masuk. Didepan pintu aku berontak.

” lepaskan tanganku, ” aku bergeliat berusaha melepaskan cengkraman namja ini.

” kau mau apa? ” katanya sembari melepaskan cengkramannya kasar.

” kau kenapa? Aku hanya ingin menemui yong oppa. ” ada apa dengan jong hyun? Tidak biasanya ia seperti ini. dia namja yang lembut. Begitu lembut kepadaku malah.

” pulanglah! ” tatapannya tepat lurus dimataku. Tatapannya serius, ada ketulusan disitu. Tatapannya membuatku semakin memahami apa yang terjadi, pikiranku kembali berkelana. Sikapnya membuatku semakin yakin.

Aku berbalik memamtapkan kakiku untuk melakukan niatku yang tertunda.

” Soe Ri,” panggilnya lirih, yang sama sekali tak kuperdulikan.

Pasti dia ada dikamarnya, aku sudah mencarinya kesemua sudut ruangan. Hanya Jung shin dan min hyuk yang tengah asik menikmati kimchi jjigaeku diruang makan.

” noona, kimchi jjigaemu sungguh nikmat. Kenapa kau hanya membawa satu mangkuk? “ kata jung shin dengan mulut penuh kimchi. “ ck, ahh. Ini sungguh nikmat. “ aku hanya tersenyum melihat tingkahnya

“ noona. “ kata min hyuk yang mendekatiku.” Kau mencari hyung yah? “  kedua tangannya masuk ke dalam kantong depan jeansnya.

“ ne, dia ada didalam bukan?” kataku yang mencoba tersenyum menutupi kegelishan ini.

“ sudahlah, kau tidak usah mencarinya lagi. Aku pasti akan sangat bahagia kalau suatu hari nanti noona datang untuk mencariku, bukan hyung. “ aku hanya bisa tersenyum dan menunduk, sungguh aku tidak percaya dia yang mengatakan itu. Aku diam, tak tau harus menjawab apa.

“ ahh, sudahlah lupakan saja. “ katanya menutup pembicaraan dan memilih memasuki kamarnya. Yah, mungkin dia merasakan perbedaan ekspresiku.

Aku langsung menuju pintu kayu yang lumayan besar tak jauh dari tempatku. Sudah hampir lima kali aku mengetuk pintu, yong oppa tak kunjung membukanya. Apa dia tertidur.

“ noona masuk saja. “ kata jung shin yang sedari tadi mengamatiku dari meja makan. Aku mengangguk. ku buka pintu ini perlahan.

aku mulai  memasuki ruangan ini, masih hening. Ranjang ini kosong. Kemana yong oppa? Apa dikamar mandi? Pintu kamar mandi tak terkunci. Disini juga tidak ada. hanya balkon yang belum kusinggahi, balkon hanya dibatasi pintu kaca yang terbuka, aku sudah dapat melihat tak ada siapapun disana. Ku putuskan kembali saja, mungkin dia di tempat lain. Tanganku baru saja menyentuh engsel pintu ketika kudengar tawa seseorang. tawa yeoja. dari balkon. Kembali kuarahkan kakiku.

Kegelisahanku terbukti sudah, ku lihat tangan yong oppa melingkar pinggang seorang yeoja, tangan yeoja itu juga melingkari lereh yong hwa. Mereka berciuman disudut balkon yang sudah pasti tak akan terihat dari ranjang.

Tanganku gemetaran, sungguh aku tak percaya dengan apa yang kusaksikan. Kurasakan kakiku yang melemas, aku butuh pegangan, tanganku menguat pada pintu kaca ini.

“ Soe Ri?” yong hwa tampak terkejut dengan kehadiranku. Ia rapikan penampilannya, begitu pula yeoja itu yang tak kalah terkejutnya.

“ a aku hanya .. .” aku terbata, suaraku bergetar. “ aku hanya mengantarkan kimchi jjigae, benar, mungkin kau belum makan.” Sungguh aku tak tau harus bagaimana. Aku hanya bisa merasakan nafasku yang semakin berat.

“ oh, benarkah? Kenalkan dia tunanganku Park Tae Hyun.” Ia lingkarkan tangannya pada pinggang yeoja itu, dan menariknya mendekat. “ chagi, dia tetanggaku Soe Ri.” Apa katanya tetangga? Apa selama ini aku hanya dipandang seperti itu?

“ anyyeong, aku park tae hyun senang berkenalan denganmu. “ dia membungkukan badan. Ku balas menunduk dengan hati tak menentu.

