[LombaFF] Love Light

Rating                   : PG 15

Genre                   : Romance

Cast                       : Park Min Young (OC)

Jung Yong Hwa

Kang Min Hyuk

Disclaimer           : This FF is pure my imagination. Please don’t sue me. Thanks ^^

Note                                     : Di FF ini Yong Hwa sama Min Hyuk bukannya member CN Blue, mereka hanya  orang biasa. FF ini gak terinspirasi dari mana-mana sih. Hehe. Ini pure imajinasi saya. Dan juga kalo mau dengerin FF ini, sekalian deh dengerin lagunya juga. Ceritanya OST-nya gitu. Hehehe.

–          One of A Kind (http://www.4shared.com/mp3/ujoiG-HL/_2__CN_Blue__CN_Blue__-_One_Of.html) – CN Blue

–          Teardrops in the Rain (http://www.4shared.com/mp3/E2S7u5Nk/cn_blue__cn_blue__-_teardrops_.html) – CN Blue

–          Love Light (http://www.4shared.com/mp3/JOsQCK6c/CN_Blue_-_Love_Light.html ) – CN Blue

Semoga para readers suka ya sama FF-nya, happy reading😀

 

Sulit di percaya. Wanita yang telah melahirkanku dan telah membesarkanku beserta kakak angkatku hingga tumbuh dewasa seperti ini, kini hanya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Di samping ranjangnya penuh dengan peralatan-peralatan medis jika sesuatu beliau membutuhkannya. Eomma sudah terbaring lemah tak berdaya hampir satu tahun lamanya.

Kanker pembuluh darahlah yang telah membuat eomma menjadi seperti sekarang ini. Gara-gara penyakit ini, beliau mau tidak mau harus menjalani kemoterapi. Aku tidak tega jika melihat efek dari sesudah menjalani kemoterapi, rambutnya yang panjang hilang helai demi helai, tubuh gempalnya menjadi kebiruan dan memerah, dan kadang beliau suka kejang-kejang akibat dari reaksi obat tersebut, juga satu lagi, tubuhnya sekarang sangat kurus.

Jika melihat eomma seperti ini, ingin rasanya aku menggantikan posisinya saja. Aku tidak tega melihatnya. Aku yakin, rasanya sangat menyakitkan.

Tapi ia tidak pernah mengeluhkannya. Ia selalu bilang “Percayalah, Tuhan pasti akan memberikan jalan terbaik untuk kita. Kita berdoa saja”, begitu katanya. Walaupun tidak menerimanya, tapi aku dan Min Hyuk oppa selalu meng-iya-kan. Kami berdua tidak mau membuatnya kecewa.

Eomma adalah ibu terhebat yang pernah ku temui. Begitu berat beban hidupnya harus membiayai kami berdua, kakakku dan aku tentunya. Kegigihan serta kerja kerasnya membanting tulang demi kami patut diberikan penghargaan. Eomma tidak pernah mengeluh, beda seperti aku yang banyak mengeluh. Aku bangga sekali memliki ibu seperti eomma. Wanita perkasa yang akan aku cintai sampai kapanpun.

Eomma bukan hanya sekedar ibu bagiku, beliau juga sebagai appa dalam keluarga kecil kami. Eomma adalah single perent yang sudah di cerai oleh lelaki tak bertanggung jawab itu. Dia ‘appa’ku, lelaki yang sudah tidak ku anggap lagi sebagai ayah kandungku. Sudah hampir 19 tahun eomma menjadi janda beranak dua. Sama persis seperti umurku sekarang. Karena -yang katanya- ayahku itu mempunyayi wanita simpanan. Maka dari itu eomma meminta ‘appa’ku itu menceraikannya. Dan mereka akhirnya bercerai.

Sebenarnya anak kandung beliau hanya aku seorang. Tapi katanya, sebelum aku lahir eomma dan ‘appa’ku mengadopsi Min Hyuk oppa dari yayasan anak yatim piatu. Dikarenakan sudah tiga tahun menikah mereka belum dikarunia seorang anak. Maka dari itu Min Hyuk oppa di adopsi mereka untuk pancingan agar mereka dikaruniai keturunan. Dan benar, satu taun kemudian eomma mengandung aku.

Min Hyuk oppa hanya beda satu tahun dariku. Maka dari itu kami tidak hanya sekedar sebagai kakak beradik, kami juga seperti sahabat yang selalu mengerti satu sama lain. Bahkan banyak orang yang bilang kami ini pacaran. Kami hanya tertawa jika menanggapi hal tersebut.