“ Shin Soe Ri.” Ku sunggingkan seulas senyum tak ikhlasku ini. “ aku pergi dulu. “ ku balikan badanku, sesegera mungkin menghilang dari hadapannya.

Mataku memanas. Jadi selama ini aku tak berarti untuknya. Lalu apa tujuan dari semua perhatianya? Alasannya pindah ke flat ini? Ahh, terlalu sulit untuk mempercayai semuanya. Apa aku hanya dijadikan boneka yang dengan mudah ia mainkan. Terlalu banyak pertanyaan yang berkelebat diotaku.

Setengah berlari aku menuju pintu keluar. Air mata ini tak sanggup lagi ku bendung . syukurlah tak ada jong hyun, minhyuk, atau jung shin yang melihatku.

Kubalikan badanku setelah kututup pintu flat mereka ini, ketika jong hyun sudah berada dihadapanku. Pandangannya tajam, menusuk, mengamati bulir-bulir air mata yang membasahi pipiku. Aku tak acuh, melewatinya begitu saja. Tangannya menahan tanganku, begitu kuat. Menariku yang membuatku berada tepat di hadapanya.

“ kenapa kau begitu keras kepala?” katanya yang membuatku berpaling, tak sanggup menatap ketulusannya yang tak pernah ku hiraukan. Aku berusaha tetap diam, hanya isakan tangisku yang semakin memuncak.

Jong hyun mengangkat mukaku lembut, menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Matanya masih lekat memandangku, ada tatapan tak tega disitu, matanya pun mulai terlihat berkaca-kaca. Ku tundukan kepalaku, aku tak ingin dia seperti ini. Aku takut aku tidak bisa membalasnya. Namun isaku kini semakin menjadi. Dia mendekap tubuhku erat, ku tumpahkan semua air mataku dibahunya. Semuanya.

“ berhentilah menangisinya.” Dia melepas pelukanya. Kedua tangannya masih memegang bahuku. “ berhentilah menangisi orang yang tak pernah mencintaimu. Hentikan! Aku sakit melihatmu seperti ini. “ setengah berteriak kata itu terucap. Membuat air mataku semakin deras mengalir. Semakin sesak ku tarik nafasku, mataku pun semakin berat untuk sekedar ku buka.

******

Baru ku rasakan begitu berat hanya untuk sekedar membuka mata. Pening ku rasakan memuncak dikepala. Samar ku lihat sebuah wajah manis memenuhi mataku. Senyumnya merekah, ketika aku mulai membuka mataku.

” kau tidak apa-apa? ” dia tampak khawatir, duduk tepat disampingku. Apa dia menungguiku sedari tadi?

” gwaenchanha, ” aku tersenyum, tangannya menggenggam tanganku hangat.

” syukurlah kau tidak apa-apa. ” dia tampak lega, separah itukah aku.

” mianhae ” katanya meneruskan, ia tampak begitu menyesal, seakan semua ini salahnya.

” ini bukan salahmu. Aku yang terlalu babo.” Aku kembali tersenyum. Mencoba meyakinkanya aku tidak apa-apa. Aku yang merasa tidak enak hati, membiarkannya ikut larut dalam kesakitanku.

” gomawo, ” lanjutku. Dia hanya diam, menguatkan genggamannya. Mendekatkan tubuhnya dan mencium keningku. Aku merasakan kehangatan, kehangatan yang tak mungkin ku dapatkan dari yong hwa. Aku menikmatinya, sungguh, ku kuatkan genggamanku padanya.

“ prang, “ suara gemuruh sebuah benda pecah dari pintu kamar, mengagetkan kami.

“ noona? Hyun? “ min hyuk sudah berdiri tepat di pintu kamarku. Matanya lekat memandang kami yang masih terpaku. Tangannya gemetaran, yang membuat mangkuk digenggamanya terjatuh. Itu mangkukku, mangkuk kimchi jjigae yang ku berikan tadi siang.

Aku yang tersadar, langsung menarik tanganku dari genggaman jong hyun dan berusaha mendudukan badanku. “ m.minhyuk?” ada apa dengannya? Dia terlihat begitu terkejut.

“ mianhae. “ katanya tersadar, dia terjongkok berusaha membersihkan pecahan-pecahan mangkuk. Tangannya masih bergetar. dia tampak begitu gelisah, “ aww. “ pekiknya, tangannya berdarah. Tapi dia tetap tak bergeming. Berkali-kali ia terpekik, membuatku mencoba bangkit untuk membantunya. Aku sungguh tak tega.

“ biar aku saja. “ jong hyun mencegat bahuku. Aku ingin sekali melawannya, tapi apa daya bangunpun aku tak kuasa.

“ min hyuk, “ desahku pelan, ku rasakan bulir ini menggenang lagi.

Jong hyun terjongkok tepat didepan min hyuk. Tanganya mencegat min hyuk, “ biarku bersihkan. Kau pulang saja.” Katanya yang beralih mengumpulkan pecahan-pecahan itu.

“ tidak usah. “ min hyuk kembali berjibaku dengan pecahan itu, “ ahh “ dia meringis berusaha menahan lukanya. Aku miris, min hyuk sudahlah.

“ min hyuk, pulanglah”  aku mencoba berteriak pelan, dengan suara bergetar. Aku terlihat begitu kacau dengan air mata yang semakin deras. Min hyuk sedikit bergeming, memandangku yang langsung berdiri dan menunduk.

” mianhae, aku mengganggu kalian. ” ku lihat matanya berkaca. Langkahnya langsung melaju cepat kearah pintu keluar.

Ada apa dengannya? Aku merasa begitu hina. Hanya bisa menangisinya disini. Ingin rasanya aku mengejarnya, menenangkanya.

” sudahlah, kau istirahat saja. ” kata jong hyun menidurkanku seusai membersihkan pecahan tadi.

“ apa dia membenci kita? “ tanyaku setelah aku berbaring dengan nyaman.

“ mana mungkin, dia hanya terkejut. “ aku masih tidak puas dengan jawabanya. Ribuan tanda tanya masih menggenangi otaku.

“ tidurlah, aku akan buatkan sup untukmu. “ Tangannya membelai rambutku lembut, manis sekali. Aku mengangguk pelan. Mengamati punggungnya yang semakin menjauh dan menghilang dibalik pintu.

Ahh, betapa tulus namja itu. Aku tak tahu, apakah aku bisa membalasnya sementara hatiku masih berkiblat pada yong oppa. Apa aku yang terlalu memberikan harapan padanya? Aku hanya merasa nyaman, nyaman berada disampingnya.

Mataku terpejam, namun bayang-bayang kejadian demi kejadian hari ini berkelebat liar. Aku juga tak tau, semuanya rumit. Entahlah aku memikirkan yang mana? Hanya kilas-kilas bayangan semu yang menghantui, cepat. Ciuman yong hwa dan tunangannya disudut balkon, perkenalan super menyakitkanku dengan tunanyanya, jong hyun yang memeluku erat, jong hyun yang berteriak kepadaku, jong hyun yang mencium keningku, min hyuk yang ber getar di pintu kamar, tangan min hyuk yang berdarah, mata min hyuk yang berkaca-kaca. Sungguh semua itu berkelebat, menghujaniku satu-persatu. Semaki cepat, suara-suaranya pun semakin keras memekikan telingga. Ada apa ini? Aku semakin gelisah.

“ aaaaaahhh “ teriaku yang langsung terduduk. Nafasku tersengal.

“ kau tidak apa-apa? “ jong hyun tergopoh-gopoh memasuki kamarku, clemek pink kesukaankupun masih melekat dibadanya. Dia mengguncang tubuhku, yang masih terpaku, pandanganku menerawang kosong.

Yang bisa kulakukan hanya diam, tubuhkupun bergetar hebat, rasanya sulit kugerakan, hanya bisa menggeluarkan buliran bening disudut mataku. Aku mungkin sudah patut disebut gila. Jonghyun merengkuh tubuhku yang bergetar, membenamkanku dikehangatan pelukanya. Ku lihat tanganya mengepal kuat dan menghantamkanya pada kasur. membuatku semakin miris. Membawanya pada emosi dan kesakitanku.

Flash back end

Sejak saat itu, tepat seminggu yang lalu. Aku menolak bertemu siapapun. Aku membenamkan diriku di flat. Aku takut hanya memberikan harapan kosong pada jong hyun, aku takut min hyuk terluka karenaku, dan aku takut sekali bertemu lagi dengan yong oppa. Ini memang bukan sebuah solusi, ini hanya membuatku semakin larut. Biarlah aku larut sendiri, aku tak ingin terjadi perselisihan diantara mereka.

Dingin salju merembet merengsek memasuki kaos kakiku. Tanganku pun mulai kurasakan membeku. Tapi aku tetap tak bergeming. Dingin tak seberapa menusuk dari pada sakitku.