***

“Min Young-ah, istirahatlah dulu. Biar aku yang menjaga eomma. Sudah larut malam. Kau bisa pulang sendiri kan?” ujar Min Hyuk oppa padaku. “Pakai saja jaketku.” lanjutnya sambil memberikan jaketnya padaku.

“Tapi oppa, aku masih mau disini menjaga eomma.” kataku, menatapnya.

“Sudahlah. Bukannya besok kau ada kuliah pagi?” katanya mengingatkanku. Aku beranjak dari dudukku.

“Ah… baiklah. Aku akan pulang. Aku pakai mobilmu ya? Sepertinya akan turun salju malam ini.” ujarku sambil mengambil jaketnya yang sedari tadi di sodorkan padaku. “Boleh?” lanjutku.

“Hem, baiklah. Ini. Hati-hati, kalau ada badai salju, berhentilah,” ia memberikan kunci mobilnya. “Besok, kalau sudah pulang kuliah kau langsung saja kesini.” perintahnya.

“Siaaap!” kataku penuh semangat.

“Sekarang menunggu apa lagi? Nanti semakin larut.” tanyanya. Aku tersenyum kecil.

“Aku ingin berpamitan dulu pada eomma.” kataku. Mendekati ranjang. Kutatap wajah kurusnya. Bagaikan malaikat yang sedang tertidur.

“Kau mau membangunkannya? Kasian eomma, dari tadi sore ia tidak tidur. Nanti kalau eomma menanyakanmu, aku akan memberitahunya kalau kau pulang.” ujarnya. Ia merangkul bahuku.

“Baiklah.” kataku. Tapi aku masih menatap wajah eomma.

“Ya Tuhan, apa lagi Min Young?” katanya sembari berbisik –memang sedari tadi kita berbisik.

“Aku hanya ingin menciumnya,” seraya memberi ciuman di  kening eomma. “Tidurlah yang nyenyak, besok aku akan datang lagi kesini,” lanjutku sambil mengelus rambutnya. Aku langsung berjalan menghampiri pintu.

“Kau tidak berpamitan pada oppamu yang tampan ini?” katanya. Aku berhenti sejenak. Dan membalikkan badan.

“Hem.. aku lupa. Hehe.” aku menjulurkan lidah. Dan sesegera mungkin aku menghampirinya. Dan mengecup pipinya.

“Malam oppa, aku pulang dulu ya.” kataku sedikit manja. Ia mengecup keningku lembut.

“Ya, hati-hati.” perintahnya. Aku mengangguk. Dan segera meninggalkan ruangan.

Sekarang sudah memasuki bulan Desember, salju turun dengan indahnya. Menghiasi setiap sudut kota dengan butiran-butiran putih halus. Hampir semua pohon, rumah, restoran, halte bus, dan yang lainnya diselimuti salju. Dan alhasil jalanan sedikit licin, kalau aku tidak hati-hati bisa saja menabrak.

AC mobil aku atur agar dapat menghangatkan tubuhku. Kepulan asap yang keluar dari mulutku kian menebal.

“Ah, malam ini dingin sekali. Kalau Min Hyuk oppa tidak memberi jaketnya padaku, mungkin aku akan menggigil. Ini saja sudah pakai jaket masih saja dingin.” aku mengusap-usap lenganku dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiriku terus memegang setir.

Pandanganku semakin kabur, karena hujan salju turun semakin lebat.

“Tenang Min Young, kau harus hati-hati. Konsentrasi, sebentar lagi sampai.” kataku menenangkan diri sendiri.

Jalanan sudah sepi. Mobil-mobil yang berkeliaran juga dapat dihitung dengan jari. Ya, mungkin mereka sudah tahu akan turun hujan salju. Jadi mereka tetap tinggal dirumah. Dan, sekarang memang waktunya untuk beristirahat –pukul 23:21 PM.

Kunyalakan tape mobil, memasukkan CD album ‘First Step’ – CN Blue. Memilih track paling terakhir, lagu One Of A Kind (http://www.4shared.com/mp3/ujoiG-HL/_2__CN_Blue__CN_Blue__-_One_Of.html) –lagu favoriteku.

 

On the floor you’re moving in a way I can’t ignore
I’m in heat, I caught a glimpse and now I’m at your feet
I can’t escape it, there’s nowhere to hide
This feeling I got I can’t deny
I don’t know your name but it’s all the same
Coz I can feel your heart and now I’m sure
Don’t you know, there’s nothing I can do,
I gotta get to know you
I have to see this through I want it all
I gotta let you know, this feeling is so true
Coz I know that you’re One of a kind
And I can’t get you out of my mind
….

Aku suka sekali lagu ini, suara sang vokalis dan gitarisnya sungguh membuatku kagum. Keren sekali.