Lee Jong Hyun POV

Kulajukan mobilku merayapi jalanan seoul yang sudah dipadati kendaraan yang lalu lalang ini. Tinggal hitungan jam tahun 2011 segera bergulir. Tak heran puluhan orang memadati jalan dan berbagai sudut kota. Aku menikmati ini, aku suka keramaian, aku suka pesta. Malam ini pun aku berpesta dengan keempat sahabatku dan beberapa teman dekat disebuah caffe, di pusat seoul. Pesta baru setengah perjalanan, namun kuputuskan meninggalkan kemeriahan itu. Aku teringat padanya. Shin Soe Ri yoeja cantik yang belakangan ini aku cemaskan. Sudah satu minggu dia tak pernah mengabariku, ratusan kali aku mengiriminya pesan, menelfonnya, mengunjungi flatnya, tapi ia bersikeras tak mau berhubungan denganku dulu.

Dia memang keras kepala, nekad, mau melakukan apapun asalkan orang lain bahagia. Itu yang membuatku selalu mengkhawatirkannya.

Aku sudah berdiri didepan pintu flatnya. Memencet bel dan menungunya membukakan pintu untukku mugkin sebuah hal yang mustahil. dia pasti segera meninggalkanku begitu melihat wajahku di monitor. Aku memilih membukanya tanpa permisi. Kode pintu sudah bukan rahasia lagi untuku. 0312, katanya itu hari paling membahagiakan baginya makanya dia harus selalu mengingatnya. Molla, hal apa yang membuatnya begitu bahagia.ah, bahagia, kapan dia kembali bahagia? Aku sungguh merindukan senyum manisnya.

Flatnya gelap, persis seperti dugaanku. Molla, kenapa dia begitu menyukai gelap. Ku buka pintu kamarnya perlahan,berusaha membuatnya tak bergeming dengan kedatanganku. Samar cahaya menyeruak masuk dari arah balkon, siluet bayangannya tergambar dilantai pintu balkon. Dia berdiri terpaku. Apa yang dilakukanya? Bukankah malam ini begitu dingin.

Ku dekati yeoja blasteran indonesia korea ini. Dia mematung di balkon nya dengan rambut yang dibiarkan tergerai indah. Kini aku sudah berdiri tepat disisinya. Omo, disini begitu dingin, salju samar menghias lantai balkon, membuatnya masuk menyeruak dikakiku. Mantel buluku pun tak cukup manghalangi dingin yang menusuk ini.

Kuamati dia, yang masih saja tak bergeming dengan kehadiranku. Dia pun sama hanya mengenakan kaos kaki, tanpa sebuah alas. Badanya hanya dibalut sebuah sweter tipis, aigoo sudah berapa lama dia disini? Sudah pasti dingin menyelimutinya. Apa yang dia pikirkan?

“ apa yang kau lakukan? Masuklah, “ kataku sedikit membentak. Apa dia sudah gila membiarkan dirinya diselimuti dingin yang menusuk.

Lagi-lagi dia tetap tak bergeming. Pandanganya lurus. kosong. Ku buka mantelku dan ku pakaikan padanya. Mungkin dapat sedikit menghalau dingin yang nakal memeluknya. Dia sedikit terkejut, namun tetap tak bergeming kembali berjibaku dengan pikiranya.

“ disini sangat dingin, ayo  masuklah. “ aku mencoba membujuknya lagi.

“ aku tidak menyuruhmu menemaniku. “ katanya dingin. Dia masih sama, mengabaikanku. Aku juga tak bergeming dengan kata-katanya. Tetap akan berdiri disini, menemaninya.

Lampu balkon sengaja ia matikan, hanya cahaya lampu temaram dari balkon dikanan kiri yang menerangi. Samar kulihat matanya berkaca. Membuatku berpaling, menahan emosi yang mulai memuncak. Aku sungguh ingin mengubah hatinya, ingin membahagiakannya.

“ jangan menangisinya lagi. “ susah payah aku menahan emosi.

“ berhentilah menyiksa dirimu sendiri, berhentilah menangis, berhentilah bersedih, berhentilah mencintainya, berhentilah membuatku hina dan tak berharga. “ emosiku tak terkontrol lagi. Bulir itu samar kulihat membasahi pipinya.

“kenapa di otak mu selalu ada dirinya, kenapa kau selalu membenamkan dirimu untuknya yang sama sekali tak pernah melihatmu? Kenapa kau tak pernah bisa menganggapku ada? kenapa hanya dia? Aku lebih manis darinya, aku bisa bermain gitar lebih baik darinya, aku bisa memahamimu, dan “ ku tarik nafasku “ dan aku bisa mencintaimu lebih darinya. “ kata-kata itu keluar begitu saja.membuatnya berpaling. kini ia terisak. Apa yang membuatnya terisak? Aku atau yong hwa?

“ hentikan isakanmu, itu menyakitkan. “ kataku dingin, masih diatas emosi. Dia beralih memandangku, ahh, entah kapan terakhir kali ia memandangku, rasanya begitu lama.