Sementara lagu One Of A Kind menemani malamku yang dingin ini, tidak terasa aku sudah sampai rumah. Kumatikan tape dan membuka garasi terlebih dahulu. Angin menghilir menyapu wajahku.

“Brrr…. dingin sekali.” aku menggigil dan secepat mungkin membuka garasi dan memarkirkan mobil kedalamnya.

Aku sedikit berlari membuka pintu dan naik ke lantai atas untuk mengganti baju.

Malam ini, aku bertekad untuk merendam tubuhku dengan air hangat. Sepertinya enak. Yah, itung-itung untuk merenggangkan sedikit otot-otot yang kaku.

“Hem.. nyaman sekali.” aku merendam tubuhku di bath tube yang telah berisi air hangat dan ramuan herbal yang sedikit dicampur aroma bunga mawar.

Sementara aku terus nenggosok-gosokkan tubuhku dengan sabun, terdengar petikan sebuah gitar klasik dari luar. Persis di sebelah kamarku. Memainkan lagu favoritku, Teardrops in the Rain (http://www.4shared.com/mp3/E2S7u5Nk/cn_blue__cn_blue__-_teardrops_.html) – CN Blue. Aku buru-buru membilas tubuh dan berpakaian. Memberanikan diri untuk membuka jendela kamarku. Terlihat berbayang seorang pria. Petikan dan suaranya penyanyinya itu semakin terasa jelas. Suaranya sangat merdu, mirip sekali dengan suara vokalis band favoritku – CN Blue.

Aku membuka pintu balkon kamar, terlihatlah sesosok pria memegang gitar klasik di seberang kamarku. Kubawa ponselku.

Salju masih turun berjatuhan dengan lembut. Pria itu terus memainkan gitar klasiknya sambil bernyanyi.

I don’t know which way to choose
How can I find a way to go on ?
I don’t know if I can go on without you oh

Even if my heart’s still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain

Aku terus memperhatikannya. Sedikit membungkuk dan menyangga tubuhku ke pagar balkon.

“Suaranya indah sekali.” tanpa disadari aku ikut bernyanyi dengannya. Mataku tertuju kepadanya.

I wish that I could fly, I wonder what you say
I wish you’re flying back to me again
Hope everything’s the same like it used to be

Nyanyiannya terhenti setelah sadar ada orang yang ikut bernyayi dengannya –itu aku. Aku jadi merasa malu dan menggaruk kepalaku yang memang tidak gatal.

“Hai..” sapanya. Melambaikan tangan kepadaku dan tersenyum. Suaranya sedikit berteriak.

“Hai juga. Mian mengganggumu.” jawabku dengan sedikit berteriak juga, aku balas melambaikan tangan. Sedikit salah tingkah.

“Ah ani.” jawabnya. Ia pun sedikit salah tingkah. Dan terkekeh.

“Suaramu bagus sekali. DAEBAK!” pujiku, mengangkat dua buah ibu jariku. Ia tersipu malu.

“Gomawo,” ia terkekeh. “Belum tidur?” katanya lagi. Dia tidak mengganti posisinya.

“Belum,” jawabku.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Eotoriya… Eotoriya….

Dari Min Hyuk oppa. Aku memberikan isyarat kepada pria itu untuk mengangkat telpon terlebih dahulu. Pria itu tersenyum, mempersilahkan.

Aku langsung mengangkatnya.

“Yeobseo..” jawabku.

“Kau belum tidur?” tanyanya.

“Belum, tapi ini mau.” dustaku.

“Baiklah, jangan terlalu larut. Kau bisa bangun kesiangan besok.” perintahnya.

“Iya, ini sudah di tempat tidur. Siap untuk tidur.” dustaku lagi.

“Tidur yang nyenyak. Aku tutup teleponnya. Jalja.”

“Iya.. iya..” jawabku agak kesal. “Jalja.”

“Eh chamkkan..” ujarnya.

“Apa lagi?” kataku. Aku sedikit melirik kepada pria itu. Ia tersenyum padaku. Aku semakin salah tingkah. “Oppa, kalau kau tidak menutup teleponnya, kapan aku akan tidur?” lanjutku.

“Hem. Itu..,” ujarnya terbata. “Tidak jadi saja.”

“Aigooo.. sudah. Aku tutup telponnya ya.” kataku.

“Ya ya ya… jalja Min Young-ah. Muach!” katanya.

“Oh Tuhan, kau seperti pacarku saja.” sentakku. Ia malah terkekeh dan menutup telponnya. Aku menggerutu tidak jelas.

“Maaf lama. Hehe.” kataku padanya.