“ berhentilah melihatnya,” emosiku sedikit menurun. “ dan cobalah melihatku. “ Isakanya tak terdengar lagi, ia menunduk. Mungkin berfikir. Rambut panjangnya menutupi mukanya, membentuk tirai yang menghalangiku menikmati wajah cantiknya.

“ kau tau, dingin itu menyebalkan.dingin, menusuk, tak tau kapan perginya. Tak seperti salju, yang hanya turun sebentar. “ kami sama-sama memandang menerawang langit.

“aku ingin kau seperti salju, hanya sebentar terbuai. Jangan jadi dingin untuknya, bukankah menyebalkan dihantui dingin selamanya. “ mungkin hatinya tergerak, mungkin.

“ maksudmu, kau mau aku jadi salju uuntuknya? “ ia beralih mengamatiku. “ salju memang turun sebentar, tapi esok salju pasti akan turun kembali. hari ini aku akan melupakanya, dan esok aku akan kembali mencintainya, begitukah maumu? “

“ dia benci dingin, dia juga benci salju. Tapi aku suka salju, aku suka musim dingin. Turunlah ditempat yang menyukaimu, bukankah kau juga bisa jadi dingin, dinginkah lah juga tempat itu. maka salju itu akan turun abadi.” Ku remas jemarinya yang mulai membeku. Kutatap matanya lekat, meyakinkan ketulusanku ini. Ia membalas tatapanku, kali ini tatapan bimbang. Ku dekatkan mukaku, hingga deru nafasnya cepat bisa kurasakan. Aku menyapu bibirnya, ia tak mengelak, membuatku merangkuh tubuh dinginya. Dan membenamkanya dalam ciumanku.

Kang Min Hyuk POV

Ku masukan beberapa makanan dimeja cafe ini dalam kantong plastik besar. Aku berniat membawanya dan memakanya bersama noona. Aku tau noona pasti sedang kesepian dikamarnya. Sayang sekali padahal malam pergantian tahun ini begitu indah.

“ ya, kau mau apakan makanan itu? Pesta belum berakhir, aku masih membutuhkan makanan. “ kata jungshin yang muncul dibelakangku dengan segelas minuman ditangannya.

“ dasar kau ini, aku kan tidak mengambil semuanya. Kau juga tak mungkin menghabiskan semuanya sendiri. “

“ ne, tapi kan, bagaimana dengan yang lain? Mereka masih asik menikmati musik. “ jung shin berusaha mengelak. Dasar anak itu, pikirannya hanya dipenuhi makanan.

“ sudahlah, kau pesan lagi saja. “ kataku yang menenteng plastik ini dan mendekatinya. “ kau tau, hyung baru saja dapat warisan dari ayah tunangannya. “ aku setengah berbisik ditelinganya.

“jinja?” dia tampak antusias, membuatku tersenyum geli, merasa umpanku dilahap olehnya.

“ tentu saja. Pesanlah yang banyak. “ dia mengangguk percaya. Aku beralih meninggalkannya, masih dengan kantong ditangan dan senyum licik penuh kepuasanku.

“ ya, kau mau kemana? ” baru beberapa langkah aku meninggalkanya. Aku berbalik memandangnya. Tersenyum meletakan tanganku di sisi mulutku.

“ aku akan menghabiskan warisan hyung. “ kataku dengan nada berbisik, walau suaraku lumayan keras. Aku langsung berbalik meninggalkannya yang nampak kebingungan. Menggaruk- garuk kepalanya yang sudah pasti tak gatal itu.

“ apa boleh begitu? “ kudengar  suaranya dari kejauhan. terlihat dari kaca caffe ia meninggalkan meja, masih dengan tangan dikepalanya. Aku tertaawa melihat tingkahnya, maunya dia ku bodihi.

******

Angin bergulir membelai tubuhku, membuatku membenamkan mulutku pada scraft yang tergulung manis dileher. Kumasukan sebelah tanganku pada kantong jaket, mencari kehangatan. Tangan lainku masih sibuk menggenggam kantong plastik berisi makanan ini. Bus yang ku tunggu tak kunjung datang, aku memilih duduk di bangku halte yang dingin, samar tertutup salju. Ku amati kantong yang tersungkur dipangkuanku,  pasti manis sekali membayangkan nikmatnya menyantap makanan-makanan ini bersamanya. Dia, benar dia, noona, setiap hari aku memikirkanya, senyumnya yang manis, rambutnya yang selalu dibiarkan tergerai indah, matanya yang sayup begitu menenangkan, pipinya yang selalu berubah kemerahan setiap ku puji senyumnya, ah aku sungguh menyukai segala yang dimilikinya.