“Gwaenchana,” katanya. “Siapa?”

“Dari kakakku,” jelasku. “Hem, sepertinya aku sudah harus tidur,” aku melihat jam di ponselku. “Sudah malam.” lanjutku. Lagi-lagi canggung.

“Ah, ye. Jalja..” ia melambaikan tangan lagi padaku.

“Jalja..” balasku. Aku masuk ke dalam dan menutup pintu balkonnya.

Aku mengintipnya dari jendela, ia masih diam duduk di depan balkonnya. Melanjutkan permainannya. Kunyalakan penghangat ruangan untuk membuat tubuhku tetap hangat. Dan langsung menarik selimutku lantas tidur.

***

Hoaaaam. Aku terbangun dari tidurku.

“Ah! Aku terlambat!!” geramku. Aku langsung mandi dan beres-beres.

Ku berlari ke garasi untuk memanaskan mobil. Dan sial, mobilnya tidak mau menyala. “Oh God!! Kenapa harus mogok di waktu yang tidak tepat sih?” gerutuku kesal. Ku tendang bamper mobilnya. Aku langsung berjalan cepat menuju halte bus. Sambil berjalan aku sambil menggerutu. Dan akhirnya sampai di halte bus.

Aku beruntung, beberapa detik kemudian bus yang kutunggu datang.

Aku pun bergegas masuk ke dalam bus. Aku membuka tasku mencari dompet, oh God! Dompetku tidak ada???! “Aduh.. eothokhae?!” aku mulai panik. Pak supir memperhatikanku. Lalu ada yang menepuk pundakku.

“Tidak membawa dompet? Sudah tenang, aku yang bayar saja.” katanya. Seolah sudah tahu.

“Heh? Gomawo.” kataku tersenyum lega. Ia pun tersenyum. Mempersilahkan aku masuk. Kebetulan bus yang aku tumpangi penuh. Jadi kami tidak mendapatkan tempat duduk, dan alhasil berdiri.

“Untung ada kau, kalau tidak aku tidak akan bisa tepat waktu sampai ke kampus.” ujarku. Membuka pembicaraan.

“Ne, cheonmanae,” katanya. “Kau kuliah dimana?” tanyanya.

“Ah, itu di Kyung Hee Cyber University.” jawabku. Ia sedikit terkejut.

“Jinja? Kalau begitu kebetulan sekali, aku juga kuliah disana.” katanya antusias.

“Wah… iya kebetulan sekali.” kataku meng-iya-kan.

Kami pun berbincang selama perjalanan. Dan tidak terasa sudah sampai di halte kampus. Kami pun turun. Dan berjalan memasuki kampus.

“Hei, gomawo ya. Aku berhutang padamu.” kataku.

“Tidak usah sungkan. Sesama tetangga harus saling membantu.” katanya dengan manis. Aku tersenyum. “Oh ya, namamu siapa?” tanyanya.

“Min Young, Park Min Young.” jawabku. Sesekali melihat jam tangan. Sepuluh menit lagi kuliah dimulai.

“Aku, Yong Hwa, Jung Yong Hwa. Senang berkenalan denganmu Min Young-ah.” katanya tersenyum, aku membalasnya.

“Ne. Hem, sepertinya aku sudah harus masuk kelas. Annyeong.” aku melambaikan tangan padanya tanda perpisahan.

***

Satu bulan sudah berlalu, kami –aku dan Yong Hwa—semakin dekat. Kami sering sekali berangkat ke kampus bersama, dan kadang Yong Hwa sering menemaniku ke rumah sakit untuk menjenguk eomma.

Malam ini, aku berniat untuk menggantikan Min Hyuk oppa menemani eomma. Dan aku mengajak Yong Hwa bersamaku ke rumah sakit.

“Oppa, kau pulang saja. Biar aku yang akan menjaga eomma malam ini. Yong Hwa juga akan menemaniku disini. Istirahatlah.” kataku. Mukanya sedikit masam.

“Kau? Dengannya? Bersamanya?” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk.

“Iya, wae?”

“Tenang, aku akan menjaga adik dan ibumu malam ini. Kau tidak perlu khawatir.” ujar Yong Hwa. Aku meng-iya-kan. Tapi tiba-tiba Min Hyuk oppa menarik tanganku.

“Bisa bicara sebentar?” ia menarikku keluar ruangan.

“Ada apa sih?” tanyaku. Mengangkat satu alis penuh kecurigaan.

“Dengar, kau sudah gila? Apa-apaan kau membawanya bersamamu malam ini? Untuk menemanimu?” katanya. Sedikit kesal dan suaranya menegang.

“Waeyo? Tenang saja oppa, Yong Hwa anak yang baik kok.” kataku meyakinkan.

“Tapi.. tapi…” bantahnya.

“Percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja.” aku menepuk-nepuk bahunya.

“Oke, kau baik-baik. Kalau terjadi apa-apa langsung hubungi aku. Arasseo?” perintahnya. Aku mengangguk. “Aku pulang.” katanya, memberikan elusan lembut dipipiku.

“Iya siaaaap!” kataku mantap. Aku memeluknya dan memberikan kecupan ke pipinya. Ia tersenyum. “Hati-hati oppaku tercinta.” aku melepaskan pelukannya. Dan pergi.

Semalaman ini aku banyak mengobrol dengan Yong Hwa, kuceritakan bagaimana eomma bisa seperti ini. Ternyata ia anak broken home juga, sama sepertiku. Bedanya, ia ikut bersama ayahnya ke Tokyo. Ia juga menceritakann tentang mantan kekasihnya yang meninggal karena penyakit kanker pembuluh darah, sama seperti penyakit yang kini di derita oleh eomma. Maka dari itu, ia sangat prihatin padaku. Katanya, kehidupanku ini mengingatkanku pada mantan kekasihnya. Ya, aku hanya berharap eomma akan sehat lagi. Aku tidak mau apa yang dialami mantan pacarnya terjadi pada eomma.

Aku merasa telah lama mengenalnya. Sesekali aku bercerita sambil meneteskan air mata ketika menceritakan eomma. Ia melap air mataku.

“Aku yakin, ibumu akan sembuh. Jangan berhenti berdoa. Beliau akan sehat lagi,” katanya menenangkanku. Merangkulku. Aku me-lap air mataku. “Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik padamu.” aku mengangguk pelan. Dan tidak terasa aku tertidur dirangkulannya, dengan menyandarkan kepalaku ke bahunya. Aku pun tertidur.

***

Seminggu berlalu, kata dokter keadaan eomma semakin memburuk. Aku panik dan tidak percaya. Aku tidak mau hal buruk terjadi padanya.

“Dokter, aku mohon selamatkan dia. Aku mohon dokter.” kataku menangis histeris.

“Kami tidak bisa berbuat banyak, tapi kankernya sudah menjalar ke selaput otak ibumu. Hanya mukjizat Tuhan yang akan menyelamatkanya.” ujar dokter itu pasrah.

“Pokoknya, kau harus harus berhasil! Aku yakin! Kau bisa, dokter!” emosiku tak terkendali. Min Hyuk oppa memelukku. Mencoba menenangkan.

“Tenang Min Young-ah, operasinya pasti akan berhasil. Kita harus yakin!” katanya. Aku menangis dipelukannya. Yong Hwa duduk di kursi.

“Berdoalah. Mereka akan mencoba yang terbaik.”

Selang beberapa jam, pintu ruang operasi terbuka. Aku, Min Hyuk oppa, dan Yong Hwa langsung berdiri. Keluarlah dokter yang kami tunggu-tunggu menyampaikan kabar bahagia. Tapi, wajahnya lesu dan pasrah. Aku curiga.

“Maaf.. kami sudah melakukan yang terbaik.. tapi..” belum selesai dokter selesai bericara, aku sudah tidak sadarkan diri. Aku tidak mengingat apa-apa. Aku pingsan.

***

Sebulan setelah kematian eomma, aku sering sekali mengurung diri di kamar. Yang terlintas di pikiranku adalah waktu-waktu bahagia kami, aku, eomma, dan Min Hyuk oppa. Kini, semua itu hanya sebuah kenangan bisu. Eomma sudah tidak ada lagi disampingku. Tidak ada.

Melihatku seperti ini, sepertinya membuat Min Hyuk oppa geram. Setiap disuruh makan, aku tidak mau. Aku banyak menghabiskan hariku di kamar. Dengan iPod-ku. Dengan lagu-lagu band favoritku – CN Blue. Entah kenapa, hatiku selalu menjadi tenang mendengar lagu mereka.

Min Hyuk oppa selalu memberikan nasihat dan semangat kepadaku. Ya, aku tidak boleh terpuruk dengan semua ini. Ini sudah menjadi takdir Tuhan, siapapun tidak bisa melawannya.

***

Tidak terasa, empat tahun menimba ilmu di Kyung Hee Cyber University –Mayor Musik and Arts— membuatku  senang tiada tara, akhirnya aku lulus dengan cepat dengan hasil yang memuaskan. Dengan berbekal ilmu dan pengalaman, aku mencoba melamar ke sebuah perusahaan tempat band favoritku bernaung di bawahnya –FNC Academy—aku ingin sekali bekerja menjadi salah satu staff disana. Aku sudah mengajukkan CV-ku. Dan seminggu kemudian aku di panggil untuk wawancara.