Tak sadar bus sudah berada dihadapanku, pintunya terbuka, ku masuki bus yang lumayan penuuh ini, pasti mereka akan merayakan tahun baru. Ku pilih duduk di bangku paling belakang. Sayang aku tak mendapat tempat duduk didekat jendela, padahal itu tempat favoritku. Kanan kiriku dipenuhi pasangan kekasih, sungguh membuatku iri, andaikan aku bisa seperti itu dengan noona.

Jalanan seoul yang lumayan padat membuat bus tak selancar biasanya. Bus berrhenti di halte tak jauh dari flat. Tanganku masih setia berada dikantong jaket dan mengenggam kantong makanan ini. Kuangkat kantong ini. ku pandanginya lagi. Aku tersenyum dan memantapkan kakiku melangkah memasuki gedung flat.

Ku masuki flat noona begitu saja, bermaksud memberikan kejutan untuknya. Aku tau kodenya, noona yang memberi tahuku karena saking seringnya aku mengunjuungi tempat ini. Flatnya sepi. Gelap. ku telusuri ruang demi ruang flat. Nihil. Pasti dikamarnya. Tak sopan aku masuk begitu saja, namanya juga memberikan kejutan, tak salah bukan.

Kamarnyapun sama gelapnya dengan ruangan-ruangan lain. Ku tutup pintu kamarnya perlahan, ku telusuri lantai kamarnya yang terasa lebih dingin ini.baru beberapa kali kakiku terangkat, langkahku terhenti begitu saja menyaksikan apa yang ada dihadapanku. Mereka, noona,dan jonghyun, mereka berciuman. Jantungku berdegup lebih cepat, tubuhku bergetar hebat, rasanya nafasku pun tercekat, membuatku terpaku dan sulit untuk sekedar melipat lidahku sendiri. Persis seperti saat itu saat aku melihat jonghyun mengecup keningnya, kala itu jong hyun menjelaskan semuanya dengan gamblang, yang membuatku tenang dan dapat melupakanya.tapi kali ini? ini bukan sekedar kecupan seorang teman seperti apa yang jong hyun katakan. Kantong ini tak lagi bisa ku genggam, isinya tumpah mengotori lantai. Mereka terkejut meyadari aku yang berdiri dengan konyolnya tak jauh dari mereka.

Noona menarik tubuhnya dari pelukan jong hyun, ekpresinya sama seperti saat itu. Aku binggung, mata mereka lekat memandangku. Ku rasakan mataku yang memanas, air mataku menetes tanpa sanggup ku bendung lagi. Aku berbalik berlari meninggalkan mereka berdua, aku tak sanggup melihatnya. Melihat orang yang aku cintai berciuman dengan orang lain, dan orang lain itu adalah sahabatku sendiri.

Aouthor POV

“ min hyuk !!” teriak Soe Ri yang mencoba berlari mengejarnya. Namun langkahnya terhenti, lenganya dicegat namja yang dapat mencuri ciumanya ini.

“ sudah biarkan saja. “ Soe Ri berontak berusaha melepaskan cengkraman jong hyun.

“ apa maksudmu? kau mau dia larut dalam kesalah pahaman? “ lengannya masih dalam cengraman kuat jong hyun.

Jong hyun diam, memaknai kalimat terakhir Soe Ri. Kesalah pahaman? Jadi menurutnya ciuman itu tidak berarti apa-apa? Setengah hati jong hyun melepas lengan yeoja itu. Ia hanya bisa mengamati punggung Soe Ri yang menghilang diantara kegelapan flat ini.

******

Nafas Soe Ri tersengal setelah berlari menuruni tangga menuju taman kecil didepan bangunan flatnya. Matanya menerawang dengan gelisah mencari sosok manis itu. Ia menarik nafas lega setelah melihat sosok yang ia cari tengah terjongkok menundukan kepala disudut taman. Ia mendekat pelan, ikut terjongkok disinya.

“ ini tidak seperti yang kau pikirkan. ” Soe Ri berucap ragu. Matanya masih lekat mengamati kepala namja yang terangkat perlahan itu.

Min hyuk tersenyum sinis, matanya masih sendu. “ noona benar, ini memang tak seperti yang ku pikirkan. “ matanya berkaca, memalingkan mukanya dari yeoja yang lekat memandangnya ini.

“ aku pikir, aku akan menghabiskan malam ini bersama noona, menikmati makanan yang sengaja ku bawa dari caffe. Hanya untuk noona. “ kali ini air matanya tak terbendung mengalir dengan derasnya.