Sudah dua minggu berlalu setelah menjalani wawancara, aku mendapatkan telepon bahwa aku di terima menjadi salah satu staff disana. Aku senang sekali. Katanya aku bisa bekerja sebagai training dulu. Baru nanti di angkat menjadi pegawai tetap.

***

“Min Hyuk oppa!!” aku membuka pintu kamarnya dengan kasar. Wajahku berbinar menatapnya. Ia terkejut melihatku yang membuka pintu kamarnya dengan kasar.

“YA! Wae?” Min Hyuk oppa menatapku kaget. Ia berjalan menghampiriku dan menutup laptopnya.

“Kau tahu?” tanyaku penuh semangat.

“Ani.” Ia menggeleng. “Ada apa?”

“Aku DI TERIMA MENJADI SALAH SATU STAFF DI FNC ACADEMY!!!” teriakku penuh semangat. Ia mengangkat halisnya tanda kaget. “Aku senang sekali oppa!! Aku bisa sering bertemu CN BLUE!! Kyaaaa!!” aku memeluknya semakin erat. “Aku senang sekali!!” aku melepaskan pelukkan dan mencium pipinya.

“Waah?? JINJAYO??” tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk mantap. Ia lantas memelukku semakin erat. Lebih erat dari pelukakkanku tadi. “Chukkhae!!!” aku membalasnya. Menelusupkan kepalaku ke dadanya yang bidang.

“Aku akan mentraktirmu!! Malam ini kita rayakan di rumah,” kataku penuh semangat. “Ah oppa, sungguh, aku bahagia sekali.” aku meneteskan air mata.

“Ya!! Uljima..,” ia me-lapnya dengan lembut. “Kau punya potensi, siapa sih yang tidak akan menerimamu?” Min Hyuk oppa tersenyum padaku, manis sekali. Aku mengangguk.

“Oppa…” aku memeluknya lagi.

“Eomma pasti senang disana. Anak kesayangannya telah berubah menjadi anak yang hebat!” ia mengacungkan dua jempol tangannya. Aku tersenyum bahagia.

“Aku akan memberi tahu Yong Hwa. Aku pergi ke rumahnya dulu ya oppa,” kataku seraya me-lap air mata dan merapihkan rambutku. “Masih berantakan?”

“Hem,, sudah rapih dan cantik.” ujarnya. Aku langsung pergi meninggalkannya.

“Aku keluar ya.”

***

“Ayo bersulang~ semoga Min Young sukses!” perintah Min Hyuk oppa. Aku dan Yong Hwa mengikuti perintahnya. Min Hyuk oppa dan Yong Hwa minum soju, sedangkan aku hanya soft drink saja. Aku tidak mau mabuk malam ini. Karena jika aku mabuk, pasti akan terjadi sesuatu yang aneh.

Dua jam berlalu. Sudah hampir empat botol soju telah mereka berdua habiskan. Sedangkan makanan sudah habis sedari tadi. Hanya tersisa beberapa bungkus makanan ringan yang telah terbuka bungkusnya.

“Kita taruhan, siapa yang kuat sampai minum 10 botol soju, ia boleh mencium Min Young!” tantang Min Hyuk oppa. Aku terkejut.

“YA! Apa-apaan kau oppa!!” aku menggetok kepalanya. Ia tak menggubis. Malah tertawa.

“Haha.. Siap!” jawab  Yong Hwa mantap sambil menatap Min Hyuk oppa. Aku hanya mencibir kesal.

“Ayo kita mulai, Min Hyuk!” tantang Yong Hwa. Min Hyuk oppa mengangguk mantap.

“Hana.. dul.. set… start!”

Mereka berdua langsung meneguk botol sojunya. Min Hyuk oppa sudah habis dua botol dan segera meneguk botol ketiganya. Sedangkan Yong Hwa baru meneguk satu setengah botolnya. Wajah keduanya sudah mulai memerah. Min Hyuk oppa sangat semangat meneguk sojunya.

“Waaah!! Kau hebat sekali Min Hyuk-ah!” Yong Hwa berhenti sebentar melihat Min Hyuk oppa yang semangat dan sudah menghabiskan lima botol soju. Sementara ia masih empat saja belum. “Aku tidak akan kalah darimu, Kang Min Hyuk!” lalu melanjutkan.

Aku hanya menatap mereka malas. Aku menyangga daguku di atas meja dan menatap botol soju yang belum terbuka di depan wajahku. Entah kenapa aku penasaran dengan rasanya. Walaupun aku sudah pernah merasakan. Aku sedikit lupa dengan rasanya. Ah, itu memang alasan bodoh.

Perlahan aku membuka penutup botolnya dan menuangkan isinya ke gelas kecil. Seketika gelas mungil itu penuh terisi soju. Aku duduk tegap, ku ambil gelas mungilnya. Mencoba menghirup baunya.

“Hueeks.. aneh sekali.” tapi aku tidak mempermasalahkannya. Perlahan ku teguk isinya. Rasanya membuat mataku mengerjap-ngerjap. Serasa melayang. Walaupun hanya segelas kecil, efeknya membuat kepalaku pusing.

Aku mendekati Yong Hwa yang masih sibuk meneguk botol soju. Ku raih bajunya –menariknya mendekati wajahku—ia tersentak.

“Ya! Min Young-ah, kau kenapa?” tanyanya. Aku malah tersenyum menanggapinya.

“Yong Hwa-ya, saranghae.” entah kata itu yang keluar dari mulutku begitu saja. Aku semakin erat menarik bajunya. Dan… MUAAACH!! Aku mencium bibirnya. Tak lama ku lepaskan, aku tersenyum puas. Dan tidak sadarkan diri. Aku pingsan.

***

“Min Young-ah, ayo bangun.” suara yang tak asing lagi. Menepuk-nepuk pipiku. Aku mengerjap.

“Hoam~ kau sudah bangun oppa?” aku membuka mata, menyibak selimut dan mencoba duduk dengan kaki menyentuh lantai. Ia mengangguk. Aku memegangi kepalaku yang terasa berat.

“Kau sudah baikan?” aku mengangguk ragu. “Ini ada titipan dari Yong Hwa. Akan ku buatkan sarapan untukmu. Segeralah mandi, agar lebih segar.” Ia memberikan sepucuk surat padaku.

“Surat? Untuk apa anak itu memberiku surat?” Min Hyuk oppa menggeleng dan langsung meninggalkanku sendiri.

Ku buka perlahan surat beramplop biru muda itu. Selain kertas itu, ada sebuah amplop kecil juga. Tapi aku membuka terlebih dahulu kertas yang bertulisan ‘buka aku terlebih dahulu’. Kubuka lipatan kertasnya. Terdapat goresan tinta yang jelas bahwa itu adalah tulisan tangan Yong Hwa. Aku membacanya seksama.

Kau sudah bangun? Aku senang sekali malam tadi.

Aku bingung, malam tadi? Memang apa yang ku perbuat?

Kau semalam menciumku. Aku terkejut. Hehe. Di bibir.

“APA? DI BIBIR?” aku memegangi bibirku.

“Min Young-ah, itu aku lupa, ada satu lagi titipan dari Yong Hwa,” Min Hyuk oppa berteriak dari luar kamar. Mengagetkanku, “Itu di atas meja belajarmu. Ada kotak besar disana.” lanjutnya.

“Iya.” balasku berteriak. Aku melanjutkan membaca suratnya.

Oh iya, ada sesuatu yang akan ku berikan padamu. Bukalah amplop yang ke dua.

Aku menuruti perintahnya. Kubuka amplop itu perlahan. Terpampang sebuah tiket konser di tanganku. Aku membolak balik tiketnya. Aku tidak percaya, apa ini semua mimpi? Aku menepuk-nepuk wajahku. Mencoba menyadarkanku. Oh Tuhan, aku sadar! Aku tidak bermimpi.

Tulisan di tiket itu terpampang jelas, CN BLUE CONCERT “Where You Are” in OSAKA, lalu kulanjutkan membaca suratnya.

Sudah di buka? Bagaimana? Kau senang? Jika sudah di buka, lanjutkanlah buka kotak yang tadi ku titipkan bersama surat ini.

Aku membukanya dengan semangat, kubuka kotak itu. Lagi-lagi aku terkejut bukan main. Lightstick CN Blue dan T-shirt berwarna hitam pekat –merchandise. Aku mengambilnya dan memeluknya bahagia. Aku senang sekali. Lalu aku melanjutkan membaca suratnya.

Ini semuanya aku persembahkan untukmu. Bagaimana? Kau senang? Kalau kau senang, aku juga senang. Kau tidak perlu khawatir bagaimana nanti terbang ke Osaka. Aku sudah menyiapkan dua tiket pesawat untuk kita berdua. Hehe, maaf kalau aku tidak mengajak Min Hyuk. Aku ucapkan selamat atas di terimanaya kamu menjadi staff di FNC Academy. Yah, kapan kau mulai bekerja? Aku sangat senang mendengarnya. Jangan lupa untuk memakai T-shirt dan membawa tiket beserta lightsticknya.