“ mianhae.” soe ri menunduk, sungguh pikirannya kembali dipenuhi perasaan bersalah yang ia sendiri tak tau alasan pastinya. Matanya memanas, tak sanggup melihat air mata min hyuk yang jatuh dengan bebasnya.

“ ini bukan salah noona. Ini perasaan. Perasaan yang tak mungkin dipaksakan.”

“ selama ini aku mencoba menungggu noona. Menunggu noona melupakan hyung dan mulai melihatku. Tapi yah ,” min hyuk tersenyum kearah yeoja yang mulai membangkitkan kepalanya. “ aku telat, aku kalah langkah. “ matanya kembali berkelana liar. Menyembunyikan tangis yang turun deras lagi.

“ noona harus tau alasanku memanggilmu noona. Ini bukan karena noona dekat dengan hyung, atau usia noona yang lebih tua beberapa bulan dariku, ataupun karena noona sudah kuanggap noonaku sendiri. Mungkin ini alasan yang konyol. Aku memanggilmu noona semata aku ingin dipanggilmu oppa. Seperti hyung yang selalu dipanggilmu oppa. Tapi, noona malah menganggapku seperti adikmu sendiri, itu membuatku kecewa. Menurutku memanggilmu noona sedikit menggobati perasaan kecewaku, setidaknya itu panggilan sayangku untukmu. “

“ dan noona tau? Aku sudah mengagumi noona sebelum hyung memperkenalkanmu pada kami. Aku sering mampir kecaffe noona, hanya ingin bisa lebih dekat memandangmu. Di kampus pun begitu, aku sering mengamatimu dari bawah pohon besar rindang dekat kelasmu. Waktu itu aku hanya tau namamu, shin soe ri. Saat hyung memperkenalanmu aku begitu bahagia apalagi kau mulai dekat dengan kami.”

“ Kau tau namja kan? Hampir semua namja begadang dimalam hari dan bangun terlambat dipagi hari, begitu juga dengan kami. Apartement lama kami lumayan jauh dari kampus membuat kami sering sekali datang terlambat. Kamipun sepakat pindah ketempat yang lebih dekat. Begitu tau noona tinggal di flat ini dan jarak yang hanya hitungan meter, membuatku mengusulkan pindah ke flat ini. mengetahui ke tiga temanku menyetujuinya begitu saja aku sangat senang. Aku berfikir aku akan lebih dekat dengan noona. Tapi aku memang babo, kau malah semakin dekat dengan hyung bukan aku. “ kali ini soe ri yang menangis terisak. Min hyuk sedikit iba, tapi perasaan terpendamnya harus diucapkan.

Tangis soe ri sungguh tak terbendung. Selama ini ia berfikir yong hwa lah yang memutuskan pindah demi dirinya, tapi nyatanya. Hatinya sakit merasa terbohongi. Kenapa selama ini ia tak pernah melihat orang yang begitu tulus kepadanya.

“ begitu aku tau noona mencintai hyung aku sangat sakit, noona tau kenapa aku sakit? Karena noona akan sakit hati mengetahui hyung sudah punya tunangan. Karena noona pasti akan menderita, noona tak akan bahagia. Saat itu aku begitu ingin berteriak pada noona. Berteriak untuk merubah hatimu. Tapi apa dayaku. “ min hyuk menarik nafas yang dirasanya begitu berat itu. “

“ Aku tak perduli aku akan jadi sesakit apa, seperti saat ini. yang penting noona bahagia. saat aku melihat jong hyun mengecup kening noona mesra, aku berusaha bertahan. Berusaha bahagia, karena aku pikir noona tak akan jadi sakit karena hyung lagi. Tapi apa daya, aku tak dapat menyembunyikan kesakitan ini, seperti saat ini. “

Kini hanya isak mereka yang tampak mengudara. Soe ri menurunkan lututnya ketanah yang tertutup salju. Tangannya merengkuh kepala min hyuk disampingnya, dan memendamkannya dalam dadanya. Isak min hyuk memuncak dipelukan soe ri yang berkali kali menyeka air mata yang tak kunjung membendung.

Lama mereka larut dalam tangis. Min hyuk merengsek dari pelukan soe ri. Ia menghapus air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.

“ sudahlah. Bagiku sarangeun apeun go, dan mungkin kebahagiaanmu lah yang akan membuatku bahagia. mungkin aku akan pergi, untuk melupakanmu. “ min hyuk bangkit melangkah menjauhi soe ri yang masih setia dalam posisinya.

“ kau mau kemana? “ min hyuk terhenti dengan pertanyaan soe ri.

“ kemanapun. “ min hyuk berlari menjauh. Membuat seo ri khawatir, min hyuk masih dalam emosi dan tangis yang menggebu. Dia bisa melakukan apapun.

seo ri berlari mengejarnya yang sudah berlari jauh didepan. Didepan jalan raya, seo ri tak bisa menemukanya lagi. Ia mencarinya di kanan kiri. Nihil. kemana min hyuk? Kepalanya berkeliling. Matanya masih sendu, air matapun masih terasa membasahi. Kakinya sudah lemas. Pandangannya pun mulai kabur. Samar dilihatnya min hyuk berjalan disebrang jalan.

Ia berusaha berlari kearah min hyuk yang sepertinya tak melihatnya itu.

” min hyuk. ” teriaknya. Min hyuk menengok. Seo ri lega min hyuk melihatnya. Ia berlari semakin kencang. Ini bukan zebracross tapi ia tak peduli. Yang penting baginya kini, min hyuk mau mengerti semuanya. Bukan larut dalam kesalah pahaman seperti ini.

sebuah bus dalam kecepatan tinggi menghantam tubuhnya. Seo ri terpental.

Min hyuk terpekik, dan berlari secepat mungkin menghampiri seo ri yang tergeletak tak berdaya di tepi jalan.

Tanganya bergetar melihat tubuh seo ri yang tak berdaya.

“noona!!”  ia bersimpuh disamping tubuh seo ri yang tak lagi bernafas. Ia gemetran. Pikiranya tak menentu. Tak tau apa yang harus dilakukan. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Soe ri benar-benar telah pergi.

******

Balkon ini gelap, sengaja dimatikan seperti semua lampu diflat seo ri ini. Mereka hanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Jong hyun berdiri terpaku menerawang langit yang kali ini terlihat begitu indah dihiasi ratusan bintang. Minhyuk menyandarkan sebagian tubuhnya pada tembok balkon. Sikunya ikut bertumpu pada tembok setengah badan ini. Sepuluh jemarinya berpelukan. Matanya pun tak lekat mengamati bintang yang berkedip manis.

Kang Min Hyuk POV

Malam yang indah. Bintang masih setia menghias malam. Begitu banyak. Tapi tunggu. Ada 1 bintang paling terang yang nampak sendiri. Kenapa bintang itu memilih sendiri? Apa dia disakiti dan dibuat menderita akan pilihan oleh bintang lain, seperti noona?

Noona,

mianhae.

Kalo bukan karena emosiku kau pasti akan bahagia bersama jong hyun. Aku memang egois. Aku terlalu naif.

Walaupun noona tak akan bahagia bersamaku, setidaknya aku akan bahagia melihatmu bersama orang lain, bukan meninggalkanku seperti ini. Bukankah aku yang akan meninggalkanmu, kenapa kau yang pergi?

noona,

Apa kau benar-benar membenciku? hingga pergi ketempat sejauh itupun kau tak mengajakku. Aku mau menemanimu. Jemput aku sekarang noona, yang penting aku melihatmu dan bertemu denganmu. Aku ingin minta maaf padamu. Atau kau mau tukaran? Biar aku yang disitu dan kau disini. Bersama jong hyun.

Noona,

Georiwoso.

Lee Jong Hyun POV

Soe ri,

Disini tempat terakhirku melihatmu kan? Kenangan termanisku bersamamu. Kau masih ingat bukan? Sekarang salju sudah tak turun lagi. Dinginpun sudah mulai memudar, musim semi akan segera datang. Seperti itukah dirimu? Menghilang. Tentu saja, dasar babo aku yang menyuruhmu menjadi salju dan dingin untuku. Apa kau menurut, kau menghilangkan perasaanmu padaku? Aku tak perduli, dan aku selalu tak perduli yang penting bagiku salju selalu turun dimusim apapun.

Seo ri,

Aku jahat bukan? Aku terlalu memaksamu merimaku. Aku terlalu memaksamu mencintaiku. Tapi sungguh, aku seperti itu karena aku memang mencintaimu. Aku tak tau kapan aku akan berhenti mencintaimu. Dan aku tak akan pernah berusaha berhenti. Sampai kapanpun. Aku yang akan jadi dingin untukmu.

Seo ri,

Temuilah aku. Aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Lebih romantis dari biasanya. Kau tak perlu ragu seperti biasanya. Kau cukup katakan bahwa kau membenciku dan menolak cintaku. Bagiku itu cukup dari pada kau pergi seperti ini.

Seo ri,

Saranghae

 

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

8 thoughts on “[LombaFF] Last Winter

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s