Yang mencintaimu,

Jung Yong Hwa

Aku masih syok dengan semua ini. Aku berjalan sambil membawa surat dan tiket konser yang kumasukkan ke dalam kotak itu. Aku berjalan menuju balkon kamarku.

“YONG HWA-YA~!!!” aku memanggil Yong Hwa sambil berteriak. “YONG HWA-YA~!!!” teriakku sekali lagi.

Merasa dipanggil, Yong Hwa akhirnya keluar dari kamarnya. Dia hanya memakai handuk setengah badannya. Rambutnya masih penuh dengan shampo. Sepertinya ia belum selesai membasuh tubuhnya. Terpampang jelas tubuh putihnya. Oh Tuhan, dia memiliki abs.

“Ada apa?” tanyanya. Aku masih tercengang. “Ya! Min Young-ah, wae? Aku belum selesai mandi ini.” tuntutnya. Aku tersadar dan tersenyum lebar.

“GOMAWO~~~” aku menunjukkan kotak yang kupegang. “JEONGMAL GOMAWO YONG HWA-YAAAAA!!!” aku berteriak kegirangan. Ia tersenyum simpul. Dan menggaruk rambutnya yang masih dipenuhi busa.

“Cheonmanae. Kau senang?” aku mengangguk. “Konsernya tinggal dua minggu lagi, sebenarnya aku sudah lama memesannya. Heheh.. ” katanya. “Aku mandi dulu.” Ia melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya. Dan ia pergi masuk.

***

“Bagaimana? Sudah siap melihat CN Blue?” tanyanya. Merapihkan poninya yang sudah memanjang.

“SIAP!” jawabku penuh semangat. Membawa tiket dan lightstick –menggenggamnya dengan erat—di  tangan kiriku. Sementara tangan kananku di genggam sangat erat oleh Yong Hwa. “Aku tidak sabar!!” lanjutku. Kami berdua sudah duduk manis di bangku VVIP, iya, Yong Hwa membelikanku tiket VVIP. Oh Tuhan, aku masih menganggap ini mimpi.

CN Blue mulai menyapa para fansnya. Aku senang sekali melihat mereka di atas panggung. Semuanya berkharisma.

Giliran lagu Teardrops in the Rain, aku dan Yong Hwa menyanyikannya berbarengan. Bersama para Boice yang memenuhi stadium Osaka Jo Hall malam ini. Sesekali aku dan Yong Hwa bertukar pandang. Aku hanya tersipu malu ketika tangan kirinya merangkul pinggangku.

Kini lagu yang Love Light, mereka bernyanyi hanya diiringi gitar akustik milik sang gitaris. Yong Hwa merangkul bahuku. Aku menatapnya. Ia tersenyum.

“Dengar, I love you, darling. Give me light next to me whenever. Every night I look at you. And you’re beautiful even when I look at you. You’re my love light.” katanya panjang lebar, aku tahu persis dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu. Itu terjemahan Bahasa Inggris dari lagu Love Light.

“Yong Hwa-ya..” aku tak mampu berkata-kata. Aku tersanjung dengan ucapannya barusan.

“Mau menjadi kekasihku? Jadilah cahaya dalam hidupku. Jadilah cahaya yang selalu menerangi setiap kegelapan cintaku. Jadilah cahaya cinta dalam hatiku.” aku mengangguk. “Saranghae, Min Yong-ah.” Ia perlahan mengecup keningku.

“Yong Hwa-ya,” ia mentapku. “You make me stop breathing. Whatever you want. Because I love you. There’s no reason for my love you know,” ucapku mengutip lirik arti lagu Love Light juga. “Na, saranghae.” aku langsung memeluknya dengan erat. Menelusupkan kepala ke dadanya yang bidang.

END

 

How to VOTE?

* Jika kamu menyukai fanfiction ini, cukup tulis kata “SUKA” di kotak komentar di bawah (bukan menekan tombol like).

* No silent readers here! Hargai dengan memberikan komentar “SUKA” jika kalian memang menyukai fanfiction ini.

* Jika kamu sudah voting di WordPress, jangan voting (lagi) di Facebook. Cukup salah satu.

* Voting bisa dilakukan lebih dari 1 fanfiction, kalau kalian suka semua fanfiction peserta ya komen aja semuanya

* Para peserta lomba diperbolehkan voting, asal jangan voting diri sendiri

Terima kasih ^^

12 thoughts on “[LombaFF] Love Light

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s